Perlindungan Dan Pengelolaan Terumbu Karang Terhadap Lungkungan Hidup Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum Internasional

99  16 

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Anonim. Penyusunan Konsep Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan yang Berakar pada Masyarakat. Kerjasama Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 1998.

Ariadno, Melda Kamil, Hukum Internasional Hukum yang Hidup, Diadit Media, Jakarta. 2007.

Carter, J.A. Introductory Couse on Integrated Coastal Zone Management

(Tarining Manual). Pusat Penelitian Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Sumatra Utara, Medan, dan Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia, Jakarta;, 1996

Djalal, Hasjim. Perjuangan Indonesia di Bidang Hukum Laut. Binacipta, Bandung. 1979.

Ediwarman, Monograf, Metodologi Penelitian Hukum, Medan: Program Pascasarjana Univ. Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, 2010.

Kusumaatmadja, Mochtar, Hukum Laut Internasional, Bandung : BinaCipta, 1986.

Samekto, FX. Adji. Negara Dalam Dimensi Hukum Internasional. Citra Aditya Bakti, Bandung. 2009.

Sodik, Dikdik Mohammad. Hukum Laut Internasional dan Pengaturannya di

Indonesia. Refika Aditama, Bandung. 2011.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Tinjauan

Singkat Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001

Suhaidi. Perlindungan Lingkungan Laut: Upaya Pencegahan Pencemaran

Lingkungan Laut Dengan Adanya Hak Pelayaran Internasional Di Perairan Indonesia. Pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam

(2)

Sukanda, Husin. Penegakan hukum lingkungan Indonesia. Sinar Grafika, Jakarta, 2009.

Supriadi dan Alimuddin. Hukum perikanan di Indonesia. Sinar grafika, Jakarta. 2011.

Sukanda Husin. Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia.Sinar Grafika, Jakarta. 2009.

Zamani,N.P. dan Darmawan. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu Berbasis Masyarakat. Prosiding Pelatihan Untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor dan Proyek Pesisir-Coastal Resources Management Project, Coastal Resources Centre-University of Rhode Island.2000

B. Peraturan Perundang-Undangan

Undang Undang No. 23 tahun 2014 mengenai Pemerintahan Daerah

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004

Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau kecil.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 Tentang Konservasi Sumber Daya. Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : Kep.38/Men/2004 Tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang

Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.17/Men/2008 Tentang Kawasan Konservasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil.

(3)

Nomor Per.03/Men/2010 Tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis ikan.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.04/Men/2010 Tentang Tata Cara Pemanfaatan Jenis Ikan dan Genetik Ikan.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.30/Men/2010 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan.

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.59/Men/2011 TentangPenetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Ikan Terumbuk (Tenualosa Macrura)

Dewan Kelautan Indonesia. Evaluasi Kebijakan Dalam Rangka Implementasi

UNCLOS 1982 di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan

Republik Indonesia. 2008.

Kebijakan Nasional Pengelolaan Terumbu Karang di Indonesia, Jakarta: 2011

United Nations Convention on the Law of the Sea, Montego Bay, 10 December 1982, 21 ILM 1261 (1982). [hereafter UNCLOS].

Framework Convention on Climate Change (FCCC), New York, 9 May 1992, 31 ILM 849 (1992).

Convention for the Protection of the World Cultural and Natural Heritage, Paris, 23 Nov. 1972, reprinted in 11 ILM 1358 (1972).

C. Internet

Gea Geo. Beberapa Kasus Tumpahan Minyak Di Indonesia. di

(4)

Science Daily, 2009: What are coral reef services worth? $130 000 to $1.2 million

per hectare per year

(http://www.sciencedaily.com/releases/2009/10/091016093913. htm#at). (diakses tanggal 1 Juni 2015)

(diakses tanggal 1 Mei 2015)

Kajian MoU 1996. Di

UNESCO, The World Heritage List, available athttp://whc.unesco.org/en/list/ J. Sanchirico, Marine Protected Areas as Fishery Policy: A Discussion of

(5)

BAB III

PENGATURAN PENGELOLAAN TERUMBU KARANG DAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM

HUKUM INTERNASIONAL

D. Sumber-Sumber Pencemaran Laut yang Berdampak Terhadap Terumbu

Karang

Sebagai sebuah ekosistem, meskipun hewan karang (Coralsditemukan diseluruh perairan dunia, tetapi hanya di daerah tropis terumbu karang dapat berkembang dengan baik. Karang ditemukan mulai dari perairan es di Artik dan Antartika, hingga ke perairan tropis yang jernih. Namun, terumbu karang dengan dinding megahnya dan rangka baru kapur yang sangat besar, hanya ditemukan disebagian kecil perairan sekitar khatulistiwa. Dalam jalur tropis, faktor biologi, kimiawi,dan iklim dapat mendukung tercapainya keseimbangan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup karang pembentuk terumbu.

(6)

Faktor-faktor fisik lingkungan yang berperan dalam perkembangan terumbu karang adalah sebagai berikut ;

1. Suhu air >18 oC, tapi bagi perkembangan yang optimal diperlukan suhu rata-rata tahunan berkisar 23 – 35 oC, dengan suhu maksimal yang masih dapat ditolerir berkisar antara 36 – 40 oC.

2. Kedalaman perairan < 50 m, dengan kedalaman bagi perkembangan optimal pada 25 m atau kurang.

3. Salinitas air yang konstan berkisar antara 30 – 36 ‰.

4. Perairan yang cerah, bergelombang besar dan bebas dari sedimen a. Suhu

Suhu perairan berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan karang. Menurut Wells dalam Ramli, terumbu karang tidak berkembang pada suhu minimum tahunan di bawah 18oC, dan paling optimal terjadi di perairan rata-rata suhu tahunannya 25oC - 29oC. Sedangkan menurut Kinsman dalam Supriharyono bahwa batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 16 – 17oC dan sekitar 36 oC. Terumbu karang ditemukan di perairan dangkal daerah tropis, dengan suhu perairan rata-rata tahunan > 18oC. Umumnya menyebar pada aris tropis antara Cancer dan Capricorn. Hal ini berkaitan dengankebanyakan karang yang kehilangan kemampuan menangkap makanan pada suhu di atas 33,5oC dan di bawah 16 oC.

(7)

lainnya. Beberapa spesies tidak dapat mentoleransi perubahan suhu lebih dari 5oC dalam waktu yang lama, karena dapat menimbulkan pemutihan karang yang sangat merusak karang22

b. Salinitas

Salinitas berpengaruh besar terhadap produktivitas terumbu karang. Debit air tawar dari sungai yang besar sangat berpengaruh pada salinitas perairan pantai, yang pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang, terutama karang tepi. Salinitas air laut rata-rata di daerah tropis adalah sekitar 35‰, dan binatang karang hidup subur pada kisaran salinitas sekitar 34-36‰.

Menurut Dahuri bahwa umumnya terumbu karang tumbuh dengan baik di wilayah dekat pesisir pada salinitas 30 - 35 ‰. Meskipun terumbu karang mampu bertahan pada salinitas di luar kisaran tersebut, pertumbuhannya menjadi kurang baik bila dibandingkan pad salinitas normal. Pengaruh salinitas terhadap kehidupan binatang karang sangat bervariasi bergantung pada kondisi perairan setempat dan atau pengaruh alam, seperti ron-off, badai dan hujan. Sehingga kisa ran salinitas bisa sampai dari 17,5 – 52,5 ‰.

3. Cahaya Matahari

Cahaya matahari Keberadaan cahaya matahari sangatpenting bagi terumbu karang untuk melakukan proses fotosintesa. Mengingat binatang karang

(hermatypic atau Reef-build corlas) hidupnya bersimbiose dengan ganggang

(zooxanthellae) yang melakukan fotosintesa. Keadaam awan disuatu tempat akan

22

(8)

mempengaruhi pencahayaan pada waktu siang hari. Kondisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan karang.

Kebanyakan terumbu karang dapat berkembang pada kedalaman 25 meter atau kurang. Pertumbuhan karang sangat berkurang saat tingkat laju produksi primer sama dengan respirasinya (zona kompensasi) yaitu kedalaman dimana kondisi intensitas cahaya berkurang sekitar 15 – 20 persen dari intensitas cahaya di lapisan permukaan air. Sebaran terumbu karang berdasarkan kedalaman yang sangat berbeda dikarenakan bentuk atau tipe-tipe terumbu karang itu sendiri. Terumbu karang tipe bercabang (Branching) akan bertahan hidup pada kedalaman di bawah 10 meter karena mampu memecahkan hantaman ombak, sehingga karang bercabang lebih mendominasi pada kedalaman 11 meter ke atas. Pertumbuhan, penutupan dan kecepatan tumbuh karang berkurang secara eksponensial dengan kedalaman. Faktor utama yang mempengaruhi sebaran vertikal adalah intensitas cahaya, oksigen, suhu dan kecerahan.Titik kompensasi binatang karang terhadap cahaya adalah pada intensitas cahaya antara 200 – 700 f.c. (atau umumnya terletak antara 300-500 f.c.).sedangkan intensitas cahaya secara umum permukaan laut 2500 – 5000 f.c.

