Dina Rahmawati Hapsyah1, Herdi2, Wirda Hanim3
1,2,3
Universitas Negeri Jakarta
Co-Author: [email protected] / +6281279828454
Info Artikel
▪ Masuk : 08/02/2023
▪ Revisi : 21/05/2023
▪ Diterima : 22/05/2023 Alamat Jurnal
▪ https://ojs.uniska- bjm.ac.id/index.php/A N-NUR/index
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia disseminated below https://creativecommons.
org/licenses/by/4.0/
Abstract: This study aims to measure the validity and reliability of the academic stress instrument developed by Sun, Dunne, & Hou (2011). This study uses a quantitative approach. The sampling technique uses the probability sampling method, namely cluster random sampling. The population in this study were students at the elementary, junior high school, senior high school,vocational school, and students with an age range of 12- 19 years. The academic stress instrument has 16 favorable statement items.
This scale uses a Likert scale model which has 5 alternative answers. The five alternative answers are Strongly Disagree (STS), Disagree (TS), Enough, Agree (S), Strongly Agree (SS). The results showed that 16 items were declared valid with an r count > 0.195 and an alpha reliability of 0.036.
Keywords: validity; reliability; academic stress
PENDAHULUAN
Stress merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan individu (Wahyudi, Bebasari, & Nazriati, 2017). Setiap individu akan mengalami stress, baik stress akademik, psikologis, maupun stress di lingkungan kerja. Stress akademik adalah peristiwa yang seringkali dihadapi oleh peserta didik, baik pada tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Stress akademik dapat disebabkan oleh berbagai permasalahan akademik yang dihadapi, misalnya tugas, ujian, dll.
Individu pada masa remaja merupakan kelompok yang cenderung rentan terhadap stress, mulai dari usia 10 hingga 19 tahun (World Health Organization, 2004).
Stress akademik merupakan stress yang dapat timbul akibat adanya tekanan untuk menampilkan prestasi dalam persaingan secara akademik. Persaingan yang smakin meningkat akan semakin membebani individu. Stress akademik yang dialami oleh individu adalah salah satu hasil dari persepsi yang subjektif terhadap ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan secara aktual yang ada pada diri individu (Agista, 2011). Sun, Dunne, &
Hou (2011) mendefinisikan stress akademik sebagai tekanan psikologis dan secara subjektif berasal dari berbagai aspek akademik yang berasal dari kegiatan belajar di sekolah dibandingkan peristiwa dari kehidupan. Beberapa aspek yang dapat menyebabkan stres akademik antara lain: tingginya harapan terhadap nilai akademik, tugas sekolah yang membebani terlalu berat, sikap tidak baik terhadap pembelajaran yaitu ketidakpuasan dengan peringkat, kehilangan minat dan kesulitan dalam memahami materi.
Untuk mengukur stress akademik pada peserta didik dibutuhkan sebuah instrument yang tepat. Kriteria lain untuk menentukan kualitas sebuah instrument adalah validitas.
Validitas memberikan makna bahwa sejauh mana instrument tepat dan akurat, serta sesuai dengan subjek yang akan diukur (Eva-MariaWaltner, Rieß, & Mischo, 2019). Instrument yang akan digunakan untuk mengukur stress akademik mengacu pada indicator stress akademik. Aspek/indicator dari stress akademik (Sun, Dunne, & Hou (2011), terdiri dari:
1. Pressure from study (Tekanan dalam belajar)
Indikator ini meliputi perasaan tertekan yang diakibatkan oleh beban studi di sekolah. Tekanan belajar berhubungan dengan tekanan yang dirasakan individu ketika sedang belajar di sekolah atau di rumah. Tekanan yang di alami individu dapat berasal dari teman di sekolah, orang tua, ujian sekolah, dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2. Workload (Beban tugas)
Workload merupakan indikator stres akademik yang menganggap terlalu banyak beban tugas. Beban tugas berhubungan dengan tugas yang perlu dikerjakan oleh individu di sekolah. Beban ini dapat berupa PR (pekerjaan rumah), tugas di sekolah, serta ujian/ulangan.
