Kemudahan berusaha dalam berbagai skala turut didorong oleh Pemerintah Indonesia melalui reformasi struktural, termasuk dengan reformasi sistem perizinan. Sejak 9 Juli 2018, BKPM telah meluncurkan sistem pelayanan online berbasis-web, yaitu Online Single Submission (OSS)—
merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh pelayanan perizinan berusaha yang menjadi kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur, atau Bupati/Walikota—yang dilakukan secara elektronik.
Sebagai catatan, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, sebagai regulasi turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Dalam hal pelaksanaan regulasi tersebut, sistem OSS yang ada saat ini akan diperbarui menjadi sistem OSS Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (OSS-PBBR)—yang akan diterapkan mulai 2 Agustus 2021. Melalui regulasi tersebut, pengusahaan ketenagalistrikan dikategorikan sebagai jenis usaha risiko tinggi—
dengan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha terdiri atas Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha dan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.
Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha, mencakup:
(i) Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang; (ii) Persetujuan Lingkungan, diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
serta (iii) Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), diatur melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
Pelaku usaha mengajukan permohonan KKPR dan Persetujuan Lingkungan melalui sistem OSS, sedangkan permohonan PBG dan SLF melalui Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG).
Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (Tinggi), mencakup Nomor Induk Berusaha (NIB) dan Izin.
Pengajuan permohonan NIB dan Izin dilakukan melalui sistem OSS. Verifikasi Izin kemudian dilakukan oleh Kementerian/Lembaga/
Pemerintah Daerah (K/L/D) sesuai dengan yang dipersyaratkan.
Pada pedoman ini, bagian Administrasi dan Perizinan utamanya disusun dengan merujuk pada serangkaian regulasi di atas, namun juga masih mempertimbangkan regulasi turunan (Peraturan Menteri) eksisting (sebelum tahun 2021)—
sehubungan dengan pelayanan perizinan berusaha yang terintegrasi dengan sistem OSS.
Secara lebih spesifik, layanan perizinan berusaha yang digunakan dalam hal pengusahaan ketenagalistrikan (khususnya PLTBio) mencakup:
(i) Sistem OSS (Box 7 dan Box 8); (ii) SIMBG (Box 9); (iii) Pelayanan Terpadu Satu Pintu – Kementerian LHK (PTSP-KLHK) (Box 10);
(iv) Layanan Perizinan Kementerian ESDM (Box 11); (v) E-Procurement PT PLN (Persero) (Box 12); (vi) Sistem Registrasi Sertifikat Laik Operasi (SLO) (Box 13); dan (vii) Web Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) di masing-masing provinsi (Box 14).
72 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I Box 7: Gambaran Umum Perizinan Melalui Online Single Submission (OSS)
Konsep perizinan melalui Online Single Submission (OSS)(www.oss.go.id) menggunakan satu portal nasional, dengan satu identitas perizinan berusaha yang disebut Nomor Induk Berusaha (NIB), serta satu format perizinan berusaha. Sebagai catatan, sistem OSS akan diperbarui menjadi OSS Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (OSS-PBBR) pada bulan Agustus 2021. Secara lebih jelas, dalam gambar di bawah ini disajikan alur perizinan berusaha di Indonesia melalui sistem OSS (atau OSS-PBBR), yang terdiri dari enam langkah, yaitu: (i) registrasi user OSS; (ii) registrasi legalitas; (iii) proses NIB; (iv) permohonan persyaratan dasar perizinan berusaha; (v) permohonan perizinan berusaha berbasis risiko (untuk risiko tinggi berupa Izin); dan (vi) pengajuan fasilitas.
Registrasi user OSS, merupakan langkah awal dalam melakukan perizinan berusaha di Indonesia.
Registrasi dilakukan dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk Warga Negara Indonesia (WNI) atau paspor untuk Warga Negara Asing (WNA). Langkah kedua adalah registrasi legalitas pendirian badan hukum/usaha non-perseorangan, dapat berupa Akta Pendirian/Perubahan dan Surat Keputusan Kementerian Hukum & Hak Asasi Manusia (HAM). Ketiga adalah proses pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB), dengan melengkapi data legalitas untuk menerbitkan NIB.
