Tindak Pidana Aborsi

Top PDF Tindak Pidana Aborsi:

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI  Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

Tindak pidana aborsi telah diatur di dalam Pasal 346-349 KUHP. Pengaturan khusus mengenai tindak pidana ini lebih khusus diatur dalam Undang-undang Kesehatan, yakni Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan sebagai undang-undang lama dan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai undang-undang terbaru (hasil perubahan). Meskipun tindak pidana aborsi ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun masih banyak kasus aborsi yang terjadi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mengemukakan bahwa angka tindakan aborsi terjadi sebanyak 2 juta per tahun dengan 750 angka dilakukan oleh remaja putri. Faktor yang melatarbelakangi para pelaku tindak pidana aborsi diantaranya karena kehamilan akibat seks bebas, kehamilan akibat perkosaan, dan alasan sosio ekonomis. Sehubungan dengan hal itu, maka bagaimanakah sepantasnya pelaku tindak pidana aborsi mempertanggungjawabkan perbuatannya serta bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian yuridis empiris. Penulis akan mengidentifikasikan hukum yang sedang berlaku dan menghubungkannya dengan fakta-fakta yang ada berupa pertimbangan hakim dalam memberikan putusannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis, didapatkan hasil bahwa seorang pelaku tindak pidana aborsi dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya harus memenuhi unsur-unsur kesalahan yang berupa adanya sifat melawan hukum, di atas umur tertentu mampu bertanggungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan, dan tidak adanya alasan pemaaf. Sementara itu, di dalam hukum Islam, seseorang dapat hapus hukumannya apabila terdapat paksaan ( Al-Ikhrah), belum dewasa, mabuk, gila dan halangan-halangan lain. Hakim selama ini memutuskan perkara tindak pidana aborsi dengan memberikan pertimbangan dengan melihat pada peraturan perundang-undangan khususnya pada KUHP bukan pada Undang-Undang Kesehatan sebagai lex specialist nya. Selain itu, hakim juga memberikan pertimbangannya melalui hati nurani hakim tanpa dengan mempertimbangkan nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

REKONSTRUKSI SANKSI PIDANA DALAM KUHP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI BERBASIS PADA NILAI KEADILAN - Unissula Repository

REKONSTRUKSI SANKSI PIDANA DALAM KUHP TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI BERBASIS PADA NILAI KEADILAN - Unissula Repository

Bayi yang dilahirkan dari hubungan insect atau korban perkosaan merupakan dampak sosial yang harus ditanggung masyarakat akibat degradasi moral. Sesuai dengan amanat Pasal 34 UUD NRI 1945, pemerintah seyogianya menjamin anak-anak korban perkosaan dan incest. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa khusus mengenai tindak pidana aborsi Nomor 4 pada tahun 2005. Komisi Fatwa MUI yang saat itu diketuai KH Ma’ruf Amin memutuskan pada dasarnya hukum aborsi dilarang, terlebih pada kehamilan karena zina. Aborsi bisa diperbolehkan karena adanya uzur baik yang bersifat darurat maupun hajat. Keadaan darurat yang dimaksud, yaitu perempuan hamil menderita sakit fisik berat, seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna, dan penyakit fisik berat lain yang harus ditetapkan oleh dokter. Aborsi juga diperbolehkan jika kehamilannya mengancam nyawa si ibu.
Baca lebih lanjut

64 Baca lebih lajut

SKRIPSI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS   Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

