Reproduksi dan Perkembangan

Top PDF Reproduksi dan Perkembangan:

Kajian sinyal reproduksi alam dalam proses reproduksi dan perkembangan sel telur karang keras (Scleractinia) polip besar di Pulau Badi, Makassar

Kajian sinyal reproduksi alam dalam proses reproduksi dan perkembangan sel telur karang keras (Scleractinia) polip besar di Pulau Badi, Makassar

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Kajian Sinyal Reproduksi Alam dalam Proses Reproduksi dan Perkembangan Sel Telur Karang Keras (Scleractinia) Polip Besar Di Pulau Badi, Makassar adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

81 Read more

KAJIAN SINYAL REPRODUKSI ALAM DALAM PROSES REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN SEL TELUR KARANG KERAS (Scleractinia) POLIP BESAR DI PULAU BADI, MAKASSAR

KAJIAN SINYAL REPRODUKSI ALAM DALAM PROSES REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN SEL TELUR KARANG KERAS (Scleractinia) POLIP BESAR DI PULAU BADI, MAKASSAR

Kondisi pH Pulau Badi berada pada kisaran yang tergolong cukup, akan tetapi dapat memicu pertumbuhan alga. Hal ini disebabkan karena kisarannya yang berada dibawah normal. Nitrat (NO 3 ) dan fosphat (PO 4 Hasil pengamatan histologi menunjukkan gonand karang tersebut termasuk bertipe reproduksi gonokorik broadcast spawning (dioseus) dengan tipe telur sinkroni. Hal ini dapat terlihat bahwa kedua karang tersebut mengeluarkan telur pada bulan gelap di Bulan Desember. Jika diamati lebih teliti terlihat jenis Euphylia glabrescens perkembangan gonadnya lebih cepat dibanding dengan Euphylia ancora.
Show more

81 Read more

Karakteristik Reproduksi dan Perkembangan Populasi Kambing Peranakan Etawah di Lahan Pasca Galian Pasir

Karakteristik Reproduksi dan Perkembangan Populasi Kambing Peranakan Etawah di Lahan Pasca Galian Pasir

didapat dari UPTD Pusat Pelayanan Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang serta recording dari ketua kelompok. Data primer merupakan data peternak yang terdiri dari umur peternak, pendidikan formal dan non formal, jumlah anggota keluarga, serta pendapatan beternak dan usaha lain/tahun. Data produksi kambing meliputi: 1) populasi yang terdiri atas jumlah ternak pada awal dan perubahan yang terjadi dalam periode satu tahun termasuk jumlah ternak yang dijual, didasarkan pada struktur umur dan jenis kelamin; 2) karakteristik reproduksi meliputi jumlah induk yang bunting, lama bunting, laktasi, kering bunting dan tidak bunting, umur pertama birahi, kawin, dan beranak, umur sapih, jumlah anak perkelahiran dan dalam satu tahun, kidding interval, bobotlahir dan rasio jantan betina. Disamping itu, observasi ke lokasi peternak dilakukan untuk memperoleh data perkandangan, manajemen pemeliharaan , pakan dan data pendukung lain dalam usaha ternak kambing perah. Faktor-faktor yang mempengaruhi usaha dan perkembangan ternak kambing diidentifikasi dan disajikan secara deskriptif.
Show more

6 Read more

Penampilan Reproduksi dan Perkembangan Skeleton Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Buah Nanas Muda

Penampilan Reproduksi dan Perkembangan Skeleton Fetus Mencit Setelah Pemberian Ekstrak Buah Nanas Muda

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh ekstrak buah nanas muda (Ananas comosus) yang diberikan pada induk mencit selama masa organogenesis terhadap penampilan reproduksi dan perkembangan skeleton fetus. Dua puluh ekor mencit bunting dibagi acak menjadi empat kelompok. Ekstrak diberikan secara oral (gavage) dengan dosis : 0% (kontrol), 20%, 40%, dan 80%. Perlakuan diberikan hari ke 6-15 kebuntingan, pada hari ke-18 mencit dikorbankan nyawanya untuk pengambilan fetus. Efek teratogenik terhadap penampilan reproduksi diamati dari bobot uterus awal dan akhir (sebelum dan sesudah fetus dikeluarkan dari uterus), jumlah fetus (hidup, mati, dan resorbsi), serta morfometri fetus (bobot, panjang dan kelainan morfologi). Perkembangan skeleton diamati setelah preparasi skeleton dengan pewarnaan
Show more

