Pemberontakan DI/TII

Top PDF Pemberontakan DI/TII:

gerakan separatisme DI TII latar belakan

gerakan separatisme DI TII latar belakan

Selain itu, di Kebumen muncul pemberontakan DI/TII yang dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Somalangu. Kedua gerakan ini bergabung dengan DI/TII Jawa Barat, pimpinan Kartosiwiryo. Pemberontakan di Jawa Tengah ini menjadi semakin kuat setelah Batalion 624 pada Desember 1951 membelot dan

8 Baca lebih lajut

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

3.1 Menganalisis upaya bangsa indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain PKI Madiun 1948, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI, Permesta, G-30-S/PKI 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Mendeskripsikan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia Menjelaskan

Gerombolan DI/TII ini tidak hanya di Jawa Barat akan tetapi di Jawa Tengah juga muncul pemberontakan yang didalangi oleh DI/ TII. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah di bawah pimpinan Amir Fatah yang bergerak di daerah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. dan Moh. Mahfudh Abdul Rachman (Kiai Sumolangu). Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari 1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “Gerakan Banteng Negara” (GBN) di bawah Letnan Kolonel Sarbini (selanjut-nya diganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani). Gerakan operasi ini dengan pasukan “Banteng Raiders.” Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/ TII, yakni dilakukan oleh “Angkatan Umat Islam (AUI)” yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

Bab 1 Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi bangsa

Bab 1 Perjuangan Menghadapi Ancaman Disintegrasi bangsa

Timbulnya pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan ini sesungguhnya bisa ditelusuri hingga tahun 1948 saat Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV, sebagai pasukan utama Indonesia dalam menghadapi Belanda di Kalimantan Selatan, telah tumbuh menjadi tentara yang kuat dan berpengaruh di wilayah tersebut. Namun ketika penataan ketentaraan mulai dilakukan di Kalimantan Selatan oleh pemerintah pusat di Jawa, tidak sedikit anggota ALRI Divisi IV yang merasa kecewa karena diantara mereka ada yang harus didemobilisasi atau mendapatkan posisi yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Suasana mulai resah dan keamanan di Kalimantan Selatan mulai terganggu. Penangkapan-penangkapan terhadap mantan anggota ALRI Divisi IV terjadi. Salah satu alasannya adalah karena diantara mereka ada yang mencoba menghasut mantan anggota ALRI yang lain untuk memberontak. Diantara para pembelot mantan anggota ALRI Divisi IV adalah Letnan Dua Ibnu Hajar. Dikenal sebagai igur berwatak keras, dengan cepat ia berhasil mengumpulkan pengikut, terutama di kalangan anggota ALRI Divisi IV yang kecewa terhadap pemerintah. Ibnu Hajar bahkan menamai pasukan barunya sebagai Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas (KRIyT). Kerusuhan segera saja terjadi. Berbagai penyelesaian damai coba dilakukan pemerintah, namun upaya ini terus mengalami kegagalan. Pemberontakan pun pecah. Akhir tahun 1954, Ibnu Hajar memilih untuk bergabung dengan pemerintahan DI/TII Kartosuwiryo, yang menawarkan kepadanya jabatan dalam pemerintahan DI/TII sekaligus Panglima TII Kalimantan. Konlik dengan tentara Republik pun tetap terus berlangsung bertahun-tahun. Baru pada tahun 1963, Ibnu Hajar menyerah. Ia berharap mendapat pengampunan. Namun pengadilan militer menjatuhinya hukuman mati.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Rangkuman Sejarah BAB 1 Konflik dan Perg

