• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skema II.1 Siklus kekerasan

HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN

IV. B.3 Data Wawancara

Nina sebenarnya masih bingung untuk memutuskan mau menikah atau tidak. Dia masih sempat meminta waktu kepada pihak keluarga calon suami dan berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan yang tepat baginya. Beberapa bulan kemudian Nina menikah meskipun dengan rasa takut, ragu-ragu, tidak begitu kenal dengan calon suaminya dan rasa cinta yang tidak penuh. Nina hanya berharap setelah menikah suaminya mau berkerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Memang sih takut juga aku” (P2.W1/k.310/hal.10)

”Belum-belum, itu soal-soal pacaran itu belum ada, tapi karena abangnya ini katanya ga tahu pacaran, jadi...ga perlu yang kayak gitu-gitu”

(P2.W1/k.256-258/hal.9)

”Waktu itu memang...ada juga memang...waktu baru-baru, cinta kita itu gak bulat”

(P2.W1/k.307-308/hal.10)

Setelah menikah, Nina diajak kekampung mertuanya dan tinggal disana selama kurang lebih 2 tahun. Nina kecewa karena sebenarnya dia berharap bisa tetap tinggal di Medan karena akan sulit baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sejak awal menikah suami Nina tidak pernah mau bekerja membantu Nina memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Disana memang dia orangnya gak mau kerja, malas, kalo adanya RBT, terus narik RBT aja lebih bagus, kalo mau ngambil uang 30 ribu aja, itu gampang lah. 30 ribu udah banyak itu. Tapi itulah...kalo adapun RBT, orang yang disuruh bawa jadi uangnya pun bagi dua lah”

(P2.W1/k.330-335/hal.11)

Tidak tahan dengan kehidupan dikampung suaminya, Nina memutuskan untuk kembali ke Medan dan mencari pekerjaan di Medan. Beberapa tahun kemudian Nina akhirnya bisa mendapatkan rumah dan pekerjaan yang layak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, suami Nina tidak pernah mau bekerja membantu Nina.

”Kadang-kadang mau kalau ada di ajak orang, mau dia sesekali, tapi gak mau dia walaupun diajak orang sesekali mau dia gak mau, walaupun ada kerjaan mau dia gak mau, capek aku katanya”

(P2.W1/k.419-422.hal.19)

Pekerjaan suaminya sehari-hari hanya tidur-tiduran dirumah, makan dan duduk-duduk sepanjang hari. Nina mengatakan bahwa perilaku malas suaminya ini dikarenakan oleh sejarah suami yang pernah mengkonsumsi narkoba cukup lama. Narkoba ternyata telah merusak diri suaminya sehingga suaminya menjadi pemalas, tidur sepanjang hari, termenung seorang diri, merokok dan tampak layaknya orang kebingungan.

“Tapi itulah waktu itu dia, menggelek dia jadi mungkin ntah ada pengaruhnya itu, malas aja, malas… !! aja”

(P2.W2/k.81-83/hal.3)

“Kurasa gara-gara itunya itu, dulu katanya ini, pandainya ini, pandai, cuma itulah kurasa sempat dia kek gitu, jadi bodoh!!! lah nampak gitu, kurang lancar otaknya itu berpikir, mau marah-marah aja, kan nggelek ini katanya gitu, mau makan aja, bengong aja, merokok, gitu aja dia”

(P2.W2/k.86-91/hal 3-4)

Hal ini selalu memicu pertengkaran diantara Nina dan suaminya. Bukan hanya sekali atau dua kali terjadi pertengkaran bahkan hampir setiap hari.

Pertengkaran biasanya berupa verbal dan pelemparan barang-barang rumah tangga oleh suaminya tapi belum ada kekerasan fisik. Para tetangga sering memberikan mereka nasihat dan membantu memecehkan masalah antara Nina dan suaminya tapi tetap saja tidak berhasil.

“Kadang kita kan apa sih…istilahnya sekali dua kali kan kita diamkan, cuman kadang kan kita gak tahan seTp hari kek gitu, kek yang dipecahkannyalah Magic com”

(P2.W3/k.98-101/hal.4)

“Apalagi yang dipecahkannya TV kan gak mungkin awak diam pasti dilawan terakhir, segala barang-barang maulah disepakin semua!! sama rak piring itu pun disepak itu untung gak patah, semua!! makanya gak bisa punya barang, habis!!”