8 Read more

TINJAUAN PUSTAKA Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Nila Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1982), adalah sebagai berikut : : Osteichthyes

TINJAUAN PUSTAKA Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Nila Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1982), adalah sebagai berikut : : Osteichthyes

Lebih jauh lagi, defisiensi vitmain E berpengaruh pada kualitas telur, seperti terliha t dari rendahnya jumlah telur yang terbuahi pada red sea bream (Watanabe et al. 1991). Ternyata dengan penambahan vitamin E sebanyak 200 mg/kg pakan induk akan meningkatkan jumlah larva yellowtail yang dihasilkan. Selanjutnya Effendie (1979) menyatakan bahwa pada proses reproduksi, sebelum terjadi pemijahan, sebagian besar hasil metabolisme diutamakan untuk perkembangan gonad. Pada masa reproduksi, a-tokoferol akan didistribusikan ke jaringan adiposa oosit. Sebelum sampai ke jaringan tersebut, a-tokoferol bersama asam lemak berantai panjang yang berbentuk misel terlebih dahulu diabsorbsi pada segmen usus (Rastogi 1976 dan Machlin 1990). Selanjutnya a-tokoferol diangkut ke hati dalam bentuk kilomikron, dan ke jaringan tepi dalam lipoprotein. Fosfolipid mitokondria, retikulum endoplasma dan membran plasma mempunyai afinitas spesifik untuk a- tokoferol, dan vitamin berkumpul pada tempat ini (Martin et al. 1990).
Show more

15 Read more

EVALUASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORGAN REPRODUKSI TIGA GENOTIPE IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

EVALUASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ORGAN REPRODUKSI TIGA GENOTIPE IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

disebabkan oleh perbedaan perilaku reproduksi. Perbedaan laju pertumbuhan antara populasi genotipe XX (betina) dengan populasi campuran XX-XY diduga lebih banyak disebabkan oleh perbedaan perilaku reproduksi. Perbedaan bobot individu rata-rata antara kedua populasi terjadi mulai bulan ke-5-6 atau pada saat benih berumur antara 155-185 hari. Perbedaan bobot individu rata-rata ini akan semakin terlihat pada akhir bulan ke-7 (benih umur 215 hari). Pada umur tersebut, sebagian individu pada populasi campuran XX-XY terlihat telah mengalami kematangan gonad. Hasil analisis histologis gonad pada akhir percobaan menunjukkan bahwa ikan nila betina dari populasi campuran XX-XY telah mencapai tingkat kematangan gonad tahap IV (TKG IV) dan diameter oosit telah mencapai 500- 2.500 μm (Gambar 1d). Selain berdasarkan ukuran diameter oosit, TKG IV pada populasi ikan tersebut ditunjukkan dengan ditemuinya oosit yang berada dalam tahap granula kuning telur. Ikan nila betina dari populasi tunggal kelamin betina XX masih dalam tingkat kematangan gonad tahap III (TKG III) dengan diameter oosit relatif lebih kecil dan bervariasi antara 200-2.000 μm (Gambar 1a). Tahapan oosit tertua yang ditemukan pada populasi ini baru mencapai tahap vesikula kuning telur, satu tahap lebih muda dibanding tahap granula kuning telur. Selain itu juga, terdapat oosit-oosit pada tahap perkembangan yang lebih muda yaitu tahap perinukleolar, kromatin nukleolar, dan oogonia. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat perkembangan gonad ikan nila betina pada populasi tunggal kelamin betina XX relatif lebih lambat dibanding populasi campuran XX-XY.
Show more

6 Read more

PEMBUATAN VISUALISASI REPRODUKSI SEL DAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN DI SMAN 1 GRABAG BERBASIS NASKAH PUBLIKASI

PEMBUATAN VISUALISASI REPRODUKSI SEL DAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN DI SMAN 1 GRABAG BERBASIS NASKAH PUBLIKASI

Berkembangnya teknologi, khususnya komputer akan menciptakan sebuah kemudahan dan menyediakan fasilitas yang lebih efisien. Salah satunya dengan menggunakan kemajuan multimedia untuk membuat sebuah media aplikasi visualisasi tentang reproduksi sel dan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Aplikasi ini akan sangat membantu guru dan pesrta didik dalam proses belajar mengajar karena akan lebih banyak materi yang disampaikan dengan waktu yang cenderung singkat serta dilengkapi dengan animasi sehingga lebih menarik.

