Top PDF PERBEDAAN MOTIVASI UNTUK MELAKUKAN SENAM

PERBEDAAN MOTIVASI UNTUK MELAKUKAN SENAM

PERBEDAAN MOTIVASI UNTUK MELAKUKAN SENAM

PERBEDAAN MOTIVASI UNTUK MELAKUKAN SENAM NIFAS PADA IBU POSTPARTUM YANG DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN YANG TIDAK DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN ARTIKEL SKRIPSI Disusun untuk m[r]

15 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENGARUH SENAM YOGA DENGAN SENAM THAI CHI TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN PADA LANSIA NASKAH PUBLIKASI - PERBEDAAN PENGARUH SENAM YOGA DENGAN SENAM THAI CHI TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN PADA LANSIA - DIGILIB UNISAYOGYA

PERBEDAAN PENGARUH SENAM YOGA DENGAN SENAM THAI CHI TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN PADA LANSIA NASKAH PUBLIKASI - PERBEDAAN PENGARUH SENAM YOGA DENGAN SENAM THAI CHI TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN PADA LANSIA - DIGILIB UNISAYOGYA

Bagi mereka yang melakukan senam thai chi secara teratur dapat meningkatkan tonus otot memperbaiki fleksibilitas gerak memperkuat otot-otot yang lemah, meningkatkan system vestibular , system visual, dan system propioseftif untuk terjadi interkasi. Lanjut usia biasanya tidak menyadari bahwa fungsi keseimbangan tubuhnya mulai mundur dan berkurang, hal ini akan mengakibatkan seringnya jatuh pada lansia. Dilakukannya gerakan senam thai chi dapat melatih kekuatan otot, mengintegrasikan system pengontrol keseimbangan dengan baik. Delapan jurus gerakan thai chi dapat mensinergikan hemusfer kanan dan hemusfer kiri yang terintegrasikan secara keseluruhan sehinga dapat meningkatkan kesimbangan. Selain itu gerakan-gerakan dalam senam thai chi mampu mengkoordinasi tubuh agar dalam kondisi yang seimbang baik saat diam maupun bergerak. Keadaan seimbang pada tubuh menurunkan kejadian jatuh yang terjadi pada seseorang (cronin, 2007).
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN MOTIVASI IBU HAMIL UNTUK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI DESA TANJUNGREJO KECAMATAN JEKULO KABUPATEN KUDUS

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN MOTIVASI IBU HAMIL UNTUK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI DESA TANJUNGREJO KECAMATAN JEKULO KABUPATEN KUDUS

Senam hamil merupakan terapi latihan gerak yang diberikan pada ibu hamil untuk memper- siapkan dirinya baik fisik maupun mental dalam menghadapi persalinan. Oleh karena itu, senam hamil sangat diperlukan oleh setiap ibu hamil, karena senam hamil dapat membuat tubuh menjadi sehat dan bugar, serta dapat membantu ibu dalam menghadapi persalinan sehingga stres akibat rasa cemas menjelang persalinan akan dapat diminimalkan. Jenis pe- nelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini 93 responden di Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Pearson chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil tentang senam ha- mil mempunyai pengetahuan baik sebanyak 53 responden (57,0%), dan motivasi ibu hamil untuk melakukan senam hamil mempunyai motivasi rendah sebanyak 44 responden (47,3%). Analisa Pearson chi-square menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan motivasi ibu hamil untuk melakukan senam hamil di Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus dengan p value 0.029 (p< 0,05). Ada hubungan pengetahuan dengan motivasi ibu hamil untuk melakukan senam hamil Di Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus Tahun 2014. Peneliti menyarankan melakukan senam hamil untuk menghadapi persalinan.
Baca lebih lanjut

22 Baca lebih lajut

SKRIPSI  PERBEDAAN MOTIVASI KERJA ANTARA PENGEMIS DAN PENGAMEN.

SKRIPSI PERBEDAAN MOTIVASI KERJA ANTARA PENGEMIS DAN PENGAMEN.

