Top PDF EFEK XYLITOL TERHADAP JUMLAH SPORA DAN HIFA Candida albicans PADA TIKUS WISTAR JANTAN

EFEK XYLITOL TERHADAP JUMLAH SPORA DAN HIFA Candida albicans PADA TIKUS WISTAR JANTAN

EFEK XYLITOL TERHADAP JUMLAH SPORA DAN HIFA Candida albicans PADA TIKUS WISTAR JANTAN

senyawa kimia organik yang digunakan sebagai pemanis buatan pengganti gula, yang tidak dapat difermentasikan oleh bakteri sehingga asam tidak terbentuk. Berdasarkan penelitian sebelumnya secara in vitro, konsentrasi efektif xylitol dalam menghambat pertumbuhan koloni C. albicans adalah 1%, 5%, dan 10%.

17 Baca lebih lajut

EFEK XYLITOL TERHADAP JUMLAH SPORA DAN HIFA Candida albicans PADA TIKUS WISTAR JANTAN

EFEK XYLITOL TERHADAP JUMLAH SPORA DAN HIFA Candida albicans PADA TIKUS WISTAR JANTAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek xylitol terhadap jumlah spora dan hifa C. albicans pada tikus wistar jantan, serta mengetahui konsentrasi xylitol yang paling efektif terhadap penurunan jumlah spora dan hifa C. albicans pada tikus wistar jantan.

17 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) PADA JUMLAH LEUKOSIT DARAH TEPI MODEL HEWAN COBA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida Albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) PADA JUMLAH LEUKOSIT DARAH TEPI MODEL HEWAN COBA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida Albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul: ”Efek Pemberian Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle L.) pada Jumlah Leukosit Darah Tepi Model Hewan Coba Tikus Wistar Jantan yang Dipapar Candida Albicans secara Intrakutan ” adalah benar- benar hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

IDENTIFIKASI LESI ATEROSKLEROSIS KAROTIS PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI Candida albicans INTRAVENA

IDENTIFIKASI LESI ATEROSKLEROSIS KAROTIS PADA TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI Candida albicans INTRAVENA

Candida albicans berbentuk lonjong, bertunas yang menghasilkan pseudomiselium dalam biakan maupun dalam jaringan eksudat. Jamur ini dapat tumbuh pada suhu 37 o C dalam kondisi aerob dan anaerob. Pada kondisi anaerob C. albicans mempunyai waktu regenerasi yang leb ih panjang yaitu 248 menit dibandingkan dengan kondisi pertumbuhan aerob yang hanya 98 menit. Candida albicans tumbuh baik pada media padat tetap i kecepatan pertumbuhan lebih tinggi pada media cair dengan suhu 37 o C. Pertumbuhan juga lebih cepat pada kondisi asam dibandingkan dengan pH normal atau alkali (Wijayanti, 2012). Peningkatan jumlah C. albicans dapat mengubah sifat komensal menjadi parasit, yaitu saat bentuk spora menjadi hifa. Bentuk hifa ini merupakan inisiator invasi ke dalam jaringan (Jawetz dan Adelberg, 2007; Soenartyo, 2000).
Baca lebih lanjut

106 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) TERHADAP PERUBAHAN HITUNG JENIS LEUKOSIT DARAH TEPI TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) TERHADAP PERUBAHAN HITUNG JENIS LEUKOSIT DARAH TEPI TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

Pada keadaan normal, jumlah basofil dalam sirkulasi hanya 1% dari jumlah leukosit. Granula sel ini kasar dan berwarna biru tua bila diwarnai dengan zat warna yang bereaksi basa, dan bila diwarnakan dengan zat warna metakromatik, granulanya berwarna terang. Granula basofil mengandung mukopolisakarida, asam hialuronat dan histamine. Fungsi basofil dalam sirkulasi tidak diketahui. Sel yang mirip basofil sangat banyak terdapat dalam kulit, dalam mukosa saluran nafas dan jaringan ikat. Permukaan sel basofil jaringan dilapisi oleh imnoglobulin E (IgE), tetapi tidak demikian halnya dengan basofil dalam darah; immunoglobulin ini dapat bereaksi dengan allergen yang kemudian mengakibatkan granula melepaskan mediator vasoaktif (Widmann,1995).
Baca lebih lanjut

