ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

Top PDF ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN:

ANALISIS RESIKO ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (Pest Risk Analysis) PADA POLONG KEDELAI (Glycine max L.) IMPOR DARI JEPANG

ANALISIS RESIKO ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (Pest Risk Analysis) PADA POLONG KEDELAI (Glycine max L.) IMPOR DARI JEPANG

OPTK resiko tinggi dari negara pengekspor terlarang masuk wilayah Indonesia karena tingginya kerugian yang akan ditanggung negara akibat aktivitas OPTK resiko tinggi tersebut. Faktor penentu resiko yang menunjang antara lain berdasarkan media pembawa, daerah sebaran OPT dalam suatu wilayah berdasarkan peta penyebaran yang keluarkan oleh CABI 2003, kemapanan berdasarkan kemampuan adaptasi terhadap iklim dan kondisi tanah di Indonesia, arti penting ekonomi ditinjau dari sejarah epidemi OPT serta pengelolaan yang dilakukan di Jepang sebagai tindakan karantina untuk mendapatkan sertifikat kesehatan tumbuhan (Phytosanitary certificate). Beberapa OPTK resiko tinggi tersebut antara lain Frankliniella intonsa, Popillia japonica, Riptortus clavatus, Paratrichodorus porosus, Cercospora kikuchii, Thielaviopsis basicola, Broad bean wilt virus, Peanut stunt virus, Tomato spotted wilt virus, Pseudomonas
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PEMANTAUAN KEHILANGAN HASIL PADI SAWAH MELALUI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

PEMANTAUAN KEHILANGAN HASIL PADI SAWAH MELALUI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN

Sehubungan dengan maksud tersebut, kegiatan pemantauan kehilangan hasil akibat serangan OPT perlu dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran susut hasil padi sawah, mamfaat pengendalian dalam menyelamatkan hasil di wilayah pengamatan serta untuk mengetahui kemampuan petani dalam mengendalikan serangan organisme pengganggu. Dengan adanya informasi diharapkan strategi pengendalian OPT yang baik dan menyeluruh dapat dipertanggung jawabkan baik dari aspek ekonomi maupun ekologinya, sehingga produksi yang hilang dapat dicegah dan pendapatan petani dapat ditingkatkan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Pedoman surveilensi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) atau OPT Karantina (OPTK)

Pedoman surveilensi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) atau OPT Karantina (OPTK)

Kelompok sasaran informasi adalah petani, penyuluh, teknisi lapangan, dan kelompok komunitas pemerhati pertanian (Lembaga Swadaya Masyarakat =LSM) sangat besar kemungkinannya mengetahui OPT yang biasanya ada sehingga mereka akan melihat kalau ada OPT baru yang masuk. Masyarakat umum juga dapat membantu dalam meningkatkan luas area yang bisa diamati oleh tim untuk mencari OPT sebagaimana layaknya yang dikerjakan ahli taksonomi dan kesehatan tumbuhan. Sosialisasi dapat diprogramkan untuk mengikutsertakan murid, pegawai sekolah dan universitas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang entomologi dan patologi tumbuhan. Tenaga pengendalian OPT domestik dan pekerja di kebun pembibitan juga dapat menjadi sumber informasi yang sangat bermanfaat dalam pelaporan OPT baru. Identifikasi dan memberi tahu informasi kepada setiap kelompok yang telah dan sedang melakukan survei OPT atau program pengendalian OPT adalah penting.
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

pp no 14 th 2002 ttg karantina tumbuhan

pp no 14 th 2002 ttg karantina tumbuhan

c. tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I, busuk atau rusak dan/atau merupakan jenis-jenis Media Pembawa yang pemasukan dan pengeluarannya tidak diperbolehkan melalui tempat pemasukan dan pengeluaran bersangkutan atau dikeluarkan dari Area bersangkutan atau dimasukkan ke Area tujuan dan/atau tidak memenuhi persyaratan administrasi dan/atau persyaratan teknis yang diatur dalam Pasal 5, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan penolakan;