3. Worry about grades (Khawatir akan nilai)
Worry about grades merupakan indikator stres akademik dimana peserta didik khawatir terhadap nilai-nilai di sekolah dan menganggap nilai sangat penting. Hal ini berkaitan dengan proses kognitif yang dimiliki oleh individu. Apabila individu mengalami stress akademik, maka individu tersebut akan sulit berkonsentrasi, kualitas belajar menurun, dan mudah lupa.
4.
Self-expectation merupakan indikator stres akademik dimana peserta didik merasa khawatir dan tidak puas ketika tidak dapat memenuhi standar-standar yang ditetapkan oleh dirinya sendiri. Individu yang mengalami stress akademik cenderung memiliki ekspetasi rendah pada diri sendidi, misalnya selalu merasa gagal dalam hal nilai akademik, merasa bahwa selalu membuat orang tua dan guru kecewa apabila nilai akademis yang didapatkan tidak sesuai dengan harapan.
5. Despondency (Keputusasaan)
Despondency merupakan indikator stres akademik yang meliputi perasaan kurang yakin dan merasa banyak kesulitan yang dialami ketika belajar di sekolah. Keputusasaan dalam hal ini berkaitan dengan respon emosional yang dimiliki individu saat merasa tidak mampu mencapai tujuan dalam hidup. Ketika individu mengalami stress akademik, ia akan merasa bahwa ia tidak memiliki pemahaman dalam pelajaran dan tugas-tugas di sekolah.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah Teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria tertentu (Sugiyono, 2014). Adapun kriteria sampel pada penelitian ini adalah:
• Peserta didik SD, SMP, SMA/K di Kecamatan Natar.
• Mahasiswa Perguruan tinggi di Bandar Lampung.
• Usia 11 – 20 tahun.
• Mengikuti pembelajaran daring selama pandemic covid-19.
Instrumen stress akademik memiliki 16 item pernyataan favorable. Skala ini menggunakan model skala likert yang memiliki 5 alternative jawaban. Lima alternative jawaban tersebut yaitu: Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Cukup, Setuju (S), Sangat Setuju (SS). Sebelum digunakan, peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas ulang pada instrument ESSA. Semakin tinggi skor yang didapatkan oleh subjek, maka tingkat stress akademik juga tinggi. Begitupun sebaliknya, semakin rendah skor yang didapatkan oleh subjek, maka tingkat stress akademik juga rendah. Perhitungan uji validitas butir soal pada hasil uji coba instrument menggunakan rumus pearsons.
Gambar 3.2 Rumus Pearson
Keterangan:
rxy: koefisien korelasi x: skor item
y: skor total n: jumlah subjek
Dasar pengambilan keputusan pada uji validitas adalah:
1. Jika nilai r hitung > r table, maka item pernyataan berkorelasi signifikan terhadap skor total (item dinyatakan valid).
2. Jika nilai r hitung < r table, maka item pernyataan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total (item dinyatakan tidak valid).
Perhitungan reliabilitas pada penelitian ini menggunakan rumus alpha. Nilai r table dicari pada signifikasi 0,05 dengan (n) 100 (angka 100 karena jumlah responden berjumlah 100), maka didapatkan nilai r table sebesar 0,195. Koefisiensi nilai reliabilitas (r hitung) yang didaptkan kemudian dibandingkan dengan nilai r table. Jika r hitung > r table, maka butir instrument dinyatakan valis. Namun sebaliknya, jika nilai r hitung < r table, maka butir instrument dinyatakan tidak reliabel (Indrawan & Yaniawati dalam (Ariyanti, 2019).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Instrument stress akademik pada penelitian ini memiliki 5 (lima) indicator, yaitu Pressure from study (Tekanan dalam belajar), Workload (Beban tugas), Worry about grades (Khawatir akan nilai), Self-expectation (Harapan diri), Despondency (Keputusasaan). Uji validitas merupakan langkah yang digunakan untuk mengetahui apakah sebuah instrument merupakan instrument yang valid (Sodiq, Maharani, Nisa, Satria, & Faizah, 2020). Pada uji pengukuran validitas intrumen terdapat dua macam, yaitu mengkorelasikan antar skor butir pertanyaan (item) dengan total item, dan mengkorelasikan antar masing-masing skor indicator item dengan total skor konstruk.
