• Tidak ada hasil yang ditemukan

SILSILAH KELUARGA ASTI Yun

IV. A 3 OBSERVASI DAN WAWANCARA

Peneliti dan Asti membuat kesepakatan tentang pengambilan data setelah beberapa kali pertemuan sejak bulan April hingga Juli 2007. Wawancara pertama berlangsung pada awal Agustus 2007 dan berakhir pada akhir September 2007.

OBSERVASI

Asti memiliki tinggi sekitar 157 cm dan berat sekitar 50 kg. Rambutnya tidak dibiarkan panjang sampai menutupi leher supaya tidak mengganggu pekerjaannya sebagai PRT. Pada setiap pertemuan, baik untuk wawancara maupun saat peneliti berkunjung, Asti lebih sering menggunakan baju kaos lengan pendek dan celana jeans yang digulung atau dipotong hingga betis atau lutut.

Pada beberapa sesi pengambilan data, peneliti ditemani oleh seorang teman setelah sebelumnya disetujui oleh Asti dan ada kalanya peneliti hanya sendiri.

Wawancara dilakukan di dua tempat yaitu di rumah Asti dan di rumah Lena (tante Asti). Rumah Asti adalah rumah yang dikontrak secara bersama-sama dengan satu keluarga lain. Asti menempati sekitar sepertiga bagian belakang rumah yang berukuran  6x18m2 tersebut. Bagian sepertiga itu dibatasi dengan bahan triplex tetapi masih dapat menghubungkan antara kedua pemilik rumah sehingga tetap tidak ada ruang pribadi kecuali kamar tidur. Bagian rumah Asti memiliki satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga dan dua kamar tidur, sedangkan dapur dan kamar mandi terletak di luar rumah. Asti juga mendapat separuh bagian halaman rumah yang luasnya  30x30m2. Halaman tersebut digunakannya untuk menanam bunga pacar air. Wawancara di rumah Asti

pertama kali dilakukan di ruang tamu. Akan tetapi, karena tetangganya dianggap mengganggu proses wawancara, wawancara-wawancara selanjutnya dilakukan di kebun pacar air dan di kamar tidur.

Wawancara juga dilakukan di rumah Lena, rumah warisan keluarga yang jaraknya sekitar 300 m dari rumah Asti. Rumah tersebut berdinding kayu namun lebih luas dari rumah Asti. Wawancara di rumah Lena dilakukan pada saat Asti sedang istirahat sambil menunggu jam kerjanya selanjutnya.

Pada wawancara pertama, Asti sempat salah tingkah sebelum peneliti menjelaskan prosedur wawancara. Asti berulang kali mengatakan pada peneliti bahwa ia bingung harus bercerita dari mana. Ia juga tertawa ketika peneliti menjelaskan bahwa dalam prosesnya wawancara akan direkam. Setelah peneliti menjelaskan mengapa harus direkam, Asti setuju dan bersikap kooperatif selama proses wawancara. Sebelum wawancara dimulai, peneliti memberikan lembar data keluarga pada Asti namun Asti tidak mau menulis sendiri dengan alasan tulisannya jelek sehingga peneliti membantunya menulis lembar tersebut. Setelah lembar data keluarga diisi, wawancarapun dimulai. Asti tampak defensif dengan posisi duduk menjauhi peneliti dan recorder, serta volume suara yang semakin mengecil. Kemudian, ketika menceritakan kejadian child abuse, Asti mulai tampak emosional dengan intonasi suara yang meninggi, posisi duduk yang berubah lebih tegak dan lebih banyak melakukan gerakan, serta beberapa kali menggunakan kata-kata makian. Asti juga terlihat sangat mudah terpancing untuk bercerita.

Ada beberapa hal menarik selama proses wawancara. Asti beberapa kali berusaha membanding-bandingkan kehidupannya dengan peneliti. Hal menarik lain, untuk menyebut dirinya Asti menggunakan tiga kata ganti yaitu ‘aku’, ‘awak, dan ‘kami’. Selain itu, peneliti sempat kebingungan ketika Asti menyebut tantenya dengan kata ‘Uwek’ (dalam bahasa Jawa berarti nenek). Asti juga banyak menggunakan kata ‘ya kan?’ dan banyak menyebut nama peneliti di akhir kalimat-kalimatnya.