72 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) PADA JUMLAH LEUKOSIT DARAH TEPI MODEL HEWAN COBA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida Albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

EFEK PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Piper Betle L.) PADA JUMLAH LEUKOSIT DARAH TEPI MODEL HEWAN COBA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida Albicans SECARA INTRAKUTAN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)

Hewan coba tikus wistar jantan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok yang dipapar Candida albicans secara intrakutan sebanyak 0,9 cc/200g BB dan kelompok yang dipapar Candida albicans dengan dosis yang sama lalu diberi ekstrak daun sirih sebanyak 3 ml/200g BB secara oral. Pada hari ke-10 setelah pemaparan Candida albicans dilakukan pengambilan darah intrakardial.

18 Baca lebih lajut

EFEK XYLITOL TERHADAP pH SALIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans

EFEK XYLITOL TERHADAP pH SALIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya ilmiah yang berjudul : Efek Xylitol Terhadap pH Saliva Tikus Wistar Jantan Yang Dipapar Candida albicans adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi mana pun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung.

18 Baca lebih lajut

EFEK XYLITOL TERHADAP pH SALIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans

EFEK XYLITOL TERHADAP pH SALIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR Candida albicans

Pada tabel 4.5 telihat bahwa terjadi nilai tidak signifikan pada kelompok perlakuan 10% hari ke 10 dibandingkan kelompok perlakuan 5% hari ke 17. hal ini mungkin dikarenakan xylitol menyebabkan tidak terjadinya proses fermentasi sehingga tidak terjadi lingkungan asam, selain itu mungkin juga disebabkan karena pengaruh waktu yang bisa menyebabkan nilai pH saliva naik turun. Pada literatur disebutkan bahwa pH dan kapasitas buffer tinggi, segera setelah bangun (keadaan istirahat) tetapi cepat turun, tinggi lagi seperempat jam setelah makan, lalu dalam waktu 30-60 menit turun lagi, agak naik sampai malam, setelah itu turun. Kemungkinan lain adalah sifat xylitol yang tidak menyebabkan pH saliva turun yang didukung juga oleh peningkatan aliran saliva, dimana peningkatan aliran saliva dapat meningkatkan pH saliva karena adanya ion bikarbonat sehingga kapasitas dapar juga akan meningkat. Dari hasil ini mungkin dapat dijadikan panduan dalam penelitian selanjutnya ataupun panduan pengkonsumsian xylitol, dimana efektifitas pemakaian xylitol konsentarasi 5% selama 2 minggu dianggap sama dengan pemakaian xylitol konsentrasi 10% selama 1 minggu.
Baca lebih lanjut

63 Baca lebih lajut

PENGARUH FILTRAT BUAH PEPAYA MUDA (Carica papaya L.) TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOZOA PADA TIKUS (Rattus norvegicus) Wistar JANTAN

PENGARUH FILTRAT BUAH PEPAYA MUDA (Carica papaya L.) TERHADAP JUMLAH SEL SPERMATOZOA PADA TIKUS (Rattus norvegicus) Wistar JANTAN

Jenis penelitian ini adalah eksperiment sungguhan. Desain penelitian yang digunakan The post test- only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah tikus (Rattus norvegicus) strain wistar jantan dengan umur 2,5 bulan dan berat badan 185-200 gram. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 25 ekor terbagi atas 5 perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ulangan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah filtrat buah pepaya muda (Carica papaya L.). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah jumlah sel spermatozoa. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah jenis tikus (Rattus norvegicus) strain wistar kelamin jantan, tikus berumur 2,5 bulan, berat badan tikus 185-200 gram, umur buah pepaya 2-3 bulan, fertil, makanan BR1 (Broiler1) dan minuman aquades. Rancangan percobaan menggunakan RAL.
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK TERHADAP JUMLAH SEL LIMFOSIT GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI PORPHYROMONAS GINGIVALIS

