Skema II.1 Siklus kekerasan
HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
IV. A.3 Data Wawancara
Mira menikah dengan pacar keduanya (saat ini menjadi suami) meskipun belum mengenal sosok pacar yang sesungguhnya. Motivasi Mira menikah saat itu hanya sebagai pelampiasan rasa sakit hati terhadap pacar pertama. Setelah menikah, Mira ditinggal oleh suami sampai anak pertama lahir dengan alasan mencari pekerjaan. Akan tetapi, selama suami pergi Mira tidak pernah diberikan nafkah sebagai hasil dari pekerjaan suami apalagi menjenguk keadaan istri dan anaknya. Lama kelamaan Mira merasa dirinya menjadi beban bagi kedua orang tua. Oleh karena itu, Mira harus bekerja meskipun sedang hamil demi memenuhi kebutuhan persalinan dan persiapan perlengkapan bayi sedangkan suami pergi tanpa kabar yang jelas tentang keberadaannya.
”Sama orang tua. Orang tua saya sendiri, orang tua saya ini susah, ya itulah kerjanya jualan, kadang ngusuk-ngusuk juga, mamakku pandai ngusuk, tukang kusuk. Masaknya…pokoknya kapan dapat duit… masaklah kalo gak satu hari sekali masaknya, awak lagi hamil pula… bapaknya gak pulang-pulang…bebanlah itu sama orang tua ya kan? Nanti ada Mir…besok bantuin nanam padi ya!”
(P1.W1/k.153-159/hal.5)
“Belilah ember, ember waktu itu masih dua ribu…eh…dua ribu lima ratus, kasihlah waktu 30.000 yakan 3 hari, dibelanja’inlah beli ember, beli
keranjang, beli popok, abis itu ya kan…lahirlah si IR ini ya kan, lahir si IR ini…”
(P1.W1/k.176-180/hal.6)
Kondisi ditinggalkan oleh suami tanpa kabar yang jelas membuat Mira merasa sangat sedih dan iri jika melihat pasangan suami istri lainnya yang lewat depan rumah. Mira sering duduk, melamun dan dan menghayal dan menangis seraya meratapi nasib yang dialaminya.
“Haa…kalo sedihnya itu, kalo sore itu, nampakkan, rumahku kan dekat, sini rumahku sana tanah lapang besar gitu ya kan, kalo sore kan orang itu kan pada boncengan naik sepeda... orang itukan jalan-jalan sama lakinya, boncengan gitu ya kan, kutengok ih…seandainya ada lakiku, akupun kayak gitulah sayang-sayangan. Terbengong… gitu ya kan nengo’in…abis itu awak sedih, pulanglah, duduk kerumah… ngayal…gitu kan, nangis jugalah, kok gini nasibku gitu”
(P1.W1/k.212-224/hal.7-8)
Setelah anak pertama lahir, suaminya juga tidak kunjung datang menemui Mira. Kondisi ana yang sakit memotivasi Mira untuk pergi mencari suaminya. Mira pergi seorang diri sambil menggendong anak pertamanya. Akhirnya, Mira bertemu dengan suaminya kembali. Mira tinggal bersama suami dan mertuanya dalam kondisi keluarga yang lebih baik. Mereka sekeluarga merasakan kehidupan yang cukup lumayan karena Mira dan suami sama-sama bekerja sebagai petani sehingga keperluan hidup sehari-hari dapat terpenuhi. Akan tetapi, keadaan yang cukup lumayan ini hanya berlangsung beberapa tahun saja.
”...Udah baguslah kami semua ini kan, bapak si AJ ini juga udah bagus, dah itu kami berladang kalo siang itu sama-sama masak, makan sama gitu ya kan, abis itu istirahat bentar gitu ya kan, kalo sempat sore keladang” (P1.W1/k.241-245/hal.8)
”... Kami kalo dulu memang udah agak lumayanlah, ada kereta, pokoknya udah agak lumayanlah gitu”
“Iya…udah agak lumayanlah, udah agak…utang pun udah gak banyak di kede gitu kan”
(P1.W1/k.305-306/hal.10)
”Waktu dapat proyek ini perumahan AS ini, bangun-bangun rumah ini…disitu agak lumayanlah kami aku juga hari itu sempat punya gelang satu sama kalungku ada dua, tapi…itu cuma sebentar aja, ya…sebentar aja amannya, banyakan susahnya”
(P1.W3/k.105-111/hal.4)
Suatu saat suaminya mendapatkan borongan proyek pembangunan perumahan AS yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka. Seiring dengan adanya proyek ini maka ekonomi keluarga pun semakin membaik. Akan tetapi, keadaan yang lumayan ini memicu hadirnya pihak ketiga (ND) untuk memanfaatkan suami Mira. Pihak ketiga ini menyebarkan fitnah bahwa Mira berselingkuh dengan pria lain yang kebetulan pria lain tersebut memang menyukai Mira tapi Mira menolaknya.
