Top PDF Analisis Keragaan Perikanan Tangkap di Kota Ternate

Analisis Keragaan Perikanan Tangkap di Kota Ternate

Analisis Keragaan Perikanan Tangkap di Kota Ternate

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan Januari 2010 di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawancara yang berasal dari para pelaku perikanan seperti nelayan/ABK sebanyak lima belas orang, pengumpul ( dibo-dibo ) sebanyak sepuluh orang, dan petugas TPI Dufa-dufa dan pasar Gamalama masing-masing satu orang. Pemilihan nelayan sebagai contoh dilakukan secara aksidensial (accidential sampling) kepada responden yang dipandang orang tersebut layak diterima sebagai sumber data/informasi (Ruslan 2003). Data tersebut adalah data mengenai daerah penangkapan (fishing ground) dan musim penangkapan serta sebagian data penanganan pasca panen. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka yang sudah tersedia di instansi terkait, seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ternate, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Maluku Utara, dan BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Ternate. Data yang dikumpulkan terdiri dari data jumlah nelayan/RTP, kapal penangkapan, jenis alat tangkap, trip penangkapan, volume produksi dan nilai produksi penangkapan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

ANALISIS RANTAI DISTRIBUSI KOMODITAS IKAN TANGKAP PERIKANAN LAUT DI KOTA TEGAL

ANALISIS RANTAI DISTRIBUSI KOMODITAS IKAN TANGKAP PERIKANAN LAUT DI KOTA TEGAL

Jawa Tengah yang memiliki panjang pantai 655,1 km atau 0,81% dari keseluruhan panjang pantai Indonesia termasuk salah satu propinsi yang mengelola kekayaan laut untuk membangun daerahnya. Perikanan di Jawa Tengah didukung oleh salah satu daerah yang terdapat di pantai utara (Pantura) Jawa Tengah, yaitu kota Tegal. Kota Tegal yang terletak di daerah pantai utara pulau Jawa merupakan kota yang relief daerahnya berada pada ketinggian antara 1-7 meter dari permukaan air laut. Empat kelurahan berada bertopografi daerah pesisir, yaitu kelurahan Panggung, kelurahan Mintaragen, kelurahan Tegalsari dan kelurahan Margadana, sedangkan 23 kelurahan lainnya tidak berada di daerah pesisir (Badan Pusat Statistik, 2011). Dengan kondisi geografis yang sedemikian menjadikan kota Tegal salah satu kota dengan penduduk yang matapencaharian utamanya sebagai seorang nelayan atau penangkap ikan.
Baca lebih lanjut

116 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Tegalsari Kota Tegal Dalam Pelayanan USAha Perikanan Tangkap

Analisis Kinerja Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai (Ppp) Tegalsari Kota Tegal Dalam Pelayanan USAha Perikanan Tangkap

Fasilitas yang mendukung pengembangan usaha perikanan khususnya kegiatan penangkapan ikan adalah tersedianya prasarana penangkapan ikan berupa Pelabuhan Perikanan/Pangkalan Pendaratan Ikan (PP/PPI) sebagai tempat pemberi pelayanan, tempat perlindungan atau berlabuh bagai kapal-kapal perikanan, mengisi bahan perbekalan, mendaratkan ikan hasil tangkapannya serta memasarkannya. Pelabuhan perikanan merupakan salah satu faktor diantara tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan kegiatan perikanan tangkap. Dua faktor lainnya adalah kelimpahan sumberdaya ikan dan tingkat permintaan akan hasil perikanan yang menjadi keunggulan dan komparatif dalam perkembangan perikanan tangkap (Direktorat Jenderal Perikanan, 2008)
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Analisis ekonomi perikanan yang tidak dilaporkan (unreported fisheries) di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Analisis ekonomi perikanan yang tidak dilaporkan (unreported fisheries) di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara

Tabel 6.8 menggambarkan anggaran pembiayaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate periode 2005-2006 yang berhubungan dengan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap di Kota Ternate. Realisasi anggaran tersebut disesuaikan dengan perencanaan program yang telah ditetapkan oleh instansi tersebut. Anggaran yang bersumber dari APBD porsinya lebih besar digunakan untuk hal-hal teknis dan administrasi seperti : Pelaksanaan administrasi umum pemerintah, penyusunan data base perikanan, pelatihan ketrampilan khusus aparatur perikanan, sosialisasi UU No.31 thn 2004 dan lain-lain. Dana DAK NON DR digunakan untuk pembangunan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), pembangunan kantor PPI tahap II dan peningkatan sarana PPI. Dana APBN digunakan untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir. Sedangkan Dana Anggaran Rutin digunakan sebagai belanja pegawai personalia, belanja barang dan jasa, belanja perjalanan dinas dan belanja pemeliharaan. Total revenue dari pengelolaan sumberdaya perikanan di Kota Ternate diperoleh dari nilai nominal produksi perikanan yang dilaporkan (reported fishing), yaitu harga dari jumlah produksi yang dilaporkan pada Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ternate. Dalam pendekatan analisis ini, total nilai produksi yang digunakan adalah pada tahun 2005 dan 2006, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 6.9.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Analisis Kebijakan Perikanan Tangkap terhadap Nelayan Kota Semarang: Perspektif Ekonomi Politik

Analisis Kebijakan Perikanan Tangkap terhadap Nelayan Kota Semarang: Perspektif Ekonomi Politik

Kelembagaan TPI merupakan kelembagaan pada tingkat pemasaran, dalam kelembagaan ini terjadi proses jual beli dengan sistem lelang yang melibatkan ABK, juragan, petugas TPI dan bakul. Kelembagaan TPI pada mulanya dikelola oleh KUD Mina Baruna namun saat ini pengelolaannya sudah beralih ke pemerintah daerah (DKP Kota Semarang). Pelelangan ikan di TPI Tambaklorok diatur dalam Peraturan Daerah Kota Semarang nomor 9 tahun 2010 tentang Tempat Pelelangan Ikan. Dalam setiap proses lelang nelayan dan bakul dikenai biaya retribusi sebesar 3%, pengenaan biaya retribusi yang tidak sesuai dengan undang-undang ini hanya membebani nelayan saja. Hal ini karena tidak adanya peningkatan fasilitas TPI Tambaklorok yang pada akhirnya membantu aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan. Peran TPI belum optimal dalam peningkatan kesejahteraan nelayan. TPI yang saat ini pengelolaannya sudah diserahkan kepada pemerintah seharusnya menjadi kelembagaan yang lebih aktif dalam memberikan bantuan nelayan dalam proses produksi dan pemasaran.
Baca lebih lanjut

74 Baca lebih lajut

ANALISIS KINERJA SATUAN PENGAWASAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN (PSDKP) DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA TERNATE

ANALISIS KINERJA SATUAN PENGAWASAN SUMBERDAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN (PSDKP) DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA TERNATE

 Sebelah Barat dengan Laut Maluku Sedangkan secara administrasi Provinsi Maluku Utara terdiri dari 6 kabupaten dan 2 kota dengan luas keseluruhan ±145.819,1 km 2 . Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson wilayah ini beriklim tipe A dan B, sedangkan menurut klasifikasi Koppen bertipe A. Wilayah Provinsi Maluku Utara dipengaruhi oleh 4 musim, yaitu musim utara atau barat dan musim selatan atau timur dan 2 musim peralihan. Musim angin berlangsung setiap tahun dengan kecepatan rata-rata 12 km/jam yang dipengaruhi oleh keadaan angin musim utara dan musim selatan diselingi musim pancaroba yang merupakan transisi antara kedua musim tersebut. Musim utara terjadi pada bulan Oktober hingga Maret dan musim selatan terjadi pada bulan April hingga September.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Analisis Kinerja Stakeholder Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)-Mandiri Kelautan Perikanan Di Kota Ternate

Analisis Kinerja Stakeholder Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)-Mandiri Kelautan Perikanan Di Kota Ternate

