Top PDF Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Penanggung Utang Perseroan Jika Perseroan Dinyatakan Pailit

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Penanggung Utang Perseroan Jika Perseroan Dinyatakan Pailit

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Penanggung Utang Perseroan Jika Perseroan Dinyatakan Pailit

Pertanggungjawaban hukum berdasarkan ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata dan juga Pasal 366 KUHPerdata adalah berdasarkan titik tolak perbuatan atas perbuatan sendiri, namun selain itu, masih ada pertanggung jawaban selain atas perbuatan sendiri juga karena perbuatan orang lain yang melanggar hukum. Hal ini diatur dalam Pasal 1367 KUHPerdata yang menyatakan :” Seorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang-orang yang yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan oleh barang-barang yang berada di bawah pengawasannya”. Ketentuan ini sejalan dengan prinsip pertanggung jawaban pengganti. Undang-undang dapat menentukan pertanggung jawaban penganti jika, ada terjadi hal yaitu seseorang dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatan- perbuatan yang dilakukan orang lain, apabila seseorang itu mendelegasikan kewenangannya menurut undang-undang kepada orang lain.
Baca lebih lanjut

140 Baca lebih lajut

Penyelesaian Utang Perseroan Terbatas Yang Dinyatakan Pailit Yang Objek Jaminannya Milik Pihak Ketiga

Penyelesaian Utang Perseroan Terbatas Yang Dinyatakan Pailit Yang Objek Jaminannya Milik Pihak Ketiga

Dari sifat dan karakteristik kemandirian serta tanggung jawab terbatas dari PT itulah yang menyebabkan banyak pelaku usaha yang memilih bentuk usaha PT dengan tujuan sekedar demi mengambil manfaat atas karakteristik PT tersebut. Dalam praktek masih banyak dijumpai PT yang sahamnya dimiliki oleh satu orang, baik karena pada saat pendiriannya pemegang saham terdiri dari beberapa orang kemudian dalam perjalanannya kemudian sahamnya beralih menjadi hanya berada di tangan satu orang, atau karena sejak awal pada waktu pendiriannya sudah direncanakan dan merupakan tujuan bahwa sahamnya akan dimiliki hanya oleh satu orang saja. Oleh karena dalam persyaratan pendirian PT diwajibkan didirikan minimal oleh dua orang (Pasal 7 ayat (1) UUPT), maka keberadaan para pemegang
Baca lebih lanjut

32 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

6. Harus diumumkan di 2 (dua) surat kabar ( Pasal 15 ayat (4) Undang – Undang Nomer 37 tahun 2004 tentang Kepailitan). Dengan demikian jelaslah, bahwa akibat hukum bagi debitur setelah dinyatakan pailit adalah bahwa ia tidak boleh lagi mengurus harta kekayaannya yang dinyatakan pailit, dan selanjutnya yang akan mengurus harta kekayaan atau perusahaan debitur pailit tersebut adalah Kurator. Untuk menjaga dan mengawasi tugas seorang kurator, pengadilan menunjuk seorang Hakim Pengawas, yang mengawasi perjalan proses kepailitan (pengurusan dan pemberesan harta pailit).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

TANGGUNG JAWAB DIREKSI TERHADAP KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS AKIBAT KELALAIANNYA

6. Harus diumumkan di 2 (dua) surat kabar ( Pasal 15 ayat (4) Undang – Undang Nomer 37 tahun 2004 tentang Kepailitan). Dengan demikian jelaslah, bahwa akibat hukum bagi debitur setelah dinyatakan pailit adalah bahwa ia tidak boleh lagi mengurus harta kekayaannya yang dinyatakan pailit, dan selanjutnya yang akan mengurus harta kekayaan atau perusahaan debitur pailit tersebut adalah Kurator. Untuk menjaga dan mengawasi tugas seorang kurator, pengadilan menunjuk seorang Hakim Pengawas, yang mengawasi perjalan proses kepailitan (pengurusan dan pemberesan harta pailit).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

