Top PDF PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 168 PEKANBARU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 168 PEKANBARU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 168 PEKANBARU

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri berpengaruh positif terhadap proses dan hasil belajar IPA. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari aktivitas guru dan siswa yang terdapat pada sintaks pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu Mengajukan pertanyaan pada fase 1 karena dengan keterampilan bertanya dan mendengarkan secara efektif, penting untuk keberhasilan mengajar. Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa it is better to ask some question than to know all the answers (Thurber), menunjukkan betapa pentingnya orang bertanya. Dalam hubungannya dengan proses belajar, pentingnya bertanya itu dapat kita lihat pada beberapa pernyataan antara lain: (1) jantung strategi yang efektif terletak pada pertanyaan yang diajukan oleh guru (Fraenkel), (2) dari sekian banyak metode pengajaran, yang paling banyak dipakai ialah bertanya (Bank), (3) bertanya adalah salah satu teknik yang paling tua dan paling baik (Clark), (4) mengajar itu adalah bertanya (Dewey), dan (5) pertanyaan-pertanyaan adalah unsur utama dalam strategi pengajaran, merupakan kunci permainan bahasa dalam pengajaran (Hyman). Karena itu, tidak disangkal lagi pentingnya bertanya dalam kegiatan belajar-mengajar.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri 161 Pekanbaru

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SD Negeri 161 Pekanbaru

Berdasarkan wawancara peneliti dengan wali kelas Vc Sekolah Dasar Negeri 161 Pekanbaru pada tahun ajaran 2011-2012, diperoleh informasi hasil belajar siswa untuk mata pelajaran IPS tergolong masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan hasil belajar siswa, dimana masih banyaknya siswa yang tidak mecapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah adalah 68. Dari 40 siswa, siswa yang tuntas hanya 16 orang sedangkan yang tidak tuntas ada 24 orang. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor dari guru yaitu didalam proses belajar mengajar guru sudah mencoba menggunkan model diskusi namun guru belum terbiasa dengan model diskusi. Sedangkan faktor dari siswa yaitu tidak semua siswa mudah memahami materi secara individu, serta pemahaman siswa yang berbeda-beda. Untuk meningkatkan hasil belajar IPS guru telah melakukan beberapa usaha antara lain: seperti mengadakan remedial, guru memberikan pekerjaan rumah (PR) pada siswa, guru memberikan kesempatan siswa menentukan teman sekelompoknya, namun kendalanya adalah siswa tidak suka bergabung dengan temannya yang lain misalnya siswa yang pintar hanya sekelompok dengan siswa yang pintar. Tetapi usaha yang dilakukan guru ini belum mencapai hasil yang diharapkan. Hasil belajar IPS siswa masih juga dibawah KKM yang telah ditetapkan.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD INPRES 2 KAYUMALUE NGAPA | Erlina | Mitra Sains 6288 20786 1 PB

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD INPRES 2 KAYUMALUE NGAPA | Erlina | Mitra Sains 6288 20786 1 PB

The purpose of this study was to be improve activity and science achievement at fifth grade SD Inpres 2 Kayumalue Ngapa by application of guided inquiry learning model. This study is classroom action research that refers to the Kemmis and Taggart model which consists of four stages namely: planning, action, observation, and reflection. The Learning was done for 3 cycles, each cycle conducted in three meetings. The data was analyse by used qualitative analysis techniques for learning process and quantitative analysis for learning outcomes. Based on classical completeness and absorption, it could be said the achievement of each end of the cycle of 20 students always increasing. Based on the percentage of achieved of students and teacher activity from the first cycle until third cycle the achievement were increased. Achievement of completeness criteria and absorption by way classical, influenced by the optimal activity of students and teachers during the learning takes place.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 67 PEKANBARU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD NEGERI 67 PEKANBARU

Melalui tulisan ini peneliti mengajukan beberapa saran yang berhubungan dengan penerapan model PBI dalam pembelajaran matematika yaitu : penerapan model PBI dapat menjadi salah satu alternative pembelajaran matematika disekolah- sekolah sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik umumnya dan peningkatan mutu pembelajaran matematika khususnya. Harus ada tindak lanjut dari guru terhadap siswa yang tidak tuntas pada ulangan siklus I dan ulangan siklus II dengan cara memberikan bimbingan terhadap siswa yang belum mencapai KKM. Serta hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar guna terlaksananya penelitian yang lebih baik.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DI KELAS V SD NEGERI 015 RUMBAI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA DI KELAS V SD NEGERI 015 RUMBAI

