Top PDF Macapat Tradisional Dalam Bahasa Jawa

Macapat Tradisional Dalam Bahasa Jawa

Macapat Tradisional Dalam Bahasa Jawa

Sementara itu, sehubungan dengan pernyataan Padmosoekotjo (1958:7) di depan bahwa sastra klasik adalah sastra yang mengandung ajaran yang luhur, tulisan yang hebat, [r]

155 Baca lebih lajut

BAHASA DAN BUDAYA JAWA DALAM TANAMAN BERKHASIAT OBAT TRADISIONAL DI KECAMATAN PARON, KABUPATEN NGAWI, JAWA TIMUR (KAJIAN ETNOLINGUISTIK).

BAHASA DAN BUDAYA JAWA DALAM TANAMAN BERKHASIAT OBAT TRADISIONAL DI KECAMATAN PARON, KABUPATEN NGAWI, JAWA TIMUR (KAJIAN ETNOLINGUISTIK).

Puji syukur kehadirat Allah s.w.t. atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahNya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi yang berjudul “ Bahasa dan Budaya Jawa dalam Tanaman Berkhasiat Obat Tradisional di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur (Kajian Etnolinguistik) ” ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Program Studi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta.

17 Baca lebih lajut

Macapat : tembang Jawa indah dan kaya makna - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Macapat : tembang Jawa indah dan kaya makna - Repositori Institusi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

“Oh… iya, Kawan! Kamu juga bisa belajar membacakan tembang macapat. Saat ini banyak video yang berisi rekaman tembang macapat. Kamu dapat mengunduhnya melalui jaringan internet di dunia maya. Kalau suka, kamu juga bisa belajar membuat sendiri tembang macapat sesuai dengan aturan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Dengan mempelajari dan membaca tembang macapat, berarti kamu telah ikut melestarikan puisi tradisional Jawa, warisan leluhur kita yang sangat berharga. Itu berarti kamu anak muda yang keren!”

90 Baca lebih lajut

Keutamaan Dalam Tembang Sinom dari Gending Sekar Macapat

Keutamaan Dalam Tembang Sinom dari Gending Sekar Macapat

Bangsa Indonesia terdiri dari ratusan etnis yang melahirkan ribuan bahasa dan budaya yang menjadikan Indonesia sebagai negeri yang sangat kaya dengan keragaman warisan budaya dan kearifan lokal. Jawa adalah salah satunya. Meskipun suku Jawa hanya menempati sebagain wilayah dari seluruh luas wilayah Pulau Jawa, (ada dua suku besar yang menghuni pulau terkecil kedua di Indonesia ini yakni suku Sunda dan suku Jawa) orang-orang etnis Jawa, yang menyebut dirinya sebagai orang Jawa, hidup menyebar di hampir semua pulau yang ada di Indonesia. Mereka tidak mendirikan monumen sebagai bukti jejak keberadaan mereka tetapi sikap hidup dan pola relasi yang terbangun mengindikasikan keberadaan mereka dimana pun mereka hidup. Etnis Jawa seringkali dipandang sebagai etnis yang “lemah” dibandingkan dengan etnis-etnis lainnya, dan orang Jawa memiliki cara pandang hidupnya sendiri yang tidak begitu saja mudah dipahami oleh orang/masyarakat etnis- etnis lain. Orang-orang Jawa yang dianggap lemah ini memiliki ketangguhan laur biasa dalam hal beradapatasi dengan lingkungan alamiah dan sosial di sekitarnya tanpa meninggalkan jati diri ke-jawa-annya di tempat manapun mereka hidup.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Kreativitas dan Pola Pikir Masyarakat Jawa dalam Sasmita Tembang Macapat (Sebuah Kajian Pragmatik).

Kreativitas dan Pola Pikir Masyarakat Jawa dalam Sasmita Tembang Macapat (Sebuah Kajian Pragmatik).

Penelitian ini berjudul: Kreativitas dan Pola Pikir Masyarakat Jawa dalam Sasmita Tembang Macapat (Sebuah Kajian Pragmatik). Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah bentuk sasmita tembang macapat (STM) dalam bahasa Jawa? (2) apakah fungsi STM bahasa Jawa? (3) apakah maksud STM bahasa Jawa? Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan bentuk STM dalam bahasa Jawa, baik yang berbentuk kata, frase, dan sinonim, (2) mendeskripsikan fungsi STM bahasa Jawa, baik yang berfungsi sebagai pengasah pikiran, (3) mendeskripsikan maksud STM bahasa Jawa, baik yang ditunjukkan oleh ko-teks (tuturan) maupun konteks (hal-hal di luar teks).
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

