PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu bentuk retribusi daerah adalah retribusi sektor pariwisata yang diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Enrekang No. Penghapusan retribusi daerah berdampak pada pengelolaan pendapatan asli daerah di Kabupaten Enrekang yang berdampak pada berkurangnya pencapaian target.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Pengendalian pengelolaan pajak sektor wisata di Kabupaten Enrekang untuk mengetahui siapa saja yang akan diawasi. Yang mana terkait dengan pengelolaan pungutan sektor pariwisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Enrekang.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Ariska (2017) “Pengelolaan Retribusi Kawasan Wisata Pantai Parangtritis Dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bantul”. Hasil yang penulis peroleh dari penelitian ini adalah suatu bentuk pengelolaan retribusi kawasan wisata pantai Parangtritis, dalam upaya meningkatkan pendapatan asli daerah Kabupaten Bantul.
Definisi, Konsep, dan Teori
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah ilmu tentang manajemen yang dilakukan untuk mengatasi sesuatu atau memberikan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Merencanakan tujuan suatu perusahaan atau organisasi dan cara mencapai tujuan tersebut dengan sumber daya yang ada.
Kerangka Pikir
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor pendukung adalah keadaan-keadaan pengaruh yang sifatnya turut mendukung atau menolong dan sebagainya dalam terjadinya suatu hal. Fungsi manajemen yang dikemukakan oleh James A.F Stoner memberikan gambaran bagi penulis dalam menciptakan kerangka berpikir dalam kaitannya dengan pengelolaan pungutan sektor pariwisata untuk meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten Enrekang, berdasarkan teori diatas peneliti menguraikan hal tersebut.
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
Dengan teknik ini peneliti mengamati dan melakukan observasi terkait dengan pengelolaan pajak wisatawan di Kabupaten Enrekang. Selain indikator pengelolaan, terdapat faktor pendukung dan penghambat pengelolaan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang. Berdasarkan hasil wawancara di atas terlihat bahwa Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang memberikan tugas kepada anak kehormatan sesuai dengan surat keputusan yang dikeluarkan.
Penulis melakukan wawancara dengan DS selaku Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang dengan pertanyaan bagaimana seorang pemimpin mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam pengelolaan pajak pariwisata. Penulis melakukan wawancara kepada DS selaku Kepala Dinas pada Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang dengan pertanyaan tentang fasilitas apa saja yang harus diawasi dalam pengelolaan retribusi. Dari hasil wawancara dengan beberapa informan terlihat bahwa pengendalian atau pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang sudah cukup baik.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi manajemen terkait pengelolaan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang dapat dikatakan sejalan dengan yang dilakukan oleh para pengelola di Dinas Olahraga Pemuda dan Pariwisata Kabupaten Enrekang. Kemudian di bawah pengawasan pimpinan di lingkungan Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang melakukan pengawasan langsung terhadap bawahannya. Organisasi Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata di Kabupaten Enrekang sudah cukup baik, mulai dari pembagian tugas menurut bidangnya dan pengelompokannya menurut keahlian.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Lokasi Penelitian
Jenis dan Tipe Penelitian
Penentuan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Enrekang merupakan instansi yang mengelola retribusi sektor pariwisata dan hal ini menjadi permasalahan berdasarkan kasus yang dijelaskan pada latar belakang. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari informan atau objek penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan retribusi sektor pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah di Kabupaten Enrekang. Data sekunder merupakan data tertulis dan digunakan sebagai faktor pendukung dalam analisis data primer.
Informan Penelitian
Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Teknik dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan dokumen-dokumen dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Enrekang yang berkaitan dengan objek penelitian. Data-data tersebut dikelompokkan berdasarkan objek penelitian sehingga proses reduksi data tidak memakan waktu lama. Langkah dalam menyajikan data adalah dengan membandingkan dan menghubungkan seluruh data, baik data primer maupun data sekunder, agar dapat berbagi konsep yang bermakna. Penyajian data bertujuan untuk menganalisis dan mengingatkan bahwa penelitian kualitatif lebih pada penyusunan teks naratif deskriptif.
Sejak awal penelitian, penulis mengumpulkan data dan harus memahami apa maksud dari hal-hal yang ditemui dan diambil di lapangan serta mencatat sebab akibat yang terjadi serta berbagai dimensinya sehingga dapat diambil kesimpulan dan diperhitungkan. . Kemudian langkah selanjutnya adalah menginterpretasikan data dan memfinalisasi hasil yang diperoleh untuk mendapatkan interpretasi atas kesimpulan.
Pengabsahan Data
Nah tahap awal yang kita lakukan dalam menentukan perencanaan ini adalah menentukan RKA (Rencana Kegiatan Anggaran), setelah menentukan RKA kita lanjutkan dengan menentukan berapa PAD (Pendapatan Asli Daerah) disetiap lokasi wisata yang dikelola Pemuda Kabupaten Enrekang. Kantor Olahraga dan Pariwisata. Penulis melakukan wawancara dengan DS selaku Kepala Dinas pada Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang dengan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam pemungutan pajak pariwisata di Kabupaten Enrekang. Pajak yang dipungut Dinas Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata Kabupaten Enrekang hanya berasal dari tempat wisata yang dikelola seperti Vila Bambapuang dan Pemandian Alam Lewaja. Selain itu, Dinas tidak mempunyai kewenangan memungut pajak.