Rangkuman Sejarah BAB 1 Konflik dan Perg

Selain pemberontakan DI/TII di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemberontakan DI/TII ini juga terjadi di Sulawesi Selatan yang di pimpin oleh Kahar Muzakar, organisasi yang sudah di dirikan sejak tahun 1951 tersebut baru bisa di runtuhkan oleh pemerintah pada Tahun 1965. Untuk menumpas organisasi tersebut di butuhkan banyak biaya, tenaga, dan waktu karena kondisi medan yang sangat sulit. Meski demikian, para pemberontak DI/TII sangat menguasai area tersebut. Selain itu, para pemberontak memanfaatkan rasa kesukuan yang berkembang di kalangan masyarakat untuk melawan pemerintah dalam menumpas organisasi DI/TII tersebut. Setelah pemerintahan Republik Indonesia mengadakan operasi penumpasan DI/TII bersama anggota Tentara Republik Indonesia. Barulah seorang Kahar Muzakar tertangkap dan di tembak oleh pasukan TNI pada tanggal 3 Februari 1965.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI/TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI/TII 1949-1962)

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI- POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.
Baca lebih lanjut

104 Baca lebih lajut

PERANAN TEUKU ILYAS LEUBE DALAM DI/TII ACEH TENGAH (1953-1962).

PERANAN TEUKU ILYAS LEUBE DALAM DI/TII ACEH TENGAH (1953-1962).

Dari hasil penelitian, dapatlah diketahui latar belakang pergolakan Aceh melawan pemerintahan pusat yaitu Jakarta disebabkan oleh janji-janji Sukarno yang tidak dipenuhi kepada Aceh. Pada tahun 1953 Dawud Beureueh sebagai Gubernur Aceh yang pada saat itu yang tidak terima dengan perlakuan tersebut melakukan pemberontakan dan bergabung dengan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo. Ilyas Leube sebagai salah satu murid Dawud Beureueh ikut mengangkat senjata dan terhitung menjadi orang nomor 2 di Aceh setelah Beureueh hingga pada tahun 1962 Beureueh mengintrupsikan semua pasukanya untuk turun dari gunung dan kembali ke pangkuan RI.
Baca lebih lanjut

24 Baca lebih lajut

INTERVENSI PERANCIS DALAM MENGHENTIKAN PEMBERONTAKAN DI MALI

INTERVENSI PERANCIS DALAM MENGHENTIKAN PEMBERONTAKAN DI MALI

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul “Intervensi Perancis dalam Menghentikan Pemberontakan di Mali” ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun. Karya tulis ini juga bukan hasil jiplakan. Saya bertanggungjawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

15 Baca lebih lajut

Gerakan Sosial Pemberontakan dan Revolus (1)

Gerakan Sosial Pemberontakan dan Revolus (1)

bisa sebaliknya pemberontakan bisa menjadi gerakan sosial ketika pemberontakan tersebut gagal dan membutuhkan taktik serta organisasi kelembagaan yang lebih efektif dalam melawan kekuasaan. Sebaliknya gerakan sosial bisa menjadi sebuah revolusi tak kala kesediaan massa aksi untuk merubah tatanan secara total, dan kondisi kekuatan yang memungkinkan untuk sebuah revolusi. Misalkan dalam hal Revolusi Soviet, Lenin sebenarnya membuat sebuah gerakan sosial dengan menciptakan partai revolusioner tetapi hal itu berubah menjadi revolusi ketika kondisi memungkinkan untuk revolusi dan kesediaan massa aksi dalam melakukan politik perlawanan secara radikal, tentunya revolusi juga membutuhkan pemberontakan. Mustahil tanpa pemberontakan revolusi bisa berhasil. Akan tetapi ketika Revolusi berhasil maka dengan sendirinya gerakan sosial akan lenyap.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Pemberontakan dalam Kasus Pelanggaran HA (1)

Pemberontakan dalam Kasus Pelanggaran HA (1)