Krisis global yang terjadi pada dunia pada saat ini memiliki banyak dampak dalam kehidupan perekonomian. Pada akhirnya semakin sempitnya lapangan pekerjaan pun menjadi salah satu dampaknya. Sulitnya seseorang mendapatkan pekerjaan membuat semakin mundurnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dampak positif dan negatif tampaknya semakin sulit dihindari dalam pembangunan serta mengurangi dan menganitipasi dampak negatifnya. Pengemis dan pengamen merupakan salah satu dampak negatif pembangunan tersebut, pengemis dan pengamen ini tentu sangat erat kaitannya dengan kemiskinan dan ketersediaan lapangan kerja. Pendapatan yang mereka dapatkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sehingga mereka termotivasi untuk melakukan pekerjaan mereka untuk mendapatkan pendapatan yang lebih banyak sehingga kebutuhan-kebutuhan mereka dapat terpenuhi secara layak. Motivasi yang bekerja dalam diri individu sendiri mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan terwujud.
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI USIA PERTENGAHAN YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DENGAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKAN KAMIS KABUPATEN AGAM TAHUN 2012.

PERBEDAAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI USIA PERTENGAHAN YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DENGAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKAN KAMIS KABUPATEN AGAM TAHUN 2012.

Pengobatan cara itu terbukti dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologi tidak lagi diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. Selain itu, pada keadaan saat obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non-farmakologi dapat digunakan sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik, dimana pengobatan secara non farmakologi dapat dilakukan dengan cara: mengatasi obesitas atau menurunkan kelebihan berat badan, mengontrol pola makan, mengurangi asupan garam ke dalam tubuh, meningkatkan konsumsi potasium dan magnesium ke dalam tubuh, makan makanan jenis padi-padian, menciptakan keadaan rileks, meningkatkan aktifitas, menyertakan bantuan dari kelompok pendukung, berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol berlebihan, dan melakukan aktifitas fisik berupa olahraga seperti senam, selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu (Iskandar, 2008).
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DAN DEPRESI LANSIA YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DAN TIDAK DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA - UNS Institutional Repository

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DAN DEPRESI LANSIA YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DAN TIDAK DI PANTI WREDHA DHARMA BHAKTI SURAKARTA - UNS Institutional Repository

Hendri Setiawan, G0013110, 2017. Perbedaan Tingkat Kecemasan dan Depresi Lansia yang Melakukan Senam Lansia dan Tidakdi Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta.Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Latar Belakang: Kecemasan dan depresi merupakan masalah mental yang banyak terjadi pada lanjut usia(lansia). Hal tersebut dikarenakan lanjut usia adalah usia yang paling rentan terjadinya kecemasan dan depresi dibandingkan remaja, dewasa maupun anak-anak. Kecemasan dan depresi pada lansia harus diwaspadai dan dideteksi sedini mungkin karena dapat mempengaruhi perjalanan penyakit fisik dan kualitas hidup.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbedaan tingkat kecemasan dan depresi lansia yang melakukan senam lansia dan tidak melakukan senam lansia
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS DAN MOTIVASI BELAJAR ANTARA MODEL PEMBELAJARAN BRAIN-BASED LEARNING DAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA SMP NEGERI 5 MEDAN.

PERBEDAAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS DAN MOTIVASI BELAJAR ANTARA MODEL PEMBELAJARAN BRAIN-BASED LEARNING DAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING SISWA SMP NEGERI 5 MEDAN.

“1) m emahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; 2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4) mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) memiliki sifat menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah ” .
Baca lebih lanjut

37 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENGARUH SENAM AEROBIK DAN YOGA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012.

PERBEDAAN PENGARUH SENAM AEROBIK DAN YOGA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012.

