• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ternyata di sana ada untaian bait yang ditulis oleh penjualnya

yaitu Abul Hasan Al-Fali. Isi bait tersebut adalah,

Aku merasa tentram selama dua puluh tahun bersamanya

Sekarang aku menjualnya hingga aku merasa sangat rindu kepadanya

Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menjualnya

Meskipun hutang-hutangku memaksaku untuk tinggal di penjara Akan tetapi karena lemah, kemiskinan, dan anak-anak yang masih kecil

Sehingga urusanku harus dikalahkan olehnya

Aku berkata dalam keadaan tidak bisa membendung air mata Kata-kata sedih ibarat hati yang disetrika dengan bara

Wahai Ummu Malik, kebutuhan terkadang mengeluarkan harta yang mulia

Dari pemiliknya yang tidak pernah habis mencintainya

'Asy-Syarif Al-Murladha lalu mengembalikan manuskrip tersebut dan membiarkan dinar-dinar tersebut. Semoga Allah merahmatinya?

30 Al-Fali merupakan nisbat kepada Falah — dengan membaca huruf fa`—yaitu

suatu daerah di Khuzastan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Khallikan dan

Yaqut Al-Hamawi dalam biografinya yang tertulis dalam kitab Mu'jam Al-

Udaba' dan Mu'jam Al-Buldan. Abul Hasan Al-Fali tinggal di Basrah dalam

jangka waktu yang lama kemudian menetap di Baghdad dan membacakan hadits disana. Dia meninggal padatahun 448 H. Dia adalah seorang sastrawan

dan penyair. Al-Khathib Al-Baghdadi pemilik kitab Tarikh Baghdad meriwayatkan hadits darinya, begitu pula ulama lainnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khallikan

Abdul Fattah mengatakan, Akusebutkan nisbat Al-Fali dan aku sebutkantahun

meninggalnya serta negara tempat tinggalnya supaya tidak ada keserupaan

dan kekeliruan tentang namanya. Terkadang namanya diubah menjadi Al- Gali — dengan menggunakan huruf qaf — karena menyangka Abu Ali Al-Qali

yang sudah masyhur. Itu adalah Abu Ali, sedangkan ini adalah Abul Hasan.

Abu Ali meninggal dunia sekitar seratus tahun sebelum Abul Hasan yaitu pada tahun 356 Hdi Cordoba, sedangkan Abul Hasan meninggal dunia di Baghdad

pada tahun 448 H.

Perubahan namanya banyak dijumpai dalam beberapa kitab, semisal dalam

kitabAI-Fallakahwa Al-Mufallikun, halaman 114 karya Ad-Dalaji dan Al-Muzkir,

1/95 karya As-Suyuthi, dengan tahqiq dari para professor ahli tahqiq. Begitu pula dalam Taj Al-Arus, 1/12 karya Az-Zubaidi dan Zhuhra Al-Islam, 1/117

karya Ustadz Ahmad Amin, Dalam kitab tersebut disebutkan, Inilah Abu Ali Al-Oali Al-Baghdadi yang berada dalam kondisi ekonomi sulit sebelum

melakukan perjalanan ke Andalus sehingga dia terpaksa menjual sebagian

kilab-kilabnya. Padahal itu adalah benda yang sangal mulia di sisinya.

Dia menjual manuskrip kitab Al-jamharah yang dibeli oleh Asy-Syarif Al-

Murtadha kemudian di dalam kitab itu ada tulisan Abu Ali,

Aku merasa tentram selama dua puluh tahun bersamanya

Sekarang aku menjualnya hingga aku merasa sangat rindu kepadanya

Ustadz Ahmad Amin bahkan menambahkan pada pengubahan atas nama tersebut dan menerima pengubahan itu dengan penerimaan yang sangat baik.

Dia mengatakan bahwa Abu Ali Al-Gali mengalami hal tersebut sebelum Kuak-kisak Pera Wama dalam #ocutit Umu 141

Abul Hasan Al-Fali memiliki syair lembut yang 1 2 1 menurut saya sangat pantas untuk disisipkan di sini. Syair itu berkaitan dengan ilmu dan ulama. Ibnu Al-Atsir menuturkannya dalam kitab Al-Kamil tentang peristiwa- peristiwa pada tahun 448 H yaitu tahun meninggal dunianya Abu Al-Fali, Semoga Allah merahmatinya. Salah satu syair indah tersebut adalah perkataannya,

Ketika majlis-majlis berganti wajah

Tidak seperti para ulama yang dahulu aku kenal Aku lihat majlis itu dikelilingi oleh selain mereka

Dulu mereka adalah yang terdepan dalam majlis-majlis Kusenandungkan bail-bait tersebui

Sementara mata menjadi sembab karena air mata mengalir dengan derasnya

Adapun tendanya seperti tenda mereka

Tetapi aku lihat wanita-wanitanya tidak seperti wanita-wanita mereka

Ibnu Al-Atsir dalam baitnya yang indah mengatakan, Setiap orang yang bodoh dan dungu duduk mengajar

Menamakan dirinya ahli fikih dan pengajar

Sudah semestinya setiap ahli ilmu untuk mengucapkan bailu kuno Yang sudah terkenal di setiap majlis

Sungguh dia telah kurus kering hingga terlihat ginjalnya Hingga setiap orang yang bangkrut pun berani menawarnya

1 22 Syaikh Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Tsabit Al-Khaulani yang dikenal dengan nama Al-Haddad

Al-Mahdarawi pernah menjual kitab-kitabnya dalam keadaan melakukan perjalanan ke Andalus! Asy-Syarif Al-Murladha lalu membeli satu manuskrip darinya! Sedangkan Asy-Syarif Al-Murtadha dilahirkan pada tahun 355 H sedangkan Abu Ali Al-Qali meninggal dunia pada tahun 356 H.

