SILSILAH KELUARGA SITA Had
IV. B 3 OBSERVASI DAN WAWANCARA
Peneliti dan Sita membuat kesepakatan tentang pengambilan data setelah beberapa kali pertemuan. Wawancara pertama berlangsung pada pertengahan Desember 2007 dan berakhir pada akhir awal Februari 2008.
OBSERVASI
Sita memiliki tinggi sekitar 155 cm dan berat 45 kg serta berkulit terang. Tahun ini usianya memasuki 19 tahun, namun wajahnya terkesan kekanak-
kanakan dengan rambut panjangnya yang di-smoothing dan berponi serta wajahnya yang polos tanpa make-up dan selalu tersenyum. Tutur katanya halus, suaranya rendah, dan tidak banyak berbicara. Ia juga selalu menyebut dirinya dengan nama. Selama pertemuan dengan peneliti, Sita biasanya memakai baju kaos lengan pendek dan celana panjang atau celana ¾, beberapa kali ia juga memakai baju tidur atau rok selutut.
Wawancara lebih sering dilakukan di shelter LSM tempat Sita tinggal.
Shelter tersebut berupa rumah tiga kamar yang letaknya berjarak 4 rumah dari
kantor LSM. Sita menempati salah satu kamar. Di shelter tersebut ia tinggal bersama seorang adik dampingan LSM yang telah beberapa bulan lebih dulu tinggal di sana.
Wawancara pertama dilakukan pada pertemuan ke 3 setelah Sita setuju untuk diwawancarai. Setelah lembar data keluarga diisi, peneliti memulai wawancara dan Sita terlihat canggung serta pandangan matanya hanya tertuju pada data keluarga yang telah diisinya dengan tidak lengkap. Sita hanya berbicara ketika ditanya dan menjawab pertanyaan dengan jawaban yang klise serta banyak hal yang tidak diingatnya sehingga tidak banyak data yang diperoleh. Begitu pula dengan pengambilan data selanjutnya, tidak banyak data diperoleh. Peneliti berasumsi bahwa hal ini dipengaruhi oleh kurangnya proses rapport. Oleh karena itu peneliti mengadakan wawancara selanjutnya setelah beberapa minggu kemudian dan Sita memang terlihat lebih kooperatif.
Ada beberapa hal menarik selama proses wawancara. Sita terlihat sulit mengambil sikap dan sering menjawab pertanyaan dengan ‘kurang tau’, ‘kurang
ngerti’, ‘mungkin’, dan banyak kata ‘ya..’ diawal kalimat-kalimatnya. Hal menarik lain, pengambilan data terakhir dilakukan ketika Sita dalam dugaan hamil. Hasil testpack-nya negatif namun Sita sangat yakin bahwa dirinya hamil. Wawancara sempat terganggu karena Sita tiba-tiba merasa mual dan kemudian muntah-muntah. Beberapa menit kemudian, setelah meminum obat, ia meminta agar wawancara dilanjutkan. Saat bercerita ia terus menangis sehingga volume suaranya naik turun dan beberapa kali ia sempat berhenti bicara untuk mengatur napasnya. Ia juga terus memeluk tangannya, hanya melihat ke bawah dan posisi tubuhnya tidak berubah hingga akhir wawancara.
DATA WAWANCARA
Sejak masih di dalam kandungan, Sita telah ditinggal ayah kandungnya. Kedua orang tuanya berpisah setelah ayahnya ketahuan telah menikah lagi diam- diam. Ayah membawa Rio, abang kandungnya, sedangkan ia dan seorang kakak tirinya tetap bersama ibu di rumah nenek. Sejak saat itu ayahnya tidak pernah berusaha menemuinya dan ia pun tidak mengetahui tentang ayah dan abang kandungnya.
