Top PDF Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia Di Indonesia

Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia Di Indonesia

Perkembangan Lembaga Jaminan Fidusia Di Indonesia

Sebagai alasan yang banyak dikemukakan oleh para penulis mengenai timbulnya Lembaga Fidusia, ialah karena ketentuan Undang-Undang yang mengatur Lembaga gadai (pand) mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. Adanya ketentuan pada gadai, yang mensyaratkan bahwa kekuasaan atas bendanya harus pindah/berada pada pemegang gadai, sebagaimana diatur dalam pasal 1152 ayat 2 KUH Perdata, merupakan hambatan berat bagi gadai atas benda-benda bergerak berwujud, karena pemberian gadai lalu tidak dapat mempergunakan benda-benda tersebut untuk keperluannya. Terlebih- lebih jika benda tanggungan tersebut kebetulan merupakan alat yang penting untuk mata pencaharian sehari-hari, misalnya bis-bis atau truk-truk bagi perusahaan angkutan, alat-alat rumah makan, sepeda bagi penarik rekening atau loper susu dan lain-lain. Mereka itu di samping memerlukan kredit, masih membutuhkan tetap dapat memakai bendanya untuk alat bekerja. Demikian pula halnya bagi pegawai-pegawai kecil atau rakyat kecil, di samping kebutuhannya yang mendesak untuk memperoleh kredit, dengan jaminan alat-alat perkakas rumah tangga, sangat berat baginya untuk melepas benda-benda tersebut yang dibutuhkan untuk dipakai sehari-hari, misalnya mesin jahit, perkakas dapur, jam dinding, perhiasan dan lain-lain. 3 Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul ^PERKEMBANGAN JAMINAN FIDUSIA DI
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

HAK CIPTA SEBAGAI OBYEK JAMINAN FIDUSIA

HAK CIPTA SEBAGAI OBYEK JAMINAN FIDUSIA

mengenai kewenangan menteri untuk menghapus ciptaan yang telah dicatat, penghapusan ini dilakukan apabila ciptaan tersebut melanggar norma agama, norma susila, ketertiban umum, pertahanan dan keamanan negara, serta ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang Hak Cipta yang baru ini juga diatur bahwa pencipta, pemegang hak cipta, pemilik hak terkait, menjadi anggota Lembaga Manajemen Kolektif agar dapat menarik imbalan atau royalti dan Lembaga Manajemen Kolektif yang berfungsi menghimpun dan mengelola hak ekonomi pencipta dan pemilik hak terkait wajib mengajukan permohonan izin operasional kepada menteri. Undang-undang inipun memperbaharui penggunaan hak cipta dan hak terkait dalam sarana multimedia untuk merespon perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

JAMINAN FIDUSIA YANG DIJADIKAN JAMINAN KEMBALI DENGAN TIDAK MELAKUKAN PENGHAPUSAN FIDUSIA MENURUT PRESPEKTIF HUKUM DI INDONESIA

JAMINAN FIDUSIA YANG DIJADIKAN JAMINAN KEMBALI DENGAN TIDAK MELAKUKAN PENGHAPUSAN FIDUSIA MENURUT PRESPEKTIF HUKUM DI INDONESIA

Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari berkembang sejalan dengan adanya persaingan usaha dimana lembaga pembiayaan yang merupakan alternatif yang dapat dicari oleh konsumen agar kebutuhannya terpenuhi. Kekhawatiran yang mungkin dialami oleh masyarakat berpenghasilan rendah tidak perlu lagi muncul, dikarennakan telah adanya lembaga pembiayaan yang memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Lembaga pembiayaan bertujuan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat dalam mempermudah untuk membeli barang yang menjadi barang kosumsi masyarakat. Perjanjian dapat dilakukan antara pihak perusahaan yang menyediakan pembiayaan atau sering disebut dengan (kreditur) dengan konsumen (debitur) atau nasabah ataupun klien yang menjadi sebutan dalam membuat perjanjian pokok atau perjanjian kredit (Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1980: 1). Pemberian bantuan berupa kredit yang diberikan kepada masayarakat untuk mempermudah masyarakat, maka masyarakatpun juga harus mengenal beberapa jenis kredit yang menggunakan pembiayaan.
Baca lebih lanjut