”Abis itu ya kan berapa tahun lagi, abis itu…dapatlah objek ini, perumahan AS ini”
(P1.W1/k.255-257/hal.8)
”...Nampaklah ini…diperumahan ini kan, orang kan dibilang o…si ini banyak duit, kek gini, kek gini kan bilang orang, abis itu adalah si ini si ND...kebetulan orang yang mandah ke perumahan ini dari TK ada memang suka sama ibu, kubilang sama orang itu kau nyari makan untuk binimu aja jauh-jauh dari TK ke sini kau pula mau ganggu-ganggu aku, kau pun disini aku yang ngasih makan, kubilang gitu ya kan. Datang pihak ketiga disampekan ke lakiku kalo aku ini berselingkuh sama orang lain katanya”
(P1.W1/k.275-285/hal.9)
Fitnah perselingkuhan Mira dengan pria lain ini membuat suami Mira marah-marah. Suaminya percaya fitnah dan memaksa Mira untuk mengakui perselingkuhannya. Disisi lain, pihak ketiga punya maksud tersendiri atas fitnah
tersebut. Pihak ketiga berusaha mendekati dan memanfaatkan penghasilan suami Mira. Hubungan pihak ketiga dan suaminya berujung pada perselingkuhan.
”Hem…fitnah pihak ketiga ini kan karena pihak ketiga ini suka sama lakiku, haa…gitu, jadi digosok-gosoknya, dihasut-hasutnya lah gitu ya kan, lama-lama, dia ini…lakiku ini orangnya gak tabah, jadi tergoda juga, dipukuli aku Jay!! Disuruh ngaku, pernah diapai kau sama…”
(P1.W1/k.287-291/hal.9)
”diapai aja kau katanya gitu, karena dia, pihak ketiga ini, katanya aku udah disetubuhi, dipeluk, dicium, katanya dihasutnya, kubilang… dihajarnyalah aku Jay!! habis-habisan Jay!! sampe ini…badanku ini…ini mata sampe biru, muka ini pake itu…dia malam kalo mukuli aku, tengah malam di apa…kalo aku bilang di…pake…dia kan merokok, di gini’in-nya”
(P1.W1/k.293-299/hal.9-10)
Mira yang memang tidak berselingkuh dengan siapa pun tidak mau mengakui fitnah tersebut. Mira dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak pernah selingkuh dengan bersumpah bahwa dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang disampaikan oleh pihak ketiga. Ini adalah usaha Mira untuk mengekspresikan kemarahanya atas ketidakadilan yang dialami.
”Udah dibawa pulang, dirumah aku disuruh ngaku, diapa-apain itu tadi. Ya gak!!! Sampe mati pun kupertahankan”
(P1.W2/k.310-313/hal.10-11)
”...Aku pun mau disiksa mati, sampe mati, didalam kubur pun aku gak bilang iya, orang memang gak!!! kupertahankanlah sampe mati itulah” (P1.W2/k.319-322/hal.11)
”Kau ngaku ajalah kau kalo kau ada digauli sama dia, gini-gini, dipeluknya katanya. Memang bang aku pernah dipegang sama dia, ku akui gitu ya kan tapi kubilang kau kayak ginian mau ngapain aku, kau jangan kurang ajar. Kubilang sama dia bang aku kalo selamat panjang umur sama abang kubilang gitu ya kan, gak usah selamatlah aku sama anakku melahirkan kalo memang aku ada berhubungan sama dia tak bilang gitu ya kan, abis itu adalah si AJ ini, ternyata Jay…kubilang bang kalo aku bisa buktikan kalo abang, gak kan! Belum dipanggil dokternya, belum sampe dokternya itu kerumah sudah melahirkan”
Sikap Mira yang tidak mau mengaku ini membuat suami semakin marah bahkan memukuli wajahnya dengan sandal tumit tinggi, menampar pipinya, menginjak-injak tubuhnya bahkan mengancam akan membunuh Mira.
