• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Barangsiapa yang menginfakkan masa mudanya untuk

ilmu maka pada masa tuanya dia akan dipuji. Dia akan

memanenapa yang ditanamnya, merasakan lezat atas apa yang telah dikumpulkannya dan sama sekali tidak akan kehilangan

atas kelezatan-kelezatan badan yang pernah hilang darinya.

Dia juga akan mendapatkan kelezatan berupa ilmu serta kelezatan dan mencari ilmu yang pernah dicita-citakan ketika

dia mendapatkan apa yang dicita-citakannya tercapai. Bahkan,

hal tersebut bisa lebih baik daripada apa yang didapatkannya, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair,

Aku bergetar ketika cita-citaku tercapai

Bahkan terkadang impian itu lebih manis daripada apa yang didapatkan

Aku merenungi keadaan diriku sendiri dibandingkan

dengan para keluargaku. Mereka menghabiskan umurnya

untuk dunia sementara aku menghabiskan masa kecil dan masa muda untuk mencari ilmu. Aku merasa tidak kehilangan sesuatu yang seandainya aku meraihnya, niscaya aku akan

menyesalinya. Ternyata penghidupanku di dunia lebih baik

daripada penghidupan mereka. Begitu pula derajatku di antara manusia lebih tinggi dibandingkan derajat mereka. Sedangkan

pengetahuan yang aku peroleh tentang ilmu tidak ternilai harganya.

Iblis berkata kepadaku, "Apakah engkau lupa terhadap kesusahanmu dan keberadaanmu yang begadang tiap

malam?” Aku katakan kepadanya, “Wahai makhluk bodoh,

terpotongnya jari jemari tangan tidak terasa ketika melihat Yusuf, dan tidak ada jalan yang panjang jika jalan itu bisa menyampaikan kepada teman akrab.

8 Silakan membaca kisah para perempuan yang mengiris-inis jari jemarinya sendiri karena melihat ketampanan Nabi Yusuf st —pent.

Kisah-kisah Para Ulama dalam Menuntut Uma 39

Semoga Allah membalas perjalanan ini dengan kebaikan

Meskipun harus membiarkan tunggangan menjadi seperti

wadah air?

Selanjutnya kisah kedua tentang Muhammad bin 32 Thahir Al-Magdisi pada halaman 114 bahwasanya dia

pernah mengalami kencing darah sebanyak dua kali ketika

mencari ilmu. Sebab, dia harus menempuh perjalanan yang

sangat jauh di hari yang sangat panas sehingga dia terserang

penyakit yang menimpanya. Tidak diragukan lagi bahwa

kesabarannya dalam menanggung beratnya kesulitan ini mendapat balasan sebaik-baik pahala dari Allah dan namanya

menjadi harum.

33 Cukuplah engkau ketahui bahwa orang-orang yang

telah meninggalkan hadits-hadits untukmu adalah para ulama yang telapak kakinya lecet karena digunakan untuk berjalan dalam mencari ilmu. Badannya berdebu karena kesabarannya menanggung beratnya perjalanan mencari ilmu.

Al-Hafizh As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa” menuturkan biografi Abu Ja'far Al-Manshur,

“Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin

Sallam Al-Jumahi, dia mengatakan bahwa ada yang berkata kepada Al-Manshur, “Apakah masih ada kelezatan dunia

yang belum engkau rasakan?” Dia menjawab, “Ya, ada satu hal yaitu aku bisa duduk di kursi yang tinggi, sementara di

9 Maksud tunggangan di sini adalah onta yang kurus kerena seringnya melakukan perjalanan sehingga yang lersisa hanyalah kulit pembalut lulang karena dia sangat capek dan kelelahan. Tunggangan tersebut menjadi seperti wadah yang terbuat dari kulit ketika sudah tidak ada airnya lagi sehingga tidak ada kekuatan dan tidak ada harganya lagi.

sekelilingku adalah para ahli hadits. Orang yang hadir dalam

majlis itu akan bertanya, “Siapakah yang engkau sebutkan itu, semoga Allah merahmatimu?' Kemudian aku berkata,

“Telah menceritakan kepada kami si fulan; dia mengatakan telah menceritakan kepada kami si fulan; dia mengatakan si fulan telah menceritakan dari Rasulullah &.” Dikatakan,

“Para pegawai dan anak-anak menteri semenjak pagi telah datang dengan membawa tinta dan buku catatan.” Al-Manshur

menjawab, “Bukan mereka!” Maksudnya, mereka bukanlah ahli hadits yang dimaksud. “Sesungguhnya ahli hadits adalah orang-orang yang bajunya lusuh, yang kakinya pecah-pecah, yang rambutnya panjang, yang berkelana ke seluruh penjuru

dunia untuk menukil hadits."

