kepadaku, “Bacalah surat Bara'ah.” Aku lalu membaca hingga
firman Allah & “Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka
bumi selama empat bulan.” (At-Taubah: 2) Aku lalu membacanya
dan aku hitung dari mulai mimpi tersebut sudah empat bulan,
maka Allah membebaskanku.
Dalam kitab Tadzkirah Al-Huffazh, 3/973 disebutkan
26 tentang biografi Ibnu Al-Mugri" yaitu Muhammad bin Ibrahim Al-Ashbihani yang meninggal dunia pada tahun 381 H. Dia adalah seorang imam yang suka melakukan perjalanan,
hafal hadits dan terpercaya. Abu Thahir Ahmad bin Mahmud
mengatakan, Aku mendengar Ibu Al-Mugri berkata, “Aku
berkeliling ke Timur dan ke Barat sebanyak empat kali.”
Selanjutnya Al-Hafizh Adz-Dzahabi mengatakan: Ada
dua orang yang meriwayatkan dari Ibnu Al-Mugri' bahwa
dia berkata, “Aku berjalan disebabkan naskah Al-Mufadhal
bin Fadhalah Al-Mishri sebanyak tujuh puluh marhalah.
Padahal seandainya naskah itu diajukan kepada tukang roti untuk ditukar dengan sepotong roti maka dia tidak akan mau menerimanya. Aku pernah masuk ke Baitul Maqdis sebanyak sepuluh kali.” Jangan lupa bahwa negaranya berada
di Asfahan.
Da Adz-Dzahabi juga menuturkan dalam Tadzkirah Al-Huffazh, 3/1032, mengenai biografi
Abdullah bin Mandah yang bemama Muhammad Ishaq. Dia
dilahirkan pada tahun 310 H dan meninggal dunia pada tahun
6 Para ahli hadits biasa menyebut kata naskah atau an-nuskiah yang artinya adalah sekumpulan hadits yang diriwayatkan olehseorang guru dan kumpulan
tersebut dikenal dan masyhur dengan nama guru tersebut.
Kisah-kisak Para Ulama dalam Kenuntut Ina 33
395. Adapun jumlah syaikh yang dia dengarkan dan dia ambil
ilmunya ada seribu tujuh ratus syaikh,”
Sekembalinya dari perjalanan yang panjang, dia membawa kitab beberapa muatan sehingga ada yang mengatakan sampai empat puluh muatan. Aku belum pernah mendengar ada seseorang dari umat ini yang mendengar sebanyak yang dia dengar dan mengumpulkan sebanyak yang dia kumpulkan.
Dia adalah penutup orang-orang yang berkelana dan satu-
satunya yang memperbanyak mengumpulkan hadits. Disertai
pula hapalannya, pengetahuannya, kejujurannya, dan
banyaknya karyanya.” Ja'far Al-Mustaghfari mengatakan;
Aku bertanya kepadanya, berapa banyak engkau mendengar dari syaikh?” Dia menjawab, “Lima ribu manna.” Adapun satu manna setara dengan sepuluh juz besar.
Awal perjalanan yang dilakukannya terjadi sebelum tahun.
330 H yaitu ke Naisabur. Al-Hakim berkata, “Aku bertemu
dengannya di Bukhara tahun 361 H dan dia telah mendapatkan tambahan yang jelas. Kemudian dia mendatangi kami di Naisabur pada tahun 375 ketika pulang ke tanah airnya.”
Berarti dia melakukan perjalanan pada saat umumnya dua puluh tahun dan kembali kelika umurnya enam puluh lima
tahun. Jadi, perjalanan yang dilakukannya selama 45 tahun.
Ibnu Mandah berkata, “Aku berkeliling ke Timur dan Barat sebanyak dua kali.” Abu Zakariyya bin Mandah berkata,
7 Al-Hafizh Al-lragi dalam Syarh Al-Fiyyah, 2/233 dalam mensyarahi bait-bait tentang adab-adab pencari hadits, dia berkata, “Ada yang disifati memiliki banyak guru yaitu Sufyan Als-Isauri, Abu Dawud Ath-Thayalasi, Yunus bin Muhammad Al-Muaddib, Muhammad bin Yunus Al-Kudaimi, Abu Abdullah bin Mandah, Al-Gasim bin Dawud Al-Baghdadi. Diriwayatkan bahwasanya dia berkata, Aku menulis dari enam ribu syaikh.”
