• Tidak ada hasil yang ditemukan

Key Actors (Pemangku Kepentingan Kunci) dalam Pengembangan Energi Terbarukan

7. Penyedia Dana Potensial ............................................................................................................................................. l

3.2 Key Actors (Pemangku Kepentingan Kunci) dalam Pengembangan Energi Terbarukan

40 P E M A N G K U K E P E N T I N G A N K U N C I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I

3.2 Key Actors (Pemangku Kepentingan Kunci) dalam

P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 41 Ketenagalistrikan (DJK) yang bertanggung jawab

di sektor ketenagalistrikan.

Dalam hal layanan perizinan, terdapat aplikasi Perizinan ESDM (www.perizinan.esdm.go.id), merupakan aplikasi layanan perizinan usaha dan operasional sektor ESDM—yang dikelompokkan menjadi empat, yakni: Minyak & Gas Bumi (Migas);

Energi Baru Terbarukan & Konservasi Energi (EBTKE); Ketenagalistrikan (Gatrik); serta Mineral

& Batu Bara (Minerba). Kementerian ESDM juga memiliki sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kementerian ESDM (www.eproc.esdm.go.id) untuk memfasilitasi pengadaan barang dan jasa secara elektronik.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, &

Konservasi Energi (DJEBTKE), terdiri dari Sekretariat DJEBTKE, Direktorat Panas Bumi (DEP), Direktorat Bioenergi (DEB), Direktorat Aneka Energi Baru & Terbarukan (DEA), Direktorat Konservasi Energi (DEK), serta Direktorat Perencanaan & Pembangunan Infrastruktur EBTKE.

DJEBTKE menyelenggarakan fungsi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pelaksanaan evaluasi dan pelaporan—di bidang pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan pengusahaan, keteknikan, keselamatan kerja, lingkungan, serta pembangunan sarana dan prasarana tertentu di bidang panas bumi, bioenergi, aneka energi baru dan terbarukan, dan konservasi energi.

Direktorat Bioenergi memiliki tugas dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi dan pelaporan, serta pengendalian dan pengawasan—di bidang penyiapan program, pelayanan dan pengawasan usaha, implementasi pengembangan, investasi

dan kerja sama, serta keteknikan dan lingkungan bioenergi.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK), terdiri dari Sekretariat DJK, Direktorat Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan, dan Direktorat Teknik & Lingkungan Ketenagalistrikan.

DJK menyelenggarakan fungsi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi—di bidang pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan pengusahaan, keteknikan, keselamatan kerja, dan lingkungan di bidang ketenagalistrikan.

Dalam hal permohonan perizinan berusaha pengembangan pembangkit listrik berbasiskan energi terbarukan oleh Independent Power Producer (IPP), terdapat berbagai izin yang berada di bawah kewenangan DJK-KESDM, yaitu Izin Persetujuan dan Penandasahan Rencana Impor Barang (RIB), Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) untuk kepentingan umum, Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik (IUJPTL), dan Sertifikat Laik Operasi (SLO). Pengembang dapat mengajukan perizinan berusaha tersebut melalui sistem OSS, selanjutnya menyampaikan dokumen persyaratan teknis melalui aplikasi Perizinan ESDM untuk dilakukan verifikasi oleh DJK-KESDM. Sebagai catatan, verifikasi SLO akan dilakukan melalui aplikasi Sistem Registrasi SLO.

Kementerian Investasi (Badan Koordinasi Penanaman Modal,

BKPM), mengakomodasi

pelayanan perizinan terkait investasi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, termasuk pengajuan fasilitas/insentif dan permohonan tenaga kerja asing. BKPM di tahun 2018 telah membuat suatu sistem pelayanan perizinan—

Online Single Submission (OSS)—untuk

42 P E M A N G K U K E P E N T I N G A N K U N C I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I

memudahkan pengembang dalam melakukan permohonan perizinan dan memperoleh informasi terkait perizinan berusaha di Indonesia. OSS merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh pelayanan perizinan berusaha yang menjadi kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur, atau Walikota/Bupati, secara elektronik.

