BAB I PENDAHULUAN
H. Pengolahan Data
I. Sistematika Penulisan
2.3. Ragam Karya
3.1.1. Simptom : Elemen-Elemen Visual di Dalam Lukisan
Salah satu jalan menuju pembahasan tentang seni dengan menggunakan psikoanalisa adalah dengan melalui membahas simptom-simptom yang dapat ditemukan dalam karya seni. Simptom dapat menjadi pintu pertama dalam langkah-langkah analisa, dan menjadi bagian yang menghubungkan antara
172 Catatan Kuliah Psikoanalisa dalam Kritik Ideologi. Yogyakarta : Magister Ilmu Religi dan Budaya. USD.2013.
91
peneliti dan objek yang dikajinya.173 Simptom memiliki peran penting dalam melihat sebuah masalah dengan menggunakan sudut pandang psikoanalisa. Tanpa simptom, subjek dipaksa untuk melakukan represi terus-menerus, maka melalui simptom inilah titik awal dari sebuah fantasi dibangun yang akan membawa manusia kepada suatu gairah hidup, hasrat, atau desire174.
Pada dasarnya simptom yang muncul dari pelukis-pelukis Arte Moris di Timor Leste ini lahir dari pengalaman dan pergumulan mereka tentang identitas kebangsaan yang secara kolektif telah hadir dan berkembang dalam rentang waktu yang meliputi masa integrasi dengan Indonesia, dan masa awal kemerdekaan yang masing-masing membawa cerita konfliknya sendiri-sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa simptom-simptom tersebut dalam bagian analisa ini akan dikaitkan dengan pengalaman dari para seniman atau pelukis yang berhubungan dengan masalah identitas.
Penanda-penanda tentang identitas kebangsaan Timor Leste merupakan sesuatu yang ditekan dan tak boleh dihadirkan pada masa Integrasi. Penanda - penanda ini menunjukkan suatu bentuk identifikasi yang dilakukan oleh orang Timor Lete . Subyek, dalam hal ini orang-orang Timor Leste menginginkan sesuatu berupa identitas kebangsaan dengan konsekuensi berupa kemerdekaan yang harus diperjuangkan. Dengan paduan skema L dari Lacan, dapat dijelaskan bahwa ada sebuah Liyan atau Other yang menginginkan supaya hasrat untuk merdeka itu tidak terwujudkan. Other atau sang Ayah di sini adalah pemerintah
173 Lihat St. Sunardi.Yogya City of Desire. Jogja Art Files.Edisi Perdana. ERUPSI Akademia Psikoanalisa, Seni, dan Politik.2012. Hal.42
92
Integrasi atau Indonesia. Pada Skema L, Liyan ini menempati posisi kanan bawah, (A) Other ( Gambar 36).
Gambar 36.Skema L.
Hasrat terlarang dari Subyek ini dikastarsi oleh sang Ayah dengan cara yang sangat keras, dalam hal ini adalah pelarangan-pelarangan terhadap semua jenis gerakan yang bermuatan isu-isu kemerdekaan Timor Leste. Kastarsi dengan tingkat kekerasan yang seperti ini dilakukan dan dijalankan selama masa 27 tahun masa integrasi. Represi dilakukan oleh para pemegang kekuasaan (yang berada pada posisi Other). Pihak-pihak yang berada pada posisi ini adalah mereka yang pernah hadir di Timor Leste sebagai penjajah, yaitu Portugal dan Indonesia. Di dalam kekuasaan Liyan ini, keinginan orang Timor Leste untuk merdeka, untuk melihat diri mereka dalam identitas tersebut, ditekan dan mereka harus menggunakan bahasa yang diberikan oleh sang Ayah bila ingin berbicara tentang identitas mereka. Sang Ayah menyediakan bahasa untuk bicara tentang identitas. Sebuah identitas simbolik yang membuat mereka menekan identitas sesungguhnya yang mereka harapkan atau hasratkan. Di dalam Masa Integrasi, orang Timor Leste harus mengganti bendera merah berbintang putih dengan bendera merah putih, dan mengganti bahasa Tetum atau Portugis dengan bahasa Indonesia.
93
Salah hal yang paling jelas dan yang dapat kita amati dari subyek yang mengalami represi adalah lahirnya simptom. Represi atas dorongan tertentu membentuk ketidaksadaran, dan ketidaksadaran selalu muncul ke permukaan dalam bentuk simptom yang tak dapat dikuasai oleh subyek175. Saat subyek mengalami represi, simptom-simptom akan datang dari bawah sadar para subyek. Bagi para seniman di Arte Moris, di masa kemerdekaan seperti yang mereka alami sekarang berbicara tentang identitas nasional masih merupakan salah satu tema penting dalam berkarya. Setelah Arte Moris melewati tahap “melukis trauma”176 di masa-masa awal komunitas itu berdiri, para seniman seperti menemukan dan mulai menggeluti sebuah tema baru dalam berkarya, yaitu identitas nasional-kebangsaan.
