• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBENCANAAN DI LAHAN BASAH

BAB 9 KEBENCANAAN EKOLOGIS LAHAN GAMBUT

9.8 Abrasi dan Sedimentasi

Lahan gambut merupakan ekosistem yang sangat rentan (fragile ecosystem) terhadap perubahan kondisi hidrologi dan alih fungsi lahan. Gambut kepulauan lebih rentan dibanding gambut daratan karena catchment area-nya lebih kecil dan kemampuan menyimpan airnya lebih sedikit sehingga lebih cepat mengalami kekeringan. Gambut kepulauan lebih rentan lagi karena potensi ancaman abrasi akibat adanya gelombang dan pasang surut air laut.

Material gambut sangat mudah mengalami erosi atau abrasi karena berat jenisnya yang kecil lebih ringan dari material yang lainnya. Abrasi yang terjadi pada lahan gambut kepulauan sudah sangat parah yang sudah berlangsung sejak paling tidak 30 tahun terakhir. Pada kondisi ekstrim laju abrasi sudah mencapai sekitar 30 meter/tahun. Pulau yang paling tinggi tingkat abrasinya adalah Pulau Bengkalis yang berada di kabupaten Bengkalis dan Pulau Rangsang yang berada di kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau. Pada Gambar 32 ditunjukkan area yang sudah mengalami abrasi dan area yang mengalami sedimentasi pada 30 tahun terakhir dari tahun 1989 sampai 2019. Kejadian abrasi dominan terjadi pada sisi Utara pantai di Pulau Bengkalis yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka sedangkan sedimentasi dominan terjadi di bagian Selatan. Abrasi yang terparah terjadi pada Pulau Bengkalis bagian barat tepatnya di sekitar Desa Meskom dengan laju abrasi sekitar 30 meter per tahun (Sutikno dkk., 2016). Sedangkan laju abrasi di desa-desa bagian Utara Pulau Bengkalis lainnya berkisar antara 2 hingga 10 m/tahun.

Senada dengan apa yang terjadi di Pulau Bengkalis, fenomena yang sama juga terjadi di Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

Abrasi parah terjadi pada sisi Utara dari Pulau Rangsang. Pada Gambar 33 sajikan peta laju abrasi yang terjadi di Pulau Rangsang untuk masing-masing desa. Desa-desa yang mengalami abrasi cukup parah terjadi di Desa Tanjung Medang, Bantar dan Sungai Gayung Kiri dengan laju abrasi masing-masing 15 m/tahun, 11 m/tahun dan 10 m/tahun. Sedangkan laju abrasi di desa-desa bagian Utara Pulau Rangsang lainnya berkisar antara 2 hingga 5 m/tahun.

9.7 Longsor (Peat Failure)

Kejadian bencana longsor material gambut (peat failure) sebenarnya adalah fenomena yang tidak biasa, karena kejadiannya cukup langka terjadi di dunia. Namun fenomena ini banyak dijumpai pada lahan gambut kepulauan yang mengalami abrasi di Provinsi Riau, khususnya di Pulau Bengkalis dan di Pulau Rangsang. Longsoran material gambut yang biasa disebut dengan bog-burst ini biasanya terjadi pada musim hujan di sepanjang garis pantai di Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang (Sutikno dkk., 2016). Pada Gambar 31 disajikan contoh fenomena bog-burst lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis. Secara alami sesungguhnya lahan gambut tidak berada di pinggir pantai terkait dengan proses pembentukan lahan gambut. Namun jika apa yang terjadi bahwa lahan gambut berada di pinggir pantai bahkan dengan kedalaman hingga 3 meter (Gambar 11), hal ini berarti bahwa pada lokasi tersebut sudah mengalami kehilangan daratan yang cukup signifikan akibat proses abrasi pantai.

Lahan gambut yang berada pada tebing pantai jika basah/terisi air akibat adanya hujan akan menjadi lebih berat sehingga akan lebih mudah mengalami longsoran karena tidak mampu menahan beban tersebut. Material gambut yang longsor dalam bentuk bongkahan-bongkahan besar (peat-ball) akan terburai ke arah laut. Oleh karena adanya arus pasang surut dan gelombang air laut bongkahan-bongkahan material tersebut akan terkikis dan ukuran bulatannya menjadi lebih kecil. Bongkahan-bongkahan tersebut akan terapung diatas air laut karena material gambut memiliki berat jenis yang relatif kecil dibanding dengan material lainnya. Karena materialnya yang ringan sehingga mudah terbawa oleh arus dan gelombang ke tempat lain maka akan terjadilah abrasi pada lokasi tersebut dan akan mengalami sedimentasi pada tempat yang lain.