Dari beberapa hasil yang diperoleh dari wawancara maka dapat dikatakan bahwa yang dilakukan seorang pemimpin dalam mengatasi kendala-kendala yang terjadi dalam pengelolaan pajak sektor pariwisata adalah pimpinan Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang selalu meningkatkan pengawasan yang dilakukan. keluar. Penulis melakukan wawancara kepada SN selaku Kepala Bidang Prasarana dan Sarana dan Pelayanan Pariwisata Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang dengan pertanyaan mengenai apa saja faktor pendukung dalam pengelolaan pajak sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang. Berdasarkan hasil wawancara peneliti diketahui bahwa selain menjaga kebersihan lokasi wisata, cara yang dilakukan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang untuk menarik wisatawan adalah dengan membuat spot foto baru di lokasi wisata. , baik di Villa Bambapuang maupun di Pemandian Alam Lewaja.
Berdasarkan hasil wawancara dapat dikatakan bahwa tahapan perencanaan pengelolaan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang sudah sesuai dengan fungsi pengelolaan sistematis pada tahap perencanaan. Pemantauan pengelolaan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang berkaitan dengan siapa saja yang menjadi sasaran pemantauan dalam pengelolaan retribusi. Pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Enrekang juga telah menunjukkan hasil yang baik melalui pelaksanaan pengawasan langsung dan tidak langsung.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara peneliti diketahui bahwa yang menentukan sasaran retribusi adalah Bapenda (Badan Pendapatan Daerah), namun berkoordinasi dengan Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata. Selain itu dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti juga ditemukan bahwa penetapan target retribusi sektor pariwisata ditentukan oleh BAPEDA (Badan Pendapatan Daerah) Kabupaten Enrekang. Dalam proses pengorganisasiannya yaitu untuk mengetahui pengelompokan siapa saja yang bertugas memungut retribusi dan juga mengenai akuntansi dan pelaporan retribusi pariwisata pada Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Enrekang Kanupaten.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dapat mengetahui bahwa Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang hanya melakukan pengawasan terhadap tempat wisata yang dikelola oleh pihak swasta, berbeda dengan tempat wisata yang dikelola langsung oleh kantor yang mempunyai kasir penerima. . Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, maka dapat dikatakan bahwa pembagian kerja seperti pemungutan pajak pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata Kabupaten Enrekang dilakukan oleh anak-anak kehormatan yang sebelumnya telah mempunyai pengalaman dalam bidang pariwisata. menerima surat keputusan pemungutan pajak. Berdasarkan hasil wawancara peneliti terlihat bahwa para manajer di Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata mempunyai beberapa cara untuk mengatasi kendala yang ada, salah satunya adalah dengan meningkatkan pengawasan terhadap bawahannya dan juga mengadakan pertemuan secara berkala.
Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti diketahui bahwa bentuk pengendalian ada dua, yaitu pengendalian eksternal yang dilakukan oleh Bapenda dan pengendalian internal yang dilakukan oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata selaku OPD terkait. Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti terlihat bahwa pengawasan yang dilakukan oleh Bapenda ditentukan oleh mereka sendiri dan pengawasan tersebut dilakukan oleh Dinas Pemuda, Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang hampir setiap minggu khususnya pada hari Sabtu. dan hari Minggu karena bagusnya lokasi wisata Villa Bambapuang dan Pemandian Alam Lewaja diketahui ramai dikunjungi wisatawan pada hari-hari tersebut. Pengendalian internal yang dilakukan dinas dilakukan minimal dua kali dalam seminggu yaitu pada hari Sabtu dan Minggu, karena pada hari-hari tersebut diketahui pengunjung yang datang ke lokasi wisata yang dikelola Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang baik Villa Bambapuang maupun Pemandian Alam Lewaja cukup ramai dibandingkan hari-hari lainnya.
Pembahasan
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penyusunan rencana terkait pengelolaan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang sudah sesuai dengan alur yang ada di Dinas Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Enrekang. Maka dalam kapasitasnya, dalam pengelolaan retribusi sektor pariwisata di kabupaten Enrekang terdapat kelompok yang bertugas melakukan pemungutan retribusi dan pembukuan serta pelaporan retribusi pariwisata. Fungsi kepemimpinan penanggung jawab manajemen sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang adalah cara manajer mengarahkan dan mengawasi bawahannya agar lebih bertanggung jawab dan seluruh pekerjaan terkoordinasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung pengelolaan retribusi sektor pariwisata di kabupaten Enrekang adalah adanya sumber daya pendukung sehingga pendapatan sektor retribusi dapat meningkat. Berdasarkan hal tersebut diketahui bahwa faktor-faktor penghambat dalam pengelolaan retribusi pariwisata di wilayah Enrekang masih perlu diatasi dengan baik sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Susilo dan Halim (2002) bahwa belum optimalnya retribusi daerah bila terdapat tiga faktor tersebut. . Perencanaan pengelolaan retribusi pada sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang dapat dikatakan sesuai dengan fungsi pengelolaan yang sistematis, yaitu dimulai dari penyusunan rencana anggaran kegiatan sampai dengan penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran.
Penerapan retribusi sektor pariwisata di Kabupaten Enrekang cukup optimal karena pihak pengelola langsung memberikan kesempatan untuk meminta retribusi. Diperlukan pengawasan yang lebih baik lagi mengenai pengelolaan retribusi pariwisata di Kabupaten Enrekang karena Kabupaten Enrekang mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan daerah tersebut. Strategi peningkatan PAD melalui intensifikasi dan perluasan penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah di Kabupaten Enrekang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Manajemen di Dinas Pemuda, Olah Raga, dan Pariwisata dalam menjalankan atau menjalankan tugas dan tanggung jawabnya cukup baik dalam mengelola biaya sehingga maksimal.
Saran
UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Restitusinya. Peraturan Daerah Kabupaten Enrekang No. 10 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.