A. Pendahuluan - TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KEPAILITAN PERSEROAN TERBATAS

Ketentuan Pasal 39 UUKPKPU mengatur megenai akibat kepailitan terhadap perjanjan kerja. Dari ketentuan tersebut diketahui bahwa pekerja yang bekerja pada debitur dapat memutuskan hubungan kerja. Di pihak lain, kurator dapat memberhentikannya dengan mengindahkan jangka waktu menurut persetujuan atau menurut ketentuan perundang- undangan yang berlaku. Perlu diperhatikan hubungan kerja tersebut dapat diputuskan paling lama 45 hari sebelumnya. Di samping itu, sejak tanggal putusan pernyataan pailit,upah yang terutang sebelum atau sesudah putusan pernyataan pailit diucapkan merupakan utang harta pailit.Penjelasan Pasal 39 ayat (2) UUKPKPU menyebutklan bahwa yang dimaksud dengan upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja atau suatu pekerjaan atau jasa y a n g t e l a h a t a u a k a n dilakukan,ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang- undangan termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PERSEROAN P

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PERSEROAN P

secara pidana bila mereka telah menyebabkan kerugian para kreditor perseroan terbatas dan dapat dikenakan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan jika mereka turut serta dalam atau memberi persetujuan atas perbuatan-perbuatan yang melanggar anggaran dasar PT dan perbuatanperbuatan tersebut mengakibatkan kerugian berat sehingga perseroan terbatas jatuh pailit, atau turut serta dalam atau memberi persetujuan atas pinjaman dengan persyaratan yang memberatkan dengan maksud menunda kepailitan PT, atau lalai dalam mengadakan pembukuan sebagaimana diwajibkan oleh UUPT dan anggaran dasar PT. Selanjutnya, baik direksi maupun komisaris PT yang telah dinyatakan dalam keadaan pailit dapat dituntut secara pidana dan dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun bila merekayasa pengeluaran/utang dengan maksud mengurangi secara curang hak-hak para kreditor PT atau mengalihkan kekayaan PT dengan cuma-cuma atau dengan harga jauh di bawah kewajaran.[31]
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Personal Garansi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Tanggung Jawab Direksi Yang Bertindak Sebagai Personal Garansi Dalam Kepailitan Perseroan Terbatas (PT)

Apabila suatu Perseroan Terbatas dinyatakan pailit oleh pengadilan dan atau di likuidasi, maka prinsipnya kreditor tidak dapat memintakan direksi atau komisaris ataupun pemegang sahamnya untuk bertangungjawab secara pribadi. Karenanya harta pribadi mereka tidak boleh ikut disita atau dilelang. Prinsip umum terhadap tanggung jawab yang semata-mata dibebankan kepada badan hukum dalam hal perusahaan pailit atau dilikuidasi ini dipegang dengan teguh dalam kasus spektakuler likuidasi bank Summa di tahun 1992. Dalam kasus ini, tidak satupun direksi atau komisaris yang ikut bertanggung jawab demi hukum kalaupun ada pihak pemilik ataupun perusahaan satu group yang akhirnya bertanggung jawab, itu hanya dikarenakan ikatan-ikatan yang bersifat kontraktual.
Baca lebih lanjut

95 Baca lebih lajut

Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terhadap Perseroan Yang Dinyatakan Pailit

Tanggung Jawab Direksi Perseroan Terhadap Perseroan Yang Dinyatakan Pailit

Menurut Fred BG Tumbuan, pernyataan pailit tidak dengan sendirinya mengakibatkan Perseroan menjadi bubar, hanya apabila terjadi salah satu dari dua kejadian berkenaan dengan kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1) c.1) dan 2) UUPT Lama, Pengadilan Negeri dapat membubarkan Perseroan atas permohonan kreditur. Oleh karena itu, Perseroan pailit yang belum bubar, tetap cakap, dan berwenang melakukan perbuatan hukum. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa kepailitan badan hukum tidak mengurangi kewenangan dan kecakapan bertindak pengurusnya. Kepailitan tidak menyentuh status hukum badan hukum, mengingat bahwa kepailitan berkaitan dengan dan hanya mencakup harta kekayaan badan hukum. Badan hukum sebagai subjek hukum mandiri tetap cakap bertindak dan oleh karena itu, pada dasarnya organ-organ badan hukum tersebut tetap mempunyai kewenangannya berdasarkan hukum (rechtspersonenrechtelijke bevoegdheden). Beliau kemudian menyimpulkan bahwa jelas Direksi Perseroan tetap berwenang mewakili Perseroan secara sah dalam melakukan setiap perbuatan hukum, baik yang berhubungan dengan hak dan kewajibannya, sejauh perbuatan tersebut bukan merupakan perbuatan pengurusan (beheersdaden) dan perbuatan pengalihan (beschikkingsdaden) berkenaan dengan kekayaan Perseroan yang tercakup dalam harta pailit. 103
Baca lebih lanjut

