PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Ada indikasi pemaksaan pemahaman terhadap persoalan agama, salah satunya jihad yang kerap dimaknai secara sempit.
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sebagai teguran dan masukan pembelajaran bagi sekolah setelah mengetahui hasil penelitian mengenai upaya guru PAI mencegah radikalisme di SMK 1 Argamakmur.
Sistematika Penelitian
Diharapkan penelitian ini bermanfaat dan memperkaya bahan penelitian dan sumber bacaan di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. BAB III Metode Penelitian yang meliputi jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, fokus penelitian, teknik pengumpulan data, pengujian keabsahan data, dan teknik analisis data.
KAJIAN TEORI
Upaya Guru Pendidikan Agama Islam
Membesarkan anak dengan akhlak tarbiyah dan shaleh serta terbebas dari maksiat dan perbuatan munkar juga merupakan bagian dari Ta'dib Al-Sibiyyin. 21 Sukring, “Pendidik dalam Pengembangan Kecerdasan Siswa (Analisis Perspektif Pendidikan Islam),” Jurnal Keguruan dan Ilmu Tarbiyah,.
Pengertian Radikalisme
32 Agustinus Wisnu Dewantara, “Radikalisme Keagamaan dalam Konteks Keagamaan dan Pancasila Indonesia”, Jurnal Pendidikan Keagamaan. Mucharom Syifa, “Rumusan Konsep Moderasi Islam Berbasis Indonesia dalam Mengurangi Radikalisme Keagamaan di Indonesia (Studi Epistemologis-Historis)”, Jurnal Raushan Fikr, Vol.
Sejarah Radikalisme di Indonesia
Selain Islam liberal, Islam keras atau Islam radikal banyak mengalami perubahan politik di Indonesia. Upaya menekan gerakan Islam radikal terus dilakukan hingga munculnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada pertengahan tahun 1990-an.
Ciri-ciri Radikalisme
Kembali kepada Kitab Allah SWT sebagai pedoman hidup sehari-hari yang mereka yakini tidak pernah salah. Dalam konteks Indonesia atau lebih spesifiknya Jawa Tengah, ciri-ciri dan radikalisme dapat dilihat dari indikator-indikator berikut. Artinya, kekuatan apa pun, baik perseorangan, ormas, atau organisasi sosial politik, yang menginginkan perubahan besar-besaran dari negara menjadi negara Islam, merupakan indikasi munculnya radikalisme di dalam diri.
Kampus, khususnya kampus (pendidikan umum) merupakan medan yang paling mudah bagi munculnya kelompok dan gerakan radikal. Organisasi keagamaan seperti Hizbut Tahrir menjadi contoh bagaimana gejala radikalisme agama lahir di kampus-kampus. Kedua, dalam situasi kesenjangan sosial-politik dan ekonomi yang semakin meluas akibat pemerintahan yang korup dan tidak adil, hal ini menimbulkan rasa frustasi di kalangan intelektual dan aktivis keagamaan terhadap situasi tersebut.
Ketiga, ketika ketidakpercayaan terhadap tokoh agama semakin meningkat, maka ormas keagamaan, organisasi sosial dan politik yang mengatasnamakan agama namun dalam tindakannya dianggap menyimpang jauh dari semangat dan moralitas Islam.
Faktor-Faktor Radikalisme
Namun pada kenyataannya ditemukan kondisi berbeda dimana agama seringkali terlibat, atau terlibat dalam radikalisme yang dilakukan oleh masyarakat sebagai umat dan penganut agama tersebut. Hingga ada yang mengatakan bahwa agama harus mati, karena agama adalah penyebab mendasar radikalisme yang melanda dunia, termasuk segala permasalahan sosial, ekonomi, dan ekologi.50. Seperti yang dikatakan Azyumardi Azra, memburuknya posisi negara-negara Islam dalam konflik utara-selatan menjadi penyumbang besar munculnya radikalisme.
Kelompok gerakan yang muncul di masyarakat atas nama agama secara terang-terangan menunjukkan kemarahannya atas penolakan terhadap pemimpin yang dianggap kafir. Bagi kelompok yang memiliki sikap keagamaan yang agresif dan pikiran yang luluh karena amarah, dapat melukai dan membunuh pemimpin yang dianggap kafir. Hal ini wajar karena secara kultural sebagaimana dikemukakan Musa Asy'ari, selalu ada upaya dalam masyarakat untuk melepaskan diri dari kompleksitas jaringan budaya tertentu yang dianggap tidak tepat.
Oleh karena itu, kelompok yang mengatasnamakan agama berusaha melepaskan diri dari belenggu budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.
