• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Fungsi dan Terminologi

N/A
N/A
Caroline Angel

Academic year: 2024

Membagikan " Pengenalan Fungsi dan Terminologi"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Fungsi Geature

 Tanda sukat dan perubahannya

 Tempo lagu dan perubahannya misal: adagio, lento, andante, moderato, allegretto, allegro, accelerando, ritardando

 Tanda dinamika dan perubahannya spt.: pp, p, mp, mf, f, ff, crescendo, decrescendo, diminuendo

 karakter karakter musik, misalnya: marcato, staccato, legato, sostenuto

 Menandai setiap seksi suara untuk lagu polifoni

 Menandai pukulan masuk (entrances), pukulan akhir (releases), dan pukulan persiapan (preparation)

 Menandai fermata dan penyelesaiannya

 Mewujudkan pengkalimatan lagu (frasering)

 Menandai sinkopasi dan aksen

 Menekankan tentang pentingnya support dalam memproduksi suara

 Menegaskan tentang volume suara yang diinginkan oleh dirigen

 ✔Mengingatkan tentang volume suara proporsional antara setiap bagian suara Posisi Tangan dan lengan

 Tangan diletakkan di depan badan,sedikit diatas perut

 Telapak tangan dalam posisi tertelungkup,sementara jari-jari tangan merenggang dan membentuk kurva

 Lengan atas merapat ke badan namun tidak sampai menempel ( membentuk sudut tidak melebihi 45 derajat)

 Setiap pukulan harus menunjukkan titik pembeda yang jelas (ictus)

 Setiap pukulan harus memiliki gerakan memantul (rebound) Ragam Tanda Sukat

 Matra dua: 2/2,4/2,2/4,4/4,4/8

 Matra tiga : 3/2,3/4.3/8

 Matra kombinasi : 5/4,6/4,5/8,6/8,7/8

 Matra Kombinasi :5/4,6/4,5/8,6/8,7/8 (subdivisi tiga:9/8 dan 12/8) Tugas Seorang Dirigen Paduan Suara

 Mengajak anggota paduan suara yang dipimpin untuk "bernyanyi"

 Terjemahkan pesan/ide yang terkandung dalam lagu tersebut

 Mewujudkan dan mengkomunikasikan pesan/gagasan tersebut menjadi sebuah bunyi musikal melalui paduan suara

Beberapa Persyaratan Menjadi Dirigen

 Aspek Non Teknis > Aspek Teknik 1. Komunikatif 1. Pendengaran yang baik 2. Berpikiran terbuka 2. Pengetahuan tentang teknik vocal 3. Tekun dan suka bekerja keras 3. Pengetahuan tentang teori musik mencakup Membaca dan menuliskan notasi angka 4. Kreatif dan inovatif 4. Pengetahuan ilmu bentuk analis 5. Kooperatif 5. Pengetahuan teknik dirigen 6. Disiplin tinggi dan serius 6. Pengetahuan sejarah musik 7. Kemampuan primavista/sight -singing

a. belajar interval tinggi dan rendah nada b. Kenali harga nada dan pola ritema yang digunakan c. Pelajari melodi yang sudah dikenal dengan menyanyikan notasinya

8. Kemampuan memainkan keyboard/piano

2.Sebutkan dan jelaskan aspek lagu hymne

MELODI: Rangkaian nada utama yang dimainkan.

Pitch: Tinggi-rendah nada; menciptakan Interval (tangga nada).

Durasi: Panjang-Pendek harga not; menciptakan Irama.

Tangga Nada (Scale): Tangga nada dalam musik merujuk pada urutan nada-nada yang terorganisir secara naik atau turun berdasarkan frekuensi yang berbeda-beda. Tangga nada adalah dasar dari sistem musik di mana komponis dan musisi membangun melodi, harmoni, dan akor. Jenis-jenis tangga nada: Mayor, Minor, Diatonis, Pentatonis.

Modi/Modus: Nada yang mendominasi.

