• Tidak ada hasil yang ditemukan

INVESTASI PEDOMAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI AGUSTUS 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INVESTASI PEDOMAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI AGUSTUS 2021"

Copied!
259
0
0

Teks penuh

(1)

AGUSTUS 2021

PEDOMAN

INVESTASI

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI

Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa, Pembangkit Listrik

Tenaga Biogas, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah

(2)
(3)

i

PEDOMAN INVESTASI

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOENERGI

© Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dan United Nations Development Programme, 2021.

Kutipan: DJEBTKE-KESDM. 2021. Pedoman Investasi Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi. Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta.

Kontributor:

Direktorat Bioenergi, DJEBTKE-KESDM United Nations Development Programme PT Cagar Bentara Sakti (Konsultan)

Pedoman Investasi Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi ini disiapkan di bawah Proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency (MTRE3), United Nations Development Programme (UNDP) dan didanai oleh Global Environment Facility (GEF). Pedoman ini disusun melalui kerja sama erat dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Republik Indonesia sebagai mitra pelaksana Proyek MTRE3. Koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, meliputi Kementerian Investasi, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK), pemerintah daerah, PT PLN (Persero), Independent Power Producers, dan lembaga pembiayaan, juga dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk memastikan serta menjaga keakuratan materi yang dimuat dalam pedoman ini.

Disclaimer:

Publikasi ini beserta materi di dalamnya disusun “sebagaimana adanya”. Upaya terbaik dan kehati-hatian telah dilakukan oleh DJEBTKE-ESDM dan UNDP untuk memverifikasi keandalan materi dalam publikasi ini. Namun, DJEBTKE-KESDM maupun UNDP tidak memberikan jaminan dalam bentuk apa pun, baik tersurat maupun tersirat, dan tidak bertanggung jawab atau berkewajiban atas konsekuensi apa pun dari penggunaan publikasi ini serta materi yang termuat di dalamnya.

Apabila tidak terdapat ketentuan lain, materi dalam publikasi ini dapat digunakan, dibagikan, disalin, diproduksi ulang, dicetak dan/atau disimpan secara bebas dengan memberikan referensi yang menjelaskan bahwa DJEBTKE-KESDM dan UNDP adalah sumber sekaligus pemegang hak cipta. Publikasi ini tidak disiapkan untuk dijual kembali atau tujuan komersial lainnya dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis sebelumnya dari DJEBTKE-KESDM dan/atau UNDP. Materi dalam publikasi ini yang berkaitan dengan pihak ketiga mungkin tunduk pada persyaratan penggunaan dan pembatasan yang terpisah, dan izin yang sesuai dari pihak ketiga ini mungkin perlu didapatkan sebelum penggunaan materi terkait.

(4)

ii

(5)

iii

Kata Pengantar

Dalam rangka mendukung perencanaan dan implementasi aksi mitigasi perubahan iklim pada sektor pembangkit dan pengguna akhir energi, UNDP Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), membentuk proyek Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector (MTRE3). Proyek MTRE3 diharapkan dapat mendukung pencapaian target pemerintah dalam pemanfaatan energi baru terbarukan sebesar 23% dan mengurangi intensitas energi sebesar 1% di tahun 2025. Secara jangka panjang pencapaian ini diharapkan dapat mendukung target SDGs 1 (no poverty) dan 7 (affordable and clean energy). Dalam implementasinya, proyek MTRE3 mencakup berbagai aktivitas di tingkat nasional maupun subnasional, yaitu di 4 provinsi percontohan: Riau, Jambi, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Salah satu komponen proyek MTRE3, yaitu komponen II, bertujuan untuk mendukung transformasi pasar melalui implementasi aksi mitigasi pada pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) dan efisiensi energi (EE). Transformasi pasar EBT dan EE dilakukan melalui pemberian dukungan fasilitas Sustainable Energy Fund (SEF) kepada para pengembang, fasilitas proyek percontohan manajemen energi dan penguatan sistem informasi investasi, serta peningkatan kapasitas mengenai EBT/EE kepada pemerintah daerah di 4 provinsi percontohan melalui kegiatan Integrated Market Service Center (IMSC).

Merujuk pada tujuan transformasi pasar di atas, pedoman ini disusun untuk memberikan informasi mengenai prosedur investasi dan perizinan terkait pengembangan proyek pembangkit listrik energi terbarukan (ET) di Indonesia yang dapat digunakan sebagai referensi dalam pengembangan proyek PLT- ET. Selain itu, pedoman ini juga memberikan gambaran umum potensi ET, kerangka regulasi dan kebijakan, program pengembangan proyek PLT-ET, skema bisnis dan pembiayaan, serta penyedia dana potensial terkait. Penyusunan pedoman ini merupakan bagian dari kegiatan “Development of Renewable Energy &

Energy Efficiency Investment Guideline and Recommendation in Indonesia”. Pembahasan dan analisis yang dituangkan di dalam laporan ini dihasilkan melalui konsultasi dengan para pemangku kepentingan terkait, khususnya DJEBTKE-KESDM.

Jakarta, Agustus 2021

Kontributor

(6)

iv

(7)

v

Tentang Pedoman

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, Indonesia telah menargetkan porsi energi terbarukan di bauran energi primer nasional sebesar 23% di tahun 2025 dan 31%

di tahun 2050, serta menargetkan 17% penghematan energi di tahun 2025. Di antara berbagai hal yang melandasi penetapan target tersebut adalah komitmen negara untuk mengurangi emisi karbon dan kebutuhan untuk beralih menuju Green and Clean Energy yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) No. 7 “Energi Bersih dan Terjangkau”. Oleh karena itu, United Nations Development Programme (UNDP) mendukung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), khususnya Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE), dalam upaya pengembangan sektor energi terbarukan (ET) dan efisiensi energi (EE) di Indonesia melalui Proyek Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency (MTRE3) dengan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).

Dalam mencapai target yang telah ditetapkan, pengembangan sektor ET dan EE di Indonesia tidak dapat diimplementasikan dengan optimal jika hanya bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Oleh karena itu, partisipasi sektor swasta dalam konteks mobilisasi investasi (domestic & foreign direct investment) menjadi sangat krusial untuk mempercepat pengembangan ET dan EE dan mencapai target nasional. Namun demikian, mobilisasi investasi swasta dalam pengembangan ET dan EE masih menemui berbagai kendala, utamanya adalah proses bisnis/investasi yang relatif kompleks dan panjang, sementara—di sisi lain—pedoman investasi yang komprehensif dan terkini (updated) belum tersedia.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, UNDP dan DJEBTKE melalui Proyek MTRE3 menyelenggarakan program kegiatan yang berjudul “Development of Renewable Energy (RE) & Energy Efficiency (EE) Investment Guidelines and Recommendation in Indonesia”. Program kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan pedoman investasi ET & EE serta merumuskan rekomendasi sebagai referensi untuk pengembangan Sistem Informasi Investasi ET & EE di Indonesia.

Mengingat kompleksitas proses bisnis/investasi dalam pengembangan ET/EE, kegiatan pengembangan pedoman investasi ini memiliki signifikansi yang besar antara lain: (i) memberikan gambaran secara jelas (clear) kepada investor/pengembang dan pemangku kepentingan terkait mengenai proses bisnis/investasi dalam pengembangan ET & EE di Indonesia berdasarkan kerangka regulasi terkini; (ii) memberikan panduan komprehensif dan sistematis, sehingga diharapkan mudah diikuti oleh investor/pengembang serta pemangku kepentingan terkait.

Pedoman Investasi Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi (mencakup PLTBm, PLTBg, dan PLTSa) ini merupakan salah satu dari empat (4) pedoman yang dihasilkan dari program kegiatan pengembangan pedoman investasi ET & EE di Indonesia. Pedoman ini telah disusun secara sistematis dan dipresentasikan kepada para pemangku kepentingan terkait. Sistematika dari masing-masing bab yang tercakup dalam pedoman ini diuraikan secara ringkas di bawah ini.

(8)

vi

Bab 1: Pendahuluan & Status Terkini

Bab ini disusun untuk memberikan gambaran tren teknologi dan biaya (cost) dalam pengembangan PLT Bioenergi (PLTBio) di dunia, sehingga dapat dijadikan sebagai referensi/pembanding dengan Indonesia.

Di samping itu, bab ini juga mencakup uraian status terkini kapasitas terpasang PLTBio di Indonesia, disertai dengan contoh success story pengembangan proyek PLTBio.

Bab 2: Potensi Bioenergi

Bab ini disusun untuk menyajikan informasi potensi sumber bioenergi di Indonesia berdasarkan data termutakhir yang tersedia, disertai dengan referensi yang dapat dirujuk. Dalam bab ini disajikan pula daftar rencana dan potensi pengembangan proyek PLTBio di 4 provinsi percontohan MTRE3 berdasarkan dokumen RUPTL PT PLN (Persero) 2019-2028.

