• Tidak ada hasil yang ditemukan

B 4 Dampak Child Abuse pada Adult Survivor

Orang dewasa yang pernah mengalami child abuse sering disebut sebagai

survivor (Herman, 1997), abuse survivor (Crosson, 2002), atau adult survivor

(Biere, 1992).

Kata survivor sendiri berarti orang yang selamat. Survivor mengacu pada orang yang selamat atau berhasil bertahan hidup dari peristiwa abusive. Akan tetapi, walaupun telah selamat, mereka masih harus berjuang melawan after-effect setelah mereka dewasa (Crosson, 2002). Tanpa intervensi yang tepat, anak yang merasakan penderitaan akan tumbuh menjadi orang dewasa yang menderita juga. Mereka menjalani hidup mereka dengan membawa trauma dan dampak negatif jangka panjang dari pengalaman mereka (Biere, 1992).

Crosson (2002) mengatakan bahwa efek residu yang dialami survivors hampir sama baik untuk neglect maupun abuse, antara lain:

a. Kepercayaan (trust)

Kepercayaan merupakan aspek dasar dari sosialisasi, dan perkembangan kemampuan mempercayai dimulai pada tahun pertama kehidupan. Anak kemungkinan pada awalnya tidak sadar bahwa ia tidak menerima pengasuhan yang baik dari orang tua, namun sebagai orang dewasa yang mulai menyadari bahwa orang tuanya secara emosional tidak ada, atau kalaupun ada, dirasa kurang atau tidak konsisten. Sulitnya mempercayai orang lain merupakan manifestasi dari pemahaman anak bahwa kehidupan dan semua yang hidup di dunia ini tidak dapat diprediksi. Anak juga belajar bahwa hidup yang tidak dapat diprediksi ini menyakitkan dan tidak

dapat dipercaya. Untuk menghindar dari hidup yang menyakitkan ini, anak memilih tidak mempercayai orang lain dan mengisolasi/menarik diri. b. Merasa dikhianati

Sebagai seorang anak, individu mempercayai orang tua dan merasa bahwa kepercayaan ini dihargai dan dimengerti, namun menyakitkan dan membingungkan bagi anak ketika menyadari bahwa ia digunakan untuk kepentingan abuser. Anak tidak hanya tumbuh dewasa sebagai orang yang sulit mempercayai, namun juga merasa dikhianati oleh orang tua yang telah diberikannya kepercayaan. Pada orang dewasa, pengkhianatan dicerminkan dengan ketidakmampuan mempercayai orang lain, diri sendiri, dan lingkungannya.

c. Rasa marah

Rasa marah dan khayalan untuk membalas dendam merupakan respon normal pada anak yang mengalami child abuse (Herman, 1997). Kemarahan ini merupakan akumulasi dari perasaan dikhianati, dan ketidakberdayaan yang kemudian dapat menjadi amukan yang kuat setelah anak dewasa. Gagalnya terpenuhi kebutuhan di masa kecil merubah rasa marah dan frustrasi menjadi perilaku agresif sehingga kemarahan yang dulunya hanya ada dalam batin, diproyeksikan ke luar. Agresi juga dapat disebabkan oleh proses belajar dari cara orang tua menyelesaikan masalah. Agresi dapat ditujukan ke benda-benda, orang lain, bahkan ke diri sendiri.

d. Harga diri rendah

Anak yang di-abuse mengasumsikan bahwa hukuman yang mereka terima disebabkan oleh perilaku mereka yang salah, tanpa melihat kebenarannya. Apalagi kalau orang tua secara langsung mengatakannya. Mereka sering memandang dunia dari dua sisi, sebagai ‘hitam’ dan ‘putih’ atau ‘baik’ dan ‘buruk’. Mereka menganggap orang tua adalah sosok yang baik dan kalau orang tua itu baik, maka merekalah yang buruk dan menyebabkan segala kejadian buruk terjadi. Perasaan ini terus mengikuti anak hingga ia dewasa dan mewarnai perilaku mereka. Mereka percaya bahwa tidak seorangpun akan menemukan kebaikan dalam diri mereka karena orang tua mereka juga tidak mampu. Beberapa survivors menggunakan humor sebagai pembenaran keberadaannya dan melindungi diri mereka dari depresi akibat tidak dapat menjadi lebih baik.

Orang dewasa korban sexual abuse memiliki harga diri rendah disebabkan rasa malu, rasa bersalah dan stigmatisasi atau label buruk yang diberikan orang lain.

e. Ketidakseimbangan hubungan

Kegagalan mempercayai dan rendahnya self-esteem ditambah dengan kemarahan yang di-repress atau diekspresikan secara agresif, menghambat kemampuan survivor untuk membentuk hubungan yang memuaskan dengan orang lain. Mereka tidak pernah belajar strategi coping dan

problem solving yang baik, padahal hal tersebut penting dalam membina

disebabkan karena kurangnya stimulasi sosial dari orang tua, khususnya pada kasus pengabaian. Mereka juga memiliki harapan yang tidak realistis bahwa semua orang harus memenuhi apa yang dia butuhkan sehingga mereka cenderung tidak pernah puas dengan orang lain.

f. Penyalahgunaan zat

Obat-obatan terlarang, atau alkohol digunakan sebagai pelarian, atau sebagai pengganti interaksi sosial yang sulit mereka bina. Penggunaan zat- zat ini dapat disebabkan karena modelling, tekanan teman sebaya, dan sebagainya. Berns (2004) mengemukakan bahwa kurangnya pengasuhan yang normal selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan individu mengganti kebutuhannya akan cinta dan rasa aman yang hilang dengan obat-obatan terlarang, alkohol, makanan, objek material, seks, dan judi. g. Masalah fisik

Pengasuhan yang salah juga berdampak buruk bagi fisik anak. Kekerasan fisik dapat menyebabkan kecacatan seperti patah tulang atau kerusakan atau kehilangan organ tubuh. Kekerasan seksual dapat mengakibatkan kerusakan organ reproduksi, tertular penyakit menular seksual, dan kehamilan. Anak yang mengalami pengabaian dan kekerasan emosi cenderung tumbuh dengan buruk dan mengalami masalah medis karena kekurangan nutrisi akibat tidak diberi makan atau karena gangguan makan (Berns, 2004). Selain itu, masalah fisik juga disebabkan karena penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol, dan tidak jarang masalah fisik ini muncul sebagai usaha mencari perhatian.

h. Trauma

Trauma fisik dapat berupa bekas luka atau kecacatan permanen yang dapat berimplikasi ke psikis. Trauma psikis merupakan trauma karena mengalami peristiwa yang menyakitkan hati (misalnya child abuse). Anak yang mengalami child abuse belajar mengenal situasi terjadinya peristiwa

abusive, dan ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang tua – pada situasi dan

ekspresi bagaimana orang tua akan memukul atau marah. Proses belajar ini kemudian digeneralisasikan ke semua orang dan situasi. Mengalami kekerasan seksual atau kekerasan fisik membuat anak takut akan sentuhan. Sentuhan sering mengingatkan mereka akan peristiwa abusive yang pernah mereka alami. Tanpa adanya sentuhan pun peristiwa tersebut dapat muncul kembali dalam mimpi bahkan setelah anak dewasa.

Berikut ini adalah skema paradigma penelitian yang menggambarkan dinamika forgiveness pada orang dewasa yang pernah mengalami child abuse, dibuat sesuai dengan teori proses forgiveness – unforgiveness oleh Worthington & Wade (1999) :

(-) (+)

(+) (-)

HUB. ORANG

Dokumen terkait