Berdasarkan analisis sementara yang diketahui bahwa melalui penerapan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar, tidak terkecuali pelajaran IPA. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Anita (2007: 5) bahwa model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok serta di dalamnya menekankan kerjasama. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya serta mengembangkan keterampilan sosial. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang sederhana yang bisa diterapkan di kelas adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Proses pembelajaran di sekolah SDN 015 Rumbai sudah menggunakan kurikulum KTSP, namun kurikulum tersebut belum berjalan sempurna di karenakan proses pembelajaran yang terjadi di kelas masih berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan siswa hanya menjadi pendengar pasif dan penerima informasi saja, sehingga respon siswa terhadap materi pembelajaran yang diberikan guru sangat kurang. Akibatnya siswa melakukan aktivitas lain yang akhirnya menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SD Negeri 94 Pekanbaru

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SD Negeri 94 Pekanbaru

The problem in this study was found on the lesson IPS that the learning outcomes students who do not meet the passing grade KKM 66 is noted for 21 persons (60%). This condition because teachers has used a learning model but has not implemented yet to the maximum. This study aims to improve learning outcomes social studies lesson on fourth grade students of Elementary School 94 Pekanbaru through the implementation of cooperative learning model with jigsaw type by using class action study. To make the study of class action research succeeds. Based on the study results, it could be concluded that the application Jigsaw Cooperative Learning Model improve learning Result Learn of social studies lesson on the fourth grade students of Elementary School 94 Pekanbaru 94 Pekanbaru. The results data analysis can be seen from the activities teachers during the learning process on the first cycle with an mean of 70.84% a good category. While on the second cycle, the learning outcomes social studies lesson increased to 91.67% very good category. Activities the students during the learning process in the first cycle with an mean 66.67% good category. While on the second cycle it increased to 89.58% very good category. The class completenes on the basic score 40.00% the mean learning outcomes 64.14. Whilst class completeness after action 88.57% the mean learning outcome is 86.86. So, it may be concluded that the using cooperate learning of Jigsaw model could increase the ability of the fourth grade students of Elementary School 94 Pekanbaru.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA KELAS V   Peningkatan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Poleng I Tahun Ajaran 2015/2016.

PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA KELAS V Peningkatan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Poleng I Tahun Ajaran 2015/2016.

Penelitian ini menerapkan model pembelajaran inkuiri yang bertujuan untuk: 1) meningkatkan kreativitas siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun 2015/2016, 2) meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun 2015/2016. Jenis penelitian ini penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian guru dan siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 yang berjumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data melalui observasi, tes, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yang dimulai dari reduksi data, penyajian data kemudian mengambil kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kreativitas siswa. Peningkatan kreativitas siswa ini dapat dilihat dari meningkatnya aspek-aspek kreativitas dari pra siklus yaitu 17% kemudian siklus 1 mencapai 31%, sedangkan pada siklus II aspek kreativitas siswa dapat meningkat menjadi 85%. Model pembelajaran inkuiri juga dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Hal ini terlihat dari pra siklus 25% (5 siswa tuntas) kemudian siklus I mencapai 50% (10 siswa tuntas) Siklus II menjadi 80% (16 siswa tuntas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun ajaran 2015/2016, 2) model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun ajaran 2015/2
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V

Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V

Ilmu pengetahuan alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006:484). Berdasarkan pengertian IPA tersebut tampak bahwa dalam kegiatan pembelajaran IPA guru harus merangsang siswa untuk aktif melakukan kegiatan misalnya melalui penerapan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa melalui percobaan-percobaan dalam memecahkan masalah. Hal itu sesuai dengan tahap perkembangan kognitif siswa SD. Percobaan-percobaan dalam memecahkan masalah yang dilakukan siswa akan membuat siswa termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa akan menjadi aktif sehingga kegiatan pembelajaran tidak membosankan. Selain itu siswa akan lebih mudah memahami materi pembelajaran.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING DI KELAS V SD NEGERI TERBAHSARI.