Olahraga yang dianjurkan pada pasien DM Tipe II ini adalah senam aerobik dan yoga. Belum ada penelitian yang membandingkan efektifitas dari kedua intervensi ini terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM Tipe II. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan pengaruh senam aerobik dan yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM Tipe II. Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP M. Djamil Padang dimana responden direkrut sedangkan untuk pelaksanaan intervensi dilakukan di sanggar senam Ozone. Waktu penelitian dimulai dari bulan Januari sampai Oktober 2012. Rancangan penelitian yang digunakan adalah desain quasi-eksperimen dengan pendekatan Non Equivalen Comparison group pretest-posttest Design. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling dengan sampel sebanyak 10 orang kelompok eksperimen dengan senam aerobik dan 10 orang kelompok pembanding dengan yoga. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan yoga dan pengukuran kadar gula darah sewaktu secara langsung. Analisa data dilakukan dengan dependent t- test untuk menilai perbedaan sebelum dan sesudah intervensi pada masing-masing kelompok dan independent sample t- test untuk menilai perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian ini menunjukkan penurunan rata-rata kadar gula darah dengan senam aerobik adalah 32 mg/dl dan penurunan rata-rata dengan yoga adalah 47,7 mg/dl. Hasil uji statistik kelompok eksperimen dan pembanding didapatkan nilai p= 0,038 (p<0,05) yang berarti dapat menurunkan kadar gula darah pasien DM Tipe II. Disarankan untuk melakukan yoga sebagai salah satu olahraga yang dapat menurunkan kadar gula darah pasien DM Tipe II.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENGARUH SENAM AEROBIK DAN YOGA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 - Repositori Universitas Andalas

PERBEDAAN PENGARUH SENAM AEROBIK DAN YOGA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI POLIKLINIK KHUSUS PENYAKIT DALAM RSUP M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 - Repositori Universitas Andalas

pasien DM setiap satu bulan sekali dan selalu disosialisasikan oleh pihak RS, tetapi berdasarkan informasi dari 12 orang pasien, mereka tidak mengikuti senam tersebut dengan alasan malas dan terkendala jarak yang jauh. Untuk yoga sendiri pihak RS tidak ada melakukan kegiatan tersebut. Berdasarkan wawancara yang dilakukan didapatkan bahwa pasien kurang mengetahui pentingnya olahraga seperti senam aerobik dan yoga dalam pengontrolan kadar gula darah dan pencegahan komplikasi pada penyakit DM. Selain itu pada penelitian sebelumnya belum pernah ada dilakukan penelitian yang membandingkan efektifitas antara senam aerobik dan yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM Tipe II. Dilatarbelakangi oleh kondisi di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian guna mengetahui apakah ada perbedaan pengaruh pemberian senam aerobik dengan yoga terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Poliklinik Khusus Penyakit Dalam RSUP M. Djamil Padang Tahun 2012.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENGARUH EDUKASI SUPORTIF TERSTRUKTUR DAN PENYULUHAN STANDAR RUMAH SAKIT TERHADAP MOTIVASI IBU DITINJAU DARI PARITAS.

PERBEDAAN PENGARUH EDUKASI SUPORTIF TERSTRUKTUR DAN PENYULUHAN STANDAR RUMAH SAKIT TERHADAP MOTIVASI IBU DITINJAU DARI PARITAS.

Metode Penelitian: tempat dan waktu penelitian: di Rumah Sakit Umum Aura Syifa Kabupaten Kediri pada tanggal 2 Februari 2013 sampai dengan 30 Maret 2013. Jenis penelitian: Randomized Controlled Trial tipe desain Post test-Only Control Design . Populasi: semua ibu nifas yang melahirkan pervaginam hari kesatu sampai hari ketigayaitu 100 orang. Teknik Sampling: digunakan teknik Simple Random Sampling secara lotre sehingga diperoleh besar sampel: 40 orang, yang terdiri dari kelompok eksperimen 20 orang dan kelompok kontrol 20 orang. Sampel: ibu nifas yang melahirkan pervaginam di RSU Aura Syifa serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data: melakukan pemberian EST selama 30 menit kelompok eksperimen dan memberikan leaflet pada kelompok kontrol, kemudian mengukur tingkat motivasi melaksanakan senam nifas pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menggunakan instrumen: kuesioner motivasi yang berisi 20 butir pernyataan dengan skala likert yang telah memenuhi syarat melalui uji validitas dan uji reliabilitas . Analisis: digunakan analisis multivariat jenis regresi linier sederhana untuk menguji perbedaan pengaruh rata-rata motivasi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERIDA ANTARA ANGGOTA SENAM BODY LANGUAGE DENGAN ANGGOTA SENAM HIGH IMPACT SETELAH PEMBERIAN ASUPAN MAKANAN YANG SEBELUMNYA MELAKUKAN SENAM BODY LANGUAGE DAN SENAM HIGH IMPACT

