• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arte Moris dan Dalan Arte Nian : Mencari Identitas Timor Leste

BAB IV KESIMPULAN

4.2. Arte Moris dan Dalan Arte Nian : Mencari Identitas Timor Leste

Pada masa integrasi, pemerintah Indonesia membangun sebuah monumen yang dinamai dengan nama Monumen Integrasi. Monumen ini dibangun di beberapa distrik206 di negara tersebut. Bentuk dari monumen tersebut berupa sosok lelaki dengan pakaian adat Timor Leste dalam posisi terbebas dari rantai besi yang mengikat kedua lengannya. Makna yang diberikan oleh pemerintah Indonesia atas monumen tersebut adalah perjuangan rakyat Timor Leste yang berhasil melepaskan diri dari cengkraman penjajahan Portugis. Pemerintah Indonesia memberikan sebuah pemaknaan tentang orang Timor Leste dengan penekanan pada sisi-sisi identitas tradisional yang kuat. Hal yang sama yang dilakukan seniman Arte Moris saat membicarakan tentang identitas kebangsaan Timor Leste. Di sisi lain, bentuk pemaknaan ini juga beragam, dan salah satunya hadir dalam bentuk pertanyaan, amukan, atau histeria.

Dalan arte nian, atau jalan seni merupakan sebuah pegangan hidup para seniman di Arte Moris atau sebuah cara bagi mereka untuk memandang diri mereka sebagai orang Timor yang juga sebagai seniman. Mereka percaya bahwa jalan seni ini merupakan sebuah harapan bagi mereka. Tony, salah satu pelukis perintis di Arte Moris, percaya bahwa seni dapat menjadi jalan keluar dalam keadaan sehari-hari yang sulit. Tony mengungkapkan, “ Arte ne diak, kuando ita osan la iha, aihan la iha, mais husi arte ita bele hetan kontenti207

( Tetum : seni itu baik, saat kita tak ada uang, tak ada makanan, lewat seni kita bisa mendapatkan kebahagiaan). Suara Tony merupakan suara yang mewakili

206

Lihat, http://www.oocities.org/maubere_oan/196-50-east-timor-scream.jpg. 207

145

seniman yang memilih untuk tinggal dan berkarya di sekolah dan komunitas Arte Moris. Hal ini dalam sudut pandang psikologi Lacanian menunjukkan bagaiman seni berfungsi sebagai sublimasi gairah hidup.208

Tony merupakan salah satu seniman yang menggunakan karya seninya untuk bertanya, menggugat, bahkan mengamuk. Hal yang digugat adalah identitas kebangsaan Timor Leste. Lewat karya-karya Tony di dalam pameran tunggal “ Dame Ba Rai Ne Be’e Maka Iha Problema” (Tetum : Damai bagi tanah yang

bermasalah) pada tahun 2011 di Dili, dapat ditemukan karya-karya yang bermuatkan histeria dari Tony. Si seniman berusaha mengguncang identitas kebangsaan yang selama ini datang dari pemerintah. Permukaan kertas koran yang telah dipenuhi dengan teks dan gambar dipakai oleh Tony sebagai kanvasnya. Di atas kanvas itu Tony menampilkan karya-karyanya, baik dengan memanfaatkan bentuk visual yang sudah ada di dalam koran-koran tersebut atau menghadirkan bentuk-bentuk yang benar-benar baru.

Lewat karya-karya di dalam pameran ini, Tony menggugat mitos yang telah terbentuk di dalam teks-teks yang ada di dalam koran tersebut. Penggugatan ini dihadirkan dalam bentuk pertanyaan, dan permainan teks (dengan memanfaatkan teks yang sudah ada di dala koran atau menciptakan teks yang baru). Apa yang dihasilkan oleh karya Tony bisa saja menjadi sebuah mitos baru, intinya sang pelukis membalas mitos dengan mitos. Karya-karya tersebut juga bicara tentang sebuah keinginan untuk perubahan. Sebuah perubahan yang dihadirkan lewat sebuah permulaan yang baru.

208

Lihat St. Sunardi.Yogya City of Desire. Jogja Art Files.Edisi Perdana. ERUPSI Akademia Psikoanalisa, Seni, dan Politik.2012. p.45

146

Permulaan yang diharapkan Tony adalah jalan menuju pembebasan. Sebagaimana Tony, dalam pergulatan dengan tema identitas nasional, melukiskan pemikirannya tentang kebebasan dalam karyanya Hakarak Livre (2012), (Tetum: Mau Bebas), yang terdiri dari tiga buah lukisan. Tiga karya tersebut menunjukkan eksplorasi bentuk wajah dengan elemen-elemen warna dan bentuk tertentu. Wajah dari sosok yang sedang dan mungkin akan selalu dicari oleh mereka yang bertanya-tanya tentang siapa orang Timor Leste itu.