Foto: Sigit Sutikno 15 Agustus 2021

Gambar 31. Fenomena bog-burst lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis

9.8 Abrasi dan Sedimentasi

Lahan gambut merupakan ekosistem yang sangat rentan (fragile ecosystem) terhadap perubahan kondisi hidrologi dan alih fungsi lahan. Gambut kepulauan lebih rentan dibanding gambut daratan karena catchment area-nya lebih kecil dan kemampuan menyimpan airnya lebih sedikit sehingga lebih cepat mengalami kekeringan. Gambut kepulauan lebih rentan lagi karena potensi ancaman abrasi akibat adanya gelombang dan pasang surut air laut.

Material gambut sangat mudah mengalami erosi atau abrasi karena berat jenisnya yang kecil lebih ringan dari material yang lainnya. Abrasi yang terjadi pada lahan gambut kepulauan sudah sangat parah yang sudah berlangsung sejak paling tidak 30 tahun terakhir. Pada kondisi ekstrim laju abrasi sudah mencapai sekitar 30 meter/tahun. Pulau yang paling tinggi tingkat abrasinya adalah Pulau Bengkalis yang berada di kabupaten Bengkalis dan Pulau Rangsang yang berada di kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau. Pada Gambar 32 ditunjukkan area yang sudah mengalami abrasi dan area yang mengalami sedimentasi pada 30 tahun terakhir dari tahun 1989 sampai 2019. Kejadian abrasi dominan terjadi pada sisi Utara pantai di Pulau Bengkalis yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka sedangkan sedimentasi dominan terjadi di bagian Selatan. Abrasi yang terparah terjadi pada Pulau Bengkalis bagian barat tepatnya di sekitar Desa Meskom dengan laju abrasi sekitar 30 meter per tahun (Sutikno dkk., 2016). Sedangkan laju abrasi di desa-desa bagian Utara Pulau Bengkalis lainnya berkisar antara 2 hingga 10 m/tahun.

Senada dengan apa yang terjadi di Pulau Bengkalis, fenomena yang sama juga terjadi di Pulau Rangsang yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

Abrasi parah terjadi pada sisi Utara dari Pulau Rangsang. Pada Gambar 33 sajikan peta laju abrasi yang terjadi di Pulau Rangsang untuk masing-masing desa. Desa-desa yang mengalami abrasi cukup parah terjadi di Desa Tanjung Medang, Bantar dan Sungai Gayung Kiri dengan laju abrasi masing-masing 15 m/tahun, 11 m/tahun dan 10 m/tahun. Sedangkan laju abrasi di desa-desa bagian Utara Pulau Rangsang lainnya berkisar antara 2 hingga 5 m/tahun.

Sumber: Sutikno, 2016

Gambar 32. Fenomena bog-burst lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis

Gambar 33. Laju abrasi lahan gambut yang ada di Pulau Rangsang

Pulau Rupat yang juga merupakan gambut kepulauan dengan prosentase luasan gambut berkisar 53% memiliki potensi ancaman abrasi yang sama dengan Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Namun demikian Pulau Rupat cukup diuntungkan dengan kondisi geologinya dimana pada bagian Utara pulau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka merupakan tanah bukan gambut yang bisa berfungsi sebagai benteng dari ancaman gelombang dari Selat Malaka. Untuk itu laju abrasi yang terjadi di Pulau Rupat relative kecil dan tidak separah dengan yang terjadi di Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang.

Laju abrasi yang terjadi di sepanjang pantai di Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Malaka juga relatif kecil disbanding. Hal ini terjadi karena ada keseimbangan transport sedimen di mana pantai-pantai tersebut mendapat suplai sedimen dari sungai-sungai besar yang ada di Provinsi Riau yaitu Sungai Rokan, Sungai Kampar, Sungai Indragiri dan Sungai Siak yang membawa cukup banyak material sedimen. Bahkan dalam kondisi ekstrem sedimentasi yang terjadi di muara Sungai Rokan sangat dominan dari pada erosi yang terjadi sehingga permasalahan yang dominan adalah akibat adanya sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi di muara sungai Rokan bahkan hingga mencapai 114 m/th (Sutikno dkk., 2015).

Fenomena sedimentasi material gambut yang cukup massif juga terjadi di sisi Selatan Pulau Bengkalis bagian Barat. Sedimentasi yang terjadi sudah sangat parah yang menyebabkan dermaga-dermaga nelayan di sekitarnya mengalami pendangkalan sehingga tidak bisa digunakan di saat kondisi air laut surut. Pada Gambar 34 ditunjukkan fenomena sedimentasi yang terjadi di sekitar Desa Prapat Tunggal yang terletak di bagian Barat di sisi Selatan Pulau Bengkalis. Hasil foto udara yang disajikan pada Gambar 33 menunjukkan bahwa areal sedimentasi sudah terjadi pada areal yang cukup luas. Hasil penelitian yang telah dilakukan menginformasikan bahwa sebagian besar material gambut yang hilang akibat abrasi di sisi Utara Pulau Bengkalis mengalami transport sedimen dan mengendap di sekitar lokasi ini (Sutikno, 2014). Bahkan di beberapa area sudah ditumbuhi mangrove secara alami (Yamamoto dkk., 2017).