Nada Dasar (Root Note): Tangga nada memiliki satu nota yang dianggap sebagai "nada dasar" atau "tonika." Semua nota lainnya dihubungkan dan disusun relatif terhadap nada dasar ini.

Tessitura: rentang pitch di mana sebagian besar melodi atau bagian musik berada, dan tempat di mana vokal atau instrumen merasa paling nyaman dalam eksekusi teknisnya.

Ambitus: jangkauan nada. Ambitus jemaat pada umumnya: C1-D/Eb; Tessitura tidak sama pada setiap orang/instrumen.

Jarak Nada (interval): jarak antar nada antara lain: Primo: serentak, Detik (2): M/m, Terts (3): M/m, Quart (4): Sempurna, Quint (5): Sempurna, Sexta (6): Bulan/bulan, Septim (7): Bulan/bulan,

Oktaf (8th): Perfect. Dalam konteks interval nada, istilah "perfect" mengacu pada jenis interval yang dianggap paling stabil. Interval ini memiliki suara yang harmonis dan mendalam, serta cenderung tidak memerlukan penyesuaian atau penyelarasan yang signifikan.

HARMONI: Bangunan nada yang menyusun akord yang memperkaya musik, enak didengar, dan sesuai"

Umumnya pembentukan harmoni disesuaikan dengan melodi lagu (dasar) Harmoni yang umum: TONIC (I), SUBDOMINAN (IV), DOMINAN (V)/(V7)

Harmoni ada yang berbentuk pararel akord (Chordal) atau kontra melodis (Counterpoint). Nyanyian Jemaat umumnya menggunakan harmoni Chordal. Bangunan/Tingkatan Nada (Tri-nada) antara lain: I: Tonik (Mayor), II:

Super-Tonik (minor), III:

Median (minor), IV: Sub-Dominan (Mayor), V: Dominan (Mayor), VI: Sub-Median (minor), VII: Nada utama (minor), VIII:

Oktaf (Mayor).

RITME/IRAMA: Pola yang teratur yang dibangun dari harga not antar melodi.

Irama: pola-pola ritmis yang membentuk dasar pergerakan waktu dan ketukan dalam suatu komposisi. Birama adalah satuan waktu yang digunakan untuk mengukur durasi suatu komposisi atau sebagian dari komposisi musik. Sebutkan jenis- jenis Birama!

Pola irama diatur dalam ruang birama Biasanya, ketukan pertama mendapat tekanan, Jika ada tekanan di luar itu disebut

"sinkopasi". Selanjutnya, perbedaan antara yang kuat dan lemah itu yang memberikan keindahan.

Nyanyian Jemaat memiliki Irama yang sederhana namun tegas!

TEKSTUR: Kesatuan antara, melodi, harmoni dan irama, dan bahkan seluruh elemen yang membangun nada.

Tekstur meliputi komposisi nyanyian-homofonik/polifonik; harmoni-chordal/counterpoint

.BENTUK: Struktur dari sebuah nyanyian, yang menjadi ciri nyanyian tersebut. Nyanyian Jemaat umumnya berbentuk STROFIC- berbait dengan melodi yang sama untuk setiap Baitnya teridiri dari 4 garis melodi (phrase).

Pukulan Persiapan

 Jika nada awal lagu berharga 1 ketuk,maka pukulan persiapan juga 1 ketuk

 Jika nada awal algu berharga ½ ketuk atau lebih kecil dari ½ ketuk,maka pukulan persiapan ketukan awal dari nada awal

 Pukulan persiapan sangat berpengaruh pada tempo dan dinamika Fermata

 Fermata adalah perpanjangan ketukan sekehendak dirigen

 Fermata pada akhir lagu Fermata bila lagu masih berlanjut:

 Pukulan berikutnya ke kanan,maka pukulan penyelesaian ke kiri

 Pukulan berikutnya kekiri atau ke bawah,maka pukulan penyelesaian ke atas

 Pukulan berikutnya ke atas,maka pukulan penyelesaian ke kanan Gerakan Tangan Kiri