“Suatu ketika aku bersama pamanku Ubaidillah berada di jalan menuju Naisabur. Ketika kami sampai di Sumur Majjah,
pamanku berkata kepadaku, “Dahulu aku berangkat bersama
rombongan ke Khurasan bersama ayahku. Ketika sampai di sini tiba-tiba kami bertemu dengan empat puluh muatan yang penuh. Kami menyangka bahwa itu adalah pakaian. Ternyata di sana ada sebuah tenda kecil yang di dalamnya terdapat seorang syaikh. Ternyata itu adalah ayahmu!
Sebagian di antara kami bertanya kepadanya, “Apakah
isi muatan ini?” Dia menjawab, “Ini adalah perkakas yang orang pada zaman sekarang tidak menyukainya. Ini adalah
hadits Rasulullah #£.” Kemudian pamanku berkata, “Dahulu
aku berangkat bersama rombongan dari Khurasan dan aku membawa dua puluh muatan berisi kitab. Kemudian kami
beristirahat di dekat sungai karena mengikuti apa yang lelah
dilakukan oleh ayahmu."
Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam Tadzkirah Al-Huffazh, 2 8 3/1119, menyebutkan tentang biografi Abu Nashr As-
Sajzi, dalam perkataannya, “Dia adalah Al-Hafizh sekaligus
imam dalam bidang as-sunnah, Dia adalah Ubaidillah bin Sa'id
bin Hatim Abu Nashr As-Sajzi yang meninggal dunia pada
tahun 444 H. Dia termasuk orang yang paling hafal hadits
pada zamannya. Dia berkeliling ke seluruh penjuru dunia
untuk mencari hadits.”
Al-Hafizh Abu Ishag Al-Habbal berkata, “Suatu hari aku berada di dekat Abu Nashr As-Sajzi. Tiba-tiba pintu
diketuk. Aku lalu berdiri dan membukakan pintu. Ternyata yang masuk adalah seorang perempuan. Dia mengeluarkan
kantong yang isinya seribu dinar. Dia meletakkanya di
Kisah-kisah Para Ulama dalam Kenuntut Ina 35
hadapan syaikh dan berkata, “Infakkanlah terserah menurut pendapatmu.” Dia bertanya, “Apa maksudnya?” Perempuan itu berkata, “Nikahilah aku. Sebenarnya aku tidak ingin
menikah, tetapi aku hanya ingin melayanimu saja,” Abu Ishaq lalu memerintahkan perempuan itu untuk membawa kembali kontong tersebut beserta isinya dan meninggalkannya.
Ketika perempuan itu sudah pergi, Abu Ishaq berkata,
“Aku keluar dari Sijistan dengan niat untuk mencari ilmu.
Apabila aku menikah berarti aku tidak lagi dinamakan sebagai
pencari ilmu. Aku sama sekali tidak ingin mendahulukan sesuatu atas pahala mencari ilmu.”
Al-Hafizh Abu Sa'ad As-Samman Ar-Razi yang
29 meninggal dunia pada tahun 445 H yaitu salah seorang
ahli hadits, ahli nasab, ahli fikih, ahli qiraat, dan ulama terkemuka. Dia telah berkeliling dunia dari belahan Timur hingga belahan Barat dengan berjalan kaki. Dia memiliki 3600 syaikh. Semoga Allah merahmatinya.
Al-Hafizh Al-Qurasyi dalam kitab Al-Jawahir Al-Mudhiyah fiThabagat Al-Hanaftyah, 1/156 menuturkan tentang biografinya,
“Dia adalah Abu Sa'ad As-Samman Isma'il bin Ali bin Al- Husain bin Zanjuwih Ar-Razi, seorang yang hafal hadits, zuhud. Dia termasuk guru aliran Muktazilah, ahli fikih, ahli kalam, dan ahli hadits di kalangan Muktazilah. Dia juga imam tanpa ada yang mendebatnya dalam bidang ilmu giraat, hadits, pengelahuan lenlang perawi hadits, nasab, faraidh, hisab, syarat-syarat, dan sesuatu yang ditimbang.