“Bapak kan punya isteri lagi. Terus, bapak pergi. Abang sita dibawa sama bapak. Itu makanya Sita gak tau kak. Sita gak pernah jumpa.. karna Sita belum lahir.”(P2.W1/hal.8/k.321-324)
“Bapak udah pergi sebelum Sita lahir. Gak ada ketemu-ketemu lagi...”(P2.W2/hal.13/k.21-23)
“…mamah anaknya memang banyak. Sita juga pertamanya gak tau kalo Sita punya abang.”(P2.W1/hal.7/k.308-310)
Usia 3 tahun, Sita juga berpisah dari ibunya karena ibunya mendapat pekerjaan di Ibu Kota. Kemudian Sita diasuh oleh neneknya. Di sana ia juga tinggal bersama kakak tiri, dan bibiknya. Sita sangat jarang bertemu ibunya karena ibunya sangat jarang pulang. Saat itu, ia belum menyadari konsep orang tua yang sebenarnya dan sudah menganggap nenek sebagai ibu yang selalu ada dan menjaganya. Ia juga hanya berinteraksi dengan orang-orang di rumah neneknya.
“Kami dulu tinggal di rumah nenek berlima...Sita, teteh, mamah, nenek, sama Bik Rina. Terus kan mamah dapat kerja. Mamah pindah. Sita di rumah nenek terus.”(P2.W4/hal.40/k.51-56)
“...Umur Sita masih 3 tahun waktu mamah pergi. Sita gak ingat. Lagian jarang jumpa sama mamah dulu. Mamah kan kerja.”(P2.W4/hal.41/k.72- 74)
“...dulu Sita dekatnya cuma sama nenek. Kalo ada apa-apa ya ke nenek...”(P2.W4/hal.42/k.121-122)
“..mungkin karna Sita masih kecil. Yang jelas Sita awal-awalnya Sita gak mikir gitu kak tentang orang tua...”(P2.W4/hal.43/k.198-200)
“...Dari kecil Sita kan udah sama nenek. Gimana ya kak..Nenek itu udah seperti ibu bagi Sita. Dulu kan waktu kecil mamah gak pernah ada. Nenek la kak yang jagain sita. Semua nenek. Nenek yang selalu ada..”(P2.W4/hal.41-42/k.110-114)
“…dari kecil memang di rumah aja...”(P2.W4/hal.44/k.244-245)
Seiring bertambah usianya, Sita mulai merasakan perbedaan antara dirinya dan anak-anak seusianya di lingkungan tempat ia tinggal. Ia mulai menyadari bahwa dirinya “tidak punya” orang tua namun belum mengerti alasannya. Ia bertanya pada neneknya tentang orang tuanya dan sejak saat itu masa kecilnya dihabiskan dengan mengkhayalkan sebuah keluarga.
“...Tapi koq ngeliat anak-anak lain rasanya gimana. Sedih...”(P2.W4/hal.43-44/k.200-202)
“Sita sering juga nanya-nanya sama nenek soal orang tua Sita. Ya..Sita tau cerita orang tua Sita dari nenek.”(P2.W4/hal.41/k.89-91)
“...waktu kecil Sita liat mereka sama orang tua..Sita berpikir juga kak koq aku gak sama orang tua?”(P2.W4/hal.43/k.180-183)
“karna Sita minder sama anak-anak di kampung, Sita jadi makin biasa main sendiri...”(P2.W4/hal.44-45/k.245-247)
“..kadang di pohon sambil ngayal... ngayalin punya orang tua.”(P2.W4/hal.45/k.255-257)
Ibunya sangat jarang pulang ke rumah nenek sehingga Sita tidak mengingat bagaimana ibunya dan hubungannya dengan ibunya saat ia masih kecil. Ibu bahkan pernah tidak pulang hampir dua tahun dan ternyata ibu sudah menikah lagi dan punya anak yang saat itu telah berusia sekitar 1 tahun. Sita bingung ketika mendengar berita yang tiba-tiba ini. Ia juga yakin keluarganya di rumah nenek mengetahui pernikahan ibu namun tidak memberitahunya dan saat ia bertanya, neneknya tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
