• Tidak ada hasil yang ditemukan

upaya penyuluh agama dalam meningkatkan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "upaya penyuluh agama dalam meningkatkan"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

i

UPAYA PENYULUH AGAMA DALAM MENINGKATKAN KEHARMONISAN KELUARGA DI KAMPUNG SAKINAH

KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER SKRIPSI

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah

Oleh : Sri Dwi Lestari NIM. D20163067

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER

FAKULTAS DAKWAH DESEMBER 2021

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

MOTTO

ًةَّد َىَّه ْنُكٌَْيَب َلَعَج َو اَهْيَلِا ا ْٖٓىٌُُكْسَتِّل اًجا َو ْزَا ْنُكِسُفًَْا ْيِّه ْنُكَل َقَلَخ ْىَا ٖٓ هِتٰيٰا ْيِه َو َى ْو ُرَّكَفَتَّي ٍم ْىَقِّل ٍتٰيٰ َلَ َكِلٰر ْيِف َّىِاۗ ًةَوْح َر َّو

Artinya: "Dari sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu bahwa ia telah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan- Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”*

* Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Terjemahan, (Jakarta Timur, Pustaka Al- Mubin, 2013), 596.

(5)

v

PERSEMBAHAN

Atas keberkahan rasa syukur dan terimakasih sebesar-besarnya, skripsi ini saya persembahkan kepada mereka yang saya cintai dan sudah berkontribusi untuk membantu saya serta menjadi penyemangat saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Baik dari segi materil maupun moril :

1. Untuk keluarga tercinta, bapak dan ibu saya, yakni bapak Sabiya dan Ibu Sudarmi, bapak ibu mertua, yakni bapak H.Rofi’i dan ibu Hj. Ulfah, serta keluarga kecilku, untuk suami saya Moch Lukman Hakim, dan anak-anak saya Moch Miqdad Syathir Al-Hakim, Aisyah Humairo’ Cahyaning Wilwatikta dan Ayesha Khawla Rayya Wilwatikta.

2. Untuk para guru-guru saya sedari kecil hingga sekarang khususnya untuk Ibu Dospen dan penyuluh KUA Mayang di Kampung Sakinah yang banyak memberi waktunya untuk membimbing saya.

3. Untuk rekan seperjuangan BKI2 2016 dan para rekan lainnya.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis hat`urkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dah hidayah-Nya, atas kelancaran, penyelesaian, pelaksanaan ujian akhir yakni, skripsi sebagai salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam senantiasa penulis haturkan pada baginda Nabi Muhammad saw. Semuga kita tergolong ke dalam umatnya yang mendapatkan syafaat dari beliau.

Tak terlupakan dukungan dan bimbingan dari banyak pihak. Oleh karena itu sudah sepatutnya penulis menyampaikan banyak terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto SE.,MM. Selaku Rektor UIN KHAS Jember.

2. Bapak Prof. Dr. Ahidul Asror, M.ag selaku Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

3. Bapak Muhib Alwi, S.Psi, M.A selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

4. Ibu Fuadatul Huroniyah, S.Ag, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi.

5. Bapak/Ibu dosen dan segenap tenaga kependidikan akademik UIN KHAS Jember.

6. Dan semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan skripsi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa di dalam skripsi ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami berharap adanya kritik dan saran yang membangun. Semoga skripsi ini dapat difahami bagi siapapun yang membaca dan dapat memberikan kebermanfaatan bagi sesama.

Jember, Desember 2021

Penulis

(7)

vii ABSTRAK

Sri Dwi Lestari, Fuadatul Huroniyah, 2021 : Upaya Penyuluh Agama Dalam Meningkatkan Keharmonisan Keluarga Di Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

Kata Kunci : Penyuluh Agama, Keharmonisan Keluarga

Keluarga merupakan salah satu kelompok terkecil yang hidup di dalam masyarakat. Mewujudkan keluarga yang harmonis membutuhkan adanya peran dari masing-masing keluarga. Realitanya, untuk mewujudkan keluarga harmonis yang sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah hal yang mudah, tumbuhnya sikap hedonisme, perilaku seksual yang menyimpang, minimnya pengetahuan agama, hamil di luar nikah, pernikahan dini, nikah siri, perceraian dan lain sebagainya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan bahkan menghambat terwujudnya keharmonisan keluarga. Sehingga untuk menuju keluarga yang harmonis membutuhkan pembinaan, sebagaimana yang dilakukan penyuluh Agama dalam meningkatkan keluarga yang harmonis sesuai dengan ajaran Islam.

Adapun fokus masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana upaya penyuluh Agama dalam meningkatkan keharmonisan keluarga di kampung sakinah kecamatan Mayang kabupaten Jember? 2) Apa saja faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi dalam meningkatkan keharmonisan keluarga di kampung sakinah kecamatan Mayang kabupaten Jember?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk memperoleh informasi-informasi mengenai keadaan yang ada pada saat ini dan mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variable-variable yang diteliti.

Adapun hasil dari penelitian ini adalah 1) Upaya penyuluh Agama dalam meningkatkan keharmonisan keluarga adalah dengan melaksanakan tugas dan fungsi penyuluh sebagaimana mestinya, antara lain fungsi informatife dan edukatif dilakukan pada saat penyuluh melakukan kegiatan formal dan non formal, fungsi konsultatif dilakukan dengan adanya diskusi tanya jawab pada saat penyuluhan berlangsung, dan fungsi advokatif dilakukan dengan melakukan pendampingan warga yang belum mendapatkan surat nikah dan memberikan akses ke lembaga lain untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan kegiatan kampung sakinah.

2) Faktor pendukung dari upaya dalam meningkatkan keharmonisan keluarga adalah adanya kegiatan penyuluhan sebulan sekali yang diadakan penyuluh Agama KUA kecamatan Mayang, adanya kemauan dari anggota untuk mengikuti kegiatan tersebut, sedangkan yang menjadi penghambat adalah adanya gangguan alam (hujan, padam dan lain-lain) sehingga kegiatan tertunda, kurangnya kerjasama antar penyuluh satu dengan yang lainnya, terbenturnya waktu kegiatan pembinaan dengan kegiatan di luar pembinaan, sehingga anggota tidak bisa hadir, dan salah satu anggota binaan ada yang tidak memiliki Hp sehingga adanya keterlambatan dalam kegiatan pembinaan / penyuluhan.

(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ... 1

B. Fokus Penelitian ... 11

C. Tujuan Penelitian ... 12

D. Manfaat Penelitian ... 12

E. Definisi Istilah ... 14

F. Sistematika Pembahasan ... 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 19

B. Kajian Teori ... 21

1. Penyuluh Agama ... 21

2. Keharmonisan Keluarga ... 37

(9)

ix BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 53

B. Lokasi Penelitian ... 54

C. Subyek Penelitian ... 54

D. Tekhnik Pengumpulan Data ... 55

E. Analisis Data ... 58

F. Keabsahan Data ... 60

G. Tahap-Tahap Penelitian ... 61

BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Obyek Penelitian ... 63

B. Penyajian Data dan Analisis Data ... 77

C. Pembahasan Temuan ... 102

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 112

B. Saran-saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 115 Lampiran-Lampiran

(10)

x

DAFTAR TABEL

No. Uraian Hal

Tabel 2. 1 Persamaan dan Perbedaan 20

Tabel 4.1 Struktur Organisasi Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember

72

Tabel 4.2 Time Line Kegiatan Penyuluh Agama di Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember 2020-2021

73

Tabel 4.3 Peta Konsep Penyuluh Agama di Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember

74

Tabel 4.4 Data anggota pembinaan/penyuluhan Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember

76

(11)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki berbagai jenis kebutuhan dalam kehidupannya. Dalam memenuhi kebutuhannya setiap manusia membutuhkan dengan tepat agar bisa hidup sebagai manusia yang terpenuhi kebutuhannya, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Sebagaimana yang telah tertuang dalam teori Abraham Maslow, mengatakan bahwa manusia akan selalu termotivasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, adapun kebutuhan-kebutuhan ini memiliki tingkatan (hirarki), yang terdiri dari lima jenis.2 Antara lain :

a. The physiological needs (kebutuhan fisiologis), hirarki kebutuhan yang berkaitan untuk terpenuhinya akan kebutuhan yang paling dasar untuk manusia, antara lain: makan, minum, bernafas, menghindari rasa sakit, seks (sandang, pangan, papan).

b. The safety needs (kebutuhan rasa aman), setelah terpenuhi kebutuhan fisiologis, maka akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan berikutnya, seperti : kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan, keamanan, ketertiban, hukum, stabilitas, dll. Kebutuhan ini menjadi kebutuhan yang senantiasa mengalami peningkatan, dan apabila tidak terpenuhi akan menimbulkan kecemasan atau ketakutan, sehingga akan menghambat untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya.

