Batuk efektif

Top PDF Batuk efektif:

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN BATUK EFEKTIF DAN POSTURAL DRAINAGE PADA INTERVENSI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI SESAK NAFAS PADA ASMA BRONCHIAL NASKAH PUBLIKASI - PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN BATUK EFEKTIF DAN POSTURAL DRAINAGE PADA INTERVENSI NEBULIZ

PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN BATUK EFEKTIF DAN POSTURAL DRAINAGE PADA INTERVENSI NEBULIZER TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI SESAK NAFAS PADA ASMA BRONCHIAL NASKAH PUBLIKASI - PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN BATUK EFEKTIF DAN POSTURAL DRAINAGE PADA INTERVENSI NEBULIZ

Untuk batuk menghembus, sedikit maju kedepan dan ekspirasi kuat dengan suara “hembusan”.Teknik ini menjaga jalan napas terbuka ketika sekresi bergerak ke atas dan keluar paru. Inspirasi dengan napas pendek cepat secara bergantian (menghirup) untuk mencegah mukus bergerak kembali ke jalan napas yang sempit, terakhir dilakukan istirahat. Mekanisme latihan batuk efektif adalah inhalasi dalam, penutupan glottis, kontraksi aktifitas otot-otot ekspirasi dan pembukaan glottis, inhalasi dalam meningkatkan udara melewati sebagian plak lendir yang mengobstruksi atau melewati benda asing, kontraksi otot-otot ekspirasi melewati glotis yang menutup sehingga menyebabkan terjadinya tekanan intra thorak yang tinggi, saat glotis membuka aliran udara yang besar keluar dengan kecepatan yang tinggi, memberikan mukus kesempatan untuk bergerak kejalan nafas bagian atas dan mukus dapat di di keluarkan sehingga sesak nafas berkurang. Sedangkan mekanisme nebulizer adalah cairan obat yang di gunakan akan di ubah menjadi uap oleh nebulizer yang kemudian akan di hirup oleh pasien lewat pemberian obat melalui nebulizer, saluran nafas lebih longgar dan dahak akan lebih encer, sehingga dahak lebih mudah keluar saat batuk atau pun saat menepuk bagian dada.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

11 PENGARUH PEMBERIAN NAFAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP KEBERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA)

11 PENGARUH PEMBERIAN NAFAS DALAM DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP KEBERSIHAN JALAN NAFAS PADA ANAK INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA)

Sulitnya anak mengeluarkan sekret menjadi pemicu utama anak yang mengalami Infeksi saluran pernafasan atas, upaya untuk membersihkan jalan nafas yaitu dengan cara nafas dalam dan batuk efektif. Tujuan peneliti untuk mengetahui pengaruh pemberian nafas dalam dan batuk efektif terhadap kebersihan jalan nafas pada anak infeksi saluran pernafasan atas di Puskesmas Dau Malang. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasy experiment) dengan Nonequivalent Pretest-Posttest Design adalah untuk mengetahui kebersihan jalan nafas kelompok eksperimen perlakuan nafas dalam dan batuk efektif pada anak ISPA di Puskesmas Dau Malang. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 15 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Quota Sampling sebanyak 15 responden. Proses penelitian diawali dengan pre test untuk mengetahui kebersihan jalan nafas dengan menggunakan lembar observasi, lalu melakukan nafas dalam 3 kali sehari selama 3 hari, setelah itu diadakan pengukuran kembali (post test) dengan lembar observasi yang sama. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebelum diberikan pembelajaran tentang teknik nafas dalam dan batuk efektif, responden memiliki mean 1,87dan simpanan baku (SD) 0,352 sedangkan sesudah di berikan nafas dalam dan batuk efektif responden memiliki mean 1,67. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon didapatkan nilai signfikansi 0,048 dimana nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 yang artinya ada pengaruh latihan nafas dalam dan batuk efektif terhadap keefektifan bersihan jalan nafas.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KOMBINASI FISIO TERAPI DADA, POSTURAL DRAINAGE DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI BATUK DAN PERNAFASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RUANG CENDANA RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