11 Baca lebih lajut

KARAKTERISTIK PEMBEBANAN JAMINAN FIDUSIA p1

KARAKTERISTIK PEMBEBANAN JAMINAN FIDUSIA p1

Tahun 1932 muncul kasus di Indonesia dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij Vs Pedro Clignett, yang diputus pada tanggal 18 Agustus 1932 oleh Hooggerechtschof (HGH). Putusan ini kemudian menjadi tonggak awal lahirnya Fidusia di Indonesia, dan sekaligus menjadi yurisprudensi pertama sebagai jalan keluar mengatasi masalah penguasaan benda (asas Inbezitstelling) pada lembaga jaminan Gadai. Sejak putusan tersebut, kehidupan lembaga jaminan Fidusia semakin diminati oleh pelaku usaha khususnya yang membutuhkan kredit Bank dengan jaminan benda bergerak yang masih dapat dipergunakan untuk melanjutkan usahanya tanpa harus melepaskan kekuasaan atas benda jaminan itu secara fisik. Setelah kemerdekaan, jaminan Fidusia kembali mendapat pengakuan Yurisprudensi dalam Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya tahun 1951 dengan menetapkan pembatalan perjanjian Fidusia atas benda-benda tidak bergerak milik pihak ketiga. 15
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Pengaturan Tentang Jaminan Fidusia Berdasarkan Undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Pengaturan Tentang Jaminan Fidusia Berdasarkan Undang-undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Akibat hukum maupun kerugian yang dialami oleh kreditur akibat yang disebabkan debitur telah melakukan pelanggaran atas jaminan fidusia yang telah diasingkan atau bahkan dialihkan pada orang lain tentunya ada. Dan bahkan akibat dari perbuatan itu debiur dapat dituntut melalui pelanggaran pidana seperti yang telah diatur dalam Pasal 35 dan 36 Undang-undang No. 42 Tahun 1999. Kerugian yang dialami oleh kreditur secara materi sudah jelas, bahwa kreditur telah rugi sebesar berapa besarnya jaminan yang difidusiakan ditambah bunga yang sudah ditentukan dan disepakati bersama antara kreditur dan debitur. Kerugian seperti inilah sebenarnya yang paling tidak disukai oleh setiap kreditur, sehingga di setiap perjanjian-perjanjian yang dilakukan oleh pihak- pihak debitur ia (kreditur) biasanya sangat hati- hati dan bahkan tidak jarang setiap lembaga fidusia yang ada di Indonesia ini memiliki konsultan khusus untuk itu. Akibat kerugian yang dialami oleh pihak kreditur tentunya ia dapat meminta kembali atau menarik kembali dari debitur yang telah merugikan itu. Upaya tersebut dapat melalui upaya-upaya hukum, baik upaya hukum biasa maupun upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa dapat ditempuh melalui Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Tingkat Kasasi, sedangkan upaya hukum luar biasa dapat ditempuh melalui proses peninjauan kembali atas segala kasus yang ada. Akan tetapi kebanyakan di lapangan kreditur yang merasa dirugikan oleh pihak debitur cara
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Laporan Fidusia  Obyek Jaminan Fidusia