2 Tengku Erwinsyahbana, “Sistem Hukum Perkawinan Pada Negara Hukum Berdasarkan Pancaasila”, Jurnal Ilmu Hukum, Volume 3 No.1, Medan 2012. Hal 3.

(12)

c. The belongingness and love needs (kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang), jenis kebutuhan ini akan muncul jika kebetuhan sebelumnya terpenuhi. Kebutuhan ini meliputi : ketika seseorang berusaha untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, keturunan (anak), sampai pada keinginan untuk menjadi bagian yang berharga dalam suatu kelompok.

d. The esteern needs (kebutuhan akan harga diri), pada bagian ini terbagi menjadi dua bagian, antara lain : lower one, kebutuhan yang bekaitan dengan kedudukan, perhatian dan nama baik, serta higher one, kebutuhan yang berkaitan dengan prestasi, kompetensi, kemandirian, kebebasan dan kepercayaan diri.

e. The need for self-actualition (kebutuhan untuk aktualisasi diri), kebutuhan ini bersangkutan erat dengan kehendak untuk mencapai dan mengembangkan potensi diri. Kepribadian bisa menuju tingkat teratas apabila kebutuhan-kebutuhan pokok ini banyak mengalami interaksi dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan dapat memanfatkan potensialnya secara sempurna.

Berdasarkan pendapat Abraham Maslow sebagaimana dijelaskan di atas, bahwasannya yang menjadi salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk menyalurkan nafsu seksnya, yang merupakan kebutuhan fisiologis (the physiological needs). Dalam hal ini, untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia akan menyalurkan dengan cara melakukan perkawinan (pernikahan). Akan tetapi, dalam hal ini bukan berarti makna pernikahan sebatas memenuhi kebutuhan seks, melainkan pernikahan

(13)

memiliki pemahaman lebih luas. Dari sebuah pernikahan seseorang bisa mendapatkan keturunan, dalam hal ini pernikahan masuk dalam kategori kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (The belongingness and love needs). Jika tercapai pada tahap aktualisasi diri, pada akhirnya akan mencapai aktualisasi keharmonisan keluarga.

Menurut Wirjono Prodjodikoro mengatakan kehidupan bersama dari seorang perempuan dan laki-laki dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam peraturan perkawinan disebut perkawinan3. Dalam pengertian lain, Nani Suwondo menjabarkan, suatu tindakan undang-undang yang dilakukan dengan maksud akan menjalin kehidupan dengan abadi, antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan aturan pemerintah yang berlaku.4

Sebagaimana yang tertuang dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.5 Disyariatkannya perkawinan dalam Islam itu dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu :

1. Berdasarkan sudut hukum, perkawinan adalah ikatan janji suci dari seorang laki-laki dan perempuan supaya bisa menjalin interaksi kelamin dengan sah berdasarkan waktu yang tidak menentu.

3 H. Zaeni Asyhadie dkk, Hukum Keluarga Menurut Hukum Positif di Indonesia, (Depok : PT RAJA GRAFINDO PERSADA, 2020). Hal 32.

4 Ibid. Hal 32.

5 Elfi Sahara dkk, Harmonious Family Upaya Membangun Keluarga Harmonis (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2013). Hal. 150.

(14)

2. Berdasarkan dalam sudut agama, suatu lembaga suci yang memberikan ruang untuk suami-istri bisa melangsungkan kehidupan dengan damai, saling mengasihi, dan mencintai yang bertujuan sebagai keberlanjutan keturunan merupakan makna perkawinan.

3. Berdasarkan sudut masyarakat, seseorang yang sudah menikah maka sudah melakukan persyaratan dari yang dikehendaki masyarakat dan memiliki tempat lebih mulia sekaligus akan dihargai daripada yang belum menikah, hal itu merupakan makna perkawinan.6

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI), bab II mengenai dasar- dasar perkawinan adalah :7

a. Pasal 2 : perkawinan menurut hukum Islam merupakan pernikahan, artinya akad yang sangat kuat atau mitsaqan ghalizan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 21, yang berbunyi :

ًةَّد َىَّه ْنُكٌَْيَب َلَعَج َو اَهْيَلِا ا ْٖٓىٌُُكْسَتِّل اًجا َو ْزَا ْنُكِسُفًَْا ْيِّه ْنُكَل َقَلَخ ْىَا ٖٓ هِت ٰيٰا ْيِه َو َى ْو ُرَّكَفَتَّي ٍم ْىَقِّل ٍتٰيٰ َلَ َكِلٰر ْيِف َّىِاۗ ًةَوْح َر َّو

Artinya : ”Dari sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu bahwa ia telah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S Ar-Rum : 21)8

6 Ibid. Hal. 32.

7 Tim Redaksi Nuansa Aulia, Kompilasi Hukum Islam (KHI), (Bandung : CV. NUANSA AULIA, 2017). Hal. 2.

8 Ibid. Hal. 2.

(15)

b. Pasal 3 : perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahmah.

c. Pasal 4 : perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

d. Pasal 5 : (1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat. (2) Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1946 jo Undang-undang No. 32 Tahun 1954.

e. Pasal 6 : (1) Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah. (2) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan Hukum.

Keluarga merupakan satu kesatuan dalam perkumpulan yang terdiri dari orang tua dan buah hati, masing-masing memiliki peran dan fungsi tersendiri.9 Dianalogikan sebagai gagahnya gedung apartemen, keluarga bagaikan dasar bangunan yang kuat. Jika dasarnya kuat, oleh karena itu dindingnya pun akan kokoh. Mendapatkan keteduhan dari atapnya, pintu dan jendela terpasang rapi. Hal yang sama jika keluarga diibaratkan sebagaiamana sebuah bangunan, dimulai dari kekuatan, kegigihan dan kebermanfaatan

9 Faula Arina, Skripsi : “Konsep Keluarga Sakinah Menurut Kitab Qurrah Al-„Uyun Karangan Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani” (Purwokerto : IAIN Purwokerto, 2018), hal.23.

http://repository.iainpurwokerto.ac.id/3501/2/FAULA%20ARINA%201323101038_KONSEP%2 0KELUARGA%20SAKINAH%20MENURUT%20KITAB.pdf,

(16)

sebuah keluarga, sehingga bagian yang lain pun bagus, seperti terbentuklah tatanan kehidupan dari lingkungan pedesaan, perkotaan, hingga akhirnya sampai pada kebagsaan yang memiliki adap yang mulia.10

Berdasarkan uraian di atas, dalam menjalin perkawinan atau terbentuknya keluarga sudah diatur sedemikian rupa sehingga diharapkan bisa terwujud hubungan keluarga yang harmonis. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, harmonis adalah seia sekata, keselarasan, keserasian.