Konsep paling penting dalam sistem OSS ini adalah menggunakan satu portal nasional, satu identitas perizinan berusaha (Nomor Induk Berusaha, NIB), dan satu format izin berusaha.

Penerapan sistem OSS melibatkan 25 Kementerian/Lembaga, 34 Provinsi, 514 Kota/

Kabupaten, 13 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 4 Free Trade Zone (FTZ), dan 111 Kawasan Industri.

Perizinan berusaha seluruh sektor wajib diterbitkan melalui OSS, kecuali sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, serta keuangan (perbankan dan asuransi). Adapun layanan OSS dapat dilakukan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BKPM Pusat dan seluruh Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi/Kota/Kabupaten.

Regulasi yang mendasari pembentukan OSS adalah Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha, serta Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik—yang telah dicabut dan digantikan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Sejalan dengan regulasi terbaru di atas, akan diberlakukan sistem OSS Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (OSS–PBBR). Konsep Perizinan Berusaha Berbasis Risiko ini disajikan pada Box 6, merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021. Konsep dari peraturan sebelumnya dimutakhirkan dengan adanya pengklasifikasian kegiatan usaha berbasis risiko. Adapun prosedur

dalam permohonan NIB dan perizinan berusaha masih sama dengan sebelumnya.

Selain perizinan berusaha, pengajuan fasilitas (insentif), berupa Tax Holiday, Tax Allowance, Pembebasan Bea Masuk, dan fasilitas lainnya, juga dilakukan melalui sistem OSS—oleh pelaku usaha yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut.

Kementerian Lingkungan Hidup

& Kehutanan (LHK)

,

memiliki kewenangan terhadap Persetujuan Lingkungan—merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Pengembang dapat mengajukan permohonan perizinan tersebut melalui sistem OSS, kemudian menyampaikan dokumen persyaratan teknis ke Kementerian LHK untuk dilakukan verifikasi.

Kementerian Keuangan,

menyelenggarakan fungsi dalam perumusan dan pemberian rekomendasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan, termasuk dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Di sektor ketenagalistrikan, Kementerian Keuangan menyetujui jaminan pemerintah terkait kewajiban PT PLN (Persero) dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL). Secara spesifik dalam pengembangan energi terbarukan, Kementerian Keuangan berperan dalam merumuskan dan menyetujui insentif fiskal seperti keringanan pajak dan ketentuan depresiasi yang dipercepat.

Fasilitas (insentif) dalam pengusahaan PLTBio meliputi: Pembebasan Bea Masuk, serta

Tax Allowance

atau

Tax

Holiday

.

P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 43 Dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis

bioenergi (PLTBio), fasilitas (insentif) yang disediakan mencakup Pembebasan Bea Masuk serta Tax Allowance atau Tax Holiday —masing-masing diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66 Tahun 2015 serta Nomor 11 Tahun 2020 dan Nomor 130 Tahun 2020. Pengajuan fasilitas ini dilakukan melalui sistem OSS dengan pemenuhan komitmen melalui Kementerian Keuangan.

Kementerian Agraria dan Tata

Ruang/Badan Pertanahan

Nasional (ATR/BPN), memiliki kewenangan terhadap Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR)—merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Pengembang dapat mengajukan permohonan perizinan tersebut melalui sistem OSS, kemudian menyampaikan dokumen persyaratan teknis ke Kementerian ATR (BPN) untuk dilakukan verifikasi.

Box 6: Konsep Perizinan Berusaha Berbasis Risiko melalui Sistem OSS

Sistem OSS menggunakan satu portal nasional, dengan satu identitas perizinan berusaha (Nomor Induk Berusaha, NIB), yang juga berlaku sebagai: Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Angka Pengenal Impor (API), dan hak akses kepabeanan.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, setiap pelaku usaha wajib memenuhi Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha dan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha mencakup: Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Persetujuan Lingkungan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF)—yang sebelumnya disebut sebagai izin sarana prasarana (izin terkait lokasi, lingkungan, dan bangunan).