Laporan Fidusia Obyek Jaminan Fidusia

Ada beberapa jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum. Pertama adalah dalam bentuk gadai, kedua adalah dalam bentuk hipotek yang telah dirubah kedalam hak tanggungan, ketiga adalah hak tanggungan yang diatur dalam undang-undang No 4 tahun 1996, yang terakhir adalah jaminan fidusia, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (yang selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia). Jaminan fidusia sendiri sebagaimana yang dipaparkan para ahli adalah perluasan akibat banyak kekurangannya lembaga gadai (pand) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan di masyarakat. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Jaminan Fidusia, eksistensi fidusia sebagai pranata jaminan diakui berdasarkan yurisprudensi. Konstruksi fidusia berdasarkan yurisprudensi yang pernah ada adalah penyerahan hak milik atas kepercayaan, atas benda atau barang-barang bergerak (milik debitor) kepada kreditor dengan penguasaan fisik atas barang-barang itu tetap pada debitor. Sebelum berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia, benda benda yang dapat menjadi objek jaminan fidusia berupa benda bergerak yang merupakan benda dalam persediaan (investori), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya kebendaan yang menjadi objek jaminan fidusia mulai meliputi juga kebendaan bergerak yang tak berwujud, maupun benda tak bergerak.
Baca lebih lanjut

30 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA SKRIPSI

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA SKRIPSI

Pada zaman Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang-barang yang difidusiakan, akan tetapi sekarang sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya berkedudukan sebagai pemegang jaminan saja. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disingkat dengan UUJF) memberikan batasan dan pengertian fidusia sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda (pemberi fidusia). Dikatakan berdasarkan kepercayaan, karena benda yang dijadikan jaminan tersebut tetap berada di tangan atau di bawah penguasan pemilik benda, yaitu pihak yang berhutang debitur. Menurut Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH sebagai alasan timbulnya lembaga fidusia ialah karena ketentuan undang-undang yang mengatur lembaga gadai mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. 1
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Pengaturan Jangka Waktu Pendaftaran Jaminan Fidusia di Indonesia

Pengaturan Jangka Waktu Pendaftaran Jaminan Fidusia di Indonesia

bangunan yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggunan. Jaminan fidusia yang berperan dalam pembangunan nasional dan menjamin kepastian hukum bagi pihak yang berkepentingan maka jaminan fidusia wajib didaftarkan yang sesuai dengan Pasal 11 ayat (1) UU Fidusia. Selain Pasal 11 ayat (1) UU Fidusia, pendaftaran terkait Jaminan Fidusia juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Fidusia. Khusus untuk kendaraan bermotor yang dibebankan jaminan fidusia telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan yang Melakukan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia. Perkembangan pendaftaran fidusia telah terjadi yaitu pada tahun 2013, pendaftaran fidusia dilakukan secara online. Pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik yaitu pendaftaran jaminan fidusia yang dilakukan oleh pemohon dengan mengisi aplikasi secara elektronik.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA.

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA.

Pada zaman Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang-barang yang difidusiakan, akan tetapi sekarang sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya berkedudukan sebagai pemegang jaminan saja. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disingkat dengan UUJF) memberikan batasan dan pengertian fidusia sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda (pemberi fidusia). Dikatakan berdasarkan kepercayaan, karena benda yang dijadikan jaminan tersebut tetap berada di tangan atau di bawah penguasan pemilik benda, yaitu pihak yang berhutang debitur. Menurut Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH sebagai alasan timbulnya lembaga fidusia ialah karena ketentuan undang-undang yang mengatur lembaga gadai mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. 1
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Akibat Hukum Jaminan Fidusia yang tidak

Akibat Hukum Jaminan Fidusia yang tidak

Mencermati perkembangan lembaga pembiayaan keuangan , Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Nonbank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani,17 menegaskan akan memberikan sanksi bagi perusahaan pembiayaan yang mangkir dalam pendaftaran jaminan fidusia, akan memberikan surat peringatan kepada perusahaan pembiayaan, dan bukan tidak mungkin hingga pembekuan kegiatan usaha. Pendaftaran jaminan fidusia memang kerap menjadi perdebatan di beberapa kalangan. Ada yang menganggap tidak wajib, ada juga yang mengatakan sebaliknya. Djaelani mengingatkan, berdasar Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK 010/2012, yang tidak wajib adalah mencantumkan klausula fidusia di perjanjian, jika klausula dimasukkan, pendaftaran wajib dilakukan.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