“..Jarang. Kadang sebulan sekali, kadang tiga bulan sekali. Kadang gak pulang-pulang. Itu la kak mamah ini. Dulu sempat gak pulang sampek setahun lebih. Gak taunya udah punya suami lagi.” (P2.W4/hal.41/k.80- 84)
“…Tau-tau udah diajak nenek ke tempat mamah. Mau nengok adek katanya. Sita bingung juga. Adek yang mana lagi? Bukannya aku yang paling kecil? Rupanya mamah udah punya suami lagi. Itu pun adeknya udah 1 tahun la umurnya waktu itu kak.”(P2.W1/hal.5/k.202-207)
“Sita nanya juga sama nenek koq mamah nikah gak bilang- bilang…Nenek cuma bilang, ‘ya udah la. Yang penting sekarang kamu punya orang tua lengkap. Ada bapak ada ibu terus ada adek baru.’ Gitu aja kata nenek…Ya gak puas aja. Tapi Sita bisa bilang apa?” (P2.W1/hal.6/k.232-237)
Kemudian, ibunya mengajaknya tinggal di kota K, tempat ibu tinggal bersama suaminya. Ia merasa sedih karena harus berpisah dari nenek tapi juga senang karena akhirnya bisa tinggal dengan orang tua. Pada akhirnya, ia memilih ikut dan tinggal dengan ibunya karena adanya harapan memiliki keluarga utuh.
”Selesai kelas 1, trus naik kelas baru tinggal sama mamah lagi” (P2.W1/hal.3/k.113-114)
“Sita bingung juga...Sita gak mau pisah sama nenek Tapi Sita juga pingin tinggal sama mamah.” (P2.W5/hal.47/k.95-97)
“Mungkin karna Sita dari kecil gak kenal sama orang tuaku. Aku jadi punya harapan-harapan gitu kak. Liat anak-anak lain sama orang tuanya koq rasanya enak..”(P2.W5/hal.48/k.102-119)
Ternyata keluarga barunya tidak seperti yang diharapkannya. Ia merasa tidak dipedulikan ayah tiri dan ibunya. Ayah dan ibu juga selalu bertengkar sehingga mereka semakin jarang berada di rumah. Ia tidak tahu penyebab pertengkaran orang tuanya dan lebih memilih menghindar dari orang tua dan lebih sering berada di kamar agar tidak kena marah. Ia juga takut bertanya tentang alasan orang tuanya bertengkar.
”Kalo sama bapak tiri yang itu mamah dari dulu udah sering bertengkar. Setiap hari berantem terus.”(P2.W1/hal.9/k.382-383)
”Gak ngerti juga kak. Sita gak berani nanya-nanya…Takut kena marah. Pokoknya kalo mamah sama bapak tiri Sita udah berantem sita pergi aja jauh-jauh. Kalo pulang sekolah gitu kak, Sita biasa langsung masuk kamar aja… Soalnya kadang mamah suka marah-marah sama sita. Tiba-tiba.. Mungkin karna habis berantem itu, terus mamah emosi kan makanya marah sama sita.”(P2.W1/hal.9/k.385-390)
Sita memaklumi sikap ayah tiri yang tidak peduli padanya mengingat statusnya bukan anak kandungnya. Namun ia tidak menerima kenyataan bahwa ibu juga tidak peduli dan lebih sayang pada adik yang baru lahir sehingga saat itu
ia sangat membenci adik tirinya. Ia juga sering mengganggu adik tiri sampai menangis sehingga sering dimarahi dan dipukul ibu. Saat itu, ia mulai merindukan ayah kandungnya.