KOMBINASI FISIO TERAPI DADA, POSTURAL DRAINAGE DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI BATUK DAN PERNAFASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RUANG CENDANA RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

Manfaat batuk efektif diantaranya, untuk melonggarkan dan melegakan saluran pernafasan maupun mengatasi sesak nafas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran pernafasan. Lendir, baik dalam bentuk dahak (sputum) maupun sekret dalam hidung, timbul akibat adanya infeksi pada saluran pernafasan maupun karena sejumlah penyakit yang di derita seseorang. Bahkan bagi penderita TB, latihan batuk efektif merupakan salah satu metode yang dilakukan tenaga medis untuk mendiagnosis penyebab penyakit (Tamsuri, A. 2008). Biasanya batuk efektif dilakukan pada pasien dengan penyakit pulmonary kronik, pada kondisi demikian sebaiknya pasien dimotivasi untuk nafas dalam dan batuk efektif paling kurang tiap 2 jam, jika keadaannya sadar dan tiap 2 atau 3 jam jika tidur sampai fase akut dari produksi mucus akhir (Tamsuri, A. 2008)
Baca lebih lanjut

44 Baca lebih lajut

KOMBINASI FISIO TERAPI DADA, POSTURAL DRAINAGE DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI BATUK DAN PERNAFASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RUANG CENDANA RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

KOMBINASI FISIO TERAPI DADA, POSTURAL DRAINAGE DAN BATUK EFEKTIF TERHADAP PENURUNAN FREKUENSI BATUK DAN PERNAFASAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RUANG CENDANA RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARDJO PURWOKERTO - repository perpustakaan

Hasil :Nilai frekuensi batuk sebelum intervensi rata-rata adalah 42.31±10.638 dansesudah adalah 35.31±11.336, terdapat penurunan frekuensi batuk sesudah intervensi sebanyak 7 kali/hari. Nilai frekuensi pernafasan sebelum intervensi rata-rata adalah 29.63±4.015 dansesudah adalah 19.75±1.770, terdapat penurunan frekuensi pernafasan setelah intervensi sebanyak 10 kali/menit. Hasil uji Mann Whitneynilai p=0.000 < 0.05 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi batuk dan pernafasan setelah dilakukan fisioterapi dada, postural drainage, dan batuk efektif.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

EFEKTIFITAS BATUK EFEKTIF DALAM PENGELUA

EFEKTIFITAS BATUK EFEKTIF DALAM PENGELUA

Pasien sebelum mendapatkan pelatihan batuk efektif seluruhnya tidak bisa mengeluarkan sputum yang maksimal, sebagian besar yang dikeluarkan adalah ludah sehingga tidak dapat diperiksa secara seksama oleh petugas laborat. Pemeriksaan yang tidak seksama tersebut menyebabkan tidak tuntasnya pengobatan terhadap pasien. Hal ini juga memberikan resiko penularan yang lebih besar karena pasien dengan BTA positif memiliki resiko menularkannya pada orang lain. Pasien yang menjadi subyek penelitian tidak dapat mengeluarkan sputum karena mereka sebelumnya tidak pernah mendapat pelatihan bagaimana mengeluarkan sputum dengan benar dari petugas kesehatan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

12 PENGARUH TEKNIK BATUK EFEKTIF TERHADAP PENGELUARAN SEKRET PADA PASIEN TB PARU (STUDI EKSPERIMENTAL DI POLI PARU RSUD UNIT SWADANA PARE KABUPATEN KEDIRI TAHUN 2008)

12 PENGARUH TEKNIK BATUK EFEKTIF TERHADAP PENGELUARAN SEKRET PADA PASIEN TB PARU (STUDI EKSPERIMENTAL DI POLI PARU RSUD UNIT SWADANA PARE KABUPATEN KEDIRI TAHUN 2008)