SKRIPSI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

Tindak pidana aborsi telah diatur di dalam Pasal 346-349 KUHP. Pengaturan khusus mengenai tindak pidana ini lebih khusus diatur dalam Undang-undang Kesehatan, yakni Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan sebagai undang-undang lama dan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai undang-undang terbaru (hasil perubahan). Meskipun tindak pidana aborsi ini telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, namun masih banyak kasus yang terjadi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mengemukakan bahwa angka tindakan aborsi terjadi sebanyak 2 juta per tahun dengan 750 angka dilakukan oleh remaja putri. Faktor yang melatarbelakangi para pelaku tindak pidana aborsi diantaranya karena kehamilan akibat seks bebas, kehamilan akibat perkosaan, dan alasan sosio ekonomis. Sehubungan dengan hal itu, maka bagaimanakah sepantasnya pelaku tindak pidana aborsi mempertanggungjawabkan perbuatannya serta bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian yuridis empiris. Penulis akan mengidentifikasikan hukum yang sedang berlaku dan menghubungkannya dengan fakta-fakta yang ada berupa pertimbangan hakim dalam memberikan putusannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis, didapatkan hasil bahwa seorang pelaku tindak pidana aborsi dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya harus memenuhi unsur-unsur kesalahan yang berupa adanya sifat melawan hukum, di atas umur tertentu mampu bertanggungjawab, mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau kealpaan, dan tidak adanya alasan pemaaf. Sementara itu, di dalam hukum Islam, seseorang dapat hapus hukumannya apabila terdapat paksaan ( Al-Ikhrah ), belum dewasa, mabuk, gila dan halangan-halangan lain. Hakim selama ini memutuskan perkara tindak pidana aborsi dengan memberikan pertimbangan dengan melihat pada peraturan perundang-undangan khusunya pada KUHP bukan pada Undang-Undang Kesehatan sebagai lex specialist nya. Selain itu, hakim juga memberikan pertimbangannya melalui hati nurani hakim tanpa dengan mempertimbangkan nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor: 68Pid.B2015Pn.Mks)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor: 68Pid.B2015Pn.Mks)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi (Studi Putusan Nomor 68/Pid.B/2015/PN.Mks) harus ditanggung oleh terdakwa menjalankan pidana penjara akibat dari perbuatan yang dilakukannya dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya berupa pidana kurungan terhadap terdakwa selama 7 (tujuh) bulan. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.Perbuatan yang dilakukannya secara terang- terangan telah dilarang oleh perundang-undangan dan perbuatan yang telah dilakukannya terhadap korban yang di atur dalam Pasal 348 ayat (1) KUHP. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan hakim harus berdasar pada dua alat bukti yaitu keterangan saksi dan keterangan terdaskwa dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan hakim beranggapan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana aborsi. Namun putusan yang dijatuhkan hakim kepada Terdakwa dalam kasus ini terkesan singkat sehingga putusan tersebut dianggap tidak dapat memuaskan rasa keadilan dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

PENULISAN HUKUM  PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

PENULISAN HUKUM PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

Dengan ini penulis menyatakan bahwa penulisan Hukum / Skripsi yang berjudul Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Aborsi merupakan hasil karya asli penulis, bukan merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain. Jika Penulisan Hukum / Skripsi ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik dan / atau sanksi hukum yang berlaku.

9 Baca lebih lajut

PENUTUP  PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

PENUTUP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Polda DIY menangani kasus tindak pidana aborsi dengan melaksanakan penyelidikan, penyamaran dan penyusupan ke daerah yang di duga dilaksanakannya praktek aborsi.Meskipun demikian Polri mempelajari sebab musabab terlaksananya proses aborsi, keterangan calon ibu, keterangan dokter, keterangan saksi lain, keterangan bukti- bukti lain seperti hasil test kehamilan, usia kandungan, diagnosa dokter terkait keputusan aborsi, hal-hal yang membahayakan calon ibu, situasi janin dan lain-lain.

5 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor: 68Pid.B2015Pn.Mks)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI (Studi Putusan Nomor: 68Pid.B2015Pn.Mks)

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi (Studi Putusan Nomor 68/Pid.B/2015/PN.Mks) harus ditanggung oleh terdakwa menjalankan pidana penjara akibat dari perbuatan yang dilakukannya dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya berupa pidana kurungan terhadap terdakwa selama 7 (tujuh) bulan. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.Perbuatan yang dilakukannya secara terang- terangan telah dilarang oleh perundang-undangan dan perbuatan yang telah dilakukannya terhadap korban yang di atur dalam Pasal 348 ayat (1) KUHP. Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan hakim harus berdasar pada dua alat bukti yaitu keterangan saksi dan keterangan terdaskwa dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan hakim beranggapan bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana aborsi. Namun putusan yang dijatuhkan hakim kepada Terdakwa dalam kasus ini terkesan singkat sehingga putusan tersebut dianggap tidak dapat memuaskan rasa keadilan dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