”Hem…hem…ya pake selop itu lah, aku dulukan punya tiga, aku memang suka pake selop yang tinggi gitu dulu. Makanya sekarang kalo liat selop tinggi kayak gitu masih takut, trauma, teringat gitu!”
(P1.W1/k.312-315/hal.10)
”...Orang gak ada berhubungan sama dia ya kan disuruh ngaku sama dia ngaku gak kau, kalo kau ada gini-gini! Katanya. Suruh ngaku, ya gak!!! Kubilang, orang gak ada! Atau ngaku ajalah kau daripada kupukuli katanya…gak!”
(P1.W1/k.304-307/hal.10)
”Iya…diapai aja kau katanya gitu, karena dia, pihak ketiga ini, katanya aku udah disetubuhi, dipeluk, dicium, katanya dihasutnya, kubilang… dihajarnyalah aku Jay!! habis-habisan Jay!! sampe ini…badanku ini…ini mata sampe biru, muka ini pake itu…dia malam kalo mukuli aku, tengah malam di apa…kalo aku bilang di…pake…dia kan merokok, di gini’in- nya”
(P1.W1/k.327-334/hal.11)
”Iya, ginilah berhadapan, pang…!!! pang…!!! awak bilang ampun bang!!! aku gak ada gitu!!! dipukuli terus kepala aku ini”
(P1.W2/k.325-327/hal.10)
“Ya itu tadi, disuruh ngaku. Kubilang bang biarpun aku mau kau bakar, kau bunuh“
(P1.W1/k.379-381/hal.13)
Akibat perilaku suami ini Mira menjadi takut melihat sandal bertumit tinggi karena bisa mengingatkannya kembali pada kejadian tersebut. Badan Mira menjadi kurus, beberapa gigi tanggal, mata biru, badan merah-merah, lebam, merasa rendah diri, malu dan meninggalkan aktivitas religiusnya.
“Makanya sekarang kalo liat selop tinggi kayak gitu masih takut, trauma, teringat gitu!”
“Hem…hem…ya pake selop itu lah, aku dulukan punya tiga, aku memang suka pake selop yang tinggi gitu dulu. Makanya sekarang kalo liat selop tinggi kayak gitu masih takut, trauma, teringat gitu!”
(P1.W1/k.350-350/hal.12)
“Inilah badanku merah-merah belakang, lebam-lebam” (P1.W1/k.308/hal.10)
”Muka ini, ini yang namanya mata udah warnanya…yang warna putih ini warnanya merah! Dipukuli, gigipun ompong semua ini, pokoknya aku ketakutanlah sama dia, gak tahu mau ngadu kemana...”
(P1.W1/k.339-348/hal.11)
Tidak hanya kekerasan fisik yang dialami Mira. Suaminya juga selalu memaki-maki dengan kata-kata kasar misalnya mengatakan Mira seorang pelacur dan menuduh Mira berhubungan seksual dengan pria lain. Perilaku suami ini terjadi tidak hanya didalam rumah tetapi juga didepan keluarga dan teman-teman Mira.
“Kau ngaku ajalah kau kalo kau ada digauli sama dia, gini-gini, dipeluknya katanya”
(P1.W1/k.358359/hal.12)
“...Udahlah kalo kau mau duit banyak melonte!! Kubilang kalo aku mau melonte gak perlu dikampung orang, dikampungku sana banyak tempat ngelonte kubilang kan gitu”
(P1.W2/k.226-229/hal.8)
”Padahal aku itu Jay, malam itu dipukuli aku satu hari satu malam itu, kan dia pura-pura pigi, anak itu ndekati aku, rame ginilah, ada mertuaku, ada kawan yang mandah itu, katanya aku ada gini-gini ya kan, itulah, begitu datang dia, ditariknya aku, dibawa pulang, kau gini-gini sama si polan gini-gini!!! Lha…!!! kapan-kapan bang aku ada kayak gitu orang rame gini, apa kubilang, apa ’anu’ku ini ditaruh di dengkul?! Kau ini gak-gak aja, gak!! Kau gini-gini katanya, langsung Jay digeret, dipukulinya aku!! Hi…habislah aku!!!”
