TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

Top PDF TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN:

ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 100/PUU-XI/2012 PERIHAL PEMBATALAN PASAL 96 UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 100/PUU-XI/2012 PERIHAL PEMBATALAN PASAL 96 UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

Latar belakang sebagaimana yang diungkapkan diataslah yang menjadi daya tarik utama dari penulis untuk mengkaji masalah ini dengan lebih seksama. Apakah dasar pertimbangan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai guardian of constitutions dalam menyikapi pengajuan judicial review terkait dengan pembatalan pasal 96 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 yang telah memenuhi aspek keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Terkait dengan hal itu, maka penulis mengangkat masalah dengan judul: “Analisis Yuridis Putusan Mahkamah Konstitusi No.100/PUU-XI/2012 Perihal Pembatalan Pasal 96 Undang- Undang No 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan”. B. Rumusan Masalah
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

undang undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

undang undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

Pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga terpenuhi hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi tenaga kerja dan pekerja/buruh serta pada saat yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha. Pembangunan ketenagakerjaan mempunyai banyak dimensi dan keterkaitan. Keterkaitan itu tidak hanya dengan kepentingan tenaga kerja selama, sebelum dan sesudah masa kerja tetapi juga keterkaitan dengan kepentingan pengusaha, pemerintah, dan masyarakat. Untuk itu, diperlukan pengaturan

77 Baca lebih lajut

Undang Undang Nomor 21 Tahun 2003 Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Pedagangan1

Undang Undang Nomor 21 Tahun 2003 Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Pedagangan1

d. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut dalam huruf a, b, dan c dipandang perlu mengesahkan ILO Convention No. 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (Konvensi ILO No. 81 mengenai Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan) dengan Undang-undang;

Baca lebih lajut

Tugas Monitoring dan Evalasi pon

Tugas Monitoring dan Evalasi pon

Hubungan hukum dalam outsourcing bagi pekerja dan perusahaan penerima pekerjaan menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bisa beralih menjadi hubungan hukum antara pekerja dengan perusahaan pemberi kerja untuk pekerjaan yang sifatnya berlangsung terus menerus dalam hal terjadi pergantian perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. Hubungan hukum yang dimaksud tidak terbatas pada pemberian upah dan pesangon ketika pekerja diputus hubungan kerjanya melainkan juga perlindungan hak-hak pekerja, di antaranya keikutsertaan pekerja dan keluarganya dalam program Jamsostek, program perlindungan pensiun dan lain-lain. Menurut ketentuan undang-undang, perusahaan pemberi kerja harus mengambil alih tanggung jawab terhadap pekerja dalam hal terjadi perusahaan pemberi kerja telah memberi pekerjaan kepada perusahaan penyedia jasa tenaga kerja yang tidak berbadan hukum.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Implementasi Upah Minimum Kabupaten Boyolali Terhadap Pekerja/Buruh Pada Usaha Konveksi Berdasarkan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan - UNS Institutional Repository

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Implementasi Upah Minimum Kabupaten Boyolali Terhadap Pekerja/Buruh Pada Usaha Konveksi Berdasarkan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan - UNS Institutional Repository

Banyaknya industri tekstil (garmen) di Kabupaten Boyolali pasti membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit. Industri tekstil (garmen) biasanya berupa usaha-usaha baik formal maupun informal yang mana banyak mempekerjakan pekerja/buruh untuk menjalankan usahanya. Industri tekstil yang mendominasi di Kabupaten Boyolali adalah usaha-usaha rumahan, seperti usaha konveksi. Usaha konveksi merupakan usaha yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi seperti kemeja, celana, dan lain-lain. Usaha konveksi sama dengan usaha garmen yaitu sama-sama merupakan usaha yang bergerak di bidang pembuatan barang jadi tekstil, yang membedakan adalah pada usaha konveksi dikelola oleh perorangan, dengan jumlah pegawai yang bekerja lebih sedikit dan mesin yang digunakan sangat terbatas, dalam pengerjaan suatu produk masih dalam skala kecil. Sedangkan usaha garmen bisanya berupa pabrik atau perusahaan dengan sistem pengelolaan yang lebih baik, produksi usaha garmen dalam skala besar sehingga dalam proses pengerjaan menggunakan pekerja lebih banyak. Perkembangan usaha konveksi saat ini memberikan kemudahan kepada pemilik usaha garmen dengan menggunakan jasa usaha konveksi dengan memberikan pekerjaan atau order mereka sebagian kepada usaha konveksi. Walaupun pada usaha konveksi jumlah pekerja/buruh yang bekerja lebih sedikit dibandingkan pada usaha garmen, tetapi hak pekerja/buruh tersebut harus tetap terjamin khususnya mengenai upah. Pekerja/buruh tersebut bekerja dengan tujuan untuk mendapatkan upah yang layak untuk menjaga keberlangsungan hidup dirinya dan keluarga. Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan jaminan perolehan penghasilan yang layak bagi pekerja/buruh dan keluarganya salah satunya adalah adanya upah minimum. Sehingga dengan adanya jaminan upah yang layak tersebut diharapkan upah pekerja/buruh dapat terlindungi dan tidak jatuh pada tingkatan yang paling rendah. Jaminan upah layak direalisasikan dengan kebijakan pemerintah tentang
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PELAKKETENA PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DALAM HAL UPAH MINIMUM BAGI PEKERJA DI PRAMBANAN GARDEN RESTO YOGYAKARTA.

PELAKKETENA PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DALAM HAL UPAH MINIMUM BAGI PEKERJA DI PRAMBANAN GARDEN RESTO YOGYAKARTA.

Dalam menyelesaikan penulisan hukum/skripsi ini, penulis telah banyak mengalami hambatan yang dihadapi, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dalam menulis, kepustakaan dan materi penulisan. Namun, berkat bantuan dari beberapa pihak, yang penulis yakin bahwa tanpa bantuan tersebut penulisan hukum/skripsi ini tidak akan dapat terselesaikan. Maka dengan kesempatan ini. penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada N. Budi Arianto Wijaya, S.H. M. Hum. Selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran, serta memberi dorongan semangat dan pengarahan kepada penulis dalam upaya penulisan hukum/skripsi ini selama 2 tahun. Selain itu beliau telah membuka wawasan penulis dan menambah pengetahuan yang sangat berharga. Dalam kesempatan ini penulis juga menyampaikan terimakasih dengan segala kerendahan hati kepada:
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENUTUP  PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PENYANDANG CACAT FISIK DI YAYASAN PENYANDANG CACAT MANDIRI KABUPATEN BANTUL.

PENUTUP PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA PENYANDANG CACAT FISIK DI YAYASAN PENYANDANG CACAT MANDIRI KABUPATEN BANTUL.

1. Bahwa Yayasan Penyandang Cacat Mandiri telah melaksanakan apa yang telah ditentukan dalam Pasal 67 Undang – Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dengan memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja penyandang cacat terkait aksesibilitas, alat kerja dan alat pelindung diri. Hal itu hendaknya dipertahankan oleh perusahaan dan lebih ditingkatkan lagi pemenuhannya, sehingga tidak ada pihak -pihak yang dirugikan.

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  KAJIAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN WAKTU KERJA DAN UPAH BAGI PEKERJA HARIAN LEPAS.

PENDAHULUAN KAJIAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN WAKTU KERJA DAN UPAH BAGI PEKERJA HARIAN LEPAS.

Kesimpulan terhadap permasalahan hukum yang terjadi dilakukan dengan metode deduktif. Dalam penelitian ini yang bersifat umum adalah peraturan perundang-undangan mengenai Ketenagakerjaan yaitu Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003, kemudian yang bersifat khusus adalah pelaksanaan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: KEP.100/MEN/VI/2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu sebagai dasar hukum untuk melindungi pekerja harian lepas, kemudian melakukan penilaian positif bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah Ketenagakerjaan mengandung berbagai macam nilai, bukan hanya hukum saja tetapi juga nilai keadilan, nilai kemanusiaan, nilai persamaan hak, dan kedudukan serta nilai-nilai sosial.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

BAB 1 PENDAHULUAN  STUDI PERBANDINGAN OUTSOURCING DAN NON OUTSOURCING PADA PELAKSANAAN PROYEK – PROYEK SWAKELOLA.

BAB 1 PENDAHULUAN STUDI PERBANDINGAN OUTSOURCING DAN NON OUTSOURCING PADA PELAKSANAAN PROYEK – PROYEK SWAKELOLA.

Sesuai dengan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang swakelola dan keputusan Menteri Pekerjaan Umun No 631/KPTS/M/2009 tentang pembagian ruas – ruas jalan nasional dengan meliputi pekerjaan swakelolanya,maka Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki ruas jalan yang terbilang cukup panjang (meliputi 223,161 KM) maka sangat sulit jika hanya mengandalkan pengawasan dari Pegawai Negeri yang bekerja pada Instansi tersebut. Oleh karena itu disamping juga akan adanya kebutuhan yang mendesak tentang tenaga kerja pada proyek swakelola serta berdasarkan Undang – Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 64, 65, 66) tentang pengaturan hukum Outsourcing dan juga berdasar Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No 101/Men/IV/2004 tentang Tata Cara Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja atau Buruh, oleh sebab itu di putuskan bahwa Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta di rasa perlu untuk menyelenggarakan tenaga Outsourcing.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Perlindungan Dan Jaminan Hukum Penyerahan Sebagian Pekerjaan Pada Pihak Lain (Outsourcing) Dalam Undang – Undang (Study di CV Mulia Dharma)

Perlindungan Dan Jaminan Hukum Penyerahan Sebagian Pekerjaan Pada Pihak Lain (Outsourcing) Dalam Undang – Undang (Study di CV Mulia Dharma)

3. Tenaga kerja/buruh outsourcing yang bekerja di CV. Mulia Dharma tidak mendapatkan banyak perlindungan dan jaminan hukum. Tenaga kerja/buruh dalam proses perekrutannya hanya melalui selembar surat pernyataan yang tidak memenuhi syarat sebagai sebuah perjanjian kerja tertulis sebagaimana diatur dalam pasal 54 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Surat pernyataan tersebut tidak mencantumkan jenis pekerjaan, jangka waktu berlakunya surat pernyataan tersebut, dan tidak mencantumkan besaran upah dan cara pembayarannya, sehingga dapat dikatakan bahwa antara tenaga kerja/buruh dengan CV. Mulia Dharma tidak memiliki suatu perjanjian kerja yang menjadi landasan dari suatu hubungan kerja yang sah dan berkekuatan hukum. Walaupun demikian, pihak CV. Mulia Dharma masih beritikad baik dengan tetap memperhatikan hak-hak dasar tenaga kerja/buruh berupa pemberian upah setiap bulannya, upah lembur, uang tunjangan, uang kerajinan, dan melindungi tenaga kerja/buruh dari kecelakaan kerja dengan mengikutsertakan setiap tenaga kerja/buruh dalam asuransi.
Baca lebih lanjut

71 Baca lebih lajut

PENGATURAN KETENAGAKERJAAN TERHADAP TENA. pdf

PENGATURAN KETENAGAKERJAAN TERHADAP TENA. pdf

Menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN khusus di bidang ketenagakerjan, yaitu dengan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia, itu tidak bisa dihindari dan harus dihadapi dengan kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di segala bidang, dan hal yang paling mendasar adalah implementasi terhadap peraturan hukum ketenagakerjaan yang harus benar-benar diterapkan terhadap penggunaan tenaga kerja asing. Pengawasan terhadap pelaksanaan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI sebagai pelaksana Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, merupakan proteksi yang memberi batasan-batasan terhadap jabatan-jabatan tertentu yang dapat diduduki oleh tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia dengan memiliki standar kompetensi dengan batasan jangka waktu bekerja serta wajib ada tenaga pendamping tenaga kerja Indonesia, harus benar-benar selektif mungkin untuk diterapkan sehingga tidak terjadi di lapangan kerja di Indonesia semua pekerjaan dapat dikerjakan oleh tenaga kerja asing, batasan-batasan mengenai pekerjaan dengan jabatan-jabatan tertentu serta batas waktu dengan tujuan memberikan perlindungan kesempatan terhadap tenaga kerja Indonesia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PERSPEKTIF KONSTITUSIONALISME DAN DEMOKRASI Repository - UNAIR REPOSITORY

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG OLEH MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PERSPEKTIF KONSTITUSIONALISME DAN DEMOKRASI Repository - UNAIR REPOSITORY

sebagaimana diatur dalam Pasal 24C UUD NRI Tahun 1945. Berdasarkan ketentuan Pasal 24C, maka kerangka konseptual mengenai MK berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 dibatasi pada aspek : kelembagaan sebagai pelaku kekuasaan kehakiman dan aspek kewenangan khususnya mengenai pengujian undang-undang. Kelembagaan MK juga harus dipandang secara lebih luas akibat perubahan yang mendasar dalam sistem ketatanegaraan, yakni konsep kedaulatan rakyat dan implikasinya terhadap demokrasi, peneguhan sistem presidensialisme dan pemisahan kekuasaan dengan meletakkan kedudukan dan hubungan kelembagaan negara secara heterarkhis serta pengakuan dan jaminan hak-hak asasi. Jadi r aisons d’etre dari pendirian MK adalah sebagai akibat kesepakatan pembentuk UUD mengenai prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (demokrasi), pemisahan kekuasaan, peneguhan sistem presidensialisme dan jaminan hak-hak asasi manusia. Alasan-alasan tersebut diatas lahir dari momen konstitusional (constitutional moment), yaitu suatu masa authoritarian beralih ke sistem demokrasi yang secara fundamental ditandai dengan reformasi konstitusi. Momentum konstitusional ini ditandai dengan adanya MK sebagai kelambagaan baru yang menandai demokrasi. Harding dan Leyland menyatakan kehadiran MK dalam beberapa negara demokrasi baru menandai suatu sistem hukum baru atau setidaknya konstitusi baru dalam dalam negara yang menganut sistem demokrasi 89 .
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

POLITIK HUKUM PENGATURAN PEGAWAI PENGAWAS KETENAGAKERJAAN DALAM MENGHADAPI MEA 2015 - Unissula Repository

POLITIK HUKUM PENGATURAN PEGAWAI PENGAWAS KETENAGAKERJAAN DALAM MENGHADAPI MEA 2015 - Unissula Repository

Kemudian, selanjutnya pada pertemuan dengan Menteri Ekonomi ASEAN yang telah diselenggarakan di bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur, Malaysia mulai bersepakat untuk bisa memajukan masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA dengan memiliki target yang jelas dan terjadwal dalam pelaksanaannya. Pada KTT ASEAN yang ke-12 di bulan Januari 2007, para pemimpin mulai menegaskan komitmen mereka tentang melakukan percepatan pembentukan komunitas ASEAN di tahun 2015 yang telah diusulkan oleh ASEAN Vision 2020 dan ASEAN Concord II, dan adanya penandatanganan deklarasi CEBU mengenai percepatan pembentukan komunitas ekonomi ASEAN di tahun 2015 dan untuk melakukan pengubahan ASEAN menjadi suatu daerah perdagangan yang bebas barang, investasi, tenaga kerja terampil, jasa dan aliran modal yang lebih bebas lagi.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PELAKSANAAN UPAH MINIMUM PROPINSI PADA PERUSAHAAN PENAMBANGAN PASIR NANDO GEMILANG DI CANGKRINGAN SLEMAN.

PENDAHULUAN PELAKSANAAN UPAH MINIMUM PROPINSI PADA PERUSAHAAN PENAMBANGAN PASIR NANDO GEMILANG DI CANGKRINGAN SLEMAN.

Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa yang dimaksud pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Secara umum dapat diketahui bahwa yang dicari oleh para pekerja/buruh adalah upah layak yang dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup beserta keluarganya. Besarnya upah yang diterima oleh para pekerja merupakan hasil musyawarah antara pengusaha dan pekerja dengan ukuran bahwa upah tersebut dapat bermanfaat untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup para pekerja beserta keluarganya. Dengan demikian seorang pekerja/buruh dalam hubungan kerja ini tidak boleh melakukan tuntutan upah yang lebih dari yang telah dijanjikan dan telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Potret Kesejahteraan Pembantu Rumah Tangga (Studi Kasus di Perumahan Griya Satria Pesona Kampung Busa Desa Satria Jaya Tambun Utara Bekasi Jawa Barat)

Potret Kesejahteraan Pembantu Rumah Tangga (Studi Kasus di Perumahan Griya Satria Pesona Kampung Busa Desa Satria Jaya Tambun Utara Bekasi Jawa Barat)

Berdasarkan konteks itulah banyak kelas menengah di Indonesia menggunakan tenaga pembantu rumah tangga untuk meringankan beban kerja mereka, sehingga bisa fokus pada pekerjaan atau profesinya. Semua majikan yang diwawancarai mengidentifikasi bahwa padatnya aktivitas kerja tidak memungkinkan mereka untuk mengerjakan pekerjaan domestik. Moh. Muqit yang memiliki pembantu rumah tangga sejak tahun 2010 mengungkapkan bahwa tujuannya menggunakan pembantu rumah tangga adalah untuk meringankan beban pekerjaan rumah yang tidak mungkin dikerjakannya sendiri. Ketika ditanya tentang alasan dan tujuan menggunakan pembantu rumah tangga, Moh. Moqit menjawab, “Untuk meringankan beban di rumah.” 1
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

ANALISIS YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM PEKERJA OUTSOURCING YANG TERIKAT DALAM PERJANJIAN KERJA DENGAN PERUSAHAAN VENDOR YANG BUKAN BERBADAN HUKUM

ANALISIS YURIDIS KEDUDUKAN HUKUM PEKERJA OUTSOURCING YANG TERIKAT DALAM PERJANJIAN KERJA DENGAN PERUSAHAAN VENDOR YANG BUKAN BERBADAN HUKUM

13 Menurut data LIPI akhir tahun 2011, perubahan status kerja dari tetap menjadi outsourcing atau kontrak meningkat, dan justru terjadi pada industri padat karya, seperti pakaian jadi, sepatu, elektronik, serta makanan dan minuman. Dengan demikian, outsource tidak hanya diterapkan pada pekerjaan penunjang produksi, tapi juga inti produksi. Berdasarkan data ILO bulan Desember 2010, jumlah buruh kontrak dan outsourcing di Indonesia mencapai 65% dari seluruh buruh Indonesia. Artinya jumlah buruh tetap di Indonesia hanya 35%. Situasi ini disertai dengan makin meningkatnya perusahaan outsource yang pada tahun 2011 menjadi 1200, yang 80% diantaranya merupakan perusahaan abal-abal atau tidak jelas. Buruh outsourcing diperlakukan sebagai komoditi yang lebih mudah diperjualbelikan seenak perut pelaku bisnis, digardai pemerintah yang menjadi broker para pemodal. Dengan demikian, benarlah bahwa sistem outsourcing merupakan perbudakan modern. 21
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

FUNGSI KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) DALAM UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA INDONESIA.

FUNGSI KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) DALAM UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM BAGI TENAGA KERJA INDONESIA.

Pemerintah Negara Indonesia berkewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum, sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 Alinea Keempat. Tenaga kerja sebagai warga negara Indonesia berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak sebagaimana dimaksud Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Penempatan tenaga kerja sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, bahwa tenaga kerja berhak dan mempunyai kesempatan yang sama untuk bekerja dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

T1 312007033 Daftar Pustaka

T1 312007033 Daftar Pustaka

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356). Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Kep.100/Men/VI/2004

Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keberlakuan Undang–Undang Ketenagakerjaan Bagi Pekerja Pembantu Rumah Tangga (PRT) T1 312006042 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Keberlakuan Undang–Undang Ketenagakerjaan Bagi Pekerja Pembantu Rumah Tangga (PRT) T1 312006042 BAB I

Pasal 1 Butir 4 UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan secara hukum, PRT seharusnya diakui sebagai pekerja berdasarkan definisi Pasal 1 Butir 4 di atas, sebab PRT dipekerjakan oleh pemberi kerja perseorangan. Berdasarkan definisi Tenaga Kerja dalam Undang-undang Ketenagakerjaan, PRT adalah pekerja, dan hubungan PRT dengan majikan mereka adalah hubungan kerja, dengan melihat pendapat di atas maka PRT mestinya tunduk pada UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan 11 . Sedangkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan tidak memasukkan PRT sebagai pekerja, dalam hal ini bagian dari buruh. Kondisi kerja yang wajar akan diterima oleh PRT jika kebetulan majikan yang ditemui memperlakukannya dengan baik. Kalaupun tidak, ketika akan memperkarakan PRT yang bermasalah pun mengalami kesulitan karena tidak adanya acuan dalam memutuskan perkara sehingga dari waktu ke waktu kasus PRT hanya berhenti ditengah jalan, tanpa ada penyelesaian hukum secara adil. 12
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...