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING DI KELAS V SD NEGERI TERBAHSARI.

Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa sebelum dilakukannya tindakan menunjukkan bahwa aktivitas siswa kelas V SD Negeri Terbahsari masih rendah. Permasalahan tersebut merupakan salah satu permasalahan yang peneliti temukan pada saat observasi awal. Metode pembelajaran yang diterapkan masih secara konvensional menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Guru menyampaikan materi pelajaran IPA secara verbal. Hal tersebut menjadikan kurangnya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran. Hasibuan dan Moedjiono (2009: 13) mengemukakan bahwa kelemahan metode ceramah adalah siswa cenderung pasif, pengaturan kecepatan secara klasikal ditentukan oleh pengajar, kurang cocok untuk pembentukan keterampilan sikap dan cenderung menempatkan pengajar sebagai otoritas terakhir.
Baca lebih lanjut

335 Baca lebih lajut

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN 151 Kota Pekanbaru

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SDN 151 Kota Pekanbaru

Sebelum siswa melakukan diskusi guru meminta siswa membentuk kelompok terlebih dahulu seperti pertemuan sebelumnya. Setelah semua siswa membentuk kelompok, guru membagikan tugas/LKS dengan materi tumbuhan menyesuaikan diri untuk kelangsungan hidupnya kepada masing-masing kelompok yang dikerjakan secara berkelompok. Guru mengingatkan agar siswa saling bekerjsama dalam menyelesaikan tugas tersebut. Selama siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, guru mengamati siswa dalam kerja kelompok siswa. Guru memberi bimbingan dalam menyelesaikan tugas dengan sabar apabila terdapat kelompok yang mengalami kesulitan. Pada pertemuan ini sudah banyak siswa yang bertanya karena siswa sudah lebih percaya diri. Guru memberi bimbingan kepada kelompok tersebut dan meminta siswa tetap tenang.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  IPA MELALUI  PEMBELAJARAN MODEL GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS V   Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Pembelajaran Model Group Investigation Pada Siswa Kelas V SD Negeri Kadokan 01 Pelajaran 2011/2012.

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI PEMBELAJARAN MODEL GROUP INVESTIGATION PADA SISWA KELAS V Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Melalui Pembelajaran Model Group Investigation Pada Siswa Kelas V SD Negeri Kadokan 01 Pelajaran 2011/2012.

Group Investigation adalah metode pembelajaran yang melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui inve stigasi. Metode pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills) Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopic yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan dalam suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan (Arends, 1997:120-1210).
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KARTU ARISAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sd Negeri 03 Munggur Tahun 2011/2012.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KARTU ARISAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sd Negeri 03 Munggur Tahun 2011/2012.

Jika dibandingkan dengan keadaan siswa sebelum menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe kartu arisan pada awal dapat kita lihat rata-rata hasil belajar siswa. Pada tahap ini terdapat siswa yang mendapatkan nilai dibawah 65 ada 13 siswa dengan prosentase sebanyak 52 %. Sedangkan nilai sama dengan atau diatas 65 ada 12 siswa dengan prosentase 48 % dan rata-rata kelas 61,2. Jika dibandingkan dengan siklus I terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Nilai rata-rata kelas pada siklus I pertemuan I 64,4, siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dari 65 ada 13 siswa dengan prosentase 52 %, sedangkan siswa yang mendapat nilai dibawah 65 ada 12 siswa dengan prosentase 48 %. Sedangkan nilai rata-rata kelas pada siklus I pertemuan II 71,8 siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dari 65 ada 17 siswa dengan prosentase 68 %, sedangkan siswa yang mendapat nilai dibawah 65 ada 8 siswa dengan prosentase 32 %.Siklus II siswa mengalami peningkatan hasil belajar IPA, rata-rata nilai siswa pada siklus ini 73,2 Siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dari 65 ada 18 siswa dengan prosentase 72 %, sedang siswa yang mendapat nilai dibawah 65 ada 7 siswa dengan prosentase 28 %. Sedangkan Siklus III rata-rata nilai siswa pada siklus ini 79,4. Siswa yang mendapat nilai sama atau lebih dari 65 ada 21 siswa dengan prosentase 84 %, sedang siswa yang mendapat nilai dibawah 65 ada 4 siswa dengan prosentase 16 %. Untuk melihat perbandingan nilai siswa antar pra siklus dengan siklus I, II dan III dapat dilihat pada tabel dibawah
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KARTU ARISAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA  Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sd Negeri 03 Munggur Tahun 2011/2012.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE KARTU ARISAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Kartu Arisan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Sd Negeri 03 Munggur Tahun 2011/2012.