Dia termasuk imam dalam fikih madzhab Abu Hanifah &
dan termasuk pengikut madzhab Hanafi. Dia juga mengetahui perbedaan pendapat antara Abu Hanifah dan Asy-Syafi'T
— semoga Allah merahmati keduanya — fikih madzhab Zaidiyah, dan ilmu kalam. Dia pernah haji dan berziarah ke makam Nabi & dan masuk ke Irak — negaranya adalah Ar-
Rayy- yaitu daerah Khurasan yang ada di sudut Timur. Dia
pernah berkeliling ke Syam, Hijaz, wilayah bagian Barat dan menyaksikan para perawi hadits dan para syaikh. Dia pernah
membaca dari tiga ribu enam ratus syaikh pada zamannya. Di
akhir usianya, dia menuju ke Asbihan untuk mencari hadits.
Dia pernah berkata, "Barangsiapa yang belum menulis hadits maka belum pernah mencicipi manisnya Islam.”
Pada akhir pujiannya dikatakan, “Sungguh tidakada orang
seperti dirinya. Meskipun dia memiliki keutamaan-keutamaan tersebut, tetapi dia juga seorang yang zuhud, wara', gemar shalat malam, bersungguh-sungguh, ahli puasa, ahli ibadah, dan senantiasa ridha. Tujuh puluh empat tahun lamanya dia tidak pernah meletakkan jarinya pada tempat makanan orang lain —maksudnya tidak menyusahkan orang lain — dan tidak ada orangyangmemberikan pertolongan kepadanya baik pada waktu di rumah maupun dalam perjalanan jauh.
Dia tinggalkan kitab-kitab yang dia kumpulkan selama hidupnya sebagai wakaf untuk kaum muslimin dan sebagai peninggalan dari ulama salaf dan khalaf. Dia juga menulis banyak kitab. Dia terus mencari ilmu dan meninggal dunia dalam perjalanan mencari ilmu dalam keadaan tersenyum seperti orang hilang yang kembali kepada keluarganya dan seperti raja yang kembali kepada kerajaannya. Dia meninggal
dunia di Rayy dan dimakamkan di sana pada tahun 445 H.
Semoga Allah merahmatinya.
Kesah-kisak Para Ulama dalam Menuntut Uma 37
Ibnu Khallikan dalam kitabnya, Wafayat Al-A'yan, 30 2/233, menyebutkan biografi Abu Zakariya Yahya bin Ali At-Tibrizi yang dikenal dengan Al-Khathib At-Tibrizi yang meninggal dunia pada tahun 502 di Baghdad. Ibnu Khallikan
berkata, “Dia memiliki pengetahuan sempurna tentang sastra,
yaitu nahwu, lughat dan lainnya. Dia membaca dari Abu Al- Ala' dan lainnya dari para ahli sastra.
Salah satu penyebab dia menghadap Abu Al-Ala" Al-Ma'ri
adalah suatu ketika dia mendapatkan satu naskah dari kitab At-Tahdzib yang menerangkan ilmu lughat karya Abu Manshur Al-Azhari dalam beberapa jilid. Dia ingin mentahgig kitab
tersebut dan mengambil ilmu dari ulama yang alim terhadap
ilmu lughat. Kemudian dia ditunjukkan untuk menemui Al-Ma'ri. Dia lalu menjadikan kitab itu pada sebuah wadah kemudian dibawanya di atas bahunya dari daerah Tibriz
sampai ke Al-Ma'arah. Dia tidak punya uang untuk menyewa hewan tunggangan sehingga wadah itu dipanggulnya berjalan
kaki sehingga keringat bercucuran dari punggungnya dan membuatnya basah kuyup. Saat itu dia berada di daerah
Baghdad. Orang yang tidak mengetahuiapa yang sebenarnya terjadi akan menyangka bahwa dia basah karena tenggelam,
padahal itu adalah keringat dari Al-Khathib At-librizi.”
Semoga Allah merahmati Imam Abu Al-Faraj