WAWANCARA

Terlahir dalam keluarga kecil yang mapan, Asti hidup bahagia bersama kedua orangtua kandung dan seorang adik laki-laki yang bernama Heri. Kedua orangtuanya menyayanginya, namun secara emosional ia lebih dekat dengan ibu kandungnya. Kasih sayang ibunya begitu membekas di hatinya, apalagi di saat Asti sakit ibunya lah yang senantiasa menjaganya sepanjang hari.

“…Aku dekatnya sama mamak….”( P1.W3/hal.25/k.40)

“…Dulu itu ya mamak kami ya kalo buat anak-anaknya dibikin makanan yang enak-enak. Makanya dulu waktu kecil aku sehat kali….Terus kan, kalo kami ada apa lah, kalo bapak kami gajian lebih, kami nanti diajak jalan-jalan, dibeliin baju. Kalo sakit lagi. Makanan makin enak. Pokoknya kami dimanjain kali sama mamak. Minta apa aja dikasih….” (P1.W3/hal.28-29 /k.204-214)

“..Kalo sakit mamak la yang jaga. Sampek gak tidur mamak kami jagain kami Dev. Kalo ayah mana mau. Ngantuk ya tidur dia. Tapi ayah tetap sayang…”( P1.W3/hal.29 /k.221-225)

Ibunya memiliki penyakit yang melarangnya hamil dan melahirkan lagi. Namun, ternyata ibunya hamil lagi dan jatuh sakit setelah melahirkan. Sejak ibu

kandungnya masuk Rumah Sakit, Asti berserta kedua adiknya diasuh oleh nenek (orangtua ibu) dan berpisah dari ayah. Di rumah nenek yang terletak di KB itu, Asti hanya bisa menunggu dan berdo’a untuk kesembuhan ibu serta untuk mengatasi rasa takutnya. Sebulan setelah melahirkan ibunya pun meninggal dunia.

“…Abis ngelahirin sebulan mamak kami di rumah sakit terus. Tu la meninggal dia.”( P1.W1/hal.8 /k.341-342)

“….Kami di rumah berdo’a aja la mudah-mudahan gak kenapa-kenapa. Takut juga. Kekmana kalo mamak gak ada. Terus, gak lama meninggal juga. Terus ditelepon ayah kami. ‘Siap-siap la kelen, udah meninggal…’”(P1.W3/hal.26/k.77-82)

Asti dilanda kesedihan mendalam dan pikiran-pikiran tentang masa depan tanpa ibu, tempat ia menumpahkan seluruh perasaannya. Akan tetapi, Asti kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa terus meratapi kepergian ibunya. Ia pun berhenti menangis dan pasrah menerima nasibnya.

“meninggal ya kayakmana lah. Dah macem orang gila. Namanya kami masih kecil….Gak da mamak.. Susah lah...Gak da mamak. Kita gak bisa ngadu, gak bisa apalah…”(P1.W3/hal.25/k.46-50)

“…Masih kecil emaknya udah ‘ninggal. Koq kasian kali ya... Cemana la hidup awak nanti ya kan. Ya diem aja lah... Pasrah aja. Namanya awak masih kecil. Gak bisa ngapa-ngapain lah ya. Mau teriak-teriak cemana. Ya udah paling nangis-nangis gitu lah. Abis tu diem aja. Pasrah.”(P1.W3/hal.26/k.91-99)

Setelah ibu meninggal dunia, Asti dan kedua adiknya tetap tinggal di rumah nenek, sementara ayah tetap di rumah mereka di Mandala. Beberapa bulan setelah ibu meninggal, ayah datang kembali. Kali ini ayah berniat membawa Asti dan adik-adiknya kembali ke rumah mereka. Selain itu, ayah juga membawa berita bahwa ia telah menikah lagi sekitar tiga bulan setelah isteri pertamanya

meninggal. Terkejut dengan berita tersebut, nenek Asti menolak permintaan ayah. Akan tetapi, nenek menyerahkan semua keputusan pada Asti sebagai anak sulung. Nenek juga tidak membolehkan ayah membawa Yuni karena masih bayi.

