• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karya Seni Visual dan Muatan Identitas Nasional

BAB IV KESIMPULAN

4.1. Karya Seni Visual dan Muatan Identitas Nasional

Dalam sejarah yang membentuk gambaran perjalanan panjang Timor Leste sebagai sebuah negara, seni visual telah memainkan peranan yang cukup penting di dalamnya. Dimulai dari gambar-gambar yang bercerita tentang orang Timor di dalam karya-karya visual di masa kolonial Portugis, berlanjut ke masa gerakan resistensi pada era pendudukan Indonesia, hingga pada masa kemerdekaan negara tersebut. Di masa kemerdekaan, para seniman dan pelukis di Timor Leste memiliki kesempatan untuk bicara tentang sebuah identitas baru, atau paling tidak, sebuah identitas yang merupakan hasil narasi sejarah yang bersentuhan dengan mereka. Sebuah identitas yang berdasarkan atas sebuah kenyataan baru yaitu kenyataan tentang hidup dalam sebuah bangsa atau negara yang merdeka dan berdaulat.

Para seniman, khususnya pelukis yang dibahas dalam tesis ini, merupakan seniman - seniman yang memiliki memori kolektif tentang identitas kebangsaan. Dalam proses kreatifnya, para seniman tersebut berbicara lewat karya seni dan menggunakan memori kolektif yang dimilikinya sebagai sumber untuk mengatakan atau mengekspresikan tema identitas kebangsaan. Tema tersebut lahir dari sebuah perjalanan tersendiri. Seniman-seniman dalam komunitas Arte Moris, yang secara khusus merupakan inti dari kajian di dalam tesis ini, memiliki tema karya yang beragam sehubungan dengan waktu persentuhan mereka dengan dunia

141

seni. Selain tema identitas nasional, tema-tema lain yang pernah mereka geluti terkait dengan trauma atas konflik.

Berdasarkan pemaparan Gabriella Ganser tentang Arte Moris, di masa-masa awal ketika sekolah seni itu mulai berdiri, tema lukisan yang paling banyak dikerjakan menggambarkan trauma dari konflik yang baru saja dilewati oleh hampir seluruh bagian masyarakat di negara tersebut205. Tema-tema ingatan kelabu ini oleh Gansser disebut sebagai tema “dark memory”. Lukisan-lukisan dengan tema memori konflik ini banyak menggambarkan perkosaan, dan kekerasan fisik yang menurut Gabriella memakan korban hampir pada tiap keluarga di Timor Leste. Kehadiran tema ini sebagian besar didukung dan direncanakan oleh para pendiri Arte Moris sendiri, pasangan suami istri Luca dan Gabriella Gansser. Mereka menggunakan seni sebagai terapi untuk para pemuda di daerah konflik. Penggunaan seni sebagai terapi ini sebagaimana dapat terlihat dalam pernyataan yang tercantum di dalam situs resmi Arte Moris.

Berdasarkan penelitian lapangan penulis di Arte Moris, pada tahun 2012, seni sebagai terapi tidak diterapkan di Arte Moris dalam bentuk metode atau kurikulum khusus. Seni sebagai terapi lebih dilihat dan dijalankan sebagai sebuah semangat yang sifatnya mendasar. Sebuah semangat di mana para seniman menggantungkan harapan untuk bisa melanjutkan hidup mereka di tengah-tengah keadaan paska konflik. Semangat dari seni sebagai terapi ini kemudian memberikan kesempatan bagi para seniman untuk lebih bebas dan sadar akan kemungkinan-kemungkinan berkarya yang tak terbatas dalam dunia seni visual.

205Lihat wawancara dengan Gabriella Gansser .Von Hein, M. “Timorese Artists Seek

Reconciliation.” dw.de. <http://www.dw.de/dw/article/0,,4610291,00.html>. Diakses pada 21 Juni 2012

142

Tema identitas kebangsaan menjadi sebuah tema yang cukup kuat di dalam komunitas seniman Arte Moris. Semua pelukis yang tergabung di dalam komunitas ini memaknai tema identitas kebangsaan atau nasional sebagai salah satu bagian dari perjalanan atau proses kreatif mereka. Proses kreatif para seniman dalam memakai tema ini memiliki beberapa kecenderungan yang dalam sudut pandang psikoanalisa Lacanian dapat dikelompokkan sebagai simptom. Kecenderungan atau simptom berupa penggunaan dengan kuantitas yang tinggi dari elemen-elemen visual tertentu yang tampak di dalam lukisan-lukisan tersebut.

Simptom-simptom yang ditemukan di dalam penelitian ini meliputi tiga hal pokok yaitu, yang pertama, penggunaan simbol-simbol atau aspek-aspek tradisional dalam lukisan,yang kedua, penggambaran tokoh-tokoh nasional, dan yang ketiga, penggambaran bendera serta penggunaan aspek-aspek visualnya seperti bentuk dan warna. Tradisionalitas yang dipakai atau diolah di dalam lukisan-lukisan tersebut merupakan bentuk pijakan identifikasi paling awal bagi para subyek dalam melihat diri mereka sebagai orang Timor Leste. Sedangkan bendera dan tokoh nasional merupakan penanda-penanda yang merujuk pada identifikasi yang bersifat simbolik. Identifikasi ke arah subyek sebagai warga dari sebuah negara.

Tradisionalitas merupakan bagian dari fase cermin yang dilewati oleh subyek dalam proses identifikasi. Di bagian ini, subyek berhadapan dengan sang ibu sebagai liyan yang memberikan kesadaran bahwa dirinya sebuah bentuk kesatuan yang berdiri sendiri, dan bukanlah sebentuk keberadaan yang terpecah-belah seperti yang dirasakan sebelumnya. Fungsi dari fase ini adalah kelahiran

143

ego. Sedangkan tokoh nasional dan bendera dan merupakan liyan simbolik atau sang ayah yang berperan sebagai ego ideal.

Elemen visual berupa aspek-aspek tradisionalitas, serta penggunaan bendera nasional dengan penekanan yang cukup kuat di dalam lukisan-lukisan seniman Arte Moris, menunjukan rangkaian proses identifikasi subyek. Subyek mengalami sebuah kastrasi ketika penanda-penanda dari liyan simbolik datang sebagai sebuah bahasa yang harus mereka gunakan saat berbicara tentang identitas kebangsaan. Hasil dari interupsi oleh penanda-penanda simbolik ini adalah karya-karya yang menggabungkan tradisionalitas dan simbol-simbol kenegaraan. Terlihat pada lukisan Timor (Gambar 49) karya Emelde, buaya sakral yang berenang di lautan bendera. Juga karya lukisan yang menggambarkan pegunungan keramat yang berselimutkan bendera seperti pada karya Ino Foho Bandeira (Gambar 50). Lukisan karya Ino, mendapat perhatian khusus dari pihak manajemen Arte Moris. Karya tersebut dihadirkan ulang dalam bentuk kartu pos yang dijual sebagai cindera mata di bagian penjualan di sekolah tersebut.

Lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh para seniman di Arte Moris, dapat diamati berdasarkan hubungan karya-karya tersebut dengan tema atau diskusi tentang pembentukan identitas kebangsaan Timor Leste. Bentuk identifikasi ini tidak hanya menggambarkan pergulatan-pergulatan para seniman dalam melihat diri mereka ataupun masyarakat Timor Leste lain secara umum sebagai satu kesatuan di dalam identitas kebangsaan Timor Leste. Lukisan-lukisan ini juga menunjukkan pergulatan yang lain, yaitu pergulatan subyek dalam mencari hasratnya yang sebenarnya.

144