Potensi ancaman kerusakan lingkungan yang lebih dahsyat dari yang sudah disampaikan sebelumnya adalah jika abrasi yang terjadi terus berlangsung hingga memotong jaringan kanal yang ada di salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada di Pulau Bengkalis (Gambar 35). Perkebunan kelapa sawit tersebut berada di puncak kubah gambut yang relatif datar, sehingga hanya memiliki satu zonasi air yang artinya dalam suatu kesatuan perkebunan tersebut saling terhubung satu sama lain jaringan kanalnya. Di satu sisi tingkat abrasi yang terjadi di bagian Utara perkebunan tersebut adalah berkisar 10 m/tahun. Pada pertengahan tahun 2020, jarak tersisa antara garis pantai ke jaringan kanal tersebut adalah sekitar 200 m. Jika abrasi tersebut berlangsung terus-menerus hingga memotong jaringan kanal maka akan terjadilah bencana “dam break” yaitu bencana seperti jebolnya sebuah waduk.

Pulau Rupat yang juga merupakan gambut kepulauan dengan prosentase luasan gambut berkisar 53% memiliki potensi ancaman abrasi yang sama dengan Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang karena berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Namun demikian Pulau Rupat cukup diuntungkan dengan kondisi geologinya dimana pada bagian Utara pulau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka merupakan tanah bukan gambut yang bisa berfungsi sebagai benteng dari ancaman gelombang dari Selat Malaka. Untuk itu laju abrasi yang terjadi di Pulau Rupat relative kecil dan tidak separah dengan yang terjadi di Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang.

Laju abrasi yang terjadi di sepanjang pantai di Pulau Sumatera yang berhadapan dengan Selat Malaka juga relatif kecil disbanding. Hal ini terjadi karena ada keseimbangan transport sedimen di mana pantai-pantai tersebut mendapat suplai sedimen dari sungai-sungai besar yang ada di Provinsi Riau yaitu Sungai Rokan, Sungai Kampar, Sungai Indragiri dan Sungai Siak yang membawa cukup banyak material sedimen. Bahkan dalam kondisi ekstrem sedimentasi yang terjadi di muara Sungai Rokan sangat dominan dari pada erosi yang terjadi sehingga permasalahan yang dominan adalah akibat adanya sedimentasi. Sedimentasi yang terjadi di muara sungai Rokan bahkan hingga mencapai 114 m/th (Sutikno dkk., 2015).

Fenomena sedimentasi material gambut yang cukup massif juga terjadi di sisi Selatan Pulau Bengkalis bagian Barat. Sedimentasi yang terjadi sudah sangat parah yang menyebabkan dermaga-dermaga nelayan di sekitarnya mengalami pendangkalan sehingga tidak bisa digunakan di saat kondisi air laut surut. Pada Gambar 34 ditunjukkan fenomena sedimentasi yang terjadi di sekitar Desa Prapat Tunggal yang terletak di bagian Barat di sisi Selatan Pulau Bengkalis. Hasil foto udara yang disajikan pada Gambar 33 menunjukkan bahwa areal sedimentasi sudah terjadi pada areal yang cukup luas. Hasil penelitian yang telah dilakukan menginformasikan bahwa sebagian besar material gambut yang hilang akibat abrasi di sisi Utara Pulau Bengkalis mengalami transport sedimen dan mengendap di sekitar lokasi ini (Sutikno, 2014). Bahkan di beberapa area sudah ditumbuhi mangrove secara alami (Yamamoto dkk., 2017).

Potensi ancaman kerusakan lingkungan yang lebih dahsyat dari yang sudah disampaikan sebelumnya adalah jika abrasi yang terjadi terus berlangsung hingga memotong jaringan kanal yang ada di salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada di Pulau Bengkalis (Gambar 35). Perkebunan kelapa sawit tersebut berada di puncak kubah gambut yang relatif datar, sehingga hanya memiliki satu zonasi air yang artinya dalam suatu kesatuan perkebunan tersebut saling terhubung satu sama lain jaringan kanalnya. Di satu sisi tingkat abrasi yang terjadi di bagian Utara perkebunan tersebut adalah berkisar 10 m/tahun. Pada pertengahan tahun 2020, jarak tersisa antara garis pantai ke jaringan kanal tersebut adalah sekitar 200 m. Jika abrasi tersebut berlangsung terus-menerus hingga memotong jaringan kanal maka akan terjadilah bencana “dam break” yaitu bencana seperti jebolnya sebuah waduk.

Jika hal tersebut terjadi maka air beserta material gambut yang ada di sekitarnya akan terburai ke arah laut dan terjadilah kehilangan material gambut yang sangat signifikan jumlahnya.

Foto: Sigit Sutikno 15 Agustus 2021

Gambar 34. Fenomena sedimentasi lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis

Gambar 35. Potensi ancaman yang lebih parah di Pulau Bengkalis