Cara Menangkal Radikalisme di Sekolah
Sehingga wajib bagi para guru untuk bersama-sama memantau dan membimbingnya, khususnya guru pendidikan agama Islam. Guru pendidikan agama Islam harus hadir di tengah-tengah mereka sebagai teladan, rujukan dalam setiap permasalahan yang mereka hadapi terkait masalah agama. Di tengah keberagaman, guru pendidikan agama Islam harus mengedepankan dan memberi teladan toleransi antar teman sekolah.
52 Jakaria Umro, “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Radikalisme Agama di Sekolah”, Jurnal Pendidikan Islam. Adanya kegiatan pendampingan agama Islam atau kegiatan kerohanian lainnya di sekolah sebenarnya sangat membantu tercapainya tujuan pendidikan agama Islam. Namun jika guru PAI tidak memberikan pendampingan dan monitoring, maka dikhawatirkan pendampingan dan kegiatan Rohis lainnya akan teralihkan.
Dari berbagai penjelasan di atas, maka upaya guru Pendidikan Agama Islam memang harus benar-benar dilakukan sebagai upaya preventif dalam mencegah radikalisme di sekolah.
Penelitian Terdahulu
56 Nala Auna Rabba, Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Upaya Pencegahan Radikalisme di SMA Khadijah Surabaya, Peminatan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru UIN Sunan Ampel Surabaya, 2019, halaman vi (abstrak). . penguatan. kegiatan kelas dan non-akademik. ..kegiatan multikultural yang dilakukan meliputi 1) membangun paradigma. 57 Lisa Retnasari, “Strategi Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya Mencegah Radikalisme di Era Globalisasi”, Seminar Nasional Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, (2018) hal.161. 58 Gernaida Krisna Pakpahan dkk, “Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam upaya pencegahan radikalisme", Kurios: Jurnal Teologi dan Pendidikan Keagamaan Kristen, Vol.
59 Riky Alfian Hidayat, Wijianto, Winarto, “Pemberdayaan organisasi kemahasiswaan untuk mencegah radikalisme di kalangan mahasiswa,” Jurnal PPKn,. https://jurnal.ppkn.org/index.php/jppkn/article/view/64. terlebih dahulu dikoordinasikan sebelum disetujui oleh pihak sekolah. Sekolah mempunyai persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh manajemen organisasi sebelum kegiatannya disetujui. kemahasiswaan untuk mencegah radikalisme dilaksanakan oleh pengurus organisasi. 60 Abdurrohman, Huldiya Syamsiar, “Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Model Keberagaman Inklusif untuk Mencegah Radikalisme Agama di Kalangan Siswa SMA,” Fenomena: Jurnal Penelitian, Vol.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simulasi role-playing keberagaman dapat menjadi upaya pencegahan radikalisme.
Kerangka Berfikir
Salah satu guru pendidikan agama Islam adalah guru yang mempunyai kualifikasi dalam bidang agama sehingga mampu memberikan pendidikan yang baik bagi peserta didik di sekolah tersebut. Selain memberikan ilmu yang baik kepada siswa, guru juga harus mampu menjadi teladan yang baik dan memperlakukan siswa dengan tidak berlebihan.
METODOLOGI PENELITIAN
- Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
- Subyek dan Informan Penelitian
- Fokus Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Uji Keabsahan Data
Dengan lengkapnya fasilitas di sekolah, proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Setelah itu guru memberikan motivasi dan nasehat kepada siswa mengenai materi pembelajaran. Kemudian guru menyampaikan metode pembelajaran yang akan diterapkan di kelas agar siswa mengikuti pembelajaran dengan baik.
Peneliti mencatat, pencegahan radikalisasi dapat dilihat dari sumber belajar yang diberikan kepada mahasiswa dalam proses pembelajaran. Penting bagi mahasiswa untuk memahami bela negara dan bahaya radikalisme agar mampu menekan penyebaran radikalisme di dunia. Guru Pendidikan Agama Islam sebenarnya tidak hanya sekedar mentransfer ilmu agama, tetapi juga harus mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik agar ilmu yang disampaikan dapat menyampaikan pesan.
Guru pendidikan agama Islam harus menjelaskan dan menjelaskan kepada siswa tentang keberagaman agama dan kerukunan dalam kehidupan beragama.