Konsultan pelaksana berfungsi membantu dinas kelautan dan peri- kanan dari aspek teknis dan manajemen pelaksanaan program, capaian kinerja- nya memperoleh skor sebesar 97%. Ini menunjukkan bahwa kinerjanya sangat baik. Kegiatan konsultan pelaksana antara lain melakukan : 1) pelatihan pe- ningkatan kapasitas aparatur, 2) pela- tihan akses kredit mikro, dan 3) pela- tihan peningkatan kapasitas masyarakat di bidang kelautan dan perikanan. Namun menurut kelompok masyarakat penerima bantuan program, satu pelatihan yaitu pelatihan akses kredit mikro tidak diketahui oleh sebagian besar anggota kelompok karena infor- masi yang tidak sampai. Hal ini sangat mempengaruhi pada aspek penguatan kelembagaan, seperti yang dikemuka- kan oleh Numbery (2009) bahwa penguatan kelembagaan baik kelemba- gaan produksi, pemasaran dan permo- dalan sangatlah penting dalam usaha pemberdayaan masyarakat. Melalui penguatan tersebut maka pelaku usaha memeliki posisi tawar yang lebih kuat.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

ANALISIS PRODUKTIVITAS HASIL TANGKAP IKAN DI PELABUHAN BASTIONG TERNATE MALUKU UTARA

ANALISIS PRODUKTIVITAS HASIL TANGKAP IKAN DI PELABUHAN BASTIONG TERNATE MALUKU UTARA

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa status daerah penangkapan di Perairan Pelabuhan Perikanan Nusantara Bastiong Ternate Maluku Utara masih dalam keadaan kurang pemanfaatan karena hasil tangkapan tahun terakhir belum melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan belum melebihi nilai hasil tangkapan maximum ( MSY )nya.

2 Baca lebih lajut

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN DAN PENERIMAAN KREDIT PERIKANAN DI KECAMATAN AMPANA KOTA

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI PENYALURAN DAN PENERIMAAN KREDIT PERIKANAN DI KECAMATAN AMPANA KOTA

Nelayan membutuhkan kredit untuk menambah modal dalam kegiatan perikanan tangkap yang dijalankan. Kebutuhan modal nelayan dalam hal ini disediakan pemerintah dalam bentuk kredit. Terhadap fasilitas kredit, keputusan terhadap permintaan dan penyaluran kredit dipengaruhi oleh perilaku rumahtangga nelayan. Perilaku rumahtangga sebagai penyedia tenaga kerja, produsen sekaligus konsumen, akan mempengaruhi keputusannya dalam mengambil dan mengembalikan kredit, dimana kredit akan mempengaruhi produksi, curahan waktu kerja dan pendapatan yang akhirnya akan mempengaruhi konsumsi rumahtangga. Hal ini selanjutnya akan berdampak terhadap besarnya permintaaan dan nilai kredit yang diterima nelayan. Adapun faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi penyaluran dan penerimaan kredit meliputi umur, lama pendidikan, hasil tangkapan dan pendapatan nelayan. Keterkaitan antar peubah-peubah yang diduga mempengaruhi nilai kredit yang disalurkan dan diterima oleh nelayan terlihat pada Tabel 2.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

ANALISIS PRIORITAS DAN STRATEGI LAYANAN TRANSPORTASI PERIKANAN TANGKAP DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA AMBON

ANALISIS PRIORITAS DAN STRATEGI LAYANAN TRANSPORTASI PERIKANAN TANGKAP DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA AMBON

Pelabuhan perikanan Nusantara (PPN) Ambon berada di Kota Ambon ibukota Provinsi Maluku. Provinsi Maluku memiliki perairan laut seluas 666.139,85 km² dengan jumlah pulau sebanyak 1.340 buah. Luas wilayah provinsi ini 90% terdiri dari laut sehingga laut memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakatnya (PPN Ambon 2008b). Pelabuhan Perikanan Nusantara Ambon merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang pelabuhan perikanan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan, sesuai Surat Keputusan Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan Nomor 69 Tahun 2000 tanggal 31 Juli 2000. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.06/MEN/2007, PPN Ambon mempunyai tugas melaksanakan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan untuk pelestariannya, dan kelancaran kegiatan kapal perikanan, serta pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

ANALISIS KERAGAAN KAPASITAS PERIKANAN TANGKAP NELAYAN KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA MAILINA HARAHAP

ANALISIS KERAGAAN KAPASITAS PERIKANAN TANGKAP NELAYAN KECAMATAN PANAI HILIR KABUPATEN LABUHAN BATU SUMATERA UTARA MAILINA HARAHAP

Berdasarkan Gambar 7 diketahui berbagai tingkatan skor yang diperoleh dari hasil analisis terhadap 50 unit sampel yang digunakan. Adapun tingkat skor yang dimiliki unit sampel berkisar 0,1 sampai 1. Adapun unit sampel yang memiliki skor 1 dikatakan efisien, sebaliknya kurang dari 1 dikatakan inefisien. Untuk unit sampel yang menunjukkan nilai skor 1 hanya terdapat pada 6 unit sampel dan keseluruhannya adalah unit sampel yang memiliki input nilai projector sama dengan nilai input yang digunakan untuk melaut. Dengan demikian ke 6 unit sampel tersebut dapat dikatakan efisien dalam mengalokasikan input yang digunakan untuk memanfaatkan perikanan laut. Adapun unit-unit sampel yang belum efisien, dapat melakukan potensi perbaikan dengan mengurangi jumlah input yang penggunaannya melebihi jumlah seharusnya. Hasil analisis menunjukkan dari 50 DMU sampel hanya 6 rumahtangga nelayan (12%) yang dikatakan efisien dalam menggunakan kapasitas tangkap dan selebihnya 88% belum efisien. Adapun keragaan dari penggunaan kapsitas tangkap nelayan tersebut ditunjukkan pada Tabel 1.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

Keragaan pembangunan perikanan tangkap suatu analisis program pemberdayaan nelayan kecil

Keragaan pembangunan perikanan tangkap suatu analisis program pemberdayaan nelayan kecil

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Lampiran 1 dan 2). Pemilihan lokasi didasari oleh: 1) bahwa kedua kabupaten telah beberapa kali mendapatkan program Pemberdayaan PEMP. Yaitu Kabupaten Cirebon sebanyak enam kali berturut-turut (2000 sampai dengan 2005), berupa penguatan modal dan satu kali kegiatan Kedai Pesisir, dan Indramayu sebanyak lima kali berturut-turut sejak tahun 20001 sampai dengan 2005, berupa penguatan modal. Dengan kondisi demikian maka diasumsikan bahwa dampak program pemberdayaan nelayan tersebut akan relatif kelihatan, 2) kedua lokasi yang berada di pantai utara Laut Jawa yang telah mengalami tangkap lebih (Overfishing), seperti disebutkan Suyasa (2006), bahwa salah satu perairan dengan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil yang telah melampaui potensi lestari adalah perairan Laut Jawa. Perairan ini menarik untuk dikaji, mengingat kondisi sumberdaya ikan di dalamnya sudah dianggap lebih tangkap, sementara disisi lain sekitar 30,11 persen jumlah nelayan Indonesia pada tahun 2004 terkonsentrasi di sepanjang pantai utara Jawa, dengan daerah operasi penangkapan utama di perairan Laut Jawa. Di samping itu, sekitar 19,27 persen dari total hasil tangkapan ikan perairan laut Indonesia yang jumlahnya mencapai 4.320.241 ton pada tahun tersebut, didaratkan di pelabuhan perikanan yang ada di sepanjang pantai utara Jawa. Sehingga kedua lokasi ini dipandang perlu untuk mendapat perhatian khusus.
Baca lebih lanjut

223 Baca lebih lajut

Keragaan pembangunan perikanan tangkap : suatu analisis program pemberdayaan nelayan kecil

Keragaan pembangunan perikanan tangkap : suatu analisis program pemberdayaan nelayan kecil

