BAB I PENDAHULUAN
H. Pengolahan Data
I. Sistematika Penulisan
2.2. Kisah Arte Moris
2.2.1. Yahya Lambert : Indonesian Connection
Arte Moris : East Timor’s non-for-profit Free Art School & Cultural Center, adalah nama yang tercetak pada bagian atas kartu nama para seniman di Arte Moris. Jenis huruf yang digunakan untuk menulis nama Arte Moris pada kartu nama tersebut (Gambar.), sekaigus menjadi logo dari sekolah, organisasi, dan komunitas ini, yang juga terdapat pada tempat-tempat seperti papan nama di
100
Sacchetti, Maria José."Tais: The Textiles of Timor-Leste". Timor-Leste Government Tourism Office. 2005. Retrieved on 7 February 2008.
50
depan gedung sekolah, situs resmi, dan juga produk-produk yang dihasilkan seperti baju kaos, kartu pos dan hasil kerjainan lainnya.
Gambar 3. Kartu nama para seniman di Arte Moris.Kartu nama pada gambar adalah milik
Eugenio Pereira atau Zeny, yang berposisi sebagai Visitor Resepeionist di dalam manajemen Arte Moris. Foto: dok. Penulis, 2012.
Arte Moris merupakan salah satu dari beberapa komunitas yang bergerak di bidang seni-kebudayaan yang hadir di masa ketika Timor Leste baru meraih kemerdekaannya. Masa awal kemerdekaan atau masa restorasi ini disambut oleh kaum muda, yang berdasarkan sejarah turut berada di garis depan perjuangan kemerdekaan, dengan berbagai bentuk pengungkapan ekspresi kebebasan. Sebuah ekspresi keterlepasaan dari masa-masa kelam dan mencekam, dari masa-masa krisis dan konflik.
Kunjungan pertama penulis ke Arte Moris dilakukan pada tanggal 11 januari 2012. Lembaga tersebut terletak di Comoro, daerah di bagian barat kota Dili, yang merupakan ibu kota negara Timor Leste. Gedung yang dipakai oleh sekolah tersebut adalah sebuah gedung peninggalan dari masa integrasi. Gedung tersebut dahulunya adalah Museum Nasional Propinsi Timor-Timur. Sejak digunakan dari tahun 2003, gedung tersebut berfungsi sebagai kantor, sekolah, tempat pusat kegiatan Arte Moris dan juga sebagai asrama bagi para seniman senior. Para pelukis, pematung, musisi dengan predikat senior, sebagian besar adalah siswa angkatan awal dari lembaga tersebut, tinggal dalam ruang-ruang
51
yang dengan daya kreatif mereka diciptakan menjadi kamar, tempat mereka tinggal. Para seniman senior ini menjadi pengajar sekaligus pengurus harian kegiatan organisasi di komunitas tersebut.
Secara etimologi, nama Arte Moris berasal dari gabungan bahasa Tetum
dan bahasa Portugis yang berarti “Seni yang hidup”, Living Art ( Arte. Portugis : seni , Moris. Tetum : hidup ). Arte Moris didirikan pada Februari 2003 oleh seorang seniman yang berkewarganegaraan Swiss; Luca Gansser,dan istrinya Gabriela Gansser, atau Gaby, yang adalah seorang kordinator seni antar budaya.101 Proses pembentukan ini dimulai dengan bergabungnya sekelompok pemuda Timot Leste, di bawah kordinasi Luca dan Gaby, yang berbakat di bidang seni rupa. Kelompok ini adalah pertama pada sekolah seni tersebut. “They (Luca and Gabriela Gansser) fostered with a dedicated group of approximately fifteen senior artists who, in association with visiting Australian, German, Italian, and Swiss artists, teach junior students. 102”.
Sebelum kedatangan Luca dan Gabriela Gansser, pemuda-pemuda di Timor Leste yang tertarik pada seni rupa telah menyalurkan hasrat seni mereka dengan membentuk kelompok-kelompok yang melaksanakan kegiatan berkarya. Yahya Lambert, seorang seniman berdarah Maluku, adalah tokoh yang beberapa kali menjadi acuan dalam cerita perkembangan seni rupa di Timor Leste pada pertengahan tahun 1990an103. Sebuah laporan jurnalistik berbahasa Inggris dari Inter Press Service, yang ditulis oleh Matt Crook mengemukakan catatan biografis yang cukup lengkap tentang Yahya Lambert dan kisahnya dalam
101 Ibid 102 Ibid 103
Kisah tentang Yahya sebagian besar diambil dari laporan jurnalistik ini. Crook, M.2009. Inter Press Service-Noticias Financieras /Groupo de Diarios America.
52
berkegiatan seni.104 Saat wawancara dalam artikel itu dilakukan, April 2009 di Timor Leste, Yahya telah menghabiskan dua puluh delapan tahun di Timor Leste dan usianya di saat itu adalah tiga puluh tujuh tahun.105 Alasan dari Yahya berada
di Timor Leste adalah impiannya,” My life is first for the art and for my dream of the academy. Once I set up the academy, then I will go back to Indonesia106”.
Inti kegiatan seni yang dilakukan Yahya adalah dengan mendirikan kelompok seni yang disebutnya dengan nama Sanggar, "In all of East Timor I have 346 students. I have four Sanggars active here. I set up the Sanggars because with art you can move your character.107" Sanggar –sanggar ini bergerak sejak pertengahan tahun 1990an. Di Kabupaten atau distrito Manatuto, pada tahun 1996 Ia mendirikan Sanggar Matan (Tetum : es) yang berfokus pada karya seni tanah liat. Di Becora, Dili, Ia mendirikan Sanggar Cultura ( Portugis: Budaya) yang berkarya dengan batik, sedangkan di distrito Oecussi terdapat Sanggar Cusin ( Tetum: Porselen), yang berkonsentrasi pada kegiatan melukis dengan cat minyak. Di antara semua sanggar itu, yang menjadi pusat dari semua sanggar-sanggar yang tersebar di seluruh distrik adalah Sanggar Masin (Tetum : garam), yang berlokasi di Dili.
Dalam kegiatan keseniannya, Yahya dan Sanggar Masin tercatat sebagai salah satu seniman yang mencoba bentuk kreatifitas yang baru di Timor Leste108. Yahya melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dalam wacana penciptaan seni di
104 Ibid 105 Ibid 106 Ibid 107 Ibid 108 Ibid
53
Timor Leste melalui bentuk karyanya yang menggunakan kain tenun ikat tradisional Timor, tais, sebagai media pengganti kanvas.
“Artist Yahya Lambert recalls one of his earliest experiments of painting on tais was displayed at the Becora Culture Centre in Dili in 1996. This innovation achieved recognition within the wider Indonesian educational jurisdiction at the time as an alternative and distincly East Timorese medium of art.109”
Bentuk eksplorasi yang dilakukan Yahya ini, menurut Silva dan Barkmann, selain menarik perhatian pemerintah Integrasi khususnya bagian kebudayaan dan pendidikan pada waktu itu, juga merupakan sebuah bentuk perubahan yang membebaskan para seniman muda Timor Leste dari gaya dan isi
karya yang konservatif, ”The development of contemporary arts in this period
signalled a break by young artists with the tradisional, conservative styles and content110.”
Yahya Lambert melakukan banyak kegiatan dan proyek seni dengan kelompok-kelompok lembaga swadaya masyarakat dan aktif bekerja sebagai pengajar fotografi dan desain grafis pada sanggarnya111. Hasil karya seni dari kegiatan ini dijual dengan maksud untuk mengumpulkan dana bagi rencananya untuk mengirimkan para siswanya belajar ke Indonesia. Indonesia menjadi
pilihan, karena alasan finansial dan kemudahan dalam hal berkomunikasi,”
"People in East Timor can speak Indonesian, and in Indonesia it's cheaper for the school. I'd like to send them to Australia or another place, but I don't have the money. We don't have support from the government. The support comes from the
109
Silva, Abilio d. C. dan Barkmann.2009,1. 110
Crook,M.2009. 111
54
students in here -- we work together,"112 Yahya, di tahun 2009 itu, telah mengirimkan 12 anggota sanggarnya ke Yogyakarta, untuk belajar di Institut Seni Indonesia, dan dia sedang mengusahakan untuk mengirimkan 7 anggota sanggarnya lagi113.