Dengan demikian keharmonisan keluarga menjadi tujuan agar di dalam kelurga terbentuk menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Sesuai dengan yang tercantum di dalam Qur’an surat Ar-Rum ayat 21,

ْنُكٌَْيَب َلَعَج َو اَهْيَلِا ا ْٖٓىٌُُكْسَتِّل اًجا َو ْزَا ْنُكِسُفًَْا ْيِّه ْنُكَل َقَلَخ ْىَا ٖٓ هِتٰيٰا ْيِه َو َى ْو ُرَّكَفَتَّي ٍم ْىَقِّل ٍتٰيٰ َلَ َكِلٰر ْيِف َّىِاۗ ًةَوْح َر َّو ًةَّد َىَّه

Artinya : “Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rassa kasih dan sayang”. (QS. 30: 21). 11

Namun, realitanya dalam mencapai keluarga harmonis yang sakinah mawaddah wa rahmah bukanlah sesuatu yang mudah. Tumbuhnya sikap hedonisme, perilaku seksual yang menyimpang, minimnya pengetahuan agama, sebelum nikah hamil, pernikahan dini, menikah siri, perceraian dan

10 Ibid. Hal.23.

11 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan Terjemahan, (Jakarta Timur, Pustaka Al-Mubin, 2013), 406.

(17)

lain sebagainya menjadi bagian yang tak terpisahkan dan bahkan menghambat terwujudnya keharmonisan keluarga.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Jember yang diliput oleh Surya.co.id, bahwa sepanjang tahun 2020 angka pernikahan di Jember sampai pada angka 21.000, dan perceraiaan sampai pada angka melebihi 5.000. Berdasarkan pendataan yang masuk ke Pengadilan Agama tersebut dari dua puluh satu ribu yang termasuk dalam kategori pernikahan, dari seribu dua ratus empat puluh enam yang terdata merupakan permohonan dispensasi perkawinan pada periode Januari-Agustus 2020. Berdasarkan hal tersebut sekitar ada seratus lebih permohonan dispensasi yang menikah belum sesuai umur yang ditentukan dalam perundang-undangan.12 Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa pernikahan dini khususnya di Kabupaten Jember tinggi.

Berdasarkan sumber yang lain, selain tingginya angka pernikahan dini, terdapat hal lain yang menghambat terbentuknya keluaarga harmonis yang sakinah mawaddah wa rahmah, yaitu adanya suami istri yang belum tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), sehingga belum tercatat secara hukum.

Berdasarkan berita yang diliput dari CNN Indonesia menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Jember kembali mengadakan isbat nikah gratis bagi 1.000 pasangan yang belum mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Urusan Agama. Program tersebut dilakukan secara daring. Adapun titik lokasi

12 Sri Wahyunik, “Ada Ribuan Nikah dan Cerai Dini di Jember pada 2020, Penghulu Diminta Mencegah lewat Sosialisasi”, Surya.co.id, 11 Maret 2021,

https://surabaya.tribunnews.com/2021/03/11/ada-ribuan-nikah-dan-cerai-dini-di-jember-pada- 2020-penghulu-diminta-mencegah-lewat-sosialisasi,

(18)

tempat isbat nikah terdapat 11 titik lokasi, antara lain adalah di Kantor Kecamatan Kencong 51 pasangan, Wuluhan 75 pasangan, Jelbuk 66 pasangan, Mayang 87 pasangan, Silo 126 pasangan, Bangsalsari 280 pasangan, Sumbersari 81 pasangan, Tanggul 44 pasangan, Sumberjambe 87 pasangan, Rambipuji 23 pasangan dan Tempurejo 80 pasangan. Adapun tujuan dari isbat nikah secara daring tersebut adalah untuk mengesahkan pernikahan di mata hukum negaraa dan berkekuatan hukum.13

Jika hal tersebut diabaikan, maka akan menyebabkan adanya problem dalam keluarga, sehingga akan menghambat terwujudnya keharmonisan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Demikian juga jika diuraikan berdasarkan teori Maslow, apabila persoalan tersebut diabaikan, maka tidak bisa sampai pada puncap aktualisasi untuk menuju tingkat kebutuhan teratas yaitu aktualisasi diri (the need for self-actualition). Untuk menjawab persoalan yang terjadi di masyarakat, khususnya di Kecamatn Mayang, maka KUA di Kecamatan Mayang membentuk salah satu lokasi di pedesaan dengan nama “Kampung Sakinah”. bersama dengan penyuluh agama yang bertugas, KUA Mayang bersinergi untuk melaksanakan program Kampung Sakinah.

Sebagaimana diungkapkan oleh H. M Arifin M. Ed adanya interaksi saling merespon antara satu dengan yang lain, di mana satu sebagai penyampai untuk membantu sebagian yang lain, dalam hal ini adalah sebagai klien, yang bertujuan sebagai pemahaman mengenai personal dan kaitannya

13 Rea, "Sidang Isbat Nikah Daring di Jember Pecahkan Rekor MURI", CNN Indonesia, Sabtu, 29 Agustus 2020, 15:56, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200829155111-25-

540655/sidang-isbat-nikah-daring-di-jember-pecahkan-rekor-muri,

(19)

dengan persoalan yang sedang dihadapi, baik dalam saat ini maupun yang akan datang merupakan makna dari penyuluhan14

Dalam pengertian lain, menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung memberikan pemaknaan bahwa peristiwa yang memiliki tujuan untuk memberikan bantuan terhadap orang lain yang memiliki persoalan lahir dan batin supaya seseorang itu bisa menghindari persoalan tersebut, sehingga bisa difahami bahwa usaha dari seorang konselor berusaha membantu dalam penyelesaian persoalan seseorang yang normal.15 Penyuluh Agama Islam berperan penting dalam meningkatkan keharmonisan keluarga. Adapun makna dari penyuluh agama Islam adalah segala kegiatan dalam Islam yang bertujuan untuk membantu orang lain agar kembali ke jalan Allah SWT sekaligus menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW agar mendapatkan ilmu dan menjadi manusia yang bertaqwa.16 Peran dan fungsi penyuluh memberikan kontribusi terhadap masyarakat, khususnya untuk keharmonisan keluarga.

Penelitian lain diungkapkan oleh Nick Stinnet dan Defrain dalam judul

The National Study On Family Strength”, memberikan makna, dalam mewujudkan keluarga yang penuh kebahagiaan lahir dan batin memiliki beberapa peryaratan yang harus dipenuhi, dalam temuannya menghasilkan temuan bahwa agama menjadi dasar utamanya.17 Di sisi lain, penelitian yang

14 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 39.

15 Ibid. Hal 39.

16 Ibid. Hal. 30.

17 Faula Arina, Skripsi : “Konsep Keluarga Sakinah Menurut Kitab Qurrah Al-„Uyun Karangan Syaikh Muhammad At-Tihami Bin Madani” (Purwokerto : IAIN Purwokerto, 2018), hal.4.

(20)

diungkapkan oleh Dadang Hawari, memberikan kontribusi jika keluarga yang bahagia berkaitan erat dengan komitmen beragama berdasarkan beberapa ciri- cirinya, antara lain :

1) Tingkat tertinggi yang bisa meraih kesuksesan penuh kebahagiaan untuk berkeluarga merupakan kehidupan keluarga yang memiliki pegangan teguh dengan ajaran agama.