PERBEDAAN KADAR TRIGLISERIDA ANTARA ANGGOTA SENAM BODY LANGUAGE DENGAN ANGGOTA SENAM HIGH IMPACT SETELAH PEMBERIAN ASUPAN MAKANAN YANG SEBELUMNYA MELAKUKAN SENAM BODY LANGUAGE DAN SENAM HIGH IMPACT

Aktivitas LPL juga dipengaruhi oleh kadar insulin. Insulin menurunkan aktivitas LPL pada otot yang tidak berolahraga, namun tidak memiliki pengaruh pada otot yang berolahraga. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kiens (1989), didapatkan bahwa pada pemberian insulin, aktivitas LPL pada otot yang berolahraga tidak terpengaruh, sedangkan aktivitas LPL pada otot yang tidak berolahraga menurun (Hardman dan Herd, 1998). Insulin juga menyebabkan inhibisi lipolisis simpanan trigliserida pada sel adiposa oleh Hormone Sensitive Lipase (HSL) (Watford dan Goodridge, 2000). Namun pada keadaan setelah berolahraga, di mana terjadi peningkatan katekolamin, aktivitas HSL meningkat. Akibatnya penyediaan asam lemak ke dalam plasma untuk oksidasi asam lemak meningkat (Kiens, 2006).
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI PANTI WREDA DHARMA BHAKTI SURAKARTA DAN POSYANDU LANSIA SAKINAH TRUCUK I KLATEN.

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PADA LANSIA YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI PANTI WREDA DHARMA BHAKTI SURAKARTA DAN POSYANDU LANSIA SAKINAH TRUCUK I KLATEN.

Usia harapan hidup di Negara maju lebih tinggi, karena mereka memperhatikan gaya hidup dan pola pikir mereka yang dinamis. Sebab yang paling penting untuk mencapai harapan hidup moderen yang lebih panjang adalah makanan sehat. Faktor yang penting bagi masyarakat Jepang yang berusia lanjut adalah bagaimana pandangan seseorang tentang hidup. Bersikap optimis, melakukan apa yang ingin dilakukan. Selain pola makanan yang teratur yaitu dengan hidup sehat (Akafuji, 2008).

9 Baca lebih lajut

Analisa Perbedaan Motivasi Melakukan Fit

Analisa Perbedaan Motivasi Melakukan Fit

dalam penelitian ini disusun oleh peneliti berdasarkan dimensi-dimensi yang sama dengan skala Ryan, Frederick, Lepes, Rubio, dan Sheldon (1997) skala Motives for Physical Activity Measure-Revised (MPAM-R) yang terdapat pada penelitian terdahulu mengenai motivasi. Pada penelitian ini skala yang akan mengukur tingkat motivasi pada individu menggunakan skala Likert dengan lima skor. Hal ini berarti semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi motivasi melakukan aktifitas fisik. Semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah motivasi melakukan aktifitas fisik. Validitas yang digunakan pada penelitian ini adalah validitas isi yang didukung juga dengan validitas konstrak. Pada validitas isi peneliti menampilkan koesioner dengan tampilan yang menarik serta berkonsultasi kepada dosen pembimbing sebagai expert judgment untuk mengukur validitas, sementara pada validitas kostrak peneliti menguji validitas alat ukur dalam penelitian ini adalah dengan teknik korelasi aitem total ( corrected item-total correlation) dengan batas nilai 0,300. Apabila nilai corrected item-total correlation positif dan melebihi 0,300 maka dapat disimpulkan bahwa alat ukur tersebut memiliki validitas konstruk yang baik. Pada skala tersebut terdapat 41 aitem yang valid dengan nilai corrected item total correlation berkisar antara 0,309 hingga 0,720. Reabilitas dalam peneltian ini menggunakan pendekatan reliabilitas konsistensi internal. Perhitungan koefisien reliabilitas antar aitem menggunakan koefisien alpha (α) dari Cronbach. Nilai reliabilitas pada pengujian skala motivasi melakukan fitness yaitu 0,956. Skala penelitian ini memiliki reliabilitas yang sangat tinggi, sehingga skala tersebut layak untuk digunakan dalam penelitian.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PERBEDAAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI USIA PERTENGAHAN YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DENGAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKAN KAMIS KABUPATEN AGAM TAHUN 2012.