(P2.W3/k.102-107/hal.4)

“Kadang ya gak sabar kan gitu, kalo setiap hari kek gitu, setiap hari kek gitu asal ada dirumah rasaku gak nyaman, rasa takut gitu, jantunganlah gitu, tiba-tiba marah nanti, serba salah”

(P2.W3/k.131-134/hal.5)

“Hem…malu kali pun, maluuu… !!! kali kurasa kek gak ada lah mukaku ini kurasa, berantam aja terus, tiada hari tanpa berantam”

(P2.W3/k.175-177/hal.6)

Pertengkaran yang terus menerus ternyata memuncak pada suatu hari dirumah mertuanya. Saat pertengkaran itu terjadi, suaminya marah besar dan membenturkan kepala Nina ke dinding rumah. Meskipun saat itu orang tua suaminya juga menyaksikan pertengkaran tersebut tapi tetap saja dia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Karena pas anakku ini dibawak waktu itu, jam 4 sore kan dibawanya sampe jam 10 baru pulang, kucari-carilah, kucari-cari ntah kemana-mana, pulangnya, demam!!! sakitlah dia kan, makanya jadi kayak manalah… merepetlah aku disitu,ngapain kau bawa anakku!! kalo pergi kau ya pergilah sana!! kubilang, bawa anak kok jam segini baru pulang, pulangnya demam!! karena kena angin itu kan, pake tali satu dia!! pake tali satu, dibawanya ke Pemda masuk anginlah dia kan, jadi dari situlah

marepet-merepetlah aku, marah-marah aja aku, jadi ditumbuknyalah aku kan, ditumbuknyalah kepalaku ini, gitulah, senang kali aku memang!!!” (P2.W3/k.211-228/hal.7-8)

Nina beserta anaknya diusir dari rumah pada saat itu juga. Nina akhirnya pergi kerumah salah satu saudaranya yang dirasa cukup nyaman. Sampai saat penelitian ini berlangsung Nina masih berpisah dari suaminya. Suaminya hanya datang sesekali sekedar bisa bertemu dengan anaknya.

”Pigi kau!! pigi kau!! katanya, pulang kau!! katanya, ya pulang maksudnya kerumah Mamakku gitu”

(P2.W3/k.269-271/hal.9)

“Jadi…dari situlah yang dipukulnya itu aku kan, pergi kau!! katanya samaku, oke !! saya bilang, oke!! kubilang tapi aku nangis, terima kasih! kubilang, terimakasihlah memang ini yang saya tunggu selama ini, saya bilang memang ini, udah kau bikin kayak gitu, kau tengok ajalah, sekali aku melangkah dari rumah ini selamanya gak balik!! biar tahu!! kubilang gitu, ingat itu bagus-bagus ya!!! kubilang. Situ mertuaku diam aja mertuaku”

(P2.W3/k.284-292/hal.10)

Setelah hampir 2 tahun berpisah dari suaminya Nina masih menyimpan rasa benci, dendam dan kekecewaan yang sangat besar terhadap suaminya. Rasa kecewa yang besar ini tampak ketika Nina menceritakan bagaimana sosok suaminya di matanya.

“Aku memang benci!!! benci aku!!! (P2.W2/k.181/hal.6)

“Iya benci aku, karena kalo kubayangkan gitu kan gak ada… istilahnya dalam rumah tangga itu yang enak kurasa, setidaknya ntah satu bulan, dua bulan gitulah bisa awak rasakan…senang awak dibikin, gak ada!!

(P2.W2.k.183-187/hal.6-7)

Nina sering mengusir suaminya ketika suaminya datang berkunjung karena Nina sangat tidak nyaman dengan kehadiran suaminya. Setiap kali Nina bertemu dengan suami maka luapan kemarahan akan muncul dan pertengkaran

pun terjadi sehingga Nina lebih memilih untuk tidak bertemu suami atau mengusir suami jika suami datang.

“Jadi gak bisa memang, kalo kutengok gitu datang, iihh…!!! langsung timbul emosiku”

(P2.W2/k.191-193/hal.7)

“Pergi kau!! jangan sini kau!! pulang kau sana!! pulang!! tambah stress aku kau bikin, kubilang”

(P2.W2/k.201-203/hal.7)

Selain tidak senang atas perilaku suaminya, Nina juga merasa sudah diperlakukan secara tidak adil selama ini oleh keluarga besar suaminya yang tidak peduli akan keadaanya beserta anaknya.

“Tapi kalo untuk anakku ini mana mau kalian nengoknya, mana mau kalian, kalo untuk orang adanya duit kalian, tapi biarkan ajalah kubilang, tak kan lama kalian kayak gitu, tak kan lama itu, gitu-gitu ajanya itu, kubilang, iya gini-gini katanya, udahlah gak usah ceritakan, gak usah, gak uask, mau kek mana pun kalian gak peduli lagi aku kubilang, makan kalian ajalah itu, gak peduli lagi lagi kubilang sama dia. Kau kok kayak gitu katanya, kalo datang aku marah-marah aja katanya, ya marahlah!! kubilang ya marahlah kubilang. Kau pikir udah…kalo datang kau kemari, aku senang?! kubilang. Jadi kalo datang aku kemari bukannya senang? Kek mana aku mau senang kalo kau datang, kau pun kalo datang gak pernah bikin aku senang!!!”

(P2.W2/k.278-293/hal.9-10)

Nina tidak ingin mengingat-ingat lagi peristiwa yang pernah terjadi antara dirinya dengan suaminya karena hal itu akan membuat nina semakin terluka. Untuk itu Nina selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan sehingga dia bisa melupakan semuanya.

“Kuambil aja pekerjaanku yang apa…istilahnya kalo…memang kalo aku ingat-ingat dia gitu sendiri, kadang aku sendiri gitu mau ingat…tapi kalo kuingat pun dia itu, hih…diiris-iris juganya perasaanku!!! taiklah itu!!! aku gitu aja”

Setelah apa yang terjadi antara Nina dan suaminya, Nina mengaku tidak pernah menyesal telah berpisah dari suaminya. Meskipun saat ini dia harus berjuang sendiri menghidupi diri dan anaknya. Nina ingin membuktikan pada pihak keluarga suami bahwa dirinya bisa membesar anak dengan kemampuannya sendiri.

“Gak pernah istilahnya kusesali perbuatanku, gak pernah memang, memang itu…udah egois juganya awak…cuman…cemanalah aku gak bisa!!! gak bisa eceknya kusesalkan bodoh kalilah aku, gak ada kek gitu pernah prinsipku, in mampus situ!!! itu aja dalam hatiku, gak pernah” (P2.W2/k.314-319/hal.11)

“Makanya kalo dirumah aku sendiri…kalo sendiri aku gitu kan kayaknya gak ada siapa-siapa, ntah si T tidur, mana mau aku diam kalo dirumah, paling kalo ngantuk aku tidur, paling gak kayak ginilah bunyi-bunyi tape kuat-kuat kayak gitulah aku, jadi gak pala pernah aku terpikir…untuk dia, jarang!!! jarang…cuman…mau juga sih sekali-sekali…tadi itu kadang gak ngerti kita apa yang kita suntukkan, kan mau itu tiba-tiba suntuk ya?” (P2.W2/k.322-330/hal.11)

Nina mengaku sesekali dia kerap merasa bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu hal apa yang sedang dipikirkannya. Nina sering tiba-tiba menangis, ingin marah atau ingin melepaskan beban pikiran yang dialaminya.

“Mau kan, cuman aku gak tahu apa yang aku suntukkan, kadang gitu mau ngeloncat, iya…gak tahu…! tiba-tiba gitu kan!!”

(P2.W2/k.332-334/hal.11)

“Suntuk…aja!! suntuk…!! gitu cuman gak tahu apa yang dipikirkan, mau aku kayak gitu memang”

(P2.W2/k.336-337/hal.11)

“Kadang aku mau nangis, mau aku nangis kayak gitu” (P2.W2.k.339-340/hal.11)

“Gak sering kalilah, cuman mau gitu sekali-sekali gitu suntuk tiba-tiba gak ada alasan. Apalagi kalo kerja awak mana ada terpikir apa-apa apalagi ada kawan kan, keladang kan, ada punya teman, mana ada pernah awak

istilahnya itu…ee…ada kesempatan termenung, ketawa-ketawa kan gitunya, jadi mana ada istilah suntuk mana ada, paling kalo dirumah awak sendiri mau tiba-tiba gitu suntuk…lagi pula…aku gak mau eceknya…kalo ingat pun, gak mau aku ingat-ingat gitu, terpikir aja kesitu, tek…!!! ngapain? bodoh kali!! gitu, paling kan kalo awak tengok gitu keluarga bagus-bagus, iri juga memang!”

(P2.W2/k.347-359/hal.12)

Meskipun Nina seorang diri membesarkan anaknya tapi Nina tetap semangat untuk menjalani hari-harinya. Nina bertekad untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin sehingga suatu saat kehidupan mereka akan menjadi lebih baik.

“Kalo aku semangatku memang…semangatku kuat juga memang, istilahnya karena aku ada anak, mungkin kalo gak ada anakku, mungkin bisa aja gak ada semangat, lebih bagus ntah kemana terbang, ntah pigi ke Malaysia, kalo memang gak ada anak, ntah kawinnya aku, tapi…kalo sekarang udah ada anakku, ya…semangatku cuma itu ajalah, untuk apa aku jadi…istilahnya merasa…kecil hati kan gitu, ada kok anak bisa aja anakku nanti yang bikin aku istilahnya jadi…lumayan gitulah bisa membangkitkan istilahnya pikiran awak kan biar jangan kayak gini-gini aja trus”

(P2.W2/k.370-382/hal.12-13)

Sampai saat ini Nina jarang bertemu dan berkomunikasi dengan suami. Biasanya suami datang dengan alasan rindu pada anaknya. Nina tidak pernah melarang suami bertemu dengan anaknya tapi Nina sangat berhati-hati jika suami datang sebab Nina takut anaknya akan diambil oleh suami.

Dokumen terkait