“Dulu agak nakal juga Sita Kak. Abis mamah cuma perhatiin si Hadi. Sita kan juga mau diperhatiin.”(P2.W5/hal.49/k.190-191)
“..Sampek nangis juga (adik). Abis itu (aku) kena marah la sama mamah...” (P2.W5/hal.49/k.193-194)
“Pernah juga dipukulin..”(P2.W5/hal.49/k.196)
”..Ya wajar la. Bapak tiri yang ini kan ada kerjaannya. Aku kan gak mungkin mengharapkan orang yang gak kenal sama aku tiba-tiba peduli sama aku. Lagian bapak tiri yang ini sama mamah gak akur juga. Jadi jarang. Dia pun lebih sering di luar...”(P2.W5/hal.48/k.124-129)
“Sita pun sadar diri juga kak. Kan Sita bukan anaknya. Makanya Sita pun jadi makin berpikir tentang bapak Sita yang sebenernya.”(P2.W5/hal.48/k.135-137)
Ibu dan ayah tiri bercerai sekitar 2 tahun kemudian. Sita dan kakaknya dibawa ibu kembali ke rumah nenek. Kemudian, Sita dan ibu serta kakak tirinya kembali ke rumah nenek sedangkan adik tiri dibawa ayahnya. Ia tidak tahu mengapa adik tiri dibawa ayahnya, namun ia yakin bahwa perceraian disebabkan pertengkaran yang sering terjadi. Ia hanya ikut ibunya dan tidak berani ikut campur. Sejak saat itu, sita tidak pernah lagi bertemu dengan mantan suami ibunya dan adik tirinya tersebut.
” Mereka itu udah gak cocok dari awal. Tapi gak ngerti juga kenapa Hadi dibawa bapaknya..”(P2.W1/hal.10/k.401-403)
”Sejak mamah cerai. Kami kan langsung balik ke rumah nenek. Abis itu udah gak pernah ketemu lagi...”(P2.W2/hal.14/k.56-57)
Setelah ibunya bercerai, Sita berharap ibunya kembali lagi dengan ayah kandungnya. Sita sering bertanya pada ibu tentang ayah kandungnya namun ibu tidak mau memberi jawaban dan ia malah kena marah. Ibunya juga pernah menolak mengakuinya sebagai anak kandung karena Sita terus bertanya tentang ayah kandungnya.
” Kalo mau nikah ya nikah boleh la tapi balik lagi sama bapak..”(P2.W2/hal.18/k.235-236)
”..Rupanya mamah gak suka (ditanya mengenai ayah kandung)...gak dijawab. Tapi Sita ngotot terus jadi semakin marah mamah.” (P2.W5/hal.50/k.224-228)
“Nangis juga (aku)...”(P2.W5/hal.50/k.233)
“..mamah makin marah. Pernah aku dibilang bukan anak kandung..” (P2.W5/hal.50/k.235-236)
Sita pernah pergi dari rumah setelah bertengkar dengan ibunya namun kemudian ibu menjemputnya dan mengaku salah dan Sita pun kembali ke rumah. Akan tetapi, sikap ibu kembali tidak pedulian lagi.
“Sita kan tanya mamah terus. Mamah gak mau jawab. ‘mah bener Sita bukan anak mamah?’ mamah diem aja. ‘Berarti bener Sita bukan anak kandung mamah? Iya kan? Pantes mamah gak pernah sayang sama Sita.’ Terus mamah marah..mamah nampar Sita. Terus Sita lari dari rumah.”(P2.W6/hal.53/k.112-117)
“Terus Sita dicari sama mamah. Mamah sampek nangis-nangis. Sita disuruh pulang. Terus kawan Sita la, ‘Udah la Sit, mamahmu datang tu.’ Kata kawan Sita, ‘Udah la Sit, jumpain aja mamah.’ Ya udah kujumpain mamah. Dipeluk-peluknya Sita, ‘Ya udah maafin mamah ya Sit. Mamah yang salah sama Sita. Tadi mamah becanda.’ Sita nangis la. Dipeluk-peluk sama mamah, ‘mamah minta maaf. Mamah yang salah,’ kata mamah.”(P2.W6/hal.54-55/k.166-174)
Ibu juga sering bercerita tentang masa kecil Sita dan hal ini selalu membuat Sita bahagia. Apalagi Sita jarang punya kesempatan berbicara baik-baik dengan ibunya. Sayangnya, sikap ibu tidak pernah konsisten. Saat sedang emosi ibu sering marah-marah dan tidak segan-segan memukul tapi ada kalanya juga ibu berubah baik dan mulai bercerita lagi mengenai masa-masa kecil Sita.