4. Sedimen

(9)

karang secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tidak langsung adalah melalui penetrasi cahaya dan banyaknya energi yang dikeluarkan oleh binatang karang untuk menghalau sedimen tersebut, yang berakibat turunnya laju pertumbuhan karang.Sedimen dapat langsung mematikan binatang karang, yaitu apabila sedimen tersebut berukuran cukup besar dan banyak jumlahnya sehingga menutupi polyp (mulut) karang.

Bahwa ada sedimen yang dikenal dengan carbonat sediment, yaitu sedimen yang berasal dari erosi karang-karang. Secara fisik ataupun biologis

(bioerosion). Bioeorsi ini biasanya dilakukan oleh hewan-hewan laut, seperti bulu

(10)

berperan dalam proses sedimentasi. Sedimen dari partikel lumpur padat yang dibawa oleh aliran permukaan (surface run off) akibat erosi menutupi permukaan terumbu karang. Sehingga tidak hanya berdampak negatif terhadap hewan karang, tetapi juga terhadap biota yang hidup berasosiasi dengan habitat tersebut.

E. Dampak Pencemaran Lingkungan Laut terhadap Perlindungan

Terumbu Karang

Beberapa tahun terakhir tekanan terhadap terumbu karang semakin bervariasi dan juga semakin meningkat secara kuantitas maupun kualitas.Kejadian gempa bumi yang melanda lautan Indonesia pada 2004 juga mengakibatkan kerusakan pada terumbu namun tidak dapat dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Dampak langsung dari perubahan iklim juga semakin banyak terjadi pada banyak terumbu karang. Dari analisis diperkirakan pada tahun 2015, sekitar 50% populasi dunia hidup di sepanjang pesisir, sebuah bahaya yang sangat besar terhadap masa depan terumbu karang. Peningkatan kebutuhan pangan, komersialisasi aktifitas perikanan, dan krisis ekonomi global akan berujung pada penangkapan berlebih dan penurunan stok perikanan terutama di negara-negara miskin.

(11)

Untuk mengatasi tantangan ini, kita semua perlu bekerja bersama. Dan terlibat dalam konservasi bisa dimulai dari hal yang sangat mudah. Mulai dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan sendiri, bergabung dengan gerakan-gerakan sukarela, atau dengan terlibat langsung di kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan konservasi.

Banyak juga sebenarnya inisiatif dan upaya-upaya yang cukup komprehensif untuk konservasi, yang sudah dilakukan banyak pihak yang bisa menginspirasi.23

Segitiga terumbu karang dunia, adalah sebuah wilayah yang meliputi negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Laporan tersebut mengungkapkan kerusakan terutama disebabkan oleh pengambilan ikan secara berlebihan, polusi di wilayah pesisir dan pembangunan di sepanjang pesisir pantai.

Laporan terbaru yang dirilis oleh kolaborasi antar-lembaga

World Resources Institute, USAID Coral Triangle Support Partnership, WWF,

The Nature Conservancy dan Conservation International yang selama ini

membantu pelaksanaan lapangan dalam program segitiga terumbu karang atau

Coral Triangle Initiative di enam negara mengungkapkan bahwa 85% terumbu

karang di wilayah segitiga ini terancam oleh aktivitas manusia.

24

Laporan berjudul Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle ini juga menyebutkan, jika ketiga ancaman di atas digabungkan dengan pemutihan karang akibat kematian alga, yang diakibatkan oleh kenaikan temperature air laut, maka

(diakses tanggal 1 Mei 2015).

(12)

persentase ancaman bagi terumbu karang menjadi 90% dari seluruh area segitiga terumbu karang ini.

Laporan yang diterbitkan di simposium terumbu karang internasional ke-12 di Cairns, Australia ini mengingatkan kembali kerentanan terumbu karang terhadap berbagai ancaman dari berbagai aktivitas yang dilakukan manusia. Sepanjang wilayah segitiga terumbu karang, komunitas pesisir tergantung pada terumbu karang untuk ketersediaan pangan, kehidupan dan perlindungan pada saat badai melanda, namun ironisnya ancaman di wilayah-wilayah ini justru sangat tinggi, Terumbu karang itu kokoh mereka bisa merehabilitasi diri dari proses pemutihan dan dampak buruk lainnya terutama jika ancaman lainnya cenderung rendah. Terumbu karang yang menguntungkan ini kini dalam bahaya, itu sebabnya tindakan nyata untuk mencegah ancaman bagi karang-karang di sepanjang wilayah segitiga terumbu karang ini sangat penting.”

Segitiga terumbu karang memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa di dalamnya terdapat nyaris 30% dari terumbu karang dunia dan memiliki lebih dari 3000 spesies ikan- dua kali lipat dari jumlah yang ditemukan dimana pun di dunia ini. Lebih dari 130 juta orang hidup bergantung pada ekosistem pesisir untuk mendapatkan pangan, pekerjaan, dan keuntungan dari pariwisata laut.

(13)

pariwisata, pengobatan dan berbagai jasa lain dari lingkungan yang disediakan oleh terumbu karang ini.”25

Laporan ini kembali membahas betapa rentannya terumbu karang dan berbagai faktor yang membuatnya musnah. Laporan ini mengungkapkan bahwa: Lima dari enam negara yang ada dalam wilayah segitiga terumbu karang, berada pada daftar negara paling rentan terhadap dampak sosial dan ekonomi akibat hilangnya layanan terumbu karang seperti makanan, pekerjaan, dan perlindungan garis pantai.

Alan White, seorang kontributor laporan ini dan ilmuwan senior di The

Nature Conservancy dan mitra dalam CTSP, mencatat bahwa “Sementara masih

ada ruang untuk perbaikan dalam meningkatkan efektivitas MPA, terutama Kawasan Konservasi Laut yang besar yang memerlukan sumber daya yang signifikan untuk mengelola, banyak kemajuan telah dibuat dalam membangun kesadaran tentang perlindungan terumbu karang di tingkat lokal dan memberikan masyarakat dengan perangkat dan sumber daya untuk mengelola terumbu karang tempat mereka bergantung.

Dianggap sebagai pusat keanekaragaman karang di dunia, laporan Reefs at

Risk Revisited in the Coral Triangle menggambarkan kerentanan terumbu karang

di wilayah ini dan menyoroti strategi untuk melindungi mereka. Diantara rekomendasi yang ditawarkan dalam laporan untuk melindungi terumbu karang di segitiga karang dunia, yang paling mendesak adalah untuk mengurangi tekanan

25

(14)

lokal seperti penangkapan berlebih, penangkapan ikan yang merusak, dan lepasnya terumbu karang dari tanah.

Reefs at Risk Revisited in the Coral Triangle merupakan kontribusi

penting untuk mendukung negara-negara yang ada di wilayah dalam membuat keputusan penting terkait dengan perlindungan sumber daya laut mereka,” kata Maurice Knight, salah satu kontributor dan Team Leader untuk CTSP. Perspektif keluasan wilayah pada status terumbu karang seperti yang digambarkan dalam laporan ini menunjukkan mendesaknya situasi dan perlunya tindakan segera.

Terumbu yang sehat lebih mungkin untuk bertahan hidup dari efek negatif perubahan iklim, seperti pemutihan karang (coral bleaching) yang disebabkan oleh kenaikan suhu air laut atau tingkat pertumbuhan karang berkurang karena keasaman laut meningkat. Menanggulangi ancaman lokal di awal akan memberi kesempatan bagi terumbu karang untuk tumbuh, sampai masyarakat global dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.26 Laporan The Reefs at Risk Revisited in the

Coral Triangle menginformasikan kegiatan Coral Triangle Initiative on Coral

Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF), sebuah kemitraan multilateral

yang dibentuk pada tahun 2009 oleh enam negara Segitiga Karang untuk mempromosikan penangkapan ikan yang berkelanjutan, meningkatkan pengelolaan MPA, memperkuat adaptasi perubahan iklim, dan melindungi spesies yang terancam di wilayah tersebut.