Gambar 4.3 Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri 03 Munggur Siklus I 54 Gambar 4.4 Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri 03 Munggur Siklus II 62 Gambar 4.5 Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Negeri 03 Munggur Siklus III .......................................................................................... 69

16 Baca lebih lajut

Penerapan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Blajar IPA pada Konsep Gaya Magnet Siswa Kelas V SDN 012 Pangkalan Baru Kampar

Penerapan Model Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Hasil Blajar IPA pada Konsep Gaya Magnet Siswa Kelas V SDN 012 Pangkalan Baru Kampar

Dari tabel di atas maka dapat dilihat bahwa ketuntasan secara individu dari skor dasar, ulangan harian siklus I dan ulangan harian siklus II mengalami peningkatan. Ketuntasan individu dikatakan tuntas apabila setiap individu telah memperoleh 63. Ketuntasan klasikal tercapai apabila 75% dari seluruh siswa memperoleh nilai 63 maka kelas itu dikatakan tuntas. Dilihat dari hasil belajar IPA pada skor dasar yang diambil dari rata-rata ulangan harian IPA siswa sebelum diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah 60,94. Pada siklus pertama pada ulangan harian I nilai rata-rata siswa 65,5 terjadi peningkatan dari nilai ulangan sebelumnya yaitu 4,56 poin. Pertemuan dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II pada ulangan harian II nilai rata-rata siswa 76,75, juga terjadi peningkatan sebesar 11,25 poin. Disini dapat dilihat bahwa penerapan model inkuiri terbimbing ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini disebabkan pada umumnya siswa memiliki keingintahuan untuk berkembang, sehingga dapat mengembangkan keterampilan intelektual dan keterampilan lainnya seperti keterampilan untuk menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan guru yang berawal dari keingintahuan mereka.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Penerapan Model Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 145 Pekanbaru

Penerapan Model Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SD Negeri 145 Pekanbaru

Matematika adalah ilmu eksak yang bersifat deduktif. Untuk mempelajarinya tidak cukup dengan hafalan dan membaca, tetapi memerlukan pemikiran dan pemahaman. Penguasaan atas pembelajaran matematika mutlak diperlukan peserta didik dalam upaya mempelajari ilmu pengetahuan yang lain dalam pemecahan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut kurikulum KTSP SD/MI tahun 2006 disebutkan bahwa tujuan pelajaran matematika di SD agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut: 1. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau alogaritma secara luwes, akurat, dan tepat dalam pemecahan masalah; 2. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3. memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4. mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, dan media lain untuk memperjelas masalah atau keadaan; 5. memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA KELAS V SD

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA KELAS V SD

Menurut Johnson dan Johnson (dalam Huda Miftahu, 2011: 31) pembelajaran Kooperatif berarti bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam suasana kooperatif, setiap anggota sama-sama berusaha mencapai hasil yang nantinya bisa dirasakan oleh semua anggota kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif Menurut Slavin (dalam Trianto, 2009: 57 ) bahwa ide utama dari belajar kooperatif adalah siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemajuan belajar temannya. Belajar kooperatif juga menekankan pada tujuan dan kesuksesan kelompok, yang hanya dapat dicapai jika semua anggota kelompok mencapai tujuan atau penguasaan materi. Menurut Johnson & Jhonson (dalam Trianto, 2009: 57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara indVidu maupun secara kelompok. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat menyebabkan siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah Jigsaw.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PENINGKATAN MINAT BELAJAR IPA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL INKUIRI PADA SISWA KELAS V SD  Peningkatan Minat Belajar Ipa Melalui Pembelajaran Kontekstual Model Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Nglorog 5 Sragen 2013/2014.

PENINGKATAN MINAT BELAJAR IPA MELALUI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MODEL INKUIRI PADA SISWA KELAS V SD Peningkatan Minat Belajar Ipa Melalui Pembelajaran Kontekstual Model Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Nglorog 5 Sragen 2013/2014.

