Kemampuan pemecahan masalah matematik

Top PDF Kemampuan pemecahan masalah matematik:

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN OPEN-ENDED DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL.

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN OPEN-ENDED DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL.

Kondisi secara umum tentang kemampuan pemecahan masalah matematik dan kemampuan berpikir kreatif yang masih rendah, terjadi juga pada siswa-siswi SMA Swasta Cahaya Medan. Berdasarkan pengamatan awal yang dilaksanakan oleh peneliti di SMA Swasta Cahaya Medan untuk kelas X menunjukkan indikasi rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dan rendahnya kemampuan kreativitas siswa. Hal ini berdasarkan pengamatan awal peneliti melalui pemberian soal pemecahan masalah matematik dan soal kreativitas dalam pokok bahasan persamaan kuadrat pada siswa kelas X-1 SMA Swasta Cahaya Medan Tahun Ajaran 2011/2012 yang berjumlah 40 orang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 27 orang perempuan.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA

Tujuan utama dari pengajaran matematika di setiap jenjang pendidikan adalah terciptanya kemampuan siswa yang tercermin dalam berpikir kritis, logis, sistematis dan memiliki sifat objektif serta disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan matematik. Salah satu langkah yang dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran konstruktivisme terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Model pembelajaran konstruktivisme merupakan proses di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika. Sedangkan pemecahan masalah sendiri merupakan konsep belajar yang tingkatnya paling tinggi dibandingkan dengan tipe belajar lainnya.Masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh model pembelajaran konstruktivisme terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa.Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif penggunaan model pembelajaran konstruktivisme terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa.Data dalam penelitian ini diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah berupa tes uraian yang harus diselesaikan dengan langkah- langkah pemecahan masalah menurut Polya.Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 3 Kota Tasikmalaya dengan jumlah seluruhnya 411 siswa. Sedangkan sampel diambil secara acak menurut kelas, kelas yang menjadi sampel yaitu kelas VII G sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 46 siswa dan kelas VII H sebagai kelas kontrol dengan jumlah 45 siswa. Berdasarkan pengolahan dan analisis data dengan menggunakan uji perbedaan dua rata-rata, dari hasil pengujian hipotesis diperoleh hasil perhitungan thitung >t(1-α) (db) maka tolak Ho dan H1 diterima dengan alpha sama dengan 1%. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif penggunaan model pembelajaran konstruktivisme terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh model pembelajaran treffinger terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa

Pengaruh model pembelajaran treffinger terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa

sekolah tempat peneliti melakukan penelitian, yaitu MTsN Tangerang II Pamulang. Berdasarkan hasil observasi pada salah satu kelas VIII yaitu kelas VIII-3, diperoleh persentase skor kemampuan pemecahan masalah matematik siswa pada indikator mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui dan ditanyakan sebesar 66,7%, membuat model matematika sebesar 45,71%, memilih dan menerapkan strategi sebesar 43,09% dan indikator menjelaskan hasil dan memeriksa kebenaran hasil sebesar 11,9%. Secara keseluruhan persentase skor kemampuan pemecahan masalah matematik siswa hanya mencapai 42,09%. Berdasarkan fakta tersebut, dapat dikatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa pada umumnya masih rendah. Padahal salah satu tujuan utama bersekolah ialah meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, tujuannya agar siswa mampu memecahkan persoalan yang dihadapi olehnya baik dalam kegiatan pembelajaran di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari dan memungkinkan siswa untuk menjadi lebih analitis dalam menggambil keputusan dalam kehidupannya.
Baca lebih lanjut

226 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH.