Baca lebih lajut

Peraturan Perundangan PP0142002

Peraturan Perundangan PP0142002

Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan di bidang sertifikasi benih adalah peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengawasan standar mutu benih yang diedarkan/diperdagangkan. Ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut meliputi juga aspek kesehatan dari benih yang diedarkan, yaitu ketentuan yang mengatur bahwa benih harus bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan tertentu atau hanya boleh terkontaminasi/terinfestasi dalam batas yang ditetapkan (maximum pest limit). Ketentuan tentang aspek kesehatan benih inilah yang juga perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan Karantina Tumbuhan terhadap benih. Pemberlakuan ketentuan di bidang sertifikasi benih terhadap benih yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia atau yang diangkut antar area di wilayah Negara Republik Indonesia, tidak mengurangi berlakunya ketentuan-ketentuan di bidang Karantina Tumbuhan pada umumnya, khususnya yang diatur dalam BAB III Bagian Kedua dan Bagian Ketiga Peraturan Pemerintah ini, karena selain sebagai Media Pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting, benih juga merupakan Media Pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Ayat (3)
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

pp no 6 th 1995 ttg perlindungan tanaman

pp no 6 th 1995 ttg perlindungan tanaman

1. Perorangan atau badan hukum, kelompok dalam masyarakat dan instansi Pemerintah yang menggunakan pestisida dalam rangka pengendalian organisme pengganggu tumbuhan wajib memantau, mencegah dan atau menanggulangi dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan pestisida.

Baca lebih lajut

Index of /ProdukHukum/Sekneg PP No 14 th 2002

Index of /ProdukHukum/Sekneg PP No 14 th 2002

b. bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan II, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Pasal 28 sampai dengan Pasal 32, maka terhadap Media Pembawa tersebut dapat diturunkan dari alat angkut yang membawanya. (2) Apabila setelah 14 (empat belas) hari sejak diterimanya surat penolakan oleh Pemiliknya ternyata Media Pembawa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau Pasal 34 huruf b tidak/belum dibawa keluar dari tempat pemasukan atau Area bersangkutan oleh Pemiliknya, maka Media Pembawa tersebut diturunkan dari alat angkut yang membawanya untuk dimusnahkan.
Baca lebih lanjut

28 Baca lebih lajut

ProdukHukum MENKOKESRA

ProdukHukum MENKOKESRA

benih yang diedarkan, yaitu ketentuan yang mengatur bahwa benih harus bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan tertentu atau hanya boleh terkontaminasi/terinfestasi dalam batas yang ditetapkan (maximum pest limit). Ketentuan tentang aspek kesehatan benih inilah yang juga perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan Karantina Tumbuhan terhadap benih. Pemberlakuan ketentuan di bidang sertifikasi benih terhadap benih yang dimasukkan ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia atau yang diangkut antar area di wilayah Negara Republik Indonesia, tidak mengurangi berlakunya ketentuan-ketentuan di bidang Karantina Tumbuhan pada umumnya, khususnya yang diatur dalam BAB III Bagian Kedua dan Bagian Ketiga Peraturan Pemerintah ini, karena selain sebagai Media Pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Penting, benih juga merupakan Media Pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

uu no 16 th 1992 ttg karantina hewan ikan dan tumbuhan

uu no 16 th 1992 ttg karantina hewan ikan dan tumbuhan

Untuk mendeteksi lebih lanjut terhadap hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu yang karena sifatnya memerlukan waktu lama, sarana, dan kondisi khusus, maka terhadap media pembawa yang telah diperiksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, dapat dilakukan pengasingan untuk diadakan pengamatan.

14 Baca lebih lajut

Peraturan Perundangan « Indonesia Biosafety Clearing House

Peraturan Perundangan « Indonesia Biosafety Clearing House

(1) Apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2) ternyata Media Pembawa tersebut tidak bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina dan tidak dapat dibebaskan dengan cara perlakuan, atau berada dalam keadaan busuk atau rusak, atau merupakan jenis-jenis Media Pembawa yang dilarang pemasukannya ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia atau Area yang bersangkutan, maka terhadap Media Pembawa tersebut dilakukan penolakan dan harus segera dibawa keluar dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia atau Area transit yang bersangkutan.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

