Untuk membantu mengatasi permasalahan yang terjadi pada lansia khususnya masalah kesehatan gigi dan mulut

Top PDF Untuk membantu mengatasi permasalahan yang terjadi pada lansia khususnya masalah kesehatan gigi dan mulut:

UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA LANSIA (IMPROVING THE ORAL HEALTH OF ELDERLY)

UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA LANSIA (IMPROVING THE ORAL HEALTH OF ELDERLY)

Kegiatan dilakukan pada kelompok posyandu lansia di desa Kalisat dan Glagahwero Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember. Kedua desa ini termasuk wilayah kerja Puskesmas Kalisat. Secara keseluruhan wilayah kerja puskesmas Kalisat meliputi 10 desa, dimana pelayanan kesehatan gigi dan mulut hanya di tangani oleh 1 orang dokter gigi puskesmas. Selain itu jarak tempuh dari desa sampai ke lokasi puskesmas sekitar hampir 10 km. Berdasarkan data Puskesmas menunjukkan bahwa tingkat kesakitan gigi dan mulut cukup tinggi. Hal inilah yang melatarbelakangi pengabdi untuk membantu memecahkan permasalahan kesehatan gigi dan mulut pada lansia dengan membentuk kader kesehatan gigi dan mulut. Kader yang terbentuk dari kelompok posyandu lansia kalisat dan glagahwero diharapkan dapat membantu memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara sederhana. Metode yang diberikan adalah berupa penyuluhan, pelatihan dan praktek pemeriksaan gigi dan mulut secara sederhana, pembentukan kader kesehatan gigi dan mulut, serta cara pengisian kartu status. Sebelum dilakukan pelatihan para peserta diberikan soal pretest dan postest untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan mereka tentang kesehatan gigi dan mulut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT

PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT TERHADAP KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT

dan perawatan gigi dan mulut dengan baik (Budiharto, 2009). Berger, A dkk (2000) menyatakan, permainan dapat melintasi berbagai usia permainan mempengaruhi penampilan anak-anak dimuka umum menjadi lebih nyaman, sebagai penolong dalam penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Peningkatan kebersihan gigi dan mulut khususnya tentang kesehatan gigi dan mulut pada anak dilakukan dengan suatu program. Menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, ditemukan bahwa karies gigi menyerang atau diderita oleh kurang lebih 72,1% penduduk Indonesia. Selanjutnya ditemukan bahwa dalam 12 bulan terakhir sebesar 23,4% penduduk Indonesia mengeluhkan adanya masalah pada gigi dan mulutnya. Dari jumlah tersebut, hanya sebanyak 29,6% yang mencari pertolongan dan mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan. Hal ini mengindikasikan masih rendahnya tingkat kesadaran dan tingkat utilisasi masyarakat terhadap pelayanan tenaga medis kesehatan gigi. Menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007 Provinsi Jawa Timur, ditemukan permasalahan gigi dan mulut terbanyak di kabupaten Pasuruan 35,9% dan terendah di Kabupaten Kediri 9,1%. Perawatan pengobatan terbanyak diterima oleh penduduk di kabupaten pamekasan 57,1%, penambalan atau pencabutan terbanyak di kabupaten pamekasan 87,8%, pemasangan protesa atau bidge terbanyak di kabupaten kediri 13,2%. Lebih lanjut, menurut Riset Internal yang dilakukan oleh Unilever tahun 2007, hanya terdapat 5,5% masyarakat Indonesia yang memeriksakan kesehatan gigi secara teratur ke dokter gigi. Masih menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, 91,1% masyarakat Indonesia yang berumur diatas 10 tahun, meskipun sudah menggosok gigi setiap hari, namun hanya sebesar 7,3% yang telah menggosok gigi secara benar, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Pepsodent bersama dengan PDGI dan AFDOKGI memiliki komitmen kuat untuk terus membantu meningkatkan kualitas kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia melalui program edukasi yang berkesinambungan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

128188173 Makalah Kader Kesehatan Gigi Dan Mulut

128188173 Makalah Kader Kesehatan Gigi Dan Mulut

Para kader ini nantinya akan memiliki beberapa fungsi dan peran , secara global para kader ini adalah pelaksana pembantu upaya kesehatan masyarakat dan sekaligus pelaksana usaha kesehatan perorangan. Akan tetapi mengingat bahwa pada umumnya kader ini bukanlah tenaga professional melainkan hanyalah membantu dalam pelayanan kesehatan sehingga dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang di emban. Mereka tidak diharapkan mampu menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya, namun mereka diharapkan mampu dalam menyelesaikan masalah yang umum terjadi di masyarakat dan mendesak untuk diselesaikan
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

RAMUAN UNTUK MEMBANTU MENGATASI JANTUNG

RAMUAN UNTUK MEMBANTU MENGATASI JANTUNG

Waktu itu aku masuk rumah sakit dengan keluhan kalau jalan nanjak (mendaki, naik tangga) dada terasa sakit, terasa berat seperti ditekan dan sampai ngilu di lengan sebelah kiri. Dari hasil observasi segala macam test untuk jantung (ECG, Cardiac Echo, dan test-2 lainnya) sampai akhirnya setelah ditest dengan angiogram baru diketahui kalau ada penyumbatan pada pembuluh darah ke jantung di dua tempat, yang satu sudah 80% dan yang kedua 95% (ada foto yang direkam di disket).