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik dan motivasi belajar siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran biasa, (2) interaksi antara pembelajaran dan kemampuan awal siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik dan motivasi belajar siswa (3) proses penyelesaian jawaban siswa saat menyelesaikan soal pemecahan masalah pada masing-masing pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 4 Padang Bolak. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan pre-test-post-test control group design. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Padang Bolak, sedangkan sampelnya terdiri 30siswa pada kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen dan 30 siswa pada kelas VIII-3 sebagai kelas kontrol. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan pemecahan masalah matematik, angket motivasi belajar siswa. Pengujian hipotesis statistic dalam penelitian ini menggunakan uji ANAVA dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik dan motivasi belajar siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dari pada pembelajaran biasa. Hasil rerata peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika yang diberi pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran biasa masing-masing sebesar 0,69 dan 0,53, dan rerata peningkatan motivasi belajar siswa masing-masing sebesar 0,32 dan 0,17. (2) tidak terdapat interaksi antara pembelajaran dan kemampuan awal matematika siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik dan motivasi belajar siswa . (3) proses penyelesaian jawaban soal pemecahan masalah matematika siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah lebih baik dibandingkan siswa yang diberi pembelajaran biasa .
Baca lebih lanjut

40 Baca lebih lajut

Pengaruh model pembelajaran generatif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa

Pengaruh model pembelajaran generatif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematik siswa

Berbeda dengan kelompok eksperimen, pada kelompok kontrol diajarkan pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional dimana pembelajaran yang dilakukan masih berpusat pada guru.Kegiatan siswa hanya mendengarkan dan mencatat hal-hal yang diuraikan oleh guru. Siswa kurang mampu mengemukakan pendapat dan mengaplikasikan ide-ide matematika kedalam kehidupan sehari-hari. Pada saat guru melemparkan soal-soal pada siswa, maka siswa yang mampu menjawab atau mengerjakan soal hanya siswa-siswa yang pandai saja. Dalam hal ini, pada saat menyelesaikan soal-soal matematika sebagian besar siswa hanya mengikuti cara yang diajarkan oleh guru tanpa paham akan apa yang dituliskan. Sehingga jika siswa diberikan soal yang sedikit berbeda, siswa mengalami kesulitan dan bahkan tidak mampu untuk menyelesaikannya. Hal ini disebabkan oleh salah satu faktor dalam diri siswa yaitu faktor kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang belum berkembang dengan baik.
Baca lebih lanjut

189 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SD MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK.

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SD MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK.

4. Ditinjau dari pengaruh pembelajaran (PMR dan PMB) dan tingkat kemampuan siswa (tinggi, sedamg, dan rendah) terhadap peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan pemecahan masalah matematik, bahwa pemilihan pendekatan pembelajaran yang tepat akan turut menentukan tercapainya tujuan pembelajaran, seperti: (1) materi pelajaran, keterampilan, kemampuan matematik yang dikembangkan guru dalam pembelajaran, dapat dipahami dan diserap dengan baik oleh seluruh siswa; (2) keaktivan, kemandirian, ketekunan, kerja sama, rasa percaya diri, rasa senang dan gairah belajar dalam proses pembelajaran semakin nampak dan bertumbuh. Di samping itu, tingkat kemampuan siswapun turut berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pembelajaran sebagaimana disebutkan di atas. Karena pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kontekstual (masalah yang dikenal atau dapat dibayangkan oleh siswa), siswa segera terlibat secara bermakna, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, serta siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Cara ini akan sangat membantu setiap siswa dalam memahami dan menyerap materi yang diajarkan, serta mengembangkan pengetahuannya.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PEMBELAJARAN LANGSUNG.

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PEMBELAJARAN LANGSUNG.

Penelitian ini merupakan penelitian semi eksperimen. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP di Sibuhuan. Secara acak, dipilih satu sekolah sebagai subyek penelitian, yaitu SMP Negeri 1 Barumun sebanyak dua kelas dari tujuh kelas. Kelas eksperimen 1 diberi perlakuan pembelajaran berbasis masalah dan kelas eksperimen 2 diberi perlakuan pembelajaran langsung. Instrumen yang digunakan terdiri dari: tes kemampuan pemecahan masalah matematik, angket motivasi belajar siswa dan lembar observasi. Instrumen tersebut dinyatakan telah memenuhi syarat validitas isi, serta koefisien reliabilitas sebesar 0,823 dan 0,8012 berturut-turut untuk kemampuan pemecahan masalah matematika dan angket motivasi belajar siswa.
Baca lebih lanjut

38 Baca lebih lajut

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa melalui pembelajaran dengan menggunakan metode drill

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa melalui pembelajaran dengan menggunakan metode drill

