• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Histeria di Dalam Karya-Karya Tony : Sebuah Gugatan

BAB I PENDAHULUAN

H. Pengolahan Data

I. Sistematika Penulisan

2.3. Ragam Karya

3.1.2. a. Histeria di Dalam Karya-Karya Tony : Sebuah Gugatan

Dalam penerapan konsep Lacan pada pembahasan karya seni visual sehubungannya dengan ide tentang identitas nasional ini, digunakan salah satu konsep dari psikoanalisa yaitu wacana Histeris. Wacana ini merupakan bagian dari konsep empat wacana yang ada di dalam Psikoanalisa Lacanian. Setiap elemen dalam rumusan wacana tersebut, seperti terlihat pada Gambar 56, memiliki peran berdasarkan posisinya masing-masing. Dalam rumusan wacana Histeris, posisi kiri atas (Agent) ditempati oleh “$” yang merupakan subyek yang terbelah,

terkastarsi, atau teralienasi. Pada posisi kiri bawah (Truth) diisi oleh “obyek a

kecil” yang adalah residu, atau jejak-jejak dari “primary process” yang

191

Florida, Nancy K. A Time of Were-Pigs : Specters of Monstrosity in Reformation Indonesia. University of Michigan.

120

mengingatkan subyek pada Jouisancce. Master signifier atau “S1”, menempati

posisi kanan atas (Liyan), sedangkan “S2” yang merupakan kumpulan penanda

yang bersifat mendasar ditempakan di bagian kanan bawah (Product)192.

Gambar 56. Rumusan Wacana Histeris

Wacana Histeris menggambarkan sebuah subyek terbelah yang mengalami represi yang kuat dari master signifier. Hal ini tampak bila dilihat dari posisi “$”

pada rumusan wacana Tuan, di mana “$” terletak di posisi Truth. Pemahaman ini diambil dari hubungan antara dua wacana tersebut, wacana Histeris dan wacana Tuan. Saat berada di Wacana Tuan subyek terus menerus, atau dapat dikatakan dipaksa, untuk memakai Bahasa Sang Ayah, dalam hal ini “S1” atau master signifier demi mencapai Joissance. Di dalam wacana Histeris, Subyek “$”

mengambil posisi agent. Posisi ini adalah sebuah tempat di mana elemen yang

mengisinya akan mulai “bicara”193

. Penanda yang digunakan dalam proses

“bicara” ini diarahkan kepada posisi di kanan atas yaitu Other, yang ditempati oleh master signifier atau “S1”.

192 Lihat, Verhaeghe,Paul. Lacan Theory on Four Disucourses.4. The Letter. Lacanian

Perspectives on Psychoanalysis, 3.1995. 91-108 Penjelasan dan uraian dari teori empat wacana ini juga didasarkna pada catatan penulis dari diskusi-diskusi di dalam perkuliahan pada mata kuliah Psikoanalisa dan Kritik Ideologi. Magister Ilmu Religi dan Budaya Univeristas Sanata Dharma .2013.

121

Subyek terbelah “$” yang berada di posisi agent, adalah subyek yang

tidak berbahasa. “$” di sini adalah “Id”, atau “Es” yang berbicara dengan

tubuhnya. Bila di wacana Tuan “$” menjadi penyebab “S1” yang pada posisi agen

untuk berbicara, maka di wacana Histeris, “$” mencoba untuk berbicara sendiri. Histeria yang terjadi pada “$” merupakan akibat dari penggunaan penanda utama

atau “S1” yang terlalu lama di dalam wacana Tuan. Bentuk histeria hadir dalam dua jenis yaitu Anestesia (mati rasa, bisu) atau Hipersensitif (terlalu peka dan banyak bicara)194.