2) Jika dalam melaksanakan kehidupan keseharian pasangan tkeluarga tidak memiliki pegangan agama, maka akan mengalami kegagalan tertinggi sekaligus tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

3) Kekerasan dalam rumah tangga/keluarga, pergaulan bebas, suami/istri selingkuh, dan lain-lain hal itu merupakan bagian konsekuensi dari tidak adanya komitmen dalam beragama, sehingga memiliki empat kali resiko dalam gagalnya rumah tangga.18

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ini sebab banyak sekali pelajaran internal dan eksternal yang kita dapat dalam waktu jangka panjang kehidupan kedepannya. Di sisi lain kita juga dapat memahami makna keluarga yang harmonis untuk bisa kita terapkan di dalam keluarga. Keunikan dari penelitian ini adalah pembelajaran hidup dari sebelum menikah sampai akhirnya menikah, dari yang awalnya belum memahami keagaman sampai akhirnya mampu mengaplikasikan nilai-nilai keagaamaan, sehingga terbentuklah keharmonisan keluarga atau keluarga yang harmonis.

http://repository.iainpurwokerto.ac.id/3501/2/FAULA%20ARINA%201323101038_KONSEP%2 0KELUARGA%20SAKINAH%20MENURUT%20KITAB.pff,

18 Ibid. Hal.4.

(21)

Jadi kesimpulannya adalah manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah kebutuhan untuk menjalin rumah tangga yang harmonis sakinah mawaddah wa rahmah. Keharmonisan keluarga bisa diupayakan dengan meningkatkan nilai-nilai pemahaman keagamaan dan meningkatkan peran suami istri dengan sebaik-baiknya. Sebab hal tersebut sangat berkaitan dengan tujuan yang akan di capai kedepannya. Khususnya bagi keluarga yang tinggal di Kampung Sakinah KUA Kecamatan Mayang Kabupaten Jember. Peneliti dapat mengetahui bagaimana belajar banyak dalam pencapaian, langkah-langkah, faktor serta hambatan untuk meningkatkan keharmonisan keluarga. Oleh karena itu penulis memilih judul Upaya Penyuluh Agama dalam Meningkatkan Keharmonisan Keluarga di Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian dilakukan dengan menyusun berdasarkan kalimat tanya secara tegas, jelas, dan spesifik.19 Sesuai dengan konteks penelitian di atas, serta untuk mempermudah penelitian ini, maka peneliti memfokuskan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana upaya penyuluh agama dalam meningkatkan keharmonisan keluarga di kampung sakinah kecamatan Mayang Kabupaten Jember ? 2. Apa saja faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi dalam

meningkatkan keharmonisan keluarga di kampung sakinah kecamatan Mayang Kabupaten Jember ?

19 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember : IAIN Jember, Press 2019). Hal 90.

(22)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ialah suatu uraian yang berkaitan dengan merupakan gambaran tentang maksud yang menjadi tujuan untuk melakukan penelitian.

Permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan akan menjadi acuan dalam mencapai sebuah tujuan penelitian. Tujuan penelitian ini ada untuk menjelaskan dan mendeskripsikan.20

1. Untuk mendeskripsikan upaya penyuluh agama dalam meningkatkan keharmonisan keluarga di Kampung Sakinah kecamatan Mayang kabupaten Jember.

2. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat yang mempengaruhi dalam meningkatkan keharmonisan keluarga di Kampung Sakinah kecamatan Mayang kabupaten Jember.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian berkontribusi dalam memberikan manfaat, baik berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan kegunaan praktis, seperti kegunaan bagi penulis, instansi, dan masyarakat secara keseluruhan. Kegunaan penelitian harus realistis.21 Manfaat penelitian adalah :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat guna menambah khazanah keilmuwan, serta menambah informasi atau pengetahuan khususnya tentang upaya meningkatkan keharmonisan keluarga di Kampung Sakinah kecamatan Mayang kabupaten Jember.

20 Tim penyusun, Hal. 90.

21 Tim Penyusun, Hal 90.

(23)

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman penilitian secara langsung dapat mengubah pola pikir agar menjadi lebih kritis dalam membaca fenomena yang ada di masyarakat. Dan dapat meningkatakan kretivitas dalam menggunakan fikiran, ide, dan gagasan dalam bentuk karya ilmiah serta menambah wawasan dan penelitian secara langsung mengenai upaya penyuluh dalam meningkatkan keharmonisan keluarga yang berjuang dari melakukan upaya meningkatkan keharmonisan dalam berumah tangga dan mengetahui faktor yang menghambat dan mendukung dalam meningkatkan kekeharmonisan keluarga yang telah tercantum di tema ini, sehingga setelah membaca kesadaran kita untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga adalah hal penting dalam berumah tangga, yang diharapkan sesuai dengan judul Skripsi peneliti yakni Upaya Penyuluh Agama Dalam Meningkatkan Keharmonisan Keluarga Di Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

b. Bagi Masyarakat Kampung Sakinah

Bagi masyarakat kampung sakinah setelah membaca penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru yang lebih optimal dan ilmu baru dalam mengupayakan dan menjaga keharmonisan dalam keluarga. Selain itu, diharapkan agar masyarakat kampung sakinah bisa merealisasikan mengenai upaya dalam meningkatkan keharmonisan di

(24)

dalam keluarga sebagaimana yang telah dipaparkan dalam penelitian ini.

c. Bagi Lembaga Yang Diteliti

Bagi lembaga yang diteliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan evaluasi bagi Kampung Sakinah sehingga dapat memahami apa yang harus dilakukan untuk masyarakat kampung sakinah untuk meningkatkan keharmonisan keluarga.

d. Bagi Lembaga UIN KHAS Jember

Bagi lembaga UIN KHAS Jember, penelitian ini diharapkan sebagai koleksi kajian bahan referensi dan evaluasi serta sebagai sumber dan bahan masukan bagi peneliti yang akan melaksanakan penelitian pada kajian yang sama. Serta menjadi acuan untuk para mahasiswa lainnya agar dapat melakukan penelitian secara intensif dan dapat memberikan manfaat individu secara ineternal dan eksternal. Selain untuk manfaat prodi yakni Bimbingan Konseling Islam dapat memperluas wawasan para calon konselor untuk dapat mempelajari konseling keluarga secara mendalam.

E. Definisi Istilah 1. Penyuluh Agama

Arti kata “suluh ” bermakna “penerang” atau bisa juga dinamakan sebagai “memberi penerang”, hal itu merupakan asal mula dari kata penyuluh, berharap akan meningkatkan ilmu pengetahuan, cekatan dan

(25)

bersikap baik.22 Berdasarkan segi linguistic “penyuluh” merupakan penyuluh. Sedangkan jika dalam bahasa Inggris “counseling”, yang sering diterjemahkan dengan “menganjurkan atau menasehatkan”.23 Penyuluh Agama berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No 79 tahun 1985, ialah membimbing umat yang memiliki keyakinan dengan tujuan untuk membina sikap, mental dan ketaqwaan terhadap Allah Tuhan Yang Maha Esa, penyuluh agama adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, selain itu juga berperan untuk menguraikan segala sudut pandang melalui bahasa yang mudah difahami.24

Adapun penyuluh agama yang dimaksud adalah Penyuluh Agama non PNS. Jumlahnya 8 orang di setiap kecamatan, masing-masing memiliki tugas dan fungsi yaitu penyuluh bidang : (a) pengentasan buta aksara Al-Qur’an, (b) keluarga sakinah, (c) zakat, (d) wakaf, (e) kerukunan umat beragama, (f) produk halal, (g) narkoba dan HIV Aids, (h) radikalisme dan aliran sempalan.25 Jadi, penyuluh agama adalah suatu

22 Rahmad Hidayat, “Peran Penyuluh Agama Dalam Kehidupan Beragama Guna Meningkatkan Keluarga Sakinah (Studi Kasus Pada Majelis Ta‟lim Al-Muhajirin Sukarame II Bandar

Lampung)”, Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Vol. 1, No. 1, July-Desember 2019, hal 96.

23 Syamsuddin, “Efektivitas Peran Penyuluh Agama Islam Dalam Penerapan Hukum

Perkawinan Islam Di Masyarakat Pedesaan (Studi Kasus Di Kecamatan Mare Kabupaten Bone)”, Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. III, No. 01, Januari-Juni 2017, hal. 99.

24 Ali Hamzah, “Kinerja Penyuluh Agama Non PNS Kementrian Agama”, Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman. Vol. 18, No. 02, Desember 2018. Hal. 39.