Berdasarkan hasil analisis gain ternormalisasi didapat gain dari kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal dan berasal dari varian yang tidak homogen sehingga untuk menguji perbedaan rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dari kedua kelas digunakan uji-t’ pada taraf signifikansi a = 0,05 dengan kriteria terima H0 jika thitung < ttabel , pada keadaan lain tolak H 0 . Dari hasil uji-t dengan menggunakan SPSS didapat thitung = 4,625 dengan derajat bebas df = 58. Dengan a = 0,05 dan df=58 maka t tabel = 2,0017. Karena thitung >ttabel , maka H0 ditolak. Hasil yang sama jika dilakukan uji perbedaan rata-rata menggunakan One Way Anova. Uji statistik yang digunakan pada One Way Anova adalah uji-F, dengan menggunakan SPSS didapat F hitung = 21,392 pada derajat bebas pembilang = 1 dan derajat bebas penyebut = 58. Dengan dasar derajat bebas tersebut, dan menggunakan a = 0,05 maka diperoleh Ftabel=5,30. Karena F hitung > F tabel , maka disimpulkan bahwa H 0 ditolak. Penolakan hipotesis nol menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang memperoleh pembelajaran dengan metode drill secara signifikan lebih baik daripada siswa dengan pembelajaran matematika konvensional.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK ANTARA SISWA YANG DIBERI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PEMBELAJARAN EKSPOSITORI DI KELAS VIII SMP SWASTA PAB 2 HELVETIA MEDAN T.A 2012/2013.

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK ANTARA SISWA YANG DIBERI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PEMBELAJARAN EKSPOSITORI DI KELAS VIII SMP SWASTA PAB 2 HELVETIA MEDAN T.A 2012/2013.

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul ”Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik antara Siswa yang Diberi Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pembelajaran Ekspositori di Kelas VIII SMP Swasta PAB 2 Helvetia Medan T.A 2012/2013” disusun sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

Kemampuan Pemecahan Masalah matematik dan

Kemampuan Pemecahan Masalah matematik dan

9) Mengajukan pertanyaan dan meminta saran strategi penyelesaian yang merefleksikan strategi pemecahan masalah yang digunakan pebelajar. Lakukan hal ini sebelum dan sesudah mereka bekerja dengan masalah (hal ini seringkali disebut dengan latihan kognitif).

6 Baca lebih lajut

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASISPOTENSI PESISIR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK, KOMUNIKASI MATEMATIK, DAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA SMP.

PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBASISPOTENSI PESISIR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK, KOMUNIKASI MATEMATIK, DAN KETERAMPILAN SOSIAL SISWA SMP.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP di daerah pesisir Indonesia, yaitu suatu daerah pertemuan air laut dan daratan atau biasa disebut daerah pantai. Secara umum, karakteristik masyarakat pesisir, lingkungan, dan kemampuan matematik siswa SMP di daerah pesisir di Indonesia relatif sama. Oleh karena itu, pemilihan SMP di Kabupaten Buton, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), yang memiliki banyak pulau dan secara umum penduduknya berdomisili di daerah pesisir, sebagai lokasi penelitian, dipandang dapat mewakili SMP pesisir di seluruh Indonesia. Sedangkan pemilihan siswa SMP sebagai subyek penelitian ini didasarkan pada pertimbangan keragaman kemampuan akademik, tingkatan berpikir siswa, dan kondisi perkembangan fisik dan psikologis mereka yang masih berada pada jalur transisi agar mereka memiliki kesiapan terhadap permasalahan pesisir yang menjadi fokus kajian penelitian ini.
Baca lebih lanjut

120 Baca lebih lajut

Implementasi PBL Berbantuan GSP Software Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa

Implementasi PBL Berbantuan GSP Software Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa

Inovasi dalam pengembangan pembelajaran matematika harus diterapkan. Agar pengembangan pembelajaran tentunya selaras dengan perkembangan jaman, sehingga tujuan pembelajaran mudah tercapai. Perlu adanya kemampuan yang dimiliki siswa, saat mengikuti pembelajaran matematik. Salah satu kemampuan matematis yang perlu dikembangkan adalah kemampuan pemecahan masalah matematis. Berkaitan dengan pentingnya Kemampuan pemecahan masalah, pemecahan masalah merupakan suatu hal hal esensial di dalam pengajaran matematika, sebab: 1) siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan, kemudian menganalisisya dan akhirnya meneliti hasilnya, 2) kepuasan intelektual akan timbul dari dalam; 3) potensi intelektual siswa meningkat; 4) siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan (Hudoyo 1979).
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pengaruh Model Two Stay Two Stray Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa

Pengaruh Model Two Stay Two Stray Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Siswa

Abstrak—Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswaserta mendeskripsikan respon siswa terhadap pelajaran matematika dan pembelajaran two stay two stray yang diterapkan. Jenis penelitian ini merupakan kuasi eksperimen.Populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Palasah Kabupaten Majalengka Tahun ajaran 2016/2017.Adapun Sampelnya yaitu 26 mahasiswa kelompok eksperimen dan 26 mahasiswa kelompok kontrol berdasarkan teknik purposive sampling.Analisis kuantitatif menggunakan Independent Sample t-test, sedangkan analisis kualitatif dilakukan secara deskriptif. Hasilnya menunjukkan adanya pengaruh positif pada penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Analisis angket skala sikap memperlihatkansikap positif siswa terhadap pelajaran matematika dan pembelajaran two stay two stray yang diterapkan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pretes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

Pretes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

5. Diberikan soal cerita tentang tarif sewa perahu nelayan oleh sekelompok peneliti. Siswa dapat memahami masalah, menyelesaikan masalah, dan menjawab masalah sehingga dapat menentukan banyak hari paling banyak sekelompok peneliti yang menyewa perahu dengan bayaran tertentu.

30 Baca lebih lajut

KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

KEMAMPUAN PEMAHAMAN DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap “ Apakah pemahaman matematis dan pemecahan masalah matematis siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah lebih baik dari pembelajaran biasa di SMP Negeri 3 Samalantan ” Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment (Eksperimen Semu) dengan rancangan eksperimen dengan kelompok kontrol pretest postes desain, Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Samalantan dengan masing-masing subyek penlitian 40 siswa baik kelas control maupun kelas eksperimen. Hasil analisis data menunjukkan secara umum siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah mencapai kualitas kemampuan pemahaman yang lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa. Sedangkan siswa yang memperoleh model pembelajaran berbasis masalah mencapai kualitas kemampuan pemecahan masalah matematik yang lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

t mtk 0705384 chapter1

t mtk 0705384 chapter1

Adapun kemampuan pemecahan masalah matematik yang harus ditumbuhkan dalam pembelajaran adalah: 1) kemampuan mengerti konsep dan istilah matematika; 2) kemampuan untuk mencatat kesamaan, perbedaan, dan analogi; 3) kemampuan untuk mengidentifikasi elemen terpenting dan memilih prosedur yang benar; 4) kemampuan untuk mengetahui hal yang tidak berkaitan; 5) kemampuan untuk menaksir dan menganalisa; 6) kemampuan untuk menvisualisasi dan menginterprestasi kuantitas atau ruang; 7) kemampuan untuk memperumum berdasarkan beberapa contoh; 8) kemampuan untuk berganti metoda yang telah diketahui: 9) mempunyai kepercayaan diri yang cukup dan merasa senang terhadap materinya (Dodson dan Hollander, dalam Setiabudi, 2003: 3)
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Kemampuan Pemecahan Masalah, Komunikasi dan Disposisi Matematik Siswa SMP melalui Strategi MEAs.

Kemampuan Pemecahan Masalah, Komunikasi dan Disposisi Matematik Siswa SMP melalui Strategi MEAs.