18 Read more

Sejak dilahirkan jenis kelamin merupakan suatu. Cara Pengasuhan Anak Sebelum Ditegakkan Diagnosis Gangguan Perkembangan Sistem Reproduksi 46,XY

Sejak dilahirkan jenis kelamin merupakan suatu. Cara Pengasuhan Anak Sebelum Ditegakkan Diagnosis Gangguan Perkembangan Sistem Reproduksi 46,XY

Sebagai contoh, lima pasien GPSR 46,XY perempuan yang dirujuk setelah berusia 14 tahun dengan amenore primer dapat mengalami sindrom Swyer, sindrom androgen insensitif komplit, gangguan biosintetik testosteron komplit, defek reseptor LH komplit, atau aplasia sel Leydig. 4,8 Kelima kondisi ini dapat dibedakan secara klinis. 7,8,12 Gangguan biosintetik testosteron yang dapat menyebabkan fenotip perempuan, yaitu defek enzim StAR atau P450scc bermanifestasi di masa neonatus dengan gangguan elektrolit dan cairan yang berat dan seringkali mengancam nyawa. Defek enzim 3βHSDII dan 17β­ HSD­3 akan mengalami virilisasi di masa pubertas, karena efek androgen adrenal yang lain, seperti DHEA (dihidroepiandrosteron) dan androstenedion. Sindrom insensititif androgen komplit dan sindrom Swyer merupakan kondisi yang lebih sering di atas, dan keduanya dapat dibedakan secara klinis. Pada sindrom Swyer atau gonadal disgenesis komplit pada pemeriksaan genitalia interna akan ditemukan struktur Mullerian (uterus, tuba Fallopii), streak gonad yang berlokasi di abdomen, dan pada pemeriksaan fisis tidak ditemukan tanda seks sekunder untuk perempuan (payudara tidak tumbuh), serta dalam pemeriksaan hormonal akan ditemukan hipergonadotropik dan hipogonadism. Sedangkan pada Sindrom insensitifitas androgen komplit tidak akan ditemukan struktur Mullerian, gonad ditemukan di luar abdomen (di inguinal atau skrotum), ditemukan pembesaran payudara di usia pubertas, dan kadar testosteron normal atau meningkat. Kelima pasien pada laporan kami menunjukkan hasil pemeriksaan gen SRY positif (Tabel 2 dan 3), meyakinkan keberadaan segmen kromosom Y yang penting dalam pembentukan testis, dan perkembangan sistem reproduksi individu 46,XY. Pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi mutasi pada gen SRY akan mengkonfirmasi diagnosis Sindrom Swyer atau gonadal disgenesis komplit. Kedua kondisi tersebut pada umumnya akan tetap dibesarkan sebagai individu perempuan, sehingga pemeriksaan mutasi gen SRY umumnya tidak diperlukan, bila secara klinis kedua kondisi ini sudah dapat dibedakan. 4,8,12
Show more

6 Read more

KARAKTERISASI PERKEMBANGAN POLLEN DAN STRUKTUR REPRODUKSI BETINA ANGGREK BULAN [Phalaenopsis amabilis (L.) Blume] PASCA POLINASI

KARAKTERISASI PERKEMBANGAN POLLEN DAN STRUKTUR REPRODUKSI BETINA ANGGREK BULAN [Phalaenopsis amabilis (L.) Blume] PASCA POLINASI

Anggrek merupakan komoditas unggul dalam tanaman hias. Banyaknya peminat anggrek menimbulkan banyaknya permintaan keberagaman varietas. Anggrek sering mengalami kendala dalam polinasinya, sehingga perlu dilakukan karakterisasi perkembangan pollen dan struktur reproduksi betina pasca polinasi. Karakterisasi dilakukan dengan metode in vitro dan in vivo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan pollen dan struktur gametofit betina pada Phalaenopsis amabilis (L.) Blume pasca polinasi serta mengetahui potensi keberhasilan kultur tabung pollen secara in vitro.
Show more

