Top PDF Komodifikasi Media dan Budaya Kohe

Komodifikasi Media dan Budaya Kohe

Komodifikasi Media dan Budaya Kohe

industri komunikasi. Ketiga, hal yang lebih sulit dihadapi oleh masyarakat kontemporer adalah meningkatnya tuntutan terus menerus, sebagai kecenderungan dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi- kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman- ancaman yang sebenarnya mereka sebarkan sendiri. Dan keempat, karena dalam masyarakat kita kekuatan- kekuatan produksi sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan- hubungan produksi terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat komoditas “sarat dengan antagonisme” (full of antagonism). Antagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada “wilayah ekonomi” (economic sphere) tetapi juga ke “wilayah budaya” (cultural sphere).
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Komodifikasi Tabut Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Provinsi Bengkulu.

Komodifikasi Tabut Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Provinsi Bengkulu.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2010) terkait dengan tabut , diketahui bahwa beliau hanya mengungkapkan tentang komodifikasi tabut secara umum dari segi pemasaran pariwisata. Komodifikasi yang dilakukan merupakan strategi pemerintah bersama- sama masyarakat setempat dalam pengembangan tabut menjadi industri pariwisata berbasis budaya yang memenuhi persyaratan keaslian ( originality ), kelangkaan ( scarsity ), dan keutuhan ( wholesomeness ) sebagai aset berharga dalam pembangunan pariwisata budaya di Provinsi Bengkulu, di mana dalam pendistribusiannya menggunakan media massa dan komunikasi lisan dengan harapan agar wisatawan lokal maupun mancanegara tertarik berkunjung untuk menyaksikan tabut di Provinsi Bengkulu, sedangkan peneliti sendiri melihat dari sudut pandang keilmuan kajian budaya ( cultural studies ) yang mengkritisi dampak lain yang ditimbulkan dari komodifikasi yang secara harfiah adanya sentuhan kapitalis dan hegemoni di dalamnya. Pemerintah, masyarakat, dan pemangku tradisi secara sengaja mengubah tabut dari yang bersifat sakral menjadi profan demi pengembangan kepariwisataan di Provinsi Bengkulu.
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

KOMODIFIKASI ANAK DALAM PENTAS BUDAYA POPULER

KOMODIFIKASI ANAK DALAM PENTAS BUDAYA POPULER

Maka yang menjadi obyek dalam proses komodifikasi dalam penelitian ini adalah anak-anak, yang tampil di atas pentas, menyanyi, dalam rangka memuaskan para pemirsa penggemarnya, dalam konteks kultural. Anak-anak menyanyi, untuk ditukarkan dengan dukungan atas mereka melalui votting SMS sebanyak- banyaknya, agar impian mereka untuk dapat menjadi idola cilik (idolanya anak-anak) dalam program Idola Cilik tercapai. Idola yang kemudian difasilitasi oleh media dalam bingkai budaya pop, adalah salah satu cara manusia mengekspresikan dirinya. Cara-cara yang ditempuh dalam pengekspresian diri itu dapat bermacam-macam. Tampil atau menampilkan diri adalah salah satu cara untuk membuat diri seseorang menjadi seorang idola.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

KOMODIFIKASI BUDAYA LOKAL DALAM TELEVISI (Studi Wacana Kritis Komodifikasi Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta)

KOMODIFIKASI BUDAYA LOKAL DALAM TELEVISI (Studi Wacana Kritis Komodifikasi Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta)

149 budaya asli yang menjadi simbol dari tayangan ini. Mengacu pada konsepnya Paul Wilis dalam Barker (2008:305), dalam permainan kreatif termasuk di televisi, makna dihasilkan, diubah dan diatur pada level konsumsi oleh orang- orang yang merupakan produsen aktif makna perusahaan media kapitalis. Komodifikasi isi terjadi melalui proses penyesuaian dan penambahan materi acara Pangkur Jenggleng yang dulunya berformat audio menjadi format audiovisual.Siaran audio mengandalkan imajinasi para pendengarnya sedangkan televisi sebagai media audiovisual selain ada unsur audio juga memasukkan tayangan visual. Proses penyesuaian dan penambahan isi tayangan untuk menampung keinginan masyarakat telah memperluas audiens acara tersebut dan sekaligus mengarahkannya menjadi budaya massa. Budaya massa ini menurut Burton (2008:9) selain cenderung meninggalkan budaya asli (budaya rakyat) juga didorong oleh motif untuk meraih laba. Komodifikasi isi ini terjadi melalui proses produksi, distribusi dan konsumsi. Penyesuaian dan penambahan isi tayangan baru bisa dinilai dan dikomersialkan ketika acara tersebut sudah melalui proses produksi, dan didistribusikan kepada pemirsa sehingga bisa dikonsumsi. Saat itulah sponsor dan iklan bisa masuk.
Baca lebih lanjut