Bab 3: Pemangku Kepentingan Kunci dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Bab ini disusun untuk memberikan informasi terkait pemangku kepentingan kunci (key actors), termasuk peran dan kewenangannya, dalam pengembangan PLTBio di Indonesia.

Bab 4: Program Pemerintah dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Bab ini disusun untuk memberikan informasi mengenai program pemerintah dalam pengembangan proyek PLTBio di Indonesia, termasuk program-program unggulan.

Bab 5: Kerangka Regulasi dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Bab ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai kerangka regulasi terkini—telah merujuk pada Undang Undang Cipta Kerja beserta turunannya—yang berkaitan dengan pengembangan PLTBio di Indonesia. Kerangka regulasi disusun dalam bentuk diagram, dikelompokkan berdasarkan kategori, dan ditabulasikan, lengkap dengan deskripsi umumnya.

Bab 6: Proses Bisnis/Investasi Proyek PLT Bioenergi

Sebagai komponen utama dari pedoman, bab ini disusun untuk menjabarkan proses bisnis/investasi proyek PLTBio di Indonesia secara komprehensif dan sistematis, step-by-step. Bagian awal pada bab ini menggambarkan secara jelas batasan (boundaries)penggunaan pedoman. Selain itu, bagian awal bab ini disusun untuk memperkenalkan berbagai layanan perizinan dan nonperizinan yang digunakan dalam proses bisnis/investasi PLTBio.

Bagian inti dari bab ini disusun untuk memberikan gambaran proses bisnis/investasi atau siklus pengembangan proyek PLTBio, yang dituangkan dalam bentuk Gantt Chart, diagram alir, serta matriks disertai dengan deskripsi tiap tahap pengembangan proyek secara komprehensif.

Bab 7: Penyedia Dana Potensial

Bab ini disusun untuk menguraikan opsi pembiayaan proyek beserta daftar penyedia dana potensial dalam pengembangan proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, termasuk PLTBio, di Indonesia.

Bab 8: Gambaran Keekonomian Proyek PLT Bioenergi

Bab ini disusun untuk memberikan gambaran umum keekonomian proyek pengembangan PLTBio di Indonesia. Konten dari bab ini mencakup estimasi biaya proyek pengembangan PLTBio, ringkasan komponen biaya proyek PLTBio berdasarkan breakdown struktur biaya proyek versi PT PLN (Persero), serta gambaran umum economies-of-scale proyek PLTBio berdasarkan hasil analisis profitabilitas.

(9)

vii

Daftar Isi

Kata Pengantar ... iii

Tentang Pedoman ... v

Daftar Isi ... vii

Daftar Gambar ... x

Daftar Tabel ... xii

Daftar Box ... xv

Daftar Singkatan ... xvi

Ringkasan Eksekutif ... xx

1. Pendahuluan & Status Terkini ... xxi

2. Potensi Bioenergi ... xxiii

3. Pemangku Kepentingan Kunci dalam Pengembangan PLT Bioenergi ... xxiv

4. Program Pemerintah dalam Pengembangan PLTBio ... xxviii

5. Kerangka Regulasi dalam Pengembangan PLT Bioenergi ... xxix

6. Proses Bisnis/Investasi Proyek PLT Bioenergi ... xxxiii

7. Penyedia Dana Potensial ... l 8. Gambaran Umum Keekonomian Proyek PLT Bioenergi ... liii BAGIAN I ... 1

1 Pendahuluan & Status Terkini ... 5

1.1 Pendahuluan ... 5

1.2 Status Terkini PLTBio ... 6

2 Potensi Bioenergi ... 17

2.1 Sumber Informasi Potensi Pengembangan PLTBio ... 17

2.2 Potensi Pengembangan PLTBio di Indonesia ... 19

2.3 Potensi Pengembangan PLTBio di Provinsi Percontohan MTRE3 ... 29

2.3.1 Provinsi Riau ... 29

2.3.2 Provinsi Jambi ... 29

2.3.3 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ... 33

3 Pemangku Kepentingan Kunci dalam Pengembangan PLT Bioenergi ... 37

3.1 Pengantar ... 37

3.2 Key Actors (Pemangku Kepentingan Kunci) dalam Pengembangan Energi Terbarukan ... 40

4 Program Pemerintah dalam Pengembangan PLT Bioenergi... 49

4.1 Sumba Iconic Island ... 49

4.2 Program REBED ... 49

(10)

viii

4.3 Program Percepatan Pembangunan PLTSa ... 50

4.4 Program Hutan Tanaman Energi (HTE) ... 50

5 Kerangka Regulasi dalam Pengembangan PLT Bioenergi ... 55

BAGIAN II ...65

6 Proses Bisnis/Investasi Proyek PLT Bioenergi ... 69

6.1 Tentang Pedoman ... 69

6.2 Pengenalan Layanan Perizinan & Nonperizinan dan Layanan Pengadaan Secara Elektronik 71 6.3 Gambaran Umum Siklus Pengembangan Proyek ... 78

6.4 Fase Pengembangan ... 82

Tahap 1a dan 1b: Pelelangan Proyek ... 86

Tahap 2a dan 2b: Studi Perencanaan ... 97

Tahap 3: Legalitas Badan Usaha ... 103

Tahap 4a: Pengajuan Fasilitas (Fase Pengembangan) ... 106

Tahap 5a: Administrasi & Perizinan (Fase Pengembangan) ... 110

Tahap 6: Pendanaan ... 123

Tahap 7: Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) ... 126

6.5 Fase Pembangunan ... 130

Tahap 8: Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) ... 132

Tahap 4b: Pengajuan Fasilitas (Fase Pembangunan) ... 133

Tahap 5b dan 5c: Administrasi dan Perizinan (Fase Pembangunan) ... 139

Tahap 9: Engineering, Procurement, and Construction (EPC) ... 150

Tahap 10: Penyambungan Jaringan Listrik dan Commissioning ... 153

6.6 Fase Operasi ... 158

Tahap 11: Operasi dan Pemeliharaan (O&M) ... 159

Tahap 4c: Pengajuan Fasilitas (Fase Operasi) ... 160

BAGIAN III ... 163

7 Penyedia Dana Potensial ... 167

7.1 Fasilitas Pembiayaan ... 167

7.2 Lembaga Jasa Keuangan di Indonesia... 169

7.3 Penyedia Dana Potensial Lainnya ... 176

8 Gambaran Umum Keekonomian Proyek PLT Bioenergi ... 181

8.1 Biaya Investasi ... 181

8.2 Biaya Operasi & Pemeliharaan (O&M) ... 185

8.3 Struktur Biaya Berdasarkan Komponen Biaya PLN ... 187

8.4 Asumsi Kunci Analisis Finansial ... 189

8.5 Kurva Biaya ... 190

LAMPIRAN A ... 193

Implementasi Pengembangan PLTBm di Indonesia Hingga Tahun 2020 ... 193

(11)

ix LAMPIRAN B ... 197

Implementasi Pengembangan PLTBg di Indonesia Hingga Tahun 2020 ... 197

(12)

x

Daftar Gambar

Gambar 1: Tren biaya terpasang, faktor kapasitas, dan LCOE PLTBio di dunia, 2010–2019 ... 7

Gambar 2: Kapasitas terpasang PLTBm, PLTBg, dan PLTSa di ASEAN, 2019 ... 8

Gambar 3: Peta perserbaran PLTBio di Indonesia, 2020 ... 10

Gambar 4: Jenis sumber daya bioenergi sebagai bahan baku pembangkit listrik ... 20

Gambar 5: Potensi energi biogas untuk penggunaan eksternal (potensi POME) ... 24

Gambar 6 Komposisi sampah kota di Indonesia, 2020 ... 25

Gambar 7: Pemangku kepentingan kunci (key actors) dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan ... 39

Gambar 8: Peta sebaran proyek Percepatan Pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota di Indonesia ... 52

Gambar 9: Kerangka regulasi pengembangan bioenergi... 58

Gambar 10: Alur proses pengusahaan PLTBm dan PLTBg ... 70

Gambar 11: Alur proses pengusahaan PLTSa ... 70

Gambar 12: Gantt Chart siklus pengembangan PLTBio ... 80

Gambar 13: Diagram alir siklus pengembangan PLTBio ... 81

Gambar 14: Gantt Chart Fase Pengembangan ... 84

Gambar 15: Diagram alir Fase Pengembangan ... 85

Gambar 16: Matriks prosedur Tahap 1a (Pemilihan Langsung—Pengusahaan PLTBm dan PLTBg) ... 89

Gambar 17: Matriks prosedur Tahap 1b (Kegiatan Penunjukan Langsung—Pengusahaan PLTSa) ... 94

Gambar 18: Matriks prosedur Tahap 3 (Legalitas Badan Usaha) ... 104

Gambar 19: Matriks prosedur Tahap 4a (Pengajuan Fasilitas – Fase Pengembangan: Permohonan Tax Allowance atau Tax Holiday) ... 109