Poin keempat adalah pengajuan permohonan Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha, mencakup Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR), Persetujuan Lingkungan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Poin kelima adalah pengajuan permohonan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (Tinggi)— dalam hal pengembangan PLTBio, antara lain Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) dan Sertifikat Laik Operasi (SLO). Adapun poin terakhir adalah pengajuan fasilitas, seperti Tax Holiday, Tax Allowance, Pembebasan Bea Masuk, dan fasilitas lainnya.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 73 Box 8: Alur Verifikasi Izin dari Sistem OSS melalui K/L/D
Dalam proses permohonan izin usaha melalui Online Single Submission (OSS), terdapat ketentuan bagi badan usaha (pengembang) untuk melakukan verifikasi (pemenuhan komitmen usaha) di level Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah (K/L/D) sesuai dengan yang dipersyaratkan. Alur verifikasi/
pemenuhan komitmen izin usaha secara umum diilustrasikan pada gambar di bawah ini.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, badan usaha (pengembang) dalam melakukan pengajuan izin usaha di OSS akan mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan—kemudian—izin usaha, namun dengan status “belum efektif”. Dalam hal ini, badan usaha (pengembang) harus melakukan pemenuhan komitmen izin usaha yang umumnya dilakukan melalui layanan perizinan K/L/D terkait. Apabila komitmen (dokumen persyaratan teknis) yang diserahkan belum lengkap, maka pemenuhan komitmen yang dilakukan oleh badan usaha (pengembang) akan ditolak. Pelaksanaan verifikasi berdasarkan komitmen izin usaha akan dilakukan oleh K/L/D terkait. Jika hasil verifikasi persyaratan teknis dinyatakan lengkap dan sesuai, maka Surat Pemenuhan Komitmen diterbitkan; jika tidak, maka badan usaha (pengembang) harus memperbaiki komitmen izin usaha yang dipersyaratkan. Dengan terbitnya Surat Pemenuhan Komitmen, izin usaha dengan status “efektif” akan diterbitkan melalui OSS.
74 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I Box 9: Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG)
Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, badan usaha (pengembang) dapat mengajukan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) melalui layanan Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) di bawah Kementerian PUPR.
Melalui layanan SIMBG (www.simbg.pu.go.id), badan usaha (pengembang) dapat mengajukan dua permohonan, yaitu: (i) Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)—saat akan mendirikan bangunan; dan (ii) Sertifikat Laik Fungsi (SLF) saat bangunan telah berdiri. Pengembang terlebih dahulu masuk ke web SIMBG untuk melakukan pendaftaran akun, kemudian dapat mengajukan permohonan PBG dan SLF, dengan melengkapi persyaratan administrasi dan teknis yang dipersyaratkan dalam SIMBG. Verifikasi kelengkapan dokumen persyaratan dan pemeriksaan teknis akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah (yaitu Dinas Perizinan dan Dinas Teknis). Setelah verifikasi dan pemeriksaan dokumen selesai dilakukan dan dinyatakan lolos, persetujuan penerbitan serta penyerahan PBG dan SLF akan dilakukan oleh Dinas Perizinan. Sebagai catatan, untuk penerbitan PBG, pengembang diharuskan membayar retribusi daerah—hal ini tidak berlaku untuk penerbitan SLF.
Box 10: Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kementerian LHK (PTSP-KLHK)
Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, badan usaha (pengembang) dapat mengajukan Persetujuan Lingkungan melalui sistem OSS dan kemudian melampirkan dokumen persyaratan melalui web PTSP-KLHK (www.pelayananterpadu.menlhk.go.id) untuk diverifikasi—yaitu Nomor Induk Berusaha (NIB), dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup – Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL) atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), serta dokumen lainnya sesuai yang dipersyaratkan dalam PTSP-KLHK.
Setelah mendapatkan Persetujuan Lingkungan dengan status “belum efektif” dari sistem OSS, pengembang harus memenuhi komitmen yang dipersyaratkan oleh Kementerian LHK, melalui web PTSP-KLHK. Pengembang terlebih dahulu masuk ke web PTSP-KLHK untuk melakukan pendaftaran akun, kemudian memilih layanan perizinan (dalam hal ini adalah Persetujuan Lingkungan) dan melampirkan dokumen persyaratan. Verifikasi dan validasi akan dilakukan oleh Unit Teknis Kementerian LHK. Apabila dokumen persyaratan telah selesai divalidasi, Kementerian LHK akan menerbitkan Surat Keputusan/Rekomendasi, juga mengirimkan notifikasi ke sistem OSS sehingga Persetujuan Lingkungan akan berstatus “efektif”.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 75 Box 11: Aplikasi Perizinan Usaha dan Operasional Sektor ESDM
Kementerian ESDM menyediakan sebuah aplikasi perizinan secara elektronik (www.perizinan.esdm.go.id) untuk memberikan layanan perizinan usaha dan operasional di lingkungan ESDM—disebut Aplikasi Perizinan Usaha dan Operasional Sektor ESDM. Aplikasi ini digunakan dalam proses pemenuhan komitmen izin usaha/verifikasi perizinan yang diajukan oleh pengembang/investor melalui sistem OSS.
Pada beranda web tersebut, terdapat empat portal perizinan yang ditampilkan antara lain: MIGAS (Minyak dan Gas Bumi); MINERBA (Mineral dan Batu Bara); EBTKE (Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi); GATRIK (Ketenagalistrikan). Sehubungan dengan investasi di bidang energi terbarukan, dalam hal ini pengembangan PLTBio, hanya terdapat satu portal yang relevan bagi badan usaha (pengembang), yaitu portal GATRIK untuk Layanan Perizinan Usaha dan Operasional Ketenagalistrikan. Dalam layanan tersebut, pengembang dapat mengajukan permohonan Izin Persetujuan dan Penandasahan Rencana Impor Barang (RIB) dan melakukan pemenuhan komitmen untuk Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL).
Alur perizinan usaha dan operasional sektor ESDM—termasuk ketenagalistrikan—terdiri dari lima (5) langkah sebagaimana diilustrasikan pada gambar di bawah ini.
76 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I Box 12: Aplikasi e-Procurement PT PLN (Persero)
Berdasarkan Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0022 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa PT PLN (Persero), PLN menyelenggarakan lima jenis pengadaan, meliputi: (i) pengadaan barang; (ii) pengadaan pekerjaan konstruksi; (iii) pengadaan jasa konsultansi; (iv) pengadaan jasa lainnya; (v) pengadaan khusus. Sehubungan dengan pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan, PT PLN (Persero) menyelenggarakan pengadaan khusus untuk pembelian tenaga listrik, salah satunya dari Independent Power Producer (IPP)—atau disebut sebagai “Pengadaan IPP”. Dalam konteks pengembangan PLTBio, pengadaan IPP dilaksanakan untuk memfasilitasi mekanisme pemilihan langsung (lelang) pengembang PLTBm atau PLTBg.
Pada mekanisme pemilihan langsung—dalam hal ini pengadaan IPP PLTBm atau PLTBg—calon pengembang harus sudah terdaftar dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) PLN. Dalam pelaksanaannya, registrasi calon pengembang hingga terdaftar sebagai DPT serta pelaksanaan pengadaan—lelang pemilihan langsung—difasilitasi melalui Aplikasi e-Procurement PLN. Aktivitas pengadaan barang/jasa melalui e-Procurement PLN secara umum dapat diilustrasikan pada gambar di bawah ini. Merujuk pada gambar, proses registrasi awal calon pengembang hingga terdaftar sebagai DPT dapat direpresentasikan dengan aktivitas (01–02) “Persiapan Pengadaan Barang/Jasa”, sementara proses lelang pemilihan langsung direpresentasikan dengan aktivitas (03–10) “Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa”.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 77 Box 13: Sistem Registrasi Sertifikat Laik Operasi (SLO)
Merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik Bidang Ketenagalistrikan, pengembang pembangkit listrik dapat mengajukan permohonan Sertifikat Laik Operasi (SLO) melalui sistem OSS. Meskipun demikian, dalam teknis pelaksanaannya pengembang juga harus melakukan pendaftaran SLO melalui Sistem Registrasi SLO (www.slodjk.esdm.go.id) yang dikelola oleh Direktorat Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan, DJK-KESDM.
Melalui Sistem Registrasi SLO, pengembang melakukan pendaftaran dengan memilih satu Lembaga Inspeksi Teknik (LIT) Tenaga Listrik Akreditasi berdasarkan daftar yang tersedia (catatan: Sistem Registrasi SLO menyediakan daftar LIT secara lengkap, meliputi nama lembaga, status penetapan, telepon/email, alamat, dan ruang lingkup inspeksi). Dalam Sistem Registrasi SLO, pengembang juga dapat menggunakan beberapa fitur lain seperti fitur cek status pendaftaran SLO dan verifikasi SLO.
Box 14: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tingkat Provinsi
Setiap provinsi di Indonesia memiliki web DPMPTSP, yang ditujukan untuk memberikan kemudahan layanan perizinan dan nonperizinan kepada masyarakat, serta menyajikan keterbukaan informasi kepada pemohon mengenai pengaturan, prosedur, serta mekanisme pelayanan perizinan dan nonperizinan yang diselenggarakan.
Menu utama yang tersedia di web DPMPTSP, yaitu daftar perizinan yang dapat dilayani di DPMPTSP baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten, layanan permohonan perizinan secara online, dan sistem tracking permohonan. Selain itu, web DPMPTSP juga terhubung dengan sistem OSS. Dalam hal pengusahaan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, permohonan perizinan yang dapat diajukan melalui web DPMPTSP antara lain Izin Gangguan (Hinder Ordonnantie) dan Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air (SIPPA).
78 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I
6.3 Gambaran Umum Siklus Pengembangan Proyek
Untuk sistematika keselarasan dengan pedoman bidang energi terbarukan yang lainnya, dalam pedoman ini, siklus pengembangan proyek PLTBio dibagi menjadi tiga fase, yaitu: Fase Pengembangan, Fase Pembangunan, dan Fase Operasi. Adapun tahapan proses pengusahaan proyek PLTBio disusun utamanya merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 dan perubahannya.
Dari tiga fase di atas, siklus pengembangan proyek PLTBio dibagi menjadi 11 tahap, yaitu (1) Pelelangan Proyek; (2) Studi Perencanaan;
(3) Legalitas Badan Usaha; (4) Pengajuan Fasilitas;
(5) Administrasi dan Perizinan; (6) Pendanaan;
(7) Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL);
(8) Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL);
(9) Engineering, Procurement, and Construction (EPC); (10) Penyambungan Jaringan Listrik dan Commissioning; serta (11) Operasi dan Pemeliharaan (O&M).
Siklus pengembangan proyek PLTBio ini secara umum ditunjukkan dalam Gantt Chart (Gambar 12) dan diagram alir (Gambar 13). Gambaran umum dari masing-masing fase dijelaskan di bawah ini.
Sementara itu, rincian untuk masing-masing fase dan tahap maupun subtahap yang tercakup dijelaskan pada subbab selanjutnya.
Siklus pengembangan proyek PLTBio secara umum dituangkan ke dalam bentuk Gantt Chart (Gambar 12) dan diagram alir (Gambar 13).
Gambaran umum dari masing-masing fase dijelaskan di bawah ini. Sementara itu, rincian untuk masing-masing fase dan tahap maupun subtahap yang tercakup dijelaskan pada Subbab selanjutnya.
Fase Pengembangan
Fase Pengembangan merupakan fase awal pengusahaan PLTBio. Fase ini diawali dengan pelelangan proyek (Tahap 1) yang diselenggarakan oleh PT PLN (Persero)—dengan dua mekanisme, yaitu: (i) Pemilihan Langsung (Tahap 1a) untuk proyek PLTBm dan PLTBg; serta (ii) Penunjukan Langsung (Tahap 1b) untuk proyek PLTSa.
Badan usaha yang mengikuti lelang diwajibkan untuk menyusun Studi Perencanaan (Tahap 2a), meliputi Studi Kelayakan (Feasibility Study, FS) dan Studi Penyambungan (Grid Study, GS). Studi Perencanaan ini akan dievaluasi oleh PT PLN (Persero) sebagai bahan pertimbangan penetapan pemenang lelang.
Badan usaha pemenang lelang—selanjutnya disebut dengan calon pengembang, harus membentuk badan usaha baru dengan melakukan legalitas badan usaha (Tahap 3). Pada tahap ini, calon pengembang dapat mengajukan fasilitas fiscal (Tahap 4a) berupa Tax Allowance atau Tax Holiday. Calon pengembang kemudian harus melakukan prosedur administrasi dan perizinan (Tahap 5a), yaitu Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dan Persetujuan Lingkungan.
Selain itu, calon pengembang juga akan menyusun Studi Perencanaan yang lebih rinci (Tahap 2b) yang umumnya ditujukan sebagai persyaratan dalam pengajuan permohonan pendanaan ke pihak penyedia dana (Tahap 6). Selanjutnya, untuk dapat melakukan transaksi jual beli listrik, calon pengembang akan melakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) (Tahap 7) dengan PT PLN (Persero). Fase ini diakhiri dengan pemenuhan biaya (financial close).
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 79
Fase Pembangunan
Dalam Fase Pembangunan, calon pengembang yang telah melakukan PJBL—selanjutnya disebut sebagai pengembang—dapat mengajukan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) (Tahap 8). Selanjutnya, dengan IUPTL sebagai persyaratan, pengembang dapat mengajukan fasilitas Pembebasan Bea Masuk untuk kegiatan konstruksi PLTBio (Tahap 4b). Selain itu, pengembang juga harus melakukan prosedur administrasi dan perizinan sebelum melakukan konstruksi (Tahap 5b), yaitu Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan perizinan berusaha lainnya (Izin Gangguan/HO serta Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air/ SIPPA).
Setelah administrasi dan perizinan di atas terpenuhi, pengembang dapat melaksanakan
konstruksi PLTBio—dalam tahap EPC (Tahap 9).
Apabila kegiatan konstruksi telah selesai, pengembang harus mengajukan permohonan penyambungan jaringan listrik dan melakukan commissioning (Tahap 10). Selain itu, pengembang harus melakukan prosedur administrasi dan perizinan (Tahap 5c), yang mencakup Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan Serfitikat Laik Operasi (SLO).
Fase Operasi
Fase operasi dimulai setelah kegiatan konstruksi dan commissioning pembangkit selesai dilakukan, serta ditandai dengan Commercial Operation Date (COD). Fase Operasi mencakup kegiatan operasi dan pemeliharaan (Tahap 11), serta pengajuan fasilitas berupa pemanfaatan Tax Allowance atau Tax Holiday (Tahap 4c).
80 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I Gambar 12: Gantt Chart siklus pengembangan PLTBio
Catatan: *) Dalam pengembangan proyek PLTSa, Tahap Legalitas Badan Usaha (Tahap 3) dilakukan sebelum Tahap Pelelangan Proyek (Tahap 1b).
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 81 Gambar 13: Diagram alir siklus pengembangan PLTBio
Catatan: *) Dalam pengembangan proyek PLTSa, Tahap Legalitas Badan Usaha (Tahap 3) dilakukan sebelum Tahap Pelelangan Proyek (Tahap 1b).
82 P R O S E S B I S N I S / I N V E S T A S I P R O Y E K P L T B I O E N E R G I