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK TERHADAP JUMLAH SEL LIMFOSIT GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI PORPHYROMONAS GINGIVALIS

Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa jumlah sel limfosit terendah adalah pada kelompok II sebesar 8,04; kemudian berturut-turut kelompok IV sebesar 9,15, kelompok III sebesar 10,33, dan pada kelompok I sebesar 12,51. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan rerata jumlah sel limfosit pada masing- masing kelompok perlakuan. Hasil analisis one way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan dari tiap-tiap kelompok. Akan tetapi hasil uji Tukey HSD yang menunjukkan perbedaan (p<0,05) pada kelompok II dan kelompok IV dan juga pada kelompok III dan kelompok IV.
Baca lebih lanjut

17 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK Lactobacillus casei TERHADAP JUMLAH SEL POLIMORFONUKLEAR NEUTROFIL GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDA

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK Lactobacillus casei TERHADAP JUMLAH SEL POLIMORFONUKLEAR NEUTROFIL GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDA

Skripsi yang berjudul “Efek Pemberian Bakteri Probiotik Lactobacillus casei terhadap Jumlah Sel Polimorfonuklear Neutrofil Gingiva Tikus Wistar Jantan yang Diinduksi Lipopolisakarida” telah diuji dan disahkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember pada:

17 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK Lactobacillus casei TERHADAP JUMLAH SEL POLIMORFONUKLEAR NEUTROFIL GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDA

EFEK PEMBERIAN PROBIOTIK Lactobacillus casei TERHADAP JUMLAH SEL POLIMORFONUKLEAR NEUTROFIL GINGIVA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI LIPOPOLISAKARIDA

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri probiotik L. casei dapat menurunkan jumlah sel PMN neutrofil gingiva tikus wistar jantan yang diinduksi LPS secara bersamaan. Jumlah sel PMN neutrofil pada perlakuan pemberian LPS dan L. casei secara bersamaan selama 5 hari didapatkan lebih rendah daripada perlakuan pemberian LPS selama 5 hari dilanjutkan L. casei 5 hari berikutnya.

17 Baca lebih lajut

DAFTAR PUSTAKA  Uji Efek Antipiretik Infusa Batang Brotowali (Tinospora Crispa (L.) Miers) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Vaksin Dpt.

DAFTAR PUSTAKA Uji Efek Antipiretik Infusa Batang Brotowali (Tinospora Crispa (L.) Miers) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Vaksin Dpt.

Styawan, A. A., & Budiman, H., 2010. Pengaruh Penurunan Dosis dari Ekstrak Etanol Batang Brotowali (Tinospora crispa, L) Terhadap Efek Antipiretik pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar. CERATA Jurnal Ilmu Farmasi. Vol. 1 (1) : 29-41.

4 Baca lebih lajut

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

Perbedaan Efek Ekstrak Jintan Hitam terhadap Candida albicans Denture Stomatitis dan Candida albicans (ATCC® 10231™)

16 Ekstrak jintan hitam .............................................................................. 33 17 Metode pengujian ekstrak jintan hitam terhadap Candida albicans ..... 34 18 Deretan tabung reaksi setelah diinkubasi selama 24 jam ...................... 35 19 Hasil inkubasi tabung reaksi selama 24 jam (A) tidak terbentuk

13 Baca lebih lajut

Efek Pemberian Etanol 40% Oer Oral Terhadap Jumlah Sel Purkinje Carebellum pada Tikus Wistar Jantan Dewasa.

Efek Pemberian Etanol 40% Oer Oral Terhadap Jumlah Sel Purkinje Carebellum pada Tikus Wistar Jantan Dewasa.