“…Jadi kan kami tinggal ma nenek. Trus kan ayah kawin lagi. Pas ayah kawin dibilangnya gini kan… ‘kami ambek (ambil) aja,’ gitu kan.” (P1.W1/hal.1/k.22-53)

“Pertama nenek marah juga. Kan gak kenal gitu kan. Tiba-tiba aja orang itu kawin. Tapi nenek kami bilang, ‘terserah si Asti aja.’ Ya awak kan anak paling besar. Gitu. Tapi yang baby gak dibolehin….”(P1.W1/hal.1- 2/k.40-43)

Asti harus membuat keputusan seorang diri di usia yang masih sangat muda. Sejujurnya, Asti sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Sebaliknya, ia juga memiliki ketakutan akan mitos-mitos kekejaman seorang ibu tiri seperti yang sering ia dengar. Melihat keraguan Asti, ayah berusaha mempengaruhinya dengan mengatakan bahwa ibu tiri tidak seperti mitos yang pernah didengarnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke rumah bermodalkan rasa percaya pada ayahnya.

”... ‘Ayo lah kita ke sana, ada mamak baru.’ ‘Ah nanti kami dipukuli,’ kami bilang. Tau lah ibu tiri. ‘Enggak…baek ini baek. Ibu tirinya baek.’ Namanya awak masih anak-anak, dibilangin gitu ya…..”(P1.W1/hal.2/k.65-69)

“…Namanya awak masih anak-anak. Takut juga pertama kami diajak tinggal sama ibu tiri. Takutnya ibu tirinya gak sayang. Tapi ayah bilang sayang, ya…awak nurut aja. Namanya masih kecil….”

( P1.W3/hal.29/k.244-227)

“…Pertama kan kami diajak sama ayah ke sana. Dibilang sama ayah kalo ibu baru kami ini baek. Ya kami percaya aja la…”( P1.W4/hal.38/k.80-82)

bercerita tentang sekolah Asti dan adiknya. Betapa senangnya hati Asti memiliki figur pengganti ibu kandungnya yang telah tiada. Rasa kehilangan pun sirna dan berganti dengan pikiran-pikiran tentang masa depan yang indah.

“….Rupanya betul Dev, baek kali dia Dev. Sampek di rumah kami disambut. Ditanyai, ‘Asti, udah makan? Ni ibu buatin makanan buat kelen.’ Dibuatinnya kami makanan enak-enak, kue-kue. Trus, diajak cerita, ‘Kekmana tadi di jalan? Kelen sekolah gimana?’ Basa basi….” (P1.W4/hal.38/k.84-89)

“….Namanya awak baru kehilangan mamak. Dapat mamak baru. Seneng la ya kan. Baek pula. Tu la, kupikir juga la…Nanti kalo ada apa-apa bisa cerita sama mamak. Nanti ada yang ngurusin…Baek-baek lah awak ya kan. Dia baek, awak baek-baek juga. Pokoknya aku pikir udah pasti enak lah hidup awak nanti ya kan. Ada yang ngurus, ada mamak. Kekgitu juga kupikir pertama….”( P1.W4/hal.38/k.69-77)

Awal-awal memiliki keluarga baru begitu membahagiakan bagi Asti. Akan tetapi, ternyata kebahagiaan tidak berlangsung lama. Ibu tiri mulai menunjukkan perubahan sikap pada saat ayah tidak berada di rumah.

“…Seminggu dua minggu.. Pertama-tama baek-baek, lama-lama.. Dah dua minggu gitu kan, nanti ayah kami kerja gitu kan, mulai lah kesempatan….” (P1.W1/hal.2/k.69-73)

Walaupun terkejut dengan perubahan sikap ibu tiri, pada awalnya Asti berpikir kalau ibu tiri tidak bermaksud jahat dan mungkin saat itu ibu tiri sedang punya masalah. Apalagi ayah selalu mengatakan bahwa ibu tiri adalah seorang ibu yang baik. Ia pun sudah merasakan kebaikan ibu tiri pada awal-awal perkenalan. Asti tidak begitu mengerti persoalan orang dewasa, oleh karenanya ia memilih diam, menuruti perintah ibu tiri, dan menghindar setiap ibu tiri mulai marah- marah. Namun, sikap ibu tiri tidak kunjung berubah.

lah dibilangnya… ‘Heh, jeng! Kau narok sepatu tu yang betul! Ko pikir aku pembantumu beres-beresin sepatumu?’ Kek gitu-gitu lah dia ngomongnya. Kami baru pulang…baru nyampek. Terkejut lah kami. Tapi ya dibiarin aja. Oh, ini ibu lagi ada masalah. Ya kami baek-baek lah. Jangan sampek tambah marah pula dia kan....Kami tarok sepatu kami bagus-bagus. Bis tu kami pigi aja masuk kamar. Takut kami mamak tiri kami tambah marah. Rupanya kekgitu terus dia. Mulai lah dia nyuruh- nyuruh. Nyuruh nyuci piring sendiri, nyuci sendiri. Sampek terakhir kami lah yang ngerjain semua….”( P1.W4/hal.38/k.91-101)

“……Waktu itu aku masih bingung juga. Liat orang dewasa yang kayak gitu mana ngerti. Awak pikir nanti dia baek lagi.. Ah, nanti paling baek lagi. Kan ayah bilang ibu tirinya baek. Pasti baek lagi ini.. Namanya masih anak-anak….”( P1.W4/hal.40/k.154-159)

Sikap ibu tiri begitu manis di depan ayah sehingga ayah tidak menyadari perlakuan yang diterima Asti dan adik laki-lakinya. Apalagi semenjak Asti dan adiknya kembali ke Mandala, ayah mulai bekerja sampingan sebagai tukang becak di malam hari sehingga ayah semakin tidak sempat untuk memperhatikan anak- anaknya. Ayah sangat percaya bahwa isteri barunya akan memelihara anak-anak dengan baik, sedangkan Asti hanya bisa diam setiap kali ayah memuji-muji ibu tiri di depannya. Ia tidak berani melawan ibu tiri.

“…Pulang, kerja lagi. Abis dari PU ayah kami kerja lagi bawa becak. Baru lah kami dimarah-marahin. ‘Ngapain kelen? Kerja kelen!’ katanya.” (P1.W1/hal.3/k.89-92)

“Mana ditanya-tanya lagi. Karna kan diliat ayah kami baek. Depan dia baek ya kan. Pikirnya baek juga depan anaknya. Padahal enggak. Tersiksa awak dibuatnya….”( P1.W1/hal.14/k.616-619)

“….Dia pura-pura baek di depan ayah kami. Tapi dia aslinya memang gak baek. Pemalas. Makanya disuruhnya kami kerjain semua. Pulang ayah kan udah siap semua. Dipikir ayah kami lah dia yang kerjain. Padahal mana ada. Dipuji-puji terus istrinya itu. Di depan kami Dev.. ‘Gak salah ayah pilih istri kan?’....Diem aja la kami. Kami dulu gak berani ngelawan…”(P1.W4/hal.40/k.141-149)

Semakin lama, sikap ibu tiri semakin kejam. Tidak hanya marah-marah dan menyuruh kerja, ibu tiri juga mulai membedakan makanan untuk Asti dan adik laki-lakinya. Mereka hanya diperbolehkan memakan makanan sisa. Bahkan ketika sedang mencuci piring, Asti pernah disuruh mengumpulkan sisa-sisa makanan yang ada di piring kotor sebagai makanannya dan adiknya. Ia menuruti perintah tersebut namun, kemudian membuang sisa-sisa makanan itu dengan diam-diam. Ia lebih memilih mati kelaparan dari pada memakan makanan yang menjijikan tersebut.

” Tapi memang dasar orangnya gak baek Dev. Ya gak berubah-berubah. Malah makin kejam. Gak dikasihnya makan kami. Dikasih, tapi macem makanan kucing. Mana mau kami….”( P1.W4/hal.6/k.155-159)

“…Pernah kan Dev, aku disuruhnya cuci piring. Kan ada tu bekas-bekas, sisa-sisa nasi di piring-piring itu kan Dev. Itu lah mau kubuang kan. Disuruhnya kutip aku Dev. Disuruhnya tarok dipiring. Katanya itu lah buat kami berdua makan nanti. Kan kurang ajar dia kan….Is..tak mau kami (makan).. Kan aku cuci piring dulu. Pigi dia, kubuang. Biar aku mati kelaparan timbang mati makan makanan kayak gitu. Ya kan.” (P1.W2/hal.9/k.242-251)

Setiap jam makan, Asti dan adiknya harus menunggu ibu tiri dan anak- anaknya selesai makan. Setelah itu, barulah ibu tiri memberikan jatah makanan mereka berupa kerak nasi yang menempel di periuk. Karena sudah mengeras, kerak nasi tersebut tetap menempel walau sudah dikorek dengan paksa. Ibu tiri pun berinisiatif untuk ’mempermudah’ Asti dengan menggenangi periuk tersebut dengan air sehingga kerak lebih mudah diambil. Setelah itu, ibu tiri membuang airnya dan membumbuinya dengan garam. Asti terdiam melihat bentuk jatah makanannya yang bahkan lebih menjijikan dari makanan hewan itu. Ia tidak menghiraukan perintah ibu tirinya untuk makan.

