KEBENCANAAN DI LAHAN BASAH
BAB 9 KEBENCANAAN EKOLOGIS LAHAN GAMBUT
9.5 Penurunan tanah (Subsidence)
Lahan gambut sangat mudah mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat mengalami oksidasi dan dekomposisi lebih lanjut. Laju subsidensi lahan gambut akan semakin meningkat jika dikeringkan karena percepatan oksidasi dan kosongnya ruang pori akibat pengeringan. Pada Gambar 27. Disajikan contoh kejadian subsidensi di lahan gambut akibat alih fungsi lahan perkebunan dan akibat pembangunan jalan di Provinsi Riau. Alih fungsi lahan dari hutan rawa gambut menjadi lahan perkebunan akan menyebabkan turunnya elevasi muka air tanah karena berkurangnya water holding capacity akibat pergantian struktur akar vegetasi di atasnya. Turunnya elevasi muka air tanah akan menyebabkan turunnya elevasi muka tanah akibat meningkatnya oksidasi dan laju dekomposisi serta pemampatan material gambut. Laju subsidensi yang tinggi akan meningkatkan potensi terjadinya banjir di musim hujan.
Pengaruh fluktuasi muka air tanah terhadap subsidensi di lahan gambut bervareasi untuk bebagai kondisi/tipe lahan gambut yang ada di beberapa lokasi. Pada Gambar 28 disajikan pengaruh kedalaman muka air tanah terhadap laju subsidensi di lahan gambut yang ada di Florida, Malaysia, Sumatera, Indiana dan Netherland. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tingkat subsidensi lahan gambut di Sumatera bervareasi 1-4 cm/th untuk fluktuasi muka air tanah antara 15-160 cm (Nurhamidah, 2019).
Gambar 27. Kejadian subsidensi di lahan gambut akibat alih fungsi lahan perkebunan (atas) dan akibat pembangunan jalan (bawah) di Provinsi Riau
Sumber: Nurhamidah, 2019
Gambar 28. Hubungan antara tingkat subsidensi lahan gambut dengan kedalaman muka air tanah
Gambar 26. Karakteristik karhutla di Provinsi Riau
9.5 Penurunan tanah (Subsidence)
Lahan gambut sangat mudah mengalami penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat mengalami oksidasi dan dekomposisi lebih lanjut. Laju subsidensi lahan gambut akan semakin meningkat jika dikeringkan karena percepatan oksidasi dan kosongnya ruang pori akibat pengeringan. Pada Gambar 27. Disajikan contoh kejadian subsidensi di lahan gambut akibat alih fungsi lahan perkebunan dan akibat pembangunan jalan di Provinsi Riau. Alih fungsi lahan dari hutan rawa gambut menjadi lahan perkebunan akan menyebabkan turunnya elevasi muka air tanah karena berkurangnya water holding capacity akibat pergantian struktur akar vegetasi di atasnya. Turunnya elevasi muka air tanah akan menyebabkan turunnya elevasi muka tanah akibat meningkatnya oksidasi dan laju dekomposisi serta pemampatan material gambut. Laju subsidensi yang tinggi akan meningkatkan potensi terjadinya banjir di musim hujan.
Pengaruh fluktuasi muka air tanah terhadap subsidensi di lahan gambut bervareasi untuk bebagai kondisi/tipe lahan gambut yang ada di beberapa lokasi. Pada Gambar 28 disajikan pengaruh kedalaman muka air tanah terhadap laju subsidensi di lahan gambut yang ada di Florida, Malaysia, Sumatera, Indiana dan Netherland. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tingkat subsidensi lahan gambut di Sumatera bervareasi 1-4 cm/th untuk fluktuasi muka air tanah antara 15-160 cm (Nurhamidah, 2019).
Gambar 27. Kejadian subsidensi di lahan gambut akibat alih fungsi lahan perkebunan (atas) dan akibat pembangunan jalan (bawah) di Provinsi Riau
Sumber: Nurhamidah, 2019
Gambar 28. Hubungan antara tingkat subsidensi lahan gambut dengan kedalaman muka air tanah
9.6 Banjir (flood)
Lahan gambut yang sudah terdegradasi akan lebih mudah mengalami bencana banjir. Degradasi pada lahan gambut akan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan gambut “memegang air” dan menyimpannya pada reservoir-reservoir yang ada di kubah gambut, sehingga air melimpas dengan cepat ketika terjadi hujan. Limpasan air dari berbagai tempat ini akan terakumulasi dengan cepat di bagian hilir, sehingga akan menyebabkan banjir. Kondisi ini diperparah dengan tingginya subsidensi di lahan gambut yang menyebabkan permukaan tanahnya menurun. Fenomena ini banyak terjadi di lahan gambut yang berada di bagian hilir, seperti di Kabupaten Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan daerah-daerah lain yang berada di pesisir Pulau Sumatera. Pada Gambar 29 disajikan contoh fenomena banjir di lahan gambut yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir yang selalu berulang setiap tahun di musim penghujan. Kejadian tersebut bisa berlangsung cukup lama hingga beberapa bulan yang tentu sangat mengganggu aktivitas masyarakat dalam berbagai hal.