26

(15)

F. Pengaturan Pengelolaan Terumbu Karang dan Lingkungan Hidup dalam

Hukum Internasional

UNCLOS 1982 is the principal Convention regarding theuse of the ocean and its resources. UNCLOS grantsevery State ‘the right to establish the breadth of itsterritorial sea up to a limit not exceeding twelve nauticalmiles, measured from baselines determined inaccordance with this Convention.’The Conventionstates that ‘waters on the landward side of the baselineof the territorial sea form part of the internal waters ofthe State.’ Moreover, Articles 56 and 57 of the Convention give coastal States sovereign rights in an‘exclusive economic zone’ up to 200 miles. Becausemost reef formations are limited to waters of less than50 meters depth, this places the majority of coral reefswithin some States’ internal waters and exclusivejurisdiction.

(16)

economic zone is not endangered by overexploitation.’ UNCLOS contains many positive obligations that affect marine resources in national waters, such as coral. Part XII of the Convention sets forth many of the international legal requirements pertaining to the marine environment, including a system for enforcing those requirements. Article 192 sets forth the generalobligation ‘to protect and preserve the marineenvironment.’ Article 193 recognizes the ‘sovereign rightof States to exploit their natural resources’ but this issubject to the ‘duty to protect and preserve the marineenvironment.’ Some of the special requirementsinclude taking measures necessary to ‘prevent, reduceand control pollution of the marine environment,’ and to ensure that activities ‘are so conducted as not to causedamage by pollution to other States and their environments.’States must consider all sources of pollution to the marine environment, including thefollowing: harmful or noxious substances from land based sources, the atmosphere, or dumping; pollutionfrom vessels; and contamination from other installations used to explore the seabed and subsoil.27

UNCLOS adalah konvensi pokok yang mengatur mengenai penggunaan laut dan sumber dayanya. UNCLOS mengizinkan setiap negara 'memiliki hak untuk mendirikan luas laut teritorial sampai batas yang tidak melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang ditentukan. Sesuai dengan konvensi ini.28 Konvensi ini menyatakan bahwa air di sisi darat dari base line dari laut teritorial merupakan bagian dari perairan pedalaman suatu negara.29

27

United Nations Convention on the Law of the Sea, Montego Bay, 10 December 1982, 21 ILM 1261 (1982). (hereafter UNCLOS).

Selain itu, Pasal 56

28 Ibid. 29

(17)

dan 57 dari konvensi ini memberikan hak negara pantai dalam ‘zona ekonomi eksklusif' hingga 200 miles.30 Karena kebanyakan formasi karang terdapat dibatas perairan kurang dari kedalaman 50 meter, ini menjadikan mayoritas terumbu karangdalam perairan pedalaman beberapa negara dan yurisdiksi eksklusif. UNCLOS adalah perjanjian penting dalam pengembangan hukum lingkungan internasional karena mengandung banyak ketentuan konservasi yang berorientasi. Secara khusus, menuntut suatu negara untuk melindungi dan menjaga spesies laut mereka, bahkan dalam perairan pedalaman.31 Pembukaan UNCLOS menyatakan bahwa di antara tujuan utama dari konvensi ini adalah perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. UNCLOS memberikan pernyataan yang komprehensif pertama dari hukum internasional di masalah gerakan menuju peraturan berdasarkan pada konsepsi yang lebih holistik dari laut sebagai sumber daya yang dapat diperbaharui dan terbatas.32 Pengelolaan sumber daya bahkan dalam zona ekonomi eksklusif Negara pantai, UNCLOS menyatakan bahwa negara pantai harus memastikan melalui tindakan konservasi dan pengelolaan yang tepat dalam pemeliharaan sumber kekayaan hayati di zona ekonomi eksklusif (ZEE) tidak terancam oleh eksploitasi berlebihan33

Pengaturan hukum internasional tentang perlindungan terhadap lingkungan laut antara lain:

1. Konferensi Stockholm Tahun 1972

(18)

Dalam sejarah hukum laut internasional, perlindungan lingkungan laut sebenarnya lebih tua umurnya daripada konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum Laut. Keprihatinan dan perlindungan hukum laut sebagai suatu masalah global untuk pertama kalinya dinyatakan oleh Prof. Arvid Pardo dari Malta di dalam gagasannya mengenai “Common Heritage of

Mankind”, yang diajukan dalam suatu pidato yang diucapkan dalam Sidang

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di tahun 1967. Keprihatinan yang didukung oleh seluruh dunia akan perlu adanya perlindungan terhadap lingkungan kehidupan manusia dalam skala global dinyatakan secara jelas sekali dalam Konferensi Stockholm tahun 1972.

Konferensi Stockholm mengakui hak asasi manusia, hak asasi setiap orang untuk atau akan suatu lingkungan yang baik dan sehat. Pada waktu yang sama, pernyataan itu juga memberikan kewajiban untuk memelihara lingkungan hidup manusia sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang. Asas Stockholm itu selanjutnya meletakkan dasar-dasar bagi penggunaan, pengawetan, dan pelestarian sumber kekayaan alam didasarkan suatu alami sedemikian rupa sehingga memungkinkan menjaga daya dukung planet bumi, sumber kekayaan alam dapat dikelola dengan baik, Depletion dicegah, dan penggunaan lingkungan dapat dinikmati oleh seluruh manusia. Inilah pokok konsep “Common Heritage of Mankind” sebagaimana yang dianjurkan oleh Prof. Pardo dari Malta.

(19)

the seas bysubstance that are liable to create hazard to human healt, to harm

livingresources and marine live, to damage amenities or to interfere with other

legitimate uses of the sea”.(Negara berkewajiban untuk mengambil

tindakan-tindakan guna mencegah pencemaran laut yangmembahayakan kesehatan dan kesejahteraan manusia, sumber kekayaan hayati laut terhadap penggunaan lingkungan laut). Kerangka konsepsional untuk pendekatan global terhadap perlindungan laut yang didasarkan atas asas-asas ekologi diletakkan dalam Konferensi Stockholm 1972 yang kemudian menjadi tugas bagi Konferensi Hukum Laut PBB yang ke III untuk merumuskan asas-asas ini kedalam ketentuan-ketentuan hukum.

2. Convention on The Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and

Other Matter (London Dumping) 1972 and 1996 Protocol Thereto

Convention on The Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes

and Other Matter atau yang lebih dikenal dengan London Dumping adalah

konvensi internasional yang ditandatangi pada tanggal 29 Desember 1972 dan mulai berlaku pada 30 Agustus 1975 dan merupakan perpanjangan dari isi Konvensi Stockholm. Konvensi ini secara garis besar membahas tentang larangan dilakukannya pembuangan limbah di lingkungan laut secara sengaja.

(20)

menimbulkan kewajiban bagi peserta protokol untuk mengambil langkah-langkah yang efektif, baik secara sendiri atau bersama-sama, sesuai dengan kemampuan keilmuan, teknik dan ekonomi mereka guna mencegah, menekan dan apabila mungkin menghentikan pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan atau pembakaran limbah atau bahan berbahaya lainnya di laut.

4. International Convention for the Prevention of Pollution from Ship 1973/1978

(MARPOL 1973/1978)

International Convention for the Prevention of Pollution from Ship atau

Marpol adalah sebuah peraturan internasional yang bertujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran di laut. Isi dari Marpol bukan melarang pembuangan zat-zat pencemar ke laut, tetapi mengatur cara pembuangannya, agar dengan pembuangan tersebut laut tidak tercemar (rusak), dan ekosistem laut tetap terjaga

Marpol memuat 6 (enam) Annexes yang berisi regulasi-regulasi mengenai pencegahan polusi dari kapal yang berupa minyak, cairan Nox berbentuk curah, barang-barang berbahaya dalam kemasan, air kotor atau air pembuangan, sampah, dan polusi udara.

5. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982 (UNCLOS 1982)

(21)

a. Konferensi Kodifikasi Den Haag 1930 (The Hague Codification

Conference in 1930) di bawah naungan Liga Bangsa-Bangsa.

b. Konferensi PBB tentang Hukum Laut I tahun 1958 (The First UN

Conference on the Law of the Sea in 1958).

c. Konferensi PBB tentang Hukum Laut II tahun 1960 (The Second UN

Conference on the Law of the Seain 1960).

d. Konferensi Hukum Laut III tahun 1982 (The Third UN Conference on the

Law of the Sea 1982) yang menghasilkan United Nation Convention on the

Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982).

e. UNCLOS 1982 merupakan puncak karya dari upaya dunia internasional atas pembentukan rezim hukumlaut secara menyeluruh yang disetujui di Montego Bay, Jamaica, pada tanggal 10 Desember 1982. Pada hari pertama penandatanganan, UNCLOS 1982 telah ditandatangani oleh negara. UNCLOS 1982 dikenal juga sebagai Konstitusi Lautan

(Constitution for the Ocean). UNCLOS 1982 merupakan salah satu

(22)

BAB IV

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN TERUMBU KARANG TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP DI

INDONESIA DITINJAU DARI HUKUM INTERNASIONAL

A. Penegakan Hukum Terhadap Pengelolaan Terumbu Karang dalam

Perspektif Hukum Nasional dan Hukum Internasional

Keberadaan terumbu karang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan baik yang bersifat fisik maupun kimia.Pengaruh itu dapat mengubah komunitas karang dan menghambat perkembangan terumbu karang secara keseluruhan. Kerusakan terumbu karang pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor fisik, biologi dan karena aktivitas manusia. Penegakan hukum lingkungan khususnya atas perusakan terumbu karang tidak dapat hanya diandalkan pada ketegasan atau kerasnya penegakan hukum tersebut. Penegakan hukum yang dikehendaki ialah penegakan hukum yang tegas, tetapi arif dan bijaksana.

(23)

Masalah penegakkan hukum menjadi sorotan yang sangat tajam oleh masyarakat yang menilai bahwa penegakkan hukum berada pada titik yang terendah dikarenakan adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

Ketidakpercayaan masyarakat itu dapat terjadi karena berbagai sebab, antara lain :

1. Lemahnya perangkat undang-undang yang ada.

2. Kurangnya ketegasan aparat dalam praktek penetakkan hukum di lapangan. 3. Kurangnya kordinasi diantara aparat penegak hukum.

4. Kurangnya sarana dan prasarana pendukung.

5. Kurangnya pengetahuan aparat penegak hukum terhadap aspek lingkungan hidup dan terumbu karang khususnya.

6. Tidak adanya yurisprudensi terdahulu terhadap kasus-kasus lingkungan.

Oleh sebab itu selain daripada upaya-upaya peningkatan kesadaran dan ketaatan masyarakat sudah saatnya dilaksanakan Law Enforcement dengan lebih tegas terhadap para pelaku / pelanggar ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup maupun dibidang perikanan dan pelestarian alam.

(24)

terumbu karang dapat ditimbulkan oleh dua penyebab utama, yaitu akibat kegiatan manusia dan akibat alam.34

Dengan mencermati kondisi kerusakan terumbu karang yang memprihatinkan itu, maka eksploitasi terhadap sumberdaya lingkungan terumbu karang menjadi permasalahan serius. Meskipun eksploitasi sumber daya lingkungan bukanlah sesuatu yang tabu, karena memang Tuhan menciptakan alam beserta isinya untuk manusia. Mengambil manfaat dari sumberdaya yang tersedia bagi kelangsungan hidup manusia merupakan sesuatu yang logis, namun ia tidak berarti manusia boleh semena-mena terhadap sumber daya alam. Bagaimana pun juga pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya lingkungan, khususnya terumbu karang harus dilakukan dalam batas-batas tertentu dan senantiasa memahaminya sebagai sebuah mata rantai dalam kehidupan manusia dan alam.

Sebagian menilai bahwa, penanggulangan kerusakan terumbu karang tidak mudah karena berkait dengan berbagai aspek. Akar masalahnya adalah ketidaktahuan masyarakat akan fungsi ekosistem, tekanan ekonomi masyarakat pesisir, kerakusan mengeksploitasi sumber daya kelautan, lemahnya penegakan hukum, dan tidak ada kebijakan pengelolaan yang dapat dijadikan acuan. Pandangan ini tentu saja bukan memperbaiki keadaan, melainkan justru melemahkan upaya penanggulangan kerusakan terumbu karang karena sejak semula kita sudah mengambil sikap sulit.Terhadap kondisi yang memprihatinkan itu sebenarnya yang kita perlukan adalah penegakan hukum dan pembuatan

(25)

peraturan perundang-undangan yang jelas dalam pengelolaan sumber daya terumbu karang yang memuat banyak kepentingan.

Kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya degradasi terumbu karang antara lain;

1. Penangkapan ikan dengan menggunakan bahan dan/atau alat yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan lingkungannya;

2. penambangan dan pengambilan karang; 3. penangkapan yang berlebih;

4. pencemaran perairan;

5. kegiatan pembangunan di wilayah pesisir; 6. kegiatan pembangunan di wilayah hulu.

Persoalan kerusakan terumbu karang seperti yang kita saksikan hari ini, sebenarnya tidak lebih dari adanya pembiaran selama bertahun-tahun dan terlambat disadari sebagai sebuah ancaman masa kini dan mendatang.Karena itu yang diperlukan sebenarnya adalah komitmen penegakkan hukum yang kuat. Sekalipun sangat dipahami kerusakan lingkungan merupakan ancaman serius terhadap sumber pangan manusia, tetapi pelaku perusakan ekosistem terumbu karang belum diakomodir sebagai kejahatan luar biasa seperti ilegal logging dan

ilegal fishing, bahkan seperti tindak pidana korupsi. Penegakan hukum di negeri

(26)

Dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) dinyatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 33 ayat (3) ini merupakan landasarn yuridis dan sekaligus merupakan arah bagi pengaturan terhadap hal yang berkaitan dengan sumberdaya terumbu karang.Selain itu salah satu tujuan dari Strategi Konservasi Dunia Tahun 1980 adalah menetapkan terumbu karang sebagai sistem ekologi dan penyangga kehidupan yang penting untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan berkelanjutan.

B. Perlindungan Hukum terhadap Pengelolaan Terumbu Karang dalam

Perspektif Hukum nasional dan Hukum Internasional

Pasal 192 konvensi Hukum Laut 1982 menegaskan bahwa setiap negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan lautnya. Kewajiban ini kemudian disusul dengan pemberian hak kepada negara atas pengelolaan sumber daya alamnya di laut. Hak tersebut diatur dalam Pasal 193. Karena itulah, konvensi ini mewajibkan setiap negara untuk mencegah (prevent), mengurangi (reduce), dan mengendalikan (control) pencemaran lingkungan laut yang terjadi di wilayahnya.

(27)

orang-orang yang hidup di daerah yang berada di bawah kekuasaan Roma pada masa itu.35

Berikut ini akan diuraikan beberapa aspek penting yang diatur di dalam UNCLOS 1982 terkait mengenai perlindungan dan pelestarian lingkungan laut (Bab XII UNCLOS 1982),yaitu:

Pendekatan dasar konvensi terhadap pencemaran laut diletakkan dalam Pasal 194-196. Dalam Pasal 194 menyatakan bahwa negara-negara harus mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk mencegah, mengurangi, dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut dari sumber apapun. Dalam mengambil tindakan-tindakan pencegahan, pengurangan dan mengendalikan pencemaran tersebut, setiap negara harus melakukannya dengan sedemikian rupa agar tidak memindahkan kerusakan atau bahaya tersebut, dari suatu daerah ke daerah lain, atau mengubahnya dari suatu jenis pencemaran ke pencemaran lain (Pasal 195).

Kemudian Pasal 196 Konvensi ini memberikan kewajiban kepada setiap negara untuk mengambil segala tindakan guna mencegah, mengurangi dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi di bawah yurisdiksi atau pengawasannya. Hal tersebut dapat dilakukan misalnya dengan cara mengatur, menilai, dan menganalisa berdasarkan metode ilmiah mengenai resiko atau akibat pencemaran lingkungan laut (Pasal 204).

35

(28)

Konvensi ini memberikan kewajiban kepada setiap negara untuk melakukan kerjasama baik regional maupun global guna melindungi dan melestarikan lingkungan lautnya, kewajiban tersebut diletakkan pada Pasal 197-201 UNCLOS 1982.

Kerja sama regional dan global tersebut dapat berupa kerja sama dalam pemberitahuan adanya pencemaran laut, penanggulangan bersama bahaya atas terjadinya pencemaran laut, pembentukan penanggulangan darurat (contingency

plans against pollution), kajian, riset, pertukaran informasi dan data serta

membuat kriteria ilmiah (scientific criteria) untuk mengatur prosedur dan praktik bagi pencegahan, pengurangan, dan pengendalian pencemaran lingkungan laut sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 198-201 UNCLOS 1982.