 Posisi tangan kiri berada di bawah tangan kanan

 Tangan kiri berfungsi menunjukkan dinamika dan pengkalimatan

 Menandai pukulan awal dan akhir dari frase lagu Gerakan tangan kiri dalam gambar

 penempatan tangan kiri (gambar 1)

 tangan kiri diputar ke atas

 Telapak tangan kiri menghadap ke atas

 Aba-aba untuk pengambilan nafas (inhalasi) gambar 2

 Mengakhiri suatu bunyi

 Tangan kiri menunjukkan suatu pengkalimatan yang bersambung

 Tangan kiri menekankan tanda dinamika piano atau pianissimo Mimik atau ekspresi wajah

 Ekspresi wajah dirigen sangat berpengaruh pada komunikasi dengan anggota padua suara

 Ekspresi wajah yang gembira dapat mewujudkan lagu yang riang dan ringan

Eskpresi wajah yang muram,sedih akan ditanggapi sebagai lagu yang lambat dan berat

(2)

14. Himne dan liturgi memiliki kaitan yang sangat erat dalam konteks gereja. Himne sering menjadi bagian integral dari liturgi. Sebutkan dan jelaskan beberapa catatan mengenai hubungan keterkaitan tersebut

 Keselarasan dengan Tema Liturgi: Himne dipilih sesuai dengan tema dan pesan liturgi yang sedang ditekankan dalam suatu ibadah. Lirik himne dapat mendukung dan memperkuat pesan liturgis, menciptakan kesatuan antara kata-kata yang diucapkan dan musik yang dinyanyikan.

 Bagian dari Ibadah: Himne umumnya dimasukkan dalam beberapa bagian ibadah, seperti pembukaan, penyembahan, pengakuan dosa, kotbah, dan penutup. Setiap bagian memiliki himne yang relevan dengan tema dan tujuan liturgisnya.

 Repsonsorial: Beberapa himne dirancang untuk responsorial, artinya mereka menyajikan frase atau bagian tertentu yang dapat direspons oleh jemaat atau paduan suara. Ini menciptakan interaksi antara pemimpin ibadah dan jemaat.

 Menggambarkan Siklus Kalender Tahun Gerejawi: Dalam tradisi gerejawi tertentu, himne dapat dipilih berdasarkan siklus liturgi tahun gerejawi, seperti waktu Advent, Natal, Epifani, Paskah, dan lainnya. Himne-himne ini membantu membentuk dan merayakan kalender tahun gerejawi.

 5. Mengiringi Ritual dan Sakramen: Himne dapat menyertai ritual dan sakramen dalam liturgi, seperti perjamuan kudus atau pembaptisan. Musik himne dapat meningkatkan dan memperdalam makna dari setiap tindakan liturgis.

 6. Formasi Teologis: Lirik himne sering kali mencerminkan teologi dan kepercayaan gereja. Oleh karena itu, penyelarasan himne dengan liturgi membantu membentuk pemahaman teologis jemaah dan menciptakan kesatuan dalam pengajaran dan ibadah

13. Dalam fungsi himne sebagai pemberitaan kabar baik ,ada 3 pendekatan berdasarkan warisan liturgi dan pandangan budaya. Sebutkan dan jelaskan

 1) Pendekatan obyektif: apa yang Yesus lakukan bagi dunia? Pendekatan ini terlihat jelas dalam himne yang disusun berdasarkan kalender Kristen.

 2) Pendekatan subyektif: apa arti Yesus bagi saya? Isi lirik himne yang menggunakan pendekatan ini lebih bersifat testimonial personal. Contoh himne yang digubah dengan pendekatan subyektif adalah himne revivalisme.

 3) Pendekatan kontekstual (terbaru). Apa yang Yesus lakukan bagi komunitas, khususnya bagi orang- orang yang menderita? Himne ini lahir dari perjuangan, harapan, dan konteks masyarakat.