Hak asasi manusia merupakan hak dasar setiap manusia. Disamping Hak Msasi Manusia(HAM) tidak akan lepas dari hak kewarganegaraan. Sudah menjadi hukum alam bahwa negara berkewajiban melindungi hak asasi manusia setiap warga negaranya. Beragam kasus pelanggaran HAM harus ditangani oleh pemerintah negara. Baik kasus HAM ringan sampai kasus HAM berat. Tidak sedikit negara yang kewalahan menangani kasus HAM berat di negaranya. Myanmar merupakan salah satu negara yang masih kewalahan menangani kasus pelanggaran HAM berat di negaranya terkhusus mengenai pemberontakan. MNDAA merupakan tentara aliansi demokrasi demokratik Myanmar dan angkatan darat Kokang. Yunan merupakan tempat pelarian diri MNDAA setelah kehilangan kendali wilayanhnya di Myanmar. MNDA yang ingin merebut kembali Zona Pengusaha Kokang terus melakukan penyerangan terhadap pemerintah Myanmar. Tidak hanya satu atau dua orang tewas dalam penyerangan. 30 orang tewas pada hari senin, 6 maret 2017. Tembakan artileri dan senapan terus terjadi sepanjang hari di ibu kota wilayah Laukkai, Kokang timur laut. Dalam tragedy pelanggaran HAM berat yang masih tidak mampu di tangani pemerintah Myanmar intervensi kemanusiaan pihak Internasonal sudah seharusnya diadakan, meskipun bertentangan dengan politik luar negeri mengenai kedaulatan negara. Memang pada dasarnya wilayah perbatasan menjadi titik rawan adanya pemberontakan. Di Indonesia sendiri sebagai contoh Papua. Meskipun kasusnya berbeda, Papua yang ingin melepaskan diri wilayah dari Indonesia dan MNDAA yang ingin menguasai kembali wilayah Kokang di Myanmar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PEMBERONTAKAN DALAM KASUS PELANGGARAN HA (2)

PEMBERONTAKAN DALAM KASUS PELANGGARAN HA (2)

Hak asasi manusia merupakan hak dasar setiap manusia. Disamping Hak Msasi Manusia(HAM) tidak akan lepas dari hak kewarganegaraan. Sudah menjadi hukum alam bahwa negara berkewajiban melindungi hak asasi manusia setiap warga negaranya. Beragam kasus pelanggaran HAM harus ditangani oleh pemerintah negara. Baik kasus HAM ringan sampai kasus HAM berat. Tidak sedikit negara yang kewalahan menangani kasus HAM berat di negaranya. Myanmar merupakan salah satu negara yang masih kewalahan menangani kasus pelanggaran HAM berat di negaranya terkhusus mengenai pemberontakan. MNDAA merupakan tentara aliansi demokrasi demokratik Myanmar dan angkatan darat Kokang. Yunan merupakan tempat pelarian diri MNDAA setelah kehilangan kendali wilayanhnya di Myanmar. MNDA yang ingin merebut kembali Zona Pengusaha Kokang terus melakukan penyerangan terhadap pemerintah Myanmar. Tidak hanya satu atau dua orang tewas dalam penyerangan. 30 orang tewas pada hari senin, 6 maret 2017. Tembakan artileri dan senapan terus terjadi sepanjang hari di ibu kota wilayah Laukkai, Kokang timur laut. Dalam tragedy pelanggaran HAM berat yang masih tidak mampu di tangani pemerintah Myanmar intervensi kemanusiaan pihak Internasonal sudah seharusnya diadakan, meskipun bertentangan dengan politik luar negeri mengenai kedaulatan negara. Memang pada dasarnya wilayah perbatasan menjadi titik rawan adanya pemberontakan. Di Indonesia sendiri sebagai contoh Papua. Meskipun kasusnya berbeda, Papua yang ingin melepaskan diri wilayah dari Indonesia dan MNDAA yang ingin menguasai kembali wilayah Kokang di Myanmar.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Mandat liga bangsa-bangsa: kegagalan Palestina menjadi negara merdeka (1920-1948)

Mandat liga bangsa-bangsa: kegagalan Palestina menjadi negara merdeka (1920-1948)

Salah satu strategi Inggris melawan Aliansi German-Usmani adalah mengajak Bangsa Arab untuk melawan Usmani. Mereka menemukan pembantu yang siap dan bersedia melakukan hal itu di Hijaz, yaitu Sharif Hussein bin Ali, yakni Emir dari Makkah yang menandatangani perjanjian dengan pemerintah Inggris untuk memberontak melawan Imperium Utsmani. Inggris berjanji kepadanya bahwa setelah perang, dia akan diberi kerajaan Arab tersendiri yang akan mencakup seluruh Semenanjung Arab, termasuk Suriah dan Irak. Surat- surat di mana kedua belah pihak menegosiasikan dan membahas pemberontakan ini dikenal sebagai Korespondensi McMahon – Hussein, saat Sharif Hussein berkomunikasi dengan Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, Sir Henry McMahon. 3
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