A. LEMBAGA JAMINAN 1. Pengertian Jaminan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Intervensi Negara dalam Ranah Hukum Privat: Studi Komparasi Antara Lembaga Jaminan Fidusia dan Gadai

A. LEMBAGA JAMINAN 1. Pengertian Jaminan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Intervensi Negara dalam Ranah Hukum Privat: Studi Komparasi Antara Lembaga Jaminan Fidusia dan Gadai

Pengaturan asas ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan dunia bisnis dan sekaligus dapat menjamin kelenturan objek jaminan fidusia yang tidak hanya terpaku pada benda yang sudah ada. Perwujutan asas ini merupakan penuangan cita-cita masyarakat dalam bidang hukum jaminan. Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain. Dalam ilmu hukum asas ini disebut dengan asas pemisahan horizontal. Dalam pemberian kredit bank, dapat menampung pihak pencari kredit khususnya pelaku usaha yang tidak memiliki tanah tetapi memiliki hak atas bangunan/rumah. Biasanya hubungan hukum antara pemilik tanah dan pemilik bangunan adalah perjanjian sewa.
Baca lebih lanjut

47 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA.

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA.

Pada zaman Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang-barang yang difidusiakan, akan tetapi sekarang sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya berkedudukan sebagai pemegang jaminan saja. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disingkat dengan UUJF) memberikan batasan dan pengertian fidusia sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda (pemberi fidusia). Dikatakan berdasarkan kepercayaan, karena benda yang dijadikan jaminan tersebut tetap berada di tangan atau di bawah penguasan pemilik benda, yaitu pihak yang berhutang debitur. Menurut Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH sebagai alasan timbulnya lembaga fidusia ialah karena ketentuan undang-undang yang mengatur lembaga gadai mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. 1
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Lembaga Jaminan Fidusia: Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019

Lembaga Jaminan Fidusia: Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-XVII/2019

Jika ditelisik secara runut, argumentasi hukum yang terbentuk dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 19/PUU-XVII/2019 telah memberikan pemahaman hukum atau paradigam baru dalam mengungkap tabir pelaksanaan fidusia selama ini di Indonesia. dimana salah satu kelemahan pelaksanaan fidusia yang menciptakan relasi kuasa yang timpang bermula dari klasula baku dalam kontrak standar yang dibentuk antara kreditur (penerima fidusia) dengan debitur ( pemberi fidusia). Menurut Sutan Remy Sjahdeini, pada pemindahan hak kepemilikan atas dasar kepercayaan, hak kepemilikan secara hukum tetap ada pada pemberi fidusia. Oleh karenanya pengalihan hak milik tersebut bukan merupakan pengalihan kepemilikan secara hukum. Maka penerima fidusia (kreditur) secara hukum tidak dibenarkan melakukan perbuatan hukum apapun juga terhadap barang yang dialihkan hak kepemilikannya oleh pemberi fidusia kepada penerima fidusia. Dengan begitu penerima fidusia tidak dibolehkan menjual objek fidusia tersebut sepanjang debitur tidak telah terbukti cidera janji dan besarnya utannya yang tertunggak diakui secara sukarela oleh debitur. Sementara ketakutan penerima fidusia apabila pemberi fidusia memiliki itikad tidak baik atas barang jaminan fidusia. Maka sejatinya Pasal 36 UU No 42 Tahun 1999 sudah menjamin hak kreditur tersebut selengkapnya berbunyi “pemberi fidusia yang mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

Eksekusi Jaminan Fidusia Yang Berlaku Di Indonesia Sebagai Lembaga Jaminan Menurut Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999