Pendekatan kontekstual dapat menggunakan pendekatan obyektif dan subyektif. Di bawah ini adalah contoh himne kontekstual. Berikut ini syair "Child of Joy and Peace" dengan lagu ciptaan Carol Browning. Shirley Erena Murray adalah seorang penulis syair nyanyian jemaat (hymn writer) dari Selandia Baru. "Child of Joy and Peace" merupakan himne Natal yang isinya ditulis berangkat dari konteks kemiskinan yang banyak dijumpai.

6.Brian Arhut Wren (1936) menyebutkan ada 7 ciri khusus nyanyian jemaat sebutkan dan jelaskan

 Corporate- nyanyian bersama (communal songs)-we are the body of christ

 Corporeal-berhubungan dengan tubuh

 Inclusive-merangkul

 Creedal- pengakuan iman

 Ecclesial-gerejawi

Inspirational-sumber inspirasi

 Evangelical-misi 8. Sebutkan jenis jenis majas dan penjelasan

Alegori: makna simbolis yang melampaui makna literal. Misalnya, Hai musafir, mau kemana?

Aliterasi: pengulangan konsonan pada kata-kata yang berdekatan untuk menciptakan efek suara yang sajak atau memperkuat penekanan makna. Contoh: Tanganku terangkat, hatiku gembira.

Anadiplosis: mengulang kata atau kelompok kata dari akhir suatu klausa yang menciptakan hubungan dan penekanan.

Contoh, Majulah, majulah.

Anafor: mengulang kata atau frasa pada awal klausa atau kalimat yang berurutan, memberikan vokal dan struktur yang serupa untuk menciptakan efek retorika. Contoh, Kasih setia-Mu, kasih setia-Mu Tuhan.

Paradoks: pernyataan paradoks yang sekilas tampak kontradiktif atau tidak masuk akal, namun mempunyai makna yang dalam dan dapat memicu pemikiran lebih jauh. Contohnya, Hanya dalam kelemahan, aku kuat.

Antitesis: menciptakan kontras atau pertentangan antara dua konsep atau gagasan dengan menempatkannya berdampingan untuk menciptakan efek yang tajam atau menarik. Misalnya, Dalam kegelapan, Engkau terang bagiku

Hiperbola: pernyataan berlebihan untuk memberikan efek dramatis atau retorika. Contoh, Aku letih oleh ratapanku, setiap malam aku membasahi tilamku, dengan air mataku aku membasahi tempat tidurku.

Personifikasi: pemberian sifat manusia pada benda mati, hewan, atau konsep. Misalnya, langit bersorak dan bernyanyi di malam yang sunyi.

Metafora: menggambarkan suatu objek atau konsep dengan menggunakan istilah yang tidak sesuai secara harfiah, tetapi memiliki kesamaan dalam arti tertentu. Contoh, Tak pernah lelah kasih-Mu memelukku.

Simile: menggunakan kata-kata "seperti" atau "bagai" untuk membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi dengan kesamaan tertentu. Contoh, Kasih Allah seperti sungai yang mengalir. Tautologi: menciptakan pengulangan makna dalam ungkapan atau pernyataan, sering kali dengan kata-kata yang sama atau sinonim. Contoh, S'luruh hidupku, kupersembahkan hanya bagi-Mu. Apostrof: melibatkan pembicaraan langsung kepada objek atau orang yang tidak hadir, atau bahkan kepada abstraksi atau benda tak bernyawa. Contoh, O, Allah, Kau sumber hidupku.

Klimaks: membawa pembaca atau pendengar melalui serangkaian ide atau pernyataan, mencapai puncak atau titik tertinggi dalam intensitas atau signifikansi. Contoh, Brikan hatimu, brikan pikiranmu, brikan hidupmu pada-Nya.