”..Tapi kadang kadang mau baik juga mamah kak. Nanti kalo datang baiknya sering cerita.”(P2.W6/hal.52/k.51-53)
“Dulu mamah sering ceritain aku waktu bayi gimana. ‘waktu kecil Sita tu gini..gini,’ katanya. Cerita waktu kecil cengeng suka gak bisa ditinggal nangis kalo ditinggal. Mamah sering cerita tentang waktu aku masih kecil. ‘eh, Sita dulu bandel lho suka manjat. Udah dilarang gak mau.’ Ini kak (menunjukkan bekas luka dibagian perutnya) kena paku di pohon kelapa. Masih kecil dulu Sita kak.”(P2.W6/hal.52/k.55-62)
“Ya seneng la. Jarang-jarang kan bisa ngomong sama mamah baik- baik.”(P2.W6/hal.52/k.67-68)
“Kurang tau juga kak. Kadang tiba-tiba baik. Nanti kalo emosi lagi marah. Nanti tiba-tiba baik lagi. Gitu terus.”(P2.W6/hal.52/k.71-73)
“Kadang Sita teringat..sedih Sita kak. Dulu mamah cerita gitu Sita senang kali. Percaya aja apa kata mamah. Mamah ini orangnya pinter la kak kalo bicara. Sita percaya aja kalo mamah ngomong apa..Sita percaya. Tapi Sita pikir-pikir lagi mamah gak pernah sayang sama Sita…”(P2.W6/hal./k.)
Sita terus mencari keberadaan ayah kandungnya dan mendapatkan informasi bahwa ayahnya berada tidak jauh dari kampungnya. Kemudian Sita pergi ke rumah ayah kandung diam-diam. Ia berharap ayahnya mau menerimanya dan mengajaknya tinggal bersama. Ternyata sesampai di sana, ayah malah tidak menunjukkan kepedulian sehingga membuat Sita bertanya-tanya alasannya. Sita sempat berpikir bahwa ia bukan anak ayah karena ia yakin ayahnya adalah orang tua yang sayang pada anak. Buktinya adalah ayah membawa abangnya.
”Waktu itu Sita penasaran kali. Rencananya kan mau bikin orang tua Sita rujuk lagi gitu Kak.”(P2.W5/hal.50/k.238-239)
”Waktu Sita datang Sita gak...ntah ditanya-tanyain atau gimana gitu kak. Kan biasa kalo orang tua anaknya datang, disambut atau apa la kak. Ini gak ada. Didiemin aja... (P2.W4/hal.42/k.136-139)
“..Sita waktu itu jadi bingung juga. Sita jadi ragu apa Sita memang bener anak bapak. Bapak bawa abang Sita jadi gak mungkin gak sayang anak ya kan kak? Tapi kenapa bapak gak sayang sama Sita? Jangan-jangan Sita memang bukan anaknya...”(P2.W4/hal.42/k.140-144)
“..Sita sempat juga nanya sama nenek...Memang itu bapak Sita. Orang- orang di kampung kan tau cerita mamah Sita. Gimana mamah pisah dari bapak. Dulu kan mamah sama bapak tinggalnya di situ.”(P2.W4/hal.42/k.144-150)
Saat Sita kelas 1 SMP, neneknya meninggal dunia karena sakit. Sita merasa sedih karena baginya neneklah orang yang paling perhatian padanya. Kemudian bibiknya yang saat itu telah berkeluarga pindah rumah karena tidak cocok dengan ibu.