Lahan gambut yang mengalami banjir secara rutin setiap tahun juga akan mengalami erosi lahan yang cukup parah akibat terbawanya material-material gambut oleh arus banjir. Berat jenis material gambut relatif cukup kecil sehingga sangat mudah terbawa oleh arus air apalagi arus air banjir. Pada Gambar 30 disajikan fenomena lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan yang selalu mengalami banjir setiap tahun. Terlihat bahwa material gambut di permukaan sudah banyak mengalami erosi lahan dan terbawa ke arah hilir dengan ketebalan cukup signifikan hingga kira-kira 1 meter. Kondisi semacam ini sudah pasti selain menyebabkan kerusakan lingkungan yang dahsyat, juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.
Gambar 29. Fenomena banjir di lahan gambut di Kabupaten Rokan Hilir yang selalu terjadi setiap tahun di musim penghujan
Foto: Sigit Sutikno 16 Sept 2020
Gambar 30. Fenomena erosi lahan yang terjadi di lahan gambut akibat mengalami banjir setiap tahun
9.6 Banjir (flood)
Lahan gambut yang sudah terdegradasi akan lebih mudah mengalami bencana banjir. Degradasi pada lahan gambut akan menyebabkan berkurangnya kemampuan lahan gambut “memegang air” dan menyimpannya pada reservoir-reservoir yang ada di kubah gambut, sehingga air melimpas dengan cepat ketika terjadi hujan. Limpasan air dari berbagai tempat ini akan terakumulasi dengan cepat di bagian hilir, sehingga akan menyebabkan banjir. Kondisi ini diperparah dengan tingginya subsidensi di lahan gambut yang menyebabkan permukaan tanahnya menurun. Fenomena ini banyak terjadi di lahan gambut yang berada di bagian hilir, seperti di Kabupaten Rokan Hilir, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan daerah-daerah lain yang berada di pesisir Pulau Sumatera. Pada Gambar 29 disajikan contoh fenomena banjir di lahan gambut yang terjadi di Kabupaten Rokan Hilir yang selalu berulang setiap tahun di musim penghujan. Kejadian tersebut bisa berlangsung cukup lama hingga beberapa bulan yang tentu sangat mengganggu aktivitas masyarakat dalam berbagai hal.
Lahan gambut yang mengalami banjir secara rutin setiap tahun juga akan mengalami erosi lahan yang cukup parah akibat terbawanya material-material gambut oleh arus banjir. Berat jenis material gambut relatif cukup kecil sehingga sangat mudah terbawa oleh arus air apalagi arus air banjir. Pada Gambar 30 disajikan fenomena lahan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan yang selalu mengalami banjir setiap tahun. Terlihat bahwa material gambut di permukaan sudah banyak mengalami erosi lahan dan terbawa ke arah hilir dengan ketebalan cukup signifikan hingga kira-kira 1 meter. Kondisi semacam ini sudah pasti selain menyebabkan kerusakan lingkungan yang dahsyat, juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.
Gambar 29. Fenomena banjir di lahan gambut di Kabupaten Rokan Hilir yang selalu terjadi setiap tahun di musim penghujan
Foto: Sigit Sutikno 16 Sept 2020
Gambar 30. Fenomena erosi lahan yang terjadi di lahan gambut akibat mengalami banjir setiap tahun
9.7 Longsor (Peat Failure)
Kejadian bencana longsor material gambut (peat failure) sebenarnya adalah fenomena yang tidak biasa, karena kejadiannya cukup langka terjadi di dunia. Namun fenomena ini banyak dijumpai pada lahan gambut kepulauan yang mengalami abrasi di Provinsi Riau, khususnya di Pulau Bengkalis dan di Pulau Rangsang. Longsoran material gambut yang biasa disebut dengan bog-burst ini biasanya terjadi pada musim hujan di sepanjang garis pantai di Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang (Sutikno dkk., 2016). Pada Gambar 31 disajikan contoh fenomena bog-burst lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis. Secara alami sesungguhnya lahan gambut tidak berada di pinggir pantai terkait dengan proses pembentukan lahan gambut. Namun jika apa yang terjadi bahwa lahan gambut berada di pinggir pantai bahkan dengan kedalaman hingga 3 meter (Gambar 11), hal ini berarti bahwa pada lokasi tersebut sudah mengalami kehilangan daratan yang cukup signifikan akibat proses abrasi pantai.
Lahan gambut yang berada pada tebing pantai jika basah/terisi air akibat adanya hujan akan menjadi lebih berat sehingga akan lebih mudah mengalami longsoran karena tidak mampu menahan beban tersebut. Material gambut yang longsor dalam bentuk bongkahan-bongkahan besar (peat-ball) akan terburai ke arah laut. Oleh karena adanya arus pasang surut dan gelombang air laut bongkahan-bongkahan material tersebut akan terkikis dan ukuran bulatannya menjadi lebih kecil. Bongkahan-bongkahan tersebut akan terapung diatas air laut karena material gambut memiliki berat jenis yang relatif kecil dibanding dengan material lainnya. Karena materialnya yang ringan sehingga mudah terbawa oleh arus dan gelombang ke tempat lain maka akan terjadilah abrasi pada lokasi tersebut dan akan mengalami sedimentasi pada tempat yang lain.
Foto: Sigit Sutikno 15 Agustus 2021
Gambar 31. Fenomena bog-burst lahan gambut yang ada di Pulau Bengkalis
9.8 Abrasi