3 Baca lebih lajut

Kampanye Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi untuk Mencegah Penyakit Serius.

Kampanye Menjaga Kesehatan Mulut dan Gigi untuk Mencegah Penyakit Serius.

Gigi merupakan salah satu organ tubuh yang penting bagi pencernaan makanan tahap awal dan berperan dalam komunikasi, fungsi lainnya adalah dari segi estetika wajah. Sayangnya perawatan kesehatan gigi sering kali dianggap sepele, padahal kesehatan gigi dan rongga mulut berdampak pada kesehatan tubuh. Munculnya sakit gigi bisa disebabkan oleh berbagai macam hal seperti pola makan yang salah hingga kurangnya perawatan gigi maupun mulut. Kesehatan gigi dan mulut hingga kini masih belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, gigi berlubang atau karies menjadi masalah umum yang dihadapi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Padahal kondisi gigi seperti ini merupakan gerbang dari munculnya beragam penyakit lain. Selama ini penanganan masalah gigi masih sebatas menambal lubang gigi. Tindakan tersebut sudah dianggap mampu mengontrol karies, padahal itu belum cukup untuk mengatasi masalah secara menyeluruh.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Pedoman Internal Kesehatan Gigi dan Mulut

Pedoman Internal Kesehatan Gigi dan Mulut

Lingkup pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan kepada masyarakat meliputi pencabutan gigi anak, pencabutan gigi dewasa, penambalan gigi, pembersihan karang gigi secara manual, pemeriksaan gigi dan mulut anak sekolah (TK/ RA dan SD/ MI), pemeriksaan gigi dan mulut ibu hamil dan balita di posyandu. Pelayanan yang diberikan berupa pelayanan promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), dan kuratif (pengobatan).

14 Baca lebih lajut

KEBERHASILAN PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT                    DENGAN MODIFIKASI METODE MAKATON DALAM MENINGKATKAN                                                                                   Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Deng

KEBERHASILAN PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN MODIFIKASI METODE MAKATON DALAM MENINGKATKAN Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Deng

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi eksperimental dengan metode One Group Pretest-Posttest. Penelitian ini dilakukan selama 20 hari pada penderita retardasi mental dengan jumlah sebanyak 14 penderita yang tergabung dalam kategori pikiran lemah dan imbesil. Jumlah subjek penelitian yang seharusnya digunakan pada penelitian ini berjumlah 30 penderita retardasi mental yang tergabung dalam kategori pikiran lemah dan imbesil, namun terdapat 16 siswa yang tidak dapat menjadi subjek dalam penelitian diantaranya adalah 3 penderita tidak dapat mengikuti penyuluhan pada waktu yang telah ditentukan karena ketiga orang tersebut masuk sekolah pada waktu tertentu yaitu 3 hari sekali dan masuk sekolah pada waktu siang hari, sedangkan 13 penderita tidak dapat menjadi subjek penelitian karena penderita tidak masuk sekolah selama penyuluhan berlangsung. Pertimbangan untuk tidak mengambil subjek penelitian tambahan dari luar sekolah SLB Harmony adalah adanya perbedaan karateristik antara guru pendamping serta kondisi lingkungan dan sosial terhadap subjek penelitian tambahan yang nanti akan dapat menyebabkan bias dalam penelitian.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

KEBERHASILAN PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT               DENGAN MODIFIKASI METODE MAKATON DALAM MENINGKATKAN                                                                                   Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Mo

KEBERHASILAN PENYULUHAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN MODIFIKASI METODE MAKATON DALAM MENINGKATKAN Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan Gigi Dan Mulut Dengan Mo

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Keberhasilan Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut Dengan Modifikasi Metode Makaton Dalam Meningkatkan Kemampuan