Penelitian ini mengkaji bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematik, kemampuan komunikasi matematik, dan disposisi matematik siswa setelah melalui proses pembelajaran dengan strategi Mathematical Eliciting Activities (MEAs). Penelitian kuasi dengan rancangan static group comparison ini melibatkan 122 siswa dari dua sekolah SMP Negeri di Depok yang berkategori atas dan menengah. Data penelitian ini dihimpun melalui instrumen-instrumen yang meliputi tes pengetahuan awal matematik, tes kemampuan pemecahan masalah matematik, tes kemampuan komunikasi matematik, dan skala disposisi matematik. Pelaksanaan penelitian dilakukan sejak bulan Oktober 2010 sampai dengan bulan April 2011. Analisis data menggunakan uji beda Rerata, uji Chi- Kuadrat, dan ANOVA dua jalur. Hasil penelitian, baik dari data gabungan maupun di sekolah level atas, menginformasikan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran dengan strategi MEAs memiliki kemampuan pemecahan masalah, komunikasi maupun disposisi matematik yang lebih baik daripada siswa yang terlibat dalam pembelajaran konvensional. Siswa yang mendapat pendidikan di sekolah dengan level menengah, menunjukkan bahwa pembelajaran MEAs maupun konvensional dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, komunikasi maupun disposisi matematik pada ketercapaian yang tidak berbeda secara signifikan. Di sekolah level menengah, ternyata kemampuan komunikasi matematik siswa dengan PAM rendah di kelas konvensional sedikit lebih tinggi (5,71 > 5,60) dari siswa yang mendapat pembelajaran MEAs. Hal ini menjelaskan bahwa pembelajaran MEAs kurang tepat dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematik jika diterapkan pada siswa dengan PAM rendah dari sekolah level menengah. Baik di sekolah level atas maupun menengah, pengaruh pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah, komunikasi dan disposisi matematik tidak dipengaruhi oleh level sekolah dan pengetahuan awal matematik siswa. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya pengaruh interaksi yang signifikan antara level sekolah dengan kategori pembelajaran, antara kategori PAM dengan kategori pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah, komunikasi maupun disposisi matematik siswa. Pada kelas dengan pembelajaran MEAs terdapat keterkaitan antara kemampuan pemecahan masalah matematik dengan kemampuan komunikasi matematik, antara kemampuan pemecahan masalah matematik dengan disposisi matematik dan antara kemampuan komunikasi matematik dengan disposisi matematik.
Baca lebih lanjut

48 Baca lebih lajut

Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan M

Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan M

Penelitian ini berfokus pada upaya untuk mengungkapkan pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa SMP, sebagai dampak dari penggunaan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional dalam pembelajaran matematika. Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis instrumen yaitu, 1) tes pemecahan masalah matematik yang bertujuan untuk mengukur kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematik siswa setelah pembelajaran, dan 2) skala sikap yang berfungsi untuk mengungkapkan pendapat siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen.Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa 1) Kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematik pada kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada siswa yang yang belajar dengan pembelajaran konvensional. 2) skala sikap siswa terhadap proses pembelajaran kontekstual menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menyatakan ketersetujuannya terhadap aktivitas pembelajaran yang berlangsung selama penelitian.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

t mtk 1007006 chapter3

t mtk 1007006 chapter3

Dalam penelitian ini ingin dilihat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa yang memperoleh pembelajaran menggunakan pendekatan problem centered learning dengan hands-on activity dan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan problem-centered learning tanpa hands-on activity . Oleh karena itu, uji statistik yang digunakan adalah uji perbedaan dua rataan.

17 Baca lebih lajut

PENILAIAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP

PENILAIAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP

Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan fundamental dalam pembelajaran matematika dan merupakan salah satu tujuan utama dari pembelajaran matematika. Ar t i k e l i n i m e m b a h a s m e n g e n a i k e m a m p u a n p e m e c a h a n m a s a l a h m a t e m a t i s , permasalahan yang sering muncul dikalangan para peneliti adalah sulitnya mendefinisikan, membuat indikator dan soal yang tepat yang dapat mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa karena kurangnya pengalaman dan referensi. Secara singkat tujuan kajian ini adalah dapat mendefinisikan kemampuan pemecahan masalah matematis dengan benar, mampu membuat indikator dan soal kemampuan pemecahan masalah matematik SMP dengan tepat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Hasil kajian menunjukan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah matematis non-routin yang disajikan dalam bentuk soal matematika tekstual maupun kontekstual yang dapat mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan indikator mampu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melakukan perhitungan dan mengecek kembali hasil perhitungan. kebaruan dari kajian ini adalah pembahasan yang komprehensif mengenai pemecahan masalah matematis. Adapun dampak dari hasil kajian ini diharapkan para peneliti dapat membuat indikator dan instrument soal yang tepat dalam mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...