Pada penderita Tuberculosis paru dalam hal ini yang menjadi gejala dini dan sering dikeluhkan ialah batuk yang terus-menerus dengan disertai penumpukan sekret disaluran pernafasan bawah. (Alsogaff, 2002). Batuk yang dilakukan pada penderita Tuberculosis paru merupakan batuk yang inefisien dan membahayakan. Penderita Tuberculosis melakukan batuk tersebut karena mereka menganggap dengan batuk dapat mengeluarkan sekret yang mengganggu jalannya nafas. Bahkan penderita Tuberculosis paru yang menderita batuk kronik cenderung untuk menyangkal dan meremehkan batuk mereka. Hal ini sering dilakukan karena penderita Tuberculosis paru sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut, sehingga mereka tidak menyadari berapa sering hal itu terjadi. (Perry dan Potter, 2005). Akibat yang ditimbulkan dari batuk yang inefisien ialah adanya cedera pada struktur paru-paru yang halus dan batukpun akan semakin parah. Walaupun semua ini demi mengeluarkan sekret, hasil pengeluaran sekretnya tidak berarti. (www.Indonesia.com ). Apabila hal tersebut dilakukan terus-menerus penyakitnya bertambah parah serta mengakibatkan sarang penyakitnya pecah dan keluar darah. (Hendrawan. N, 1996).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Sefriatin BAB I

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Sefriatin BAB I

efektif) dan spesimen 2 (sesudah batuk efektif) 21 responden (70%) mengalami peningkatan volume sputumnya.. Berdasarkan spesimen 1 (sebelum batuk efektif) dan spesimen 3 (setelah batuk efektif) 24 responden (80%) mengalami peningkatan volume sputumnya. Penemuan BTA pasien TB Paru mengalami peningkatan dari spesimen 1 (sebelum batuk efektif) sebanyak 6 responden, specimen 2 sebanyak 17 responden, dan spesimen 3 sebanyak 21 responden. Hasil analisis dengan uji Paired Sample t-Test baik untuk spesimen 1 dan spesimen 2 maupun spesimen 1 dan specimen 3 menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya efektifitas batuk efektif dalam pengeluaran sputum untuk penemuan BTA pasien TB paru di ruang rawat inap Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Upaya penanganan gangguan bersihan jalan nafas pada pasien tuberculosis di rsud dr. Soehadi prijonegoro.

Upaya penanganan gangguan bersihan jalan nafas pada pasien tuberculosis di rsud dr. Soehadi prijonegoro.

Intervensi keperawatan yang akan di lakukan pada Ny. P dengan diagnosa gangguan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan jalan napas efektif. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk menghilangkan rasa sesak napas dengan kritera hasil tidak menggunakan otot bantu pernapasan, dapat melakukan batuk efektif secara mandiri, anjurkan pasien minum air putih hangat, sesak napas berkurang, suara napas tidak ronci. Rencana tindakan yang akan dilakukan adalah monitor respirasi, lakukan fisioterapi dada, ajarkan batuk efektif, berikan oksigen dengan kanul nassa, posisikan pasien semi fowler, auskultasi suara napas (Nurarif & Kusuma, 2013).
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Upaya Peningkatan Bersihan Jalan Napas Pada Anak Dengan Ispa.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA (Infeksi saluran pernapasan akut) mempunyai gejala yang ringan biasanya diawali dengan demam, batuk, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan.Anak bayi dan balita tidak dapat mengatur bersihan jalan napas secara memadai sehingga anak bayi dan balita dengan ISPA bila tidak segera ditangani akan tidak efektif bersihan jalan napasnya. anak bayi dan balita yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas beresiko tinggi untuk sesak napas dan meninggal. Metode yang dapat dilakukan untuk menangani bersihan jalan napas ini sesuai dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kebersihan jalan napas, salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan dengan mandiri adalah dengan inhalasi uap, fisioterapi dadadan batuk efektif. Setelah melakukan tindakan mandiri inhalasi uap, fisioterapi dada dan batuk efektif sputum dapat keluar maka dapat disimpulkan bahwa bersihan jalan napas dapat teratasi. Intervensi dilanjutkan ibu pasien secara mandiri di rumah untuk memberika inhalasi uap,fisioterapi dada dan batuk efektif jika anaknya kambuh lagi.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS SINDROM OBSTRUKSI PASCA TUBERKULOSIS (SOPT)   Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT) Di RS. Paru Dokter Ario Wirawan Salatiga.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS SINDROM OBSTRUKSI PASCA TUBERKULOSIS (SOPT) Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis (SOPT) Di RS. Paru Dokter Ario Wirawan Salatiga.