Perizinan Berusaha Berbasis Risiko diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: (i) perizinan berusaha risiko rendah, melalui penerbitan NIB; (ii) perizinan berusaha risiko menengah rendah, melalui penerbitan NIB dan Sertifikasi Standar; (iii) perizinan berusaha risiko menengah tinggi, melalui penerbitan NIB dan Sertifikasi Standar dengan verifikasi; serta (iv) perizinan berusaha risiko tinggi, melalui penerbitan NIB dan Izin dengan verifikasi. Dalam hal pengembangan pembangkit listrik, kegiatan usaha ini diklasifikasikan sebagai risiko tinggi.

Langkah-langkah pengajuan permohonan perizinan berusaha dan pengajuan fasilitas melalui sistem OSS: (i) Pengembang mengajukan permohonan perizinan berusaha ke sistem OSS; (ii) Sistem OSS akan menerbitkan perizinan berusaha dengan status “tidak efektif”; (iii) Pengembang menyampaikan dokumen persyaratan teknis melalui Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah (K/L/D) secara online atau offline; (iv) K/L/D akan melakukan verifikasi; (v) Apabila dokumen telah diverifikasi, sistem OSS akan menerbitkan perizinan berusaha dengan status “efektif”.

44 P E M A N G K U K E P E N T I N G A N K U N C I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menyelenggarakan fungsi dalam perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang penataan bangunan gedung.

Kementerian PUPR menyediakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (www.simbg.pu.go.id) yang digunakan dalam mengajukan permohonan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Kementerian Perindustrian, memformulasikan kebijakan di sektor industri, termasuk menetapkan persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Persyaratan TKDN untuk PLTBm (teknologi boiler) diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 54 Tahun 2012 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan—

diklasifikasikan sebagai PLTU,

Kementerian Badan Usaha

Milik Negara (BUMN),

bertanggung jawab atas pengawasan BUMN, termasuk PT PLN (Persero)—dengan melakukan pengawasan terhadap manajemen perusahaan, menetapkan dan meninjau target kinerja perusahaan, serta menyetujui anggaran tahunannya.

PT PLN (Persero), berada di bawah pengawasan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian BUMN. PT PLN (Persero) bertanggung jawab atas sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia dengan kewenangan atas transmisi, distribusi, dan pasokan listrik kepada masyarakat. Selain itu, PT PLN (Persero) juga bertindak sebagai pembeli (offtaker) terhadap listrik yang dihasilkan oleh

Independent Power Producer (IPP) berdasarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL)—sesuai dengan pengadaan dan rencana bisnisnya. Secara spesifik, Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Energi Baru & Terbarukan diatur melalui Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020.

Merujuk pada RUKN, PT PLN (Persero) bertanggung jawab dalam penyusunan RUPTL dengan jangka waktu 10 tahun, meliputi wilayah operasi atau Wilayah Usaha PT PLN (Persero), termasuk proyeksi kebutuhan tenaga listrik, serta rencana penambahan kapasitas pembangkit, transmisi, dan distribusi. Perkiraan penambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan juga mencakup pemisahan antara proyek yang akan dikembangkan oleh PT PLN (Persero) dan IPP, termasuk memuat perkiraan pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Calon pengembang wajib terdaftar di e-DPT (Daftar Penyedia Terseleksi) untuk dapat mengikuti pengadaan proyek PLTBm atau PLTBg oleh PT PLN (Persero).

Registrasi e-DPT dan pengumuman pengadaan disediakan melalui portal www.eproc.pln.co.id.