Produk Hukum • Info Hukum perpres 32 2007

Produk Hukum • Info Hukum perpres 32 2007

(2) Sejak mulai tanggal pemberian tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi Pegawai Negeri Sipil yang telah menerima tunjangan Penyuluh Pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Pengawas Benih Tanaman, Pengawas Bibit Ternak, Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Perikanan, Pengendali Hama dan Penyakit I kan, dan Pengawas Benih I kan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2006 tentang tunjangan jabatan fungsional Penyuluh Pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Pengawas Benih Tanaman, Pengawas Bibit Ternak, Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Perikanan, Pengendali Hama dan Penyakit I kan, kepadanya hanya diberikan selisih besarnya tunjangan Penyuluh Pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan, Pengawas Benih Tanaman, Pengawas Bibit Ternak, Medik Veteriner, Paramedik Veteriner, Pengawas Perikanan, Pengendali Hama dan Penyakit I kan, dan Pengawas Benih I kan.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ProdukHukum MENKOKESRA

ProdukHukum MENKOKESRA

Pencegahan masuknya ke dalam atau tersebarnya organisme pengganggu umbuhan dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Replublik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a, dilaksanakan dengan cara mengenakan tindakan karantina pada setiap media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke dalam atau dikirim dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara Republik Indnesia. (2) Pemasukan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina baik

Baca lebih lajut

Peraturan Perundangan PP0061995

Peraturan Perundangan PP0061995

Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab masyarakat dan Pemerintah, oleh karena itu masyarakat baik secara perorangan ataupun berkelompok perlu memahami usaha perlindungan tanaman sehingga mampu mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dan sedini mungkin untuk menanggulangi serangan organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman, sehingga tidak berkembang menjadi eks-plosi. Dalam keadaan tertentu penanggulangan serangan organisme pengganggu tumbuhan disertai dengan eradikasi. Apabila dilakukan eradikasi terhadap tanaman atau benda lain yang tidak terserang organisme pengganggu tumbuhan kepada pemilik dapat diberikan kompensasi, sedangkan dalam hal eradikasi yang dilakukan terhadap tanaman atau benda lain yang terserang organisme pengganggu tumbuhan, maka kepada pemilik dapat diberikan bantuan. Peranan masyarakat merupakan kunci keberhasilan perlindungan tanaman.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Peraturan Perundangan « Indonesia Biosafety Clearing House

Peraturan Perundangan « Indonesia Biosafety Clearing House

Pelaksanaan perlindungan tanaman menjadi tanggung jawab masyarakat dan Pemerintah, oleh karena itu masyarakat baik secara perorangan ataupun berkelompok perlu memahami usaha perlindungan tanaman sehingga mampu mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dan sedini mungkin untuk menanggulangi serangan organisme pengganggu tumbuhan pada tanaman, sehingga tidak berkembang menjadi eks-plosi. Dalam keadaan tertentu penanggulangan serangan organisme pengganggu tumbuhan disertai dengan eradikasi. Apabila dilakukan eradikasi terhadap tanaman atau benda lain yang tidak terserang organisme pengganggu tumbuhan kepada pemilik dapat diberikan kompensasi, sedangkan dalam hal eradikasi yang dilakukan terhadap tanaman atau benda lain yang terserang organisme pengganggu tumbuhan, maka kepada pemilik dapat diberikan bantuan. Peranan masyarakat merupakan kunci keberhasilan perlindungan tanaman.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pedoman Teknis Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman Perkebunan

Pedoman Teknis Penanganan Organisme Pengganggu Tanaman Perkebunan

Luas areal perkebunan di Indonesi a sampai dengan t ahun 2011 diperkirakan sekit ar 21, 21 j ut a ha dan yang diusahakan ol eh rakyat sekit ar 70 % dari t ot al areal perkebunan. Produkt ivit as r at a-r at a t anaman masih rendah yait u sekit ar 58 % dari pot ensi . Rendahnya produkt i vit as t ersebut ant ara l ai n sal ah sat unya disebabkan ol eh adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dapat mengakibat kan t er j adinya kehil angan hasil dan penur unan kual it as produk.

