SOAL
UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TAHUN 2024/2025 FAKULTAS AGAMA ISLAM (FAI) UNISSULA
SEMARANG
============================================
=
MATA KULIAH KOMPILASI HUKUM EKONOMI SYARIAH Nama : ABDUL JALIL
Pelaksanaan :Hari Selasa, 13 Mei 2025 Kelas : : Semester IV
Nim : 30502200007
Deskripsikan dengan jelas pandangan saudara/saudari tentang hal-hal di bawah ini :
1) Kesamaan dan perbedaan lahirnya KHES dan KHI 2) Riba dalam perspektif KHES
3) Kontribusi KHES bagi pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia : Teori dan Fakta
JAWABAN
1. Kesamaan dan perbedaan lahirnya KHES dan KHI
Kesamaan
Kompilasi Hukum Islam (KHI) maupun Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) sama-sama merupakan hasil kodifikasi hukum Islam yang bertujuan untuk
memberikan kepastian hukum bagi umat Islam di Indonesia, keduanya memiliki legitimasi kuat dalam praktik hukum, khususnya di lingkungan peradilan agama.
Kompilasi ini dirumuskan oleh para ahli hukum Islam melalui kerjasama antara Mahkamah Agung, Kementerian Agama, serta lembaga-lembaga keislaman lainnya.
Baik KHI maupun KHES mengambil sumber hukumnya dari Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, dan Qiyas, serta mempertimbangkan kebutuhan kontekstual masyarakat Indonesia.
Secara umum, keduanya hadir sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan kodifikasi hukum Islam yang dapat digunakan secara praktis di lingkungan hukum nasional.
Perbedaan
Mereka memiliki tujuan yang serupa, KHI dan KHES lahir dari latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. KHI diterbitkan lebih dahulu pada tahun 1991 berdasarkan Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991, dengan ruang lingkup utama mencakup persoalan-persoalan keluarga dalam Islam, seperti perkawinan, kewarisan, wakaf, hibah, dan wasiat.
Sebaliknya, KHES diterbitkan pada tahun 2008 sebagai bentuk respons terhadap perkembangan sistem ekonomi syariah di Indonesia. KHES memiliki ruang lingkup yang lebih luas dalam bidang muamalah, terutama menyangkut praktik ekonomi modern seperti perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, dan berbagai akad transaksi keuangan syariah lainnya. KHES disahkan melalui Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 032/KMA/SK/IV/2006 dan kemudian digunakan secara
resmi di lingkungan peradilan agama setelah amandemen UU No. 3 Tahun 2006 yang memperluas yurisdiksi pengadilan agama mencakup sengketa ekonomi syariah.
Dengan demikian, perbedaan utama terletak pada masa lahir, dasar hukum, ruang lingkup materi, serta konteks sosial yang melatarbelakangi pembentukannya. KHI lahir dalam konteks sosial yang menekankan pada penyeragaman hukum keluarga Islam, sedangkan KHES muncul sebagai respons terhadap perkembangan industri keuangan dan ekonomi berbasis syariah di Indonesia1.
2. Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES), riba dipandang sebagai praktik yang bertentangan dengan prinsip dasar keadilan dan kemaslahatan dalam transaksi ekonomi syariah. KHES menegaskan bahwa riba adalah segala bentuk tambahan yang disyaratkan dalam transaksi pinjam meminjam atau jual beli yang bukan bagian dari kompensasi atas manfaat atau risiko usaha yang sah menurut syariat.
Ditegaskan dalam Buku I KHES tentang Ketentuan Umum dan Akad, Pasal 22 menyatakan bahwa:
“Riba adalah tambahan yang tidak dibenarkan syariah dalam transaksi keuangan yang disebabkan oleh tenggang waktu atau kelebihan atas pokok utang.”2
3. Teori
Secara teoritis, Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) merupakan instrumen penting dalam pembangunan sistem ekonomi syariah di Indonesia. KHES berperan sebagai landasan normatif yang menyediakan kepastian hukum dan legitimasi syariah bagi berbagai praktik ekonomi yang berbasis Islam. Dalam kerangka hukum Islam, keberadaan KHES menjembatani kebutuhan antara prinsip-prinsip syariah dan praktik hukum positif Indonesia.