Penelitian ini masih terbatas pada komunitas Arte Moris sebagai salah satu komunitas seni di Timor Leste. Pembahasan tentang identitas nasional sebuah negara tentunya akan semakin baik dan kuat bila dilengkapi dengan diskusi-diskusi silang yang memberikan konteks-konteks lain dari keadaan sosial dalam masyrakat. Hal tersebut masih belum bisa dicapai oleh penelitian ini. Sebagai saran, penulis berpendapat bahwa penelitian dan kajian yang lebih dalam tentang komunitas-komunitas seniman dan pergulatan mereka dalam berkarya memiliki banyak sisi yang terbuka untuk dikaji. Dalam kasus Arte Moris, penggunaan seni sebagai terapi, sebagai sebuah sistem tersendiri dapat dikaji lagi lebih dalam untuk melihat hubungannya dengan pembentukan identitas baik sebagai seniman maupun rakyat dari sebuah negara. Sebagai sebuah negara baru, Timor Leste masih memerlukan banyak kajian-kajian yang harus terus didayakan untuk menggambarkan keadaan dan geliat seni rupa di negara tersebut.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalan arte itu terdiri dari banyak sisi. Terutama dalam hubungan antara para seniman dengan pemaknaan identitas nasional. Ada yang menggambarkan kastrasi, dan interupsi dari liyan simbolik yang kuat. Ada pula yang menggambarkan histeria ; kemarahan dan

147

amukan karena yang simbolik tidak mempertemukan dirinya sebagai subyek dengan hasratnya yang sebenarnya. Semua usaha yang dilakukan oleh para seniman ini adalah rangkaian panjang dari pergulatan mereka tentang identitas kebangsaan. Masing-masing bentuk pemaknaan membawa hasil tersendiri.

148

DAFTAR PUSTAKA

Referensi Buku

Bahari, N.2008 Kritik Seni: Wacana, Apresiasi, dan Kreasi. Yogyakarta Christie and Roy,Denny.2001.The Politics of Human Rights in East Asia.London:Pluto Press.

Gunn, Geoffrey C.2005. 500 Tahun Timor Loro Sae. Dili : Sa‟he Institute for

Liberation

Gusmao, Jose A.1995. Otobiografi Kay Rala Xanana Gusmao. Jakarta : The East Solidarity.

Gusmao, Martinho G. da Silva. 2003. Timor Lorosae: Perjalanan menuju Dekolonisasi Hati-Diri. Malang:Dioma.

Kusno, A. dan Maneke Budiman.2009. Ruang Publik,Identitas dan Memori Kolektif : Jakarta Pasca-Suharto.Tr.Lilawati Kurnia.Yogyakarta :Ombak. Levine, Steven Z.2008. Lacan Reframed.London :I,B. Tauris &Co. Ltd. Homer, Sean. 2005. Jacques Lacan. Oxon : Routledge.

Eidelsztein, Alfredo. 2009. The Graph of Desire : Using the Work of Jacques Lacan. London : Karnac Books Ltd.

Fink, Bruce. 1997. A Clinical Introduction to Lacanian Psychoanalysis : Theory and Technique. London : Harvard Univeristi Press.

Taylor, John G.1999. East Timor: The Price of Freedom. London: Pluto.

Taylor, John G. 1991. Indonesia’s Forgotten War: The Hidden History of East

Timor. London : Zed Books.

Ooi Keat Gin.ed.2004. Southeast Asia : a Historical Encyclopedia from Angkor Wat to East Timor.California : ABC-CLIO inc.

Parkinson, Chris. 2009. Peace of Wall: Street Art From East Timor.

Yangni, S. 2012. Dari Khaos ke Khaosmos :Estetika Seni Rupa.Yogyakarta:Erupsi Akademia & Institut Seni Indonesia.

149

Zuhdi, Sutjianingsih, Sri. 1995. Sejarah Perjuangan Rakyat Timor-Timur Untuk SD. Jakarta:Depdikbud.

Referensi Artikel, Katalog, dan Jurnal Akademik

Crook, M.2009. Inter Press Service-Noticias Financieras /Groupo de Diarios America.

Silva ,Abilio d. C dan Barkmann, ed.2008 A Contemporary Art Movement in Timor Leste, an essay.Museum and Art Gallery Northern Teritory in partnership with the National Directorate of culture,Timor Leste.

1997. Luca Gansser: Angkor Mio and Works in Kuk-Kuk 96/97, Carpe Diem Galleries, Bangkok.

Kingsburry, D.2006. National identity in Timor-Leste: challenges and opportunities.South East Asia Research.

Traub,James.2000. Inventing East Timor. Foreign Affairs, Vol. 79, No. 4 (Jul. - Aug., 2000), pp. 74-89P. Council on Foreign Relations.

St. Sunardi. 2012. Yogya City of Desire. Jogja Art Files.Edisi Perdana. ERUPSI Akademia Psikoanalisa, Seni, dan Politik.

Kammen,Douglas.2010. Subordinating Timor: Central authority and the origins of communal identities in East Timor. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (BKI) 166-2/3 (2010):244-269 Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde.