15 Read more

REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN AWAL CEPHALOPODA

REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN AWAL CEPHALOPODA

Saat telur melewati oviduk, telur tersebut dibungkus suatu membran seperti kapsul yang dihasilkan oleh kelenjar oviduk. Bila telah berada pada lubang mantel, beragam kelenjar nidamental akan menyediakan lapisan tambahan atau melapisi telur tersebut. Pada squid Loligo, yang bermigrasi ke perairan dangkal untuk memijah, kelenjar nidamental melapisi telur dengan suatu massa gelatin, masing-masing mengandung sekitar 100 telur. Sang betina akan memegang telur tersebut dalam tangannya dan membuahinya dengan sperma yang di masukkan dari wadah mani si betina. Massa telur akan mengeras saat bereaksi dengan air laut dan kemudian menempel pada substrat. Cephalopoda dewasa mati setelah kawin dan bertelur. Cuttlefish menaruh telurnya dan menempelkannya pada rumput laut atau substra lain. Banyak cephalopoda pelagik memiliki telur yang mengambang, dan fase mudanya termasuk dalam zooplankton. Cephalopoda umumnya meletakkan telur seperti kumpulan buah anggur, mengelompok pada area berbatu, dan banyak spesies yang menjaga selama proses perkembangan embrio dengan melindunginya dan membersihkan telur dengan membilas massa telur dengan aliran air yang deras. Octopus dan squid cenderung untuk tumbuh lebih cepat dewasa, bereproduksi, lalu mati. Nautilus umumnya berumur panjang (25-30 tahun), lambat untuk berkembang, dan mampu bereproduksi untuk beberapa tahun setelah dewasa.
Show more

2 Read more

Kajian sinyal reproduksi alam dalam proses reproduksi dan perkembangan sel telur karang keras (Scleractinia) polip besar di Pulau Badi, Makassar

Kajian sinyal reproduksi alam dalam proses reproduksi dan perkembangan sel telur karang keras (Scleractinia) polip besar di Pulau Badi, Makassar

Perubahan pH ini dapat dilihat dari kondisi ekosistem terumbu karanya dimana ditumbuhi oleh banyak alga, sedangkan juvenil karang hanya sedikit yang dijumpai. Hal ini didukung oleh pernyataan Brownlee (2009) bahwa pH dapat mempengaruhi laju fotosintesis, dan memicu perkembangan alga lain selain zooxhantella. Pernyataan ini diperkuat lagi oleh Vennl et al (2009) bahwa pH di luar rata-rata dapat mempengaruhi pertumbuhan zooxhantella. Secara tidak langsung dapat menyebabkan penyakit pada organisme tertentu seperti karang (Millero. 2006). Jika alga mendominiasi maka karang akan sulit untuk bertumbuh pada daerah tersebut. Hal ini yang merupakan salah satu faktor penghambat suksesi terumbu karang di Pulau Badi.
Show more

148 Read more

KARAKTERISTIK REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN POPULASI KAMBING PERANAKAN ETAWAH DI LAHAN PASCA GALIAN PASIR SKRIPSI NIA NUZUL KURNIASIH

KARAKTERISTIK REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN POPULASI KAMBING PERANAKAN ETAWAH DI LAHAN PASCA GALIAN PASIR SKRIPSI NIA NUZUL KURNIASIH

Bila dipandang dari segi lainnya, yakni dari segi kepemilikkan ternak kambing dapat diketahui bahwa rataan kepemilikkan ternak kambing di Kecamatan Cimalaka sebanyak 40 ekor/peternak yang meliputi: 23 ekor ternak dewasa, 5 ekor ternak muda 12 ekor ternak anak, sedangkan kepemilikan ternak kambing di Kecamatan Paseh sebanyak 14 ekor/peternak yang meliputi: 6 ekor ternak dewasa, 4 ekor ternak muda 4 ekor ternak anak. Perbedaan jumlah ternak yang dipelihara cukup jauh berbeda antar kedua kecamatan tersebut. Hal tersebut disebabkan petani yang berada di Kecamatan Cimalaka awalnya dengan sistem maro (bagi hasil) antar peternak dan baru sedikit petani yang beternak serta belum ada bantuan dari pemerintah. Namun setelah terbentuk kelompok, pemerintah setempat memberi bantuan baik berupa kambing, konsentrat maupun pendidikan non formal berupa penyuluhan dan pelatihan. Melihat perkembangan serta potensi yang ada pada “Kelompok Peternak Simpay Tampomas”, pemerintah berinisiatif memberi sejumlah ternak untuk dikembangkan oleh petani di Kelompok Ternak Hutan Tampomas Sejahtera. Pemerintah setempat tidak hanya memberi bantuan kambing tetapi pemerintah juga memfasilitasi petani dengan memberi pendidikan non formal dari Dinas Peternakan berupa penyuluhan yang diadakan setiap dua minggu sekali.
Show more