UNCLOS menentukan bahwa negara-negara maju memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan secara teknis kepada negara berkembang dalam rangka perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Bantuan teknis tersebut dapat berupapelatihan tenaga teknis dan ilmiah, partisipasi dalam program-program internasional, bantuan peralatan, pelatihan pembuatan pralatan-peralatan yang diperlukan, dan pengembangan riset, monitoring, pendidikan, dan program-program lainnya (Pasal 202).

(29)

organisasi-organisasi internasional dalam alokasi dana dan bantuan teknis beserta pemanfaatannya (Pasal 203).

Konvensi ini mengatur mengenai kewajiban untuk membuat peraturan perundang-undangan tentang pencegahan dan pengendalian pencemaran yang berasal dari segala sumber, yaitu sumber dari darat, kegiatan-kegiatan di bawah yurisdiksi negara, kendaraan air, dumping, dan udara/atmosfer.Ketentuan ini dimuat dalam Pasal 207-212.

Pembuatan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan dan pelestarian lingkungan laut yang diwajibkan oleh UNCLOS 1982 tersebut harus diikuti dengan penegakan hukumnya. Penegakan hukum tersebut harus dilakukan oleh negara-negara bendera, negara pelabuhan, dan negara pantai. Sebagaimana diatur dalam Pasal 213-222 UNCLOS 1982.

Penegakan hukum oleh negara pelabuhan, negara bendera, dan negara pantai harus diikuti dengan tindakan pengamanan. Hal ini sesuai dengan Pasal 223-233 UNCLOS 1982. Pengamanan tersebut berupa fasilitas dalam hal penuntutan. Misalnya, pengadilan yang berwenang, perlengkapan armada penangkapan kapal asing yang diduga melakukan pelanggaran seperti kapal perang/militer dengan sumber daya manusia yang memadai.Tetapi tindakan pengamanan ini, tidak boleh mengganggu keselamatan pelayaran.

(30)

menyangkut perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. Karena itu, setiap negara harus menjamin tersedianya upaya dalam sistem perundang-undangannya mengenai cara memperoleh ganti rugi yang segera dan memadai yang berkenaan dengan kerusakan yang disebabkan oleh orang perorangan atau badan hukum yang berada di bawah yurisdiksinya. Untuk menjamin hal tersebut, maka setiap negara harus bekerjasama dalam mengimplementasikan hukum internasional yang mengatur tanggung jawab dan kewajiban ganti rugi untuk kompensasi atas kerugian akibat pencemaran lingkungan laut, dan juga prosedur pembayarannya.

Ketentuan tentang perlindungan dan pelestarian lingkungan laut dalam Konvensi Hukum Laut 1982 tersebut tidak berlaku bagi kapal perang, kapal bantuan, kapal atau pesawat udara lainnya yang dioperasikan negara untuk kepentingan pemerintah yang bukan komersial, tetapi operasi tersebut harus sesuai dengan konvensi sebagaimana diatur oleh Pasal 236-237.

Sebagai langkah awal dari tindak lanjut UNCLOS 1982, maka pada tahun 1996, dikeluarkanlah Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia. Undang-undang ini merupakan payung bagi peraturan perundang-undangan lainnya di bidang kelautan, termasuk perlindungan lingkungan laut.

(31)

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH), perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan untuk: “melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”.

Jika dikaitkan dengan lingkungan laut, ketentuan Pasal 3 huruf a UUPPLH ini bertujuan untuk melindungi perairan Indonesia dari berbagai kerusakan yang diakibatkan oleh kegiatan yang dilakukan di luar maupun di dalam yurisdiksi Indonesia.

Jadi, undang-undang ini dapat diberlakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang menyebabkan kerusakan atau pencemaran laut, yang dilakukan di dalam maupun di luar yurisdiksi Indonesia. Selanjutnya dalam Pasal 67 Undang-undang ini menentukan bahwa "Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup".Karena itu, apabila terjadi pelanggaran terhadap ketentuan ini, asas tanggung jawab mutlak (strict liability) dapat diterapkan, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 88 Undang-undang ini. Ketentuan Pasal 88 UUPLH ini telah sejalan dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 235 UNCLOS 1982 mengenai tanggung jawab dan kewajiban ganti rugi.

(32)

Pasal 8 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973, mewajiban setiap orang yang melakukan kegiatan-kegiatan di Landas Kontinen Indonesia agar mengambil langkah untuk mencegah terjadinya pencemaran air laut di landas kontinen Indonesia dan udara di atasnya. Kemudian dalam Pasal 8 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983, mewajibkan kepada setiap orang yang melakukan kegiatan di ZEEI untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah, mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan laut. Sehingga apabila terjadi kerusakan atau pencemaran, maka setiap pelaku pengrusakan dan pencemaran tersebut akan dibebankan tanggungjawab mutlak dan membayar biaya rehabilitasi lingkungan laut dengan segera dan dalam jumlah yang memadai. Selain tanggung jawab mutlak berupa ganti rugi, Undang-undang ini juga memuat tentang sanksi pidana terhadap pelaku pengrusakan atau pencemaran di ZEE.Ketentuan ini diatur dalam Pasal 16 ayat (3).

(33)

”Landas Kontinen Indonesia adalah dasar laut dan tanah di bawahnya di luar perairan wilayah Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Prp. Tahun 1960 sampai kedalaman 200 meter atau lebih, dimana masih mungkin diselenggarakan eksplorasi dan eksploitasi kekayaan alam”.

Jika melihat bunyi pasal di atas, jelaslah bahwa dasar yang digunakan oleh Undang-undang ini dalam penentuan batasan Landas Kontinen Indonesia sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum laut saat ini (UNCLOS 1982), karena Undang-undang Nomor 4 Prp. Tahun 1960 Tentang Perairan Indonesia masih mengadopsi konsep Landas Kontinen yang ada dalam Konvensi Jenewa 1958. Selain itu, Undang-undang ini juga telah dicabut dan digantikan dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia, yang telah mengadopsi ketentuan-ketentuan UNCLOS 1982.

(34)

Meskipun telah ada peraturan yang mengatur secara khusus mengenai pencemaran yaitu PP Nomor 19 tahun 1999. Tetapi, muatan materi dari PP tersebut belum memadai dan belum mengakomodir semua ketentuan-ketentuan yang diwajibkan UNCLOS 1982 di bidang perlindungan lingkungan laut khususnya pada Bagian 5 Bab XII (Pasal 207 sampai 212) UNCLOS 1982.

Ketentuan mengenai perlindungan lingkungan laut juga terdapat dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang mana dalam Undang-undang tersebut mengamanatkan Perlindungan Lingkungan Maritim di dalamnya. Perlindungan lingkungan maritim yang dimaksud dalam Undang-undang ini adalah kondisi terpenuhinya prosedur dan persyaratan pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan, pengoperasian kapal.Pengangkutan limbah dan bahan bahan berbahaya di perairan, dan pembuangan limbah di perairan.

Dalam hal perlindungan dan pengelolaan sumber daya hayati di laut, Pasal 4 ayat (1) Undang-undang ZEE menyatakan bahwa di ZEE, Indonesia mempunyai dan melaksanakan hak-hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati dan non hayati di dasar laut dan tanah dibawahnya serta air di atasnya dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan eksplorasi dan eksploitasi ekonomis zona tersebut, misalnya, pembangkit tenaga dari air, arus dan angin.

(35)

Indonesia atau berdasarkan persetujuan internasional dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Selanjutnya dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang perikanan menyatakan bahwa wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, meliputi perairan Indonesia dan ZEE. Sedangkan perairan di luar batas yurisdiksi nasional diselenggarakan berdasarkan peraturan perundang-undangan, persyaratan, dan/atau standar internasional yang diterima secara umum.

(36)

Tujuan dari Penetapan larangan tersebut adalah agar terjadi konservasi sumber daya ikan. Karena penggunaan alat penangkapan ikan dengan menggunakan alat penangkapan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dikhawatirkan akan terjadi pengurangan terhadap sumber daya ikan yang terdapat di sekitar wilayah laut dan pesisir tersebut.36

Jadi, kedua Undang-undang Perikanan ini tidak dapat dipisahkan dan bersifat saling melengkapi, sehingga dapat dianggap sebagai undang-undang yang mengatur aspek aspek yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya ikan yang bertanggungjawab. Dengan demikian ketentuan Undang-undang Perikanan telah mengimplementasikan beberapa ketentuan UNCLOS 1982 dan Persetujuan PBB tentang Persediaan Ikan 1995.