9. Sebutkan dan jelaskan 4 pola satra himne gereja

Itemisasi (Pembiasaan): pola sastra yang menyusun gagasan atau informasi dalam suatu bentuk daftar atau poin-poin terpisah. Ini dapat digunakan untuk memberikan penekanan pada setiap elemen secara terperinci. Contoh: Brikan hatiMu, Brikan pikiranMu, Brikan hidupMu pada-Nya.

Dialog (Percakapan): pola sastra di mana dua atau lebih karakter terlibat dalam percakapan. Contoh: Bapa yang kekal, ajarilah kami menyembahMu, memandangMu, mengenalMu, di hadapan hadiratMu.

Litany (Litani): pola sastra yang melibatkan serangkaian pernyataan atau doa yang diulang-ulang. Biasanya, litani memiliki respons yang diucapkan oleh kelompok atau individu yang mendengarkan. Contoh: Engkau setia, Engkau setia, Engkau setia selama-lamanya, Allah yang perkasa, Jurus'lamat kami.

Call and Response (Panggilan dan Tanggapan): pola sastra di mana seorang individu atau kelompok memberikan seruan atau pertanyaan, dan kemudian kelompok lain atau individu berikan umpan balik. Contoh: Saya tidak bisa berjalan sendiri, Yesus kaulah sahabat sejati

7.Sebutkan 4 aspek keterkaitan nats-nats alkitab tersebut dengan bangunan sebuah himne

 Mengutip langsung secara verbatim ayat-ayat Alkitab. Misalnya, BE 188 "Jahowa Siparmahan Ahu"

yang mengutip secara langsung Pslamen 23.

 Memparafrasekan ayat-ayat Alkitab. Penggubah mengutip ayat-ayat Alkitab dan memparafrasekannya (tidak mengutip verbatim). Misalnya, BE 409 "Angka Birubiru".

 Ayat-ayat (cerita) dalam Alkitab merupakan inspirasi. Misalnya, “Besarlah KesetiaanMu” yang diilhami oleh pemahaman yang mendalam akan ketabahan kesetiaan Tuhan dan mengacu pada Ratapan 3:22-23, “Kasih setia Tuhan tiada habisnya dan rahmat-Nya tiada henti, setiap pagi baru;

kesetiaanmu." Liriknya membangkitkan rasa syukur dan percaya diri kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan.

 Menggunakan kata-kata tertentu yang ada di dalam Alkitab, antara lain:

Metafora/gambaran yang dikenakan kepada Allah seperti "Batu Karang". Gubahan. himne ini didasarkan pada permenungan akan keamanan dan kepastian dalam hidup yang berasal dari iman pada Kristus, mengutip Matius 7:24-25, "Sebab setiap orang yang mendengarkan perkataanku ini dan melakukannya, akan kusebutkan dia seperti orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu karang." Liriknya mengajak jemaat untuk membangun iman yang kokoh di atas dasar Kristus. Contoh lainnya adalah kata "Gembala", "Sebaoth", Alpa dan Omega dsb.

nama tempat, seperti Sinai, Sion, Yordania, Kanaan, dll, dan atau nama orang, seperti Abraham, Yosef, Maria, dll.

10.Sebutkan 7 tipe-tipe lagu(nada) yang ada dalam nyanyian jemaat,serta contohnya

 Plain song (gregorian): Kj 136

 Lutheran Chrorale (barform,aab); Kj 170

 Calvinian Psalm Tune (syncopation); KJ 303a

 Victorian Part-song tune (repeated) : KJ 252

 Folk Tune (oral trad): KJ 40

 Gospel Hymne Tune (ornament): KJ 453

 Innovative Hymn Tune (aturan baru): KJ 264 3.Sebutkan beberapa aspek keterkaitan antara himne dan teologi

 Pengungkapan Teologi dalam Lirik: Lirik himne sering kali mencerminkan prinsip- prinsip teologis. Mereka dapat

 Kesesuaian dengan Ajaran Gereja: Himne biasanya dibuat untuk menggambarkan. ajaran dan keyakinan gereja tertentu. Mereka dapat mencerminkan kebijakan- kebijakan doktrinal atau teologi spesifik yang diyakini oleh suatu denominasi ataukomunitas kristen tertentu.