WACANA TEMBANG MACAPAT SEBAGAI PENGUNGKAP SISTEM KOGNISI DAN KEARIFAN LOKAL ETNIK JAWA

WACANA TEMBANG MACAPAT SEBAGAI PENGUNGKAP SISTEM KOGNISI DAN KEARIFAN LOKAL ETNIK JAWA

3. Wacana tembang macapat Tripama, Wulangreh, dan Kalatidha dapat meng- ungkapkan sistem kognisi etnik Jawa karena dalam wacana tersebut terdapat konsep pemikiran atau cara memandang masyarakat etnik Jawa terhadap Tuhan, raja, negara, lingkungan, dan manusia lain yang diungkapkan melalui tembang. Cara mengungkapkan melalui tembang dengan menyisipkan pesan-pesan dalam kaitannya dengan kelima hubungan manusia dengan yang lain itu hanya dipahami oleh etnik Jawa. Ungkapan-ungkapan yang terkandung di dalam tembang itu adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang dimungkinkan tidak dipahami oleh etnik lain, kecuali etnik Jawa. Oleh karena itu, sistem kognisi yang demikian dapat dikatakan telah menjadi kearifan lokal etnik Jawa. Sistem kognisi yang telah dimiliki oleh etnik Jawa sejak beberapa abad silam sebagai suatu bentuk kearifan lokal menunjukkan bahwa hal itu telah menyebar dan menjadi pola pikir bagi etnik Jawa.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

Interpretasi Makna Macapat Dalam Karya Piano Trio

Interpretasi Makna Macapat Dalam Karya Piano Trio

Tembang Jawa adalah salah satu bentuk karya seni yang berupa olah suara dengan media bahasa dan sastra Jawa dan menggunakan nada atau laras gamelan slendro atau pelog. Tembang Jawa yang terdiri dari empat macam tembang yaitu Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, Tembang Cilik dan Tembang

13 Baca lebih lajut

Local Wisdom Dalam Tembang Macapat Madura

Local Wisdom Dalam Tembang Macapat Madura

Folklor Lisan dalam hal ini disamakan dengan sastra lisan, sedangkan Folklor setengah lisan dan Folklor non lisan termasuk tradisi lisan. Masyarakat Madura pada umumnya lebih mengenal folklor lisan yang turun – temurun tetap dilestarikan dari generasi kegerasi. Ratna menyebutkan bahwa Folklor lisan terdiri dari: (1) Ungkapan Tradisional (pepatah, peribahasa, semboyan), (2) Nyanyian Rakyat (nyanyian untuk menidurkan anak seperti Nina Bobo, Bibi Anu), (3) Bahasa Rakyat (dialek, julukan, sindiran, bahasa rahasia, bahasa remaja, dan
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

ARSITEKTUR TRADISIONAL DAERAH JAWA BARAT

ARSITEKTUR TRADISIONAL DAERAH JAWA BARAT

Secara etn is, penduduk daerah C ire bon tidak terpisah dengan pendueluk daerah-daerah lainya eli Jawa Barat yang berbahasa Sunda, bahkan merupakan kesatuan yang sukar d itentukan batas-batasnya dengan tegas. lni terbukti dengan ansir-ansir kebudayaan lainnya di luar bahasa. Pada bidang seni "karawitan" dan "tari", Cirebon menampilkan dengan ciri-ciri karawitan dan tari Sunda. Demikian pula dengan sikap beberapa pemuka masyarakatnya yang menolak untuk disebut sebagai orang Jawa, misalnya bangsawan Cirebon dan kalangan keraton lebih senang dianggap sebagai keturunan langsung dari raja Sunda Prabu Siliwangi yang menjadi lambang kebanggaan masyarakat Sunda hingga kini (26, 136).
Baca lebih lanjut

194 Baca lebih lajut

perancangan buku informasi mengenai tembang macapat

perancangan buku informasi mengenai tembang macapat

Tembang macapat adalah kesenian tradisional yang bersumber pada naskah teks literatur Jawa kuno maupun modern yang dilantunkan dengan aturan-aturan yang sudah baku. Tembang macapat memiliki 11 macam lagu yang masing-masing memiliki metrumnya sendiri-sendiri. Tembang macapat dipercaya muncul dan berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Demak dan digunakan oleh para wali sebagai media penyebaran agama Islam. Zaman dulu, macapat hanya terbatas pada keluarga keraton, tetapi sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII, macapat sudah dapat dipelajari secara umum, tetapi penggunaan macapat dalam acara-acara resmi keraton hanya diperuntukkan kepada abdi dalem keraton saja.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

