• Tidak ada hasil yang ditemukan

Univariate analysis dari factor-faktor yang berhubungan dengan status gizi

SEBUAH STUDI CROSS SECTIONAL PADA DAERAH RISIKO KABUT ASAP

E. Data analysis

10.3.2 Univariate analysis dari factor-faktor yang berhubungan dengan status gizi

 Kurang 33 (36,7 %)

 Normal 51 (56,6 %)

 Lebih 6 (6,7 %)

10.3.2 Univariate analysis dari factor-faktor yang berhubungan dengan status gizi.

Hasil analisa Chi-Square memperlihatkan bahwa hanya perilaku gizi dan peran keluarga yang berhubungan dengan status gizi siswa sekolah dasar di meranti dengan p value= 0,024 untuk perilaku gizi dan p value = 0,005 untuk peran keluarga. Sedangkan jenis kelamin (p value = 0,124), pendapatan orang tua (p value= 0,404), riwayat penyakit kronis (p value = 0,661), peran guru (p value = 0,063) dan peran teman sebaya (0,209) tidak memiliki hubungan dengan status gizi anak usia sekolah di Pesisir Meranti.

terhadap kuesioner. Participants dan orang tua diinformasikan bahwa penelitian ini bersifat anonymous dan sukarela. Tujuan penelitian juga dijelaskan sebelum dilakukan pengambilan data dan tidak ada sanksi terhadap anak jika tidak mengisi kuesioner.

D. Variable dan instruments

Dua buah kuesioner penelitian digunakan untuk mengeksplorasi status demography (Jenis kelamin, pendapatan keluarga, riwayat infeksi) dan support keluarga, support teman, perilaku gizi, konsumsi energi dan konsumsi protein.

Pengukuran antropemetri (indeks masa tubuh) dilakukan secara langsung untuk melihat status gizi anak.

E. Data analysis

Data analisis menggunakan IBM Statistical Package for Social Sciences (SPSS version 16). Descriptive statistik digunakan untuk mempresentasikan data socio demoghraphic participants. Bentuk penyajian data menggunakan tabel distribusi frekuensi untuk data numerik dan persentase untuk data kategorik. Chi-Square analysis digunakan untuk melihat hubungan antara variable dependen dan variable independen. Alpha level dengan p <0.05 digunakan untuk melihat signifikansi analysis.

10.3 Hasil

10.3.1 Participant characteristic

Deskriptif analisis dari sociodemoghraphic participants dapat dilihat pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10 terlihat bahwa mayoritas partisipan adalah siswa laki laki. hampir 80 persent orang tua siswa mempunyai pendapatan dibawah upah minimum rata rata (UMR) dan 90 persent siswa tidak mempunyai riwayat penyakit kronis. Berdasarkan hasil pengukuran antropometri, lebih dari 30 persen siswa kategori kurus.

Tabel 10. Sociodemographic and clinical characteristics

Factor Respondent (N=90)

Frequency (%) Jenis kelamin

 Laki laki 52 (57,8 %)

 Wanita 38 (62,7 %)

Tingkat pendapatan

 ≥Upah minimum rata rata

(UMR) 16 (17,8 %)

 < UMR 74 (82,2 %)

Riwayat penyakit kronis

 Ada riwayat 8 (8,2 %)

 Tidak ada riwayat 82 (91,8 %)

Status Gizi

 Kurang 33 (36,7 %)

 Normal 51 (56,6 %)

 Lebih 6 (6,7 %)

10.3.2 Univariate analysis dari factor-faktor yang berhubungan dengan status gizi.

Hasil analisa Chi-Square memperlihatkan bahwa hanya perilaku gizi dan peran keluarga yang berhubungan dengan status gizi siswa sekolah dasar di meranti dengan p value= 0,024 untuk perilaku gizi dan p value = 0,005 untuk peran keluarga. Sedangkan jenis kelamin (p value = 0,124), pendapatan orang tua (p value= 0,404), riwayat penyakit kronis (p value = 0,661), peran guru (p value = 0,063) dan peran teman sebaya (0,209) tidak memiliki hubungan dengan status gizi anak usia sekolah di Pesisir Meranti.