14 Baca lebih lajut

Pelayanan Dasar kesehatan gigi dan mulut

Pelayanan Dasar kesehatan gigi dan mulut

Glass ionomer viskositas nggi dipasarkan dalam bentuk bubuk- cairan dan dalam bentuk kapsul. Kualitas tambalan dan fi ssure sealant terganggu jika bubuk yang digunakan dalam campuran dak sesuai takaran. Pengurangan bubuk sebanyak 50% dari takaran yang dianjurkan dan dicampur dengan 1 tetes cairan maka kekuatan dari tambalannya akan berkurang sebanyak 50% juga. Oleh karena itu pada saat pencampuran glass ionomer, harus dipas kan bahwa seluruh bubuk tercampur dengan cairan sesuai dengan takaran yang dianjurkan.Menghasilkan campuran glass ionomer yang bagus memang dak mudah. Oleh karenanya, sangat pen ng bagi tenaga pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk memperoleh pela han sebelum terjun ke masyarakat.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Makalah Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut

Makalah Menjaga Kesehatan Gigi Dan Mulut

Sehat adalah sebuah keadaan normal yang sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan komunitas masyarakat Memelihara kesehatan gigi dan mulut penting untuk memperoleh kesehatan tubuh kita. Khususnya anak usia dini, karena pada masa kanak-kanak adalah masa emas yang sangat penting terutama mengenai gigi susu (gigi decidui) yang saat ini sangat menentukan keadaan gigi-gigi permanent penggantinya.

11 Baca lebih lajut

Program Preventif Kesehatan Gigi Dan Mulut

Program Preventif Kesehatan Gigi Dan Mulut

Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001 skor DMFT mencapai rata-rata 5,26 dengan Performance treatment index (PTI) yang menunjukkan tingkat perawatan gigi yang mengalami karies gigi pada kelompok umur 12-18 tahun terlihat sangat rendah yaitu hanya mencapai sekitar 4-5% sedangkan secara keseluruhan kasus yang memerlukan penumpatan dan atau pencabutan pada usia ini sebesar 72,4%-82,5%. Sedangkan dari data Risksesdas 2007 memperlihatkan komponen D (decay atau lubang) 1,4- 1,7; komponen M (Missing atau hilang karena karies) 3,2-3,8; dan komponen F (Filling atau Tumpatan) 0,2-0,1. Ini berarti bahwa gigi karies yang seharusnya ditumpat jauh lebih kecil yaitu rata-rata 0,2 gigi di kota dan rata-rata 0,1 gigi dipedesaan. Sebaliknya, gigi yang mengalami karies rata-rata 3,2 dan 3,8 gigi untuk kota dan desa, dan bila dibiarkan tanpa adanya perawatan akan berdampak pada terjadinya infeksi pulpa dan infeksi dentoalveolar yang menyebabkan gigi kehilangan gigi dalam keadaan gangrene radiks yang masih tertinggal di dalam mulut maupun yang sudah di ekstraksi yaitu rat-rata 3,2-3,8 gigi. Skor rata-rata komponen D (Decay) yang belum dirawat adalah 1,4 dan 1,7 untuk kota dan desa, serta berpotensi untuk menjadi komponen M atau Missing. Ini berarti effective demand sangat rendah (6,9%) dan kesejangan antara need (kebutuhan) dan demand ini terjadi pada semua golongan umur. Sangat tingginya komponen M menandakan terlambat penanganan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Analisis Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Status Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD dan SMP di Medan

Analisis Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Status Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD dan SMP di Medan

Hingga saat ini, Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah melakukan transformasi kebijakan di bidang kesehatan dengan “Paradigma Sehat” yaitu suatu kondisi masyarakat Indonesia yang ditandai dengan penduduk yang hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Tindakan peningkatan kesehatan dapat dimulai dari diri si anak sendiri yaitu dengan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan mulutnya. Menurut Hurlock (1978), orangtua dan guru mempunyai peran terhadap perubahan perilaku anak dalam memelihara kesehatannya, termasuk memelihara kesehatan gigi. Orangtua mempunyai peran yang sangat penting dalam perawatan gigi anak-anaknya misalnya memberi contoh perawatan gigi, memotivasi merawat gigi, mengawasi perawatan gigi, dan membawa anak ke dokter gigi jika anak sakit gigi (Suwelo, 1992). Selain itu, perkembangan seorang anak ditentukan oleh sifat hubungan antara anak dengan anggota keluarga terutama ibu. Ibu rumah tangga merupakan tokoh kunci dalam keluarga karena berperan penting dalam perilaku kesehatan keluarga (Pintauli dan Melur, 2004). Peran ini sangat penting oleh karena bila anak belum memiliki kebiasaan yang baik maka pengawasan dari orang tua harus terus dilakukan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