Eksekusi Jaminan Fidusia Yang Berlaku Di Indonesia Sebagai Lembaga Jaminan Menurut Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses eksekusi jaminan fidusia di Indonesia dan bagaimana cara pembebanan jaminan fidusia, yang dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif disimpulkan bahwa 1. Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Yang menjadi penyebab timbulnya eksekusi jaminan fidusia ini adalah karena debitur atau pemberi fidusia cedera janji atau tidak memenuhi prestasinya tepat pada waktunya kepada penerima fidusia. Ada empat cara eksekusi benda jaminan fidusia yaitu pelaksanaan title eksekutorial oleh penerima fidusia; penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan; penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi dan penerima fidusia. Jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tinggi yang menguntungkan para pihak. Untuk melakukan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia, maka pemberi fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Apabila benda yang dapat dijual di pasar atau bursa penjualannya dapat dilakukan ditempat-tempat tersebut sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. 2. Pembebanan fidusia diatur dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999. Pembebanan jaminan fidusia dilakukan dengan
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengaturan Lembaga Jaminan Fidusia Di Indonesia Perspektif Undang-Undang  No.42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

Pengaturan Lembaga Jaminan Fidusia Di Indonesia Perspektif Undang-Undang No.42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia

bahwa bangunan di atas tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan Undang-undang No. 4 Tahun 19996 Tentang hak tanggungan dapat dijadikan sebagai objek jaminan fidusia. Guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang maka objek jaminan fidusai dalam undang- undang jaminan fidusia diperluas dengan mencantumkan bahwa jaminan fidusia dapat diberikan terhadap benda bergerak yang berwujud maupun tidak berwujud, dan benda tidak bergerak yang diatur oleh Undang-undang No. 4 Tahun 1996 Tentang hak tanggungan. Sedangkan untuk kepasatian dan keamanan bagi penerima fidusia, bahwa pemberi utang (kreditur) selain harus dibuat dalam bentuk perjanjian, kreditur juga memilki hak yang didahulukan dari piutang lainnya (hak preferent). Ignatius Ridwan Widyadharma, Hukum Jaminan Fidudsia Pedoman Praktis, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1999), hlm. 12.
Baca lebih lanjut

21 Baca lebih lajut

Karakteristik Pembebanan Jaminan Fidusia pdf

Karakteristik Pembebanan Jaminan Fidusia pdf

Tahun 1932 muncul kasus di Indonesia dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij Vs Pedro Clignett, yang diputus pada tanggal 18 Agustus 1932 oleh Hooggerechtschof (HGH). Putusan ini kemudian menjadi tonggak awal lahirnya Fidusia di Indonesia, dan sekaligus menjadi yurisprudensi pertama sebagai jalan keluar mengatasi masalah penguasaan benda (asas Inbezitstelling) pada lembaga jaminan Gadai. Sejak putusan tersebut, kehidupan lembaga jaminan Fidusia semakin diminati oleh pelaku usaha khususnya yang membutuhkan kredit Bank dengan jaminan benda bergerak yang masih dapat dipergunakan untuk melanjutkan usahanya tanpa harus melepaskan kekuasaan atas benda jaminan itu secara fisik. Setelah kemerdekaan, jaminan Fidusia kembali mendapat pengakuan Yurisprudensi dalam Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya tahun 1951 dengan menetapkan pembatalan perjanjian Fidusia atas benda-benda tidak bergerak milik pihak ketiga. 15
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Penelitian JAMINAN FIDUSIA  Obyek Jaminan Fidusia

