Top PDF Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama Dalam Agroekosistem

Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan  Serangga Hama Dalam Agroekosistem

Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Serangga Hama Dalam Agroekosistem

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman dapat menurunkan populasi serangga herbivor, semakin tinggi keragaman ekosistem dan semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia, semakin banyak pula interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas serangga. Stabilitas komunitas serangga selain bergantung pada keragamannya, juga pada kepadatan tingkat tropik secara alami (Southwood & Way, 1970). Hasil studi interaksi tanaman-gulma- serangga diperoleh bahwa gulma mempengaruhi keragaman dan keberadaan serangga herbivora dan musuh-musuh alaminya dalam sistem pertanian. Bunga gulma tertentu (kebanyakan Umbelliferae, Leguminosae, dan Compositae) memegang peranan penting sebagai sumber pakan parasitoid dewasa yang dapat menekan populasi serangga hama (Altieri, 1999).
Baca lebih lanjut

35 Baca lebih lajut

Interaksi Tri Trofik Dan Keanekaragaman Serangga Pada Pertanaman Kedelai Dengan Beberapa Teknik Pengelolaan Hama

Interaksi Tri Trofik Dan Keanekaragaman Serangga Pada Pertanaman Kedelai Dengan Beberapa Teknik Pengelolaan Hama

Interaksi trofik kedua dan ketiga di ekosistem pertanaman kedelai melibatkan 13 spesies serangga fitofag yang berinteraksi dengan 16 spesies musuh alami. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat banyak spesies fitofag yang tidak memiliki musuh alami di lahan kedelai, namun spesies serangga fitofag tersebut bukan merupakan hama utama kedelai. Interaksi antara trofik kedua dan ketiga menghasilkan pola yang berbeda pada masing-masing teknik pengelolaan hama. Perlakuan P-K memiliki pola interaksi trofik kedua dan ketiga yang terlihat lebih renggang dibandingkan dengan pola interaksi pada perlakuan P-C dan P-P. Jumlah tautan trofik yang terbentuk antara trofik kedua dan ketiga pada perlakuan P-K sebanyak 26 tautan, jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan jumlah tautan trofik yang terbentuk pada perlakuan P-C (50 tautan) dan perlakuan P-P (41 tautan). Jumlah tautan trofik yang lebih sedikit pada perlakuan P-K disebabkan oleh jumlah spesies musuh alami yang ada pada perlakuan P-K (10 spesies) lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah spesies musuh alami di perlakuan P-C (16 spesies) dan perlakuan P- P (14 spesies). Faktor yang diduga menyebabkan kondisi ini adalah intensitas penyemprotan insektisida sintetik yang tinggi pada petak perlakuan P-K. Zacharia (2011) melaporkan bahwa penggunaan pestisida memiliki dampak yang tidak dapat diprediksi terhadap ekologi dan jaring-jaring makanan, pestisida dapat membunuh spesies kunci yang akan memengaruhi berbagai jenis spesies pada tingkatan trofik diatasnya. Pestisida juga dapat membunuh spesies penting yang dapat memengaruhi fungsi keseluruhan ekosistem, atau dapat menyebabkan tingginya populasi hama tertentu yang tidak diinginkan, atau dapat menurunkan jenis dan jumlah spesies yang ada dalam ekosistem (Zacharia 2011). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Schoenly et al. (1996) menghasilkan kesimpulan bahwa penggunaan insektisida akan lebih memengaruhi keanekaragaman dan kelimpahan musuh alami dibandingkan dengan keanekaragaman dan kelimpahan serangga fitofag.
Baca lebih lanjut

78 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Serangga pada Pertanaman Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Teknik PHT dan Non PHT di Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang

Keanekaragaman Serangga pada Pertanaman Kakao (Theobroma cacao L.) dengan Teknik PHT dan Non PHT di Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang

Umumnya petani masih melakukan pengelolaan OPT dengan cara konvensional yaitu dengan menggunakan bahan-bahan kimiawi. Pengendalian OPT dengan menggunakan insektisida kimiawi saja memiliki dampak buruk. Regnault-Roger (2005) menyebutkan bahwa penggunaan insektisida kimiawi yang tidak tepat akan membawa dampak yang buruk, lebih merugikan dibanding manfaat yang dihasilkan antara lain dapat menyebabkan hilangnya serangga berguna pada tanaman, timbulnya resistensi hama, munculnya hama sekunder,

4 Baca lebih lajut

STRUKTUR KOMUNITAS HYMENOPTERA PARASITOID YANG BEASOSIASI DENGAN HAMA UTAMA TANAMAN CRUCIFERAE DAN TUMBUHAN LIAR PADA TIPE LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

STRUKTUR KOMUNITAS HYMENOPTERA PARASITOID YANG BEASOSIASI DENGAN HAMA UTAMA TANAMAN CRUCIFERAE DAN TUMBUHAN LIAR PADA TIPE LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

Hymenoptera parasitoid merupakan musuh alami yang sangat penting karena keanekaragamannya yang tinggi dan keefektifannya sebagai agens pengendali hayati. van Emden (1991) mengatakan peningkatan keanekaragaman habitat dalam lanskap pertanian dapat meningkatkan keanekaragaman serangga hama dan serangga bermanfaat (musuh alami) dan seringkali kerusakan tanaman oleh hama berkurang. Selanjutnya Kruss dan Tscharntke (2000) menambahkan bahwa tipe dan kualitas habitat, susunan spasial dan keterhubungan (connectivity) antar habitat di dalam suatu lanskap dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Hipotesis tersebut didukung oleh Yaherwandi et al. (2007) yang mengemukakan bahwa keanekaragaman struktur lanskap pertanian tidak hanya mempengaruhi keanekaragaman musuh alami (Hymenoptera parasitoid) di dalam pertanaman, tetapi juga kelimpahan dan keefektifannya. Memahami pengaruh tipe atau struktur lanskap terhadap interaksi antara tanaman, hama dan musuh alami merupakan masalah yang kompleks dan pada gilirannya mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan pengendalian hayati.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

STRUKTUR KOMUNITAS HYMENOPTERA PARASITOID YANG BEASOSIASI DENGAN HAMA UTAMA TANAMAN CRUCIFERAE DAN TUMBUHAN LIAR PADA TIPE LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

STRUKTUR KOMUNITAS HYMENOPTERA PARASITOID YANG BEASOSIASI DENGAN HAMA UTAMA TANAMAN CRUCIFERAE DAN TUMBUHAN LIAR PADA TIPE LANSKAP PERTANIAN BERBEDA.

Hymenoptera parasitoid merupakan musuh alami yang sangat penting karena keanekaragamannya yang tinggi dan keefektifannya sebagai agens pengendali hayati. van Emden (1991) mengatakan peningkatan keanekaragaman habitat dalam lanskap pertanian dapat meningkatkan keanekaragaman serangga hama dan serangga bermanfaat (musuh alami) dan seringkali kerusakan tanaman oleh hama berkurang. Selanjutnya Kruss dan Tscharntke (2000) menambahkan bahwa tipe dan kualitas habitat, susunan spasial dan keterhubungan (connectivity) antar habitat di dalam suatu lanskap dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Hipotesis tersebut didukung oleh Yaherwandi et al. (2007) yang mengemukakan bahwa keanekaragaman struktur lanskap pertanian tidak hanya mempengaruhi keanekaragaman musuh alami (Hymenoptera parasitoid) di dalam pertanaman, tetapi juga kelimpahan dan keefektifannya. Memahami pengaruh tipe atau struktur lanskap terhadap interaksi antara tanaman, hama dan musuh alami merupakan masalah yang kompleks dan pada gilirannya mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan pengendalian hayati.
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama

Pengelolaan Agroekosistem dalam Pengendalian Hama

Pengelolaan agroekosistem dalam pengendalian hama, merupakan salah satu metode dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang diterapkan dengan pendekatan ekologi. Penerapan metode ini dilakukan setelah dipahami faktor-faktor penyebab suatu agroekosistem menjadi rentan terhadap eksplosi hama, dan dikembangkan metode-metode yang dapat meningkatkan ketahanan agroekosistem tersebut terhadap eksplosi hama. Prinsip utama dalam pengelolaan agroekosistem untuk pengendalian hama adalah menciptakan keseimbangan antara herbivora dan musuh alaminya melalui peningkatan keragaman hayati. Peningkatan keragaman vegetasi dan penambahan biomassa, dapat meningkatkan keragam- an hayati dalam suatu agroekosistem. Peningkatan keragaman vegetasi dilakukan melalui pola tanam polikultur dengan pengaturan agronomis yang optimal. Penambahan biomassa dilakukan dengan mengaplikasikan mulsa, penambahan pupuk hijau dan pupuk kandang. Kedua metode ini ditujukan untuk mendapatkan produktivitas lahan yang optimal dan berkelanjutan.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SERANGGA HAMA GUDANG | Karya Tulis Ilmiah

SERANGGA HAMA GUDANG | Karya Tulis Ilmiah

Adapun analisa data pada percobaan ini telah terlampir pada lembar lampiran. Bahan yang akan dipraktikum adalah tepung terigu yang telah lama disimpan hingga mendatangkan hama serangga dan menimbulkan bau tengik. Bahan 200 gr diayak sampai habis sampai terkumpulnya semua hama serangga yang ada didalam tepung terigu. Pada bahan awal terdapat larva awal yang berjumlah 5 ekor, pupa 10 ekor, dan imago 5 ekor. Kemudian dilakukan pengamatan selama 3 hari berturut-turut dan dicatat jumlah populasi jenis serangga tersebut.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

UJI KERENTANAN BEBERAPA SERANGGA HAMA TERHADAP INFEKSI NEMATODA Heterorhabditis spp. (Rhabditida: Heterorhabditidae).

UJI KERENTANAN BEBERAPA SERANGGA HAMA TERHADAP INFEKSI NEMATODA Heterorhabditis spp. (Rhabditida: Heterorhabditidae).

Pengendalian serangga hama yang paling umum dilakukan oleh petani yaitu dengan menggunakan pestisida sintetik. Dalam jangka panjang pemakaian pestisida sintetik ini memiliki dampak yang buruk, baik terhadap lingkungan maupun terhadap manusia sebagai konsumen utama. Berdasarkan pemikiran ini maka dikembangkanlah suatu cara pengendalian yang lebih ramah lingkungan yaitu pengedalian hayati dengan mengunakan musuh alami Menurut Pedigo (1989), musuh alami tersebut adalah predator, parasitoid, dan patogen. Musuh alami biasanya akan mengurangi populasi serangga hama karena dengan adanya serangga hama maka populasi musuh alami akan meningkat sehingga akan menurunkan populasi hama pada taraf yang tidak merugikan dan juga berperan penting dalam menurunkan kerusakan potensial dari hama penting.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

SERANGGA HAMA GUDANG

SERANGGA HAMA GUDANG

Pada hari ke-1 pengamatan didapat larva 5 ekor, pupa 10 ekor, dan imago 5 ekor. Jumlah populasi masih sama pada awal bahan. Pada hari ke-2 mulai ada yang berkembang menjadi pupa dan imago ada yang mati, jumlah larva 4 ekor, pupa 12 ekor, dan imago 4 ekor. Begitu juga pada hari ke-3 jumlah populasi sama pada hari ke-2. Semua serangga yang hidup dan berkembang biak pada bahan simpan makan biji-bijian atau produk olahan denagn kuantitas dan cara yang berbeda-beda.