78 Read more

Aspek Perkembangan Reproduksi id. pptx

Aspek Perkembangan Reproduksi id. pptx

Perkembangan motorik kasar diawali dengan gerakan seimbang tubuh dan mengangkat kepala.. Perkembangan motorik kasar diawali dengan.[r]

31 Read more

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Organ Reproduksi Pria Testis Perkembangan Embriologi Testis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan Organ Reproduksi Pria Testis Perkembangan Embriologi Testis

Testosterone sudah diproduksi oleh testis fetus pada minggu ke 10 masa gestasi, dibawah pengaruh stimulasi LH fetal dan hCG maternal. Pada masa perkembangan testis, yakni pada minggu ke 8 masa gestasional, DHT berpengaruh poten terhadap perkembangan dari gonadal ridge. Pada masa diferensiasi ini jumlah testosterone fetal dalam jumlah yang maximal. Yaitu, dalam minggu ke9-14 masa gestasional. Dimana, jumlah maximal ini cukup untuk memproduksi DHT melalui proses enzimatik. Pengaruh testosterone lainnya adalah mempengaruhi penurunan testis dari cavum abdominal ke scrotum dengan bantuan gubernaculum testis. Gubernaculum memendek mulai dari minggu ke 25 kehamilan sampai pada minggu ke 28 testis sudah berada didalam canalis inguinalis dan pada minggu ke 12 setelahnya 97% anak sudah mengalami penurunan testis yang komplit. Gubernaculum testis memiliki reseptor androgen terbukti dengan anak dengan testis yang tidak turun memiliki reseptor untuk hormon androgen yang sedikit (Hosie et al.1999). Pada proses spermatogenesis, testosterone berfungsi dalam memacu maturasi dari sel germinativum dan dengan bantuan dari FSH maka terjadilah proses spermatogenesis yang sempurna. 13 Testosterone secara sistemik berfungsi pada banyak organ karena adanya reseptor testosterone yang terdapat pada organ tersebut. 9
Show more

18 Read more

Reproduksi seksual karang (ordo Scleractinia) pemijahan, perkembangan larva dan metamorfosa

Reproduksi seksual karang (ordo Scleractinia) pemijahan, perkembangan larva dan metamorfosa

SYAFYUDIN YUSUF. Fertilisasi Dan Perkembangan Larva dalam Embriogenesis Karang (Ordo : Scleractinia) Hasil Pemijahan Exsitu. Dibimbing oleh: NEVIATY P. ZAMANI, M. ZAIRIN JUNIOR, JAMALUDDIN JOMPA Sekitar delapan puluh lima persen jenis karang melepaskan gamet dan melakukan fertilisasi di permukaan air. Fertilisasi dan perkembangan larva menentukan kelangsungan hidup populasi karang dan setiap spesies memiliki karakteristik embriogenesis yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat fertilisasi, perkembangan embrio, competence time larva spesies karang yang memijah bulan November 2011 di GBR. Fertilisasi gamet diamati setiap jam selama 6 jam, perkembangan sel embrio diamati dalam selang waktu tertentu hingga mencapai stadia multisel (prawnchip), dilanjutkan dengan pengamatan perkembangan larva hingga planula. Competence time ditentukan berdasarkan umur larva mulai dari waktu pemijahan hingga larva planula yang mengendap atau melekat pada substrat. Hasil penelitian ini menunjukkan kesamaan pola tingkat fertilisasi antar spesies, lebih dari 95%
Show more

196 Read more

PENGARUH FREKUENSI PENGHISAPAN DARAH. TERHADAP PERKEMBANGAN, REPRODUKSI,VERTILITAS DAN RASIO SEX Aedes aegypti

PENGARUH FREKUENSI PENGHISAPAN DARAH. TERHADAP PERKEMBANGAN, REPRODUKSI,VERTILITAS DAN RASIO SEX Aedes aegypti

rasio sex yang dihasilkan pada masing- masing penghisapan darah cenderang menghasilkan jumlah nyamuk betina lebih banyak dari nyamuk jantan, walaupun pada penghisapan ketiga jumlah nyamu[r]

