Dari GAM Menuju Mantan-GAM
4.2. Aceh masa Konflik: Antara Retorika Lokal dan Global
Kubu-kubu lain dalam tubuh eks-GAM di era pascatsunami dan pascakonflik adalah kubu para senior eksaktivis yang berbasis pro-Swedia versus kubunya anak muda, yang sebagian besar merupakan generasi baru GAM Aceh yang direkrut dari akhir 1990an dan 2000an. Ketegangan antarkubu ini dapat dilihat pada Pemilu lokal demokratis pertama tahun 2006 di Aceh. Untuk posisi gubernur dan wakil gubernur, kubu pendukung pro-Swedia mendukung pencalonan Humam Hamid dan Hasbi Abdullah (H20), sedangkan kubu mantan GAM lainnya lebih dulu mencalonkan Irwandi Yusuf dan M. Nazar (IRNA) dari calon independen.
4.2. Aceh masa Konflik: Antara Retorika Lokal dan Global
Aceh adalah entitas etnis yang unik. Reid (2005: 337) menyatakan bahwa identitas ideologi separatis Aceh dapat ditelusuri kembali sampai abad keenambelas. Sejak masa kesultanan Aceh di dunia Melayu dan perjuangan antikolonial melawan Belanda dengan konflik yang berkepanjangan setelah kemerdekaan Indonesia, Aceh telah lama menjadi topik pembicaraan historis. Hal ini terutama karena cerita panjangnya tentang perlawanan. Konfrontasi dan konflik Aceh dengan pemerintah pusat Indonesia semakin memperkuat identitas lokal Aceh sebagai sebuah negara imajiner. Fenomena ini pada akhirnya menimbulkan sesuatu yang disebut belakangan sebagai "nasionalisme Aceh."
Di Aceh, retorika yang berkembang selama konflik didasarkan pada pertemuan lokal dan global. Awalnya, isu lokal seperti sejarah pembelaan, keunikan etnik Aceh dan perjuangannya melawan Belanda telah mendominasi retorika. Meskipun demikian, karena konflik tersebut berawal dari Islamisme DI/TII ke dalam nasionalisme GAM, nuansa, aktor, dimensi, dan retorika utama juga akibatnya mengalami pergeseran. Namun, pemerintah Indonesia berusaha keras untuk melokalisasi konflik di Aceh. Ini diberikan sebagai alasan retorika resmi terhadap GAM. Pada akhirnyakonflik di Aceh terus dimainkan dalam kerangka NKRI. Jakarta mencoba memberi label GAM dengan nama dan akronim yang merendahkan, seperti Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) atau Gerombolan Sipil Bersenjata (GSB).
4.2.1. Retorika Lokal
Retorika lokal yang tersampaikan selama konflik Aceh mengalir ke beberapa isu sentral. Pertama, klaim bahwa Aceh adalah negara merdeka karena sejarah resistannya yang kuat dan masa lalunya yang gemilang. Ini menjadi sentimen publik yang dieksploitasi oleh GAM. Seperti yang disebarkan oleh kelompok pemberontak, dikatakan bahwa invasi Belanda ke Aceh pada tahun 1873 adalah ilegal. Argumen berikutnya adalah bahwa Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda. Hal ini merujuk pada identitas khusus orang Aceh yang termanifestasi dalam kampanye
48 pemisahan. Dengan demikian, studi Armstrong (1982) menyimpulkan bahwa nasionalisme dipicu oleh mitos, sejarah, nilai, dan budaya yang ada mungkin relevan dengan kasus Aceh.
Isu kedua adalah keistimewaan Aceh dan kontribusi besarnya dalam sejarah pembentukan Indonesia. Simbol Aceh sebagai "ibukota daerah" untuk Indonesia yang baru lahir pada awalnya diperkenalkan oleh Sukarno, presiden pertama Indonesia sendiri, saat kunjungan pertamanya ke Aceh (Jakobi 1992). Di tengah ketidakpastian, orang Aceh berhasil menyumbangkan dua pesawat untuk mobilitas pemimpin Indonesia. Kemurahan hati orang Aceh ditunjukkan sekali lagi dengan ditemukannya salah satu ladang minyak dan gas terbesar di Arun, Aceh Utara pada tahun 1971. Arun kemudian dikendalikan oleh sebuah perusahaan AS, Mobil Oil, dan ternyata merupakan salah satu sumber vital dari pertumbuhan Ekonomi Indonesia, dan menjadi fokus dan prioritas politik dan militer Indonesia (Davies 2006: 13).