(P1.W2/k.297-308/hal.10)
Perilaku suami seperti ini membuat Mira ketakutan setiap kali suami marah. Mira takut suatu saat suami kembali menyiksanya. Mira takut mengobati
luka-luka bekas penganiayaan yang dialaminya karena suaminya akan bertambah marah. Mira juga tidak mau mengadukan peristiwa yang dialami kepada tetangga atau pihak berwajib karena takut akan memperpanjang masalah.
”Gak. Kubiarkan aja gitu. Jadi pas aku keluar-keluar gitu nampak orang ditanyanya, mau diajak berobat, lakiku ini ngomongnya jorok begini…begitu…jadi tambah marah dia”
(P1.W1/k.590-593/hal.21)
“Aku gak mau ngadu-ngadu. Kupikir pun kalo aku mau ngadu-ngadu percuma, kalo kita ngadu sama tetangga abis lah awak dipukuli ya kan. Diam…lah awak ya kan, dipukuli dia dieeem…aja“
(P1.W1/k.383-387/hal.13)
Perilaku suami yang sering merendahkan Mira membuat Mira tidak hanya takut tapi juga merasa derajatnya lebih rendah dari derajat suami. Sampai saat ini Mira masih tidak berani melakukan perlawanan terhadap perilaku suami. Rasa malu atas peristiwa tersebut membuat Mira menghentikan aktivitas religiusnya seperti sholat.
“Memang iya, gak berani aku sama dia, sampe sekarang itu masih ada rasa takutku itu sama dia, ntah macam mana, makanya itu macam mana cara mengatasinya supaya aku berani, malam itu habis ngomong gitu aja aku lari kebelakang, ketakutan!!”
(P1.W2/k.442-446/hal.15)
“...Makanya kalo dia memang betul-betul tobat, ada pernah itu kan kami ada pengajian ini jadinya teringat ya kan, ada pengajian dirumah, cerita panjang cerita dibukalah semua cerita ini yang gini-gini, jadi kok Ibu gak mau melakukan sholat kenapa? katanya gitu ya kan”
(P1.W2/k.491-496/hal.16)
“Karena aku udah kutanamkan kalo lakiku masih mau berbuat jinah, mau berjudi, untuk apalah aku, tapi kalo lakiku mau bertobat, bertobatlah aku” (P1.W2/k.500-502/hal.16)
“Karena dia kan derajatnya…derajatnya lebih tinggi dia dari pada awak kan nanti kalo awak kalo melawan-lawan kali sama dia pun kan gak enak situ”
Selain bentuk kekerasan yang berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis Mira, suami juga melakukan pembatasan wewenang secara finansial. Suami sangat membatasi hak Mira dalam mengatur uang untuk belanja keperluan dapur sehingga Mira sangat kebingungan mengatur uang belanja keluarganya.
“Dia itu modelnya gini, kalo ada uang itu disuruh megang semua ntah berapa uang itu dikasihkan semua tapi kalo dia itu bergerak…ini awak ngomong sejujurnyalah ngapain awak sembunyikan, kalo dia mau pigi main judi, diminta semua”
(P1.W2/k.346-351/hal.12)
“Soalnya pernah dulukan gak kukasih gitu, marah dia, dibukanya celana panjang gitu, dipukulkan sama aku, makanya sumpah dalam hatiku, kalo dia mau main judi kukasihkan semua dari pada aku dipukul kukasihkan semua, biarpun besok gak makan, mau apa…terserah dia, gitu”
(P1.W2/k.353-358/hal.12)
”Tapi kalo uang dia gitu gak bisa, dihitungnya sama dia, kau belikan apa saja, gini-gini, samalah sama Sari itu, dari Ajinomoto limper sampe apa, dicatat, tapi aku gak kucatat, kalo aku suruh nyatat-nyatat, abang yang belanja aku yang masak”
(P1.W2/k.366-371/hal.12)
Terus menerus diperlakukan kasar oleh suami tidak membuat Mira hanya diam tanpa berusaha. Mira selalu berusaha menanyakan hubungan suami dan pihak ketiga meskipun suaminya justru semakin menyiksanya lagi. Mira juga tidak segan-segan untuk memergoki suami yang sedang berduaan dengan pihak ketiga. Jika ada kesempatan Mira selalu memarahi suami dan menggagalkan niat suaminya untuk pergi bersama pihak ketiga.