11 Read more

REPRODUKSI SEKSUAL KARANG (Ordo Scleractinia): PEMIJAHAN, PERKEMBANGAN LARVA DAN METAMORFOSA SYAFYUDIN YUSUF

REPRODUKSI SEKSUAL KARANG (Ordo Scleractinia): PEMIJAHAN, PERKEMBANGAN LARVA DAN METAMORFOSA SYAFYUDIN YUSUF

SYAFYUDIN YUSUF. Fertilisasi Dan Perkembangan Larva dalam Embriogenesis Karang (Ordo : Scleractinia) Hasil Pemijahan Exsitu. Dibimbing oleh: NEVIATY P. ZAMANI, M. ZAIRIN JUNIOR, JAMALUDDIN JOMPA Sekitar delapan puluh lima persen jenis karang melepaskan gamet dan melakukan fertilisasi di permukaan air. Fertilisasi dan perkembangan larva menentukan kelangsungan hidup populasi karang dan setiap spesies memiliki karakteristik embriogenesis yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan membandingkan tingkat fertilisasi, perkembangan embrio, competence time larva spesies karang yang memijah bulan November 2011 di GBR. Fertilisasi gamet diamati setiap jam selama 6 jam, perkembangan sel embrio diamati dalam selang waktu tertentu hingga mencapai stadia multisel (prawnchip), dilanjutkan dengan pengamatan perkembangan larva hingga planula. Competence time ditentukan berdasarkan umur larva mulai dari waktu pemijahan hingga larva planula yang mengendap atau melekat pada substrat. Hasil penelitian ini menunjukkan kesamaan pola tingkat fertilisasi antar spesies, lebih dari 95% fertilisasi dicapai dalam waktu kurang dari 4 jam. Stadia multisel Acropora spp dicapai pada 10-17 jam dan C. crassa sekitar 17 jam. Perkembangan embrio dan larva berbeda secara signifikan antar spesies, embrio dan larva Acropora millepora berkembang lebih cepat dibanding A. tenuis, sementara Ctenactis crassa lebih cepat dibanding Fungia concina. Ukuran maksimum larva planula tergantung pada karakteristik tiap spesies dimana A. millepora (800-1000 µm) lebih besar dibanding A. tenuis (650-900 µm), C. crassa (300-450 µm) lebih besar dibanding F. concina (170 – 290 µm). Competence time Acroporidae antara 94 – 130 jam, lebih lama dibanding Fungiidae antara 60-100 jam.
Show more

196 Read more

Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae

Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae

Kelulusan hidup serangga merupakan bagian dari aspek biologi yaitu dari fase telur sampai reproduksi (Sudibyo dkk., 2004). Bila serangga dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada suatu tanaman, maka tanaman tersebut diduga dapat menjadi tanaman inangnya. Kajian mengenai reproduksi dan kelulusan hidup P. xylostella pada beberapa jenis gulma diharapkan dapat memperoleh jenis gulma yang menjadi inang alternatif sehingga dapat dimanfaatkan dalam upaya konservasi D.

5 Read more

Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae

Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae

Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa rata-rata siklus hidup P. xylostella pada tanaman kubis adalah 15 hari pada kondisi 16 o C-25 o C (Permadi, 1993). Pada musim kemarau, kerusakan kubis akibat serangan hama P. xylostella dapat mencapai 100 % dan jika populasinya tinggi dapat menyebabkan kematian tanaman karena daunnya habis dimakan, sehingga tinggal tulang daunnya saja (Sastrosiswojo dkk. 2005). Pengendalian yang dilakukan petani pada umumnya menggunakan insektisida sintetis. dan mempengaruhi perkembangan serta ketertarikan P. xylostella
Show more

5 Read more

Studi Biologi Reproduksi : Perkembangan Gonad Keong Macan (Babylonia spirala 1.) Melalui Pendekatan Analisis Histologi

Studi Biologi Reproduksi : Perkembangan Gonad Keong Macan (Babylonia spirala 1.) Melalui Pendekatan Analisis Histologi

Pengamatan histologi terhadap gonad menunjukkan bahwa keong maean jantan dari alam belum memperlihatkan fase kematangan gonad, sedangkan fase matang gonad pada keong maean jantan yang di[r]

64 Read more

Show all 10000 documents...