3 Baca lebih lajut

Kajian pengelolaan agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati

Kajian pengelolaan agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati

Kegiatan yang pernah penulis lakukan selama menjadi mahasiswa IPB antara lain Studi Karakteristik Sosial Ekonomi dan Monitoring Biodiversitas di Taman Nasional Batang Gadis, Sumatera Utara (2005); Ciremai Mount Biodiversity Explore and Groundcheck (2005); Kajian Bio-ekologi Rafflesia rochusenii, Gunung Salak, Bogor (2006); Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) Getas-Cilacap (2006); Ekspedisi Gunung Kerinci dan Kajian Orang Rimba, Jambi (2006); Rinjani Mountain Bike Tour (2008); Penelusuran Goa Leang Pute (2009); Sepeda Lintas Teluk Bone, Pulau Muna dan Buton (2009); Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) di Kalimantan Tengah dan Jambi (2010) dan Ekspedisi Leuser Lawalata-IPB (2010).
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

UJI EFEKTIVITAS AGENSIA HAYATI Metarrhizium anisopliae TERHADAP KEPADATAN POPULASI HAMA UTAMA PADA TANAMAN LADA (Piper nigrum L.) SKRIPSI

UJI EFEKTIVITAS AGENSIA HAYATI Metarrhizium anisopliae TERHADAP KEPADATAN POPULASI HAMA UTAMA PADA TANAMAN LADA (Piper nigrum L.) SKRIPSI

Hama adalah organisme yang mengganggu tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembanganya terganggu dan dapat menurunkan produksi tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh aplikasi agensia hayati cendawan Metarhizium anisopliae terhadap kepadatan populasi, keanekaragaman hama serta dosis yang paling efektif dalam mengendalikan hama utama tanaman lada. Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2016 sampai Maret 2017. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Dusun Nyikep, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan konsentrasi agensia hayati yaitu 4 taraf perlakuan. Tiap taraf diulang sebanyak 6 kali ulangan sehingga terdapat 24 unit percobaan (petakan) dan setiap petakan terdiri dari 4 sampel tanaman sehingga terdapat 96 sampel tanaman. Analisis data menggunakan ANOVA taraf α 5 % dan apabila berpengaruh nyata maka kan dilakukan uji lanjut BNT pada taraf kepercayaan 95% dan Analisis korelasi menggunakan program IBM SPSS Statistik versi 2. Isolat cendawan Metarhizium anisopliae yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Balai Proteksi Tanaman Provinsi Bangka Belitung. Hasil sidik ragam terhadap peubah jumlah hama masing-masing spesies yaitu menunjukan bahwa aplikasi cendawan Metarhizium anisoliae tidak berpengaruh nyata terhadap hama utama tanaman lada.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Dan Kelimpahan Populasi Serangga Hama Dan Serangga Musuh Alami Pada Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus (Jacq.Ex Fr.) Kummer).

Keanekaragaman Dan Kelimpahan Populasi Serangga Hama Dan Serangga Musuh Alami Pada Budidaya Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus (Jacq.Ex Fr.) Kummer).

Serangga L. immaculipennis merupakan hama pada pembudidayaan jamur tiram putih karena larva serangga ini dapat hidup pada media tumbuh maupun tudung jamur tiram putih (Sahlah, 2003). Kelimpahan populasi L. immaculipennis mencapai 3,691% (Tabel 3) merupakan serangga hama jamur tiram putih di Cisarua, Bandung. Menurut Azizah (2003) fase larva merupakan fase pertumbuhan yang merusak baik pada jamur maupun media tumbuhnya. Larva yang baru terbentuk dapat langsung memakan lamela tudung jamur dan berdiam pada lubang gerekan atau menuju ke tangkai jamur. Fase imagonya tidak merusak jamur, fase ini dapat menghisap cairan madu dari tumbuhan yang terdapat disekitar kumbung. Pada kumbung jamur tiram putih yang terdapat di Cisarua, Bandung, serangga hama dewasa tidak bergerak aktif sehingga diduga berhubungan dengan distribusi dan penyebaran serta kehadirannya yang tidak terlalu tinggi pada tiap kumbung.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

Keanekaragaman Jenis Serangga Pada Pertanaman Coffea arabica L. Setelah Erupsi Abu Vukanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo

Serangga merupakan bioindikator kesehatan hutan. Penggunaan serangga sebagai bioindikator akhir-akhir ini dirasakan semakin penting dengan tujuan utama untuk menggambarkan adanya keterkaitan dengan kondisi faktor biotik dan abiotik lingkungan. Sejumlah kelompok serangga seperti kumbang (terutama kumbang pupuk), semut, kupu-kupu dan rayap memberikan respons yang khas terhadap tingkat kerusakan hutan sehingga memiliki potensi sebagai spesies indicator untuk mendeteksi perubahan lingkungan akibat konversi hutan oleh manusia yang sekaligus menjadi indikator kesehatan hutan (Subekti, 2013).
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Inventarisasi Serangga Pada Tanaman Teh (Cammelia sinenisis. L) di Perkebunan Teh PTPN IV Sidamanik Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Inventarisasi Serangga Pada Tanaman Teh (Cammelia sinenisis. L) di Perkebunan Teh PTPN IV Sidamanik Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara

Telah dilakukan penelitian tentang “Inventarisasi Serangga Pada Tanaman Teh (Cammelia sinensis. L) di Perkebunan Teh PTPN IV Sidamanik Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara”, yang dilaksanakan pada bulan Februari 2009. Penentuan lokasi pengamatan digunakan metode “Purpossive Sampling”, pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode “Survey”, dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode “Hand sorting”, Kibas dan “Light Trap”. Dari hasil penelitian menunjukkan ada 16 jenis serangga yang termasuk ke dalam 9 Ordo dan 16 Famili yaitu Cantaris, Harmonia, Orseolia, Leptocorixa, Andrallus, Helopeltis, Nilaparvata, Hyposidra, Nyctemera, Aeshna, Sexava, Valanga, Cicindela, Formica, Vespula, dan Hierodula. Dari 16 jenis serangga tersebut terdapat 2 jenis serangga hama pada tanaman teh yaitu Helopeltis dan Hyposidra, 6 jenis serangga hama pada tanaman lain yaitu Orseolia, Leptocorixa, Sexava, Valanga, Cantaris dan Nilaparvata, 2 jenis serangga penyerbuk yaitu Vespula dan Nyctemera sedangkan 6 seranga yang lain adalah serangga predator yaitu Cantaris, Harmonia, Andrallus, Cicindela, Formica dan Hierodula.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Keanekaragaman Hayati Indonesia: Pengelolaan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Keanekaragaman Hayati Indonesia: Pengelolaan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Langkah pelestarian sudah dilakukan oleh Pemerintah melalui upaya in-situ dan eks-situ dengan membuat banyak kawasan konservasi dan program konservasi jenis.Selain itu, Pemerintah juga melengkapi perangkat legislasi untuk kehati.Strategi penyelamatan dan pengelolaan juga disiapkan oleh Pemerintah sehingga berbagai pihak dapat ikut berpartisipasi dalam upaya pengelolaan kehati agar dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.Namun bukan berarti upaya yang dilakukan tanpa tantangan.Tantangan yang ada perlu diatasi untuk kelangsungan pelestarian kehati.Dengan demikian strategi dan langkah antisipasi untuk mengatasi tantangan perlu disiapkan dan direalisasikan.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

PPT Peranan Serangga Bagi Kehidupan Manu

PPT Peranan Serangga Bagi Kehidupan Manu

Serangga yang Merugikan Hama Suatu atau sekelompok serangga dapat dinyatakan sebagai hama pada keadaan dan waktu tertentu tetapi pada keadaan dan waktu yang lain dapat dikatakan sebaga[r]

10 Baca lebih lajut

SILABUS DAN SAP BIOLOGI UMUM (Recovered)

SILABUS DAN SAP BIOLOGI UMUM (Recovered)

tubuh organisme pembelajaran untuk presentasi Mengetahui dan memahami tentang Keanekaragaman Hayati Menjelaskan tentang: Keanekaragaman Hayati Menerangkan tentang: Keanekaragaman Haya[r]

8 Baca lebih lajut

Peranan Serangga Bagi Kehidupan Manusia

Peranan Serangga Bagi Kehidupan Manusia

Serangga yang Merugikan Hama Suatu atau sekelompok serangga dapat dinyatakan sebagai hama pada keadaan dan waktu tertentu tetapi pada keadaan dan waktu yang lain dapat dikatakan sebaga[r]

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...