Gambar 20:Matriks prosedur Tahap 5a-1 (Administrasi dan Perizinan pada Fase Pengembangan: Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang/KKPR) ... 112

Gambar 21: Matriks prosedur Tahap 5a-2 (Administrasi dan Perizinan pada Fase Pengembangan: Persetujuan Lingkungan melalui Amdal) ... 113

Gambar 22:Matriks prosedur Tahap 5a-2 (Administrasi dan Perizinan pada Fase Pengembangan: Persetujuan Lingkungan melalui UKL-UPL) ... 114

Gambar 23:Matriks prosedur Tahap 6 (Pendanaan) ...124

Gambar 24:Matriks prosedur Tahap 7 (Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik) ... 129

Gambar 25:Gantt Chart Fase Pembangunan ... 131

Gambar 26:Diagram alir Fase Pembangunan ... 131

(13)

xi

Gambar 27:Matriks prosedur Tahap 8 (IUPTL) ... 133

Gambar 28:Matriks prosedur Tahap 4b (Pengajuan Fasilitas pada Fase Pembangunan: Rencana Impor Barang/RIB dan Pembebasan Bea Masuk) ... 135

Gambar 29:Matriks prosedur Tahap 5b-1 (Administrasi dan Perizinan pada Fase Pembangunan: Persetujuan Bangunan Gedung/PBG) ... 141

Gambar 30:Matriks prosedur Tahap 5b-2 (Administrasi dan Perizinan Fase Pembangunan: Izin Gangguan/Hinder Ordonnantie/HO dan Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air/SIPPA) ...142

Gambar 31: Matriks prosedur Tahap 5c-1 (Administrasi dan Perizinan Fase Pembangunan: SLF) ... 146

Gambar 32:Matriks prosedur Tahap 5c-2 (Administrasi dan Perizinan Fase Pembangunan: Sertifikat Laik Operasi/SLO) ... 147

Gambar 33:Matriks prosedur Tahap 10 (Penyambungan Jaringan Listrik dan Commissioning) ...154

Gambar 34:Gantt Chart Fase Operasi ... 158

Gambar 35:Diagram alir Fase Operasi... 158

Gambar 36:Matriks prosedur Tahap 4c (Pengajuan Fasilitas pada Fase Operasi: Pemanfaatan Tax Allowance atau Tax Holiday) ... 162

Gambar 37:Kurva biaya PLTBm ... 190

Gambar 38:Kurva biaya PLTBg ...191

Gambar 39:Kurva biaya PLTSa ... 192

(14)

xii

Daftar Tabel

Tabel 1: Potensi energi biomassa berbasis limbah agroindustri ... 22

Tabel 2: Produktivitas dan densitas energi dari berbagai tanaman energi ... 23

Tabel 3: Potensi timbulan sampah dan jumlah sampah terangkut ke TPA di Indonesia, 2020 ... 26

Tabel 4: Produksi listrik spesifik dari energi sampah berdasarkan teknologi konversi ... 27

Tabel 5: Potensi energi sampah yang dapat dimanfaatkan menjadi listrik (waste-to-energy) berdasarkan teknologi konversi dan komposisi bahan baku ... 28

Tabel 6: Rencana pengembangan pembangkit berdasarkan RUPTL PLN 2019–2028 Provinsi Riau ... 30

Tabel 7: Potensi pengembangan pembangkit berdasarkan RUPTL PLN 2019–2028 Provinsi Riau ... 31

Tabel 8: Rencana pengembangan pembangkit berdasarkan RUPTL PLN 2019–2028 Provinsi Jambi ... 32

Tabel 9: Potensi pengembangan pembangkit berdasarkan RUPTL PLN 2019–2028 Provinsi Jambi ... 32

Tabel 10: Rencana pengembangan pembangkit di Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 33

Tabel 11: Potensi pengembangan pembangkit di Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 33

Tabel 12: Kerangka regulasi pengembangan bioenergi... 59

Tabel 13: Regulasi yang mengatur Pelelangan Proyek ... 88

Tabel 14: Jaminan Penawaran untuk pelelangan melalui mekanisme Pemilihan Langsung ... 93

Tabel 15: Jaminan Penawaran untuk Pelelangan melalui mekanisme Penunjukan Langsung ... 96

Tabel 16: Regulasi yang mengatur Studi Perencanaan ... 98

Tabel 17: Deskripsi tantangan pada Studi Perencanaan... 98

Tabel 18: Rekomendasi konten Studi Kelayakan ... 99

Tabel 19: Regulasi yang mengatur Legalitas Badan Usaha ... 104

Tabel 20: Dokumen persyaratan pengajuan fasilitas Tax Allowance atau Tax Holiday ... 108

Tabel 21: Regulasi yang mengatur Pengajuan Fasilitas Fiskal (Fase Pengembangan) ... 108

Tabel 22: Regulasi yang mengatur Administrasi dan Perizinan (Fase Pengembangan) ... 111

Tabel 23: Deskripsi tantangan pada kegiatan Administrasi dan Perizinan Fase Pengembangan... 111

Tabel 24: Kelengkapan dokumen pendaftaran KKPR ... 115

Tabel 25: Persyaratan administrasi Persetujuan Lingkungan melalui Penyusunan Amdal dan Uji Kelayakan Amdal ... 120

(15)

xiii Tabel 26: Persyaratan administrasi Persetujuan Lingkungan melalui Penyusunan Formulir UKL-

UPL dan Pemeriksaan Formulir UKL-UPL ... 122

Tabel 27: Deskripsi tantangan pada Tahap 6 (Pendanaan) ...124

Tabel 28: Regulasi yang mengatur PJBL ... 127

Tabel 29: Ketentuan harga pembelian tenaga listrik dari proyek percepatan pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota ... 127

Tabel 30: Jaminan Pelaksanaan ... 128

Tabel 31: Deskripsi tantangan pada Tahap 7 (PJBL) ... 129

Tabel 32: Regulasi yang mengatur IUPTL ... 132

Tabel 33: Dokumen persyaratan pengajuan IUPTL ... 133

Tabel 34: Regulasi yang mengatur kegiatan Fasilitas Fiskal Pembebasan Bea Masuk ...134

Tabel 35: Dokumen persyaratan pengajuan permohonan Persetujuan dan Penandasahan Rencana Impor Barang (RIB) ... 136

Tabel 36: Dokumen persyaratan pengajuan fasilitas Pembebasan Bea Masuk ... 139

Tabel 37: Regulasi yang mengatur Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), Sertifikat Laik Fungsi (SLF), dan Sertifikat Laik Operasi (SLO) ... 140

Tabel 38: Persyaratan Dokumen Permohonan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) ... 144

Tabel 39: Dokumen persyaratan Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air (SIPPA) ...145

Tabel 40: Dokumen persyaratan pengajuan Sertifikat Laik Operasi (SLO) ... 150

Tabel 41: Regulasi yang mengatur Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)... 152

Tabel 42: Deskripsi tantangan pada Tahap 9 (Engineering, Procurement, and Construction/EPC) ... 152

Tabel 43: Regulasi yang mengatur kegiatan Penyambungan Jaringan Listrik dan Commissioning ... 153

Tabel 44: Dokumen persyaratan fasilitas dari titik sambung ... 156

Tabel 45: Konten yang disarankan untuk Prosedur Operasi Standar (SOP) ... 159

Tabel 46: Regulasi yang mengatur Tax Allowance dan Tax Holiday ...161

Tabel 47: Persyaratan permohonan pemanfaatan fasilitas Tax Allowance dan Tax Holiday ...161

Tabel 48: Jenis fasilitas pembiayaan ... 168

Tabel 49: Penyaluran kredit kegiatan usaha berkelanjutan ... 170

Tabel 50: Portofolio pembiayaan berkelanjutan PT SMI,, ... 173

Tabel 51: Implementasi SDG Indonesia One sektor energi terbarukan tahun 2020 ... 174

Tabel 52: Portofolio pembiayaan ET PT IIF ... 175

Tabel 53: Kemajuan dan target tahap pilot ACGF ... 177

Tabel 54: Konfigurasi PLTBm ... 182

(16)

xiv

Tabel 55: Konfigurasi PLTBg ... 182

Tabel 56: Rincian total biaya investasi PLTBm ... 183

Tabel 57: Rincian total biaya investasi PLTBg ... 184

Tabel 58: Konfigurasi PLTSa ... 184

Tabel 59: Rincian total biaya investasi PLTSa ... 185

Tabel 60: Rincian total operasi dan pemeliharaan (O&M) PLTBm ... 186

Tabel 61: Rincian total operasi dan pemeliharaan (O&M) PLTBg ... 186

Tabel 62: Rincian total operasi dan pemeliharaan (O&M) PLTSa ... 187

Tabel 63: Ringkasan komponen biaya proyek PLTBm ... 188

Tabel 64: Ringkasan komponen biaya proyek PLTBg ... 188

Tabel 65: Ringkasan komponen biaya proyek PLTSa ... 188

Tabel 66: Asumsi yang digunakan ... 189

(17)

xv

Daftar Box

Box 1: Implementasi pengembangan PLTBm di Indonesia ... 11

Box 2: Implementasi pengembangan PLTBg di Indonesia ... 12

Box 3: Implementasi pengembangan PLTSa di Indonesia... 13

Box 4: Klasifikasi potensi teknis bioenergi ... 19

Box 5: Komposisi dan karakteristik timbulan sampah di Indonesia ... 25

Box 6: Konsep Perizinan Berusaha Berbasis Risiko melalui Sistem OSS ... 43

Box 7: Gambaran Umum Perizinan Melalui Online Single Submission (OSS) ... 72

Box 8: Alur Verifikasi Izin dari Sistem OSS melalui K/L/D ... 73

Box 9: Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) ... 74

Box 10: Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kementerian LHK (PTSP-KLHK) ... 74