77731384 Promosi Kesehatan Gigi Dan Mulut (1)

77731384 Promosi Kesehatan Gigi Dan Mulut (1)

Dalam rangka pendidikan kesehatan, masyarakat sebagai konsumer juga dapat dilibatkan dalam pembuatan alat peraga (alat bantu pendidikan). Untuk ini petugas kesehatan berperan untuk membimbing dan membina, bukan hanya dalam hal kesehatan mereka sendiri tetapi juga memotivasi mereka sehingga meneruskan informasi kesehatan kepada anggota masyarakat yang lain. Alat peraga akan membantu dalam melakukan penyuluhan, agar pesan-pesan kesehatan dapat disampaikan lebih jelas dan masyarakat sasaran dapat menerima pesan orang tersebut dengan dengan jelas dan tetap pula. Dengan alat peraga, orang dapat lebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit sehingga mereka dapat menghargai betapa bernilainya kesehatan itu bagi kehidupan (http://www.scribd.com, 2010)..
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

Motivasi Siswa dalam Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Motivasi Siswa dalam Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

+DO LQL SHQXOLV Q\DWDNDQ EHUGDVDUNDQ SDGD MDZDEDQ VHOXUXK VDPSHO \DQJ PHQMDZDE VHOXUXK DQJNHW SHQHOLWLDQ -DZDEDQ DQJNHW WHUVHEXW VHEDKDJLDQ EHVDU PHQ\DWDNDQ EDKZD PRWLYDVL VLVZD NHODV 9 [r]

9 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Hasil penelitian mengenai perilaku mahasiswa tentang kesehatan gigi dan mulut mayoritas termasuk kategori baik sebanyak 68 responden (92%), kategori cukup 6 orang dan tidak ada kategori perilaku yang kurang. Hasil penelitian mengenai perilaku mahasiswa lebih banyak kategori baik, dikarenakan perilaku tersebut sudah terbentuk sejak kecil hingga dewasa dan perilaku tersebut sudah diadopsi dari orangtuanya.Pada tahap adopsi ini, orang akan yakin dan telah menerima bahwa informasi baru berupa menggosok gigi memberi keuntungan bagi dirinya sehingga menggosok gigi menjadi kebutuhan. Namun, dari sebuah penelitian menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat lebih lama (long lasting). Sebaliknya perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama (Palupi, 2013), (Monintja, 2015). Perubahan perilaku dapat terjadi secara alamiah, yaitu perubahan karena pengaruh lingkungan dan perubahan secara sengaja dan sistematis yaitu melalui pendidikan. Proses perubahan secara alamiah lebih lambat daripada proses pendidikan.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

POLA STATUS KESEHATAN GIGI DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI INDONESIA PADATAHUN

POLA STATUS KESEHATAN GIGI DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI INDONESIA PADATAHUN

Secara umum angka status kesehatan gigi / pengalaman karies / DMF-T berdasarkan kelompok umur tersebut terlihat cenderung meningkat pada umur yang lebih tinggi.. Keadaan ini menyatakan b[r]

10 Baca lebih lajut

Pengaruh Merokok terhadap Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut

Pengaruh Merokok terhadap Kesehatan Gigi dan Rongga Mulut

Merokok juga menyebabkan penurunan antibodi dalam saliva, yang berguna untuk menetralisir bakteri dalam rongga mulut, sehingga terjadi gangguan fungsi sel-sel pertahanan tubuh. Potensial reduksi-oksidasi (Eh) pada regio gingiva dan rongga mulut menurun akibat merokok. Hal tersebut berpengaruh terhadap peningkatan jumlah bakteri anaerob dalam rongga mulut. 19,20 Penurunan fungsi antibodi saliva, disertai dengan meningkatnya jumlah bakteri anaerob rongga mulut, menimbulkan rongga mulut rentan terserang infeksi. Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) merupakan salah satu lesi yang muncul akibat infeksi bakteri anaerob.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Analisis Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Status Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD dan SMP di Medan

Analisis Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Status Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD dan SMP di Medan

Kata kunci: kesehatan gigi, perilaku kesehatan, DMFT, status periodontal, dan skor oral higiene Abstract: The purpose of this study was to analyze the relationship between oral health status (caries and periodontal status, oral hygiene) and oral health behavior of sixth grade primary and third grade of junior high school students in Medan. 393 children (197 primary school students and 196 junior high school students) were selected at cluster stratification. Dental caries and periodontal status of students was evaluated using the World Health Organization (WHO) diagnostic criteria. The oral hygiene of each child was assessed using the scoring of Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) from Greene and Vermillion. Interviews were conducted using a questionnaire to determine the oral health behavior of the children. The results showed that: 1) the caries prevalence of primary school children 92,39% with mean DMFT 3,42±2,36, and found higher in junior high school students 93,37% with mean DMFT 3,79±2,69. Junior high school students have >3 health sextants according to WHO. Almost all of students in both groups (50.8 and 52.6%) in moderate category; 2) 61.4% of the primary school students with good oral health habits while in junior high school students only 30.1%; 3) no statistically differences between oral health behavior and periodontal status (p>0.05), it was found significant differences between oral health behavior and caries experience and also oral hygiene (p<0.05).
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...