Di dalam analisa ini para seniman, pelukis-pelukis, di Arte Moris akan ditempatkan di dalam posisi subyek yang terbelah dan menjadi agen ini. Histeria yang ada pada diri mereka digambarkan melaui tenaga pendorong yang membuat mereka berbicara. Dalam wacana Histeris posisi truth yang berfungsi untuk

membuat agen bicara ditempati oleh “obyek a kecil”, jejak-jejak dari Joissance.

“obyek a kecil” merupakan simptom-simptom yang membuat subyek atau “$” bicara demi pencapaian yang dihasratkannya menuju “penyatuan dengan Ibu”.

Jejak-jejak ini berupa simptom-simptom, atau kecenderungan dalam berkarya seperti yang sudah dipaparkan pada pembahasan tentang simptom di bagian sebelumnya. Secara garis besar simptom-simptom itu hadir dalam penanda-penanda seperti tradisionalitas, tokoh nasional, dan bendera.

Penanda-penanda ini menjadi bahasa yang digunakan oleh “$” dalam amukan histerisnya pada master signifier yang menempati posisi Liyan. “S1” di dalam pembahasan

ini, ditempati oleh penanda utama tentang Identitas nasional Timor Leste. Hal-hal

194 Ibid

122

apa sajakah atau seperti apa sajakah yang dapat disebut sebagai penanda utama pembicaraan tentang identitas kebangsaan Timor Leste?

Penanda utama tesebut merupakan hal-hal yang berada dalam rangkaian atau deretan panjang dari sebuah narasi sejarah. Narasi sejarah yang dimaksudkan di sini adalah narasi sejarah Timor Leste. Di dalam narasi sejarah tersesbut, terdapat bagian-bagian seperti sejarah masa pendudukan Portugis yang cukup panjang, dan juga masa pendudukan Indonesia yang diwarnai dengan penindasan dan represi rezim militer.

Objek “a” kecil yang bersifat simptomik, merupakan bagian dari sejarah panjang Timor Leste yang dapat ditemui di dalam penanda-penanda utama yang ada tentang identitas Timor Leste. Bentuk-bentuk penanda utama ini dapat ditemui di dalam museum AMRT ( Arkivu e Muzeu da Rezisténsia Timorense. Portugis: Arsip dan Museum Resistensi Timor Leste)195 , yang memiliki banyak dokumen tentang bagaimana seni visual telah berperan di dalam perjuangan resistensi. Dalam dokumentasi tentang unjuk rasa-rasa, seperti yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini, terlihat bahwa identitas nasional disuarakan lewat elemen-elemen visual seperti spanduk bergambar tokoh-tokoh nasional ( Gambar 58), bendera, serta pakaian atau atribut-atribut yang dapat dikenakan seperti topi atau baju (Gambar 57).

195

Lihat http://amrtimor.org/amrt/index.php?lingua=pt. (Situs resmi AMRT, diakses pada Desember 2013). AMRT didirikan pada tahun 2005, bertempat pusat di kota Dili dekat dengan Gedung Parlemen dan Gedung pemerintahan . Museum ini memiliki koleksi data visual yang cukup banyak dan bervariasi tentang sejarah gerakan resistensi di Timor Leste,

123

Gambar 57. Foto Unjuk Rasa di Santa Cruz,Dili.1991. Foto: Dokumentasi AMRT

Gambar 58. Foto salah satu spanduk dalam unjuk rasa Santa Crus 1991. Foto: Dokumentasi AMRT

Ketika penanda-penanda ini digunakan dan berfungsi sebagai bagian dari memori kolektif di dalam museum, mereka kemudian menjadi Master Signifier yang akan berdiri sebagai representasi ide identitas nasional Timor Leste. Dalam

hal ini pemerintah yang berperan sebagai pihak yang menyuplai “penanda”

tentang identitas nasional. Pada bagian ini kita dapat menerapkan teori wacana Tuan. Pada wacana ini pemerintah sebagai agen melihat Liyan, S2, berupa pengetahuan tentang narasi sejarah sebagai bagian yang harus dikuasai, mastering, untuk membentuk identitas nasional. Truth yang mendorong

124

pemerintah untuk bergerak seperti itu tidak lain adalah subyek, atau masyarakat Timor Leste secara umum yang tengah mengalami lack dan terpisah dari obyek

”a” yang merupakan jejak menuju apa yang sebenarnya mereka hasratkan.

S1 > S2 $ a

Dalam esai pendek nya yang berjudul The Archives of East-Timorese Resistance and the issue of National Identity196, dan berfungsi sebagai catatan pengantar dalam museum AMRT, José Mattoso menuliskan bahwa identitas nasional Timor Leste berkaitan erat dengan gerakan resistensi negara tersebut. Mattoso melihat bahwa sejarah kolektif merupakan salah satu komponen yang penting dalam membentuk kesadaran beridentitas. Sejarah kolektif yang dimaksudkan di sini adalah sejarah resistensi.

Among many components of such identity awareness, the people‟s collective

history is, undoubtedly the most important. In the case of East-Timor, the

Resistance obviously constitutes the key historical factor of the country‟s

short history. Moreover, it is this component that best represents collective consciousnes.197

Apa yang disebut oleh Mattoso dapat menjadi dasar yang kuat bagi pemerintah Timor Leste lewat AMRTnya untuk menyusun sebuah tatanan identitas nasional kebangsaan. People’s collective history yang berkaitan dengan sejarah resistensi, merupakan pengetahuan yang tentu saja akan dipilih-pilih berdasarkan nilai obyektifitasnya agar dapat berdaya menjadi penanda-penanda tentang sebuah kedirian yang berlandaskan kebangasaan.

196

Lihat http://amrtimor.org/drt/index.php?lingua=en (diakses pada Desember 2013) 197

125

Dalam sejarah resistensi, hasrat para pejuang kemerdekan Timor Leste untuk menyatakan diri mereka, menjadi orang Timor Leste dengan segala kedaulatannya kenegaraannya, ditekan dan dibasmi secara brutal oleh kekuatan militer pemerintahan Integrasi Indonesia. Para seniman Arte Moris melakukan

napak tilas ini dengan mengikuti “jejak-jejak” yang ada. Jejak-jejak berupa obyek

“a” yang bersifat simptomatik. Jauh sebelum penanda-penanda itu menjadi Master Signifier yang sebagai subyek yang histeris akan mereka bongkar lagi.

Saat para seniman Arte Moris menggunakan penanda-penanda dari narasi resistensi dan sejarahnya ini (atau dapat dikatakan penggunaan penanda-penanda yang diperluas dengan adanya tema seperti tradisionalitas yang tidak terlalu banyak digunakan dalam sejarah gerakan resistensi) maka mereka sedang melakukan sebuah napak tilas, atau perjalanan kembali. Perjalanan yang

diarahkan menuju “penyatuan dengan Ibu”. Dengan adanya posisi dari pemerintah yang membangun pasokan – pasokan bagi penanda tersebut, dan bila para seniman menggunakan penanda-penanda tersebut maka mereka akan memasuki proses simbolisasi, dan dengan demikiaan maka wacana tuan akan berlangsung, seniman sebagai subyek akan bicara dengan bahasa sang Ayah, dalam hal ini pemerintah, dan terpisah dari hasratnya.

Pada kenyataannya, ditemukan bahwa tidak semua seniman di Arte Moris, menerima begitu saja apa yang telah pemerintah usahakan atau bangun tentang identitas nasional. Ada seniman yang secara kritis menanggapi wacana-wacana yang dibentuk oleh pemerintah tersebut. Seniman dengan tipe seperti ini dapat

dikatakan tengah “mengamuk” pada konsep identitas nasional yang sedang dibangun oleh pemerintah resmi. Seniman ini tentu telah memasuki masa

126

simbolik di mana dia telah bersentuhan dengan master signifier atau sang Ayah yang mengkastarsinya. Tugas dari fase simbolik adalah membuat subyek sampai dapat merasakan bahwa “hal yang selama ini dia lakukan, dianutnya, adalah bukan hal sebenarnya yang dia maui (desired)”. Bila subyek telah sampai pada

tahap seperti ini maka ia akan bertemu dengan hasratnya.198

Secara lebih khusus, para seniman ini melakukan pembacaan-pembacaan atas bentuk-bentuk-bentuk pemahaman tentang identitas nasional yang hadir dalam masyarakat tempat mereka berada. Bentuk dan pemahaman yang merupakan penanda. Gugatan dan amukan tentang Identitas nasional kemudian hadir dalam bentuk karya yang bertanya dan membongkar ide-ide tentang identitas tersebut datang dengan mengatas namakan pemerintah resmi. Hal ini seperti dilihat dalam karya pameran tunggal oleh salah satu dari seniman

“perintis” Arte Moris, Jose de Jesus Amaral atau lebih dikenal sebagai Tony. Pada

pameran dengan tajuk “Dame Ba Rai Ne be’e Maka Iha Problema” ( Tetum :

Damai bagi tanah yang bermasalah) dan berlangsung pada tanggal dua puluh empat September sampai delapan Oktober 2011 di Galeri Arte Moris,Comoro, Dili, Timor Leste,199 tersebut Tony membuat lukisan-lukisan yang memakai koran lokal sebagai ganti kanvas atau media utama dalam melukis.

Pameran ini merupakan pameran tunggal yang pertama bagi Tony. Koran-koran yang dipakai sebagai kanvas tersebut memberitakan permasalahan yang

198

Catatan Kuliah Psikoanalisa dalam Kritik Ideologi. Yogyakarta : Magister Ilmu Religi dan Budaya. USD.2013.

199 Lihat situs http://tekeemedia.com/tag/exhibition/. Diakses pada Desember 2013. Semua lukisan dari pameran tunggal Tony “Dame Ba Rai Ne be’e Maka Iha Problema“ yang dibahas di dalam Tesis ini bersumber dari situs ini.

127

terjadi di dalam negara kecil itu. Tony “mengamuk” dengan membuat pola-pola lukisan dan garis di atasnya. Pada komentarnya atas karya-karya tersebut ,Tony menyebutkan tentang pemikiran-pemikirannya yang meliputi kritik atas ide

kebangsaan dan “bernegara dan menjadi orang Timor Leste” yang ditangkapnya

di dalam masyarakat.

Hau sinti hanesan ba haunia partikulare, hau bain hira lee journal hau sinti hau tauk fali, tanba atu hare informasaun barak iha ita nia laran iha hau laos seintauk tanba lakohi atu lee no hau mos lakoi atu sinti hanesan buat ida mak hakerek iha journal, entaun hau koko uja journal para halo pintura fali, buat nebe mak iha laran sai hanesan idea ida ba hau. Dala barak media hatudu deit identidade sira maka akontese iha governo. Sei media servisu tuir media, media laos hatudu deit..., tanba ita hare identidade Timor laos governo. Identidade Timor barak. Dala rumak iha journal ita hare media hatudu fali musik husi rai seluk nian, maka hatama iha journal. Agora oin sa maka kona ba ita nia musisi maka ema barak iha Timor? 200

(Tetum: saya merasa secara pribadi, ketika saya membaca koran saya malah merasa takut. Karena ketika melihat informasi yang banyak itu saya meras tidak ingin menjadi seperti apa yang diberitakan oleh koran-koran itu. Oleh karena itu saya memakai koran itu untuk mebuat lukisan. Hal-hal yang di dalam koran menjadi ide bagi saya. Banyak kali media hanya menunjukkan identitas-identitas (Timor Leste) yang diambil dari pemerintah. Bila media bekerja dengan baik, maka media tidak akan hanya menunjukkan hal ini..., karena identitas Timor tidak dilihat dari pemerintah. Identitas Timor itu banyak.Beberapa kali di dalam koran kita melihat media menunjukkan musik dari tempat yang lain. Sekarang bagaimana dengan musisi Timor sendiri yang jumlahnya banyak ini?)

128

Gambar 59. Jose de Jesus Amaral atau Tony. Foto :Dokumentasi Arte Moris 2013.

Dalam pameran tunggal tersebut, tema yang diangkat Tony adalah kritik atas media yang menurutnya adalah perpanjangan tangan dari pemerintah. Keresahan yang dialami Tony adalah tentang posisi media yang tengah mencoba memberikan sebuah bentuk dari identitas Timor. Sasaran kritiknya berkaitan dengan tiadanya kinerja yang baik dari pemerintah melalui sarana-sarana pendukungnya. Hal yang paling ditekankannya adalah : media mengikuti apa yang diarahkan pemerintah. “Dala barak media hatudu deit identidade sira maka

akontese iha governo. Sei media servisu tuir media, media laos hatudu deit..., tanba ita hare identidade Timor laos governo. Identidade Timor barak. ( Tetum: Banyak kali media hanya menunjukkan identitas-identitas (Timor Leste) yang diambil dari pemerintah. Bila media bekerja dengan baik, maka media tidak akan hanya menunjukkan hal ini..., karena identitas Timor tidak dilihat dari pemerintah. Identitas Timor itu banyak. ) Menurut Tony identitas Timor bukan identitas yang

129

sebagaimana dibentuk oleh governo atau pemerintah. Dalam pengamatannya identitas Timor itu banyak.

Dari pendapat Tony itu kita dapat melihat sebentuk “amukan” atas

wacana-wacana media yang tengah membentuk realitas tentang Timor Leste, termasuk identitas nasional dan kebangsaan Timor di dalamnya. Tony menyerang Master Signifier yang ada, yaitu pemerintah yang bahasanya atau penanda-penandanya terlihat jelas lewat media. Teknik penggambaran di dalam karya-karya ini meliputi ; “penimpaan” warna dan pola-pola visual , dan penggunaan teks, yang merupakan sebuah penciptaan teks baru. Penciptaan teks ini juga hadir dengan memanfaatkan teks yang sudah ada pada kertas koran tersebut. Seperti yang terlihat dalam lukisannya yang terdapat tulisan Peace to this troubled land (2011) ( Gambar 60) dan juga berjudul sama. Pada lukisan itu, Tony menekankan permainan bentuk yang cenderung bebas, Tony sedang berbicara atau menyampaikan pendapat tentang identitas Timor yang banyak itu. Apa yang tengah di lakukan dengan amukannya itu adalah menolak atau tidak mengakui penanda-penanda yang ada di dalam koran tersebut. Penolakan ini berdasarkan apa yang dirasakannya, yaitu kegagalan dari bahasa-bahasa itu untuk membawa dirinya pada apa yang sebenarnya dihasratinya.

130

Gambar 60. “Dame ba Rai Nebee Maka Iha Problema”(Tetum: Damai bagi tanah yang

bermasalah). Salah satu Lukisan Tony di atas Koran, yang juga menjadi judul dari pameran tunggalnya. Foto :Dok. Tekeemedia.com. 2011.

Lukisan Halo Sira Kontenti Dala Ida Taan .(Tetum: Bikin mereka senang, sekali lagi) (Gambar 61) adalah karya Tony yang memainkan teks yang sudah ada dalam koran yang dijadikan kanvas itu. Lukisan ini juga menyuarakan bahwa subyek harus memenuhi tuntutan dari liyan Simbolik. Teks yang berbunyi “Halo Servisu Diak” (Tetum : Bekerjalah dengan baik) , dan juga judul yang berbunyi “Bikin Mereka Senang Sekali Lagi” menunjukan sebuah reaksi dari subyek atas

Liyan. Subyek harus memenuhi tuntutan liyan Simbolik, dalam hal ini

pemerintah, dengan cara “bekerja dengan baik”.