Box 11: Aplikasi Perizinan Usaha dan Operasional Sektor ESDM... 75

Box 12: Aplikasi e-Procurement PT PLN (Persero) ... 76

Box 13: Sistem Registrasi Sertifikat Laik Operasi (SLO) ... 77

Box 14: Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tingkat Provinsi ... 77

Box 15: Penunjukan Langsung untuk Pengusahaan PLTBm dan PLTBg ... 86

Box 16: Gambaran Umum Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) ... 91

Box 17: Tahapan Pelaksanaan Kualifikasi Daftar Penyedia Terseleksi (DPT)... 92

Box 18: Permintaan Evaluasi Sambung (Connection Evaluation Request) ... 102

Box 19: Kriteria dan Fasilitas Tax Allowance dan Tax Holiday ... 107

Box 20: Ketentuan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan ... 117

Box 21: Verifikasi Rencana Impor Barang (RIB) oleh Surveyor ... 137

Box 22: Proses Pemeriksaan Kelengkapan Dokumen dan Kondisi Bangunan Gedung ... 149

Box 23: Besaran Nilai TKDN Barang dan Jasa untuk PLTBm ... 151

Box 24: Commissioning dan Commercial Operation Date (COD) ... 157

Box 25: Pelaporan Realisasi Penanaman Modal dan Realisasi Produksi terkait Pemberian Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan ...161

(18)

xvi

Daftar Singkatan

3T Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal AANE Austindo Aufwind New Energy ACGF ASEAN Catalytic Green Finance

Facility

ADB Asian Development Bank

AFD Agence Française de Développement AIF ASEAN Infrastructure Fund

Amdal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Andal Analisis Dampak Lingkungan API Angka Pengenal Impor

API-P Angka Pengenal Importir-Produsen ASEAN Association of Southeast Asian

Nations

ATR Agraria dan Tata Ruang B2B Business to Business

B3 Bahan Berbahaya dan Beracun Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan

Nasional

BaU Business as Usual

BKPM Badan Koordinasi Penanaman Modal BOO Build, Own, and Operate

BOM Bill of Material BOP Balance of Plant

BPN Badan Pertanahan Nasional BPP Biaya Pokok Penyediaan

BPPT Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

BUMN Badan Usaha Milik Negara CDM Clean Development Mechanism COD Commercial Operation Date

COP Conference of Parties DAS Daerah Aliran Sungai

DEA Direktorat Aneka Energi Baru dan Terbarukan

DEB Direktorat Bioenergi

DED Detailed Engineering Design DEK Direktorat Konservasi Energi DEN Dewan Energi Nasional DEP Direktorat Panas Bumi

DJEBTKE Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi DJK Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan DPMPTSP Dinas Penanaman Modal dan

Pelayanan Terpadu Satu Pintu DPT Daftar Penyedia Terseleksi EBT Energi Baru Terbarukan EBTKE Energi Baru Terbarukan dan

Konservasi Energi EE Efisiensi Energi

EIB European Investment Bank EPC Engineering, Procurement, and

Construction

EPCC Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning ESDM Energi dan Sumber Daya Mineral ET Energi Terbarukan

EU European Union

FABA Fly Ash and Bottom Ash FBC Final Business Case FCI Fixed Capital Cost FGD Focus Group Discussion

(19)

xvii FS Feasibility Study

FSA Fuel Supply Agreement FTZ Free Trade Zone Gatrik Ketenagalistrikan

GIZ Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH

GRK Gas Rumah Kaca GS Grid Study

GW Gigawatt

HAM Hak Asasi Manusia HJTL Harga Jual Tenaga Listrik HO Hinder Ordonnantie

HPE Harga Perkiraan Engineering HTE Hutan Tanaman Energi HTI Hutan Tanaman Industri HTR Hutan Tanaman Rakyat ICED Indonesia Clean Energy

Development

IESR Institute for Essential Services Reform

IFC International Finance Corporation IIF Indonesia Infrastructure Finance IKBI Inisiatif Keuangan Berkelanjutan

Indonesia

IMB Izin Mendirikan Bangunan IMSC Integrated Market Service Center INSW Indonesia National Single Window IPP Independent Power Producer IRENA International Renewable Energy

Agency

IRR Internal Rate of Return

IUPHHK Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu

IUJPTL Izin Usaha Jasa Penunjang Tenaga Listrik

IUPTL Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik K/L/D Kementerian/Lembaga/Pemerintah

Daerah

KA-Andal Kerangka Acuan – Analisis Dampak Lingkungan Hidup

KBLI Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia

KEK Kawasan Ekonomi Khusus KEN Kebijakan Energi Nasional KESDM Kementerian Energi dan Sumber

Daya Mineral

KfW Kreditanstalt für Wiederaufbau KKPR Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan

Ruang

KLHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

KMK Keputusan Menteri Keuangan KPBU Kerja Sama Pemerintah dan Badan

Usaha

kW kilowatt

LCOE Levelised Cost of Electricity LFG Landfill Fuel Gas

LIT Lembaga Inspeksi Teknik

LHK Lingkungan Hidup dan Kehutanan LoI Letter of Intent

MACRS Modified Accelerated Cost Recovery System

Minerba Mineral dan Batu Bara Migas Minyak dan Gas Bumi

MTRE3 Market Transformation through Design and Implementation of Appropriate Mitigation Actions in the Energy Sector

(20)

xviii

MW Megawatt

NDC Nationally Determined Contribution NIB Nomor Induk Berusaha

NIK Nomor Induk Kependudukan NPWP Nomor Pokok Wajib Pajak

NSPK Norma, Standar, Prosedur, Kriteria NTB Nusa Tenggara Barat

NTT Nusa Tenggara Timur O&M Operation and Maintenance OBC Outline Business Case OECD Organisation for Economic

Cooperation and Development OJK Otoritas Jasa Keuangan OSS Online Single Submission PBG Persetujuan Bangunan Gedung Pemda Pemerintah Daerah

PJBL Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik PKP Pengusaha Kena Pajak

PKPLH Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Hidup PLN Perusahaan Listrik Negara PLT Pembangkit Listrik Tenaga

PLTBio Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi PLTBg Pembangkit Listrik Tenaga Biogas PLTBm Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa PLT-ET Pembangkit Listrik Tenaga Energi

Terbarukan

PLTSa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah PLTU Pembangkit Listrik Tenaga Uap POJK Peraturan Otoritas Jasa Keuangan POME Palm Oil Mill Effluent

PP&E Process Plant & Equipment PPA Power Purchase Agreement

PPh Pajak Penghasilan

PPL Pengembang Pembangkit Listrik PPN Pajak Pertambangan Nilai

PPN Perencanaan Pembangunan Nasional PPU Private Power Utility

PSEL Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik

PT Perseroan Terbatas

PTSP Pelayanan Terpadu Satu Pintu PUPR Pekerjaan Umum dan Perumahan

Rakyat

RBA Risk Based Approach RDF Refused Derived Fuel RDTR Rencana Detail Tata Ruang

REBED Renewable Energy Based Economic Development

REBID Renewable Energy Based Industrial Development

REDI Renewable Energy Data and Information

RIB Rencana Impor Barang

RIBP Rencana Impor Barang Perubahan RKL-RPL Rencana Pengelolaan Lingkungan

Hidup – Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup

RKS Rencana Kerja dan Syarat-syarat RTR Rencana Tata Ruang

RUEN Rencana Umum Energi Nasional RUKN Rencana Umum Ketenagalistrikan

Nasional

RUPTL Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik

RZ KAW Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah

(21)

xix RZ KSNT Rencana Zonasi Kawasan Strategis

Nasional Tertentu SBU Sertifikat Badan Usaha SDA Sumber Daya Air

SDGs Sustainable Development Goals SII Sumba Iconic Island

SIMBG Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung

SIPPA Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air

SIUJS Surat Izin Usaha Jasa Survey SK Surat Keputusan

SKF Surat Keterangan Fiskal SKKLH Surat Keputusan Kelayakan

Lingkungan Hidup

SKTTK Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan

SLF Sertifikat Laik Fungsi SLO Sertifikat Laik Operasi SMI Sarana Multi Infrastruktur SNI Standar Nasional Indonesia SO Sumber Organik