SEJARAH PEMBERONTAKAN G 30 S

SEJARAH PEMBERONTAKAN G 30 S

diringkus dan ke 7 korban penculikan dan pembunuhan berhasil ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Halim, Jakarta Timur dibawah komando seorang perwira tinggi yang lolos dari target penculikan dan pembunuhan yaitu Mayjen TNI Soeharto. pada tanggal 30 September 1965 meletuslah pemberontakan PKI. Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari menjelang subuh, PKI mengadakan penculikan terhadap perwira-perwira Angkatan Darat dan mengumumkan adanya Dewan Revolusi. Penculikan-penculikan itu dilakukan oleh beberapa anggota pasukan Cakrabirawa (Barisan Pengawal Presiden) di bawah pimpinan Kolonel Untung. Mereka menculik dan menyiksa para perwira Angkatan Darat tanpa mengenal perikemanusiaan. Setelah itu jasad para perwira tadi dimasukkan ke dalam sumur Lubang Buaya di Jakarta. Adapun beberapa perwira TNI Angkatan Darat yang diculik tersebut adalah: 1. Letnan Jenderal Akhmad Yani
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Rebellion Against Educational Institution In J. D Salinger’s Novel The Catcher In The Rye

Rebellion Against Educational Institution In J. D Salinger’s Novel The Catcher In The Rye

Skripsi ini berjudul Pemberontakan Terhadap Institusi Pendidikan dalam Novel The Catcher in The Rye karya J.D Salinger. Skripsi ini meganalisis pemberontakan terhadap sekolah dengan cara menguraikan jenis-jenis pemberontakan yang dilakukan oleh karakter utama dan alasan-alasan yang mendorong karakter utama untuk melakukan tindakan tersebut. Sekolah dari sudut pandang karakter utama tidak lagi berfungsi sebagai sarana pendidikan bagi anak atau remaja. Sekolah lebih menjadi sarana bagi para siswa untuk menunjukkan kehebatan mereka. Hal ini menyebabkan munculnya permasalahan di dalam sekolah tersebut dimana banyak terjadi pengkasifikasian yang menempatkan setiap siswa berdasarkan kehebatan dan keunggulan mereka. Guru tidak lagi berperan sebagai tenaga pengajar dan membimbing siswanya untuk menjadi manusia yang bermoral. Mereka bersifat pilih kasih dan memperlakukan siswanya secara tidak adil. Hal tersebut mengakibatkan rusaknya moral para siswa dan mendorong karakter utama untuk memberontak terhadap institusi pendidikan.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PARTAI DAN KOMUNIS DI INDONESIA

PARTAI DAN KOMUNIS DI INDONESIA

Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima perintah langsung dari Moskwa untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintahan kapitalis Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskwa, bertemu dengan Stalin, dan menerima perintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Akan tetapi pikiran Musso berkata lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Setelah keluar dari penjara Musso pergi ke Moskwa, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Gerakan Politik S. M. Kartosoewirjo (DI TII 1949-1962)

Tujuan dari penelitian ini adalah ingin melihat secara empiris apakah sebenarnya tujuan Kartosoewirjo memproklamasikan DI/TII dan apakah DI/TII ini termasuk gerakan politik. Hal ini akan dijawab dalam empat (IV) BAB, dimana pada Bab I merupakan latar belakang penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metodologi dan sistematika penulisan. Bab II merupakan deskripsi dari pemikiran Kartosoewirjo dan deskripsi tentang DI/TII. Lalu Bab III merupakan analisis empiris antara gerakan DI/TII dengan menggunakan teori – teori gerakan sosial, seperti teori pilihan rasional, pertukaran sosial, mobilisasi sumber daya dan contentious politics. Terakhir pada Bab IV akan disimpulkan hasil dari penelitian ini.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Kerajaan Singosari and Kerajaan Majapahi

Kerajaan Singosari and Kerajaan Majapahi

Jayanegara tidak mempunyai keturunan, oleh karena itu Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani untuk menjadi ratu Majapahit. Tribhuwana memerintah dibantu dengan suaminya yaitu Kertawardhana. Pada saat pemerintahannya terjadi pemberontakan Sadeng dan Keta, pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih menggantikan Mpu Nala, pada saat pelantikannya Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa” yang artinya “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan yang menunjukkan rencananya untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pemberontakan Punk.