170 Baca lebih lajut

KOMODIFIKASI PRIVASI DALAM MEDIA MASSA P

KOMODIFIKASI PRIVASI DALAM MEDIA MASSA P

Pemilik modal melihat, dengan membawa nama Raffi Ahmad yang populer di masyarakat, setiap program yang ditayangkan akan banyak diminati penonton. Tetapi jika dilihat dari nilai-nilai, ini semua sudah melenceng jauh. Dari aspek ekonomi, media hanya mencari keuntungan yang sangat besar, dari aspek sosial yang sudah tidak ada produk yang inspiratif dan mendidik, bahkan dari aspek budaya yang sudah hilang moral dan privasi. Ini semua menjurus pada Kapitalisme yang sudah mengusai aspek sosial dunia dengan produk-produk yang sarat akan bisnis. Para pemilik media melihat kesempatan ini dengan baik, melihat bahwa penonton bukan hanya sekedar penonton, melainkan penonton merupakan “pekerja” dari sebuah media sendiri. Penonton akan menentukan rating dan share dari sebuah produk media, dan bagi media televisi sendiri, rating dan share seolah- olah menjadi sebuah roh yang sangat disanjung tinggi. Sangat ironis memang dengan kemajuan yang terjadi di era modern, media televisi Indonesia masih berdampak negatif bagi masyarakat Indonesia dengan menampilkan tayangan-tayangan yang tidak berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

PENDAHULUAN KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

Keberhasilan stasiun televisi diukur dari seberapa mampu suatu program yang disiarkan dapat menarik perhatian audience (Effendy, 1989: 287). Menurut Morissan (2009: 342) peringkat program atau rating menjadi hal yang sangat penting bagi pengelola stasiun penyiaran komersial, termasuk pada televisi. Rating adalah sebuah ukuran kesuksesan suatu program televisi, yang dilaporkan secara rutin oleh lembaga riset pemirsa, seperti Nielsen Media Research (AGB). Rating menjadi patokan utama, karena pengiklan (advertisers) selalu mencari program siaran yang paling banyak memiliki penonton. Namun disisi lain, hal ini disebut sebagai komodifikasi khalayak (audience commodification) karena khalayak dijual kepada pengiklan untuk mendapatkan keuntungan (Mosco, 1996). Menurut Panjaitan dan Iqbal (2006: 21), data rating akan selalu ditindaklanjuti secara cepat dan konkret oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Hal ini dilakukan demi bertahan dalam suatu persaingan.
Baca lebih lanjut

26 Baca lebih lajut

Kesimpulan KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

Kesimpulan KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

Dalam konteks media televisi, para ahli berpendapat bahwa komodifikasi yang cenderung terjadi ialah komodifikasi isi/konten media yaitu berupa program-program televisi yang diproduksi dan disiarkan. Isi program diubah sedemikian rupa sesuai dengan selera pasar, bukan didasarkan atas kualitas program/keautentikan isi program. Sehingga dalam hal ini media televisi dinilai sebagai media yang banyak melakukan komodifikasi, bukan saja dalam bentuk isi/konten yang disiarkan, akan tetapi terjadi didalam berbagai bentuk komodifikasi. Seperti yang dikaji dalam Karya Tulis Ilmiah ini yaitu mengenai bentuk-bentuk komodifikasi apa saja yang terjadi didalam proses penayangan program pengembangan seni budaya yang ditayangkan oleh JOGJA TV selama periode waktu tertentu.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