PT PLN (Persero) memiliki portal e-procurement, www.eproc.pln.co.id, yang memuat tentang pengumuman pengadaan, pengumuman Daftar Penyedia Terseleksi (DPT), hasil pengadaan, hasil DPT, dan berita. Bagi pengembang yang tertarik mengikuti pengadaan barang dan jasa terkait pembangkit listrik berbasis energi terbarukan,

P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 45 khususnya bioenergi (PLTBm, PLTBg)8—dapat

mengakses portal e-procurement PT PLN (Persero). Persyaratan utama dalam mengikuti pengadaan tersebut, yaitu pengembang (disebut sebagai Calon Mitra Penyedia Barang/Jasa) diwajibkan untuk terdaftar di e-DPT. Proses registrasi e-DPT disediakan melalui portal e-procurement PT PLN (Persero).

Pemerintah Daerah

,

memiliki kewenangan terhadap beberapa perizinan usaha terkait pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, utamanya izin terkait lokasi, lingkungan, dan bangunan—yang akan diterbitkan melalui OSS dengan upaya pemenuhan komitmen melalui Pemerintah Daerah. Kegiatan usaha dengan lokasi di daratan, yang telah sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) daerah—

sistem OSS secara otomatis akan menerbitkan konfirmasi kegiatan pemanfaatan ruang sesuai kegiatan usaha. Apabila lokasi kegiatan usaha berada di kawasan hutan, upaya pemenuhan komitmen dilakukan melalui Kementerian LHK.

Secara spesifik untuk pengembangan PLTSa, pemerintah daerah akan menetapkan pengembang PLTSa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyedia Dana, untuk pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan—

antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Indonesia Infrastructure Finance, bank, lembaga pembiayaan, dan program lainnya.

PT SMI merupakan salah satu lembaga/institusi penyedia dana yang aktif dalam pembiayaan sektor ketenagalistrikan, infrastruktur energi terbarukan, infrastruktur konservasi energi, dan infrastruktur pengelolaan persampahan. PT SMI berperan sebagai katalis dalam mendukung pembiayaan infrastruktur di Indonesia—yang bermuara pada dua tujuan utama, yaitu mengoptimalisasi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan mitigasi perubahan iklim. Dalam menjalankan peran tersebut, PT SMI memiliki tiga pilar, yakni pembiayaan dan investasi, jasa konsultasi, dan pengembangan proyek.

PT SMI berada di bawah koordinasi Kementerian Keuangan—memiliki peran untuk membantu pengembang dalam mendapatkan pembiayaan dalam negeri untuk hutang dan pendanaan ekuitas pembangunan infrastruktur termasuk proyek pembangkit listrik. PT SMI juga didukung oleh lembaga multilateral, termasuk Bank Dunia.

8 PLTBm: Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa; PLTBg: Pembangkit Listrik Tenaga Biogas; PLTS: Pembangkit Listrik Tenaga Surya; PLTB: Pembangkit Listrik Tenaga Bayu; PLTA/M/MH: Pembangkit Listrik Tenaga Air/Minihidro/Mikrohidro.

46 P E M A N G K U K E P E N T I N G A N K U N C I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I

P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 47

4

Program Pemerintah

dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Program pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan bioenergi di Indonesia, khususnya PLTBio.

48 P E M A N G K U K E P E N T I N G A N K U N C I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I

P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 49

4 Program Pemerintah dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Kebijakan Energi Nasional (KEN) menjadi dasar target pengembangan energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 di Indonesia. Dari target tersebut, porsi pembangkit listrik berbasiskan bioenergi (PLTBio) adalah sebesar 5,5 GW. Melalui RUEN (Rencana Umum Energi Nasional), ambisi tersebut dijabarkan dengan target tahunan yang lebih detail. Dalam rangka mempercepat tercapainya target dan ambisi tersebut,

pemerintah menetapkan beberapa program pengembangan energi terbarukan. Program ini dapat menjadi opsi bagi investor untuk berinvestasi di bidang energi terbarukan, khususnya bioenergi. Program pengembangan tersebut mencakup Sumba Iconic Island, program REBED, program percepatan pembangunan PLTSa, dan program Hutan Tanaman Energi (HTE).