HASIL PENELITIAN
Sejarah SMK N 1 Argamakmur
Program kegiatan seperti ini memberikan dampak positif bagi pelajar untuk memahami pentingnya menjaga keutuhan NKRI, khususnya menjauhkan dunia pendidikan dari radikalisme. Namun tujuan kegiatan ini sangat penting untuk membentuk pemikiran dan sikap mahasiswa, serta melindungi mahasiswa dari pengaruh radikalisme.94. Sore harinya, tepatnya pada waktu salat Dzuhur, guru dan siswa kembali melaksanakan salat Dzuhur bersama-sama.
Selalu memupuk pengetahuan tentang nilai-nilai anti radikalisme berpotensi mencegah radikalisme dan dapat meminimalisir pemahaman siswa terhadap radikalisme bagi mereka yang terkena radikalisme. Melalui kegiatan Masa Orientasi Siswa Sekolah (MOS) yang diisi dengan kegiatan positif, hal ini akan berdampak pada perkembangan siswa. Kegiatan keagamaan, mulai dari hal sederhana seperti salat magrib dan salat magrib berjamaah di sekolah, memberikan pengaruh spiritual yang baik bagi siswa.
Penulis berpesan kepada para santri untuk selalu memperdalam ilmu agamanya dan berusaha berpikir kritis terhadap ilmu yang diperolehnya.
Visi, Misi, dan Moto SMK N 1Argamakmur
Data Guru
Dari data yang penulis peroleh di SMK N 1 Argamakmur, terdapat kurang lebih 56 guru yang terbagi dalam 32 guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 24 guru berstatus honorer.
Data Tata Usaha
Data Siswa
Sarana dan Prasarana SMK N 1 Argamakmur
Sarana dan prasarana yang dimiliki SMK N 1 Argamakmur adalah : Lab IT, Lab Simulasi Digital, Lab Akuntansi, Lab OTKP, Lab Manajemen Niaga, Perpustakaan, UKS, Ruang Guru, Masjid, Musohla, Pos Satpam dan Ruang Kepala Sekolah, TU Cream. 86.
Deskripsi Data Penelitian
- Pembelajaran di Kelas
- Kegiatan di Luar Pembelajaran Kelas
Selanjutnya guru terlebih dahulu menyampaikan metode pembelajaran yang akan diterapkan agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Suasana proses pembelajaran yang aktif, siswa tidak merasa bosan, justru membuat mereka terlibat dalam mengemukakan pendapat. Pada saat pembelajaran, ketika guru sudah menjelaskan dan mengklarifikasi, barulah bertanya kepada siswa bagaimana reaksinya terhadap materi yang disampaikan.
Guru meminta dua orang siswa memberikan contoh demonstrasi transaksi jual beli dalam Islam. Sumber daya pengajaran menjamin peserta didik memperoleh ilmu agama yang mengutamakan Islam, yaitu rahmatan lil 'alamin. Bulan suci Ramadhan merupakan saat yang tepat bagi sekolah untuk mengembangkan akhlak siswanya dan menjadi manusia yang lebih baik.
Pagi harinya, ketika peneliti tiba di sekolah, sebelum masuk kelas untuk memulai pembelajaran, guru dan siswa terlebih dahulu melaksanakan shalat Dhuha berjamaah.
Analisis Data Penelitian
Sumber belajar juga harus dianggap sebagai wawasan pengetahuan pelengkap yang nantinya akan menjadi pengetahuan yang dapat dipahami oleh siswa. Langkah-langkah tersebut juga menjadi awal bagi guru untuk mentransfer ilmu dan menentukan arah pembentukan karakter siswa. Bahan ajar agama Islam berperan penting dalam memberikan terapi dan menanamkan pemikiran keagamaan yang baik.
Memperhatikan keadaan perilaku siswa sejak masuk sekolah merupakan tindakan yang sangat tepat. Kegiatan Kerohanian Islam (rohi) merupakan wadah bagi mahasiswa untuk berpikir dan melakukan kegiatan positif yang penuh dengan ceramah, pengajian bersama dan doa/nasyid. Dengan demikian, sekolah menjadi lingkungan yang nyaman bagi seluruh warga sekolah dan memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik dan seluruh warga sekolah.
Penulis menyarankan guru Pendidikan Agama Islam di sekolah lain untuk mengadopsi upaya guru PAI di SMK 1 Argamakmur.
PENUTUP
Saran
Strategi penguatan siswa melawan radikalisme dan toleransi di SMPN 01 Seberuang Kabupaten Kapuas Hulu. Merumuskan konsep moderasi Islam berbasis Indonesia dalam meredam radikalisme agama di Indonesia (Studi Epistemologis-Historis). Peran Guru PAI dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Untuk Mencegah Radikalisasi Siswa di SDIT Al-Husna Gondang Tulungagung.