Kemudian, Undang-undang perikanan ini juga memiliki kelebihan yaitu ketentuan Undang-undang ini tetap berlaku bagi kapal berbendera Indonesia yang melakukan penangkapan ikan, meskipun berada di luar wilayah perikanan Republik Indonesia yaitu laut lepas.

Selanjutnya, peraturan tentang perlindungan spesies juga terdapat dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya beserta peraturan turunannya. Tujuan dari konservasi sumber daya alam hayati menurut Undang-undang ini adalah a) mewujudkan kelestarian sumber daya hayati; b) untuk keseimbangan ekosistem; c) upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

36

(37)

Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan, yakni a) perlindungan sistem penyangga kehidupan;b) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c) pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.37

Berbeda dengan Undang-undang Perikanan, yang tidak mengatur perlakuan yang dilarang terhadap biota laut yang dilindungi, tetapi di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 secara tegas menetapkan bahwa setiap orang dilarang untuk: a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara,

mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Perlindungan dan pengelolaan sumber daya hayati tidak hanya terbatas pada sumber daya ikan, dan spesies yang terancam punah semata. Tetapi juga meliputi

37

(38)

perlindungan dan pelestarian terhadap terumbu karang yang merupakan rumah bagi makhluk hidup yang ada di laut. Karena it keberlanjutan sumberdaya perikanan, termasuk di dalamnya adalah terumbu karang.

Dalam menjamin terlaksananya upaya-upaya tersebut di atas, maka diterapkanlah sanksi bila terjadi pelanggaran. Sanksi akan dikenakan misalnya bila secara sengaja seseorang melakukan penangkapan ikan dan/atau melakukan budidaya menggunakan bahan peledak, bahan kimia, bahan biologis, dan/atau dengan cara-cara yang merusak.

Namun, Undang-Undang Perikanan tidak secara khusus mengatur tentang pengelolaan terumbu karang. Karena itu, diterbitkanlah Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 38/Men/2004 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Terumbu Karang. Dengan berpegang pada pedoman ini diharapkan pengelolaan terumbu karang dilakukan secara seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Untuk mencapai harapan di atas, maka dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut, ditetapkan 9 strategi yang mencakup:

a. Strategi 1. Memberdayakan masyarakat pesisir yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada pengelolaan ekosistem terumbu karang;

b. Strategi 2. Mengurangi laju degradasi terumbu karang;

(39)

d. Strategi 4. Merumuskan dan mengkoordinasikan program-program instansi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta, dan masyarakat yang diperlukan dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat;

e. Strategi 5. Menciptakan dan memperkuat komitmen, kapasitas, dan kapabilitas pihak-pihak pelaksana pengelola ekosistem terumbu karang;

f. Strategi 6. Mengembangkan, menjaga serta meningkatkan dukungan masyarakat luas dalam upaya-upaya pengelolaan ekosistem terumbu karang secara nasional dengan meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat mengenai arti penting nilai ekonomis dan ekologis dari terumbu karang;

g. Strategi 7. Menyempurnakan berbagai peraturan perundang-undangan serta mendefinisikan kembali kriteria keberhasilan pembangunan suatu wilayah agar lebih relevan dengan upaya pelestarian lingkungan ekosistem terumbu karang; h. Strategi 8. Meningkatkan dan memperluas kemitraan antara pemerintah,

pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, swasta, LSM, dan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya terumbu karang secara berkelanjutan;

i. Strategi 9. Meningkatkan dan mempertegas komitmen pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat serta mencari dukungan lembaga dalam dan luar negeri dalam penyediaan dana untuk mengelola ekosistem terumbu karang.

(40)

Berikut ini akan diuraikan secara singkat kerjasama internasional yang telah dilakukan Indonesia. sebagai berikut:

1. Konvensi Kelautan Manado(Manado Ocean Declaration)Tahun 2009

Konvensi Kelautan Manado disepakati dalam Konferensi Kelautan Dunia

(World Ocean Conference/WOC) di Manado.Konvensi ini terdiri atas 14 paragraf

pembuka inti dan 21 poin kesepakatan operatif. Beberapa poin hasil kesepakatan Konvensi Kelautan Manado, antara lain:

a) Komitmen negara-negara untuk melakukan konservasi laut jangka panjang, menerapkan manajemen pengelolaan sumber daya laut dan daerah pantai dengan pendekatan ekosistem (Poin 1);

b) Strategi nasional untuk pengelolaan ekosistem laut dan kawasan pantai terutama mangrove, lahan basah, lamun, dan terumbu karang (Poin 2)

c) Kesepakatan untuk mengurangi pencemaran laut, daerah pesisir dan daratan dan memajukan pengelolaan perikanan berkelanjutan yang sesuai dengan perjanjian dan peraturan internasional yang relevan dalam rangka meningkatkan kesehatan dan daya lenting ekosistem pesisir dan laut (Poin 4);

d) Dukungan finansial dan insentif untuk membantu negara-negara berkembang mewujudkan lingkungan yang baik bagi komunitas yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim (Poin 10);

(41)

2. Memorandum of Understanding (MoU) between the Government of Australia

and Indonesia on Oil Pollution Preparedness and Response 1996.

MoU ini bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan hubungan

kerjasama antara kedua negara dalam hal penanggulangan pencemaran laut, terutama kondisi darurat di wilayah kedua negara tersebut. Beberapa butir-butir kerjasama MoU ini, sebagai berikut:38

a. Promosi kerjasama yang saling menguntungkan dalam tahap kesiapan guna merespon polusi minyak di laut;

b. Kerjasama pertukaran informasi terhadap insiden pencemaran minyak di laut;

c. Inspeksi lapangan pada lokasi insiden minyak di laut yang sedang terjadi dengan kerjasama yang saling menguntungkan antar kedua belah pihak; d. Pelatihan dan pendidikan bersama untuk capacity building yang lebih baik; e. Promosi untuk melakukan riset dan penelitian di dalam menciptakan ukuran

(measures), teknik , standar dan peralatan yang diperlukan;

f. Kerjasama tanggap darurat seperti mobilisasi personil, logistik dan peralatan lain yang dibutuhkan di dalam situasi darurat, dan lain-lain.

3. MoU Sulawesi Sea Oil Spill Response Network Plan 1981

Kerjasama ini dilakukan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina tentang Penanggulangan Pencemaran oleh Minyak di Laut Sulawesi. Isi dari kesepakatan ini adalah sebagai berikut:39

MOU-1996-terhadap-tumpahan-minyak)

(42)

a. Kerjasama antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina di dalam hal menghadapi tumpahan minyak di sepanjang Selat Makasar, Laut Sulawesi dan Laut Sulu.

b. Pelatihan personil tahunan di dalam konteks MARPOLEX, dan isu terkait lainnya.

c. Mekanisme komunikasi antara focal point di masing-masing negara dalam hal perencanaan suatu operasi oil spill combat, dan lain lain. 4. Marine Pollution Exercise (MARPOLEX)

The Regional MARPOLEX diselenggarakan setiap dua tahun sekali secara

bergantian oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI dan Philippines Coast Guard. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Sulawesi Sea Oil Spill Response Network Plan 1981. Latihan gabungan yang diadakan setiap dua tahun ini merupakan bentuk implementasi dari perjanjian tersebut. Tetapi, hingga saat ini hanya Indonesia dan Filipina yang berpartisipasi dalam latihan tersebut.

5. MoU between Indonesia-Malaysia-Singapore with the Malacca Straits

Council on the Establishment of Revolving Fund Committee 1981

Kerjasama ini bertujuan untuk membuat skema sumber dana “on-call” atau dana talangan apabila terjadi operasi penanggulangan pencemaran minyak di laut yang berasal dari tumpahan kapal yang berlokasi di Selat Malaka dan Singapura.

(43)

Indonesia, Malaysia dan Singapura, masing-masing akan mengelola dana tersebut secara berotasi atau bergantian dalam jangka waktu lima tahun.

6. MoU for ASEAN Oil Spill Response Action Plan (ASEAN-OSRAP)

The ASEAN-OSRAP diadopsi pada tahun 1993, MoU ini bertujuan untuk

membantu badan-badan pemerintah negara anggota ASEAN dalam menanggapi dan merespon tumpahan minyak. Kerjasama mengandung poin-poin kerjasama sebagai berikut:40

a. Meningkatkan kemampuan negara peserta untuk merespon insiden pencemaran minyak di laut yang terjadi di wilayah negara-negara ASEAN; b. Membentuk skema kerjasama untuk pemberian bantuan yang saling

menguntungkan diantara negara anggota ASEAN;

c. Membuat prosedur pengelolaan bencana di dalam merespon insiden pencemaran minyak di laut yang terjadi di wilayah negara-negara ASEAN; d. Membuat skema bantuan eksternal dan internal yang diperlukan di dalam merespon insiden pencemaran minyak di laut yang terjadi di wilayah negara ASEAN, dan lain-lain.