Verhaeghe,Paul.1995. Lacan Theory on Four Disucourses.The Letter. Lacanian Perspectives on Psychoanalysis, 3, Spring 1995.91-108.

Referensi Internet

Http://www.suprememastertv.com/ee ( Diakses pada Agustus 2011)

http://www.scienceimage.csiro.au/mediarelease/mr11-14.html (Diakses pad Juni 2012)

150

Http://www.artemoris.tp/index.html (Diakses pada Agustus 2011)

Http://www.dw.de/dw/article/0,,4610291,00.html .von Hein, M. “Timorese Artists Seek Reconciliation.” dw.de. (Diakses pada 21 Juni 2012)

Http://amrtimor.org/amrt/index.php?lingua=pt (Diakses pada Desembe 2013) Http://www.estatal.gov.tl/Documents/JOR/SERIE_I_NO_33_2009.pdf) (Diakses pada 11 April 2013)

Referensi Data Wawancara

Abe (Avelino Cancio Silva ), 2012. Wawancara dengan penulis. Dili,12 January 2012

Agus (August Godinho ), 2012. Wawancara dengan penulis. Dili, 16 January 2012

Pelle (Moises Daibela Pereira ), 2012. Wawancara dengan penulis. Dili, 16 January 2012.

Tony (Jose de Jesus Amaral ), 2012. Wawancara dengan penulis. Dili, 13 January 2012.

Zeny (Eugenio Pereira),2012. Wawancara penulis dengan.Dili,13Januari 2012. Douglas Kammen,2012. Wawancara dengan Penulis. Singapura, Mei 2012.

151 Lampiran

Foto Berwarna dari Lukisan-Lukisan yang dibahas di BAB III

Gambar 37 .Tony and Cesario, Liurai,2003. Cat minyak pada kulit sapi. Dok. Penulis 2012

Gambar 38.Gibrael, Be Nain Timor, 2003. Cat minyak pada peralatan dapur yang terbuat dari anyaman bambu. Dok. Arte Moris 2012.

152

Gambar 39. Ajanu, Judul tak diketahui, 2009. Cat minyak pada papan. Foto:dok.penulis,2012.

Gambar 40. Grinaldo, Arte No Cultura,2003. Cat minyak pada kanvas. Foto:dok. Penulis, 2012.

153

Gambar 41. Abe, Performance,2005,Cat minyak pada Kanvas. Foto dok. Penulis, 2012.

Gambar 42. Pele, Tak berjudul, 2012. Cat minyak pada Tais. Foto: Dok. Penulis 2012.

154

Gambar 43. Anas, Hadomi Cultura, 2009. Cat minyak pada papan. Dok. Penulis 2012

155

Gambar 44. Pelle, Taiscape,2007. Cat minyak pada kanvas. Foto :dok. Penulis,2012.

Gambar 45. Cesario, Bidu.2003. Cat minyak pada Kanvas.Foto:Arte Moris ,2012.

156

Gambar 46.Cesario, Xanana,2003.Cat minyak pada Kanvas. Foto :dok.Arte Moris, 2012.

Gambar 47. Xanana Gusmao. Sumber : Video Dokumentasi Gerakan Resistensi Timor Leste

Gambar 49. Emeldea, Timor. Cat minyak pada kanvas. Foto :dok. Arte Moris, 2012.

157

Gambar 50. Ino,Foho Banderia,2004 .Cat minyak pada kanvas. Foto: dok. Arte Moris, 2012.

Gambar 51. Apepy, The Babadok, 2003. Cat minyak pada dua papan yang digabung. Foto : dok. Arte Moris, 2012.

158

Gambar 52.Pelle, Lakoi Timor Hanesan Nee,2006.Cat minyak pada kanvas. . Foto :dok. Penulis, 2012.

Gambar 53.Grinaldo, Proklamasaun RDTL 1975, 2005. Foto: dok. Penulis, 2012.

159

Gambar 55. Bendera partai FRETILIN

Gambar 57. Foto Unjuk Rasa di Santa Cruz,Dili.1991. Foto: Dokumentasi AMRT

Gambar 58. Foto salah satu spanduk dalam unjuk rasa Santa Crus 1991. Foto: Dokumentasi AMRT

160

Gambar 60. “Dame ba Rai Nebee Maka Iha Problema”(Tetum: Damai bagi tanah yang bermasalah). Salah satu Lukisan Tony di atas Koran, yang juga menjadi judul dari pameran tunggalnya. Foto :Dok. Tekeemedia.com. 2011.

Gambar 61.“Halo Sira Kontenti Dala Ida Taan”.(Tetum: Bikin mereka senang, sekali lagi).2011. Teks : “Halo Servisu Diak” (Tetum :Bekerjalah

161

Gambar 62. “La Hanesan Ita Hanoin”(Tetum: Tak Seperti Yang Kita Bayangkan).2011.

162

Gambar 64.Tony, Hakarak Livre I, Foto.dok. Arte Moris.2012

163 .