Tabel 11. Faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia sekolah di Pesisir Kepulauan Meranti.

Variable Status Gizi

p Valuea

Tingkat pendapatan orang tua

≥UMR 4 (4,4) 10 (11,1) 2 (2,2) 0,400

Masalah gizi masih menjadi problematika pada anak usia sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 30 persent siswa sekolah dasar di kepulauan meranti ini mempunyai permasalahan gizi. Hal ini sesuai dengan data bahwa hampir 30-40 persen anak anak usia sekolah di negara berkembang memiliki masalah gizi. Berdasarkan status demoghraphi, sebagian besar anak anak berjenis kelamin laki laki, mempunyai sebagian besar orang tua dengan pendapatan kurang dari upah minimum rata rata dan tidak mempunyai penyakit kronik. Berdasarkan hasil statistik, populasi anak laki laki usia sekolah 6-12 tahun sedikit lebih besar dari anak perempuan, sehingga tidak mengherankan kalau hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa siswa laki laki lebih banyak dari perempuan (Badan Pusat Statistik, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian ini, faktor yang berhubungan dengan masalah gizi pada anak usia sekolah di Kabupaten Meranti ini adalah perilaku gizi dan peran keluarga. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Alamatsier, 2006). Status gizi ditentukan oleh sejauhmana terpenuhinya semua zat-zat gizi yang diperlukan

tubuh dari makanan dan peranan faktor-faktor yang menentukan besarnya kebutuhan penyerapan dan penggunaan zat gizi seperti aktvitas fisik, tingkat pertumbuhan dan penyakit infeksi. Anak usia sekolah beresiko mengalami masalah gizi karena berkaitan dengan pola makan. Pola makan adalah karakteristik kegiatan berulang kali dalam memenuhi kebutuhan akan makan termasuk macam makanan, jumlah yang dimakan setiap hari serrta cara memilih makanan. Kecenderungan memilih makanan yang tidak tepat mengakibatkan anak sekolah sering mengalami masalah gizi. Penelitian Alender dan Spradley (2010) menyatakan bahwa masalah gizi pada anak usia sekolah diakibatkan karena pemilihan makanan yang tidak tepat atau makan yang berlebihan, selektif terhadap makanan dan cenderung memiliki pilihan yang kuat terhadap satu jenis makanan saja. Perilaku ini sering menimbulkan konflik dalam pemilihan waktu makan (Sulistiyoningsih, 2010; Stanhope dan Lancester, 2006). Selain itiu, perilaku anak usia sekolah yang cenderung tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dan lebih menyukai mengkonsumsi makanan ringan yang tidak sehat, rendah zat besi, rendah vitamin C serta tinggi lemak mengakibatkan anak sekolah menjadi lebih mudah terpapar masalah gizi (Edelman dan Mandle, 2010). Perilaku lain yang mempengaruhi gizi anak adalah kebiasaan sarapan pagi. Sarapan pagi mempunyai peran penting dalam pemenuhan peran gizi anak. Selama waktu tidur metabolisme tubuh tetep berlangsung sehingga pada pagi hari perut terasa kosong, Akibatnya kebutuhan energy tubuh diambil dari cadangan lemak tubuh.

Rendahnya kadar gula dalam darah akan menimbulkan rasa lemas dan malas pada anak sehingga jika seorang anak tidak sarapan pagi anak akan cenderung lemas, malas dan kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran (Lamtiur dkk., 2015). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam penelitian ini perilaku gizi sangat mempengaruhi status gizi anak, dimana perilaku yang disebutkan diatas masih banyak ditemukan pada anak usia sekolah di Kabupaten Meranti.

Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa peran keluarga mempengaruhi status gizi anak. Hal ini bisa dijelaskan secara teoritis dimana keluarga merupakan faktor penguat dalam pembentukan perilaku anak, termasuk penerapan perilaku makan anak. Suatu kebiasaan makan yang baik akan ditularkan dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya (Sarkawi, 2008: Sulistioningshi, 2011). Orang tua pada dasaranya berkewajiban untuk menyajikan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi anaknya. Begitu juga dalam hal pemenuhan gizi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makan, merawat akan sangat mempengaruhi status gizi anak (Palupi, 2007). Teori ini diperkuat oleh penelitian Hannon dkk., (2008) yang menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara jenis makanan yang dikonsumsi oleh seorang Ibu terhadap pemilihan makanan seorang anak.