Keluhan dan ketidakadilan membentuk retorika lokal utama ketiga. Ini mungkin merupakan faktor penting yang bisa membantu menjelaskan perpanjangan konflik dari masa ke masa.. Aceh merasa bahwa mereka dikhianati, diabaikan, dan ditinggalkan oleh semua janji yang diumbar oleh pemerintah pusat. Beberapa hal misalnya: penggabungan Aceh dan Sumatera Utara ke satu provinsi, pembagian hasil minyak dan gas yang tidak setara bagi pemerintah daerah, penganiayaan, operasi militer yang represif, dan penundaan formalisasi syariah, yang kesemuanya telah mengintensifkan dan memperburuk konflik. Sumber daya alam yang kaya di Aceh telah banyak dimanfaatkan untuk keuntungan finansial Jakarta sendiri. Pada saat yang sama Aceh telah menjadi ladang pembunuhan dan bukannya diperlakukan sebagai daerah khusus modal. Dengan demikian, GAM berhasil memanfaatkan retorika ini dengan memberikan harapan bahwa Aceh akan menuai keuntungan dari kemakmuran, seperti di Brunei Darussalam (Jones 1997).
4.2.2. Retorika Global
Retorika global juga memainkan peran sentral dalam dinamika konflik di Aceh. Bagi GAM, disebutkan bahwa internasionalisasi konflik adalah dorongan untuk menemukan kembali jati diri masa lampau; demokratisasi adalah kuda atau kendaraan untuk reformulasi; dan uang adalah bahan bakarnys (Aspinall 2009: 242). Retorika yang disampaikan melalui hubungan internasional, misalnya seperti tentang pelanggaran hak asasi manusia hanyalah sebuah pengalihan untuk mencapai ideologi kemerdekaannya (McCulloch 2003). Ini menjelaskan mengapa ada celah antara retorika dan realita.
49 Dalam masalah ini, ada beberapa isu global yang patut dipertimbangkan dalam konflik Aceh. Aspinall (2009: 90) telah memberikan sebuah studi wawasan yang terperinci tentang nasionalisme Aceh. Dia menegaskan bahwa nasionalisme Aceh dihasilkan dari interaksi GAM dengan dua momen internasional; Yang pertama adalah penentuan nasib sendiri dan retorika hukum internasional setelah Perang Dunia Kedua, yang kedua adalah isu demokratisasi dan hak asasi manusia di era g pascaperang.
Jelas bahwa penentuan nasib sendiri adalah awal dari kampanye ideologis GAM. Hubungan pendiri GAM, Hasan Tiro, dengan dunia internasional selama bertugas sebagai diplomat di Markas Besar PBB di New York sangat penting dalam menjelaskan kejadian ini. Isu kedaulatan dan hukum internasional dijelaskan secara gamblang pada pertemuan pertamanya di PBB. Dia mulai membangun gerbang internasional dan melobi tokoh-tokoh penting untuk tujuannya.
Sementara itu, masalah demokratisasi dan hak asasi manusia sudah mulai muncul ke permukaan di dalam tubuh GAM pada masa pasca-Soeharto di akhir tahun 90an. Pada saat upaya referendum saat itu, kontak antara aktivis GAM dan pemimpin mahasiswa, pemimpin hak asasi manusia dan aktivis LSM semakin intensif dalam kerangka retorika ini. Upaya ini pada awalnya membantu mengorganisir upaya terkoordinasi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Aceh. Pendekatan militer shock therapy Indonesia juga membuka jalan untuk menyatakan pelanggaran hak asasi manusia dan isu-isu demokratisasi di Aceh (Amnesty International 1993).
Suasana ketakutan di Aceh benar-benar terjadi di tengah arena pertumpahan darah (Sukma 2004). Pada titik ini, isu hak asasi manusia menjadi titik awal untuk menyambut intervensi internasional. Misalnya, International Amnesty sebagai salah satu promotor retorika hak asasi manusia terkemuka kemudian mengkritik mayoritas negara asing yang diam karena tanggapan pasif mereka atas pelanggaran HAM yang berat di Aceh. Demikian juga, retorika demokratisasi terjadi ketika aktivis mahasiswa mempromosikan referendum dan menyarankan agar semua orang Aceh memilih dengan damai, dengan menyuarakan pilihan ―tinggal atau berpisah dari Indonesia‖. Panggilan untuk referendum mendorong GAM untuk mengadopsi demokrasi dan diplomasi sebagai strateginya. Untuk tujuan ini, GAM, seperti dilansir Human Rights Watch (2001), mendukung sepenuhnya referendum dan tuntutan investigasi pelanggaran HAM yang diinisiasi oleh aktivis mahasiswa SIRA.
4.2.3. Dampak Retorika Global terhadap Realitas Lokal di Aceh
Dampak globalisasi terhadap konflik lokal di Aceh dapat diamati dalam tiga dimensi waktu: prakemerdekaan Indonesia, pascakemerdekaan Indonesia, dan era pasca-Soeharto. Dan tentu
50 saja, di bawah ruang lingkup pertukaran antara retorika global dan lokal, yang kemudian memungkinkan pendekatan yang lebih ringan dari dua pihak yang bertikai, yaitu GAM dan pemerintah Indonesia. Dan hal ini telah memberi jalan menuju kedamaian. Awalnya, interaksi pertama memaksa kedua belah pihak untuk menerapkan strategi berpikiran terbuka dalam menghadapi perselisihan dan dalam berurusan dengan kekuatan asing, lembaga internasional, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia.