25 Abdul Jamil dkk, “Peran Penyuluh Agama Islam Non-PNS Dalam Menjaga Nilai-Nilai Religiositas”, Litbangdiklat Press, Jakarta 2020. Hal. 4

(26)

kegiatan yang dilakukan oleh penyuluh agama dalam memberikan bimbingan dan penyampaian pesan dakwah kepada mad’u.26

2. Keharmonisan Keluarga

Keluarga merupakan satu kelompok yang terdiri dari ayah, ibu dan putra-putrinya, merupakan kelompok terkecil yang mendasar di lingkungan masyarakat.27 Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gunarso, bahwasannya harmonisnya keluarga apabila kebahagiaan keluarga yang memiliki indicator tidak mengalami ketegangan, minimnya kekecewaan, dan menerima semua kelebihan dan kekurangan antar anggota keluarga, baik dari segi psikis, fisik sekaligus hubungan sosial. Pemahaman lain dikemukakan oleh Daradjat, harmonisnya keluarga bilamana semua anggota keluarga berperan sesuai dengan hak dan kewajibannya, saling memahami, saling menyayangi, menjaga komunikasi, bekerjasama, san saling menghargai perbedaan.28

Jadi, untuk meningkatkan keharmonisan keluarga dapat dilakukan dengan meningkatkan peran dan fungsi keluarga secara mendalam.

Dalam hal ini berkaitan dengan upaya dari penyuluh Agama yang mendirikan Kampung Sakinah di Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

Keharmonisan keluarga dapat diwujudkan dengan keikutsertaan warga

26 Rahmad Hidayat, “Peran Penyuluh Agama Dalam Kehidupan Beragama Guna Meningkatkan Keluarga Sakinah (Studi Kasus Pada Majelis Ta‟lim Al-Muhajirin Sukarame II Bandar

Lampung)”, Jurnal Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Vol. 1, No. 1, July-Desember 2019. Hal 97.

27 KBBI

28 Rahayu Sestuningsih Margi, 2017, Konseling Keluarga Dengan Pendekatan Behavioral Strategi Mewujudkan Keharmonisan Dalam Keluarga, 4 – 6 Agustus 2017, Malang, Jawa Timur,

Indonesia, http:// http://journal2.um.ac.id/index.php/sembk/article/view/1295/667, November 2020.

(27)

Kampung Sakinah pada kegiatan-kegiatan yang bernilai posistif yang telah diselenggarakan oleh Penyuluh Agama dalam bidang keluarga sakinah. Segala sesuatu bisa diupayakan, demikian halnya keluarga, memperjuangkan adalah sebuah pilihan, agar tercapai keharmonisan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah.

F. Sistematika Pembahasan

Pada bagian pembahasan meliputi mendeskripsikan mengenai rangkaian kepenulisan yang dimulai dari bab pembahasan sampai pada bab penutup, dengan bentuk tulisan deskriptif. Sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah diuraikan sebagai berikut : 29

Bab I, berisi pendahuluan, dalam bab ini membahas mengenai konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika pembahasan.

Bab II, berisi kajian kepustakaan yang didalamnya mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. Kegunaan dari bab II adalah untuk mengetahui hasil penelitian yang pernah dilakukan didalam bidang yang sama, selainitu untuk membahas teori yang berkaitan dengan tema penelitian ini.

Bab III, berisi metode penelitian yang membahas mengenai pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, keabsahan data, serta tahap- tahap penelitian.

29 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember : IAIN Jember, Press 2019). Hal 91.

(28)

Bab IV, berisi penyajian data dan analisis, pada bab ini dijelaskan tentang gambaran objek penelitian, penyajian data dan analisis serta pembahasan temuan. Fungsi bab IV adalah pemaparan data yang diperoleh di lapangan dan juga untuk menarik kesimpulan dalam rangka menjawab masalah yang telah dirumuskan.

Bab V, berisi kesimpulan dan saran dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan saran-saran yang tentunya bersifat konstruktif. Fungsi dari bab V adalah sebagai rangkuman dari semua pembahasan yang telah diuraikan pada sebelumnya. Sekaligus menyampaikan saran-saran bagi pihak yang terkait.

(29)

19

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

Pada bagian penelitian terdahulu memuat beberapa keberhasilan peneliti yang telah lalu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, selain itu membuat rangkuman dari beberapa penelitian yang sudah dipublikasikan maupun belum dipublikasikan (disertasi, tesis, skripsi, dan lain-lain). Hal ini bisa menunjukkan sejauhmana keaslian sekaligus kedudukan penelitian yang akan dilakukan.30 Berikut adalah penelitian terdahulu yang sudah dilakukan, antara lain:

1. Skripsi Faidah Rofiah, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Tahun 2018 dengan judul Human Validation Process Model Untuk Meningkatkan keharmonisan Keluarga Di Desa Pangesangan Jambangan Surabaya.31 2. Skripsi Viky Tamara, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Yogyakarta, Tahun 2016 dengan judul Upaya Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) Dalam Membina Keharmonisan Rumah Tangga Di Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta.32

3. Fenicia Desiana Saragih, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Tahun 2018 dengan judul Peran Bina Keluarga Remaja (BKR) Dalam

30 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember : IAIN Jember, Press 2019). Hal 91.

31 Faidah Rofiah, Human Validation Process Model Untuk Meningkatkan keharmonisan Keluarga Di Desa Pangesangan Jambangan Surabaya, (Surabaya, 2018) Skripsi Mahasiswa, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, Tanggal akses 31 Maret 2021.

32 Viky Tamara, Upaya Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) Dalam Membina Keharmonisan Rumah Tangga Di Kelurahan Purbayan, (Yogyakarta 2016) Skripsi Mahasiswa, Universitas islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Tanggal Kases 32 Maret 2021.

(30)

Mewujudkan Keharmonisan Keluarga Di Kelurahan Durian Payung Kecamatang Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung.33

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan

No Nama Peneliti Judul Persamaan Perbedaan

1

Faidah Rofiah (B93214102)

Human Validation Process Model Untuk Meningkatka n

keharmonisa n Keluarga

Di Desa

Pangesangan Jambangan Surabaya.

Sama membahas keharmonisan

keluarga

Penelitian terdahulu obyek penelitiannya adalah sekeluarga yang mengalami ketidak efektifan dalam berkomunikasi,

sedangkan peneliti menggunakan obyek keluarga / warga binaan di Kampung Sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

2

Vicky Tamara (13220001)

Upaya Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) Dalam Membina Keharmonisa

n Rumah

Tangga Di Kelurahan Purbayan, Kotagede, Yogyakarta

Sama membahas mengenai

keharmonisan keluarga.

Penelitian terdahulu obyek penelitian dilakukan oleh Konselor sekaligus motivator dan warga Purbayan, sedangkan obyek peneliti adalah penyuluh agama dan warga binaan di kampung sakinah kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

3

Fenicia Desiana Saragih (1441040084)

Peran Bina Keluarga Remaja (BKR) Dalam Mewujudkan Keharmonisa

Sama-sama

bertujuan untuk meningkatkan

keharmonisan keluarga.

Peneliti terdahulu obyek penelitiannya adalah kepala keluarga, sedangkan obyek peneliti adalah keluarga binaan yang terdiri dari ibu-ibu..

33 Fenicia Desiana Saragih, Peran Bina Keluarga Remaja (BKR) Dalam Mewujudkan Keharmonisan Keluarga Di Kelurahan Durian Payung Kecamatang Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung,(Lampung, 2018) Skripsi Mahasiswa, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Tanggal Akses 31 Maret 2021.

(31)

n Keluarga Di Kelurahan Durian

Payung Kecamatang Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung

B. Kajian Teori

Kajian teori membahas mengenai argumentasi yang didukung oleh data, fakta dan ilmu pasti yang dijadikan sebagai sudut pandang penelitian.

Pembahasan teori yang berkaitan terhadap penelitian secara lebih luas dan mendalam bertujuan agar memperluas pengetahuan peneliti dalam melakuakn kajian persoalan yang aka n dipecahkan menyesuaikan rumusan masalah sekaligus tujuan penelitian. Kedudukan kajian teori dalam penelitian kualitatif diletakkan sebagai sudut pandang, bukan untuk diuji sebagaimana dalam penelitian kuantitatif. 34

1. Penyuluh Agama

a. Pengertian Penyuluh Agama

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia penyuluhan terdapat dalam kata suluh yang bermakna barang yang digunakan untuk menyinari yang terdapat imbuhan pe- dan an, berarti proses atau kegiatan memberi penerangan.35 Kata penyuluhan merupakan terjemahan dari kata yang terdapat dari bahasa Inggris to councel yang

34 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, (Jember : IAIN Jember, Press 2019). Hal 91.