 Pengalaman Spiritual: Himne mencerminkan pengalaman spiritual para pengarangnya. dan jemaat yang menyanyikannya. Melalui kata-kata yang dipilih dan melodi yang dihasilkan, himne mengkomunikasikan perjalanan rohani, pengharapan, dan pengalaman spirituualitas.

 Penerjemahan Teologi ke dalam Musik: Melodi dan aransenen musik himne dapat 4 memainkan peran penting dalam menyampaikan nuansa dan perasaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip teologis. Musik dapat menjadi sarana untuk menciptakan suasana spiritual dan merangsang respons emosional. Lagu kebangsaan bisa menjadi wadah untuk dieksplorasi

 Eksplorasi Kehidupan Spiritual: Himne dapat menjadi wadah untuk mengeksplorasi aspek-aspek kehidupan rohani seperti doa,penyembahan dan keintiman dengan tuhan. Lirik lirik ini dapat mencerminkan pengertian teologis tentang hubungan pribadi dengan ilahi

 Pentingnya Himne dalam Liturgi: Himne sering menjadi bagian integral dari ibadah liturgis. Pilihan himne dapat mencerminkan agenda liturgis dan teologi komunitas denominasi tertentu

4. Sebutkan dan jelaskan 2 konteks sejarah gereja dalam melahirkan sebuah himne

 A Mighty Fortress Is Our God" yang tercipta di tengah-tengah Reformasi Protestan pada abad ke-16.

Konteks Sejarah: Himne ini ditulis oleh Martin Luther pada abad ke-16. Luther menciptakan himne ini di tengah-tengah Reformasi Protestan, ketika perdebatan teologis dan ketidakpuasan terhadap praktik Gereja Katolik mencapai puncaknya.

 Kontroversi dan Pesan Teologis: Luther menciptakan himne ini sebagai ungkapan imannya dan sebagai bentuk resistensi terhadap kebijakan dan doktrin-doktrin Gereja Katolik yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Pesan teologis himne ini menekankan kekuatan dan keberanian yang ditemukan dalam iman kepada Tuhan sebagai benteng yang kokoh. Ini mencerminkan keyakinan Luther dalam doktrin sola fide (iman saja).

 Dampak dan Signifikansi: "A Mighty Fortress Is Our God" menjadi salah satu himne Protestan paling terkenal dan paling sering dinyanyikan. Himne ini tidak hanya menjadi manifestasi musik dari keyakinan teologis Luther, tetapi juga menjadi lambang keberanian dalam mempertahankan keyakinan iman. Meskipun "A Mighty Fortress Is Our God" adalah contoh yang klasik, namun sepanjang sejarah, banyak himne lainnya juga terlahir dari perdebatan teologis dan kontroversi dalam konteks kekristenan. Himne-himne tersebut sering kali mencerminkan keraguan, perjuangan, atau pengharapan dalam menghadapi tantangan dan perubahan dalam ajaran gereja.

Referensi

Dokumen terkait

Dokumen ini memaparkan contoh kata serapan dalam Bahasa Daerah dan Bahasa Asing serta beberapa terminologi yang berkaitan dengan

Dokumen ini membahas tentang apron di bandar udara dan fungsinya dalam proses lepas landas dan pendaratan pesawat

Dokumen ini membahas tentang sejarah, fungsi, dan edukasi Bahasa

Dokumen ini membahas tentang fungsi dan tugas kerja seksi

Dokumen ini membahas tentang fisiologi otot, yang meliputi jenis-jenis otot dan

Dokumen ini membahas tentang anatomi, fisiologi, dan fungsi

Dokumen ini membahas tentang berbagai komponen perangkat keras komputer dan fungsi

Dokumen ini membahas tentang protein, termasuk definisinya, fungsi, jenisnya, dan proses