Tembang Macapat sebagai Penunjang  Pendidikan Karakter

Tembang Macapat sebagai Penunjang Pendidikan Karakter

tembang yang disesuaikan dengan bahasa keseharian masyarakat pada waktu itu. Wali Songo identik dengan daerah atau wilayah dengan suku Jawa. Oleh sebab itu, penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa yang dilakukan oleh Wali Songo boleh dibilang berhasil, hal itu dibuktikan dengan banyaknya pemeluk agama Islam. Banyak petuah-petuah atau ungkapan dalam bahasa Jawa yang tertuang dalam lagu atau tembang tersebut. Saat ini, tembang-tembang tersebut sebenarnya masih dipelajari di sekolah-sekolah, khususnya daerah Jawa Tengah sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok) dan sering dilantunkan dalam acara-acara pentas kesenian, seperti wayang dan ketoprak. Namun, yang menjadi permasalahan adalah kurangnya pemahaman akan makna yang terkandung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Janengan sebagai seni tradisional Islam-Jawa

Janengan sebagai seni tradisional Islam-Jawa

Ketiga, Mambaul Ngadimah yang berjudul “Kelestarian Shalawat Gembrungan (Integrasi Ajaran Islam dengan Seni Budaya Lokal: Studi Kasus di Desa Gotak Klorogan Kecamatan Geger Kabupaten Madiun).” Penelitian Mambaul ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi seni musik gembrung bisa bertahan adalah karena adanya motivasi religius dan ekonomi bagi subjek pemain gembrung, estetika, ekspresi identitas seni Islam, penyempurnaan naskah, dan figur pimpinan paguyuban gembrung yang kharismatik. Selain itu juga seni musik gembrung merupakan kesenian tradisional Islam yang murah dan merakyat, motivasi religius bagi penanggap dan audience, romantisme historis dengan melestarikan budaya leluhur, kemudahan perizinan dan penyelenggaraan festival dari institusi pendidikan dan instansi pemerintah terkait. Sementara faktor penghambat kelestarian seni musik gembrung adalah kurangnya profesionalisme sumber daya manusia (SDM) yang ada, naskah syair shalawat gembrung yang klasik se- hingga bahasanya sulit dipahami audience karena masih menggunakan bahasa Jawa zaman kerajaan Mataram, dan musik gembrung terkesan monoton dan kuno. Selain itu juga disebabkan karena tidak ada dukungan dari aparat pemerintah terkait untuk melestarikan seni musik gembrung, dan apresiasi masyarakat semakin berkurang karena banyaknya pilihan untuk menikmati hiburan dari berbagai jenis musik modern.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

PANDUAN NEMBANG MACAPAT DIBUAT UNTUK KAL

PANDUAN NEMBANG MACAPAT DIBUAT UNTUK KAL

Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceritakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya menggambarkan tentang seorang manusia dari lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia. Tembang macapat sendiri mempunyai sebutan tembang cilik (kecil). Tembang macapat yang berarti lagu ini mempunyai karakteristik yang berbeda dari setiap jenisnya. Ciri-ciri tersebut diantaranya dari Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan (wilangan). Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) dalam satu bait. Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik (baris). Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik (baris).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Nilainilai Filosofis Didaktis, Humanistis, dan Spiritual dalam Kesenian Tradisional Macapat Masyarakat Bali | Suarta | Mudra Jurnal Seni Budaya 3 PB

Nilainilai Filosofis Didaktis, Humanistis, dan Spiritual dalam Kesenian Tradisional Macapat Masyarakat Bali | Suarta | Mudra Jurnal Seni Budaya 3 PB

Tembang macapat sejauh ini dipersepsikan oleh mas- yarakat pada umumnya sebagai “macane papat-papat”, yang diinterpretasikan dalam bahasa Indonesia menjadi melagukan macapat itu pemenggalannya harus empat-em- pat. Deinisi ini sesungguhnya belum sepenuhnya dapat digunakan sebagai acuan, mengingat dalam sebuah tem- bang macapat ada beberapa kalimat yang tidak mungkin pemenggalannya empat-empat, karena akan mengaburkan arti atau makna kalimat itu sendiri. Deinisi lain yang ber- hubungan dengan macapat, mengartikan macapat sebagai membaca dengan tepat. Kata tepat di sini mengandung banyak pengertian, meliputi tepat pemenggalannya, tepat/ konsisten dalam penggunaan nada, tepat artikulasinya, ser- ta tepat penerapan karakter lagunya. Tepat pemenggalan- nya bahwa dalam membawakan macapat cara memenggal kalimat atau kata lagu dalam setiap baris harus memper- hatikan arti dari kalimat lagu, tidak boleh sembarangan memenggal kalimat atau kata. Tepat/ konsisten dalam penggunaan nada, bahwa dalam membawakan macapat, baik itu menggunakan atau tidak menggunakan tuturan gamelan harus dilagukan secara konsisten dengan meng- acau pada laras gambelan. Tepat artikulasi, bahwa dalam membawakan macapat harus dengan mengucapkan ejaan kata dengan benar. Salah dalam artikulasi akan merubah arti dari kalimat yang dimaksud. Tepat penerapan karakter lagu, bahwa dalam setiap tembang macapat mempunyai karakter sendiri-sendiri, untuk itu dalam membawakann- ya harus disesuaikan dengan karakter sesungguhnya. Ada beberapa jenis macapat yang lumrah/ populer digunakan oleh masyarakat Bali, jenis macapat tersebut sering dise- but dengan pupuh. Secara hariah pupuh memiliki penger- tian lagu yang terikat oleh banyaknya suku kata dalam satu bait, jumlah larik, dan permainan lagu. Dalam masyarakat Bali pupuh terdiri atas, Maskumambang, Mijil, Sinom, Ginanti, Ginada, Semarandana, Dangdang, Durma, Pangkur, dan Pucung.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENERAPAN BAHASA JAWA   Penerapan Bahasa Jawa pada Pengasuhan dalam Keluarga.