DAKWAHTAINMENT: KOMODIFIKASI INDUSTRI MEDIA DI BALIK AYAT TUHAN

DAKWAHTAINMENT: KOMODIFIKASI INDUSTRI MEDIA DI BALIK AYAT TUHAN

Artinya, televisi menawarkan suasana dan kehidupan lain dalam diri kita, sehingga problem dan kegiatan kita sehari-hari yang bersifat “monoton” terlengkapi oleh televisi yang menawarkan sesuatu yang lain, dan melengkapi atau menambah (mendukung dan menyempurnakan) dari sisi kegiatan kita. Itulah yang menjadikan televisi selalu menarik dan dapat diterima. Televisi juga mampu menembus batas kewarganegaraan, ras, bahasa, kelas, umur, dan jenis kelamin. Televisi mampu menyatukan masyarakat Indonesia yang memiliki ragam budaya, ragam kepentingan ke dalam suatu acara yang ditayangkan televisi. Kita dapat bersorak manakala Taufik Hidayat menjadi juara dunia bulu tangkis, atau turut gemas dan bersedih manakala timnas kita kalah dari Thailand dalam semi final piala FFA belum lama ini; atau kita turut menyanyi dan bergoyang manakala acara kontes KDI disiarkan; atau contoh tayangan bernuansa religius yang dapat terasa adalah adanya seseorang yang dapat larut dalam sebuah dialog atau diskusi keagamaan, pertanyaan lewat sambungan telepon secara antusias; atau kehanyutan dan turut khusu’ hingga meneteskan air mata mana kala saat Arifin Ilham memimpin acara Az- Zikranya; atau imbasnya dapat terasa, dari obrolan dua orang atau lebih, misalnya: “Hei, jangan suka mencuri nanti matinya tangannya busuk, lho! Apa kamu ndak pernah lihat, seperti yang dialami si A dalam film Pintu Hidayah. Itu kisah nyata, lho!” contoh percakapan tersebut menunjukkan bahwa sebuah acara televisi (religi) yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu membekas dan diingat oleh pemirsanya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

FULL TESIS EmmanuelPutroPrakoso S01130200 ProgramStudiSeniRupa UNS

FULL TESIS EmmanuelPutroPrakoso S01130200 ProgramStudiSeniRupa UNS

Gambaran fenomena di atas merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi seperti yang dikemukakan oleh Karl Marx dan George Simnel, yang dikutip oleh Turner (1992: 115 – 132), yang mengatakan bahwa faktor dorongan ekonomi menimbulkan semangat menciptakan keuntungan sebanyak-banyaknya yang berdampak pada munculnya gejala komodifikasi diberbagai sektor kehidupan. Hal ini diperkuat oleh Ardika (2008: 3) dalam penelitiannya yang berjudul “ Pariwisata Budaya Berkelanjutan, Refleksi dan Harapan di Tengah Perkembangan Global” , yang mengatakan bahwa komodifikasi tidak semata- mata dilakukan oleh pelaku ekonomi saja, melainkan masyarakat lokal juga berpotensi untuk melakukan praktik komodifikasi karena mereka mempunyai hak yang sama untuk mengkomodifikasikan setiap poduk yang dihasilkannya. Faktor- faktor lain yang memungkinkan mendorong terjadinya komodifikasi pada karya cetak tinggi dan cetak saring seniman Sri Maryanto, Bayu Widodo dan Muhamad Yusuf adalah dorongan akan kebutuhan hidup seperti yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, yang dikutip oleh Alwisol (2009: 202), yang mengatakan bahwa setiap manusia hidup memiliki kebutuhan homeostatik seperti makan dan minum, serta kebutuhan dalam aktualisasi diri seperti kreativitas, realisasi diri dan pengembangan diri. Faktor terakhir yang mempengaruhi terjadinya proses komodifikasi adalah pandangan seniman terhadap industri kreatif, dimana seniman memposisikan karya seni dengan standar-standar tertentu, seperti ada karya yang diciptakan khusus sebagai idealisme dengan standar lebih tinggi dari sisi konsep, ukuran, media, harga dan fungsi, namun ada juga karya diperuntukkan atas dasar ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kualitas karya yang relatif lebih rendah dari sisi konsep, ukuran, media, harga dan fungsi. Hal ini tidak terlepas adanya hubungan antara penawaran dan permintaan yang menghasilkan barang dan jasa.
Baca lebih lanjut