Mereka adalah orang-orang yang oleh dikatakan oleh Abu

Abdullah Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitabnya, Ma'rifah

Ulum Al-Hadits, halaman 2-3. Dia menuturkan keutamaan ahli

hadits dan para pencari hadits, “Mereka adalah kaum yang meniti jalan orang-orang shalih, mengikuti jejak-jejak ulama salaf, menjauh dari ahli bid'ah dan penyimpangan. Mereka mengikuti sunnah Rasulullah &.

Mereka lebih memilih menempuh perjalanan di padang

pasir dan tanah yang tandus, dibandingkan bersenang-senang di rumah dan tanah kelahiran. Mereka menikmati kekurangan dalam perjalanan asalkan bersama dengan ahli ilmu dan ahli

hadits. Mereka hidup ganaah (menerima apa adanya) ketika

mengumpulkan hadits dan atsar, dengan berbekal remukan

roti dan baju yang lusuh.

Mereka menjadikan masjid-masjid sebagai tempat tinggal mereka, tiang-tiangnya sebagai tempat bersandar mereka,

Kisah-kisah Para Ulama dalam Henuntut Uma Al

tikar-tikamya sebagai tempat tidur mereka. Mereka membuang

dunia dengan segala macam isinya dan menjadikan tulisan sebagai makanan pokok mereka. Mereka menjadikan begadang sebagai waktu untuk berdiskusi dan mudzakarah sebagai istirahat mereka. Mereka menjadikan tinta sebagai minyak wangi dan begadang sebagai tidur mereka. Penerangan mereka adalah secercah cahaya dan tikar mereka adalah kerikil.

Kesusahan asalkan adanya sanad yang tinggi bagi mereka

adalah kelapangan. Sedangkan kelapangan tetapi apa yang

mereka cari tidak ada, maka bagi mereka itu adalah kesusahan.

Akal-akal mereka penuh dengan kelezatan mencari As-sunnah.

Hati mereka penuh dengan keridhaan terhadap kondisi apa saja. Belajar As-sunnah adalah kegembiraan mereka.

Majlis-majlis ilmu adalah kebahagiaan mereka. Ahlussuunah

adalah sahabat-sahabat mereka. Sedangkan ahli bid'ah dan

penyimpangan dengan segala macamnya adalah musuh-

musuh mereka.

Saya menganggap kisah-kisah ini sudah cukup dalam bagianini, kemudian saya akan beralih pada bagian selanjutnya.

Bagian Kedua

Kisah-kisah tentang Meninggalkan Tidur, Istirahat, dan Kelezatan-kelezatan

SAYA akan memulai kisah ini dengan riwayat tentang

cendikiawan umat ini, imam dari para imam, seorang sahabat mulia yaitu Abdullah bin Abbas æ.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-

34 Nihayah, 8/298 menerangkan tentang biografi Ibnu Abbas. Al-Baihaqi — Ibnu Katsir menuturkan sanadnya sampai

kepada Ikrimah mengatakan bahwa Ibnu Abbas berkata,

“Tatkala Rasulullah # wafat, aku berkata kepada seorang laki-

laki dari Anshar, "Ayolah kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah karena mereka pada hari ini sangat banyak.” Dia berkata, "Sungguh mengherankan engkau wahai Ibnu Abbas!

Apakah engkau berpikir bahwa orang-orang memerlukanmu sedangkan di antara mereka ada para sahabat Rasulullah 45.”

Ibnu Abbas mengatakan: laki-laki itu lalu tidak

meninggalkannya. Aku lalu bertanya kepada para sahabat Rasulullah &. Apabila aku mendengar ada hadits pada

seorang laki-laki maka aku akan mendatangi pintu rumahnya

sementara dia sedang membacakan hadits. Aku lalu beralaskan

Kisah-kisah Para Ulama dalam Kenuntut Mma 43

selendangku di depan pintu rumahnya, sementara angin

berhembus menerbangkan debu di tubuhku. Dia lalu keluar dan melihat aku. Dia berkata, “Wahai sepupu Rasulullah,

apa yang membuatmu datang kemari? Bukankah lebih baik engkau mengutus seseorang sehingga aku yang akan datang

kepadamu?” Aku berkata, “Tidak, aku yang lebih berhak untuk datang kepadamu.” Aku lalu bertanya kepadanya mengenai hadits.

Ibnu Abbas mengatakan; laki-laki Anshar itu hidup

Dokumen terkait