Top PDF PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI KOLANG KALING

PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI KOLANG KALING

PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI KOLANG KALING

Menurut Syarief et al.. (1988) ada lima persyaratan yang dibutuhkan dalam menentukan pilihan jenis dan cara pengemasan yang akan digunakan yaitu penampilan, perlindungan, fungsi, harga dan biaya, serta penanganan limbah kemasan. Dengan tidak dapat dipertahakannya lagi penggunaan plastik sebagai bahan kemasan serta adanya persyaratan bahwa kemasan yang digunakan harus ramah lingkungan, maka hal ini mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan teknologi bahan kemasan yang “biodegradable”. Saat ini pengembangan teknologi bahan kemasan biodegradable terarah pada usaha untuk membuat bahan kemasan yang memiliki sifat seperti plastik yang berbahan dasar dari bahan alam dan mudah terurai yang disebut dengan “edible film”.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Mikroenkapsulasi Vitamin E Pfad Dengan Campuran Galaktomanan Kolang-Kaling dan Gum Acasia Menggunakan Metode Spray Drying

Mikroenkapsulasi Vitamin E Pfad Dengan Campuran Galaktomanan Kolang-Kaling dan Gum Acasia Menggunakan Metode Spray Drying

Salah satu sumber galaktomanan yang melimpah di Indonesia adalah kolang- kaling. Galaktomanan kolang-kaling memiliki perbandingan galaktosa : manosa = 1 : 1,331. Demikian juga galaktomanan kolang-kaling (GKK) telah diteliti sebagai bahan pembuatan edible film yang bersifat antimikroba dan antioksidan (Tarigan, 2012). Tarigan (2014) juga telah meniliti tentang kestabilan vitamin E dari PFAD yang diinkoporasi dengan galaktomanan kolang-kaling.

6 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Gowda D.V., Khan, M.S., and Vineela, S., 2012, Development and Evaluation Cross-Linked Guar Gum Microspheres for Improved Delivery of Anticancer to Colon , Taylor & Francis Group, LLC, 51: 1395-1404. Didalam Novalia, H., 2014, Sintesis Galaktomanan Ikat Silang Fosfat dari Galaktomanan Kolang-kaling (Arenga Pinnata) dengan Trinatrium Trimetafosfat , FMIPA, USU, Medan.

4 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pezron et al. , 1988, telah meneliti interaksi-interaksi yang terjadi pada pembentukan gel reversible yang dipengaruhi oleh ion pengompleks borat dengan galaktomanan guaran . Kesavan dan Prud'homme, 1992, telah meneliti pembuatan hidrogel asam borat dan pengaruh dari reaksi ikat silang antara gum dengan senyawa borat. Selain itu, Burruano et al. , 2002, meneliti sintesis guar gum ikat silang borat yang mengandung senyawa mucin dalam konsentrasi sama dengan lendir serviks sebagai pengganti lendir serviks (lendir leher rahim) segar.

4 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pada bidang farmasi dari sumber komersial dan nonkomersial, galaktomanan telah dipelajari secara ekstensif selama waktu tertentu. Ada berbagai sumber galaktomanan dan berbagai bentuk aplikasi dalam farmasi, seperti tablet atau kapsul, hidrogel, dan film. Selain penggunaan untuk hal sederhana, polisakarida ini berperan dalam modifikasi obat sebagai bahan matriks atau pelapis (Silveira, 2011). Galaktomanan digunakan di daerah usus tertentu sebagai penghantar obat yang berawal dari proses degradasi enzimatik dalam usus besar manusia (Kabir et al. , 1998).
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat  Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling  (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

process of galactomannan had been done by sentrifuged method that used a sentrifuge at a speed 7000 rpm for 60 minutes and extracted with ethanol solvent to obtain 8,5545 gram (4,27 %) of galactomannan from 200 gram kolang-kaling. Crosslinking galactomannan with boric acid had been done by stirring method using a hotplate stirrer with ratio between galactomannans and boric acids were GIB 1 (1:0,05); GIB 2 (1:0,10); GIB 3 (1:0,20); GIB 4 (1:0,30); and GIB 5 (1:0,40). The analysis of functional group by FT-IR showed the vibration of stretching B-O in the area of wave numbers from 1357,89 - 1365,60 cm -1 , the vibration of stretching O-H in the area of wave numbers 3394,72 - 3417,86 cm -1 , and the vibration of bending O- H in the area of wave numbers 1635,64 – 1643,35 cm -1 . The analysis of surface morphology by SEM (Scanning Electron Microcopic) on GIB 4 showed the hydrogel galactomannan crosslinked borate was rough and perforated. The thickness measurements of film hydrogel galactomannan crosslinked borate was 1,42 - 1,98 mm. The swelling degree of hydrogel galactomannan crosslinked borate in distilled water and Buffer Phosphate pH 7,4 maximum in GIB 2, in the solution of NaCl 0,9 % increased, whereas in the solution of HCl 0,1 N dissolved entirely.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