Tema tersebut diolah dan dimaknai menurut referensi pribadi yang dimiliki masing-masing seniman. Seniman melihat diri mereka dalam sebuah bentuk pemaknaan tentang masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Negara tersebut adalah Timor Leste. Bila dilihat dengan skema L, seniman sebagai subyek akan dibentuk oleh liyan imajiner dan liyan simbolik. Siapa sajakah yang berada pada posisi-posisi tersebut? Posisi liyan imajiner atau sang Ibu merupakan sebuah posisi yang membuat subyek dapat mengendalikan dirinya dan merasa utuh. Liyan simbolik atau sang ayah adalah liyan yang akan menyapa subyek secara
175
St. Sunardi.op.cit. Hal.43. 176
Lihat, von Hein, M. Timorese Artists Seek Reconciliation. dw.de. <http://www.dw.de/dw/article/0,,4610291,00.html>. Diakses pada Juni 2012. Pada wawancara itu, Gabriela Gansser menyebut tentang masa karya-karya bertema dark era di Arte Moris, ketika sebagian besar lukisan di Arte Moris berisi tema tentang kekerasan yang pada masa konflik.
94
langsung177. Pada masa kemerdekaan, posisi liyan simbolik ditempati oleh pihak-pihak yang memiliki daya untuk berbicara tentang identitas nasional, seperti pemerintah dan aparat-aparatnya.
Dengan demikian, simptom yang diteliti akan terlihat dari hasil-hasil pergulatan para seniman tentang identitas nasional yang dituangkan dalam karya seni berupa karya lukis. Simptom-simptom tersebut hadir dalam bentuk kecenderungan - kecenderungan tertentu yang mewarnai secara keseluruhan proses berkarya para seniman. Lukisan sebagai hasil akhir dan juga puncak dari proses berkarya tersebut, menjadi salah satu media untuk melihat simptom-simptom yang dapat hadir. Pada bagian selajutnya dari pembahasan ini, akan dilakukan penjelasan dan uraian tentang simptom-simptom tersebut.
Pada bagian ini, penulis akan membahas lukisan-lukisan yang berdasarkan bagian-bagian, atau elemen yang bersifat visual yang terdapat di dalam lukisan-lukisan itu. Dari lukisan-lukisan-lukisan-lukisan yang penulis dapatkan selama penelitian, dalam bentuk data foto, diambil beberapa lukisan yang kemudian akan diamati dengan sudut pandang psikoanalisa Lacan. Lukisan dengan kategori-kategori teoritis tertentu dari aspek visualnya ini, akan dikaji berdasarkan hubungan mereka dengan suatu proses pencarian dan pergulatan para seniman di Arte Moris, yaitu sebuah ide atau tema yang disebut identitas nasional. Lukisan yang akan dibahas akan diambil dari kumpulan lukisan yang ada di Bab Dua tesis ini, yang sebagian besar termasuk dalam kategori Politik dalam pembahasan di Bab tersebut. Oleh karena itu, bagian ini merupakan sebuah lanjutan pembahasan atas karya-karya
177
Catatan Kuliah Psikoanalisa dalam Kritik Ideologi. Yogyakarta : Magister Ilmu Religi dan Budaya. USD.2013
95
tersebut berdasarkan cara pandang yang khusus. Dengan demikian menghasilkan tema-tema yang lebih khusus pula, yang dalam hal ini adalah pembacaan elemen-elemen visual dalam lukisan tersebut sebagai simptom.
Para seniman di komunitas Arte Moris, dapat dikatakan merupakan bagian dari generasi yang merasakan pergolakan yang berujung pada perpindahan pemerintahan dari Indonesia, PBB, dan akhirnya Timor Leste. Pergulatan mereka tentang identitas nasional, seturut dengan posisi mereka sebagai seniman tak lepas dari ingatan sejarah yang sudah secara kolektif terbentuk. Bentuk-bentuk kegiatan yang memperjuangkan identitas nasional, seperti demonstrasi di masa-masa integrasi menunjukkan suatu hal yang menarik : penggunaan media visual. Bentuk-bentuk visual ini adalah referensi untuk penanda-penanda tentang identitas nasional. Pada masa integrasi hal-hal tersebut mengalami represi, dan di masa kemerdekaan hal-hal tersebut di tangan para seniman visual mendapatkan pemaknaan-pemaknaan lagi.
Hal yang menjadi fokus penelitian ini adalah apa sebenarnya yang ada dalam pikiran para seniman Arte Moris ketika mereka berbicara tentang identitas nasional, lewat karya mereka. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis pada seniman-seniman di Arte Moris, ada kecenderungan untuk merujuk pada identitas kultural ketika bersentuhan dengan identitas nasional. Tokoh-tokoh nasional, dan bendera nasional juga menjadi salah satu rujukan yang banyak dipakai ketika berbicara tentang identitas ini. Identitas adat dan aspek-aspeknya seperti pakaian, bahasa daerah, perhiasan dan cara hidup selalu mendapat penekanan dan perhatian yang khusus.
96
Dari tema-tema yang terbentuk dan akhirnya terlihat dalam karya-karya yang ditemukan di dalam penelitian maka disusunlah sebuah bentuk klasifikasi. Bentuk klasifikasi ini secara umum adalah perpanjangan dari diskusi atas elemen-elemen visual dengan tema tertentu yang ditemukan di dalam karya-karya lukisan. Klasifikasi tersebut terdiri dari tiga bagian besar yaitu tradisionalitas, tokoh, dan bendera. Pada bagian selanjutnya akan dibahas tentang rujukan-rujukan atau elemen-elemen visual dalam lukisan-lukisan terpilih yang dalam penjelasannya akan dilihat melalui pandangan psikoanalisa Lacanian.