Instrument stress akademik remaja diuji coba kepada peserta didik sebanyak 50 responden. Selanjutya dilakukan analisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya.
Perolehan hasil uji validitas dan reliabilitas instrument adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Uji Validitas Instrumen
No Item r hitung r table Sig 5% Keterangan
1 0,214 0,195 Valid
2 0,330 0,195 Valid
3 0,285 0,195 Valid
4 0,215 0,195 Valid
5 0,221 0,195 Valid
6 0,305 0,195 Valid
7 0,210 0,195 Valid
8 0,273 0,195 Valid
9 0,356 0,195 Valid
10 0,352 0,195 Valid
11 0,400 0,195 Valid
12 0,201 0,195 Valid
13 0,400 0,195 Valid
14 0,196 0,195 Valid
15 0,516 0,195 Valid
16 0,367 0,195 Valid
Table hasil uji validitas instrument di atas menunjukkan bahwa r hitung lebih besar dari r table, maka dapat diambil keputusan bahwa instrument dinyatakan valid.
Hasil Uji Reliabilitas
Hasil output di atas menunjukkan bahwa nilai Cronbach Alpha sebesar 0,336. Nilai tersebut kemudian kita bandingkan dengan nilai r table. Nilai r table dicari pada signifikasi 0,05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 100. Maka didapatkan nilai r table sebesar 0,195.
Karena nilai r = 0,336 > r table = 0,195 maka dapat diambil kesimpulan bahwa instrument reliabel dapat dipercaya untuk mengukur stress akademik peserta didik.
PENUTUP
Berdasarkan dari hasil uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa instrument stress akademik yang dikembangkan oleh Sun, Dunne, & Hou (2011) pada penelitian ini memiliki 16 pernyataan yag valid dan reliabel dengan nilai r hitung > 0,195 dan reliabilitas alpha sebesar 0,036
REFERENSI
Agista, I. (2011). Penanganan Kasus Stres Dalam Menghadapi Aktivitas Kuliah Melalui Pendekatan Konseling Behavioristik Dengan Teknik Pengelolaan Diri Pada Mahamahasiswa Jurusan Seni Rupa FBS UNNES.
Alvin, N. (2007). Handling Study Stress: Panduan Agar Anda Bisa Belajar Bersama Anak- Anak Anda. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ariyanti, I. (2019, Oktober). Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Angket Kemandirian Belajar Matematik. THETA: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 53-57.
Elias, H., Ping, W. S., & Abdullah, M. C. (2011). Stress and Academic Achievement among Undergraduate Students in Universiti Putra Malaysia. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 646-655.
Eva-MariaWaltner, Rieß, W., & Mischo, C. (2019). Development And Validation Of An Instrument For Measuring Student Sustainability Competencies. Sustainability, 11(6), 1717.
Hurlock. (2006). Psikologi Perkembangan.
LaRue, D. E., & Herrman, J. W. (2008, Sept - Oct). Adolescent Stress Through the Eyes of High-Risk Teens. Pedia Nurs, 34(5), 375-80.
Sodiq, F., Maharani, W., Nisa, I. M., Satria, E. R., & Faizah, R. (2020). Uji Validitas dan Reliabilitas University Stress Scale. In Prosiding University Research Colloquium, 136- 140.
Reliability Statistics Cronbach's
Alpha N of Items
.336 16
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cet. XXIV. Bandung:
Alfabeta.
Sun, J., Dunne, M. P., & Hou, X.-y. (2011). Educational Stress Scale For Adolescents:
Development, Validity, and Reliability With Chinese Students. Journal Of Psychoeducational Assessment, 29(6), 534-546.
Wahyudi, R., Bebasari, E., & Nazriati, E. (2017). Gambaran Tingkat Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Kedokteran, 107-113.
World Health Organization. (2004).