Pembuktian Secara Sederhana Sebagai Suatu Asas

Top PDF Pembuktian Secara Sederhana Sebagai Suatu Asas:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Asas Pembuktian Secara Sederhana Dalam Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Pkpu) Pada Putusan Ma Ri No. 586 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Asas Pembuktian Secara Sederhana Dalam Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Pkpu) Pada Putusan Ma Ri No. 586 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Dengan kehadiran skripsi ini diharapkan mampu mengisi ruang- ruang kosong dalam ilmu pengetahuan di bidang hukum yang berkenaan dengan substansi penulisan skripsi ini, sehingga dapat memberikan sumbangsih berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang hukum Kepailitan dan PKPU terutama menyangkut pembuktian dalam hukum acara perdata sebagai hukum acara yang dipakai dalam Pengadilan Niaga dalam menyelesaikan perkara-perkara Kepailitan dan PKPU, asas pembuktian secara sederhana dalam Hukum Kepailitan dan PKPU, dan penerapan asas pembuktian secara sederhana dalam salah satu putusan perkara PKPU. b. Secara praktis
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Asas Pembuktian Secara Sederhana Dalam Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Pkpu) Pada Putusan Ma Ri No. 586 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Asas Pembuktian Secara Sederhana Dalam Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Pkpu) Pada Putusan Ma Ri No. 586 K/Pdt.Sus-Pailit/2013

Judex facti telah lalai untuk melaksanakan persidangan dengan mendasarkan pada asas audi alteram partem karena cenderung hanya memberikan pertimbangan hukum berdasarkan dalil dari para termohon kasasi. Dalam memberikan pertimbangan hukum, judex facti lebih mendasarkan pada bukti-bukti dan keterangan/dalil yang diajukan para termohon kasasi. Dalam memberikan pertimbangan hukumnya, judex facti tidak menilai atau mempertimbangkan bukti-bukti pemohon kasasi terkait surat pengakuan hutang dan kegagalan pembayaran hutang yang dibuat dan ditandatangani oleh termohon kasasi, padahal bukti tersebut merupakan bukti pokok yang sangat penting dan menjadi dasar adanya permohonan PKPU aquo. Apabila judex facti mempertimbangkan bukti-bukti tersebut, maka tentunya dengan mudah dan sederhana judex facti dapat menarik fakta dan kesimpulan bahwa para termohon kasasi mengakui secara tegas memiliki utang kepada pemohon kasasi yang telah jatuh tempo dan gagal dilakukannya pembayaran oleh para termohon kasasi. Secara jelas banyak perjanjian pinjaman yang dijadikan bukti oleh para termohon kasasi tidak relevan atau di luar periode perjanjian pinjaman yang dijadikan obyek permohonan dalam Permohonan PKPU aquo.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

PENERAPAN ASAS PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PENJATUHAN PUTUSAN PAILIT

PENERAPAN ASAS PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PENJATUHAN PUTUSAN PAILIT

Pembuktian secara sederhana lazim disebut dengan pembuktian secara sumir. Hal ini diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang menyatakan, bahwa permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana, yakni adanya fakta dua atau lebih Kreditor dan fakta utang yang telah jatuh waktu dan tidak dibayar. Hanya saja patut disayangkan, bahwa Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai bagaimana pembuktian sederhana itu dilakukan dalam memeriksa permohonan pailit. Tidak adanya definisi serta batasan yang jelas atau indikator-indikator yang dapat menjadi pegangan apa yang dimaksud dengan pembuktian sederhana inilah, akhirnya membuka ruang perbedaan yang lebar di antara para hakim dalam menafsirkan pengertian pembuktian sederhana dalam menyelesaikan permohonan kepailitan. Sehingga dalam hal ini muncul permasalahan, bagaimana sebenarnya sistem pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan itu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Penerapan Asas Pembuktian Sederhana dalam Penjatuhan Putusan Pailit