176 Baca lebih lajut

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan memahami sumber wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam penetapan APBN dan Untuk mengetahui dan memahami apakah wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam penetapan dan pengawasan APBN yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara.Penelitian ini bersifat normative, yang mempergunakan bahan- bahan hukum berupa ; peraturan perundang-undangan sebagai hukum primer; teori-teori hukum, hasil penelitian, tulisan (hasil karya) para sarjana hukum dan dokumen hukum tertulis lainnya yang relevan dengan obyek penelitian dan dokumen tertulis lainnya yang relevan.Dalam rangka mewujudkan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, sejak beberapa tahun yang lalu telah dilaksanakan Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah. Penelitian menunjukan pertama, Reformasi tersebut mendapatkan landasan hukum yang kuat dengan telah disahkannya UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, kedua, mengatur pemisahan fungsi pejabat pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku Manajer Keuangan Negara dan Bendahara Umum Negara, sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan memahami sumber wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam penetapan APBN dan Untuk mengetahui dan memahami apakah wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam penetapan dan pengawasan APBN yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara.Penelitian ini bersifat normative, yang mempergunakan bahan- bahan hukum berupa ; peraturan perundang-undangan sebagai hukum primer; teori-teori hukum, hasil penelitian, tulisan (hasil karya) para sarjana hukum dan dokumen hukum tertulis lainnya yang relevan dengan obyek penelitian dan dokumen tertulis lainnya yang relevan.Dalam rangka mewujudkan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, sejak beberapa tahun yang lalu telah dilaksanakan Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah. Penelitian menunjukan pertama, Reformasi tersebut mendapatkan landasan hukum yang kuat dengan telah disahkannya UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, kedua, mengatur pemisahan fungsi pejabat pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku Manajer Keuangan Negara dan Bendahara Umum Negara, sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

BATASAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI ATAS KERUGIAN PERUSAHAAN

BATASAN TANGGUNG JAWAB DIREKSI ATAS KERUGIAN PERUSAHAAN

Keadaan yang meliputi seorang Direksi suatu perusahaan adalah sangat kompleks, sebab satu pihak ia bertindak untuk dan atas nama serta untuk kepentingan perusahaan dan harus bertanggung jawab penuh atas pengurusan perusahaan, dan ia juga harus bertindak profesional dalam menjalankan perusahaan yang dipimpinnya. Dipihak lain ada kemungkinan ia menghadapi masalah yang mempengaruhi kebijakannya. Perlu diingat kembali bahwa masalah perusahaan adalah masalah yang berpangkal pada perilaku bisnis, sehingga nuansa bisnis yang penuh dengan aspek persaingan dan permainan serta trik-trik dalam bisnis adalah sangat berpengaruh.
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

Pertanggungjawaban Direksi Karena Kelalaian Atau Kesalahannya Yang Mengakibatkan Perseroan Pailit

Pertanggungjawaban Direksi Karena Kelalaian Atau Kesalahannya Yang Mengakibatkan Perseroan Pailit

Setiap individu yang menjalankan usaha, senantiasa mencari jalan untuk selalu memperoleh sesuatu yang lebih menguntungkan dari sebelumnya. Demikian juga kiranya dalam mendirikan bentuk-bentuk usaha perdagangan. 1 Seiring dengan perkembangan dunia usaha, maka berbagai pihak mengajukan untuk melakukan pengkajian terhadap dunia usaha tersebut secara komprehensif. Munculnya pemikiran semacam itu, rasanya memang suatu hal yang tidak mungkin dihindarkan pada saat sekarang ini, karena jika berbicara dalam konteks bisnis hampir tidak ada lagi batas-batas antarnegara. Hal ini disebabkan dalam dekade terakhir ini mobilitas bisnis melintas antarnegara demikian cepat. Untuk itu, tanpa terasa norma hukum maupun karakteristik dari perusahaan yang akan melakukan kegiatannya di suatu negara sedikit banyak juga akan dipengaruhi oleh sistem hukum dari negara asal perusahaan yang bersangkutan. Di sisi lain pebisnis yang hendak melakukan kegiatan bisnisnya di luar negeri harus memahami ketentuan hukum yang berlaku di negara tersebut, khususnya yang berkaitan dengan badan usaha, dalam hal ini Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut PT). 2
Baca lebih lanjut

94 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERSEROAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Pengertian tanggung jawab dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu tanggung jawab dalam arti accountability, responsibility, dan liability. Tanggung jawab accountbility dalam arti hukum biasanya berkaitan dengan keuangan. Tanggung jawab dalam arti responsibility maksudnya "wajib menanggung segala sesuatunya", kalau terjadi sesuatu dapat disalahkan, dituntut, dan diancam oleh hukuman pidana oleh penegak hukum didepan pengadilan, menerima beban akibat tindakan sendiri atau orang lain. Tanggung jawab dalam arti liability berarti menanggung segala sesuatu kerugian yang terjadi akibat perbuatannya atau perbuatan orang lain yang bertindak untuk dan atas nama. 11
Baca lebih lanjut

36 Baca lebih lajut

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

Atas pembiyaan tersebut Caecilia Kusumaningrum selaku Direksi menjaminkan asset pribadinya berupa sebidang tanah dan bangunannya. Dari pembiayaan tersebut dipergunakan oleh Caecilia Kusumaningrum dalam proyek kerjasama dengan pihak PT Multipolar Corporation Tbk dan PAX Technology Limited.Adapun jangka waktu pengembalian pembiayaan beserta keuntungannya adalah 60 hari. Namun sampai 65 hari pihak PT Grajaya Grammi Grafika belum menepati janji, kemudian pihak Andrew Sutanto memberikan somasi sebanyak dua kali, akan tetapi tidak ada jawaban dari pihak PT Grajaya Grammi Grafika. Akhirnya pihak Andrew Sutanto mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dalam gugatannya Andrew Sutanto memohon kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menetapkan bahwa PT Grajaya Grammi Grafika telah ingkar Janji.Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Putusan No. 468/Pdt.G/2007/PN.JKT.Sel tanggal 12 Pebruari 2008 mengabulkan permohonan. Merasa tidak puas dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, PT Grajaya Grammi Grafika dan Caecilia Kusumaningrum mengajukan upaya banding. Terhadap pengajuan banding tersebut Pengadilan Tinggi berbendapat bahwa tidak ada fakta baru yang perlu dipertimbangkan maka majelis hakim Pengadilan Tinggi menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena sudah tepat dan benar serta beralasan menurut hukum.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan memahami sumber wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam penetapan APBN dan Untuk mengetahui dan memahami apakah wewenang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam penetapan dan pengawasan APBN yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara.Penelitian ini bersifat normative, yang mempergunakan bahan- bahan hukum berupa ; peraturan perundang-undangan sebagai hukum primer; teori-teori hukum, hasil penelitian, tulisan (hasil karya) para sarjana hukum dan dokumen hukum tertulis lainnya yang relevan dengan obyek penelitian dan dokumen tertulis lainnya yang relevan.Dalam rangka mewujudkan good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, sejak beberapa tahun yang lalu telah dilaksanakan Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah. Penelitian menunjukan pertama, Reformasi tersebut mendapatkan landasan hukum yang kuat dengan telah disahkannya UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, kedua, mengatur pemisahan fungsi pejabat pengelola keuangan negara yang terdiri dari: Menteri Keuangan selaku Manajer Keuangan Negara dan Bendahara Umum Negara, sementara Pimpinan Kementerian/Lembaga selaku Pengguna Anggaran.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Unsur Itikad Baik Dalam Pengelolaan Perseroan Oleh Direksi

Unsur Itikad Baik Dalam Pengelolaan Perseroan Oleh Direksi

lain yang diurus oleh pribadi lainnya, yang sifatnya hanya hubungan atasan dan bawahan dalam sesaat. Orang yang mempunyai kewajiban ini harus melaksanakannya berdasarkan suatu standar dari kewajiban (standard of duty) yang paling tinggi sesuai dengan yang dinyatakan oleh hukum. Sedangkan fiduciary ini adalah seseorang yang memegang peran sebagai suatu wakil (trustee) atau suatu peran yang disamakan dengan sesuatu yang berperan sebagai wakil, dalam hal ini peran tersebut didasarkan kepercayaan dan kerahasiaan (trust and confidence) yang dalam peran ini meliputi, ketelitian (scrupulous), itikad baik (good faith), dan keterusterangan (candor). Fiduciary ini termasuk hubungan seperti, pengurus atau pengelola, pengawas, wakil atau wali, dan pelindung (guardian). termasuk juga di dalamnya seorang lawyer yang mempunyai hubungan fiduciary dengan client-nya. Dalam memahami hubungan pemegang kepercayaan (fiduciary relationship) tersebut, sistem hukum common law mengakui bahwa orang yang memegang kepercayaan (fiduciary) secara natural memiliki potensi untuk menyalahgunakan wewenangnya. Oleh sebab itu, hubungan pemegang kepercayaan tersebut harus didasarkan kepada standar perilaku yang tinggi. 9
Baca lebih lanjut