“Kurang tau juga Sita kak. Kadang di kampung kalo sakit seringnya dibiarin aja. Gak diobatin. Gak taunya udah parah. Mau diobatin gimana..”(P2.W4/hal.41/k.102-104)
“Ya...sedih la kak...Nenek kan yang paling perhatian sama sita...” (P2.W4/hal.41/k.107-109)
“Karna nenek udah `ninggal makanya bibik pergi..Agak gak cocok sama mamah. Dari dulu. Ya..gak cocok gitu la…”(P2.W1/hal.10/k.436-437) “sering beda pendapat gitu kak. Biasa waktu ada nenek gak gitu kali. Mungkin karna ada nenek. Ya..kurang tau juga la kak.”(P2.W1/hal.10/k.141-143)
Tidak lama kemudian Sita dan kakaknya putus sekolah karena ibunya tidak sanggup lagi membiayai sekolah mereka. Kakaknya memutuskan menikah dan dibawa ke rumah suaminya. Kemudian Sita berpacaran Adon, laki-laki
berusia 23 tahun, yang bekerja di pulau Jawa dan saat itu sedang pulang kampung. Namun, hubungan mereka ditentang keluarga Adon karena adanya perbedaan usia dan karena status ibunya. Dan memang seluruh warga di kampungnya sudah memberi label buruk ibunya yang telah menikah berkali-kali.
“Soalnya dulu mamah Sita gak sanggup bayar uang sekolahnya…” (P2.W1/hal.1/k.12-13)
“Soalnya mamah Sita di kampung agak kurang baik gitu kak... Mamah kan suaminya banyak. Jadi ya..gimana la kak... Mamah di kampung itu udah dicap yang apa gitu. Jablay....”(P2.W4/hal.43/k.157-162)
Sejak putus sekolah, Sita ditugaskan mengurus rumah sementara ibunya bekerja sebagai PRT. Kemudian, ibu berencana menikah lagi dengan seorang laki- laki pengangguran dan pemabuk. Sita tidak menyetujui pernikahan tersebut namun ibunya tetap menikah juga. Ibu bahkan harus bekerja tambahan untuk membiayai kebutuhan suami barunya. Padahal dulu Sita terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada biaya.
“Gak lama Sita berhenti sekolah, mamah punya suami lagi.”(P2.W1/hal.10/k.409-410)
“Mamah kerjanya abis di rumah terus bantu-bantu ntah nanam jagung atau apa la kak di ladang orang. Kerjaan di sana terbatas kak. Kalo gak melaut ya bertani. Atau kayak mamah la bantu-bantu di rumah orang.”(P2.W2/hal.16/k.175-179)
“Sita gak setuju juga sebenernya sih. Sita pernah bilang juga supaya mamah gak kawin lagi. Tapi mamah udah mau..”(P2.W2/hal.18/k.231- 233)
“Dia (ayah tiri) kan gak ada kerjanya. Di rumah aja. Paling kalo dia lagi sama kawan-kawannya la kak…” (P2.W2/hal.19/k.298-300)
Ibu juga mencicil sepeda motor agar ayah tiri dapat mencari penghasilan tambahan dengan mengojek namun kenyataannya ayah tidak pernah benar-benar
mencari uang. Ayah tiri hanya meminta uang pada ibu untuk berjudi dan mabuk- mabukan dan jika ibu tidak memberikan uang sesuai dengan yang dimintanya, ayah akan marah pada ibu sedangkan ibu hanya diam saja. Setelah itu, Sita lah yang menjadi objek pelampiasan ibunya.