Begitu juga dengan kesulitan makan yang dialami seorang anak biasanya dipengaruhi oleh pola makan orang tua, penyediaan makan dan kontrol makanan dari orang tua (Kesuma, dkk., 2015).

Tabel 11. Faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia sekolah di Pesisir Kepulauan Meranti.

Variable Status Gizi

p Valuea

Tingkat pendapatan orang tua

≥UMR 4 (4,4) 10 (11,1) 2 (2,2) 0,400

Masalah gizi masih menjadi problematika pada anak usia sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 30 persent siswa sekolah dasar di kepulauan meranti ini mempunyai permasalahan gizi. Hal ini sesuai dengan data bahwa hampir 30-40 persen anak anak usia sekolah di negara berkembang memiliki masalah gizi. Berdasarkan status demoghraphi, sebagian besar anak anak berjenis kelamin laki laki, mempunyai sebagian besar orang tua dengan pendapatan kurang dari upah minimum rata rata dan tidak mempunyai penyakit kronik. Berdasarkan hasil statistik, populasi anak laki laki usia sekolah 6-12 tahun sedikit lebih besar dari anak perempuan, sehingga tidak mengherankan kalau hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa siswa laki laki lebih banyak dari perempuan (Badan Pusat Statistik, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian ini, faktor yang berhubungan dengan masalah gizi pada anak usia sekolah di Kabupaten Meranti ini adalah perilaku gizi dan peran keluarga. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Alamatsier, 2006). Status gizi ditentukan oleh sejauhmana terpenuhinya semua zat-zat gizi yang diperlukan

tubuh dari makanan dan peranan faktor-faktor yang menentukan besarnya kebutuhan penyerapan dan penggunaan zat gizi seperti aktvitas fisik, tingkat pertumbuhan dan penyakit infeksi. Anak usia sekolah beresiko mengalami masalah gizi karena berkaitan dengan pola makan. Pola makan adalah karakteristik kegiatan berulang kali dalam memenuhi kebutuhan akan makan termasuk macam makanan, jumlah yang dimakan setiap hari serrta cara memilih makanan. Kecenderungan memilih makanan yang tidak tepat mengakibatkan anak sekolah sering mengalami masalah gizi. Penelitian Alender dan Spradley (2010) menyatakan bahwa masalah gizi pada anak usia sekolah diakibatkan karena pemilihan makanan yang tidak tepat atau makan yang berlebihan, selektif terhadap makanan dan cenderung memiliki pilihan yang kuat terhadap satu jenis makanan saja. Perilaku ini sering menimbulkan konflik dalam pemilihan waktu makan (Sulistiyoningsih, 2010; Stanhope dan Lancester, 2006). Selain itiu, perilaku anak usia sekolah yang cenderung tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dan lebih menyukai mengkonsumsi makanan ringan yang tidak sehat, rendah zat besi, rendah vitamin C serta tinggi lemak mengakibatkan anak sekolah menjadi lebih mudah terpapar masalah gizi (Edelman dan Mandle, 2010). Perilaku lain yang mempengaruhi gizi anak adalah kebiasaan sarapan pagi. Sarapan pagi mempunyai peran penting dalam pemenuhan peran gizi anak. Selama waktu tidur metabolisme tubuh tetep berlangsung sehingga pada pagi hari perut terasa kosong, Akibatnya kebutuhan energy tubuh diambil dari cadangan lemak tubuh.

Rendahnya kadar gula dalam darah akan menimbulkan rasa lemas dan malas pada anak sehingga jika seorang anak tidak sarapan pagi anak akan cenderung lemas, malas dan kurang konsentrasi dalam menerima pelajaran (Lamtiur dkk., 2015). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam penelitian ini perilaku gizi sangat mempengaruhi status gizi anak, dimana perilaku yang disebutkan diatas masih banyak ditemukan pada anak usia sekolah di Kabupaten Meranti.

Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa peran keluarga mempengaruhi status gizi anak. Hal ini bisa dijelaskan secara teoritis dimana keluarga merupakan faktor penguat dalam pembentukan perilaku anak, termasuk penerapan perilaku makan anak. Suatu kebiasaan makan yang baik akan ditularkan dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya (Sarkawi, 2008: Sulistioningshi, 2011). Orang tua pada dasaranya berkewajiban untuk menyajikan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi anaknya. Begitu juga dalam hal pemenuhan gizi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anak. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu dalam memberikan makan, merawat akan sangat mempengaruhi status gizi anak (Palupi, 2007). Teori ini diperkuat oleh penelitian Hannon dkk., (2008) yang menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara jenis makanan yang dikonsumsi oleh seorang Ibu terhadap pemilihan makanan seorang anak.

Begitu juga dengan kesulitan makan yang dialami seorang anak biasanya dipengaruhi oleh pola makan orang tua, penyediaan makan dan kontrol makanan dari orang tua (Kesuma, dkk., 2015).

Dukungan keluarga khususnya orang tua sangat berperan nyata dalam menciptakan perilaku makan yang positif pada anak, termasuk perilaku sarapan pagi yang baik. Kebiasaan makan yang baik di dalam keluarga biasanya akan diteruskan turun menurun dan menjadi tradisi bagi si anak, sehingga meskipun sudah dewasa atau berpisah dari keluarganya, maka kebiasaan yang telah diajarkan akan tetap dilakukan. Oleh karena itu keluarga yang memiliki fungsi keluarga yang baik dan memiliki ikatan emosional yang baik dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan (Almatsier, 2006).

Peran orang tua dalam mengontrol jajan anak sangat penting untuk diterapkan. Jajan mempengaruhi status gizi anak, jajanan yang tidak baik pada umumnya hanya mengandung karbohidrat dan garam sehingga membuat anak cepat kenyang, padahal anak usia sekolah membutuhkan kalori yang tinggi.

Kebiasaan jajan menyebabkan jumlah konsumsi makanan anak jauh lebih rendah dari energi yang dibutuhkan tubuh. Sehingga hal ini akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lebih jauh lagi, penelitian ini memberikan hasil yang cukup unik dibanding penelitian lain dimana pendapatan keluarga, peran guru dan peran teman sebaya terbukti tidak ada hubungan dengan status gizi anak. Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian Pahlevi (2012) yang melihat terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi kekuatan hubungan sedang. Kemungkinan perbedaan ini disebabkan oleh terbatasnya variasi makanan yang bisa diakses di daerah Meranti. Walaupun pendapatan keluarga lebih besar, keterbatasan akses dalam mendapatkan jenis makanan tertentu dipercaya menjadi barrier dalam pemenuhan gizi yang seimbang.

Walaupun dalam penelitian ini peran terbukti dengan jelas bahwa keluarga sangat berpengaruh terhadap status gizi anak, tetapi beberapa teori menjelaskan bahwa, peran keluarga dan perilaku gizi bukan satu-satunya yang menjadi model dalam perilaku makan anak usia sekolah (Patrick dan Nicklas ,2010). Teman sebaya dan guru dipercaya mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap status gizi. Penelitian Hayati (2009) menemukan bahwa edukasi oleh teman sebaya dapat meningkatkan kebiasaan makan sehat oleh anak sehingga secara tidak langsung mempengaruhi status gizi anak. Hal ini sejalan dengan pendapat Sulistioningsih (2011) yang mengatakan bahwa guru dan teman sebaya sangat memepengaruhi terbentuknya pola makan pada anak usia sekolah. Pembentukan keperibadian anak melalui guru dilakukan dengan cara pendekatan penanaman nilai, penanaman moral kognitif dan pendekatan learning action. Oleh karena itu guru mempunyai pengaruh dalam pemilihan makanan selama anak di sekolah (Moore, 2009). Tetapi sayangnya, keadaan ini tidak ditemukan pada hasil penelitian ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh belum optimalnya sosialisasi pendidikan gizi di sekolah-sekolah. Selain itu optimalisasi penggunaan unit kesehatan sekolah sebagai salah satu sarana dalam peningkataan status kesehatan anak juga dirasa masih terbatas.