Methods The research design was true experimental laboratoric research, using completely randomized design. 28 adult male Wistar mice were divided into 4 groups: negative control (4 mL aquabidest), treatment 1 (1 mL 40% ethanol), treatment 2 (2 mL 40% ethanol)and treatment 3 (4 mL 40% ethanol). The data taken was the number of cerebellum purkinje cells from histological slides that observed through light microscope. Data were analyzed by ANOVA followed by LSD with α=0,05 .

21 Baca lebih lajut

EFEK PEMBERIAN PERASAN BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS PASCA EKSTRAKSI PADA TIKUS WISTAR JANTAN

EFEK PEMBERIAN PERASAN BUAH JAMBU BIJI MERAH (Psidium guajava L) TERHADAP JUMLAH SEL FIBROBLAS PASCA EKSTRAKSI PADA TIKUS WISTAR JANTAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah sel fibroblas pada kelompok perlakuan. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada hari ke-3, hari ke-5 dan hari ke-7. Peningkatan jumlah sel fibroblas pada kelompok perlakuan diduga karena terdapat kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada buah jambu biji merah. Vitamin C dalam penyembuhan luka diperlukan untuk meningkatkan kemampuan perkembangbiakan sel fibroblas yang berguna untuk merangsang dan meningkatkan produksi kolagen.
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENGARUH EKSTRAK BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia Merr.) TERHADAP PERBAIKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA KELAS X

PENGARUH EKSTRAK BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia Merr.) TERHADAP PERBAIKAN SEL HEPAR TIKUS PUTIH JANTAN (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl4) SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA KELAS X

Berdasarkan latar belakang diatas perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak bawang dayak (Eleutherine palmifolia Merr.) terhadap kerusakan sel hati. Selain itu, penelitian juga bisa berfungsi sebagai alternatif pengobatan tradisional untuk meningkatkan daya ketahanan fungsi hati serta mengetahui dosis ekstrak bawang dayak yang efektif meningkatkan daya fungsi hati atau hepatoprotektor. Atas alasan tersebut penulis ingin mengangkat judul: “Pengaruh Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia Merr.) Terhadap Perbaikan Sel Hepar Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Yang Diinduksi Karbon Tetraklorida (CCl 4 ) Sebagai Media Pembelajaran Biologi
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

EKSTRAK BIJI KAKAO SEBAGAI PEMBERSIH GIGI TIRUAN AKRILIK TERHADAP JUMLAH KOLONI CANDIDA ALBICANS

EKSTRAK BIJI KAKAO SEBAGAI PEMBERSIH GIGI TIRUAN AKRILIK TERHADAP JUMLAH KOLONI CANDIDA ALBICANS

Hasil uji laboratoris di Balai Penelitian dan Konsultasi Industri Surabaya menyatakan bahwa ekstrak biji kakao mengandung polifenol 11,58%, flavonoid 4,08%, dan tanin 10,92%. Kandungan flavonoid merupakan senyawa fenol yang berfungsi sebagai antioksidan, anti bakteri dan antifungi dengan cara denaturasi protein (Jawetz, 2007, p.627). Denaturasi protein adalah proses penghambatan dan pembunuhan dengan cara mengadakan koagulasi dan presipitasi protein sel mikroba sehingga akan menganggu metabolisme pada mikroba. Gangguan metabolisme tersebut kemudian akan menyebabkan kematian sel fungi. Selain dengan cara denaturasi protein, flavonoid juga dapat membunuh fungi dengan cara menurunkan tegangan permukaan sel fungi. Penurunan tegangan sel fungi ini akan mengakibatkan meningkatnya permeabilitas sel membran sehingga dapat mengakibatkan kerusakan sel fungi. Ekstrak biji kakao juga mengandung tanin yang diketahui dapat digunakan sebagai suatu bahan antifungi untuk menghambat pertumbuhan Candia albicans (Harborne et al 1999, p 572).
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...