“Nampak!!! orang nanti lewat dari jalan baru itu dia, jadi kan dia pulang lewat jalan baru. Kutanya… namanya awak emosi ya…dari mana kau sama si ND? Hah…!!! marah dia. Kau!!! katanya, mulut kau!!! Karena dia capek ya kan ntah macam mana gak tahu lah ya…abislah aku dipukuli, ditonjoki, ini gigiku lima ini sudah gak asli lagi ini”
(P1.W1/k.521-527/hal.19)
“Ya memang aman, cuman, ya itulah namanya manusia ini kan kalo banyak uang, banyak tingkah. Itulah banyak tingkah kalo ada kereta trus
gak pulang-pulang, ntah kemana larinya, rimbanya, nanti kalo ditanya ngamuk-ngamuk, dari mana bang kok sampe hari gini, gini-gini…pernah itu kukejar, kedapatan orang itu rupanya orang itu nunggu di simpang pasar V, mau pigi, kukejar!! Aku pinjam kereta RBT nanti kubayar gitu ya kan, kukejar kedapatan disana, hei anjing!!! Turun kau!! kubilang gitu, turun orang itu dua-dua, orang aku barusan jumpa dia mau pigi belanja pasar V kok kan gak janjian sama aku katanya gitu, alah…!!!”
(P1.W2/k.185-198/hal.7)
Mira juga tidak malu-malu melampiaskan kemarahannya pada pihak ketiga, suami pihak ketiga, dan orang tua dari pihak ketiga. Tetapi suami dan orang tua pihak ketiga tidak percaya pada keterangan Mira bahwa pihak ketiga telah selingkuh dengan suaminya.
“Pernah!! kubilang sama lakinya kau gini-gini, si ND ini pandai cakap, karena dia cemburu katanya, aku ini cemburu katanya, cemburu buta, lakinya takut sama istrinya. Sama orang tuanya pun gitu gak percayalah orang tuanya orang ini gak percaya… rumah orang ini kan dua yang jaga bapaknya yang borongnya lakiku. Orang itu baik-baik eceknya cari mukalah sama bapaknya. Trus rupanya orang ini pergi berdua belum pulang. Bapaknya nanya si ND mana Mir? katanya, kubilanglah alah…Bapak kok pura-pura gak tahu anaknya pigi sama lakiku kok nanya!”
(P1.W1/k.571-582/hal.20)
Kondisi yang sangat menyakitkan ini tidak membuat Mira terus menerus memikirkan perilaku suami. Mira tidak mau mengingat-ingat peristiwa yang dialaminya karena hanya akan menambah beban pikiran dan membuat badan kurus.
“Maksudnya ntah berapa bulanlah aku pun udah lupa, udah lama kali. Males…eceknya males ingat-ingatnya lagi gitu”
(P1.W1/k.404-406/hal.13)
Mira juga membuang sandal-sandal bertumit tinggi kesayangannya supaya Mira tidak teringat lagi akan peristiwa pemukulan yang dilakukan suami. Bahkan sampai saat ini Mira masih tidak ingin memiliki sandal bertumit tinggi.
“Hem…takut. Abis itu selop itu kubuangi masih bagus-bagus, kubuang aja sana!!”
(P1.W1/k.355-356/hal.12)
Setelah diperlakukan secara tidak adil oleh suaminya, Mira berusaha untuk semakin memahami sifat-sifat suami. Mira menilai sifat-sifat suami sebagai dasar untuk mencari penyebab suami berperilaku demikian. Mira menyimpulkan bahwa sifat-sifat suami yang tidak tabah membuat suami sangat mudah percaya fitnah. Suaminya merasa bahwa Mira benar-benar selingkuh sehingga tega menyiksa Mira. Selain tidak tabah, suami juga adalah orang yang cemburuan, serampangan atau mudah marah dan egois.
“Hem…fitnah pihak ketiga ini kan karena pihak ketiga ini suka sama lakiku, haa…gitu, jadi digosok-gosoknya, dihasut-hasutnya lah gitu ya kan, lama-lama, dia ini…lakiku ini orangnya gak tabah, jadi tergoda juga, dipukuli aku Jay!! Disuruh ngaku, pernah diapai kau sama…”
(P1.W1/k.320-325/hal.11)
“Iya, cemburuan, serampangan gitu, kalo dia becanda sama orang boleh, kalo awak gak boleh, itu namanya apa? Egois!”