Baca lebih lajut

MENGGUNAKAN SERANGGA UNTUK MEMAHAMI KEHIDUPAN | Martono | Jurnal Teknosains 6130 10419 1 SM

MENGGUNAKAN SERANGGA UNTUK MEMAHAMI KEHIDUPAN | Martono | Jurnal Teknosains 6130 10419 1 SM

Serangga ternyata memiliki tempat yang sangat istimewa dalam ilmu pengetahuan. Kalau selama ini lebih banyak mengenalnya sebagai jasad pengganggu (Istilah pertanian dikenal sebagai OPT atau Organisme Pengganggu Tanaman dan Istilah kesehatan dikenal sebagai vektor pembawa penyakit), maka dalam ilmu pengetahuan secara lebih umum peran serangga bukan hanya sebagai penyebab kerugian dan kerusakan saja. Serangga amat bermanfaat atau berjasa kepada ilmu pengetahuan dalam menambah khazanah pemahaman tentang jasad hidup dan berbagai interaksi yang terjadi pada jasad hidup, termasuk manusia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Laporan Praktikum Organisme Pengganggu T

Laporan Praktikum Organisme Pengganggu T

Hama merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang umumnya berupa binatang ataupun sekelompok binatang yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman budidaya dan menimbulkan terjadinya kerugian secara ekonomis. Akibat serangan hama produktivitas tanaman menjadi menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi kegagalan panen. Oleh karena itu kehadirannya perlu dikendalikan, apabila populasinya di lahan telah melebihi batas ambang ekonomik. Dalam kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis- jenis hama (nama umum, siklus hidup, dan karakteristik), inang yang diserang, gejala serangan, mekanisme penyerangan termasuk tipe alat makan serta gejala kerusakan tanaman menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian. Adpun gejala kerusakannya dilihat dari tipe mulut hama :
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Prospek Insektisida Yang Berasal Dari Tumbuhan Untuk Menanggulangi Organisme Pengganggu Tanaman.

Prospek Insektisida Yang Berasal Dari Tumbuhan Untuk Menanggulangi Organisme Pengganggu Tanaman.

I ndonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahan insektisida yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama. Dewasa ini penelitian tentang famili tumbuhan berpotensi sebagai insektisida tumbuhan dari penjur u dunia telah banyak dilaporkan. Lebih dari 1500 jenis tumbuhan telah dilaporkan dapat berpengaruh buruk terhadap serangga (Grainge & Ahmed, 1988). Di Filipina, tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida (Rejesus, 1987). Laporan dari berbagai propinsi di I ndonesia menyebutkan lebih 40 jenis tumbuhan berpotensi sebagai pestisida nabat i (Direktorat BPTP & Ditjenbun, 1994). Hamid & Nuryani (1992) mencatat di I ndonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati adalah M eliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan Rutaceae (Arnason et al., 1993; I sman, 1995), namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk ditemukannya famili tumbuhan yang baru. Didasari oleh banyaknya jenis tumbuhan yang memiliki khasiat insektisida maka penggalian potensi tanaman sebagai sumber insektisida tumbuhan sebagai alternatif pengendalian hama tanaman cukup tepat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMA. doc

PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMA. doc

Pelaksanaan program pengendalian hama terpadu (Integreted Pest Management) merupakan langkah yang sangat strategis dalam kerangka tuntutan masyarakat dunia terhadap berbagai produk yang aman dikonsumsi, menjaga kelestarian lingkungan, serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan yang memberikan manfaat antar waktu dan antar generasi. Salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai untuk menunjang pertanian berkelanjutan pembangunan pertanian secara hayati karena pengendalian ini lebih selektif (tidak merusak organisme yang berguna dan manusia) dan lebih berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan pengendali hayati dan proses-proses alami. Aplikasi pengendalian hayati harus kompatibel dengan peraturan (karantina), pengendalian dengan jenis tahan, pemakaian pestisida dan lain-lain. Berbagai kendala yang menyangkut komponen hayati antara lain adalah adanya kesan bahwa cara pengendalian hayati lambat kurang diminati. Oleh karena itu terasa pentingnya suatu komitmen untuk menentukan suatu gerak terpadu melalui konsep pengendalian hayati yang menguntungkan dan berkelanjutan dalam pemanfaatannya.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN Laporan Has

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN Laporan Has

Dalam meningkatkan produksi pertanian banyak kendala yang kita hadapi diantaranya adalah gangguan organisme pengganggu Tanaman (OPT). Hama adalah salah satu bagian organisme yang menyerang tanaman sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terganggu, yang berdampak turunnya kualitas dan kuantitas serta kerugian ekonomis bagi manusia.

Baca lebih lajut

Show all 6362 documents...