166 Baca lebih lajut

Komodifikasi Seks dan Pornografi dalam Estetika Iklan (Artikel Jurnal Panggung STSI Bandung, 2007)

Komodifikasi Seks dan Pornografi dalam Estetika Iklan (Artikel Jurnal Panggung STSI Bandung, 2007)

Keberadaan iklan di media massa bukanlah sebuah genre wacana langka dalam diskursus perihal kultur ekonomi kapital dan budaya massa (mass culture), sebagaimana yang tengah menggejala di zaman sekarang. Fakta empiris keseharian menunjukkan, manakala bersinggungan dengan media massa baik cetak maupun elektronik, fenomena iklan niscaya menyertai di dalamnya, bahkan tak jarang keberadaannya cukup dominan. Fenomena ini di antaranya disebabkan oleh konsekuensi pergeseran wacana budaya massa dan ekonomi di era kapital dengan segala narasi besarnya, yakni sebuah potret kultur ekonomi yang bergerak dari ‘politik ekonomi komoditi’ (kapitalisme era Marx), ke arah ‘politik ekonomi tanda’ (kapitalisme lanjut), dan kini menuju ‘politik ekonomi libido’ (Piliang, 1998:80). Dampak paling menonjol yang menyertainya kemudian, adalah, sistem ekonomi yang ada dikuasai oleh ideologi ‘libidonomic’ 2 , dengan orientasi utama berupa pendistribusian rangsangan, rayuan, godaan, kesenangan, kegairahan, hasrat atau hawa nafsu tanpa batas, dalam satu arena pertukaran ekonomi di masyarakat. Dalam konteks inilah, iklan menjadi salah satu media yang paling efektif dalam rangka politik ekonomi ini, hingga akhirnya keberadaan iklan dalam era ini merupakan bagian mesin picu komoditas yang amat efektif, untuk menebarkan jejaring nafsu dan hasrat (desire) konsumtif masyarakat. 3
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

Joget, Komodifikasi Budaya Suku Laut

Joget, Komodifikasi Budaya Suku Laut

Salah satu tradisi yang masih ada pada saat ini adalah joget, meski mengalami pergeseran dari tatacara dan peralatan yang digunakan. Jika sebelumnya joget merupakan media hiburan gratis Suku Laut, kini berubah menjadi media hiburan yang bisa mendorong warga untuk berperilaku hidup boros.

2 Baca lebih lajut

KONSTRUKSI NARASI PERKOSAAN DALAM TEKS MEDIA (ANALISIS NARATIF PEMBERITAAN KASUS “EF” DI TRIBUNNEWS.COM)

KONSTRUKSI NARASI PERKOSAAN DALAM TEKS MEDIA (ANALISIS NARATIF PEMBERITAAN KASUS “EF” DI TRIBUNNEWS.COM)

Kritik Budaya Komunikasi: Budaya, media, dan gaya hidup dalam proses demokratisasi di Indonesia.. Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi.[r]

3 Baca lebih lajut

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komodifikasi Agama dalam Fashion Hijab di Blog Brain Beauty Belief T1 362010018 BAB I

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komodifikasi Agama dalam Fashion Hijab di Blog Brain Beauty Belief T1 362010018 BAB I

Internet memberikan kemudahan bagi penggunanya untuk mengakses segala informasi dari seluruh penjuru dunia. Baik informasi di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dll. Selain mencari dan mendapatkan informasi, internet yang juga memiliki banyak fasilitas yang ditujukan untuk para penggunanya untuk berbagi informasi, cerita bahkan karya melalui dunia maya tersebut. Contohnya adalah keberadaan blog yang merupakan sebuah media bagi seseorang untuk membagikan informasi melalui tulisan mereka. Dalam blog, seseorang bisa menuliskan cerita, informasi, opini, atau fakta tentang suatu hal. Tujuannya adalah untuk membagikan hal itu kepada pembacanya.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGANSENI BUDAYA DI JOGJA TV KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGANSENI BUDAYA DI JOGJA TV KOMODIFIKASI DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN SENI BUDAYA DI JOGJA TV.

Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan komodifikasi yang terjadi dalam proses penayangan program pengembangan seni budaya oleh JOGJA TV. Dalam konteks media televisi, para ahli berpendapat bahwa komodifikasi yang cenderung terjadi ialah komodifikasi isi/konten media yaitu berupa program-program televisi yang diproduksi dan disiarkan. Isi program diubah sedemikian rupa sesuai dengan selera pasar, bukan didasarkan atas kualitas program/keautentikan isi program. Sehingga dalam hal ini media televisi dinilai sebagai media yang banyak melakukan komodifikasi, bukan saja dalam bentuk isi/konten yang disiarkan, akan tetapi terjadi didalam berbagai bentuk komodifikasi. Dalam penelitian ini hasil rating program pengembangan seni budaya yang ditayangkan oleh Jogja TV tahun 2007-2009 telah dianalisa dengan mengacu pada konsep komodifikasi menurut Vincent Mosco. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian pendekatan deskriptif kualitaif yang menggunakan data kuantitatif yaitu menganalisis data hasil rating program berdasarkan angka. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi dan wawancara. Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan proses penayangan pengembangan seni budaya di JOGJA TV sedangkan wawancara dilakukan dengan sejumlah informan meliputi: Humas, Produser program acara seni budaya, Penanggung jawab dan wakil penanggung jawab siaran, Koordinator siaran, Reporter, dan Kameramen JOGJA TV. Hasil penelitian membuktikan bahwa telah terjadi bentuk- bentuk komodifikasi yaitu dalam bentuk komodifikasi khalayak, komodifikasi intrinsik, dan komodifikasi pekerja. Dalam hal ini program pengembangan seni budaya telah diubah menjadi komoditas berdasarkan selera pasar.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

 this  file 680 1484 1 SM

this file 680 1484 1 SM

Pada lanskap Indonesia kontemporer, identitas keislaman bukan lagi mejadi hal yang tabu. Seiring dengan materialisme yang tumbuh di kalangan masyarakat Indonesia serta komodifikasi yang terus diresonansikan oleh media massa, media menciptakan sebuah budaya Islam pop yang mengunggulkan performativitas dalam beragama Islam sendiri kini tidak hanya dilihat dari level-level simbolik yang diyakini sebagai artefak keislaman, melainkan diwujudkan dalam bentuk budaya pop yang kemudian diadaptasi sebagai gaya hidup kaum muslim Indonesia (Ibrahim, 2007:134). Tumbuhnya sekolah-sekolah Islam dengan biaya yang mahal, fashion dengan label Exclusive Moslem Fashion menjadi salah satu indikator kebangkitan “Islam” yang dikategorisasikan sebagai budaya pop. Begitu juga dengan media massa.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

2. Komodifikasi Budaya - Pemanfaatan pustaka budaya Pura Tirta Empul sebagai daya tarik wisata di Bali - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

2. Komodifikasi Budaya - Pemanfaatan pustaka budaya Pura Tirta Empul sebagai daya tarik wisata di Bali - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Idelogi yang mendasari komodifikasi Pura Tirta E mpul dalam konteks pariwisata global merujuk dan mengarah pada ideologi pasar. Hal ini terjadi karena ada kesempatan dan peluang, sehingga masyarakat pemilik kebudayaan Pura Tirta E mpul termotivasi melahirkan kreativitas dalam menyambut “pasar” peradaban masyarakat global, seperti industri pariwisata yang berciri kekuatan kapitalisme dibidang ekonomi. Pura Tirta E mpul yang semula merupakan tempat suci, kemudian merambah, dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. Kedua sisi itu tampak berlawanan, tetapi berjalan berdampingan saling melengkapi dan memperkokoh eksistensi masing- masing. Sekat yang menjadikan Pura Tirta Empul sebagai tempat suci dan daya tarik wisata dibangun oleh kebiasaan atau pengalaman manusia yang sifatnya ritual dan kepentingan praktis untuk memperoleh keuntungan ekonomi.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

T1  Judul Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Media Sosial: Studi Kasus Aksi Vulgar di Media Sosial Bigo Live

T1 Judul Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Media Sosial: Studi Kasus Aksi Vulgar di Media Sosial Bigo Live