ANALISIS KOMPARATIF PENGATURAN TINDAK PIDANA ABORSI DALAM HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

ANALISIS KOMPARATIF PENGATURAN TINDAK PIDANA ABORSI DALAM HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM

Aborsi merupakan tindak pidana yang melanggar norma agama dan norma kesusilaan. Masyarakat Indonesia mayoritas ialah umat muslim hukum yang berlaku di dalamnya ialah hukum positif dan hukum Islam untuk umat muslim, sementara di Indonesia berlaku hukum positif. Permasalahan adalah bagaimanakah perbandingan aborsi dalam hukum pidana positif dengan hukum pidana Islam, dan bagaimanakah penerapan sanksi terhadap tindak pidana aborsi dalam hukum pidana positif dan hukum pidana Islam. Metode penelitian dalam skripsi ini adalah yuridis normatif dan yuridis empiris. Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perbandingan tindak pidana aborsi dalam hukum pidana positif dan hukum pidana Islam dapat dilihat dari pengaturan menurut hukum pidana positif itu sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 75, ketentuannya diatur dalam PP Nomor 61 Tahun 2014 Pasal 32 samapai Pasal 34, dan dalam KUHP Pasal 346 sampai dengan Pasal 349. Berdasarkan syariat Islam aborsi diatur dalam Al-Quran surat Al-Isra’ ayat 31 dan Hadist Muttafaq’alaih. Sanksi pidana dalam hukum positif yaitu pidana penjara 15 tahun dan denda satu milyar rupiah Pasal 194 UU kesehatan dan Pasal 346 KUHP. Dalam hukum Islam diancam hukuman had, yang telah ditentukan kualitasnya oleh Allah SWT dan Rasulluloh SAW, hukumannya tidak mempunyai batas minimum dan maksimum. Hukuman terhadap tindak pidana aborsi membayar denda sebesar 212,5 gram emas atau uang senilai 212,5 gram emas, dapat diganti dengan berpuasa selama dua bulan berturut- turut atau memberikan makan pada 60 orang miskin dan hukuman Tak’zir yang sanksi yang ditentukan oleh hakim. Saran dalam penelitian ini adalah perlu adanya kerjasama yang baik antara penegak hukum pihak kepolisian, kejaksaan, hakim dan tokoh agama Islam untuk menindaklanjuti kasus aborsi ini. Pemerintah perlu mensosialisasikan kepada masyarakat terutama bagi para wanita akan bahaya melakukan aborsi yang tidak sesuai dengan standar kesehatan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA ABORSI MENURUT PENGATURAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA - Perbandingan Tindak Pidana Aborsi Menurut Hukum Positif Di Indonesia Dan Hukum Islam

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA ABORSI MENURUT PENGATURAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA - Perbandingan Tindak Pidana Aborsi Menurut Hukum Positif Di Indonesia Dan Hukum Islam