SOP Standard Operational Procedures SPC Special Purpose Company SPH Surat Permintaan Harga

SPPL Surat Pernyataan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup SPV Special Purpose Vehicle TCC Total Construction Cost TCI Total Capital Investment TD&IC Total Direct & Indirect Cost TDC Total Direct Cost

TDP Tanda Daftar Perusahaan TIC Total Indirect Cost

TKDN Tingkat Komponen Dalam Negeri TPA Tim Profesi Ahli

TPA Tempat Pembuangan Akhir TPST Tempat Pembuangan Sampah

Terpadu

TPT Tim Penilai Teknis

UKL-UPL Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup – Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup

UNDP United Nations Development Programme

USAID United States Agency for International Development

UU Undang-Undang

WNA Warga Negara Asing WNI Warga Negara Indonesia

(22)

xx R I N G K A S A N E K S E K U T I F

(23)

xxi

Ringkasan Eksekutif

1. Pendahuluan & Status Terkini

Bioenergi merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dimanfaatkan dalam penyediaan energi bersih dan rendah karbon. Dalam pedoman ini, bioenergi didefinisikan sebagai energi berbasis biomassa padat, biogas, dan sampah kota yang dimanfaatkan dalam penyediaan tenaga listrik. Secara khusus, Pedoman Investasi Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi (PLTBio) ini disusun dengan batasan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Indonesia. Secara khusus, bagian pertama dalam pedoman ini ditujukan untuk memberikan gambaran tren teknologi dan cost pengembangan PLTBio di dunia serta status terkini kapasitas terpasang PLTBio di Indonesia.

Tren Tekno-Ekonomi PLTBio di Dunia

Gambar E.1 menunjukkan grafik tren tekno-ekonomi pengembangan PLTBio di dunia yang terdiri dari total biaya terpasang (total installed cost), faktor kapasitas (capacity factor), dan Levelised Cost of Electricity (LCOE) dalam rentang tahun 2010 hingga 2019. Grafik tren—digambarkan dengan garis—menunjukkan nilai rata-rata terbobotkan data pengembangan PLTBio secara global (global weighted average) yang bersumber dari IRENA Renewable Cost Database.

Nilai rata-rata terbobotkan total biaya terpasang proyek PLTBio di dunia dari tahun 2010 hingga 2019 berada dalam kisaran 1.200 USD/kW hingga 3.000 USD/kW. Fluktuasi pada tren rata-rata terbobotkan total biaya terpasang diakibatkan oleh sensitivitas biaya pengembangan PLTBio terhadap kondisi tiap proyek (project-specific)—seperti teknologi konversi biomassa yang diterapkan, heterogenitas karakteristik bahan baku, serta lokasi geografis pembangkit. Pada tahun 2019, rata-rata terbobotkan total biaya terpasang berada pada nilai 2.141 USD/kW.

Merujuk pada grafik, tren faktor kapasitas PLTBio dari tahun 2010 hingga 2019 berada pada rentang 64%

hingga 86%. IRENA Renewable Cost Database mencatat bahwa pembangkit dengan bahan baku ampas tebu, landfill gas, dan biogas lain cenderung memiliki faktor kapasitas yang rendah, sekitar 50–60%;

sementara bahan baku kayu, sekam padi, limbah industri, dan sampah kota sekitar 60–85%. Faktor kapasitas yang tinggi, 85–95%, dapat dicapai apabila suplai bahan baku yang seragam tersedia sepanjang tahun. Sementara itu, berdasarkan proyek yang telah diimplementasikan, faktor kapasitas pembangkit berbasis biomassa di Indonesia berada pada rentang menengah, 70–85%.

Dengan beragamnya opsi teknologi pembangkit, nilai total biaya terpasang, faktor kapasitas, dan biaya bahan baku, nilai LCOE dari proyek PLTBio memiliki rentang yang lebar. Nilai rata-rata terbobotkan LCOE secara global di tahun 2019 adalah 6,6 cent-USD/kWh, naik dari nilai di tahun 2018 (5,7 cent-USD/kWh), namun masih relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

(24)

xxii R I N G K A S A N E K S E K U T I F

Gambar E.1: Tren total biaya terpasang, faktor kapasitas, dan LCOE PLTBio di dunia, 2010–2019

Sumber: IRENA. Renewable Power Generation Costs in 2019. 2020.

Status Pengembangan PLTBio di Indonesia

Pada tahun 2019, status kapasitas terpasang PLTBm di Indonesia menempati posisi kedua di antara negara ASEAN setelah Thailand, atau sekitar 26% dari total kapasitas terpasang PLTBm di ASEAN. Dalam status kapasitas terpasang PLTBg, Indonesia menempati posisi ketiga di antara negara ASEAN setelah Thailand dan Malaysia. Sementara itu, berbeda dengan PLTBm dan PLTBg, pengembangan PLTSa di Indonesia masih sangat minim. Pada tahun 2019, Indonesia berada di posisi terakhir dari total lima (5) negara yang telah mengembangkan PLTSa, dengan total kapasitas terpasang hanya sekitar 0,5% dari total kapasitas terpasang PLTSa di ASEAN.

Total kapasitas terpasang PLTBio (PLTBm, PLTBg, dan PLTSa) di Indonesia mencapai sekitar 1,9 GW hingga akhir tahun 2020. Dari total tersebut, kontribusi kapasitas terpasang terbesar adalah PLTBm sebesar 1,8 GW, diikuti dengan PLTSa (12,15 MW) dan PLTBg (0,12 GW). Sebagian besar PLTBm berada di wilayah barat Indonesia, khususnya di Provinsi Riau—sekitar 70% dari total kapasitas terpasang PLTBm. Di antara PLTBm yang telah beroperasi, terdapat satu PLTBm dengan skema IPP yang umum dijadikan sebagai contoh, yaitu PLTBm Siantan di Kalimantan Barat dengan kapasitas terpasang sebesar 15 MW. Selanjutnya, PLTBg di Indonesia memiliki kapasitas terpasang yang jauh lebih kecil dibandingkan PLTBm, namun memiliki sebaran pembangkit yang serupa—terkonsentrasi di wilayah Sumatera dengan kapasitas terbesar di Provinsi Riau. Salah satu PLTBg on-grid yang telah beroperasi dan sukses diimplementasikan adalah PLTBg Jangkang di Kepulauan Bangka Belitung dengan kapasitas terpasang sebesar 1,8 MW. Selain itu, pengembangan PLTSa di Indonesia, hingga akhir tahun 2020 masih terpusat di pulau Jawa—khususnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Saat ini, beberapa PLTSa yang sudah beroperasi di Indonesia antara lain: (i) PLTSa Merah Putih (700 kW) di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat; (ii) PLTSa Benowo (1,65) MW di Jawa Timur; dan (iii) PLTSa Jatibarang (800 kW) di Semarang, Jawa Tengah.

(25)

xxiii

2. Potensi Bioenergi

Potensi sumber daya energi terbarukan, secara khusus bioenergi, adalah bersifat spesifik lokasi (site- specific). Sehubungan dengan hal itu, informasi terkait lokasi proyek serta karakteristik sumber bioenergi sangatlah krusial bagi pengembang atau investor, khususnya dalam tahap pengembangan PLTBio.

Mengingat urgensi tersebut, sumber data informasi potensi bioenergi serta rencana pengembangan PLTBio yang bersifat spesifik lokasi harus disediakan dan—secara berkala—dimutakhirkan.

Dalam proses pengembangan PLTBio, pengembang maupun investor dapat mengakses informasi potensi sumber daya bioenergi melalui beberapa sumber informasi yang telah tersedia, antara lain ESDM One Map dan Dasbor Potensi Bioenergi. ESDM One Map merupakan aplikasi berbasis web yang menampilkan peta sebaran informasi energi dan sumber daya mineral, yang di dalamnya mencakup informasi potensi bioenergi. Informasi tersebut dilengkapi dengan tabel informasi (attribute table), mencakup provinsi, nama pabrik/perusahaan, kapasitas pengolahan, potensi limbah, jenis teknologi, jenis limbah, dan alamat.

Adapun Dasbor Potensi Bioenergi, yang juga merupakan aplikasi berbasis web, menampilkan data dan informasi potensi bioenergi dari limbah agroindustri di Indonesia. Selain itu, untuk melihat rencana proyek PLTBio yang telah ditetapkan, termasuk potensi proyek yang masih dalam tahap studi kelayakan, pengembang maupun investor dapat merujuk pada dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik—

disingkat RUPTL—PT PLN (Persero).

Potensi Pengembangan PLTBio di Indonesia

Merujuk pada Dasbor Potensi Bioenergi, Indonesia memiliki total potensi teknis bioenergi mencapai sekitar 15 GW—namun hanya merepresentasikan limbah agroindustri. Dari total tersebut, potensi energi biomassa adalah sebesar 14,3 GW, sedangkan potensi energi biogas adalah 1.1 MW. Sementara itu, potensi energi sampah (waste-to-energy) di Indonesia mencapai sekitar 2.4 GW—hasil estimasi berdasarkan data timbulan sampah di TPA dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian LHK.