Gambar 61.“Halo Sira Kontenti Dala Ida Taan”.(Tetum: Bikin mereka senang, sekali lagi).2011. Teks : “Halo Servisu Diak” (Tetum :Bekerjalah

dengan baik).

Lukisan pada Gambar 62, La Hanesan Ita Hanoin (Tetum: Tak seperti yang kita bayangkan) ,lewat judulnya, menggambarkan apa yang menjadi kekhawatiran mendasar dari Tony. Kekhawatiran itu adalah mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak pernah dapat memuaskan apa yang diinginkan oleh subyek.

131

Apa yang disampaikan pemerintah lewat bahasa media, merupakan sesuatu yang diharapkan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran. Hal ini ditentang Tony, kebenaran umum ini baginya adalah sesuatu yang jauh berbeda dengan apa yang sebenarnya. Apa yang dibayangkan orang lewat bahasa pemerintah jauh dari apa yang sebenarnya mereka hasratkan.

Gambar 62. “La Hanesan Ita Hanoin”(Tetum: Tak Seperti Yang Kita Bayangkan).2011.

Arah yang hendak dituju Tony melalui lukisan-lukisannya ini adalah sebuah perubahan atau bentuk baru dari apa yang dikritiknya. Dasar dari kritikan Tony adalah ketidakpuasan terhadap hal-hal yang ada. Kehadiran sebuah perubahan atau sebuah pembaharuan akan menjadi sebuah permulaan yang baru. Hal ini terlihat dalam lukisannya yang berjudul, Principio ( Portugis: Permulaan) (Gambar 63). Pada lukisan ini sebagian besar pembacaan dan pembahasan datang dari judulnya yang berbicara cukup jelas. Pada aspek warna, di dalam lukisan ini masih terdapat warna-warna seperti kuning, merah, dan hitam yang dapat dilihat sebagai bentuk yang merujuk pada warna-warna bendera nasional atau warna tais.

132

Di dalam teori wacana histeris, S2 menempati posisi product. S2 merupakan pengetahuan yang hadir sebagai hasil dari mekanisme wacana ini. Lukisan Principio dapat menunjukkan indikasi ke arah ini. Sebuah permulaan untuk memulai perjalanan menuju penanda-penanda yang baru.

Gambar 63. “Principio” ( Portugis: Permulaan ).2011.

Sebagai seniman yang histeris, Tony adalah subyek berada pada posisi agen. Media dan pemerintah yang tengah dikritiknya berada pada posisi Liyan. Hal yang menggerakkan Tony adalah obyek “a” kecil yang berada di posisi truth. Hasil-hasil karyanya hadir dalam bentuk amukan, gugatan dan mempertanyakan tentang identitas nasional. Tony menggugat penanda-penanda tentang identitas nasional yang dibangun oleh pemerintah melaui media. Hasil dari wacana histeris adalah sebuah product berupa pengetahuan, S2, dan diskusi tentang wacana identitas kebangsaan tersebut.

133 $ > S1 a S2

Ketika subyek berada dalam kondisi histeris salah satu hal yang menjadi tanda utama adalah adanya pengalaman kebertubuhan yang selalu gagal diwacanakan201. Ketiadaan tanda ini dapat berarti bahwa usaha yang dilakukan oleh para seniman bersifat propaganda semata. Pada bagian selanjutnya akan dibahas salah satu karya Tony yang berhubungan dengan pergulatannya tentang kebebasan. Karya yang terdiri dari tiga buah lukisan ini memakai tubuh khususnya wajah sebagai obyeknya yang utama.

3.1.2.b. Dari Simptom ke Pengetahuan : Tony dan Lukisan-Lukisan “Hakarak