Disaat otot dalam keadaan rileks, pemberian coughing exercise jauh lebih mudah. Karena dapat membantu pasien untuk melakukan batuk yang lebih efektif sehingga terjadi pembersihan jalan napas, pasien diinstruksikan batuk 2 kali dengan maksud mukus yang ada di dalam saluran pernapasan bawah akan terlepas dari saluran tersebut dan sekresi otomatis akan mengalir menuju salurun napas yang lebih besar sehingga sputum akan keluar. Dimana coughing exercise atau batuk efektif merupakan tekhnik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi yang bertujuan dalam merangsang terbukanya sistem kolateral, meningkatkan distribusi ventilasi, meningkatkan volume paru, memfasilitasi pembersihan saluran napas yang memungkinkan pasien utnuk mengeluarkan sekresi mukus dari jalan napas dengan menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal dari jalan napas dan area paru (Pratama, 2012).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

      PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS      TUBERKULOSIS PARU DI RSP. ARIO WIRAWAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Tuberkulosis Paru Di RSP. Ario Wirawan Salatiga.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS TUBERKULOSIS PARU DI RSP. ARIO WIRAWAN Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Tuberkulosis Paru Di RSP. Ario Wirawan Salatiga.

Batuk diawali dengan inspirasi dalam diikuti dengan perubahan glotis, relaksasi diafragma, dan kontraksi otot melawan glotis yang menutup. Sekali glotis terbuka, akan menghasilkan aliran udara yang cepat melalui trakea, sehingga sekret dan benda asing di saluran napas akan keluar. Sedangkan latihan batuk efektif merupakan sebuah tehnik batuk yang dilakukan untuk membersihkan sekresi dari saluran napas.

17 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pengaruh Chest Therapy Terhadap Saturasi Oksigen Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

PENDAHULUAN Pengaruh Chest Therapy Terhadap Saturasi Oksigen Pada Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.

pengobatan suportif dan paliatif sangat memegang peranan penting, melalui latihan chest therapy, antara lain: perkusi, vibrasi, postural drainase, batuk efektif dan nafas dalam untuk memudahkan mengeluarkan secret sehingga jalan nafas menjadi lancar kemudian saturasi oksigen (SaO 2 ) mengalami peningkatan (Lubis, 2005). Saturasi oksigen adalah

7 Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI DENGAN DIAGNOSA MEDIS : ASMA DI RUANG BAROKAH RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG - Elib Repository

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN OKSIGENASI DENGAN DIAGNOSA MEDIS : ASMA DI RUANG BAROKAH RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG - Elib Repository

didapatkan pengeluaran dahak paling banyak dengan riwayat pendidikan SD yaitu sebanyak 6 responden (40%) dan berdasarkan tabel 4 menunjukkan lebih dari 50 % responden berumur > 46 tahun sebanyak 11 responden ( 73,33 %). Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh faktor – faktor yang mempengaruhi pengeluaran dahak seseorang. Pengeluaran dahak seseorang kemungkinan disebabkan oleh faktor pendidikan yang menunjukkan bahwa sebagian besar reponden mempunyai riwayat SD sehingga mungkin dipengaruhi oleh minimnya informasi dan pengetahuan tentang batuk efektif pada responden sehingga berdampak pada pengeluaran dahak responden. Sementara itu usia responden juga mempengaruhi pengeluaran dahak seseorang karena kemungkinan responden pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi tubuh sehingga sulit untuk mengeluarkan dahak. Oleh karena itu diberikan perlakuan batuk efektif dan membuktikan bahwa tindakan batuk efektif terbukti efektif dan dapat memberikan perubahan pada pengeluaran dahak seseorang, karena dengan batuk efektif responden bisa mengeluarkan dahak dengan maksimal dan banyak serta dapat membersihkan saluran pernapsan yang sebelumnya terhalang oleh dahak. Kondisi responden saat sebelum dan sesudah perlakuan batuk efektif mengalami perbedaan. Hal tersebut dapat membuktikan bahwa penatalaksanaan nonfarmakologis tindakan batuk efektif dapat membuat bersihan jalan nafas seseorang menjadi lebih baik.
Baca lebih lanjut

87 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Profil Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Penggunaan Obat Batuk Untuk Anak Di Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Sragen.

PENDAHULUAN Profil Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Penggunaan Obat Batuk Untuk Anak Di Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Sragen.

pada orang dewasa, kemanjuran yang serupa belum terbukti pada anak-anak. Taylor et al melakukan uji coba, acak terkontrol kodein, dekstrometorfan, dan plasebo pada anak dengan batuk malam akut tanpa bukti penyakit paru-paru kronis yang mendasari (asma, fibrosis kistik, atau displasia bronkopulmonalis). Baik dekstrometorfan atau kodein dalam dosis yang digunakan adalah secara signifikan lebih efektif dibandingkan plasebo dalam mengurangi batuk akut. Studi menggunakan dosis yang lebih besar belum dilakukan. Penelitian lain memfokuskan secara eksklusif pada anak-anak dengan batuk belum terkontrol plasebo trials. Untuk pengetahuan kita, studi tentang penggunaan agen konon antitusif lainnya pada anak-anak, seperti diphenhydramine belum dilaporkan literatur.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perbandingan Angka Kejadian Batuk Pascabronkoskopi pada Kelompok Premedikasi Kombinasi Kodein 10 mg dan Klorfeniramin Maleat 4 mg dengan Premedikasi Tunggal Kodein 10 mg

Perbandingan Angka Kejadian Batuk Pascabronkoskopi pada Kelompok Premedikasi Kombinasi Kodein 10 mg dan Klorfeniramin Maleat 4 mg dengan Premedikasi Tunggal Kodein 10 mg

Klorfeniramin maleat adalah propylamine derivative, yaitu antagonis reseptor H1 yang juga memiliki efek antikolinergik dan efek sedasi. Klorfeniramin maleat dapat menurunkan reaksi inflamasi yang terjadi pada saluran pernapasan sehingga menurunkan rangsangan terhadap reseptor batuk sehingga impuls batuk yang diteruskan ke pusat batuk berkurang. Perbedaan utama antara antihistamin generasi pertama dan generasi kedua adalah efek obat gangguan pada sistem saraf pusat. Antihistamin generasi pertama mempunyai sifat lipofilik sehingga memungkinkan obat-obat tersebut menembus sawar darah otak sehingga menimbulkan efek sedasi. Hal ini dapat memperkuat efek sedasi yang dapat ditimbulkan oleh obat-obatan lain yang memiliki efek sedasi jika digunakan secara bersamaan. Efek sedasi ini juga berperan dalam menekan batuk. 18,19
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