144 Baca lebih lajut

TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP PERBUATAN HUKUM PERSEROAN YANG MERUGIKAN PIHAK KETIGA | Ritonga | Jurnal Ilmu Hukum 7201 15654 1 SM

TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP PERBUATAN HUKUM PERSEROAN YANG MERUGIKAN PIHAK KETIGA | Ritonga | Jurnal Ilmu Hukum 7201 15654 1 SM

Dengan demikian dalam hal terjadi sengketa pihak ketiga dengan perseroan, maka perseroan sebagai badan hukum dapat digugat bersama-sama dengan pribadi direksinya. Sebab keduanya merupakan subjek hukum yang terpisah dan memiliki tanggung jawab terpisah dalam hal tertentu termasuk terhadap kerugian pihak ketiga. Sekiranya dalam proses persidangan di pengadilan terjadi tolak menolak tanggung jawab terhadap siapa sesungguhnya kerugian pihak ketiga dibebankan, maka demi hukum dan keadilan dan demi asas peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan, maka pengadilan berwenang menentukan terhadap siapa kerugian pihak ketiga dibebankan apakah terhadap perseroan atau terhadap pribadi direksinya atau bahkan secara tanggung renteng. Dengan cara itu akan memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi pihak ketiga yang menderita kerugian akibat perbuatan hukum perseroan.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

Analisis Hukum terhadap Peranan dan Tanggung Jawab Komisaris Independen dalam Perseroan Terbuka (Studi pada PT. Toba Pulp Lestari Tbk)

Analisis Hukum terhadap Peranan dan Tanggung Jawab Komisaris Independen dalam Perseroan Terbuka (Studi pada PT. Toba Pulp Lestari Tbk)

Sistem hukum Anglo-Saxon menganut One Tier System yang hanya memiliki satu dewan direksi. Pada sistem inilah dikenal namanya direktur independen sebagai pihak yang mengawasi kinerja dewan direksi. Sedangkan sistem hukum Eropa Kontinental menganut Two Tiers System. Ada dua badan yang terpisah dalam suatu manajemen (dewan direksi). Kedua organ harus dapat independen satu terhadap yang lain. Komisaris harus dapat melakukan fungsi pengawasan yang independen terhadap direksi, sebaliknya direksi harus dapat mengelola perusahaan dari hari ke hari secara independen tanpa tekanan yang berlebihan dari Komisaris. 26 Jadi, dewan komisaris merupakan badan pengawas mandiri yang tidak dikenal dalam sistem hukum Perseroan Anglo America. 27
Baca lebih lanjut

39 Baca lebih lajut

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

1 TANGGUNG JAWAB PRIBADI DIREKSI TERHADAP UTANG PERSEROAN (Analisis Putusan Mahkamah Agung No: 1914 KPdt2009 ) Nur Sa’adah

Atas pembiyaan tersebut Caecilia Kusumaningrum selaku Direksi menjaminkan asset pribadinya berupa sebidang tanah dan bangunannya. Dari pembiayaan tersebut dipergunakan oleh Caecilia Kusumaningrum dalam proyek kerjasama dengan pihak PT Multipolar Corporation Tbk dan PAX Technology Limited.Adapun jangka waktu pengembalian pembiayaan beserta keuntungannya adalah 60 hari. Namun sampai 65 hari pihak PT Grajaya Grammi Grafika belum menepati janji, kemudian pihak Andrew Sutanto memberikan somasi sebanyak dua kali, akan tetapi tidak ada jawaban dari pihak PT Grajaya Grammi Grafika. Akhirnya pihak Andrew Sutanto mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dalam gugatannya Andrew Sutanto memohon kepada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menetapkan bahwa PT Grajaya Grammi Grafika telah ingkar Janji.Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Putusan No. 468/Pdt.G/2007/PN.JKT.Sel tanggal 12 Pebruari 2008 mengabulkan permohonan. Merasa tidak puas dengan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, PT Grajaya Grammi Grafika dan Caecilia Kusumaningrum mengajukan upaya banding. Terhadap pengajuan banding tersebut Pengadilan Tinggi berbendapat bahwa tidak ada fakta baru yang perlu dipertimbangkan maka majelis hakim Pengadilan Tinggi menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena sudah tepat dan benar serta beralasan menurut hukum.
Baca lebih lanjut

136 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...