7. Worl Coral Reef Confrence (WCRC)

World Coral Reef Conference (WCRC) yang baru saja dilakukan di Kota

Manado (13 - 16 Mei 2014) adalah forum pertemuan regional untuk membahas

pelestarian terumbu karang di kawasan segitiga karang dunia atau Coral Triangle

yang meliputi kawasan Malaysia di Utara Kalimantan, Philipina, Indonesia

Tengah dan Timur, Papua Nugini, Timur Leste sampai kepulauan Solomon dan

40

(44)

Australia. Kegiatan yang diprakarsai oleh 6 Negara tersebut diikuti oleh

perwakilan 37 Negara dan puluhan lembaga Internasional dengan 370 peserta

yang terdaftar termasuk 1 orang perwakilan dari Sulut Ormas Gerakan Fajar

Nusantara (GAFATAR). Mengambil lokasi di dua tempat yaitu acara Simposium

di Manado Convention Center (MCC) dan acara Konfrensi serta SOM di Grand

Kawanua International Convention (GKIC).

World Coral Reef Conference (WCRC) diselenggarakan sebagai langkah

strategis penyelamatan terumbu karang dunia yang menjadi tempat dari 25%

spesies laut di planet ini diantaranya terdiri dari 608 spesies dari 798 spesies

karang dunia dengan 2300 jenis ikan karang atau 56% ikan karang kawasan

Indo-Pasifik. Segitiga karang tersebut juga merupakan tempat dari 75% spesies

mangrove dunia dan 45% padang lamun dunia, sehingga merupakan “Amazone

Laut’, episentrum kehidupan laut dibumi yang mampu menyerap karbon 200 juta

ton/tahun. Sebuah potensi raksasa dalam menghadapi efek global warming

disamping potensi ekonomi yang besar dimana pertahun Indonesia mampu meraih

$ 1,6 miliar dan $ 1,1 miliar bagi Philipina. Sehingga dengan kegiatan ini potensi

kawasan segitiga karang dapat dilestarikan mengingat perannya yang besar dalam

menjaga kestabilan iklim dunia disamping potensi ekonomi yang dikenal dengan

istilah blue economy.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut terutama

pengetahuan dan wawasan kelautan semakin meningkat mengingat Indonesia

adalah negara kepulauan terbesar di dunia, juga perkenalan dengan duta asing dan

(45)

kegiatan-kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan seperti yang selama ini telah dilakukan

oleh Gafatar. Acara yang berlangsung sejak tanggal 13 Mei tersebut berakhir pada

tanggal 16 Mei sekaligus dirangkaikan dengan peresmian gedung CTI (Coral

Triangle Initiative).41

Baru-baru ini, yaitu pada tanggal 19-21 Maret 2012, Indonesia terpilih menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan lokakarya ASEAN-OSRAP. Kegiatan ini merupakan agenda Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang bekerja sama dengan Asosiasi Industri Migas Global untuk Isu Lingkungan dan Sosial. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meninjau dan mematangkan rencana kerja regional serta memfasilitasikan kerja sama yang harmonis antara pemangku kepentingan terkait penanggulangan pencemaran di kawasan ASEAN.

C. Kendala-kendala Perlindungan dan Pengelolaan Terumbu Karang dalam

Perspektif Hukum nasional dan Hukum Internasional

Negara tidak boleh mengizinkan pemakaian territorialnya yang menjurus pada timbulnya kerusakan pada negara lain dan prnduduk yang ada di dalamnya. Perkembangan hukum konvensi di bidang pengelolaan dan perlindungan lingkungan internasional cenderung dimulai dengan membuat perangkat hukumlunak (soft law), seperti Konvensi dan resolusi dan kemudian baru diikuti dengan pembuatan hukum keras (HardLaw) seperti konvensi dan protocol.

Merupakan satu bentuk hukum internasional; yang tidak secara langsung mengikat Negara, tetapi ia harus dipedomani untuk membentuk hukum masa

(46)

depan (the future law). Contoh softlaw ini adalah Konvensi. Sampai saat ini ada empat Konvensi utama yang merupakan softlaw bagi hukum lingkunagan internasional , yaitu Konvensi Stockholm 1972, Konvensi Nairobi 1982, Konvensi Rio 1992, dan world summit on sustainable development ( WSSD) 2002.42

HardLaw adalah suatu bentuk hukum internasional yang mempunyai

kekuatan mengikat (binding power) terhadap negara peserta (contracting parties) secara lansung sesuai dengan asas pacta sunt servanda. Hard Law ini dapat berupa treaty, convention, protocol. Dan dibagi dalam empat bagian, yaitu perlindungan lingkungan laut, perlindungan atmosfer, konservasi alam, dan bahan beracun berbahaya (B3).

UNFCC memiliki tujuan akhir untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah gangguan antropogenik yang berbahaya dengan iklim system.43 Seperti itu yang ingin dicapai dalam kerangka waktu yang cukup untuk memungkinkan ekosistem beradaptasi secara alamiah terhadap perubahan iklim , untuk memastikan bahwa produksi pangan tidak terancam dan untuk memungkinkan pembangunan ekonomi untuk melanjutkan secara berkelanjutan ('World Heritage Convention') menyediakan cara lain untuk melindungi terumbu karang. Konvensi ini di bawah naungan United Nations

Educational, Scientific, dan Budaya ('UNESCO').44

42

Sukanda Husin, Op.cit, hal 24

Ini mencatat bahwa warisan budaya dan alam dunia adalah 'semakin terancam kehancuran dan bahwa 'kerusakan atau hilangnya item dari budaya atau alam warisan merupakan

43

Framework Convention on Climate Change (FCCC), New York, 9 May 1992, 31 ILM 849 (1992).

44

(47)

pemiskinan berbahaya dari warisan dari semua bangsa dari world.45 Konvensi ini mendefinisikan 'warisan alam' sebagai fisik dan formasi biologis 'nilai universal yang luar biasa dari sudut estetika atau ilmiah view.46 Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Posisi Universal Nilai mempertahankan 'DuniaDaftar Warisan 'properti yang membentuk bagian dari budaya dan warisan alam, dengan persetujuan dari negara.47Konvensi membuat tersedia berbagai bantuan teknis dan bahkan keuangan. Hal ini mungkintermasuk bantuan dalam mendapatkan sebuah situs disertakan pada Dunia Daftar Warisan, menyediakan ahli dan lain-lain untuk membantu dengan pelestarian situs yang terdaftar, atau staf pelatihan dan spesialis dalam identifikasi dan konservasi budaya dan alam.48

Ada 160 khasiat alami pada World Heritage List.49 Sebelas dari situs tersebut mengandung terumbu karang .tiga berada di Australia, termasuk Great

Barrier Reef , dan dua berada di Indonesia.50 Belize, Meksiko, Filipina, Amerika Serikat, Inggris dan Seychelles masing-masing memiliki satu situs sesuai dengan UNEP.51

45

Ibid

Namun, India memiliki salah satu situs (Teluk Mannar) terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia yang berisi terumbu karang ekosistem. Jelas bahwa Situs Warisan Dunia menunjukkan tidak akan melindungi situs dalam menghadapi kehancuran yang disengaja seperti kehancuran Taliban dari dua patung Buddha raksasa di Afghanistan pada tahun 2001. Untuk negara seperti India yang ingin

46

UNESCO, The World Heritage List, available at http://whc.unesco.org/en/list/ 50

UNEP-WCMC, note 6 above. 51

(48)

melindungi warisan budaya dan alam mereka, Situs Warisan Dunia menunjukan tidak memberikan tingkat pengakuan , dan bahkan bantuan, yang dapat membuat perbedaan dalam menyelamatkan warisan negara itu untuk masa depan generasi.