Penerapan Asas Pembuktian Sederhana dalam Penjatuhan Putusan Pailit

2006 Abstrak Pembuktian secara sederhana lazim disebut dengan pembuktian secara sumir. Hal ini diatur dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang menyatakan, bahwa permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana, yakni adanya fakta dua atau lebih Kreditor dan fakta utang yang telah jatuh waktu dan tidak dibayar. Hanya saja patut disayangkan, bahwa Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ini tidak memberikan penjelasan yang rinci mengenai bagaimana pembuktian sederhana itu dilakukan dalam memeriksa permohonan pailit. Tidak adanya definisi serta batasan yang jelas atau indikator-indikator yang dapat menjadi pegangan apa yang dimaksud dengan pembuktian sederhana inilah, akhirnya membuka ruang perbedaan yang lebar di antara para hakim dalam menafsirkan pengertian pembuktian sederhana dalam menyelesaikan permohonan kepailitan. Sehingga dalam hal ini muncul permasalahan, bagaimana sebenarnya sistem pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan itu.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BERBIAYA RINGAN

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BERBIAYA RINGAN

Namun demikian, beberapa catatan terhadap PERMA ini adalah pembatasan- pembatasan terkait yurisdiksi berlakunya tata cara penyelesaian gugatan sederhana berpotensi menurunkan jumlah kasus yang bisa masuk ke dalam makanisme ini. Sebagai contoh pada pembatasan objek gugatan, pembatasan mengenai gugatan yang dapat masuk ke tata cara penyelesaian gugatan sederhana adalah hanya gugatan yang mengajukan tuntutan materiil. Oleh karenanya, tuntutan yang sifatnya imaterial walaupun di bawah 200 juta tidak dapat masuk ke dalam mekanisme penyelesaian gugatan sederhana. Pembatasan ini dirasakan tidak tepat karena tuntutan imaterial tidaklah memberikan beban lebih terhadap proses pembuktian kepada hakim. Hal ini karena ukuran dari tuntutan imaterial hanya didasarkan pada prinsip proposionalitas, di mana tuntutan imaterial diukur dari batas kewajaran dari tuntutan yang dilakukan, bukan pada persoalan pembuktian, sehingga tidak mengurangi kesederhanan kasus dengan tuntutan imaterial.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BERBIAYA RINGAN

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BERBIAYA RINGAN

Peradilan yang sederhana, cepat dan berbiaya murah merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bagi dinamika hukum dan pembangunan di Indonesia saat ini, utamanya dalam sengketa perdata. Sederhana dalam konteks hukum acara berarti pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan cara efisien dan efektif. Asas sederhana ini merupakan nilai harmonisasi yang dijumpai di hampir seluruh negara pasca perang dunia kedua, yang dikenal dengan “informal procedure and can be put in motion quickly.” (Harahap, 1997:248). Kesederhanaan tersebut tidak ditemukan dalam hukum acara perdata yang berlaku di Indonesia. Sejak lama dirasakan bahwa H.I.R sebagai satu “vereenvoudigde editie” dari Rv. tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat (Setiawan, 2008, hal. 360). Sementara itu di negara asal HIR, Belanda sejak tahun 1960-an telah melakukan deformalisasi hukum acara. Usaha tersebut dilakukan untuk menghindarkan agar suatu gugatan tidak digugurkan atau dinyatakan tidak dapat diterima karena adanya kesalahan dalam bentuk beracara serta kelalaian dalam bentuk beracara (Ibid. : 362).
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Penerapan Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan terhadap Perkara Gugatan Sederhana dalam Sengketa Ekonomi Syariah

Penerapan Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan terhadap Perkara Gugatan Sederhana dalam Sengketa Ekonomi Syariah