35 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015), Hal. 27.

(32)

bermakna nasehat atau anjuran kepada orang lain secara bertatap muka satu sama lain yang dilakukan secara perorangan dengan face to face.36

Pengertian lain mengenai penyuluh menurut Isep Zaenal Arifin, beliau menyatakan bahwa penyuluhan merupakan tindakan membantu yang dilakukan untuk perorangan maupun kelompok yang dilaksanakan menggunakan metode-metode psikologis dengan tujuan agar perorangan atau kelompok bisa mendapatkan jalan keluar secara mandiri, baik secara pencegahan sebelum terjadi (preventif), menolong untuk menyembuhkan (kuratif), memperbaiki (korektif) maupun developmental, dengan indicator sebagai berikut : 37

1) Terdapat pemateri untuk menyampaikan informasi (nara sumber).

2) Bisa diikuti semua orang (umum)

3) Menggunakan komunikasi lisan atau tulisan 4) Bisa dicampur dengan berbagai macam aktivitas.

5) Yang menjadi tujuan adalah masyarakat umum

6) Bertujuan agar mengetahui informasi tanpa menuntut masyarakat untuk mengikuti target penyuluh.

7) Bisa dilakukan di mana saja, baik secara formal maupun tidak, dalam jumlah besar maupun kecil.

Dari lingkup ilmu dakwah istilah bimbingan penyuluhan islam merupakan Irsyad Islam. Istilah dari Guidance dan counseling pada umumnya digunakan sebagai bentuk mengaplikasikan dari psikologi

36 Ilham, “Peranan Penyuluh Agama Islam Dalam Dakwah”, Jurnal Alhadharah, Vol. 17 No. 33 ( Januari – Juni 2018), hal 51.

37 Ibid. Hal 52.

(33)

pendidikan dan dalam disiplin ilmu psikologi, guidance and counseling atau bimbingan dan penyuluhan adalah cabang dari ilmu tersebut.38

Berdasarkan definisi di atas penulis menyimpulkan bahwasanya penyuluhan merupakan bagian dari bimbingaan lahir dan batin dengan tujuan memberi bantuan untuk individu maupun kelompok yang dilakukan secara sadar tanpa paksaan agar bisa mandiri dalam menyelesaikan persoalan dan bisa melanjutkan aktifitas berikutnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Pengertian mengenai agama terdapat dua sudut pandang menurut pendapat Mubarok, antara lain yang pertama berdasarkan doktriner yang bermakna bahwa agama adalah ajaran yang datang dari Tuhan (syar‟un ilaahiyyun), yang berfungsi sebagai pembimbing kehidupan manusia untuk mencapai kebahagian dunia akhirat. Secara doktriner, agama adalah konsep, bukan realita. Kedua, makna agama secara sosiologis psikologis merupakan tingkah laku manusia yang mengimplementasikan dari nilai keagamaan, hal ini adalah bagian dari gerak batin yang bisa mengarahkan sekaligus mengontrol tingkah laku manusia, antara hubungannya dengan tuhan maupun dengan sesama manusia, individu, maupun antara kenyataan lainnya.

Secara sosiologis psikologis, agama adalah pola hidup yang sudah membudaya dalam batin manusia sehingga menjadi rujukan dari sikap dan orientasi kehidupan sehari-hari sampai pada akhirnya agama masuk

38 Ilham, “Peranan Penyuluh Agama Islam Dalam Dakwah”, Jurnal Alhadharah, Vol. 17 No. 33 ( Januari – Juni 2018), Hal 52.

(34)

dalam struktur kepribadian pemeluknya. 39 Adapun pengertian lain tentang agama adalah suatu sistem kepercayaan yang di dalamnya meliputi aspek hukum, moral, budaya, dan sebagainya.40

Selanjutnya agama Islam adalah salah satu agama besar di dunia yang dianut olah semua umat yang mengakui Allah adalah Tuhan YME dan Muhammad sebagai Rasul. Kemudian dalam istilah Arab “Islam”

berasal dari kata Arab “aslama” yang kata dasarnya ”salima” dengan makna sejahtera/tidak tercela. Selanjutnya dalam bahasa Indonesia menjadi kata “selamat‟ atau kata “salam” yang maksudnya kedamaian /kepatuhan/penyerahan diri kepada tuhan.41

Sehingga dari uraian penyuluh dan agama akan memberikan makna tersendiri. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 79 tahun 1985, penyuluh agama merupakan “membimbing umat yang memiliki keyakinan dengan tujuan untuk membina sikap, mental dan ketaqwaan terhadap Allah Tuhan Yang Maha Esa, penyuluh agama adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, selain itu juga berperan untuk menguraikan segala sudut pandang melalui bahasa yang mudah difahami”.42

39 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015), Hal. 27.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

40Ibid. Hal. 28.

41Ibid. Hal. 28.

42 Ali Hamzah, “Kinerja Penyuluh Agama Non PNS Kementrian Agama”, jurnal Islamika, Vol.

18, No. 02 (Desember 2018), Hal 39.

(35)

Di lingkungan kementrian Agama, dalam melakukan tugasnya digolongkan menjadi dua, antara lain penyuluh agama PNS dan Penyuluh Agama non PNS :43

a) Ahli keagamaan yang mengerjakan kebaikan dengan cara menyampaikan informasi yang bermanfaat (kegiatan dakwah), dan mendapatkan balas jasa yang diberikan setiap satu bulan sekali sebagai honor merupakan penyuluh Agama non PNS.

b) Penyuluh agama yang berasal dari PNS, di lingkungan Departemen Agama Dalam rangka menjamin pembinaan karir dan kepangkatan jabatan dan meningkatkan profesionalisme penyuluh agama yang berasal dari PNS berdasarkan keputusan Presiden No. 87 Tahun 1991, Keputusan Menko Wasbangpan No. 54/MK/WASPAN/1999 dan keputusan bersama Menteri Agama dan Kepala BKN No. 574 dan 178 Penyuluh Agama ditetapkan sebagai Jabatan Fungsional yang dikaitkan dengan angka kredit dan berlaku ini 1 Oktober 1999.

Pemahaman mengenai makna penyuluh di atas memberikan kesimpulan mengenai penyuluh Agama Islam merupakan rangkaian aktivitas menyampaikan nilai-nilai keagamaan yang bertujuan untuk menolong agar mendekatkan drir dengan kuasa Allah SWT sekaligus menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW agar mendapatkan ilmu pengetahuan dan menjadi manusia yang patuh kepada Tuhannya Allah

43 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 29.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

(36)

SWT. Pembagian penyuluh terdapat dalam tiga kelompok dalam meningkatkan untuk melayani masyarakat, antara lain :44

(1) Penyuluh agama di lingkup desa yang terdiri dari masyarakat yang pindah dari satu daerah ke daerah yang lain, masyarakat asing, dan masyarakat ramaja yang ada di wilayah Kabupaten merupakan penyuluh agama Muda.

(2) Penyuluh agama di lingkup kota yang terdiri dari kelompok yang memiliki jabatan tertentu, daerah menantang, kelompok ABG, kelompok pabrik, kelembagaan masyarakat, rehabilitasi sosial dan instansi swasta / pemerintah di Kotamadya dan Ibukota Provinsi merupakan penyuluh Agama Madya.

(3) Penyuluh Agama Utama. Adalah penyuluh agama yang bertugas di lingkungan para pejabat instansi pemerintah/ swasta kelompok ahli dalam berbagai bidang.

b. Dasar Pelaksanaan Penyuluh Agama

Dalam melaksanakan suatu tindakan membutuhkan landasan teori ataupun dasar hukum, sehingga memberikan penguatan dan dorongan dalm mengimplementasikan kegiatan tersebut. Termasuk dalam pelaksanaan atau kegiatan penyuluh agama, menggunakan dasar Al- Quran dan Hadits.