KHES menyusun berbagai akad dan prinsip ekonomi syariah, seperti mudharabah, musyarakah, ijarah, murabahah, dan lain-lain, dalam bentuk yang sistematis dan dapat diterapkan dalam penyelesaian sengketa hukum. Ini mendukung teori bahwa pertumbuhan ekonomi memerlukan kejelasan dan kepastian hukum (legal certainty), serta perlindungan hak-hak para pelaku ekonomi (Rahardjo, 2006).
Melalui pengakuan yuridis terhadap KHES di lingkungan peradilan agama, sistem hukum nasional memberi ruang bagi penerapan hukum ekonomi syariah yang lebih luas dan terstruktur, sesuai dengan asas lex specialis bagi umat Islam.
Fakta
Secara fakta, sejak KHES mulai diterapkan secara resmi pada tahun 2008, terjadi peningkatan signifikan dalam perkembangan institusi ekonomi syariah di Indonesia.
Beberapa indikator konkret yang menunjukkan kontribusi KHES adalah:
Peningkatan jumlah perkara ekonomi syariah di pengadilan agama.
Berdasarkan laporan Mahkamah Agung, setelah perluasan yurisdiksi pengadilan
1 Agung Ri, “Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah,” Mahkamah Agung, 2016.
2 Sally Badriya Hisniati et al., “Hukum Ekonomi Syariah,” Jurnal Pelita Nusa, 2023, https://doi.org/10.61612/jpn.v3i1.33.
agama melalui UU No. 3 Tahun 20063, perkara-perkara ekonomi syariah mulai banyak disidangkan dengan KHES sebagai dasar hukumnya.
Dukungan terhadap pertumbuhan industri keuangan syariah.
KHES menjadi acuan penting dalam pembentukan regulasi internal lembaga
keuangan syariah, termasuk perbankan, asuransi, dan pasar modal syariah. Lembaga- lembaga seperti DSN-MUI dan OJK Syariah merujuk pada substansi hukum dalam KHES saat merancang fatwa dan peraturan4.
Meningkatnya literasi dan edukasi hukum ekonomi syariah.
Sejumlah perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dan organisasi profesional menjadikan KHES sebagai materi utama dalam kurikulum hukum Islam modern, terutama pada fakultas syariah dan hukum.
Integrasi hukum syariah ke dalam sistem hukum nasional.
KHES memperkuat posisi hukum Islam sebagai bagian dari sistem hukum Indonesia tanpa bertentangan dengan prinsip negara hukum Pancasila. Ini menjadi dasar kuat untuk harmonisasi hukum antara nilai-nilai syariah dan peraturan negara.
DAFTAR PUSTAKA
Badriya Hisniati, Sally, Muchamad D Priyadi, Herol, Rivaldino, and Miftahul Ulum.
“Hukum Ekonomi Syariah.” Jurnal Pelita Nusa, 2023.
https://doi.org/10.61612/jpn.v3i1.33.
INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK, NOMOR 3 TAHUN 2006, TENTANG, PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989, and
TENTANG PERADILAN AGAMA. “Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.” MATERI POKOK PERATURAN, 2006.
https://peraturan.bpk.go.id/Details/40154/uu-no-3-tahun-2006.
Keuangan Otoritas Jasa. “Statistik Perbankan Syariah Desember 2023.” Statistik Perbankan Syariah, no. December (2023): 1–116.
Ri, Agung. “Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah.” Mahkamah Agung, 2016.
3 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA et al., “Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama,” MATERI POKOK PERATURAN, 2006,
https://peraturan.bpk.go.id/Details/40154/uu-no-3-tahun-2006.
4 Keuangan Otoritas Jasa, “Statistik Perbankan Syariah Desember 2023,” Statistik Perbankan Syariah, no. December (2023): 1–116.