7 sesuai dengan dua dari tiga tujuan hukum yang dimaksudkan oleh Gustav Radbruch dalam teori tujuan hukumnya yaitu untuk mencapai kemanfaatan dan kepastian (Bernard L. Tanya, 2011 : 130). Kemanfaatan menunjuk pada memajukan kebaikan dalam hidup manusia, dalam konteks kajian ini maka pengaturan gugatan sederhana dalam penyelesaian sengketa ekonomi syariah sangat bermanfaat bagi masyarakat pencari keadilan. Sedangkan kepastian hukum menunjuk pada jaminan bahwa hukum benar-benar berfungsi sebagai peraturan yang ditaati, dalam konteks ini sistem penyelesaian perkara secara sederhana sangat menjamin kepastian hukum bagi para pihak berperkara, kepastian yang dijamin disini meliputi kepastian waktu, prosedur, dan kejelasan putusan yang akan diambil oleh hakim.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

BAB II PENGATURAN ASAS PEMBUKTIAN TERBALIK DI INDONESIA. A. Sejarah Lahirnya Asas Pembuktian Terbalik

BAB II PENGATURAN ASAS PEMBUKTIAN TERBALIK DI INDONESIA. A. Sejarah Lahirnya Asas Pembuktian Terbalik

Pengertian pada semua proses terhadap semua orang yang didakwa melanggar Pasal 161, 162, atau 164 KUHP, telah dibuktikan bahwa orang itu telah menerima atau setuju menerima atau memperoleh atau mencoba untuk memperoleh suatu pemberian (gratification), maka orang itu dianggap telah melakukan perbuatan demikian sebagai motif atau hadiah atas hal-hal yang dinyatakan secara khusus dalam delik itu, kecuali dibuktikan sebaliknya. Berdasarkan ketentian pasal tersebut menyatakan bagian dari inti delik (bestanddelen) yang harus dibuktikan oleh penuntut umum, menjadi tidak usah dibuktikan tetapi terdakwalah yang membuktikan. Jika dibandingakn dengan ketentuan hukum yang mengatur hal yang sama di Indonesia, terdapat suatu perbedaan dimana dalam hal gratifikasi diterapkan dengan pembuktian terbalik yang berimbang, dimana gratifikasi dengan jumlah uang lebih dari Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) harus dibuktikan oleh terdakwa sendiri sebagai
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

Six Sigma Secara Sederhana

Six Sigma Secara Sederhana

Untuk memastikan prosedur dan form yang baru dilaksanakan secara konsisten, tim Six Sigma BP secara teratur mengadakan evaluasi dan diskusi atas kinerja pelayanan bank. Sambil berjalan, proyek percobaan dikembangkan secara bertahap sehingga akhirnya seluruh counter di dua cabang Bank Prospektif di kota Bandung. Prosedur akhirnya dibakukan ke dalam suatu dokumentasi yang detail dan standar sehingga benar-benar menjadi pegangan yang penting bagi setiap teller. Termasuk didalamnya adalah diagram process flow yang setelah perbaikan menjadi lebih pendek dan lebih “ramping“ karena adanya penyederhanaan proses sebagai efek samping dari form dan prosedur yang lebih jelas dan sederhana.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

URGENSI PENERAPAN ASAS PEMBUKTIAN TERBAL

URGENSI PENERAPAN ASAS PEMBUKTIAN TERBAL

Jika kedua kaidah ini kita gunakan sebagai “kacamata” untuk melihat system pembuktian terbalik, maka jelas pada cara pembuktian terbalik ini terdapat dua kepentingan yang sama-sama bisa terabaikan padahal harus dilindungi, yaitu kepentingan umum (negara) dan kepentingan individu. Kedua kepentingan itu tidak bisa dilindungi secara serempak karena yang satu dapat mengalahkan yang lain. Artinya, jika dimenangkan kepentingan umum atau negara, kepentingan individu tidak terpenuhi. Begitu pula sebaliknya. Maka, berdasarkan kaidah di atas, yang harus dilindungi adalah kepentingan negara, bukan kepentingan individu. Dengan mendahulukan kepentingan umum (negara), mudlarat yang ditimbulkan hanya diderita oleh seorang saja, yaitu tidak terpenuhinya sementara waktu hak individu (tersangka) untuk memperoleh jaminan hukum atas harta benda miliknya dan status “kebersihan” dirinya dari perbuatan yang dapat merugikan negara karena adanya upaya pembuktian. Tegasnya, hak untuk dianggap sebagai “pribadi tidak bersalah” untuk sementara waktu tidak dilindungi. Nanti, apabila ternyata tidak terbukti adanya sesuatu yang illegal pada dirinya atau harta bendanya, pemerintah dapat merehabilitasi kembali nama baiknya. Sedangkan jika yang dipilih adalah perlindungan terhadap individu, maka yang akan menderita kerugian adalah negara (kepentingan orang banyak), dan kerugian ini untuk seterusnya (tidak bisa diganti).
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PERKARA KEPAILITAN

PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PERKARA KEPAILITAN

iv PEMBUKTIAN SEDERHANA DALAM PERKARA KEPAILITAN (STUDI KASUS PENGADILAN NIAGA SEMARANG) DIMAS GHERRY ADE DUANDANA, C100070092, FAKULTAS HUKUM, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012. Pembuktian Sederhana adalah pembuktian mengenai (1) Eksistensi dari suatu utang debitor yang dimohonkan kepailitan, yang telah jatuh tempo (2) Eksistensi dari dua atau lebih kreditor dari debitor yang dimohonkan kepailitan. Dalam Perkara Kepailitan harus menerapkan pembuktian sederhana, Dimana pembuktian ini merupakan penerapan dari Pasal 8 ayat (4) Undang-Undang Kepailitan yakni Bahwa Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana. Maksud “fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana” adalah adanya fakta dua atau lebih Kreditor dan fakta utang yang telah jatuh waktu dan tidak dibayar.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Penerapan Asas Peradilan Sederhana pada Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Manado

Penerapan Asas Peradilan Sederhana pada Perkara Perdata di Pengadilan Negeri Manado

Berlakunya PERMA No. 2 Tahun 2015 tersebut menjadi langkah penting dalam mengatasi kelambatan proses penyelesaian perkara di pengadilan sekaligus sebagai penerapan asas peradilan sederhana. Selain itu, kehadiran PERMA tersebut juga dapat mengatasi penumpukan berkas-berkas perkara di pengadilan yang selama ini menjadi kendala dalam penyelesaian perkara. PERMA ini hanya membatasi nilai gugatan materiil paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) yang dalam ketentuan pembuktiannya, diatur pada W • o íô Ç š ~í• ZÁ ^'µP š v Ç vP ] lµ] dan/tidak dibantah, tidak perlu dilakukan ‰ u µlš] vX_ 9 Padahal, berdasarkan ketentuan Hukum Acara Perdata, pembuktian merupakan hal yang penting dan mendasar yang akan terjadi saling bantah-membantah di antara para pihak yang berperkara.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE

IMPLEMENTASI ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE

Ketentuan asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai salah satu asas hukum yang berhubungan dengan upaya penyelesaian sengketa melalui peradilan, tetap dipertahankan dalam setiap rumusan Undang Undang Kekuasaan Kehakiman sejak dahulu hingga saat ini. Tetap dipertahankannya pengaturan asas tersebut, ternyata tidak dapat dipisahkan dari alasan-alasan: cerminan nilai dasar hukum; faktor sosiologis, budaya dan ekonomi masyarakat; serta sejarah pengaturan dalam hukum acara perdata di Indonesia, yang secara keseluruhan alasan-alasan tersebut menjadi dasar untuk digunakannya asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai asas dalam penyelesaian sengketa. Sebagai sebuah upaya penyelesaian sengketa non-litigasi, maka arbitrase tidak dapat dilepaskan dari asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai asas penyelesaian sengketa. Dalam penelitian ini akan dibandingkan pengaturan mengenai asas sederhana, cepat dan biaya ringan yang diatur dalam ketentuan pasal-pasal Undang Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa sebagai dasar utama pengaturan upaya arbitrase, dengan pelaksanaan praktek arbitrase BANI dan arbitrase BPSK, sehingga menghasilkan gambaran pemenuhan asas sederhana, cepat dan biaya ringan dalam upaya penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN UNTUK MEWUJUDKAN ACCESS TO JUSTICE

PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA SEBAGAI PELAKSANAAN ASAS PERADILAN SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN UNTUK MEWUJUDKAN ACCESS TO JUSTICE

Akses menuju keadilan dapat juga diwujudkan dari proses penyelesaian perkara melalui peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan. Akan tetapi dalam penerapannya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan sulit di wujudkan, salah satu tantangan terbesar peradilan adalah inefisiensi penyelesaian perkara perdata, khususnya terkait mengenai perkara-perkara dengan jumlah kecil. Terkadang pada perkara-perkara dengan nominal kecil, biaya dan waktu yang telah dikeluarkan tidak sesuai dengan jumlah nilai uang yang disengketakan. Kemudian prosedur penyelesaian sengketa di pengadilan melalui tahapan beracara yang harus dilalui, dijadikan sebagai salah satu penyebab lamanya penyelesaian sengketa melalui pengadilan, disamping faktor domisili dan kehadiran para pihak. Keadaan ini pada akhirnya menuju kearah penyelesaian sengketa yang tidak berdasarkan pada asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan, melainkan menjadikan suatu perkara yang berlarut-larut, memakan waktu dan biaya yang banyak. Sehingga, lembaga peradilan yang secara konkret mengembang tugas untuk menegakkan hukum dan keadilan ketika menerima, memeriksa, mengadili serta menyelesaikan setiap sengketa yang diajukan, dianggap sebagai tempat menyelesaikan sengketa yang tidak efisien dan efektif 6 .
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM SISTEM PERADILAN PAJAK DI INDONESIA

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM SISTEM PERADILAN PAJAK DI INDONESIA

Pertama kali saja perbedaan dapat dilihat pada penamaan dari KEP- 006/PP/2012 yang hanya menunjuk majelis hakim untuk memeriksa dan memutus sengekta di Yogyakarta, bukannya secara jelas mencantumkan pembukaan dari Tempat Sidang di Luar Tempat Kedudukan Pengadilan Pajak sesuai dengan amanat dari Pasal 4 ayat (1) UU PP. Kemudian, kekurangan ini dapat dilihat pada bagian Pertama Memutus dari Surat Keputusan Ketua Pengadilan Pajak yang akan bersidang di Yogyakarta dengan ketiganya memiliki Harsinom ( hari sidang ) yang sama, yaitu Hari Kamis. Pada kalimat tersebut sudah jelas bahwa yang ditekankan adalah 3 ( tiga ) Mejelis Hakim. Yogyakarta dalam hal ini memiliki kedudukan sebagai kota berjalannya sidang dengan tidak ditetapkan Yogaykarta terlebih dahulu sebagai tempat sidang sesuai amanat dari Pasal 4 ayat (2) UU PP yang mewajibkan Tempat Sidang di Luar Tempat Kedudukan Pengadilan Pajak digelar dengan cara ditetapkan oleh Ketua Pengadilan Pajak. Padahal penetapan Yogyakarta sebagai SDTK sangatlah penting daripada penunjukan hakim bisa dilakukan pada bagian Kedua Memutuskan dari Surat Keputusan Ketua Pengadilan Pajak tersebut. Penafsiran dari pasal 4 ayat (2) ini tidak semestinya diintepretasikan secara salah jika dilihat dari kacamata interpretasi sistematis atau logis karena menafsirkan undang-undang tidak
Baca lebih lanjut