44 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 30.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

(37)

1) Dari Al-Qur’an Surat Al – Imran ayat 104

ِيَع َى ْىَهٌَْي َو ِف ْو ُرْعَوْلاِب َى ْو ُر ُهْأَي َو ِرْيَخْلا ىَلِا َى ْىُعْذَّي ٌةَّهُا ْنُكٌِّْه ْيُكَتْل َو َى ْىُحِلْفُوْلا ُنُه َكِٕى ٰٰۤلوُا َو ۗ ِرَكٌُْوْلا

Artinya : “ Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”

c. Tujuan Penyuluh Agama

Tujuan penyuluh agama sebagaimana yang telah dipaparkan oleh pembina dari penyuluh KUA Kecamatan Mayang adalah terciptanya masyarakat yang sejahtera dan kehidupan keluarga yang harmonis.45 Menurut Thohari Munawar, dkk yang termasuk tujuan penyuluhan ialah antara lain :

1) Membantu individu mencegah terjadinya problem dalam keagamaan, dengan cara : menolong seseorang agar memahami sifat asal sebagai manusia, memahami bahwa ada petunjuk Allah dalam menjalankan kehidupan, dan menolong seseorang untuk melakukan segala aktivitas dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

2) Menolong seseorang dalam menyelesaikan persoalam yang ada hubungannya dengan keagamaan, yang dilakukan dengan : menolong seseorang dalam mengurai permasalahan yang dihadapi,

45 Dokumentasi, wawancara Penyuluh Agama KUA

(38)

menolong seseorang untuk mengenali dirinya sendiri dan sekitarnya, menolong seseorang dalam mencari solusi sesuai dengan ajaran Islam dan menolong seseorang dalam memberikan alternative tertentu dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan solusi dari persoalan yang dihadapi.

3) Menolong seseorang dalam menjaga keadaan dalam menjalankan aktivitas keagamaan yang telah dilakukan dan itu sudah baik dan agar menjadi lebih baik untuk kedepannya.46

Berdasarkan uraian di atas mengenai tujuan penyuluh agama, menurut penulis menyimpulkan bahwa tujuan penyuluh agama adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan keharmonisan masyarakat sekitar agar tercipta kebahagiaan dunia akhirat.

d. Fungsi Penyuluh Agama

Fungsi penyuluh dalam melakukan aktivitas berdakwah memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sebagaimana tugas fungsi dari penyuluh agama yang ada di setiap Kantor Urusan Agama (KUA). Ada beberapa tokoh yang memberikan pendapat mengenai fungsi dari penyuluh agama, menurut Jamil, penyuluh agama Islam memiliki 3 fungsi, antara lain : 47

1) Fungsi Informatif dan Edukatif

46 Ilham, “Peranan Penyuluh Agama Islam Dalam Dakwah”, Jurnal Alhadharah, Vol. 17 No. 33 ( Januari – Juni 2018), hal 55.

47 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 31.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

(39)

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, informatif artinya bersifat memberi informasi/menerangkan, sedangkan edukatif artinya bersifat mendidik / yang berkaitan dengan pendidikan.

Berdasarkan pengertian tersebut, artinya Penyuluh agama Islam berperan menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat.

2) Fungsi Konsultatif

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, konsultatif artinya bersifat konsultasi, artinya bahwa Penyuluh agama Islam memberikan fasilitas untuk berkontribusi dalam memberikan sumbangsih dalam hal pemikiran dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang masyarakat hadapi.

3) Fungsi Advokatif

Advokatif diartikan sebagai bentuk merekomendasikan atau mengakses suatu program agar ditindaklanjuti, mencakup aktivitas yang bertujuan untuk memberikan kesadaran menjadi lebih baik.

Dalam hal ini bermakna, bahwa penyuluh agama Islam mempunyai tanggungjawab moral dan sosial dalam mengerjakan aktivitas mendukung masyarakat agar merasa aman / tidak terganggu.

Selain hal di atas, dalam sisi lain menurut Anis Purwanto fungsi dari penyuluh adalah sebagai berikut :48

1) Memberi Informasi dan Mendidik

48 Ilham, “Peranan Penyuluh Agama Islam Dalam Dakwah”, Jurnal Alhadharah, Vol. 17 No. 33 ( Januari – Juni 2018), hal 67.

(40)

Memposisikan sebagai pelaku yang menyiarkan kebaikan kepada masyarakat sekaligus memberikan pemahaman mengenai sesuatu hal berdasarkan pedoman umat Islam (Al-Qur‟an) dan meneladani segala hal yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

2) Memberikan pertimbangan

Memberikan kesempatan untuk orang lain yang akan bertanya terhadap persoalannya serta membantu dalam memecahkan problematika yang dihadapi, baik problematika pribadi, keluarga atau persoalan masyarakat secara umum. Kehadiran penyuluh agama sangat berperan untuk menjadi wadah bagi masyarakat sekitar yang membutuhkan pertolongan, khusunya jika akan konsultasi terkait persoalannya.

3) Memberikan Pendampingan

Memberikan peluang terhadap masyarakat untuk mengembangkan diri untuk menjadi orang yang lebih bermartabat, mandiri dan penuh kebaikan.

Pendapat lain dikemukakan oleh M.Arifin, bahwasannya penyuluh agama berfungsi sebagai berikut :

1) Penyuluh Mengajak Sosial Berkemajuan

Menjadi masyarakat yang berkemajuan, pada intinya penyuluh bisa memberikan kesempatan untuk mengajak masyarakat agar berkembang dalam hal perekonomian, dan sosial politik agar bisa dijadikan sebagai solusi kehidupan di masyarakat.

(41)

2) Tindakan Memberdayakan Masyarakat

Memberdayakan pada intinya mengembangkan yang sudah kuat, dan memperdayakan yang masih lemah, sehingga bisa menjadi manusia tangguh dan berdaya dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Hal ini dilakukan agar manusia lebih kuat, mandiri dan sejahtera untuk diri sendiri dan juga orang lain.

3) Motivasi Terhadap Kemampuan Diri

Memberikan motivasi sangat diperlukan untuk mereka yang memiliki kemampuan di bidang masing-masing, sehingga dari kemampuan yang dimiliki bisa memberikan kontribusi untuk diri sendiri, orang lain dan sekitarnya dalam mengembangkan kemampuan untuk memproduksi sekaligus melahirkan hal yang lebih berguna.49

Berdasarkan beberapa ulasan tersebut di atas mengenai fungsi penyuluh agama, penulis menyimpulkan bahwa fungsi penyuluh agama adalah memberikan kontribusi penuh untuk masyarakat, dari segi perseorangan ataupun kebersamaan dengan tujuan untuk menjadi fasilitator informasi, konsultasi sesuatu hal, serta memberdayakan kemampuan masyarakat secara aktif sehingga menjadi individu atau kelompok yang mandiri dalam menyelesaikan persoalan di segala aspek kehidupan.

49 Khomsiatul Inayah, skripsi : ” Peran Penyuluh Agama Dalam Menjalankan Fungsi Profesi Untuk Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Di Parung Bogor” (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah, 2020), hal 43.

(42)

e. Proses Penyuluh Agama

Melaksanakan penyuluhan membutuhkan rencana yang harus dilakukan, agar mencapai keberhasilan dalam melakukan proses penyuluhan. Adapun proses penyuluhan agama Menurut Karta sapoetra adalah sebagai berikut :50

1) Survey Penentuan Program Penyuluhan

Pengenalan wilayah atau obyek penyuluhan merupakan hal yang penting untuk dilakukan survey, sehingga bisa mempermudah proses penyuluhan yang akan dilakukan. Tempat dimana akan dilakukan, kondisi yang akan dijangkau, situasi daerah yang akan dituju, merupakan awal yang harus ditentukan. Sehingga bisa menjadi tolak ukur dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan.

2) Merancang Kegiatan

Merancang kegiatan penyuluhan disesuaikan dengan pengambilan situasi dan kondisi di awal sebagai acuan untuk program yang akan dilaksanakan sehingga tepat sasaran dan tepat guna.