Puji Syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan serta nikmat sehat dan berkah yang melimpah sehingga peneliti dapat menyelesaikan sripsi ini dengan dengan baik. Penelitian ini dilakukan dengan alasan atas keprihatian atas kasus demi kasus di awal tahun 2016 yang menimpa perempuan dibawah umur serta polemik yang hadir pasca kemunculan aplikasi media sosial Bigo Live . Kedua hal yang memang kontradiksi namun perlu untuk diteliti guna diperoleh kejelasan informasi yang berguna bagi kepentingan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan dengan proses pengamatan dan wawancara, dianalisis menggunakan teori Komodifikasi oleh Vincent Mosco dan dilengkapi dengan literatur-literatur. Semua itu ditulis secara sistematis dan terstruktur dalam bentuk skripsi.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Wacana Musik dalam Konstruksi Media Cetak (Analisis Wacana Kritis Fairclough pada Pemberitaan tentang Musik dalam Majalah Tempo Periode Juli 2010 - Juni 2011).

Wacana Musik dalam Konstruksi Media Cetak (Analisis Wacana Kritis Fairclough pada Pemberitaan tentang Musik dalam Majalah Tempo Periode Juli 2010 - Juni 2011).

Bagan di atas memperlihatkan sebuah tulisan hingga akhirnya sampai ke pembaca. Pada rapat redaksi (perencanaan isi) ditentukan tema tertentu, setelah disetujui maka reporter melakukan liputan hingga masuk tahap penulisan. Tulisan tersebut akan dipertimbangkan apakah layak muat atau tidak. Selanjutnya tulisan tersebut diserahkan kepada redaktur rubrik yang menangani artikel untuk kemudian diperlukan penyuntingan atau tidak. Setelah itu tulisan diberikan kepada redaktur artistik (editor) yang menangani proses pracetak. Tahap selanjutnya setiap tulisan dikemas menjadi satu media dan akan masuk proses sirkulasi ke pembaca. Tahap akhir adalah evaluasi dengan mempertimbangkan adanya respon, saran dan kritik yang ada dari edisi yang telah dicetak.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

KOMODIFIKASI BARONGSAI MENJAGA TRADISI MENEGOSIASI PASAR | Arif | Jurnal Kawistara 15486 29513 1 SM

KOMODIFIKASI BARONGSAI MENJAGA TRADISI MENEGOSIASI PASAR | Arif | Jurnal Kawistara 15486 29513 1 SM

Keberadaan pegiat barongsai yang nota- bene pelaku awal sekaligus pengusaha (agen sekaligus pemilik kapital) ini men jadi salah satu faktor terjadinya proses komo diikasi. Artinya proses komodiikasi menjadi mudah dilakukan karena agen adalah orang yang memahami tradisi Barong sai dan me- miliki modal kapital dan soial yang kuat. Keterlibatan mereka pada komodiikasi didasari oleh: pertama, keinginan memper- tahan kan, memelihara tradisi barongsai agar tetap terjaga dan mengem bangkannya pada posisi yang lebih baik (dari lokal ke global); kedua, menjadikan Barongsai sebagai media pembauran antaretnis; ketiga, arti- kulasi identitas ke-Cinaan; keempat, ingin berkonstribusi bagi negara, dalam bentuk sumbangsih pres tasi sebagai seni dan olah raga yang dapat mengangkat nama bangsa di tingkat internasional.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

EROTISME DALAM VIDEO KLIP (Analisis Semiotik pada Video Klip "Belah Duren" oleh Julia Perez)

EROTISME DALAM VIDEO KLIP (Analisis Semiotik pada Video Klip "Belah Duren" oleh Julia Perez)

Hal ini secara tidak langsung menyeret adanya persaingan bisnis industri musik di tanah air, dengan banyaknya acara TV berformat seperti ini mereka menganggap peluang besar untuk mempopulerkan seorang musisi bahkan jenis musiknya dengan berlomba lomba memproduksi sebuah video klip di setiap singel lagu. Karena video klip sendiri merupakan perpaduan dari unsur audio dan visual yang juga termasuk unsur dalam sebuah iklan. Secara sederhana iklan diartikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media, dalam hal ini yaitu menawarkan sebuah lagu yang biasanya terkemas dalam kaset, CD, VCD ataupun video klip yang ditampilkan di televisi.
Baca lebih lanjut

46 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...