Tujuan penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan minat belajar siswa kelas V SD Negeri Nglorog 5 Sragen pada pembelajaran IPA melalui Model Inkuiri. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus. Subjek penelitian yang dikenai tindakan siswa kelas V SD Negeri Nglorog 5 Sragen yang berjumlah 16 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan Tes. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat belajar siswa pada akhir siklus II dalam hal Perasaan senang siswa terhadap pelajaran IPA prosentase meningkat menjadi 94%. Perhatian siswa terhadap proses pembelajaran IPA sebesar 88%. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPA sebesar 81 %. Dan Memperhatikan penjelasan guru sebesar 81 %. Penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui model inkuiri dapat meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran IPA siswa kelas V SD Negeri Nglorog 5 Sragen.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SDN JARAKAN SEWON, BANTUL.

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS V SDN JARAKAN SEWON, BANTUL.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V, yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 01 oktober 2015 di SD 3 Jarakan, mendapatkan informasi bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS masih kurang optimal hal ini dilihat dari hasil KKM yang diperoleh siswa. Dari jumlah siswa 29 hanya 9 siswa yang mencapai KKM sementara yang belum mencapai KKM masih terdapat 20 siswa, padahal batasan KKM yang diterapkan di SD 3 Jarakan adalah 75. Guru menjelaskan bahwa model yang digunakan pada saat pembelajaran kurang bervariasi yang mana model pembelajaran yang dikuasai guru kurang bervariatif, dalam pembelajaran model yang digunakan guru lebih cenderung pada model pembelajaran yang bersifat klasikal atau lebih kepada pembelajaran yang berpusat kepada guru sehingga siswa kurang mendapat kesempatan untuk merealisasikan potensi yang dimiliki dan siswa akan selalu pasif dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa dimana siswa menyebutkan bahwa matapelajaran IPS merupakan pelajaran yang dianggap sulit dari matapelajaran lainnya. Hal tersebut menyebabkan siswa kurang tertarik pada pembelajaran dan cenderung siswa pasif dalam proses pembelajaran.
Baca lebih lanjut

215 Baca lebih lajut

PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA KELAS V   Peningkatan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Poleng I Tahun Ajaran 2015/2016.

PENINGKATAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI PADA SISWA KELAS V Peningkatan Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Pada Siswa Kelas V SD Negeri Poleng I Tahun Ajaran 2015/2016.

Penelitian ini menerapkan model pembelajaran inkuiri yang bertujuan untuk: 1) meningkatkan kreativitas siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun 2015/2016, 2) meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun 2015/2016. Jenis penelitian ini penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian guru dan siswa kelas V SD Negeri Poleng 1 yang berjumlah 20 anak. Teknik pengumpulan data melalui observasi,tes, dokumentasi, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yang dimulai dari reduksi data, penyajian data kemudian mengambil kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kreativitas siswa. Peningkatan kreativitas siswa ini dapat dilihat dari meningkatnya aspek-aspek kreativitas dari pra siklus yaitu 17% kemudian siklus 1 mencapai 31%, sedangkan pada siklus II aspek kreativitas siswa dapat meningkat menjadi 85%. Model pembelajaran inkuiri juga dapat meningkatkan hasil belajar IPA. Hal initerlihat dari pra siklus 25% (5 siswa tuntas) kemudian siklus I mencapai 50% (10 siswa tuntas) Siklus II menjadi 80% (16 siswa tuntas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun ajaran 2015/2016, 2) model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas V SD Negeri Poleng 1 tahun ajaran 2015/2016
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 021 RUMBAI

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI 021 RUMBAI

Bentuk penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian praktis yang bertujuan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam pembelajaran dikelas, dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran dikelas secara profesional. Masalah yang diunkapkan dan dicari jalan keluarnya dalam penelitian tindakan kelas adalah masalah yang benar-benar ada dan dialami oleh guru. Dalam penelitian tindakan kelas, setiap satu siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi untuk dilanjutkan ke siklus berikutnya. Penulis merencanakan pelaksanaan penelitian ini dalam dua siklus, agar penelitian dapat lebih bermakna dan penulis dapat memperoleh informasi yang cukup dan mantap sebagai masukan yang berarti untuk mengadakan perbaikan pada siklus berikutnya.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects