SILSILAH KELUARGA SITA Had
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
Bab ini terdiri dari 3 bagian. Pada bagian pertama akan dijabarkan kesimpulan yang akan menjawab pertanyaan penelitian ini yaitu bagaimana dinamika forgiveness pada orang dewasa yang pernah mengalami child abuse yang dilakukan oleh orang tua. Bagian selanjutnya berisi diskusi yang berhubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh. Pada bagian akhir akan dikemukakan saran-saran praktis dan saran-saran yang diharapkan dapat berguna bagi penelitian lanjutan yang berhubungan dengan penelitian ini.
V.A KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh dari kedua partisipan, maka dapat disimpulkan bahwa kedua partisipan saat ini masih belum forgive kepada orang tua mereka. Kedua partisipan mengalami disonansi emosi hanya kepada orang tua kandung bahkan pada Partisipan 2 pernah terjadi forgiveness pada ibu kandung walaupun pada akhirnya siklus unforgiveness kembali berulang ketika
child abuse terjadi kembali. Selain itu, tidak terjadi disonasi emosi pada orang tua
tiri. Dinamika forgiveness pada kedua partisipan dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Kedua Partisipan memiliki hubungan sebelum child abuse yang berbeda- beda dengan masing-masing orang tua. Hubungan sebelum child abuse Partisipan 1 dengan kedua orang tuanya adalah positif. Hubungan positif pada ayah kandung depengaruhi adanya kehidupan bahagia bersama kedua
orang tua kandung sebelum ibunya meninggal dunia, sedangkan kualitas hubungan positif pada ibu tiri terjadi karena adanya harapan untuk mendapat figur pengganti ibu kandung dan adanya rasa percaya pada ayah. Pada partisipan 2 tidak ada kualitas hubungan pada terhadap kedua orang tua kandungnya karena child abuse sudah terjadi sebelum ia mengerti hubungan orang tua-anak. Sedangkan hubungan dengan ayah tirinya sebelum child abuse terjadi adalah negatif karena Partisipan 2 sejak awal sudah tidak menyukai ayah tirinya.
2. Child abuse yang dialami dan abuser-nya antara lain:
Partisipan 1 mengalami emotional abuse dan neglect dari ayah kandung, dan physical, emotional abuse dan neglect dari ibu tiri. Partisipan 2 mengalami physical, emotional abuse dan neglect dari ibu kandung,
emotional abuse dan neglect dari ayah kandung, dan sexual, emotional
abuse dan neglect dari ayah tiri.
3. Persepsi dan emosi terhadap child abuse dipengaruhi ada tidaknya kualitas hubungan sebelum child abuse, bagaimana kualitas hubungan sebelum
child abuse itu sendiri, dan harapan terhadap hubungan tersebut. Tidak
adanya kualitas hubungan sebelum child abuse mengarah pada persepsi yang positif seperti yang terlihat pada partisipan 2 yang menganggap wajar keadaannya karena belum mengerti hubungan orang tua-anak. Tidak adanya kualitas hubungan menyebabkan partisipan 2 mengembangkan harapan positif terhadap hubungan tersebut. Hubungan sebelum child
seperti pada partisipan 2 terhadap ayah tiri yang sudah tidak disukainya bahkan sebelum ayah tiri melakukan child abuse. Hubungan sebelum child
abuse yang positif mengarah pada persepsi dan emosi yang negatif seperti
pada Partisipan 1 yang mengganggap dirinya diserang ketika child abuse pertama kali terjadi. Akan tetapi, pada hubungan seperti ini, emosi negatif cenderung diabaikan seperti pada Partisipan 1 yang melakukan rasionalisasi untuk membenarkan child abuse yang terjadi.
4. Kedua Partisipan melakukan respon aktif maupun pasif terhadap
unforgiveness. Respon Partisipan 1 meliputi membalas langsung, lari dari
rumah, mengadu pada orang lain, mengkomunikasikan perasaan (respon aktif), dan terus mengingat kejadian di masa lalu (respon pasif). Sedangkan respon Partisipan 2 meliputi mengkomunikasikan perasaan, melawan saat diserang, pergi dari rumah (respon aktif), menangis sendirian, menghindar dengan alasan bekerja sebagai usaha melupakan (respon pasif).
5. Kedua partisipan sama-sama unforgive terhadap orang tua tiri dan tidak pernah mengalami disonansi emosi. Sebaliknya, kedua Partisipan sama- sama mengalami disonansi emosi terhadap orang tua kandung. Partisipan 1 pernah mengalami disonansi emosi terhadap ayah kandung ketika ayah menunjukkan respon positif namun ia memilih kembali unforgive. Partisipan 2 mengalami disonansi emosi terhadap ibu dan ayah kandung dipengaruhi harapannya memiliki keluarga yang utuh. Partisipan 2 bahkan pernah forgive pada ibu kandung ketika ibu menunjukkan respon positif.
6. Baik Partisipan 1 maupun Partisipan 2 respon akhirnya adalah menghindar. Berbeda dengan Partisipan 2 yang menghindari abuser sebagai usaha untuk melupakan kejadian di masa lalu, Partisipan 1 walaupun menghindari abuser, terus melakukan rumination (mengingat- ingat masa lalu). Dengan begitu, saat ini hubungan kedua Partisipan dengan para abuser sama-sama negatif.
V.B DISKUSI
Karen Horney (dalam Feist, 2002) mengemukakan bahwa anak jarang mengekspresikan hostility yang mereka rasakan dengan marah atau terang- terangan memusuhi orang tua. Hostility ini sering terpaksa di-repress karena anak merasa sangat membutuhkan orang tua. Mereka takut ditinggalkan dan menjadi tidak berdaya tanpa orang tua. Kondisi ini disebut sebagai basic anxiety, yaitu kondisi dimana anak merasa tidak berdaya, terisolasi, dan menganggap dunia memusuhinya. Basic anxiety ini menjadi masalah terbesar bagi anak yang mengalami abuse. Anak sering harus menemukan solusi seorang diri agar dapat bertahan hidup. Hal ini dapat dilihat dari Partisipan 1 yang mengaku merasa takut ketika ibu tirinya marah-marah sehingga ia memilih menghindar, berharap ibu tirinya tidak semakin marah dan pada akhirnya ia memilih lari dari rumah sebagai solusi agar dapat bertahan hidup. Begitu pula dengan Partisipan 2 yang tidak berani menunjukkan ketidaksetujuannya pada orang tuanya dan kemudian memilih pergi jauh dari kampungnya.
Expectancy Value Model Fishbein (dalam Hogg, 2002) mengatakan bahwa
pengalaman langsung dengan objek sikap dapat memberi informasi pada seseorang seberapa besar objek tersebut seharusnya disukai atau tidak disukai di masa depan. Teori ini dapat menjelaskan adanya disonansi emosi Partisipan 1 terhadap ayah kandung dipengaruhi oleh pengalaman positif di masa lalu dan juga pengalaman abusive dari ayah. Selain itu, pengalaman abusive dari ibu tiri meningkatkan besarnya ketidaksukaan Partisipan 1 terhadap ibu tirinya. Begitu pula pada Partisipan 2 dimana konsep tentang orang tua kandung sebagai orang tua yang pasti sayang pada anak didapatnya dari pengalaman yang dilihatnya dari anak-anak lain yang seusianya, namun pengalamannya langsung bahwa orang tua kandungnya abusive mempengaruhi terjadinya disonansi emosi dalam dirinya. Sedangkan pengalaman partisipan 2 yang diabaikan ayah tiri keduanya memberi informasi bahwa ayah tiri menjadi objek sikap yang tidak disukai sehingga ia tidak setuju ketika ibunya memberinya ayah tiri baru.
Saat mengalami konflik intrapersonal mendekat-menjauh individu cenderung tidak konsisten antara perilaku dan pikirannya. Karena adanya nilai positif individu cenderung mendekat namun pada saat individu mendekat nilai negatifnya menjadi semakin kuat sehingga individu kembali lagi menghindar (Morgan, 1986). Hal ini dapat menjelaskan keadaan partisipan 2 yang walaupun sudah memutuskan pergi ke Jakarta, ia masih tetap menelepon ibunya dan pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Medan dan putus kontak dengan ibunya.
Partisipan 1 terus melakukan rumination sehingga ia tetap mengingat kejadian yang telah 20 tahun berlalu dan semakin sulit forgive. Sedangkan
Partisipan 2 yang memilih pergi jauh dari abuser-nya sebagai usaha melupakan masa lalu dan menekan pikiran ruminatifnya, juga mengalami kesulitan mencapai
forgiveness. Hal ini sesuai dengan pernyataan Strelan (2006) bahwa rumination
dan usaha menekan rumination tersebut dihubungkan dengan motivasi untuk menghindar dan membalas (memperparah unforgiveness). Semakin sering individu ruminate (merenung atau mengingat-ingat transgresi dan emosi yang dirasakan), semakin sulit forgiveness terjadi.
Partisipan 2 mengalami emotional abuse (eksploitasi pada anak untuk bekerja) oleh ibunya namun, tidak memperparah unforgive-nya karena malah membantunya pergi menjauh dari abuser. Selain itu, ayah tiri II-nya juga melakukan neglect dan emotional abuse (tidak menjalankan fungsi sebagai orang tua), namun juga tidak menyebabkan unforgiveness. Ia menganggap wajar perlakuan yang diterimanya karena dirinya bukan anak kandung. Dengan kata lain, persepsi Partisipan 2 terhadap child abuse tersebut adalah positif sehingga tidak mempengaruhi dinamika forgiveness-nya (Worthington & Wade, 1999).
Disonansi emosi yang terjadi pada partisipan 2 terhadap orang tua kandung dan forgive ke ibu kandung waktu kecil dapat dikaitkan dengan pernyataan Lawler (2006) bahwa forgiveness berhubungan positif dengan seberapa penting hubungan tersebut bagi individu.
V.C SARAN
Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
A. Saran Praktis :
a. bagi partisipan penelitian
Menyadari dampak negatif unforgiveness dan manfaat melepas
unforgiveness.
Kedua partisipan sama-sama menghindar sehingga permasalahan tidak tuntas. Oleh karena itu, diharapkan kedua partisipan untuk melakukan komunikasi dengan abuser dan jika perlu dibantu oleh mediator.
b. bagi orang tua
Mengadakan komunikasi dengan anak dan melibatkan anak dalam mengambil keputusan.
Perlu adanya sikap konsisten dan penjelasan yang dapat dimengerti oleh anak agar anak paham mengapa ia menerima perlakuan tertentu.
c. bagi keluarga, masyarakat, dan pihak2 yang menangani kasus child abuse
Menjadi mediator untuk mempermudah komunikasi antara orang tua dan anak yang bermasalah.
Memberikan social support agar mereka merasa diterima sehingga dapat mencegah efek residu child abuse.
Melakukan sosialisasi tentang child abuse yang meliputi hak-hak anak dan hukum/sanksi bagi abuser yang terdapat dalam UU perlindungan anak dan UU KDRT. Sosialisasi dapat dilakukan oleh LSM, bidan dan pemuka masyarakat.
Para praktisi psikologi dapat membuat program-program intervensi bertema forgiveness untuk mengatasi efek residu child abuse.
B. Saran untuk Penelitian Selanjutnya :
Memberikan pengarahan awal mengenai child abuse agar proses wawancara lebih terarah.
Menambah metode pengumpulan data dengan observasi partisipan/non partisipan untuk melihat reaksi partisipan penelitian pada saat bertemu orang tua (abuser) nya.
Meneliti child abuse yang dilakukan oleh orang tua angkat mengingat
abuser pada kedua partisipan adalah orang tua kandung dan tiri.
Meneliti sexual abuse yang dilakukan oleh orang tua kandung.
Meneliti survivor laki-laki mengingat kedua partisipan penelitian ini adalah wanita.
Meneliti survivor yang memilih tetap tinggal bersama abuser mengingat kedua partisipan pada penelitian ini memilih menjauh dari abuser.