103 Baca lebih lajut

ASAS PERADILAN CEPAT, SEDERHANA, DAN BIAYA RINGAN DALAM TELAAH KEKOSONGAN HUKUM PRAPENUNTUTAN

ASAS PERADILAN CEPAT, SEDERHANA, DAN BIAYA RINGAN DALAM TELAAH KEKOSONGAN HUKUM PRAPENUNTUTAN

Supaya permasalahan hukum tidak adanya batasan (unlimited) berapa kali arahan pengembalian Berkas Acara Pemeriksaan dapat teratasi, dan dalam penegakan hukumnya tanpa melanggar asas peradilan cepat, sederhana, dan biaya ringan, maka penulis memilih menggunakan model penerapan sistem peradilan pidana Crime Control Model. Pada Crime Control Model tindakan represif terhadap suatu tindakan kriminal adalah fungsi terpenting dari suatu proses peradilan dengan mengutamakan efisiensi, cepat, dan tuntas. Kemampuan Penyidik dan Penuntut Umum sangat diandalkan, dengan keterampilan khusus yang dimaksimalkan guna mendapatkan dan merekonstruksi laporan yang cukup akurat mengenai apakah telah benar-benar terjadi tindak pidana dalam peristiwa yang diduga sebagai suatu kejahatan. Asas praduga bersalah (persumption of guilt) akan membuat sistem ini efisien dalam menetapkan pelaku dan menjamin haknya dalam proses peradilan, pencarian fakta tidak harus mengikuti prosedur formal karena Crime Control Model sendiri lebih menekankan kepada informal fact finding sehingga perkara-perkara yang ada menjadi lebih cepat penyelesaiannya dan para pelaku kejahatan cepat mendapatkan kepastian.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE SKRIPSI

IMPLEMENTASI ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE SKRIPSI

Ketentuan asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai salah satu asas hukum yang berhubungan dengan upaya penyelesaian sengketa melalui peradilan, tetap dipertahankan dalam setiap rumusan Undang Undang Kekuasaan Kehakiman sejak dahulu hingga saat ini. Tetap dipertahankannya pengaturan asas tersebut, ternyata tidak dapat dipisahkan dari alasan-alasan: cerminan nilai dasar hukum; faktor sosiologis, budaya dan ekonomi masyarakat; serta sejarah pengaturan dalam hukum acara perdata di Indonesia, yang secara keseluruhan alasan-alasan tersebut menjadi dasar untuk digunakannya asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai asas dalam penyelesaian sengketa. Sebagai sebuah upaya penyelesaian sengketa non-litigasi, maka arbitrase tidak dapat dilepaskan dari asas sederhana, cepat dan biaya ringan sebagai asas penyelesaian sengketa. Dalam penelitian ini akan dibandingkan pengaturan mengenai asas sederhana, cepat dan biaya ringan yang diatur dalam ketentuan pasal-pasal Undang Undang No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa sebagai dasar utama pengaturan upaya arbitrase, dengan pelaksanaan praktek arbitrase BANI dan arbitrase BPSK, sehingga menghasilkan gambaran pemenuhan asas sederhana, cepat dan biaya ringan dalam upaya penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DI PENGADILAN AGAMA SEMARANG SKRIPSI

PENERAPAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DI PENGADILAN AGAMA SEMARANG SKRIPSI

Berkat taufiq dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Penerapan asas sederhana, cepat dan biaya ringan di Pengadilan Agama Semarang”, sebagai suatu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHi) pada Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Walisongo.

10 Baca lebih lajut

Pembuktian Sederhana Dalam Kepailitan. Yunita Kadir

Pembuktian Sederhana Dalam Kepailitan. Yunita Kadir

Hal yang sama di katakan oleh Elijana, yaitu: Agar tujuan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 sebagai lembaga/sarana pengembalian utang debitor pengusaha pada para kreditornya secara cepat, adil merata dan berimbang dibawah pengawasan Hakim pengawas dapat tercapai, dihimbau pada para Hakim Pengadilan Niaga maupun pada Mahkamah Agung, para Hakim pada Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung serta para pengacara untuk melaksanakan dan menaati Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 yang berlaku untuk setiap orang termasuk para Hakim Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung dengan itikad baik. Hal tersebut sangat perlu untuk menghindari adanya putusan Pengadilan Niaga yang dihadapkan dengan putusan Pengadilan Negeri yang isinya saling bertentangan, padahal kedua putusan tersebut sama-sama telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...