Sama seperti kualitas tambal sulam dari India ketentuan, perjanjian dan konvensi internasional memiliki Perlindungan yang diberikan, meskipun tidak komprehensif, untu kekosistem laut. Perlindungan internasional bermakna untuk lautan hanya terjadi dalam dua dekade terakhir.Sebagian besar perjanjian internasional mengambil ekosistemPendekatan, yang penting untuk kelangsungan hidup jangka panjang terumbu karang UNCLOS menyediakan perlindungan umum untuk terumbu karang melalui kebutuhannya untuk melestarikan dan melindungi lingkungan laut. Agenda 21, diadopsi sepuluh tahun kemudian, dibangun di atas UNCLOS dan secara khusus diidentifikasi terumbu karang sebagai daerah yang tinggi prioritasnya dan mengarah pada penciptaan ICRI, internasional satgas yang ditujukan untuk pelestarian terumbu karang. World

Heritage Convention, sampai saat ini, memimpin perlindungan hukum dalam

(49)

Praktek yang muncul dalam pengelolaan laut adalah untuk membangun

no-take zone yang melarang pemanenan sumber daya laut. Upaya untuk

mengendalikan perikanan di India dan di tempat lain secara tradisional melibatkan daerah otoritas pengaturan ' pembatasan pada ukuran kapal dan kekuasaan, Total tangkapan yang diijinkan, jenis gigi, waktu dan daerah penutupan, dan ukuran.52 Saat ini, kurang dari satu persen dari landas kontinen disisihkan.53 Beberapa ilmuwan percaya bahwa pengaturan selain tidak ada zona diperlukan untuk membangun kembali tertentu perikanan habis. Regenerasi populasi ikan akan terjadi dengan memungkinkan ikan untuk dewasa, berkembang biak , dan menghasilkan lebih banyak telur. Tujuan dari mengambil alih zona adalah untuk membuat tentu saja ikan yang tumbuh besar dan berkembang biak untuk mempertahankan populasi.

52

J. Sanchirico, Marine Protected Areas as Fishery Policy: A Discussion of Potential Costs and Benefits (Resources for the Future) (2000), available at http://www.rff.org/Documents/RFF-DP-00-23-REV.pdf.

(50)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari pemaparan yang telah dipaparkan di atas dengan sesuai rumusan masalah, maka kesimpulan yang dapat diberikan di antaranya :

(51)

Republik Indonesia Nomor Per.04/Men/2010 Tentang Tata Cara Pemanfaatan Jenis Ikan dan Genetik Ikan.Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.30/Men/2010 Tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.59/Men/2011 Tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Ikan Terumbuk (Tenualosa Macrura)

2. Pengaturan pengelolaan terumbu karang dan lingkungan hidup dalam hukum internasional, antara lain Konferensi Stockholm Tahun 1972,

Convention on The Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes

and Other Matter(London Dumping) 1972 and 1996 Protocol Thereto,

International Convention for the Prevention of Pollution from Ship

1973/1978 (MARPOL 1973/1978), Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982 (UNCLOS 1982)

3. Perlindungan dan pengelolaan terumbu karang terhadap lingkungan hidup di Indonesia ditinjau dari hukum internasionalKonvensi Kelautan Manado(Manado Ocean Declaration)Tahun 2009,Memorandum of

Understanding (MoU) between the Government of Australia and

Indonesia on Oil Pollution Preparedness and Response 1996,MoU

Sulawesi Sea Oil Spill Response Network Plan 1981, Marine Pollution

Exercise (MARPOLEX ), MoU between Indonesia-Malaysia-Singapore

(52)

Committee 1981 dan MoU for ASEAN Oil Spill Response Action Plan

(ASEAN-OSRAP)

B. Saran

Adapun saran yang penulis dapat berikan sehubungan dengan penulisan skripsi ini

1. Pemerintah Pusat sebaiknya menghargai, melestarikan, meningkatkan dan memperhatikan eksistensi masyarakat hukum adat dengan hak-hak tradisional yang dimiliki sesuai dengan pengakuan konstitusional dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sehingga tidak terjadi benturan diantara peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(53)

BAB II

PENGATURAN PENGELOLAAN TERUMBU KARANG DAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM HUKUM

NASIONAL

D. Pengertian Pengelolaan Terumbu Karang dan Lingkungan Hidup

Pengelolaan ekosistem terumbu karang pada hakekatnya adalah suatu proses pengontrolan tindakan manusia, agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan. Apabila dilihat permasalahan pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang yang menyangkut berbagai sektor, maka pengelolaan sumberdaya terumbu karang tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, namun harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa instansi terkait.16

Dasar pemikiran pengelolaan terumbu karang seharusnya yaitu terumbu karang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang harus dikelola dengan bijaksana, terpadu dan berkelanjutan dengan memelihara daya dukung dan kualitas lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat dan stakeholders (pengguna) guna memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dan pengguna secara berkelanjutan (sustainable).

Carter menyatakan pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat yaitu suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada manusia, dimana pusat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan disuatu daerah berada ditangan organisasi –

16

(54)

organisasi dalam masyarakat didaerah tersebut, dimana masyarakat sendiri yang mendefinisikan kebutuhan, tujuan, dan aspirasinya serta masyarakat itu pula yang membuat keputusan demi kesejahteraannya.17

Pomeroy dan Williams mengatakan bahwa konsep pengelolaan yang mampu menampung kepentingan masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative Management atau disingkat Co-Management.

Co-management didefinisikan sebagai pembagian tanggung jawab dan wewenang

antara pemerintah dengan pengguna sumberdaya alam lokal (masyarakat) dalam pengelolaan sumberdaya alam seperti perikanan, terumbu karang, mangrove dan lain sebagainya. Dalam konsep Co-management, masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-sama dengan pemerintah dan stakeholder lainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di suatu kawasan. Jadi dalam Co-management bentuk pengelolaan sumberdaya alam di ekosistem terumbu karang berupa cooperative dari dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (Goverment Centralized Management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (Community Based Management). Pada Goverment

Centralized Management, hirarki yang tertinggi hanya memberikan informasi

kepada masyarakat, dan selanjutnya dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan pada

Community Based Management, hirarki yang tertinggi adalah control yang ketat

dari masyarakat dan koordinasi antar area yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

17

(55)
(56)

maka diharapkan akan timbul kepedulian mereka yang lebih tinggi untuk menjaga kelestariannya.

Masyarakat dapat mengambil langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan guna menjaga dan mengelola terumbu karang yang ada apabila mereka dibekali dengan suatu pengetahuan. Masyarakat dapat melakukan pemantauan dan membangun data dasar tentang kondisi terumbu karang yang ada di wilayahnya apabila mereka memiliki keterampilan untuk melakukan pemantauan.Mereka dapat mengetahui dari waktu ke waktu apakah kondisi terumbu karang mereka lebih baik atau lebih buruk. Masyarakat dapat mengetahui kondisi umum terumbu karang yang ada baik persen tutupan karangnya maupun kelimpahan ikannya. Masyarakat juga dapat melakukan pemantauan sendiri terhadap hal-hal apa saja yang dapat mengancam kelestarian terumbu karang, baik yang terjadi secara alami seperti bintang laut berduri dan pemutihan karang maupun akibat perbuatan manusia seperti penggunaan bom dan racun sianida (potas). Dengan demikian pengelolaan terumbu karang dengan menggunakan konsep

comanagement diharapkan mampu mencapai tatanan hubungan kerjasama

(cooperation), komunikasi, sampai pada hubungan kemitraan.Dalam konsep

tersebut, masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya alam, sehingga masyarakat lokal secara langsung menjadi embrio dari penerapan konsep co-management tersebut.

(57)

menyatakan bahwa penerapan co-management akan berbeda-beda dan tergantung pada kondisi spesifik dari suatu wilayah, maka co-management hendaknya tidak dipandang sebagai strategi tunggal untuk menyelesaikan seluruh problem sumberdaya ekosistem terumbu karang, tetapi dipandang sebagai alternatif pengelolaan yang sesuai situasi dan lokasi tertentu. Pengelolaan sumberdaya ekosistem terumbu karang berbasis masyarakat dalam kajian ini dapat diartikan sebagai suatu strategi untuk mencapai pembangunan yang berpusat pada masyarakat dan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan dua aspek kebijakan yaitu; aspek ekonomi dan aspek ekologi, yang mana dalam pelaksanaannya terjadi pembagian tanggung jawab dan wewenang antara pemerintah disemua level dalam lingkup pemerintahan maupun sektoral dengan pengguna sumberdaya alam (masyarakat).

Pemerintah dan masyarakat sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada ketimpangan dimana hanya masyarakat saja yang diharapkan aktif, namun pihak pemerintah juga harus proaktif dalam menunjang program pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem terumbu karang ini. Secara lengkap, uraian tentang setiap langkah dalam pengelolaan sumberdaya terumbu karang berbasis masyarakat disajikan sebagai berikut :

1. Komponen input

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...