PENERAPAN BAHASA JAWA Penerapan Bahasa Jawa pada Pengasuhan dalam Keluarga.

Tesis yang ditulis guna memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Magister Strata Dua Psikologi ini berjudul “Penerapan Bahasa Jawa pada Pengasuhan dalam Keluarga”. Penulis berusaha mengangkat nilai-nilai budaya Jawa yang semakin lama semakin terkikis. Salah satunya adalah meneliti tentang eksistensi bahasa Jawa saat ini terutama bahasa Jawa Krama yang telah ditinggalkan oleh masyarakat Jawa sendiri. Maka atas hasil yang telah dicapai dengan melalui berbagai proses lika-likunya penelitian ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan pembuatan tesis ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada :
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

LANDASAN TEORI DAN PROGRAM “RESORT HOTEL DENGAN KONSEP TRADISIONAL JAWA”, Tema Desain Arsitektur Tradisional Jawa - Unika Repository

LANDASAN TEORI DAN PROGRAM “RESORT HOTEL DENGAN KONSEP TRADISIONAL JAWA”, Tema Desain Arsitektur Tradisional Jawa - Unika Repository

Puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tahap LTP Proyek Akhir Arsitektur Periode 65 semeter genap 2013/2014 dengan judul “ Resort Hotel Dengan Konsep Tradisional Jawa ” dengan baik dan juga LTP ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Arsitektur dan Desain, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

17 Baca lebih lajut

Pengembangan ensiklopedi tari tradisional Jawa.

Pengembangan ensiklopedi tari tradisional Jawa.

Produk yang dikembangkan adalah buku ensiklopedi tari tradisional Jawa. Ensiklopedi ini berukuran 18cm x 14cm, membahas berbagai tarian tradisional yang ada di Pulau Jawa. Buku ensiklopedi yang dikembangkan menggunakan kertas berjenis ivory serta menggunakan layout yang berwarna-warni sehingga menarik untuk dibaca. Ensiklopedi ini dikembangkan oleh 2 peneliti sehingga didalamnya terbagi menjadi 2 bagian. Dalam buku ensiklopedi ini peneliti fokus pada bagian I. Tari tradisional yang dibahas dalam ensiklopedi dikelompokkan berdasarkan Provinsi yang ada di Pulau Jawa, yaitu meliputi Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah. Daerah tersebut telah diurutkan berdasarkan abjad sehingga ketika membuka produk ini, pertama kali yang dijumpai adalah Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Selain nama Provinsi, nama tarian didalamnya juga diurutkan berdasarkan abjad. Secara ringkas penyusunan konten dalam produk ini yaitu sebagai berikut:
Baca lebih lanjut

167 Baca lebih lajut

BUSANA TRADISIONAL DALAM MANUSKRIP-MANUSKRIP JAWA.

BUSANA TRADISIONAL DALAM MANUSKRIP-MANUSKRIP JAWA.

191 bludru, baju pranakan dengan dasar lurik, keris berangka dengan mengenakan iket, mengenakan sabuk dengan dasar sutra, sabuk dari bludru yang diikatkan dan lainnya, bajunya juga pran[r]

374 Baca lebih lajut

Pengembangan ensiklopedi tari tradisional Jawa.

Pengembangan ensiklopedi tari tradisional Jawa.

Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang berawal dari adanya potensi dan masalah tentang tari tradisional di Jawa. Potensi yang ada ialah upaya untuk mengenalkan tari tradisional melalui buku ensiklopedi. Masalah yang peneliti temukan yaitu belum tersedianya buku ensiklopedi yang membahas tari tradisional. Hasil penyebaran kuesioner terhadap 59 siswa SD diperoleh data bahwa 66,1% siswa menyukai tari modern dan 33,9% siswa menyukai tari tradisional. Oleh sebab itu, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dan pengembangan buku ensiklopedi tari tradisional Jawa. Tujuan dari penelitian ini ialah mendeskripsikan prosedur pengembangan dan kualitas buku ensiklopedi tari tradisional Jawa.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...