Dalam cakupan 4 provinsi percontohan MTRE3—yaitu Riau, Jambi, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT)—potensi pengembangan PLTBio teridentifikasi terdapat di tiga provinsi, yaitu Riau, Jambi, dan NTT. Di Provinsi Riau, potensi pengembangan PLTBm dan PLTBg secara berurutan adalah sebesar 95,6 MW dan 64,1 MW. Di Provinsi Jambi, terdapat potensi pengembangan PLTBm dan PLTBg masing- masing total sebesar 15 MW dan 5.5 MW. Sementara itu, di Provinsi NTT hanya terdapat potensi pengembangan PLTBm sebesar 1 MW.

Rencana Pengembangan PLTBio di Provinsi Percontohan MTRE3

Rencana pengembangan PLTBio di Indonesia tertuang dalam dokumen RUPTL PT PLN (Persero) dengan Independent Power Producer (IPP) maupun PT PLN (Persero) sebagai pengembang. Merujuk pada RUPTL PT PLN (Persero) 2019–2028, rencana pengembangan proyek PLTBio di Provinsi Riau mencakup PLTBio, PLTBm, dan PLTBg masing-masing dengan kapasitas sebesar 142,6 MW (termasuk kuota tersebar Sumatera), 11 MW, dan 3 MW. Di Provinsi Jambi, terdapat rencana pengembangan PLTBio sebesar 142,6 MW (termasuk kuota tersebar Sumatera), PLTBm 3 MW, dan PLTBg 1 MW. Sementara itu, di Provinsi NTT

(26)

xxiv R I N G K A S A N E K S E K U T I F

hanya terdapat rencana pengembangan PLTBm dengan total kapasitas sebesar 20 MW yang tersebar di beberapa lokasi.

3. Pemangku Kepentingan Kunci dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Pengembangan PLT-ET di Indonesia, termasuk PLT Bioenergi (PLTBm, PLTBg, dan PLTSa), melibatkan berbagai pemangku kepentingan kunci (key actors), meliputi pemerintah pusat dan daerah, PT PLN (Persero), penyedia dana serta pengembang. Secara umum, susunan kelembagaan pemangku kepentingan kunci dalam pengembangan PLT-ET di Indonesia dapat diilustrasikan pada Gambar 7.

Dalam hal pengembangan PLT-ET di Indonesia, Presiden memiliki peran dalam menetapkan ambisi sektor ketenagalistrikan secara keseluruhan. Dalam hal ini, Presiden memberikan arahan nasional dalam rangka penyediaan tenaga listrik yang disinkronisasikan dengan upaya-upaya mitigasi perubahan iklim sesuai target Nationally Determined Contribution (NDC) pada Paris Agreement (Conference of Parties, COP 21).

Di samping itu, Presiden juga berperan sebagai ketua dari Dewan Energi Nasional (DEN). Melalui Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2008 tentang Pembentukan Dewan Energi Nasional dan Tata Cara Penyaringan Calon Anggota Dewan Energi Nasional—anggota DEN ditugaskan untuk merancang dan merumuskan Kebijakan Energi Nasional (KEN), menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), menetapkan langkah-langkah krisis dan darurat energi, serta melakukan pengawasan kebijakan energi yang bersifat lintas sektoral.

Dalam implementasinya, terdapat berbagai kementerian yang berperan untuk mengatur tata laksana pengembangan dan investasi PLT-ET—khususnya dalam hal ini, PLT Bioenergi—di Indonesia. Berbagai kementerian yang dimaksud antara lain adalah Kementerian ESDM, Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Peran dan kewenangan dari masing-masing kementerian secara ringkas dideskripsikan di bawah ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bertanggung jawab atas kebijakan dan regulasi di bidang energi, untuk merumuskan, mengawasi, dan mengevaluasi kebijakan energi, serta untuk memastikan ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan pemerataan energi. Secara spesifik, ranah pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di Indonesia berada di bawah Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE) yang bertanggung jawab untuk sektor energi terbarukan, serta Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) yang bertanggung jawab di sektor ketenagalistrikan.

• Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (DJEBTKE)

DJEBTKE menyelenggarakan fungsi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pelaksanaan evaluasi dan pelaporan—di bidang pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan pengusahaan, keteknikan, keselamatan kerja, lingkungan, serta pembangunan sarana dan prasarana tertentu di bidang panas bumi, bioenergi, aneka energi baru dan terbarukan, dan konservasi energi.

(27)

xxv Secara khusus, Direktorat Bioenergi memiliki tugas dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi dan pelaporan, serta pengendalian dan pengawasan—di bidang penyiapan program, pelayanan dan pengawasan usaha, implementasi pengembangan, investasi dan kerja sama, serta keteknikan dan lingkungan bioenergi.

• Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK)

DJK menyelenggarakan fungsi dalam perumusan kebijakan, pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pelaksanaan pemberian bimbingan teknis dan supervisi—

di bidang pembinaan, pengendalian, dan pengawasan kegiatan pengusahaan, keteknikan, keselamatan kerja, dan lingkungan di bidang ketenagalistrikan.

Kementerian Investasi (Badan Koordinasi Penanaman Modal, BKPM) mengakomodasi pelayanan perizinan terkait investasi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, termasuk pengajuan fasilitas/insentif dan permohonan tenaga kerja asing. Pada tahun 2018, BKPM telah mengembangkan suatu sistem pelayanan perizinan—Online Single Submission (OSS)—untuk memudahkan pengembang dalam melakukan permohonan perizinan dan memperoleh informasi terkait perizinan berusaha di Indonesia.

Sistem OSS merupakan sistem yang mengintegrasikan seluruh pelayanan perizinan berusaha yang menjadi kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga, Gubernur, atau Walikota/Bupati, secara elektronik. Konsep paling penting dalam sistem OSS ini adalah menggunakan satu portal nasional, satu identitas perizinan berusaha (Nomor Induk Berusaha, NIB), dan satu format perizinan berusaha. Perizinan berusaha seluruh sektor wajib diterbitkan melalui OSS, kecuali sektor mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, serta keuangan (perbankan dan asuransi).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) memiliki kewenangan terhadap Persetujuan Lingkungan. Kementerian Keuangan menyelenggarakan fungsi dalam perumusan dan pemberian rekomendasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan, termasuk dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Di sektor ketenagalistrikan, Kementerian Keuangan menyetujui jaminan pemerintah terkait kewajiban PT PLN (Persero) dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL). Secara spesifik dalam pengembangan energi terbarukan, Kementerian Keuangan berperan dalam merumuskan dan menyetujui insentif fiskal seperti keringanan pajak dan ketentuan depresiasi yang dipercepat.

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memiliki kewenangan terhadap Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyelenggarakan fungsi dalam perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang penataan bangunan gedung. Kementerian Perindustrian memformulasikan kebijakan di sektor industri, termasuk menetapkan persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bertanggung jawab atas pengawasan BUMN, termasuk PT PLN (Persero)—dengan melakukan pengawasan terhadap manajemen perusahaan, menetapkan dan meninjau target kinerja perusahaan, serta menyetujui anggaran tahunannya.

(28)

xxvi R I N G K A S A N E K S E K U T I F

PT PLN (Persero) bertanggung jawab atas sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia dengan kewenangan atas transmisi, distribusi, dan pasokan listrik kepada masyarakat. Selain itu, PT PLN (Persero) juga bertindak sebagai pembeli (offtaker) terhadap listrik yang dihasilkan oleh Independent Power Producer (IPP) berdasarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL)—sesuai dengan proses pengadaan dan rencana bisnis yang ditetapkan.

Pemerintah Daerah memiliki kewenangan terhadap beberapa perizinan berusaha di tingkat daerah, utamanya dalam verifikasi dokumen persyaratan PBG dan SLF. Pemerintah daerah juga memiliki kewenangan dalam memberikan perizinan berusaha lain di tingkat daerah, seperti Izin Gangguan (Hinder Ordonnantie, HO) dan Surat Izin Pengambilan dan Air (SIPPA). Selain itu, pemerintah daerah juga terlibat dalam penetapan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) daerah. Secara spesifik dalam pengembangan PLTSa, pemerintah daerah juga memiliki kewenangan dalam menetapkan pengembang PLTSa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyedia Dana untuk pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di Indonesia antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), bank, lembaga pembiayaan, dan program lainnya.

(29)

xxvii Gambar E.2: Pemangku kepentingan kunci (key actors) dalam pengembangan PLT Bioenergi di Indonesia

Catatan: DEN: Dewan Energi Nasional; PUPR: Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; LHK: Lingkungan Hidup & Kehutanan; BKPM: Badan Koordinasi Penanaman Modal; ESDM: Energi & Sumber Daya Mineral; BUMN: Badan Usaha Milik Negara; PLN: Perusahaan Listrik Negara; PLT-ET: Pembangkit Listrik Energi Terbarukan; KEN: Kebijakan Energi Nasional; RUEN: Rencana Umum Energi Nasional; SMI:

Sarana Multi Infrastruktur; IIF: Indonesia Infrastructure Finance.

(30)

xxviii R I N G K A S A N E K S E K U T I F

4. Program Pemerintah dalam Pengembangan PLTBio

Dalam upaya pencapaian target bauran energi terbarukan di tahun 2025, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan berbagai program untuk percepatan pengembangan PLT-ET. Secara khusus dalam pengembangan PLTBio, beberapa program yang telah disiapkan oleh Pemerintah Indonesia adalah Sumba Iconinc Island, Renewable Energy Based Economic Development (REBED), Program Percepatan Pembangunan PLTSa, serta Program Hutan Tanaman Energi (HTE). Program-program tersebut diharapkan dapat menarik minat investor/pengembang dalam mengembangkan proyek PLTBio di Indonesia.

Desksripsi dari setiap program tersebut diuraikan secara ringkas di bawah ini.

Sumba Iconic Island

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 3051 Tahun 2015 tentang Penetapan Pulau Sumba sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan, program Pulau Ikonis Sumba (Sumba Iconic Island, SII) bertujuan untuk mendemonstrasikan bahwa kebutuhan energi di pulau-pulau kecil dan komunitas yang terisolasi dapat terpenuhi melalui pemanfaatan energi berkelanjutan (sustainable energy).

Melalui program ini, satu unit PLTBm kapasitas 30 kW telah berhasil terpasang di Sumba Timur dengan menggunakan bahan baku sekam padi sekitar 45 kg/jam. Selain PLTBm, pembangunan 557 unit PLTBg dengan total kapasitas 4.920 kW juga telah berhasil dilakukan dengan memanfaatkan kotoran hewan dan sampah sebagai bahan baku (feedstock). Dalam program ini, potensi pengembangan PLTBm dan PLTBg di Pulau Sumba teridentifikasi masing-masing mencapai 10 MW dan 8 juta m3 per tahun.

Program REBED

Program Renewable Energy Based Economic Development (REBED) merupakan salah satu program penciptaan pasar baru (market creation) untuk energi terbarukan. Program REBED memiliki konsep penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk memacu perekonomian wilayah di kawasan terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Salah satu implementasi program ini adalah pengembangan PLTBm skala kecil berbasis potensi bahan baku lokal.

Program Percepatan Pembangunan PLTSa

Melalui Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, pemerintah telah menetapkan objektif dalam Percepatan Pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota, yaitu DKI Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Bandung, Semarang, Surakarta, Surabaya, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Manado. Program ini memiliki konsep untuk mengelola dan memanfaatkan sampah, khususnya yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Program ini diharapkan dapat mengurangi volume timbunan sampah sekaligus meningkatkan nilai tambah (added value) sampah melalui konversi menjadi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.

(31)

xxix Program ini telah diimplementasikan dengan satu (1) unit PLTSa berkapasitas 9 MW di TPA Benowo, Surabaya, Jawa Timur yang telah beroperasi secara komersial (COD). Selain itu, dua (2) wilayah telah melakukan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL), yakni Kota Surakarta dan Provinsi DKI Jakarta. Di dua kota lain, yaitu Palembang dan Tangerang, pengembang telah ditetapkan. Di Kota Bandung, pengembangan PLTSa saat ini masih dalam proses lelang. Sementara itu, pengembangan PLTSa di wilayah program percepatan lainnya masih pada tahapan persiapan lelang, Prastudi Kelayakan (pre-FS), atau penyusunan Outline Business Case (OBC)/Final Business Case (FBC).

Program Hutan Tanaman Energi (HTE)

Program Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk Bioenergi, atau disebut sebagai Hutan Tanaman Energi (HTE), dibentuk dalam rangka mengembangkan hutan tanaman energi dan memanfaatkan lahan marjinal dengan tujuan khusus, yaitu menyediakan bahan baku PLTBm. Program ini didukung oleh Peraturan Menteri LHK Nomor 62 Tahun 2019 tentang Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Peraturan Menteri LHK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Beberapa implementasi dari program HTE ini mencakup:

• Pelepasan 6,91 juta hektar kawasan hutan dengan 78% adalah kebun sawit yang berpotensi untuk menjadi sumber bioenergi.

• Izin pinjam pakai kawasan hutan seluas 0,44 hektar untuk sektor energi.

• Komitmen untuk mengembangkan bioenergi oleh 18 unit usaha di 10 provinsi dengan mengalokasikan lahan untuk tanaman energi seluas 46.600 hektar.

Menurut informasi dari KLHK, hingga awal tahun 2021 telah terdapat potensi HTE, yaitu seluas 156.032 hektar dari 14 unit usaha di berbagai provinsi. Jenis tanaman energi yang akan dikembangkan bervariasi, antara lain sengon, kaliandra, akasia, bakau, gamal, bambu, dan sebagainya.

5. Kerangka Regulasi dalam Pengembangan PLT Bioenergi

Pemerintah Indonesia telah menetapkan berbagai regulasi yang mengatur pemanfaatan sumber daya bioenergi untuk penyediaan tenaga listrik (PLTBio, meliputi PLTBm, PLTBg, dan PLTSa). Regulasi yang dimaksud mencakup regulasi pada tingkat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri. Dalam pedoman ini, seluruh regulasi terkait pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi (PLTBio) dirangkai dalam bagan kerangka regulasi sebagaimana ditampilkan pada Gambar 9.

Regulasi terkait Sumber Daya Energi

Seacara umum, regulasi yang mengatur pemanfaatan sumber daya energi di Indonesia didasari oleh Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi. Di samping itu, Undang-Undang ini secara khusus mengatur aksesibilitas energi di Indonesia serta pembentukan Dewan Energi Nasional (DEN) yang berwenang untuk merumuskan Kebijakan Energi Nasional (KEN).

(32)

xxx R I N G K A S A N E K S E K U T I F

Regulasi terkait Ketenagalistrikan

Sektor ketenagalistrikan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, beserta regulasi turunannya. Rangkaian regulasi ini mengatur proses dan ketentuan terkait penyelenggaraan ketenagalistrikan di Indonesia, khususnya mengenai kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL).

Regulasi terkait Pengelolaan Sampah

Regulasi terkait pengelolaan sampah di Indonesia didasari oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

Undang-Undang ini mengatur penyelenggaraan pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

Dalam hal pengembangan PLTSa, pemerintah secara khusus telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 terkait percepatan pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota di Indonesia.

Regulasi terkait Cipta Kerja

Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, terdapat beberapa perubahan dan penghapusan pasal pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Dalam konteks investasi dan pengembangan PLT-ET, perubahan yang teridentifikasi adalah penyederhanaan perizinan berusaha terkait penyediaan tenaga listrik.

Lebih lanjut, pemerintah juga telah menerbitkan regulasi turunan terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yang berkaitan dengan pengembangan PLTBio, antara lain:

• Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko.

• Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

• Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.

• Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

• Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan.

• Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Regulasi terkait Pengelolaan Lingkungan Hidup

Regulasi yang mengatur tata cara dan persyaratan perizinan berusaha terkait lingkungan hidup dituangkan dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 22 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri LHK Nomor 26 Tahun 2018.

Selain itu, terdapat Peraturan Menteri LHK Nomor 7 Tahun 2019 terkait tata cara dan persyaratan permohonan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan.

(33)

xxxi

Regulasi terkait Hutan Tanaman Energi

Dalam hal pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE) sebagai sumber bahan baku bioenergi, Kementerian LHK menerbitkan dua regulasi, yaitu (i) Permen LHK Nomor 62 Tahun 2019 tentang Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan (ii) Permen LHK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Hutan Tanaman Rakyat. Kedua regulasi tersebut mengatur tata kelola hutan, persyaratan, hingga jenis tanaman dan pola penanaman untuk tanaman penghasil energi.

Regulasi terkait Fasilitas Fiskal

Dalam rangka meningkatkan investasi untuk pengembangan PLT Bioenergi, terdapat berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pengembang sebagaimana diatur melalui regulasi berikut:

• Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66 Tahun 2015 untuk Pembebasan Bea Masuk

• Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 untuk Tax Allowance

• Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130 Tahun 2020 untuk Tax Holiday

Regulasi terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

Regulasi terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) didasari oleh Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Adapun ketentuan terkait penggunaan produk dalam negeri untuk infrastruktur ketenagalistrikan—dalam hal ini PLTBm—diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 54 Tahun 2012.

Regulasi oleh PT PLN (Persero)

Regulasi tentang Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan diatur melalui Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020. Regulasi ini secara spesifik mengatur mekanisme dan prosedur pembelian tenaga listrik dari energi terbarukan—termasuk PLTBm, PLTBg, dan PLTSa—oleh PT PLN (Persero).

(34)

xxxii R I N G K A S A N E K S E K U T I F

Gambar E.3: Kerangka regulasi dalam pengembangan PLT Bioenergi di Indonesia

(35)

xxxiii

6. Proses Bisnis/Investasi Proyek PLT Bioenergi

Pengantar Proses Bisnis/Investasi Proyek PLTBio

Bab ini berisikan pedoman sehubungan dengan proses dan prosedur untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik berbasis bioenergi (PLTBio), khususnya pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm), pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg), dan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Kelompok sasaran pedoman ini adalah pengembang proyek, investor, lembaga pembiayaan, pemerintah pusat dan daerah, serta aktor-aktor lain yang terlibat dalam pengembangan proyek PLTBio dengan skema pengusahaan Independent Power Producer (IPP). Pedoman ini ditujukan secara khusus untuk pengembangan proyek PLTBio yang terkoneksi ke jaringan listrik PT PLN (Persero)—atau on-grid. Prosedur bisnis/investasi yang disusun dalam pedoman ini merujuk pada mekanisme penyediaan tenaga listrik berupa Pemilihan Langsung. Melalui mekanisme tersebut, calon pengembang proyek dan investor harus terlebih dahulu mengikuti pelelangan melalui web e-Procurement PT PLN (Persero)—yang ditujukan untuk PLTBm dan PLTBg. Selain itu, dalam pedoman juga disampaikan mengenai mekanisme Penunjukan Langsung untuk PLTSa serta PLTBm dan PLTBg apabila terdapat kondisi khusus. Kedua mekanisme tersebut merujuk pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik (Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017).

Pengenalan Layanan Perizinan dan Nonperizinan

Pada prinsipnya, saat ini layanan perizinan dan nonperizinan untuk pengembangan proyek pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (PLT-ET) di Indonesia hampir semuanya berbasis online. Secara lebih spesifik, layanan perizinan dan nonperizinan yang digunakan dalam hal pengembangan proyek PLTBio ditabulasikan pada Tabel E.1, mencakup nama Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah disertai dengan aplikasi perizinan dan nonperizinan terkait.

Di Indonesia, Sistem Online Single Submission (OSS) merupakan layanan utama dalam hal pengajuan perizinan dan nonperizinan—yang saat ini telah diperbarui menjadi sistem OSS Berbasis Risiko pada bulan Agustus 2021—sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. OSS Berbasis Risiko ini wajib digunakan oleh pelaku usaha, Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Administrator Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas (KPBPB).

(36)

xxxiv R I N G K A S A N E K S E K U T I F

Tabel E.1: Layanan perizinan dan nonperizinan dalam pengembangan proyek PLT Bioenergi

Kementerian/Lembaga/

Pemerintah Daerah Aplikasi Perizinan & Nonperizinan

Kementerian Investasi (BKPM)

Online Single Submission (oss.go.id)

Sebagai starting point dalam pengajuan perizinan dan nonperizinan untuk pengembangan PLT-ET, mencakup: permohonan Nomor Induk Berusaha (NIB), pengajuan Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha, pengajuan perizinan berusaha (Izin), dan pengajuan fasilitas.

Kementerian ESDM

Perizinan ESDM (perizinan.esdm.go.id)

• Bidang GATRIK, ditujukan untuk verifikasi dokumen persyaratan Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) dan Rencana Impor Barang (RIB).

Sistem Registrasi SLO (slodjk.esdm.go.id)

Ditujukan untuk verifikasi dokumen persyaratan Sertifikat Laik Operasi (SLO).

PT PLN (Persero)

E-Procurement PT PLN (Persero) (eproc.pln.co.id)

• Pendaftaran Daftar Penyedia Terseleksi (DPT).

• Pengadaan proyek PLTBio dengan mekanisme Pemilihan Langsung.

Kementerian PUPR

Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung/SIMBG (simbg.pu.go.id)

Ditujukan untuk pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Kementerian LHK

Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kementerian LHK/PTSP-KLHK (pelayananterpadu.menlhk.go.id)

Ditujukan untuk verifikasi dokumen persyaratan Persetujuan Lingkungan, untuk dokumen: Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup – Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL); Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

Pemerintah Daerah

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu/DPMPTSP

• Ditujukan untuk verifikasi dokumen persyaratan PBG dan SLF.

• Ditujukan untuk pengajuan perizinan di tingkat provinsi yang tidak diakomodasi di sistem OSS, misalnya: Izin Gangguan (Hinder

Ordonnantie/HO); Surat Izin Pengambilan dan Pemanfaatan Air (SIPPA).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko—sebagai regulasi turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja—pengusahaan ketenagalistrikan dikategorikan sebagai jenis usaha dengan risiko tinggi. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam hal ini mencakup Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha dan Izin. Secara umum, alur perizinan pada sistem OSS Berbasis Risiko yang harus dijalankan oleh pelaku usaha, diuraikan sebagai berikut:

1) Registrasi user OSS, menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk Warga Negara Indonesia (WNI) atau paspor untuk Warga Negara Asing (WNA).

2) Registrasi legalitas pendirian badan hukum/usaha nonperseorangan, berupa Akta Pendirian/

Perubahan dan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (SK Kemenkumham).

3) Pengajuan Nomor Induk Berusaha (NIB), yang disertai dengan pelengkapan data. NIB yang diterbitkan juga berfungsi sebagai Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Angka Pengenal Impor (API).

(37)

xxxv 4) Pengajuan Persyaratan Dasar Perizinan Berusaha, mencakup Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan

Ruang (KKPR), Persetujuan Lingkungan, Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

5) Pengajuan perizinan berusaha berbasis risiko, atau disebut dengan Izin (untuk kegiatan usaha kategori risiko tinggi), yang selanjutnya harus diverifikasi dan disetujui oleh Kementerian/

Lembaga/Pemerintah Daerah terkait.

6) Pengajuan fasilitas seperti tax allowance/holiday, pembebasan bea masuk, dan fasilitas lainnya.

Sebagai catatan, alur perizinan OSS merujuk pada langkah-langkah di atas, namun khusus untuk langkah (4) hingga (6) dapat dilakukan secara paralel—menyesuaikan dengan persyaratan dalam pengembangan proyek PLT-ET, secara spesifik untuk proyek PLTBio.

Merujuk pada poin (5) di atas, diperlukan verifikasi dan persetujuan oleh Kementerian/Lembaga/

Pemerintah Daerah terkait dengan pengajuan Izin—sebagaimana diilustrasikan pada Gambar E.4. Setelah mengajukan perizinan berusaha di sistem OSS, badan usaha akan menerima NIB dan Izin Usaha dengan status Belum Efektif. Untuk membuat Izin Usaha berlaku efektif, badan usaha harus melakukan pemenuhan komitmen secara online ke layanan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah terkait, dengan melampirkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. Kementerian/Lembaga/ Pemerintah Daerah kemudian melakukan verifikasi persyaratan teknis. Apabila persyaratan teknis telah lengkap dan sesuai, akan diterbitkan Izin Usaha dengan status Efektif melalui sistem OSS. Sebagai catatan, apabila Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah belum terintegrasi dengan sistem OSS, upaya pemenuhan komitmen dilakukan sesuai dengan tata cara instansi terkait.

Gambar E.4: Alur verifikasi Izin oleh Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah terkait

Pengajuan Perizinan Usaha di OSS (oss.go.id)

Nomor Induk Berusaha (NIB)

Izin Usaha (Belum Efektif) Pemenuhan Komitmen Izin Usaha

(Aplikasi Perizinan K/L/D)*

Verifikasi Persyaratan Teknis (Komitmen Izin Usaha) oleh K/L/D

Penerbitan Surat Pemenuhan Komitmen (Aplikasi Perizinan K/L/D)*

Penerbitan Izin Usaha Efektif (oss.go.id)

Surat Pemenuhan Komitmen Lengkap & Sesuai Badan Usaha

(Pemohon)

Tidak Penolakan

Ya Keterangan:

OSS: Online Single Submission K/L/D: Kementerian/Lembaga/Daerah

*Dalam hal Aplikasi Perizinan K/L/D belum tersedia/belum terintegrasi dengan OSS, pemenuhan komitmen izin usaha/verifikasi dilakukan sesuai tata cara yang diterapkan di setiap K/L/D.

Izin Usaha (Efektif)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (PP No. 5/2021) yang

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Wali Kota Bandar Lampung Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pendelegasian Kewenangan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Di Daerah, perlu

2. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Ri Tahun 2021 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko,

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 38 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Di Daerah, serta untuk memberikan kepastian

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 15 TAHUN 2021 TENTANG STANDAR KEGIATAN USAHA DAN STANDAR PRODUK PADA PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS RISIKO SEKTOR PERTANIAN 19..

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 3 TAHUN 2021 TENTANG STANDAR KEGIATAN USAHA DAN STANDAR PRODUK PADA PENYELENGGARAAN PERIZINAN BERUSAHA BERBASIS