Bagaimana mungkin orang itu membeli dari orang ini?

terpaksa dan karena kemiskinan. Istrinya lalu bertanya kepadanya —dia tahu bahwa suaminya sangat menyayangi kitab-kitab itu — “Bagaimana engkau menjual kitab-kitab itu, padahal itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagimu?”

Dia lalu menjawab sebagaimana dikisahkan oleh Al-Hafizh As- Salafi dalam kitabnya, Mu'jam As-Safar dan Yaqut Al-Hamawi

dalam Mu'jam Al-Buldan, 8/208, ketika menyebutkan nama Al-Mahdiyyahs!

Dia berkata sembari menampakkan lehernya

Ibarat mentari yang menyembul dari balik kelambu Engkau menjual kitab-kitabmu

Itulah perabot yang terakhir engkau jual

Aku menjawab perkataannya sementara tanganku berada Di atas jantungku yang hampir pecah karenanya

Janganlah engkau heran atas apa yang engkau lihat Sebab kita berada di zaman yang penuh kesia-siran.

Dalam AI-A'lam karya Az-Zarikli, 1/196 dinukil 1 23 dari kitab Ma'alim Al-Iman, 3/9-12 mengenai

biografi Abu Ja'far Ahmad bin Abdurrahman Al-Qashra yang meninggal dunia pada tahun 321 H. Disebutkan bahwa dia adalah ahli fikih dari Qairuwan yang nisbatnya kepada Qashr Al-Aghlab yaitu suatu tempat yang berjarak dua mil sebelah

selatan Qairuwan.

Dia memiliki perhatian besar terhadap ilmu, periwayatan

hadits, penyusunan, penyalinan, dan pentashihan kitab-

kitab. Dia berkata, “Selama empat puluh tahun, tidak pernah

penaku kering.” Maksudnya karena seringnya dipakai siang dan malam. Terkadang dia menjual sebagian pakaiannya dan

31 Nisbat kepada desa Al-Mahdiy yah yang terletak di dekat kota Sala di ujung barat

Kuak-kisak Pera Ulama dalam Mesuutut Inu 143

hasilnya dia belikan kitab atau kertas-kertas untuk menyalin kitab.

At-Tajj As-Subki dalam Thabagat Asy-Syafi'iyyah,

1 24 3/103, menuturkan biografi Imam Al-Ghazali.

Imam As'ad Al-Mihyani mengatakan; Aku mendengar Al-Ghazali berkata, “Para penjahat mengambil apa yang

ada padaku kemudian mereka berlalu. Aku lalu mengikuti mereka. Pemimpin mereka lalu menoleh ke arahku dan berkata, “Celakalah engkau, kembalilah. Jika tidak, maka

engkau akan binasa.” Aku lalu berkata kepadanya, “Aku meminta kepadamu dengan menyebut nama Tuhan yang aku

harapkan keselamatan hanya dari-Nya. Hendaklah engkau mengembalikan kepadaku catatanku saja, sebab itu tidak bermanfaat apa-apa bagi kalian.”

Dia lalu bertanya, “Lantas apa itu catatanmu?” Aku menjawab, “Kitab-kitab yang ada di wadah itu. Aku telah

berhijrah untuk mendengarkan, menulis, dan mengetahui

ilmu yang ada di dalamnya.” Dia tertawa dan berkata,

“Bagaimana engkau bisa mengaku jika engkau mengetahui ilmunya? Padahal kami telah mengambilnya darimu sehingga engkau tidak lagi mengetahuinya dan engkau sekarang tidak punya ilmu lagi!” Dia lalu memerintahkan kepada sebagaian sahabatnya untuk menyerahkan wadah tersebut kepadaku.

Al-Ghazali berkata, “Ini adalah perkataan yang dianu-

grahkan Allah kepadaku untuk mengatakannya agar aku

mengambil pelajaran dari ini. Ketika aku sampai di kota Thus maka aku menyibukkan diri dengan kitab-kitabku selama tiga tahun sehingga aku hapal terhadap seluruh apa yang aku catat

dalam kitab tersebut. Seandainya aku dibegal lagi dijalan maka

ilmuku tidak akan hilang.”

Al-Qadhi Khallikan dalam Wafayat AI-A 'yan, 1/209 1 25 menuturkan biografi Ibnu Ad-Dihan Al-Baghdadi

Dokumen terkait