Gambar 4. Sebuah karya fotografi dari Yahya Lambert. Foto : dok. Penulis, 2012. Impian utama dari Yahya adalah sebuah akademi seni yang tidak terikat pada pemerintah. Ia mengharapkan adanya suatu bentuk akademi seni yang bebas sehingga kerjasama dalam bidang ini, terutama dengan negara-negara lain, tidak
akan menemui kesulitan dan masalah birokrasi, “I think art should be free and independent and then the other countries can come and work with us.114" Harapan ini menemui kendala, pemerintah Integrasi pada waktu itu, tahun 1998, menolak untuk memberikan dukungan bagi Yahya dan sangar-sanggarnya. "I tried in 1998 to go to the government and talk. They told me they had no plans to support my students with money. The government said no because their priority is not art.115"
112 Ibid 113 Ibid 114 Ibid 115 Ibid
55
Yahya Lambert merupakan seorang seniman yang dikenal dalam perkembangan dunia komunitas senirupa di Timor Leste, terutama pada masa pertengahan tahun 1990an. Beberapa seniman senior di Arte Moris pernah berproses atau melewati masa-masa berkarya bersamanya. Jose de Jesus Amaral atau Tony, seorang pelukis dan pengukir senior di Arte Moris, menuturkan bahwa di tahun 2001 dirinya dengan bergabung kelompok pemuda seniman yang dibetuk oleh Yahya. Menurut Tony, Yahya memiliki hubungan dengan seniman Indonesia dari kelompok Taring Padi yang berpusat di Yogyakarta.116 Beberapa kali, seniman-seniman Taring Padi berkunjung ke Dili.Tony dan beberapa seniman yang tergabung dalam kelompok Yahya tersebut, merasa terinspirasi dengan jalan seni yang dianut Taring Padi. Selanjutnya, Tony dan beberapa seniman dalam kelompok itu bertemu dengan Luca Gansser yang sedang mulai membangun Arte Moris dan bergabung dengan kelompok tersebut.
Sama halnya dengan Tony, Avelino Cancio Silva atau Abe salah satu pelukis senior di Arte Moris pernah bergabung dengan Yahya Lambert. Di tahun 2002, Abe dan sekitar 20 orang pemuda bergabung dengan kelompok yang dibentuk Yahya117. Salah satu bentuk kegiatan kelompok ini adalah berkeliling, berjalan-jalan di seputar kota untuk menggambar. Sampai pada suatu masa Yahya membawa kelompok ini untuk bertemu Luca dan Gaby dalam rangka kerja sama atau kolaborasi dalam kegiatan seni. Abe menceritakan bahwa kerjasama antara kelompok Yahya dan Luca ini berujung pada perbedaan pendapat, sehingga terjadi perpecahan. Beberapa seniman termasuk Abe memilih untuk bergabung
116
Wawancara penulis dengan Tony.Dili,13Januari 2012. 117
56
dengan Luca di Arte Moris, sedangkan yang lain memilih untuk bergabung dengan Yahya.
Beberapa sanggar yang didirikan oleh Yahya masih berdiri sampai saat terakhir kali penulis mengunjungi Timor Leste. Sebagian besar seniman di Arte Moris pernah bergabung dengan salah satu dari sanggar-sanggar tersebut. Eugenio Pereira atau Zeny, menuturkan bahwa sanggar-sanggar tersebut masih aktif mengadakan kegiatan yang kesenian.118 Menurut Douglas Kammen, seorang peneliti yang banyak melakukan kajian tentang Timor Leste, dan juga memiliki sebuah lukisan karya Yahya lambert, Yahya telah meninggalkan Timor Leste dan menetap di Indonesia dan masih aktif melakukan kegiatan kesenian.119