“…Dulu masak nasi ada keraknya di bawah-bawah. Kerak itu disiramnya aer, ditenggelamkan, dibuangnya aernya, dikasihnya garam. Mana mau kami makan! Kucing aja gak mau makannya…”(P1.W1/hal.23/k.223-227) ”…. Kami dilarang makan. Katanya nanti cepat abis beras, ntah la Dev. Trus aku heran, kan aku yang masak…. Tu la dia bilang.. ‘Itu buat makan kami bukan kelen. Kalo kelen mau makan nanti kalo kami udah makan semua baru sisanya sama kelen’….Tu la makan orang itu semua, kami nengokin aja. Siap orang itu makan semua, baru la mamak tiri kami kasih kami makan. Itu lah tinggal kerak-kerak nasi. Kerak-kerak di bawah, yang nempel diperiuknya itu Dev. Itu la disuruhnya kami korek. Kan susah tu. Dikasihnya aer. Disiramnya. ‘Udah lembek kan? Bisa kelen makannya kan?’ gitu la… Tak mau kami makan.. Diem aja..” (P1.W4/hal.6-7/k.161- 177)

Ibu tiri tidak mentolelir sikap membangkang Asti. Dengan marah, ibu tiri mengambil tali pinggang dan memukuli Asti secara bertubi-tubi. Untuk pertama kali dalam hidupnya Asti tahu bagaimana rasanya dipukul. Asti pun menjerit dan memohon ampun hingga ia pun tidak sadarkan diri karena kesakitan.

”Marah dia.. ‘Oo..dasar anak gak tau diri!’ Diambeknya tali pinggang. Oo..abis lah Dev. Menjerit-jerit aku.. ‘Ampun, Bu. Ampun..’ Sampek pingsan aku.”( P1.W4/hal.7/k.178-180)

“…Itu pertama kali aku dipukul. Terkejut batin aku Dev. Tak pernah- pernah aku dipukul ya kan. Tiba-tiba dipukul. Apa gak terkejut. Pingsan langsung la aku. Bukan tak kuat pukulannya. Kuat kali Dev. Orang sampek biru-biru. Sampek pingsan aku.”( P1.W4/hal.4-5/k.109-113)

Beberapa bulan kemudian, Asti memberanikan diri untuk mengadukan ibu tiri pada ayah. Asti berharap mendapat pembelaan namun, apa yang ia dapat ternyata hanyalah ketidakpercayaan dari ayah kandungnya sendiri. Asti dituduh berbohong karena menurut ayah, ia cemburu pada ibu tiri. Padahal sebagai anak kecil, Asti belum mengerti apa artinya cemburu. Hal ini berlangsung terus-

menerus hingga ayah mulai berusaha menghindar setiap kali Asti mencoba mengeluh kembali.

“Ada sebulan-dua bulan juga. Udah disiksa sebulan kami cerita lah sama ayah. Tu lah ayah kami bilang.. ‘Mana ada ibu kelen jahat. Kan baek dia.’ Kek gitu terus dibilang ayah…. Abis itu pigi dia. Kek gitu terus dia. Makanya sebel pula aku liatnya…” (P1.W4/hal.8/k.203-209)

“…Is…padahal awak anaknya tapi dibiarkan aja menderita. Ditengok pun tidak. Cobak la Dev. Masa’ pas aku bilang…‘Yah, aku disiksa sama istri ayah. Ni biru-biru gara-gara istri ayah’…gitu la kubilang. ‘Mana mungkin. Ibu ko kan baek. Ko jangan ngarang-ngarang la. Ko gak suka kan ayah kawen lagi. Ko cemburu kan?’ Ih..apa pula awak cemburu. Awak masih anak-anak dibilang cemburu. Ngerti pun tidak aku ya kan…Terus dia pigi…. gak peduli…. Mana mau ditanya-tanyanya. Kalo aku mau cerita ngindar dia. Udah memang gak peduli gitu la sama kami…”(P1.W4/hal.3/k.52-64)

Herannya, setelah tahu pun ayah tidak pernah melakukan pembelaan atau berusaha mencegah child abuse terhadap Asti dan adiknya terjadi kembali. Ayah hanya diam dan tidak pernah berbuat apa-apa. Perilaku ayah yang tidak peduli itu membuat Asti berpikir bahwa ayah telah terkena “obat” dari ibu tiri dan “obat” tersebut telah mendarah daging dalam tubuh ayah.