50 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 34.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

(43)

3) Melaksanakan Kegiatan

Melaksanakan kegiatan harus menyesuaikan dengan yang ditentukan, artinya program kerja menyesuikan program kerja yang telah direncanakan atau disusun.

4) Evaluasi

Mengevaluasi artinya memberikan penilaian. Dalam hal ini yang diberikan penilaian adalah program yang sudah dilakukan, sehingga jika membutuhkan pengembangan bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, dan jika ada hal yang harus diperbaiki, bisa diperbaiki sesuai dengan hal-hal yang harus diperbaiki. Dengan tujuan agar kedepannya menjadi lebih baik, baik dari segi sikap, perkataan dan perbuatan, selain hal tersebut tujuan evaluasi adalah untuk menemukan masalah-masalah, kelemahan-kelemahan sehingga bisa menemukan solusinya, mencari dan menemukan data untuk membuat laporan kegiatan.

f. Materi Penyuluh Agama Islam

Materi merupakan bahan atau apa-apa yang akan disampaikan untuk audien, dalam hal ini adalah masyarakat sebagai subyek penyuluhan. Menurut Karta Saputra, agar materi mudah diterima oleh penerima, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

1) Menyesuaikan kemampuan dari yang akan diberikan penyuluhan 2) Sesuai dengan adat istiadat warga setempat

3) Bisa memberikan manfaat

(44)

4) Bisa langsung diterapkan dalam keseharian 5) Penuh kesan karena kebermanfaatannya.

Menurut Mardikanto, materi pada dasrnya dibedakan kedalam 3 pokok materi, antara lain : pertama, dibutuhkan dan diketahui masyarakat. Kedua menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan bernilai/berbobot. Ketiga, sebagai penambah pengetahuan meskipun belum dibutuhkan.51

Secara umum, materi penyuluhan merupakan dalam hal keimanan, keislaman dan budi pekerti, yang kesemuanya berlandaskan kitab umat Islam (Al-Qur‟an) dan teladan Nabi Muhammad SAW.52 Berdasarkan hal di atas penulis menyimpulkan bahwa materi yang akan disampaikan tergantung pada tujuan yang akan dicapai dari penyuluh, misalnya untuk warga binaan di kampung sakinah Kecamatan Mayang Kabupaten Jember, materinya hal-hal yang menunjang untuk meningkatkan keharmonisan keluarga.53

g. Sasaran Penyuluhan

Kegiatan penyuluhan yang menjadi sasarannya biasa dikatakan dengan kelompok sasaran ataupun kelompok pembinaan. Kelompok yang berada dibawah wilayah kerja penyuluh di tingkat Kecamatan

51 Khomsiatul Inayah, skripsi : ” Peran Penyuluh Agama Dalam Menjalankan Fungsi Profesi Untuk Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Di Parung Bogor” (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah, 2020), hal 47.

52 Ma’luf Fadli, Sripsi : “Metode Penyuluh Agama Dalam Pembinaan Akhlak Narapidana Di LP Wanita Kelas II A Semarang” (Semarang: IAIN Walisongo, 2015) hal. 38.

file:///D:/BUNDA%20NITIP/skripsi_lengkap%20penyuluh%20agama.pdf, diakses pada hari Jum’at tanggal 18 Maret 2021 jam 20.55.

53 Abdur Rofiq, Wawancara Sumber, Kampung Sakinah Jember 21 September 2021.

(45)

adalah kelompok sasaran dari kecamatan, jika dari desa maka masyarakatnya pun di tingkat desa.54

h. Metode Penyuluhan

Merhodos bermakna jalan yang berasal dari bahasa Yunani.55 Menurut kamus besar bahasa Indonesia mencapai sesuatu sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dan dilakukan dengan cara yang tepat adalah bagian dari metode. 56 Sebagaimana yang dikatakan oleh Mounder, dari jumlah sasaran yang bisa diwujudkan terdapat tiga hal, antara lain : 1) Cara yang dilakukan dengan pendekatan individu, baik dilakukan

secara bertatap muka maupun tidak bertatap muka. Misalnya dengan melalui surat maupun komunikasi on line.

2) Cara yang dilakukan dengan pendekatan kebersamaan. Dalam hal ini dilakukan dengan menyampaikan pesan di dalam suaty kelompok.

Misalnya saat diskusi maupun rapat.

3) Cara yang dilakukan dengan jumlah yang sangat banyak, dalam arti hal ini jangkauannya lebih banyak. Misalnya melakukan siaran dengan menggunakan media masa (radio, TV).57

Selain hal di atas, terdapat pendapat lain antara lain menurut Abdullah, merupakan beberapa kriteria cara penyampaian kebaikan, antara lain :

54 Ibid, hal 51.

55 Novaili, Metode Dakwah Penyuluhan Agama Islam Dalam mewujudkan Keluarga Sakinah Terhadap Pasangan Calon Suami Istri Di Kantor Urusan Agama (KUA), jurnal Bimbingan konseling Islam, vol. 6, No. 2 (Desember 2015), hal 408.

56 KBBI

57 Zulman, “Strategi, Merode, dan Tekhnik Komunikasi Penyuluh Agama Islam”, Jurnal diklat keagamaan Padang, Vol. 4, No. 2 (Juni 2020) hal 120.

(46)

1) Pidato

Cara berpidato merupakan cara yang paling serng dilakukan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW. Hingga hari ini masih dilanjutkan untuk senantiasa dilakukan dengan cara pidato.

2) Cara Tersurat

Cara yang selanjutnya adalah dengan menuliskan pesan dakwah sehingga bisa dibaca oleh khalayak umum, yang bernilai sesuatu yang bagus, berbobot dan membangun. Selain dari tulisan bisa dilakukan dengan menggambar dan melukis (kaligrafi).

3) Cara Teladan

Keteladanan merupakan hal utama dan paling penting, karena dengan demikian bisa memberikan contoh bagi lingkungan sekitar sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan meneladani Nabi Muhammad SAW. 58

Pendapat lain tentang metode dakwah, Ali Aziz mengemukakan dalam bukunya, antara lain :

1) Cara Bimbingan

Cara bimbingan adalah bisa dilakukan secara perseorangan, yang dilakukan dengan wawancara bertatap muka untuk mencapai solusi dari adanya persoalan.

58 Novaili, Metode Dakwah Penyuluhan Agama Islam Dalam mewujudkan Keluarga Sakinah Terhadap Pasangan Calon Suami Istri Di Kantor Urusan Agama (KUA), jurnal Bimbingan konseling Islam, vol. 6, No. 2 (Desember 2015), hal 411.

Gambar

Tabel 2. 1  Persamaan dan Perbedaan  20

Referensi

Dokumen terkait

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya penyuluh agama Islam dalam meningkatkan salat berjamaah masyarakat di Desa Jojjolo Kecamatan

Untuk mengetahui upaya yang dilakukan oleh penyuluh agama di Desa Kute Kering dalam upaya menanggulangi pergaulan bebas di kalangan remaja dapat diketahui berdasarkan hasil

Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mengetahui upaya yang dilakukan oleh penyuluh agama Islam dalam meminimalisasi pernikahan bawah tangan di Kantor Urusan Agama Pakusari

Selain itu, pemerintah juga melakukan berbagai upaya dalam memberdayakan penyuluh agama non-PNS guna peningkatan kompetensi dengan mengadakan beberapa kegiatan untuk menunjang

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan nyata dengan kinerja penyuluh dalam melaksanakan tugas pokok penyuluh pertanian adalah tingkat

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran keluarga dalam upaya pencegahan penyakit DBD di Kelurahan Mayang Mengurai Kecamatan Kotabaru Jambi tahun

Penyuluh pertanian di Kecamatan Abung Semuli sudah melaksanakan tugas- tugasnya dengan baik, penyuluh di Kecamatan Abung Semuli sudah membantu para petani binaan untuk menjadi petani

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1 penerapan konseling terapi realitas pada pasangan yang menikah muda dalam membentuk keluarga sakinah di Kecamatan Silo Kabupaten Jember