UPAYA MEMPERTAHANKAN BERSIHAN JALAN NAPA

batuk efektif dengan meminta pasien nafas dalam terlebih dahulu dengan satu tangan diletakan pada dada dan tangan yang lain diletakan pada perut, yang mana bagian yang mengembang adalah abdomen, kemudian meminta pasien menghirup nafas dari hidung selama 2 detik dan menghembuskannya lewat mulut, dilakukan sebanyak 3 kali dan pada nafas dalam yang ketiga saat ekspirasi meminta pasien membatukan dengan kuat didapatkan hasil dahak tidak keluar. Apabila pasien anak belum mampu melakukan batuk efektif, perawat dapat memposisikan anak dengan posisi posterior basal segmen atau posisi kaki lebih tinggi dari kepala yang dapat dilakukan dengan meletakan bantal atau alat bantu lainnya dibawah kaki sehingga memudahkan dahak untuk keluar (Harden, 2009). 3.6.4 Keempat, penulis menganjurkan pasien untuk meminum air hangat
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Penatalaksanaan Infrared Dan Chest Physiotherapy Pada PPOK Eksaserbasi Akut Di BBKPM Surakarta.

PENDAHULUAN Penatalaksanaan Infrared Dan Chest Physiotherapy Pada PPOK Eksaserbasi Akut Di BBKPM Surakarta.

Dilihat dari sudut pandangan fisioterapi, pasien PPOK menimbulkan berbagai tingkat gangguan yaitu impairment berupa sesak nafas disertai batuk berdahak, terjadinya perubahan pola pernafasan, perubahan postur tubuh, penurunan mobilisasi sangkar thoraks. Functional limitation yaitu terdapat gangguan tidur dengan posisi terlentang karena pasien akan merasakan lebih sesak dan batuk terus menerus disebabkan karena keluhan-keluhan tersebut diatas, dan pada tingkat participation restriction terdapat penurunan aktivitas fungsional sehari-hari. Modalitas dari fisioterapi dapat mengurangi bahkan mengatasi gangguan terutama yang berhubungan dengan gerak dan fungsi diantaranya mengurangi nyeri dada dengan menggunakan terapi latihan yang berupa breathing exercise akan mengurangi spasme otot pernafasan, membersihkan jalan nafas, membuat menjadi nyaman, melegakan saluran pernafasan (Helmi, 2005).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TETANUS | Karya Tulis Ilmiah

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TETANUS | Karya Tulis Ilmiah

a. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)

Baca lebih lajut

Hubungan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan dengan perilaku swamedika penyakit batuk oleh ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hubungan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan dengan perilaku swamedika penyakit batuk oleh ibu-ibu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan perilaku swamedikasi penyakit batuk oleh ibu-ibu adalah tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap penyakit batuk. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Holt dan Hall (1990) dimana perilaku swamedikasi sebagai suatu pencarian pengobatan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya tingkat pendidikan dan pengetahuan seseorang, pengalaman, sikap dalam mengatasi masalah kesehatan (doctor minded), demografi dan epidemiologi, ketersediaan pelayanan kesehatan, ketersediaan produk obat tanpa resep, dan faktor sosial ekonomi. Menurut Schwartz dan Hoopes (1990) dalam menentukan pengambilan keputusan swamedikasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pengetahuan, tingkat pendidikan, serta persepsi seseorang terhadap gejala- gejala penyakit dan cara penyembuhannya. Faktor sosial ekonomi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap perilaku swamedikasi. Menurut Berk (2007), status sosial ekonomi merupakan kombinasi dari 3 variabel yang berhubungan yaitu pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pada Stadium erupsi, Coryza dan batuk-batuk

Pada Stadium erupsi, Coryza dan batuk-batuk

Terapi pada morbili bersifat simtomatik yaitu dengan pemberian antipiretika (asetaminofen, kompres hangat, hindari salisilat) bila suhu badan tinggi, pemeliharaan kesehatan mata, sedativum, obat batuk (hindari penekan opioid) dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain ialah pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul. 1,6 Pada anak dengan malnutrisi

Baca lebih lajut

Show all 9130 documents...