Penelitian JAMINAN FIDUSIA Obyek Jaminan Fidusia

Perkembangan hukum nasional, dalam hal ini kaitannya dengan perkembangan hukum jaminan, khususnya perkembangan lembaga jaminan di Indonesia dapat diamati dari perubahan melalui pembentukan peraturan perundang-undangan, hal ini terjadi karena pertimbangan kebutuhan hukum, akibat dari percepatan perekonomian, selain itu perubahan hukum diadakan karena negara-negara bekas jajahan memiliki kesadaran tinggi untuk memperbaiki sistem hukumnya, maka hukum jaminan dibutuhkan karena berkaitan dengan aspek ekonomi, juga untuk kepastian hukum. Dilain pihak perkembangan hukum jaminan, jika diamati dari sudut substansi hukum walaupun ada kalanya menguntungkan menggunakan model-model asing yang berupa konsepsi, proses- proses dan lembaga-lembaga hukumnya, pada sisi lain ada juga yang menghambat karena mungkin saja tidak sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat dimana hukum itu akan diberlakukan, oleh karena itu diperlukan melakukan adopsi terhadap hukum asli dari masyarakat yang bersangkutan, oleh karenanya sangat perlu diadakan kombinasi konsep- konsep, prosedur dan lembaga-lembaga hukum tersebut, sehingga hukum jaminan di Indonesia, selain dapat diterima oleh masyarakat asli, juga dapat mengimbangi pergaulan International. Dengan demikian secara teoritis perkembangan hukum jaminan, khususnya lembaga jaminan di Indonesia akan mencakup antara lain; perkembangan substansi hukumnya; perkembangan lembaga jaminan; perkembangan obyek (benda-benda) dan subyeknya; perkembangan prosedurnya yang berkaitan dengan pendaftaran, masa berlaku, hapus dan eksekusinya serta berhubungan dengan perkembangan lembaga- lembaga penunjang hukum jaminan di Indonesia.
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA SKRIPSI

PERLINDUNGAN HUKUM KREDITUR DENGAN JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA SKRIPSI

Pada zaman Romawi dulu, kedudukan penerima fidusia adalah sebagai pemilik atas barang-barang yang difidusiakan, akan tetapi sekarang sudah diterima bahwa penerima fidusia hanya berkedudukan sebagai pemegang jaminan saja. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (selanjutnya disingkat dengan UUJF) memberikan batasan dan pengertian fidusia sebagai pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tetap dalam penguasaan pemilik benda (pemberi fidusia). Dikatakan berdasarkan kepercayaan, karena benda yang dijadikan jaminan tersebut tetap berada di tangan atau di bawah penguasan pemilik benda, yaitu pihak yang berhutang debitur. Menurut Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH sebagai alasan timbulnya lembaga fidusia ialah karena ketentuan undang-undang yang mengatur lembaga gadai mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. 1
Baca lebih lanjut

62 Baca lebih lajut

Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Jaminan Fidusia Terhadap Objek Jaminan Dalam Kepailitan

Kekuatan Eksekutorial Sertifikat Jaminan Fidusia Terhadap Objek Jaminan Dalam Kepailitan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan eksekutorial sertifikat jaminan fidusia memiliki kekuatan eksekutorial yang dipersamakan dengan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Eksekusi jaminan fidusia berupa eksekusi fidusia dengan titel eksekutorial ; eksekusi secara parate dilakukan melalui pelelangan umum atau dapat dilakukan dengan penjualan di bawah tangan. Pelaksanaan eksekusi terhadap jaminan fidusia yang dinyatakan pailit memperhatikan pembatasan dalam ketentuan Pasal 56 yang menangguhkan hak untuk didahulukan tersebut selama 90 (sembilan puluh) hari. Sedangkan kendala-kendala eksekusi jaminan fidusia adalah objek jaminan fidusia tidak mau deserahkan oleh debitur ; objek jaminan fidusia telah beralih ke pihak ketiga ; persediaan barang/stok barang saat dieksekusi tidak ada ; nilai objek jaminan fidusia berubah ; mahalnya biaya lelang dan penyelenggaraan lelang. Permasalahan dalam praktek peradilan adalah benda jaminan fidusia dalam keadaan rusak atau tidak diketahui keberadaannya ; benda jaminan fidusia merupakan harta bersama. Selain itu ditemukan pula kendala dalam tahap pemberesan harta pailit oleh kurator.
Baca lebih lanjut

117 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects