terumbu karang

Top PDF terumbu karang:

KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN DESA BINTALAHE KECAMATAN KABILA BONE KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN DESA BINTALAHE KECAMATAN KABILA BONE KABUPATEN BONE BOLANGO PROVINSI GORONTALO

Terumbu karang sebagai salah satu ekosistem yang berada di perairan dangkal memiliki produktivitas primer dan keanekaragaman jenis yang tinggi. Ekosistem terumbu karang memiliki nilai ekologis yang tinggi mengingat wilayah ini dijadikan habitat untuk bertelur (nesting ground), berpijah (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), dan mencari makan (feeding ground) bagi banyak ikan-ikan dan biota lainnya. Salah satu wilayah Indonesia yang memiliki potensi terumbu karang adalah Desa Bintalahe yang termasuk dalam daerah administratif Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango,Provinsi Gorontalo. Provinsi Gorontalo sendiri memiliki potensi terumbu karang seluas 21.910,96 Ha (Sirait,2011), akan tetapi potensi tersebut belum semuanya dikelola dan dimanfaatkan secara optimal. Padahal, pengelolaan yang tepat dapat menjamin keberadaan terumbu karang di masa depan, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu hal yeng mendasari kondisi tersebut adalah karena kurangnya informasi mengenai keberadaan potensi dan kondisi terumbu karang yang ada, sehingga membuat pengelolaan dan pemanfaatan potensi hanya terbatas di beberapa tempat saja.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

kepmen terumbu karang

kepmen terumbu karang

Pengelolaan zonasi pesisir bertujuan untuk memperbaiki ekosistem pesisir yang sudah rusak. Pada prinsipnya wilayah pesisir dipetakan untuk kemudian direncanakan strategi pemulihan dan prioritas pemulihan yang diharapkan. Pembagian zonasi pesisir dapat berupa zona penangkapan ikan, zona konservasi maupun lainnya sesuai dengan kebutuhan/pemanfaatan wilayah tersebut, disertai dengan zona penyangga karena sulit untuk membatasi zona-zona yang telah ditetapkan di laut. Ekosistem terumbu karang dapat dipulihkan dengan memasukkannya ke dalam zona konservasi yang tidak dapat diganggu oleh aktivitas masyarakat sehingga dapat tumbuh dan pulih secara alami.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Perlindungan Terumbu Karang dan Dampakny

Perlindungan Terumbu Karang dan Dampakny

Perlindungan dan Pelestarian Terumbu Karang diperlukan demi kelangsungan hidup umat manusia. Hal tersebut dikarenakan populasi manusia di bumi terus bertambah dan juga seiring dengan permintaan dan kebutuhan akan pangan demi kelangsungan hidupnya. Manusia melakukan segala hal demi memenuhi kebutuhan hidupnya agar bisa survive namun tidak cukup jika hanya hal itu saja yang dilakukan. Terlalu fokus untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa memikirkan lingkungan sekitar juga berakibat bagi terancamnya kehidupan manusia itu sendiri. Perlindungan dan Pelestarian Terumbu Karang merupakan kewajiban masyarakat internasional tidak hanya negara yang termasuk dalam kawasan The Coral Triangle atau segitiga terumbu karang, namun juga aktor lainnya. Karena salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya terumbu karang juga disebabkan oleh Climate Changes yang berasal dari masyarakat internasional itu sendiri.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Penyebab Kerusakan Terumbu Karang

Penyebab Kerusakan Terumbu Karang

2). Kerusakan yang disebabkan oleh faktor alami misalnya adalah kenaikan suhu dan badai. Kenaikan suhu 4-60 C karena pengaruh elnino pada tahun 1982-1983 disinyalir telah merusak terumbu karang dihabitatnya. Di Indonesia suhu air laut mencapai lebih dari 300 C. Karang-karang dikepulauan seribu banyak yang mengalami bleaching dan diikuti kematiannya. Badai (storm dan hurricane) cukup berbahaya terhadap kehidupan terumbu karang. Badai ini dapat merusak dan memporakporandakan baik didaerah reef flat, reef edge maupun reef slope. Selain kenaikan suhu dan badai predator karang juga dikenal sebagai perusak terumbu karang. Acanthaster planci merupakan predator karang yang terkenal sebagai perusak karang terutama di daerah Indo-Pasifik. Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Menurut Dr Jan Henning Steffen, luas total terumbu karang Indonesia mencapai 85 200 Km persegi, terluas ke dua di dunia setelah Great Barrier Reef. Kondisi terumbu karang Indonesia tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen dan sangat baik hanya enam persen. (Mawardi, 2003).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Perlindungan Dan Pengelolaan Terumbu Karang Terhadap Lungkungan Hidup Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