(P1.W1/k.596-598/hal.21)
Melalui sifat-sifat suami ini Mira mencoba untuk memahami suami lebih mendalam. Dengan demikian, Mira dapat menerima alasan suami berperilaku kasar atas dirinya. Setelah memahami sifat-sifat suami kemudian Mira berusaha untuk memperbaiki kondisi keluarganya.
Perilaku suami terus berlanjut bukan sekedar perselingkuhannya dengan pihak ketiga tapi juga berjudi dan mabuk-mabukan. Suami berjudi dan mabuk hampir setiap hari dan membuat hutang sebesar 17 juta rupiah. Demi masa depan anak-anaknya Mira kemudian melunasi hutang-hutang suami dan membangun keluarganya kembali.
”Abis itu, kami jual rumah itu 32, untuk bayar utang 10 juta karena kan Ibu sendiri yang kerumah rentenir itu. Awak ngomong jelas-jelas lah ya kan, sambil nangis awak ya kan, awak kan mikir anak juga, anak banyak” (P1.W1/k.450-454/hal.15)
Sambil berusaha untuk membayar hutang dan memperbaiki keadaan demi anak-anak, Mira juga tidak lupa berdoa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Mira menyadari bahwa Tuhan telah mendengar permohonannya dan menunjukkan jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi.
“Si WL, jadikan udah dibayar sama yang beli rumah itu 30 juta, kubilanglah sama rentenir itu kan Pak ini uang saya cuma segini Pak, rumah saya sudah saya jual, kalo bapak tetap minta bayar 17 juta jadi macem mana Pak anak-anak kami, sedang kami gak punya kerjaan tetap. Seandainyalah kami nyewa bisalah untuk sebulan dua bulan ini saya bayar selanjutnya…macem mana Pak? Jadi Pak saya minta to…long kali sama Bapak, saya suruh nyuci kaki Bapak pun saya mau. Saya sanggupnya cuma 10 juta. Ini mau tak mau Bapak harus mau!! awak pun demi anak juga melakukan kayak gitu... ... Itulah kutebus…kuambil…jadi ya…kupikir-pikir ya malam ini ada satu bulan aku gak tidur! Baca-bacalah doa itu ntah apa waktu itu mau tidur, bukakan lah jalanku ini, mana jalan terangnya ya kan. Akhirnya terbuka juga, dengar aku ada kavlingan gitu ya kan...”
(P1.W1/k.458-482/hal.15-16)
Seiring kerja kerasnya, Mira juga membutuhkan dukungan dari seorang teman sebagai tempat saling berbagi dan melepaskan rasa sakit hati yang bisa membuat tubuhnya kurus.
“Diamlah awak ya kan, jadi bingunglah aku ini, siapaaa….lah yang bisa kuajak ngomong gitu kan, ini badanku ini kurus kali gitu kan, sekaranglah udah…dapatlah curahan hati gitu ya kan, keluarlah sakit hati awak ini” (P1.W1/k.431-435/hal.14)
”Gak berapa ingat aku. Orang aku disana dulu ini, gak ada tempat curhatku, kemanalah aku tempat curhat, Sari inilah, kemanalah… kutengok lakiku gila-gilaan aja, makanya sampe sekarang…”
Perasaan terluka oleh perilaku suami tidak membuat Mira menelantarkan suami begitu saja. Mira juga mengajak suami untuk menyelesaikan masalah dan menunjukkan pada suami apa yang sebaiknya dilakukan demi anak-anak mereka.
”Gak…jadi ginikan, udahlah diserahkan sama aku pokoknya kalo aku belanja yok Bang tengok ini kayu ada satu tumpukan dua tumpuk gini lah ya kan... ...Bang coba kita tengok sana bang cocok gak? rupanya tengoklah sama dia boncengan kami pake kereta, itu nyewa kereta itu bukan kereta sendiri, satu hari 20.000, untuk sana-sini, sana-sini ya kan”
(P1.W1/k.504-515/hal.16-17)
Keinginan Mira untuk melindungi anak-anaknya membuat Mira tetap ingin mempertahankan dan memperbaiki hubungan dengan suami. Meskipun sampai saat ini, suami masih menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan, Mira tetap mencoba untuk menasihati dan mengingatkan suami. Perilaku yang