“…ayah kami tu dah gak apa lagi sama kami. Karna ayah kami dah kena obat. Ramu-ramuan. Trus ditarok ntah dimakanannya gitu. Terus, apa yang dibilang ke ayah kami, ayah kami tunduk aja….”( P1.W1/hal.9/k.233-243) “…Makanya ayah kami diem aja. Itu obatnya dah ke darah daging dia. Dah gak bisa dilunturkan lagi. Diobatin gak bisa….”( P1.W1/hal.17/k.457- 461)

Kesal dengan ketidakpedulian ayah, Asti mulai bercerita pada keluarga ibu kandung. Harapannya tetap sama yaitu mendapat pembelaan. Kebetulan jarak dari sekolah ke sana tidak begitu jauh sehingga Asti dapat singgah sebentar sepulang sekolah. Sialnya, ia tetap tidak mendapatkan pembelaan seperti yang ia inginkan.

Malahan, ia harus mendengar nasehat-nasehat agar ia bersabar dan kembali ke rumah. Asti sadar, ia tidak dapat memaksa keluarga ibu kandungnya mencampuri urusan internal di keluarganya.

“…Sekolah kami dulu di sini Dev. Kadang pulang sekolah kami kemari dulu (ke rumah nenek). Cerita juga kami Dev…. ‘Sabar-sabar aja lah kau…Balek kau pulang ke rumah kau sana…’ Kek gitu aja….Ya, mungkin orang tu juga gak mau ganggu urusan keluarga orang lain ya kan. Sering juga kami cerita kemari. Pulang sekolah kami kemari…. Kesal juga. Cemana la. Awak ngadu supaya dibela. Rupanya enggak. Tapi mau kek mana pula. Orang itu kan juga gak bisa ngatur-ngatur urusan rumah tangga orang lain ya kan”( P1.W4/hal.9/k.233-257)

Usaha Asti belum berakhir. Ia kemudian mencari pembelaan pada para tetangga. Ternyata, tetangga prihatin dengan keadaannya dan mau membantu semampunya. Tetangga lah yang bergilir memberi Asti dan adiknya makanan serta senantiasa mendengar keluh kesahnya. Akan tetapi, sama seperti keluarga ibu kandungnya, tetangga juga tidak kuasa memasuki wilayah pribadi keluarga orang lain. Mereka pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Asti dan adiknya dari kekejaman ibu tiri. Tetangga hanya dapat memberikan nasehat agar bersabar dan bertahan.

“…Soalnya ngadu sama ayah gak bisa ya kan. Sama tetangga la….”(P1.W4/hal.8/k.218-219)

“….bergilir mereka kasih makan kami. ‘Kasian kali ko, Ti, sama ibu tiri. Depan ayah kelen baek-baek. Di belakang abis kelen.’ ‘Iya la, Buk,’ ku bilang. Cerita aku. ‘Iya la, Buk. Kayak gini aku gak tahan….’”(P1.W1/hal.6/k.144-147)

“…Urusan rumah tangga orang Dev. Kek mana pula kita mau ikut campur urusan dapur orang lain. Ya kan Dev. Ya, orang itu bantu lah Dev…. mereka lah yang kasih makan. Terus ngurus kami gitu kan.”(P1.W2/hal.12/k.336-340)

“Trus dibilangnya (tetangga), ‘Udah lah kau coba aja. Kalo gak tahan, kau lari aja.’ Ya udah kami tahan. Sebulan, tiga bulan, lima bulan, berapa bulan juga kami di situ. gak tahan kali kami di situ, Dev. Cemana lah gak makan….”(P1.W1/hal.5/k.122-126)

Mengetahui kedekatan Asti dengan para tetangga, ibu tiri pun melarang Asti ke luar rumah, termasuk ke sekolah. Dengan begitu, ibu tiri dapat terus memperlakukannya seperti pembantu. Akan tetapi, Asti tetap saja datang ke rumah tetangganya dengan diam-diam ketika ia butuh bercerita.

”...semakin ngadu sama tetangga semakin habis awak dibuatnya. ‘Ngapain kau ke sana? Kerjaan kau belum siap!’ Tu la, siapa cobak yang tahan?…..”(P1.W4/hal.8/k.219-222)

“Mana ada sekolah lagi kami. Melangkah dari pintu aja gak boleh! Dibilangnya kerjaan kami belum beres atau apa lah. Sengaja dia. Kami

Dokumen terkait