Moralitas kedokteran sebenarnya tidak membenarkan aborsi sebagai tujuan suatu tindak pidana. Aborsi hanya bisa dilakukan seandainya tidak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan jiwa si ibu. Itupun dilakukan setelah memenuhi syarat tertentu, seperti pertimbangan paling sedikit dari dua orang ahli. Selain itu harus dilakukan di sarana kesehatan yang memanai, baik personil maupun peralatannya. Selanjutnya perlu diketahui bahwa lafal Sumpah Dokter dan KODEKI itu ternyata telah menjadi Peraturan Menteri Kesehatan. Sukaatau tidak suka telah menjadi salah satu produk peraturan dalam sistem hukum Indonesia.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Banyaknya jumlah aborsi yang terjadi dan banyaknya jasa aborsi yang ditawarkan kepada masyarakat, membuat masyarakat menjadi resah dan mengharapkan adanya tindakan tegas dari para aparat penegak hukum untuk menangkap dan menghukum para pelaku aborsi.Semua fenomena ini menunjukkan dibutuhkannya penegakan hukum aborsi.Walaupun fenomena aborsi sudah sangat marak, namun sejauh ini hanya sedikit kasus aborsi yang pernah disidangkan.Hal ini dikarenakan para pelaku biasanya sulit untuk dilacak sehingga mempersulit penjaringan para pelaku.Dari survey pendahuluan yang dilakukan diketahui salah satu pengadilan yang pernah menyidangkan kasus aborsi adalah Pengadilan Negeri Sleman.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Aborsi Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Aborsi Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan menjadi salah satu unsur dari kesejahteraan umum yang semestinya diwujudkan sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental, dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi.Segala sesuatu yang bertentangan dengan upaya menjaga kesehatan reproduksi adalah dilarang oleh hukum termasuk didalamnya ialah aborsi. Aborsi atau bahasa ilmiahnya adalah Abortus Provocatus , merupakan cara yang paling sering digunakan mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan, meskipun merupakan cara yang paling berbahaya.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI DI BANDAR LAMPUNG (Studi Putusan PN Nomor 169/PID/B/2009/PNTK)

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI DI BANDAR LAMPUNG (Studi Putusan PN Nomor 169/PID/B/2009/PNTK)

Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah aborsi. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Didalam dunia kedokteran ada berbagai jenis aborsi, diantaranya aborsi spontan atau alamiah, berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma. Aborsi buatan atau sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). Aborsi Terapeutik atau Medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa. 19
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM TINDAK PIDANA ABORSI DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN, YOGYAKARTA.

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM TINDAK PIDANA ABORSI DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN, YOGYAKARTA.

Aborsi sering dilakukan oleh kalangan remaja dan wanita yang beranjak dewasa. Hal ini disebabkan karena pergaulan yang semakin bebas sehingga membuat mereka melakukan hubungan seks pra nikah dengan pasangannya. Alasan non-medis yang biasanya timbul dari wanita-wanita tersebut di antaranya yaitu malu karena hamil di luar nikah, khawatir dapat mengganggu kehidupan karir dan sekolah, tidak memiliki cukup biaya untuk merawat dan membesarkan anak tersebut serta takut anaknya lahir tanpa pertanggung jawaban ayahnya.

Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

PENDAHULUAN PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA ABORSI YANG DILAKUKAN OLEH POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA.

Yogyakarta. Berita-berita tersebut memuat kasus aborsi baik yang tertangkap pelakunya maupun yang hanya mendapatkan bekas aborsinya saja, antara lain janin yang ditinggalkan begitu saja setelah selesai diaborsi. Ada juga janin yang sengaja ditinggalkan di depan rumah penduduk atau di depan Yayasan pengurus bayi terlantar seperti yang terjadi baru-baru ini. Seorang bayi ditemukan di depan Yayasan Sayap Ibu yang merupakan tempat penampungan bayi-bayi yang berasal dari ibu yang hamil diluar nikah, bayi anak jalanan, dan bayi-bayi lain yang tidak diurus orang tuanya.

Baca lebih lajut

 BAB  I PENDAHULUAN  PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM TINDAK PIDANA ABORSI DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN, YOGYAKARTA.

BAB I PENDAHULUAN PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM TINDAK PIDANA ABORSI DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN, YOGYAKARTA.

Aborsi sering dilakukan sebagai jalan pintas untuk menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan sejak zaman dulu, meskipun resiko yang harus dihadapi oleh perempuan tidaklah kecil. Maraknya tindak pidana aborsi yang terjadi dapat dilihat dari berita-berita yang muncul di televisi dan di koran nasional dimana sering ditemukannya sisa-sisa janin manusia yang dibuang ke tempat sampah, ke selokan bahkan dikuburkan secara ilegal.