GAM cenderung lebih mengenal media dan cara menyelundupkan jurnalis ke markas gerilya mereka di hutan, bersama dengan personil terlatih dengan komunikasi satelit yang canggih ke dalam basisnya (Aspinall 2009: 225). Selain itu, Jones (1997) juga mengungkapkan bahwa konflik Aceh dibahas secara serius dan diberitakan oleh sejumlah media internasional, seperti Far Eastern
Economic Review, Asia Watch, dan BBC World Service.
Disisi lain, Pemerintah Indonesia dan militer juga yakin bahwa inilah saat untuk menciptakan citra yang lebih baik, mengingat tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste dan pelanggaran demokrasi masa lalu selama rezim Soeharto (Biswas 2009). Pada saat yang sama, di akhir tahun 1990an, mereka khawatir bahwa Aceh akan segera memisahkan diri mengikuti usaha Timor Leste untuk menjadi negara merdeka. Pada tahun 1998, Indonesia menghadapi masa transisi yang sulit dari rezim orde baru menjadi orde reformasi. Interaksi awal ini membantu pembukaan perundingan damai selama masa kepresidenan Gus Dur dan dianggap sebagai pintu masuk yang kritis sebelum pemerintahan SBY-JK menstabilkan perundingan perdamaian menjadi penyelesaian permanen yang menjanjikan (Lingga 2007).
Dapat dikatakan bahwa retorika berikutnya adalah dampak setelah serangan teroris terhadap simbol kekuasaan dan supremasi Amerika pada tanggal 11 September 2001. Isu terorisme dan "War on Terror" mengubah keseluruhan struktur hubungan Timur dan Barat. Islam telah menjadi semacam musuh umum baru global dan GAM belajar dengan sangat cepat sehingga harus menyadari pandangan skeptis Barat tentang perjuangannya sendiri. Tidak mengherankan bahwa GAM mengkonfirmasi ideologi nasionalis dan liberalisnya di depan penonton dunia, menolak tuduhan dari pemerintah Indonesia bahwa mereka bermaksud mengadopsi ideologi fundamentalis Islam yang berisiko disponsori teroris. Satu hal yang dapat memfasilitasi pembedaan posisi GAM dari pendahulunya, (DI/TII), adalah bahwa ia mempromosikan demokrasi, liberalisme, dan nasionalisme, tidak seperti pemberontakan DI/TII yang mempromosikan Islamisme dan formalisasi syariah di Aceh (Biswas 2009).
51 Retorika terakhir adalah tsunami. Banyak yang percaya bahwa tsunami adalah berkah tersembunyi dan hal itu menjadi faktor penting dalam mempercepat perdamaian di Aceh. Selain itu, tsunami berfungsi sebagai pembukaan yang ideal untuk intervensi internasional besar-besaran di Aceh dan menjadi argumen utama di balik tekanan lokal dan global kepada pihak yang berkonflik untuk mengakhiri "kebuntuan yang menyakitkan" ini (Aspinall 2005: 7). Sebenarnya masyarakat tidak punya banyak pilihan sampai MoU Helsinki 2005. Setelah difasilitasi oleh LSM
Crisis Management Initiative (CMI) yang berbasis di Swiss oleh seorang mantan presiden Finlandia
Marti Ahtisaari, MoU antara pihak-pihak yang bertikai akhirnya disepakati dan ditandatangani (Morfit 2007). Masuknya bantuan, pekerja kemanusiaan, dan dukungan internasional pertama kali diarahkan untuk membantu rekonstruksi Aceh (Perlez 2005). Tapi, seiring berkembangnya situasi, pemberontak pemerintah Indonesia dan GAM juga mulai berbicara tentang pemulihan stabilitas politik dan demokrasi. Hal ini, pada tingkat tertentu, ketika rekonstruksi pascatsunami mengubah fokusnya dan lebih berkonsentrasi pada pengaturan dan rehabilitasi pascakonflik. Ini menciptakan situasi di mana GAM akhirnya dipaksa untuk menurunkan permintaan utamanya dari pemisahan negara ke otonomi daerah. Tokoh politik Indonesia mulai membuka kesempatan bagi ekspemberontak untuk berintegrasi secara ekonomi dan politik sebagai kandidat independen dalam partai politik lokal di NKRI.
Sebagai kesimpulan, proses interaksi antara retorika lokal dan global dalam konflik Aceh ternyata menjadi salah satu katalis konflik. Persinggungan antara retorika lokal dan global sebenarnya telah menghasilkan sesuatu yang sangat berbeda: domestikasi nasionalisme Aceh dalam batasan kewenangan Indonesia (Aspinall 2009: 222). Namun, hubungan global Hasan Tiro mungkin berguna dalam menjelaskan pergeseran ideologi GAM dari ekspemberontakan Islam DI/TII ke dalam visi yang lebih sekuler, liberal, dan nasionalis. Ideologi ini menarik minat pengikut GAM dengan bahasa propagandis, jaringan keluarga dan rekrutmennya. Mengapa? karena lebih menekankan pada penyampaian retorika, seperti keistimewaan Aceh dan masa lalu yang gemilang, serta isu isu ketidakadilan.
52