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat (Lampiran 1 dan 2). Pemilihan lokasi didasari oleh: 1) bahwa kedua kabupaten telah beberapa kali mendapatkan program Pemberdayaan PEMP. Yaitu Kabupaten Cirebon sebanyak enam kali berturut-turut (2000 sampai dengan 2005), berupa penguatan modal dan satu kali kegiatan Kedai Pesisir, dan Indramayu sebanyak lima kali berturut-turut sejak tahun 20001 sampai dengan 2005, berupa penguatan modal. Dengan kondisi demikian maka diasumsikan bahwa dampak program pemberdayaan nelayan tersebut akan relatif kelihatan, 2) kedua lokasi yang berada di pantai utara Laut Jawa yang telah mengalami tangkap lebih (Overfishing), seperti disebutkan Suyasa (2006), bahwa salah satu perairan dengan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil yang telah melampaui potensi lestari adalah perairan Laut Jawa. Perairan ini menarik untuk dikaji, mengingat kondisi sumberdaya ikan di dalamnya sudah dianggap lebih tangkap, sementara disisi lain sekitar 30,11 persen jumlah nelayan Indonesia pada tahun 2004 terkonsentrasi di sepanjang pantai utara Jawa, dengan daerah operasi penangkapan utama di perairan Laut Jawa. Di samping itu, sekitar 19,27 persen dari total hasil tangkapan ikan perairan laut Indonesia yang jumlahnya mencapai 4.320.241 ton pada tahun tersebut, didaratkan di pelabuhan perikanan yang ada di sepanjang pantai utara Jawa. Sehingga kedua lokasi ini dipandang perlu untuk mendapat perhatian khusus.
Baca lebih lanjut

456 Baca lebih lajut

Keberlanjutan Perikanan Tangkap di Kota Ternate pada Dimensi Ekologi

Keberlanjutan Perikanan Tangkap di Kota Ternate pada Dimensi Ekologi

rumpon pada jarak sekitar 1 – 3 mil (jika fasilitas tersebut tersedia) dengan penangkapan satu hari ( one day trip ). Penangkapan skala sedang dengan mengunakan motor tempel dan kapal motor dapat menjangkau daerah penangkapan ( fishing ground ) yang lebih jauh, namun masih dalam wilayah perairan Maluku Utara (Pulau Batang dua, Halmahera, Kayao, dan sekitarnya). Sementara daerah penangkapan untuk ikan pelagis besar (tuna, cakalang) di perairan Kota Ternate meliputi perairan dibelakang pulau Hiri dan Pulau Batang dua/Laut Maluku. Hal tersebut didukung dengan melihat jenis ikan hasil tangkapan nelayan Kota Ternate. Jenis ikan yang dihasilkan dari aktivitas perikanan tangkap Kota Ternate, secara kasar mirip dengan komposisi hasil tangkapan dari nelayan di kabupaten lain di wilayah Provinsi Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan dari nelayan di Sulawesi Utara.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Potret Perikanan Tangkap Tuna, Cakalang dan Layang di Kota Bitung

Potret Perikanan Tangkap Tuna, Cakalang dan Layang di Kota Bitung

Tujuan penulisan ini adalah memberikan gambaran keragaan perikanan tangkap di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Komoditas utama perikanan tangkap Kota Bitung adalah tuna, cakalang dan layang. Kota Bitung memiliki satu Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) yang keberadaannya sangat strategis. Pendaratan ikan di PPS Bitung berasal dari tangkapan kapal-kapal nelayan sekitar dan nelayan jaring pukat cincin (purse seine), pancing (hand line), rawai (long line) serta kapal pengumpul dan pengangkut. Armada penangkapan di Kota Bitung sebagian besar adalah alat tangkap menggunakan mata pancing seperti pancing tuna, rawai tuna, pancing ulur karena ini berpengaruh dengan nilai jual ikan yang tertangkap khusus ikan tuna dan ikan cakalang. Jumlah perusahaan/ UPI yang bergerak dalam bidang perikanan tangkap dan eksportir di Kota Bitung sebanyak 35 perusahaan. Pada umumnya jenis ikan yang di ekspor adalah tuna. Jalur ekspor ikan tuna dari Kota Bitung yaitu melalui laut dan udara.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...