15 Baca lebih lajut

Perbandingan Tindak Pidana Aborsi Menurut Hukum Positif Di Indonesia Dan Hukum Islam

Perbandingan Tindak Pidana Aborsi Menurut Hukum Positif Di Indonesia Dan Hukum Islam

Dibolehkannya aborsi sebagai pengecualian larangan aborsi ini hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penesehat pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca yang terdapat dalam Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014. Tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang, setelah memenuhi syarat yaitu: sebelum kehamilan berumur 40 hari dihitung sejak hari pertama haid berakhir, kecuali dalam hal kedaruratan Tindakan aborsi hanya boleh didasarkan pada indikasi medis dan korban perkosaan yang traumatis dengan syarat dan ketentuan yang ketat. Yang dimaksud indikasi medis yang terdapat Pasal 32 yang mendasari pengecualian larangan aborsi meliputi: (1) kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan ibu dan/atau janin. (2) kehamilan yang mengancam nyawa dan kesehatan janin, termasuk yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan. Dan Penanganan indikasi kedaruratan medis yang dimaksud di atas harus dilaksanakan sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan menteri kesehatan.
Baca lebih lanjut

129 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

PENDAHULUAN PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

Sejalan dengan keprihatinan masyarakat tentang maraknya aborsi sekarang ini jasa aborsi juga semakin marak dipromosikan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tulisan-tulisan selebaran yang ditempel di dinding- dinding toko, dinding rumah penduduk atau di tiang-tiang lampu merah (traffic light) di perempatan jalan yang ramai lalu lintasnya. Isi dari tulisan itu adalah penawaran jasa aborsi kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Tulisan tersebut memang tidak secara terang-terangan menyatakan

11 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

PENDAHULUAN Pertanggungjawaban Pidana Atas Pelaku Tindak Pidana Aborsi.

dari konsepsi. Dengan kata lain, saat sel telur bersatu dengan sperma. Namun, instrument-instrumen lain mengindikasikan secara tidak langsung penghormatan terhadap anak yang belum lahir, terutama terlihat jelas dalam larangan untuk melaksanakan hukuman mati terhadap perempuan hamil dan pembatasan kerja-kerja berbahaya untuk perempuan hamil. Pada umumnya badan-badan hak asasi manusia internasional berusaha untuk menghindari isu tentang aborsi dan euthanasia atau hak untuk mengakhiri hidup. 7

18 Baca lebih lajut

PENUTUP  PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

PENUTUP PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA ABORSI.

1. Hendaknya masyarakat diharapkan dapat berfikir panjang sebelum melakukan aborsi. karena akibat dari aborsi tidak saja merugikan pihak wanita yang melakukan aborsi tetapi juga para bagi pelaku abortus provocatus maupun yang ikut membantunya akan mendapatkan sanksi pidana maupun denda oleh karenanay akibat yang berbahaya bagi aborsi dapat menyebabkan kematian bagi pelaku aborsi itu sendiri jika peralatan medis tidak higienis dan dilakukan oleh bukan tenaga ahli di bidangnya dan tidak sesuai dengan prosedur medis yang diatur oleh pemerintah.

Baca lebih lajut

Tindak Pidana Aborsi yang Dilakukan oleh Dukun Beranak Dalam Putusan Mahkamah Agung No.2189 K Pid 2010

Tindak Pidana Aborsi yang Dilakukan oleh Dukun Beranak Dalam Putusan Mahkamah Agung No.2189 K Pid 2010

Kajian dalam skripsi ini dituangkan dengan membahas pertanggungjawaban pidana dan pertimbangan hakim terhadap tindak pidana aborsi yang dilakukan oleh dukun beranak dalam putusan MA No. 2189/K/Pid/2010. Tindak Pidana Aborsi yang terjadi diakibatkan karena adanya unsur kesengajaan sehingga mengakibatkan gugurnya seorang janin. Selanjutnya ketentuan pidana terhadap pelaku tindak pidana aborsi oleh seorang dukun beranak, dimana diancam penjara 5 (lima) tahun dan 6 (enam) bulan penjara dan dipertegas dalam pasal 194 UU No. 36 tahun 2009 dengan 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda paling banyak sebesar Rp 1.000.000.000,00 (Satu miliar rupiah). Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Aborsi yang dilakukan oleh Dukun Beranak berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No.2189/K/Pid/2010 adalah menolak permohonan kasasi dan membebani Termohon Kasasi/Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp 2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...