membuat Al-Mahdi murka. Al-Mahdi lalu mencarinya untuk
memberikan hukuman sehingga Sufyan bersembunyi di
kota Makkah. Dia juga bersembunyi dari kalangan manusia.
Selama beberapa hari dia tertimpa kemiskinan dan kesempitan yang teramat sangat. Pada saat kemiskinan dan kegalauan ini
menimpanya, saudari perempuannya dari Kufah mengutus Abu Syihab Al-Hannth yang menjadi sahabat akrabnya untuk memberikan sekantong kue ka'ak dan khusykaranj.”
Sampailah Abu Syihab Al-Hannath di kota Makkah.
Dia lalu bertanya tentang keberadaan Sufyan. Dikatakan
kepadanya bahwa kemungkinan Sufyan berada di belakang
Ka'bah di sebelah bab Al-Hannathin.
Abu Syihab lalu mengisahkan, Aku lalu menemukannya di
sana dalam keadaan sedang tidur telentang. Aku lalu memberi salam kepadanya, tetapi dia tidak bertanya kepadaku dan
tidak menjawab salamku, tidak sebagaimana yang aku kenal sebelumnya. Aku lalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya
saudari perempuanmu mengutusku untuk membawakan
kepadamu sekantong ka'ak dan khusykananj.” Dia lalu berkata,
“Cepat berikan kepadaku.” Dia lalu bangkit untuk duduk.
Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, aku datang menemuimu sedangkan aku adalah sahabat akrabmu, kemudian aku memberi salam kepadamu tetapi engkau tidak
menjawab salamku. Namun ketika aku kabarkan kepadamu bahwa aku mambawa sekantong ka'ak engkau langsung
duduk dan berbicara kepadaku."
19 Khuskananjadalahroti kering yang ukurannya kecil. Katakhuskanarj tersusun dari dua kalimat berbahasa Persia yaitu nanak yang huruf kafnya diganti dengan huru! jim ketika diucapkan denganbahasa Arab yang maknanya adalah roti kecil Sedangkan kata yang keduaadalah khusyk yang maknanya adalah kering. Hal ini dikatakan oleh guruku Habiburrahman Al-A'zhami, semoga Allah menjaganya.
Kisah-kisah Para Ulama dalam Menuntut Uma 97
Dia menjawab, “Wahai Abu Syihab, janganlah engkau
mencelaku. Sebab, selama tiga hari aku sama sekali tidak makan!” Abu Syihab mengatakan; Aku lalu memaklumi
kondisinya.
87 Abu Nubatah Al-Mishri dalam Sarh Al-Uyun fi Syarh
Risalah Ibnu Zaidun, halaman 228, menyebutkan
biografi Ibrahim Sayyar An-Nizham Al-Bashri Al-Mu'tazili
yang meninggal dunia pada tahun 221 H dalam usia 36 tahun.
Dia adalah salah seorang yang jenius di dunia. Orang yang oleh Al-Jahizh —yaitu orang yang sudah terkenal dengan
kejeniusannya — dikatakan bahwa orang-orang dahulu
mengatakan, setiap seribu tahun akan ada seorang laki-laki yang tidak ada tandingannya. Apabila perkataan itu benar
maka Ibrahim An-Nizham termasuk dari laki-laki tersebut.
Ibnu Nubatah mengatakan bahwa Al-Jahizh mengisahkan;
Suatu hari aku dan Ibrahim An-Nizham berdiskusi mengenai
hadits ath-thayyarah (ramalan sial). Dia berkata kepadaku,
“Aku akan menceritakan kepadamu bahwa aku pernah
benar-benar kelaparan dan hampir-hampir makan lumpur.
Aku mengalami hal itu sampai aku mulai berpikir ulang. Aku mencoba untuk mengingat-ingat apakah ada laki-laki yang
bisa memberiku makan siang atau makan malam? Tetapi aku
tidak menemukannya! Aku sebelumnya memiliki jubah dan
gamis, kemudian aku jual gamis tersebut!
Aku lalu menuju pasar Al-Ahwaz tetapi tidak ada seorang
pun yang aku kenal. Hal itu tidak lain karena aku merasa bingung dan galau. Aku lalu menuju dermaga tetapi aku tidak mendapatkan perahu di sana, sehingga aku merasa sial.
Selanjutnya aku melihat perahu yang bagian depannya ada
lobang dan kayunya telah patah, aku pun merasa sial. Aku
lalu berkata kepada pengemudi perahu itu, “Bisakah engkau membawaku?” Dia menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “Dawadadz.” Nama itu menurut bahasa Persia berarti nama setan. Aku lalu naik perahu itu,
dan merasa sial.