process of galactomannan had been done by sentrifuged method that used a sentrifuge at a speed 7000 rpm for 60 minutes and extracted with ethanol solvent to obtain 8,5545 gram (4,27 %) of galactomannan from 200 gram kolang-kaling. Crosslinking galactomannan with boric acid had been done by stirring method using a hotplate stirrer with ratio between galactomannans and boric acids were GIB 1 (1:0,05); GIB 2 (1:0,10); GIB 3 (1:0,20); GIB 4 (1:0,30); and GIB 5 (1:0,40). The analysis of functional group by FT-IR showed the vibration of stretching B-O in the area of wave numbers from 1357,89 - 1365,60 cm -1 , the vibration of stretching O-H in the area of wave numbers 3394,72 - 3417,86 cm -1 , and the vibration of bending O- H in the area of wave numbers 1635,64 – 1643,35 cm -1 . The analysis of surface morphology by SEM (Scanning Electron Microcopic) on GIB 4 showed the hydrogel galactomannan crosslinked borate was rough and perforated. The thickness measurements of film hydrogel galactomannan crosslinked borate was 1,42 - 1,98 mm. The swelling degree of hydrogel galactomannan crosslinked borate in distilled water and Buffer Phosphate pH 7,4 maximum in GIB 2, in the solution of NaCl 0,9 % increased, whereas in the solution of HCl 0,1 N dissolved entirely.
Baca lebih lanjut

68 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

pemisahan galaktomanan dilakukan dengan metode pemusingan menggunakan alat sentrifuge dengan kecepatan 7000 rpm selama 60 menit dan diekstraksi menggunakan pelarut etanol sehingga diperoleh 8,5545 gram (4,27 %) galaktomanan dari 200 gram kolang-kaling. Ikat silang galaktomanan dengan asam borat dilakukan dengan metode pengadukan dengan hotplate stirrer dengan perbandingan antara galaktomanan dengan asam borat yakni GIB 1 (1:0,05); GIB 2 (1:0,10); GIB 3 (1:0,20); GIB 4 (1:0,30); dan GIB 5 (1:0,40). Hasil analisis FT-IR menunjukkan munculnya pita serapan vibrasi stretching B-O pada bilangan gelombang 1357,89 - 1365,60 cm -1 , vibrasi stretching O-H pada daerah bilangan gelombang 3394,72 - 3417,86 cm -1 dan vibrasi bending O-H pada daerah bilangan gelombang 1635,64 - 1643,35 cm -1 . Hasil analisis SEM (Scanning Electron Microscopic) pada GIB 4 menunjukkan morfologi permukaan film hidrogel galaktomanan ikat silang borat tampak kasar dan bergelombang disertai adanya sejumlah lembah. Hasil pengukuran ketebalan film hidrogel galaktomanan ikat silang borat diperoleh sebesar 1,42 - 1,98 mm. Hasil pengukuran derajat swelling film hidrogel dalam air suling dan larutan Buffer Phosphate pH 7,4 maksimum pada GIB 2, dalam larutan NaCl 0,9 % mengalami peningkatan, sedangkan dalam larutan HCl 0,1 N hidrogel larut seluruhnya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Nisa, C.T., 1996, Masalah Dorminasi pada Biji Aren (Arenga pinnata merr) serta Pemecahannya untusk Meningkatkan Perkecambahan, Pidato Pengukuhan Guru Besar USU, Medan. Didalam Tarigan, J., 2012, Karakterisasi Edible Film yang Bersifat Antioksidan dan Antimikroba dari Galaktomanan Biji Aren (Arenga pinnata) yang Diinkoporasi dengan Minyak Atsiri Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.), FMIPA, USU, Medan.

5 Baca lebih lajut

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

Pembuatan Film Hidrogel Galaktomanan Ikat Silang Borat dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata) dengan Asam Borat (H3BO3)

pemisahan galaktomanan dilakukan dengan metode pemusingan menggunakan alat sentrifuge dengan kecepatan 7000 rpm selama 60 menit dan diekstraksi menggunakan pelarut etanol sehingga diperoleh 8,5545 gram (4,27 %) galaktomanan dari 200 gram kolang-kaling. Ikat silang galaktomanan dengan asam borat dilakukan dengan metode pengadukan dengan hotplate stirrer dengan perbandingan antara galaktomanan dengan asam borat yakni GIB 1 (1:0,05); GIB 2 (1:0,10); GIB 3 (1:0,20); GIB 4 (1:0,30); dan GIB 5 (1:0,40). Hasil analisis FT-IR menunjukkan munculnya pita serapan vibrasi stretching B-O pada bilangan gelombang 1357,89 - 1365,60 cm -1 , vibrasi stretching O-H pada daerah bilangan gelombang 3394,72 - 3417,86 cm -1 dan vibrasi bending O-H pada daerah bilangan gelombang 1635,64 - 1643,35 cm -1 . Hasil analisis SEM ( Scanning Electron Microscopic ) pada GIB 4 menunjukkan morfologi permukaan film hidrogel galaktomanan ikat silang borat tampak kasar dan bergelombang disertai adanya sejumlah lembah. Hasil pengukuran ketebalan film hidrogel galaktomanan ikat silang borat diperoleh sebesar 1,42 - 1,98 mm. Hasil pengukuran derajat swelling film hidrogel dalam air suling dan larutan Buffer Phosphate pH 7,4 maksimum pada GIB 2, dalam larutan NaCl 0,9 % mengalami peningkatan, sedangkan dalam larutan HCl 0,1 N hidrogel larut seluruhnya.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Senyawa hidrokoloid sangat banyak terdapat dialam, salah satunya adalah polisakarida galaktomanan yang banyak terdapat pada kolang-kaling (Rao et al., 1961). Kolang-kaling dihasilkan dari pohon aren rata-rata sebanyak 100 kg/pohon/tahun, apabila tidak disadap niranya (Anonim, 2009). Pemanfaatan kolang-kaling saat ini masih sangat terbatas dan tingkat konsumsi masyarakat juga masih rendah. Kolang-kaling memiliki kadar air sangat tinggi mencapai 93,6% disamping juga mengandung protein (2,344%), karbohidrat (56,571%) serta serat kasar (10,524%) (Tarigan dan Kaban, 2011).
Baca lebih lanjut

4 Baca lebih lajut

Karakteristik Mikrobiologi Dan Biodegradasi Edible Film Berbasis Pati Ubi Kayu

Karakteristik Mikrobiologi Dan Biodegradasi Edible Film Berbasis Pati Ubi Kayu

Research has been done making edible films from cassava starch, glycerol and the addition pemlastis stems of cassava powder as filler material based on Casting method which uses the principle Gelatuation of 10 g cassava starch, 1 g glycerol, 100 g of water and 0.5 g of powdered stem cassava. The purpose of this study was to investigate the biodegradation edible cassava starch films in the waste land, garden soil and sand beaches, and in the Potatoe Dextro Agar medium mushrooms infused A. Niger and toxicity testing in the media E. Coli. Biodegradation tests in the sand, garden soil, waste soil were observed for 3 days with the percentage change in the mass of film of 29.71%; 34.92%; 51.71% for films containing powder of 25.53%; 33.44 %; and 40.42% respectively for films without powder. Biodegradation test film for 3 days on PDA medium mushrooms infused A. Niger gained 54.86% of mass change for the film containing powder and 26.70% for films that do not contain powder. These data are supported by test results of FTIR and SEM. For toxicity tests it was found a clear zone on the starch-containing powders of 5 mm and therefore the zone of toxicity obtained of 0.67 mm.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI PATI KIMPUL.

PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI PATI KIMPUL.

Plasticizer yang digunakan dapat diambil dari golongan poliol. Gliserol merupakan salah satu golongan poliol selain sorbitol dan manitol (Tranggono, 1990). Gliserol berfungsi sebagai plasticizer, dimana akan mencegah pengerasan produk makanan yang disebabkan karena kehilangan air. Penambahan gliserol juga diharapakan akan menjaga kelembutan tekstur produk selama penyimpanan (Garwood et al, 1999). Selain plasticizer gliserol dalam pembuatan edible film perlu ditambahkan Natrium Carboxymethyl cellulose (Na-CMC) yang memiliki kemampuan larut dalam air, membentuk film dengan kekuatan tinggi, film yang jernih, tidak berminyak dan memiliki laju transmisi uap air yang rendah (Chandra, 1997).
Baca lebih lanjut

109 Baca lebih lajut

Aktivitas Antibakteri Edible Film Dari Pati Tapioka Yang Di Inkorporasi Dengan Minyak Atsiri Daun Attarasa [Litsea Cubeba(Lour.) Pers.]

Aktivitas Antibakteri Edible Film Dari Pati Tapioka Yang Di Inkorporasi Dengan Minyak Atsiri Daun Attarasa [Litsea Cubeba(Lour.) Pers.]

mm di sekitar film, sedangkan pada kultur bakteri Staphylococcus aureus sama sekali tidak membentuk zona bening ataupun zona hambat. Hal ini mungkin disebabkan karena Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang mempunyai nm) sehingga staphylococcus aureus lebih sulit untuk dirusak oleh komponen yang berperan sebagai antimikroba dalam minyak atsiri, sedangkan Escherichia coli dan shigella merupakan bakteri gram negatif, dimana dinding sel peptidoglikan lebih tipis (2-7 nm) yang terletak diantara membran dalam dan membran luar (tebalnya6-7 nm)(Staf pengajar fakultas kedokteran Universitas Indonesia, 1994). Aktivitas antibakteri dari minyak atsiri yang telah diinkorporasi dalam film pati tapioca lebih kecil dibanding dengan aktivitas antibakteri minyak atsiri daun attarasa. Hal ini mungkin disebabkan karena banyak komponen minyak atsiri yang ikut teruapkan pada proses pengeringan film dalam dalam oven.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

74 Sampel Berat Awal gram Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Berat Awal dan Akhir Film didalam Pengukuran Indeks Swelling dalam Media pH 1,2 Larutan HCL 0,1M SGF Sampel Berat Awal gram.[r]

18 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Gambar 2.1 pohon aren Gambar 2.2 kolang-kaling Buah aren yang masih muda besifat keras dan melekat sangat erat pada untaian buah, sedangkan buah yang sudah masak daging buahnya agak lunak. Daging buah aren yang masih muda mengandung lendir yang sangat gatal jika mengenai kulit karena lendir tersebut menganduk asam oksalat. Buah yang setengah masak dapat dibuat kolang-kaling.Kolang- kaling merupakan endosperm biji buah aren yang berumur setengah masak setelah melalui proses pengolahan. Setelah diolah menjadi kolang- kaling, maka benda ini akan menjadi lunak, kenyal, dan berwarna putih agak bening (Sunanto, 1993).
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Galaktomanan kolang-kaling ikat silang glutaraldehida (GIG) telah dapat diperoleh dari reaksi galaktomanan kolang-kaling(GKK) dengan glutaraldehida pada pH 2. Dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan ekstraksi galaktomanan dari kolang- kaling menggunakan air suling diperolehkadarnya 4,427%. Analisis gugus fungsi galaktomanan ikat silang glutaraldehida dengan spektrofotometer FT-IR menghasilkan pita serapan pada daerah bilangan gelombang 1150-1085 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus fungsi C-O-C asimetrik, serta terjadinya perubahan absorbansi gugus hidroksil yang semakin kecil jika jumlah Glutaraldehida semakin besar.Hasil analisis SEM (Scanning Electron Microscpic) galaktomanan ikat silang glutaraldehida menunjukkan telah terjadi perubahan morfologi permukaan. Pada galaktomanan kolang-kaling bentuk permukaan halus, sedangkan bentuk permukaan galaktomanan ikat silang glutaraldehida kasar dan bergelombang. Hasil pengukuran ketebalan menghasilkan tebal film 0,20-0,82 mm. Hasil pengukuran derajat swelling galaktomanan ikat silang glutaraldehida yang diperoleh, yaitu semakin banyak glutaraldehida, maka indeks swelling semakin kecil, dari nilai indeks swelling ini kemungkinan Galaktomanan kolang-kaling ikat silang glutaraldehida dapat diaplikasikan sebagai matriks pembawa obat.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Sintesis dan Karakterisasi Film Galaktomanan Ikat Silang Glutaraldehida Melalui Reaksi Kondensasi dari Galaktomanan Kolang-Kaling (Arenga pinnata)

Galaktomanan kolang-kaling ikat silang glutaraldehida (GIG) telah dapat diperoleh dari reaksi galaktomanan kolang-kaling(GKK) dengan glutaraldehida pada pH 2. Dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan ekstraksi galaktomanan dari kolang- kaling menggunakan air suling diperolehkadarnya 4,427%. Analisis gugus fungsi galaktomanan ikat silang glutaraldehida dengan spektrofotometer FT-IR menghasilkan pita serapan pada daerah bilangan gelombang 1150-1085 cm -1 yang menunjukkan adanya gugus fungsi C-O-C asimetrik, serta terjadinya perubahan absorbansi gugus hidroksil yang semakin kecil jika jumlah Glutaraldehida semakin besar.Hasil analisis SEM (Scanning Electron Microscpic) galaktomanan ikat silang glutaraldehida menunjukkan telah terjadi perubahan morfologi permukaan. Pada galaktomanan kolang-kaling bentuk permukaan halus, sedangkan bentuk permukaan galaktomanan ikat silang glutaraldehida kasar dan bergelombang. Hasil pengukuran ketebalan menghasilkan tebal film 0,20-0,82 mm. Hasil pengukuran derajat swelling galaktomanan ikat silang glutaraldehida yang diperoleh, yaitu semakin banyak glutaraldehida, maka indeks swelling semakin kecil, dari nilai indeks swelling ini kemungkinan Galaktomanan kolang-kaling ikat silang glutaraldehida dapat diaplikasikan sebagai matriks pembawa obat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...