“Bapak tiri yang ini suka mabuk gitu. Kan minta-minta uang la sama mamah. Dia kan gak ada kerjanya. Ya kadang gak sesuai sama dia nanti mau sampek ngamuk.”(P2.W6/hal.51/k.8-11)
“Berantem kalo uang dari mamah kurang. Tapi kalo enggak ya gak ada. Paling gimana ya bapak gimana orang ya tau la kakak kayakmana orang kalo pulang teler. Seperti itu la terus. Dia pergi main sama kawan- kawannya. Pulang teler. Mamah diem aja.”(P2.W6/hal.51/k.25-29)
“Kan udah dicicil tu kereta sama mamah. Tapi mana ada. Cuma makan tidur pergi sama kawan-kawannya minta duit sama mamah. Gak ada kerjanya apa-apa kak. Tapi mamah diem aja. Terakhir aku yang sering kena marah.”(P2.W6/hal.52/k.34-38)
Tujuh bulan setelah menikah, ibu melahirkan adik perempuan tiri. Karena terlalu cepat, Sita curiga akan alasan ibunya menikah. Tidak berapa lama kemudian, ibu kembali bekerja untuk menopang kehidupan keluarga sehingga Sita ditugaskan ibu menjaga adik.
“Tau-tau aja..ini mamah udah nikah baru aja…tau-tau tujuh bulan udah ngelahirin. Ntah la ya... Ya kan, baru nikah tujuh bulan..udah ngelahirin...”(P2.W2/hal.18/k.269-281)
”Mamah abis ngelahirin berapa minggu gitu kak langsung kerja lagi. Soalnya kan gak mungkin mamah gak kerja. Kami mau makan apa?”(P2.W2/hal./k.)
”..Sita memang dari putus sekolah dikasih tugas ngurus rumah sama mamah. Jadi Sita di rumah terus jaga adek. Waktu itu kan si Tika baru lahir. Mamah kerja. Ya sita la yang jaga.”(P2.W2/hal.19/k.293-296)
memilih jalan hutan dan berhenti tiba-tiba dengan alasan mau buang air kecil. Sesaat kemudian ayah tiri kembali dan mengajak Sita ketengah hutan. Sita menolak dan memaksa pulang namun ayah tiri bersikeras dan memperkosanya di tengah hutan. Setelah itu, mereka pulang dan sita diperingatkan agar tidak mengadu pada ibunya. Sejak saat itu Sita berusaha menghindari ayah tiri karena ia yakin ayah tiri akan memperkosanya lagi.
“terus dia tiba-tiba berhenti. Kata aku, ‘ngapain?’ rupanya dia mau kencing katanya.”(P2.W2/hal.15/k.95-96)
“Kan di sana ada gubuk-gubuk gitu. Aku diajak kesana. Aku gak mau. Tapi dia bilang, ‘udah ayok ikut sama bapak aja..’ Sita gak mau. Sita mau pulang aja. ‘Kalo mau ke sana pergi aja sendiri,’ Sita bilang gitu sama dia…Sita terus minta pulang tapi dia gak mau. Aku mau pulang. Tapi dia diem aja. Dia kan merokok…terus dia matikan rokok. Dia dekatin aku. Terus aku ditariknya ke gubuk tadi. Aku bilang aku gak mau tapi aku ditarik terus. Aku dipaksa terus.”(P2.W2/hal.15/k.101-111)
“Selama perjalanan pulang dibilangnya, ‘jangan bilang sama mamah ya.’”(P2.W2/hal.16/k.141-142)
“semenjak yang di hutan waktu itu Sita gak mau lagi dekat-dekat sama dia. Sita tau pasti dia mau ngapa-apain lagi.”(P2.W2/hal.19/k.300-302)
Perkosaan kembali terjadi kedua terjadi saat Sita sedang sendirian dirumah bersama ayah tirinya. Ibunya sedang bekerja sedangkan ia memang selalu ditugaskan mengurus rumah dan menjaga adik. Sita berusaha memberitahu ibunya namun ibunya tidak percaya dan malah tersinggung.
“..Di rumah.”(P2.W2/hal.16/k.161)
“Waktu itu memang lagi gak ada orang. Mamah kan kerja..”(P2.W2/hal.19/k.292-296)
“Dulu Sita cerita juga soal gimana bapak. Tapi mamah gak percaya…Sita