Ketika aku sudah hampir sampai di dermaga, aku berteriak, “Wahai para tukang panggul.” Saat itu aku memakai
selimut tua yang sudah usang, penutup kepala yang kusam,
dan beberapa barang yang aku butuhkan. Tukang panggul pertama yang menjawab seruanku adalah seorang yang
buta! Aku katakan kepada pemilik sapi yang sedang berdiri,
“Berapa aku harus membayar untuk menyewa sapimu
sampai ke daerah Al-Khan?” Ketika dia mendekat ternyata
sapi itu tanduknya pecah, sehingga kesialan demi kesialan aku rasakan. Dalam hati aku berkata, “Lebih baik aku pulang saja.” Aku lalu ingat terhadap kebutuhanku jangan sampai aku makan lumpur. Dalam hati aku berkata, “Siapa nanti yang,
akan mengurusku jika aku mati?”
Ketika aku sudah berada di Al-Khan dan aku kebingungan
atasapa yang harus kuperbuat, tiba-tiba aku mendengar orang
mengetuk pintu dimana aku tinggal. Aku berkata, “Siapa orang ini?” Orang yang mengetuk pintu berkata, “Dia seorang
laki-laki yang ingin bertemu denganmu.” Aku berkata, “Siapa?
Aku?" Dia berkata, “Ya, Ibrahim bin Sayyar An-Nizham.” Aku berkata, “Apakah dia musuh sultan ataukah utusan sultan?”
Aku lalu bergegas membukakan pintu untuknya. Orang itu lalu berkata, “Aku diutus oleh Tbrahim bin Abdul Aziz untuk menemuimu. Dia mengatakan kepadamu, ‘Seandainya
Kisah-kisah Para Ulama dalam Menuntut Uma 99
kita pernah berselisih paham — dalam pendapat ataupun
dalam urusan madzhab—maka setelah peristiwa itu aku merujuk untuk kembali kepada akhlak mulia dan kebebasan.
Aku pernah melihatmu ketika sedang lewat dalam kondisi
yang memprihatinkanku. Sudah semestinya ada keperluan sehingga engkau pergi dari negerimu. Apabila kamu mau, maka kamu boleh tinggal di tempatmu ini selama sebulan atau
dua bulan, mudah-mudahan aku bisa mengirimimu sesuatu
yang bisa mencukupimu selama engkau tinggal. Apabila engkau mau pulang ke negerimu maka ini ada liga puluh dinar. Ambil dan pulanglah. Engkau berhak untuk menerima
ini semua.”
Ibrahim mengatakan; Sungguh sesuatu yang membuat aku merasa surprise. Pertama, selama hidupku aku tidak pernah
memiliki uang sampai tiga puluh dinar, Kedua, keberadaanku
dan kepergianku dari keluarga belum lama. Ketiga, menjadi terang bagiku bahwa ath-thayyarah adalah sesuatu yang batil.
Penulis (Abdul Fattah) berkata, ada yang keempat —dan
yang keempat ini menurutku lebih dari ketiga hal tersebut—
yaitu kecerdasan yang tinggi dan kepahaman yang pokok atas akhlak, kebebasan, dan kemanusiaan. Perbedaan pendapat
dan madzhab antara Ibrahim An-Nazham dengan Ibrahim bin Abdul Aziz tidak menyebabkan Ibrahim bin Abdul Aziz
mengabaikannya ketika dalam keadaan kemiskinan bahkan dia
memberikan pertolongan dan bantuannya sehingga keduanya
berjauhan karena Allah, yaitu karena perbedaan pendapat dan pandangan, sedangkan keduanya bersama karena Allah
disebabkan untuk menjaga hak-hak manusia dan akhlak mulia.
Jadi, apa yang keduanya lakukan semata-mata karena Allah.
Itulah ajaran Islam. Suatu hak tidak mencegah dari hak yang
lain. Sungguh indah pemahaman terhadap syariat dan hukum- hukumnya, yaitu ketika menempatkan syariat dalam kondisi senang maupun murka, terhadap kawan ataupun lawan. Tidak
ada pengurangan dan kezhaliman sedikit pun.
Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam kitab Tadzkirah Al-
88 Huffazh, 3/ 973-974 tentang biografi Imam bin Al- Mugri' Muhammad bin Ibrahim Al-Ashbihani yang dilahirkan
pada tahun 285 H dan meninggal dunia pada tahun 381 H.
Diriwayatkan dari Abu Bakar bin Ali dia mengatakan bahwa Ibnu Al-Mugri' mengatakan: Aku, Ath-Thabarani, dan
Abu Syaikh — Ibnu Hayyan— berada di Madinah. Pada suatu hari, kami kehabisan bekal sehingga kami berpuasa pada hari
itu dan hari berikutnya.
Ketika tiba waktu isya, aku datang ke kuburan dan
berkata, “Wahai Rasulullah, kami lapar!” Ath-Thabarani berkata, “Duduklah, ada kalanya kita mendapatkan rezeki atau kita akan mati!” Aku dan Abu Syaikh lalu bangkit untuk
melakukan shalat. Tiba-tiba ada seorang Alawi yang berada