PERBEDAAN PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI USIA PERTENGAHAN YANG MELAKUKAN SENAM LANSIA DENGAN YANG TIDAK MELAKUKAN SENAM LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAKAN KAMIS KABUPATEN AGAM TAHUN 2012.

Hipertensi pada lansia disebabkan oleh proses perubahan dan kemunduran alat tubuh khususnya sistim kardiovaskuler. Senam lansia merupakan salah satu program puskesmas yang kuarang mendapat perhatian dari petugas kesehatan dan juga lansia. padahal senam lansia merupakan salah satu cara untuk mengurangi penumpukan lemak pada didnding pembuluh darah, di sisi lain akan melatih otot jantung berkontraksi. Penelitian telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Pakan Kamis Kabupaten Agam Tahun 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada perbedaan penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi usia pertengahan yang melakukan senam lansia dengan yang tidak melakukan senam lansia. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment dengan pendekatan Pre Test Post Test Control Group. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 orang, dimana 21 orang melakukan senam lansia dan 21 orang yang tidak melakukan senam lansia. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil ternyata pada lanjut usia yang tidak melakukan senam lansia tidak terjadi penurunan tekanan darah sistolik, dan diastolik. Sementara itu, pada lanjut usia yang melakukan senam lansia terjadi penurunan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan penurunan tekanan darah yang signifikan antara penderita hipertensi usia pertengahan yang melakukan senam lansia dengan yang tidak melakukan senam lansia. Disarankan kepada petugas kesehatan khususnya perawat gerontik untuk meningkatkan kemampuan tentang senam lansia agar dapat mengajarkannya kepada lanjut usia. Untuk lansia, khususnya penderita hipertensi usia pertengahan, dianjurkan untuk melakukan senam lansia secara teratur tiga kali seminggu.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

S SDPJ 1101292 Chapter3

S SDPJ 1101292 Chapter3

Desain penelitian merupakan bagian dari peerencanaan penelitiaan yang menunjukkan usaha peneliti dalam melihat apakah penelitian yang direncanakan telah memiliki validitas internal dan validitas eksternal komprehensif. Suatu desain penelitan adalah suatu rencana tentang cara melakukan penelitaan itu. Sebab itu desain penelitian hubungannya sangat erat sekali dengan proses penelitiannya. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) atau dikenal juga dengan istilah Classroom Action Research . Arikunto, dkk. (2008: 3) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Dengan menggabungkan tiga batasan kata inti yaitu: penelitian, tindakan, dan kelas. Sedangkan apa yang dijabarkan oleh McNiff (dalam Kusumah dan Dwitagama, 2012, hlm. 8) memandang hakikat PTK adalah sebagai bentuk penelitan reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