Pemberontakan Punk.

Dengan pengalaman serta kemampuan yang dimiliki, penulis mencoba memvisualisasikan pemberontakan dengan media alat musik gitar dalam karya seni patung. Melalui penciptaan karya seni patung simbolik dengan teknik assembling (merakit) memberikan motivasi tersendiri bagi penulis untuk mewujudkan proses kreatif dalam pembuatan karya.

12 Baca lebih lajut

Perkembangan Penyiapan Kepemimpinan Seko ID

Perkembangan Penyiapan Kepemimpinan Seko ID

Kepala sekolah negeri di semua jenjang pendidikan di era Orde Lama ini menghadapi situasi yang sulit. Masa antara tahun 1955-1965 di Indonesia adalah di mana stabilitas politik yang berat (seperti pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta) (Feith, 1963) serta situasi ekonomi yang tidak menentu (inflasi tinggi dan penjatahan), membuat sekolah tidak dapat memperoleh cukup dana dari pemerintah, sehingga membuat mereka sangat bergantung pada Orang Tua siswa dan organisasi POMG (persatuan orang tua murid dan guru) yang awalnya dibuat untuk mendukung sekolah, menjadi kendaraan utama bagi kepala sekolah untuk memainkan perannya yang lain yaitu mengumpulkan uang dari orang tua secara langsung dan teratur. Alasan utamanya adalah “pay a major share of the upkeep of schools including the allowance of teachers” (Lee, 1995, hal 171). Praktik semacam ini terus berlanjut sampai tahun 2005 di pendidikan dasar (SD dan SMP negeri) dengan menimbulkan beberapa konsekuensi yang membuat posisi kepala sekolah menyulitkan, terutama berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas dana dari orang tua ini, karena hal ini menjadi 'konvensi' di institusi publik (Sumintono, 2006). Hal tersebut menyebabkan rumor bahwa posisi kepala sekolah negeri, biasanya di kota-kota besar, memberikan keuntungan yang membuat para guru bersaing untuk itu, bukan semata-mata sebagai pemimpin instruksional di sekolah.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

S SEJ 1005744 Chapter5

S SEJ 1005744 Chapter5

Situasi Politik di China sebelum tahun 1927 banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan, dimulai dari revolusi 1911 yang menjatuhkan kekuasaan dinasti Qing di China Selatan, munculnya tokoh Yuan Shih Kai yang melakukan kudeta terhadap Puyi, dan adanya periode Warlord yang membuat situasi China sebelum tahun 1927 dipenuhi dengan pemberontakan dan kudeta. Seringnya pergantian kekuasaan tersebut menyebabkan situasi politik China pada saat itu tidak stabil. Situasi tersebut semakin buruk setelah rezim Chiang Kai Sek menganggap Partai Komunis China berbahaya. Chiang Kai Sek melakukan perburuan terhadap anggota Partai Komunis China yang menyebabkan munculnya perang saudara di China pada tahun 1927.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Pemberontakan Punk BAB 0

Pemberontakan Punk BAB 0

Punk adalah gerakan yang mengusung rasa toleransi dan kebebasan. Mereka sebagai sang pemula yang meneriakkan ketidak-adilan dan perlawanan terhadap sistem yang sah. Permasalahan yang dibahas dalam Tugas Akhir ini, yaitu: (1) Bagaimana pemberontakan Punk. (2) Bagaimana merumuskan Punk sebagai sumber ide dalam proses penciptaan karya seni patung. (3) Bagaimana memvisualisasikan pemberontakan Punk ke dalam karya seni patung simbolik.

12 Baca lebih lajut

Show all 8168 documents...