Perlindungan Dan Pengelolaan Terumbu Karang Terhadap Lungkungan Hidup Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

Pengaturan pengelolaan terumbu karang dan lingkungan hidup dalam hukum nasional antara lain : Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau kecil. Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 Tentang Konservasi Sumber Daya Ikan. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : Kep.38/Men/2004 Tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang, Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.17/Men/2008 Tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.02/Men/2009 Tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan. Pengaturan pengelolaan terumbu karang dan lingkungan hidup dalam hukum internasional, antara lain Konferensi Stockholm Tahun 1972, Convention on The Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and Other Matter(London Dumping) 1972 and 1996 Protocol Thereto, International Convention for the Prevention of Pollution from Ship 1973/1978 (MARPOL 1973/1978), Konvensi Perserikatan Bangsa- Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982 (UNCLOS 1982)Perlindungan dan pengelolaan terumbu karang terhadap lingkungan hidup di Indonesia ditinjau dari hukum internasional Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declaration) Tahun 2009, Memorandum of Understanding (MoU) between the Government of Australia and Indonesia on Oil Pollution Preparedness and Response 1996, MoU Sulawesi Sea Oil Spill Response Network Plan 1981, Marine Pollution Exercise (MARPOLEX ), MoU between Indonesia-Malaysia-Singapore with the Malacca Straits Council on the Establishment of Revolving Fund Committee 1981 dan MoU for ASEAN Oil Spill Response Action Plan (ASEAN-OSRAP)
Baca lebih lanjut

99 Baca lebih lajut

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

PELESTARIAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG MELALUI METODE TRANSPLANTASI TERUMBU KARANG

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendiskripsikan cara penanggulangan kerusakan pada terumbu karang. Kegunaan dari karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, instansi pemerintah maupun swasta terkait dengan informasi dan karya tulis ini. Matode penulisan ini berdasarkan analisis data dari data sekunder yang didapatkan bahwa terumbu karang sangat rentan terhadap perubahan suhu yang sangat signifikan sehingga karang akan mengalami perubahan warna menjadi putih (bleaching) dan mati, matinya terumbu karang karena sudah terpisah alga (zooxanthella) dari karang sehingga simbiosis mutualis me yang terjadi akan hilang dan karang kehilangan sumber yang menghasilkan makanan. Serta penangkapan ikan yang masih menggunakan alat tangkap yang telah dilarang.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENGUMUMAN TERUMBU KARANG

PENGUMUMAN TERUMBU KARANG

Nama paket pekerjaan : Pembibitan, Penanaman dan Pemeliharaan Terumbu Karang di Kabupaten Karangasem, Buleleng dan Jembrana dalam rangka Pelaksanaan Pencegahan Kerusakan Lingkungan Laut pada Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali

1 Baca lebih lajut

Visualisasi Terumbu karang dan desain transplantasi terumbu

Visualisasi Terumbu karang dan desain transplantasi terumbu

Terumbu karang di Pangandaran dapat di temukan pada kawasan cagar alam laut di pantai timur dan barat Pananjung, memilki panjang 1,5 km dan lebar 50 m (Anonymous, 2006), dengan tipe terumbu karang berupa karang tepi (fringing reef). Jenis karang batu yang ditemukan di pantai barat di dominasi oleh jenis acropora dan monticora.

23 Baca lebih lajut

7 ada apa dgn terumbu karang

7 ada apa dgn terumbu karang

Terumbu karang dapat ditemukan di sekitar 100 negara dan merupakan rumah tinggal bagi 25% habitat laut. Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat rentan. Dalam beberapa puluh tahun terakhir sekitar 35 juta hektar terumbu karang di 93 negara mengalami kerusakan. Ketika temperatur air laut meningkat, semakin besarnya sinar ultraviolet dan terjadi perubahan lingkungan lainnya, maka terumbu karang akan mengalami stress, karena ia akan kehilangan sel algae yang menjadi ”kawan baiknya” penghasil oksigen dari proses fotosintesis. Akibatnya warna karang akan berubah menjadi putih dan jika tingkat ke-stres- annya sangat tinggi dapat menyebabkan terumbu karang tersebut mati.
Baca lebih lanjut

43 Baca lebih lajut

Kondisi Terumbu Karang Akibat Dampak dar (1)

Kondisi Terumbu Karang Akibat Dampak dar (1)

Pemerintah Kota Makassar sendiri, menuding penyebab kerusakan itu pada perilaku pengeboman dan pembiusan. Namun banyak yang sangsi dengan asumsi tersebut, dengan melihat fakta fakta yang ditemukannya di lapangan seperti kekeruhan air dan banyaknya pasir yang menutupi karang. Ini karena sedimentasi sebagai dampak dari reklamasi. Data lainnya juga datang dari Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) Sulsel Irham Rapy yang menyebutkan dari data YKL sekitar 80 % terumbu karang di perairan Sulsel dalam kondisi rusak. Kondisi kerusakan tersebut akibat dari penggunaan bom ikan dan aktifitas nelayan yang tidak ramah lingkungan seperti pukat harimau. Peluang memperbaiki kondisi terumbu karang ini masih terbuka lebar, karena tidak semua terumbu karang mengalami kerusakan yang parah. Menciptakan Terumbu karang, memang membutuhkan kondisi laut yang sehat. Tidak hanya karena reklamasi, gangguan terhadap populasi dan pertumbuhan terumbu karang bisa juga disebabkan karena aktivitas pembuangan limbah, pengeboman, bius dan bahkan karena pengaruh perubahan iklim. 4
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di Selat Lembeh, Kota Bitung

Menurut Russ (1991), tekanan penangkapan ikan yang berkepanjangan akan memberikan dampak pada terumbu karang, sehingga ketersediaan stok ikan akan mengalami perubahan. Mengacu pada hasil analisis leverage, maka dibutuhkan kebijakan pengelolaan terumbu karang, seperti pembentukan daerah konservasi laut untuk peningkatan persentase penutupan karang yang pada akhirnya memberikan peluang stok ikan karang melakukan pemijahan (spawning) sebagai sumber utama peremajaan (recruitment). Marsaoli (2001), menyatakan bahwa hubungan model pertumbuhan ikan lencam dengan sediaan stok menunjukkan bahwa pada kondisi karang baik pertumbuhan maksimum lestari (MSY) per tahun mencapai 7.083,97 kg/km 2 , sedangkan pada kondisi karang rusak pertumbuhan maksimum lestari hanya mencapai 3.001,10 kg/km 2 . Pertumbuhan ikan lencam mengalami penurunan sebesar 58% dari kondisi karang baik ke kondisi karang rusak. Aktivitas pertumbuhan ikan akan mengalami penurunan, jika kebanyakan ikan yang tertangkap adalah kelompok ikan yang sedang dalam proses pertumbuhan. Peristiwa ini akan menyebabkan overfishing pertumbuhan (growth overfishing) (Charles, 2001). Overfishing pertumbuhan lebih cepat terjadi pada kondisi karang rusak dibanding kondisi karang baik, selanjutnya dengan acuan hasil ini maka dibutuhkan kebijakan ukuran minimum (minimum size) ikan karang di Selat Lembeh yang tertangkap untuk menghindari mortalitas ikan yang masih dalam proses pertumbuhan, sehingga tidak perlu terjadi overfishing pertumbuhan.
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

Microsoft Word Visualisasi Terumbu karang dan desain trans

Microsoft Word Visualisasi Terumbu karang dan desain trans

Terumbu karang di Pangandaran dapat di temukan pada kawasan cagar alam laut di pantai timur dan barat Pananjung, memilki panjang 1,5 km dan lebar 50 m (Anonymous, 2006), dengan tipe terumbu karang berupa karang tepi (fringing reef). Jenis karang batu yang ditemukan di pantai barat di dominasi oleh jenis acropora dan monticora.

5 Baca lebih lajut

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

Akuntabilitas dan keberlanjutan pengelolaan kawasan terumbu karang di selat Lembeh, kota Bitung

Ditinjau dari kebutuhan aspek teknologi, kegiatan penangkapan ikan merupakan kegiatan yang memerlukan investasi modal yang cukup besar. Nikijuluw (2001), menyatakan bahwa besarnya investasi awal satu unit alat tangkap termasuk kapal berkisar antara Rp. 9,23 juta (untuk kapal dan alat tangkap gillnet) sampai dengan Rp.243,10 juta (untuk kapal dan alat tangkap mini purse seine). dari jumlah tersebut tidak semua nelayan mampu memilikinya dan bagi nelayan yang telah memiliki alat tangkap, terkadang dihadapkan pada masalah modal untuk renovasi. Mengingat investasi pada kegiatan perikanan tangkap senantiasa dihadapkan pada masalah depresiasi modal dan alat tangkap di samping resiko lainnya. Nikijuluw (2001), melaporkan bahwa usaha penangkapan ikan dari beberapa alat tangkap yang diamati di Jawa Tengah menunjukkan bahwa sebagian dari alat tangkap masih menghasilkan tingkat rentabilitas dan pendapatan sosial yang cukup tinggi (misalnya gillnet), sementara alat tangkap yang lain seperti mini purse seine, trammel net, dan bagan, dihadapkan pada resiko yang kurang menguntungkan, artinya besarnya tingkat rentabilitas maupun pendapatan sosial yang diterima oleh pemilik kapal relatif kecil. Hal ini disamping oleh tingginya biaya operasional penangkapan juga kendala hasil tangkapan yang tidak menentu. Kondisi ini mencerminkan bahwa upaya penangkapan ikan memerlukan perhatian serius, sehingga pengembangan penangkapan ikan perlu dimbangi dengan upaya perbaikan ekosistem, seperti terumbu karang yang dapat berfungsi sebagai daerah spawning ground dan fishing ground atau diperlukan adanya diversifikasi alat tangkap yang ramah lingkungan dan atau pengembangan usaha alternatif diluar kegiatan penangkapan ikan seperti pengelolaan pariwisata bahari. 6.2.3. Dimensi Sosial Ekonomi
Baca lebih lanjut

196 Baca lebih lajut

TERUMBU KARANG

TERUMBU KARANG

Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem yang khas terdapat dilaut-laut daerah tropis. Ekosistem ini mempunyai produktivitas organik yang sangat tinggi. Demikian pula keanekaragaman biota yang ada di dalamnya. Komponen biota terpenting disuatu terumbu karang ialah hewan karang batu (stony coral) yang krangkanya terbuat dari bahan kapur. Tetapi disamping itu sangat banyak jenis biota lainnya yang hidupnya mempunyai kaitan erat dengan karang batu ini. Semuanya terjalin dalam hubungan fungsional yang harmonis dalam satu ekosistem terumbu karang.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Teknologi Penginderaan Jauh dan Sisem In

Terumbu karang yang dijumpai adalah karang tepi (fringing reef), karang penghalang (barrier reef), dan karang cincin (atoll). Sehingga ketika terumbu karang dirusak maka ekosistem laut akan terganggu. Padahal Terumbu Karang menjadi salah satu potensi wisata yang dipromosikan hingga ke Mancanegara karena Terumbu karang di Indonesia ada di 1.000 lokasi misalnya Labuan Bajo dan Raja Ampat yang menyumbang Rp461,3 triliun atau 4,23 persen dari PDB Nasional.Fungsi terumbu karang lainnya adalah untuk perlindungan garis pantai: meredam hempasan gelombang sehingga mengurangi kerusakan akibat gelombang dan mengurangi erosi. Dengan begitu, terumbu karang secara tak langsung juga melindungi tempat tinggal penduduk di pesisir pantai dan ekosistem pesisir. Beberapa data menyatakan luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 75.000 km2 yaitu sekitar 12 sampai 15 persen dari luas terumbu karang dunia. data lain menyatakan luas nya mencapai 60.000 km2, sedangkan berdasarkan data yang telah dipetakan Badan Informasi Geospasial (BIG) luasnya lebih kurang 25.000 km2 atau 2.500.000 hektare. Dengan ditemukannya 362 spesies scleractinia (karang batu) yang termasuk dalam 76 genera, Indonesia merupakan episenter dari sebaran karang batu dunia.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Makalah dan terumbu dan karang

Makalah dan terumbu dan karang

Masalah perikanan merupakan bagian dari ekosistem bahkan keanekaragaman karang dapat mencerminkan keanekaragaman jenis ikan. Semakin beragam jenis terumbu karang akan semakin beraneka ragam pula jenis ikan yang hidup di ekosistem tersebut. Oleh karena itu masalah perikanan tidak bisa diabaikan pada pengelolaan ekosistem terumbu karang. Dengan meningkatnya jumlah penduduk saaat ini maka jumlah aktivitas penangkapan ikan di ekosistem terumbu karang juga meningkat. Apabila hal ini dilakukan secara intensif, maka kondisi ini memungkinkan terjadinya penurunan stock ikan di ekosistem terumbu karang. Keadaan ini akan memakan waktu lama untuk bisa pulih kembali. Pengelolaan yang efektif harus didasarkan pada pengetahuan biologis target spesies, sehingga teknik penangkapan yang tepat dapat ditentukan. Pengelolaan terumbu karang ini cenderung lebih banyak ditekankan pada pengambilan karang atau aktivitas manusia seperti pengeboman ikan karang, dan yang lainnnya secara tidak langsung dapat merusak karang.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Komposisi Umum Zooplankton Terumbu

Komposisi Umum Zooplankton Terumbu

perairan terbuka di antara karang Heron dan Wistari. Berdasarkan hasil pengambilan sampel, ditemui larva decapoda, amfipoda, dan cumacea yang melimpah di area pengambilan contoh dekat terumbu karang, dan sangat jarang ditemui di perairan terbuka. Roman et.al. (1989), zooplankton yang memasuki karang dari perairan dangkal di sekitarnya mengalami penurunan kelimpahan jika dibandingkan dengan kelimpahan di dataran karang (reef flat). Hal ini diperkirakan terjadi karena tingginya tingkat pemangsaan. Di dalam laguna karang, biomassa zooplankton di kolom air meningkat dua hingga tiga kali disebabkan oleh kemunculan demersal zooplankton. Secara umum, kelimpahan zooplankton di zona sekitar terumbu karang memang lebih tinggi dibandingkan di perairan terbuka, hal ini dikarenakan zona terumbu karang memiliki peran sebagai zona asuhan (nursing ground) biota laut, sehingga pada terumbu karang ditemukan banyak larva biota, baik yang hidup di terumbu karang maupun yang hidup di laut lepas.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Carrying Capacity of Coral Reef Ecosystem for Marine Tourism in Biawak Island Waters and Its Surrounding Area, Indramayu District  West Java Province

Carrying Capacity of Coral Reef Ecosystem for Marine Tourism in Biawak Island Waters and Its Surrounding Area, Indramayu District West Java Province

Metode penarikan contoh resp.onden terhadap persepsi atau pengunjung dalam aktifitas wisata bahari dan untuk mengetahui nilai visual suatu objek dari terumbu karang yang ada di pulau Biawak dan sekitarnya secara purposive sampling. Resp.onden yang diambil contoh tidak hanya yang tinggal di sekitar pulau Biawak, akan tetapi juga diambil dari daerah lain dalam hal ini dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Hal ini agar data yang diperoleh lebih obyektif. Pemilihan resp.onden untuk analisis SWOT dilakukan terhadap semua stakeholder dari seluruh lapisan masyarakat (pemerintah, DPRD, akademisi/ahli, swasta, LSM, masyarakat yang potensial untuk berwisata, tokoh masyarakat, dan nelayan).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Analisis Populasi Acanthaster planci di Perairan Teluk Tomini Kelurahan Leato Selatan Kota Gorontalo

Analisis Populasi Acanthaster planci di Perairan Teluk Tomini Kelurahan Leato Selatan Kota Gorontalo

Sebenarnya kehadiran Acanthaster planci dalam batasan populasi normal merupakan hal yang umum di ekosistem terumbu karang. Tetapi jika kepadatan populasi melebihi dari 14 individu/1000 m 2 , maka keberadaannya sudah mengancam terumbu karang (Endean, 1987 dalam Rani, dkk, 2011). Kehadiran Acanthaster planci sudah ekstensif di beberapa perairan di Indonesia. Olehnya itu kehadiran pemangsa karang ini perlu terus dipantau sebagai dasar dalam suatu pengambilan tindakan pengelolaan (Rani, dkk, 2011).

Baca lebih lajut

TEKNOLOGI PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM IN (2)

TEKNOLOGI PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM IN (2)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Terumbu karang adalah salah satu ekosistem dengan produktifitas dan kelimpahan spesies yang tinggi di wilayah pesisir. Potensi sumberdaya alam ini perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan bangsa Indonesia dengan tetap memperhatikan dan melakukan usaha untuk menjaga kelestariannya. Pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan lautan yang baik diperlukan metode dengan pendekatan multidisplin ilmu yang meliputi berbagai aspek, seperti aspek pemanfaatan sumberdaya, kelestarian lingkungan dan aspek sosial ekonomi masyarakat. Teknologi penginderaan jauh mempunyai kemampuan untuk mengindentifikasi serta melakukan monitoring terhadap perubahan sumberdaya alam dan lingkungan wilayah pesisir dan laut. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan tentang pemanfaatan penginderaan jauh dan sistem informasi geografi dalam pengelolaan terumbu karang
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 2964 documents...