S SDPJ 1101292 Abstract

S SDPJ 1101292 Abstract

Penelitian ini dilatarberlakangi rendahnya motivasi belajar anak dalam pembelajaran senam kesegaran jasmani dan senam ceria. Hal ini diduga karena siswa lebih tertarik pada pembelajaran penjas dalam bentuk aktivitas permainan entah itu permainan bola besar, bola kecil, maupun tradisional, disamping karna pada proses pembelajaran senam kesegaran jasmani dan senam ceria tersebut dilakukan tidak disertai oleh hadirnya musik. Sehingga diperlukan alat yang tepat dalam hal ini media audio visual, untuk menumbuhkan motivasi belajar anak dalam pembelajaran senam kesegaran jasmani dan senam ceria. Dengan demikian diharapkan siswa dapat mengikuti pembelajaran senam kesegaran jasmani dan senam ceria dengan baik serta meningkatkan motivasi belajar anak. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research pada siswa kelas III SDN 2 Bayalangu Kidul yang berjumlah 33 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi siswa mengenai format penilaian motivasi belajar anak, catatan lapangan, dan dokumentasi penelitian. Prosentase peningkatan perolehan rata-rata setiap tindakan pada praobservasi mencapai 54%, pada siklus I tindakan 1 mencapai 61%, Pada siklus I tindakan 2 mencapai 64%, pada siklus II tindakan 3 mencapai 81% dan pada siklus II tindakan 4 mencapai 88%. Hasil ini menunjukkan peningkatan setiap tindakannya dan menunjukkan bahwa melalui penggunaan media audio visual dapat meningkatakan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran senam kesegaran jasmani dan senam ceria.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PERBEDAAN DERAJAT DISMENORE PADA WANITA YANG MENGIKUTI SENAM YOGA DAN TIDAK MENGIKUTI SENAM YOGA.

PERBEDAAN DERAJAT DISMENORE PADA WANITA YANG MENGIKUTI SENAM YOGA DAN TIDAK MENGIKUTI SENAM YOGA.

penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin penulis sebutkan satu per satu. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa datang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

10 Baca lebih lajut

Bab 5 Pengembangan Materi Ajar PJOK

Bab 5 Pengembangan Materi Ajar PJOK

Pada saat memberikan materi pembelajaran ini, tidak semua siswa mampu atau dapat melakukan dengan benar, bahkan sering juga ada anak didik yang tidak mau melakukan dengan alasan takut. Untuk menghindari atau menyakinkan pada siswa berani dan mau mempraktekkan senam lantai adalah dengan diberikan pertolongan. Disini fungsi seorang guru benar-benar diperlukan, maka dari itu seorang guru harus mampu menguasai tehnik atau tindakan didaktis dengan baik, sehingga anak berani mempraktekkan dan akhirnya dapat melakukan dengan gerakan yuang baik dan benar. Berikut adalah cara-cara memberikan pertolongan untuk melakukan/mempraktekkan gerakan guling ke depan : Sikap guru yang akan memberikan pertolongan pada berguling ke depan
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

BAB V Pengembangan Materi Ajar PJOK

BAB V Pengembangan Materi Ajar PJOK

Permainan bolavoli pada awal ide dasarnya adalah permainan memantul-mantulkan bola (to volley) oleh tangan atau lengan oleh dua regu yang bermain di atas lapangan yang mempunyai ukuran-ukuran tertentu. Untuk masing-masing regu, lapangan dibagi dua sama besar oleh net atau tali yang dibentangkan di atas lapangan dengan ukuran ketinggian tertentu. Salah satu pemain tidak boleh memantulkan bola dua kali secara berturut-turut. Prinsip permainan bolavoli adalah menjaga bola agar jangan sampai jatuh di lapangan sendiri dan berusaha menjatuhkan bola di lapangan lawan atau mematikan bola di lapangan lawan. Peraturan dasar yang digunakan adalah bola harus dipantulkan oleh tangan, lengan, atau bagian depan badan dari anggota badan. Bola harus diseberangkan ke lapangan lawan melalui atas net.
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

PENGARUH SENAM YOGA TERHADAP TINGKAT NYERI DISMINORE PADA REMAJA DI SMKN 1 KARANGANYAR

PENGARUH SENAM YOGA TERHADAP TINGKAT NYERI DISMINORE PADA REMAJA DI SMKN 1 KARANGANYAR

Berdasarkan hasil uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test dapat diketahui bahwa dari 20 responden, skala nyeri dari semua responden setelah diberi perlakuan senam yoga skala nyeri responden lebih kecil dari sebelum diberi perlakuan. Nilai z hitung sebesar (3,945) dengan angka signifikan (0.000) dari hasil tersebut akan dibandingkan dengan z tabel untuk angka signifikan 5% yaitu sebesar 1,96. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa z hitung (3,945) > z tabel (1,96) atau p (0,000) < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh signifikan senam yoga terhadap pengurangan rasa
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...