7. Penyedia Dana Potensial ............................................................................................................................................. l
4.4 Program Hutan Tanaman Energi (HTE)
Program Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk bioenergi, atau secara singkat disebut Hutan Tanaman Energi (HTE), dibentuk dalam rangka mengembangkan hutan tanaman energi dan memanfaatkan lahan marjinal dengan tujuan khusus, yaitu menyediakan bahan baku PLTBm.
Program ini dijalankan melalui kerja sama antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Kementerian Lingkungan Hidup
12 DJEBTKE-KESDM. Artikel: “Ciptakan Pasar Baru Energi Terbarukan melalui Program REBID dan REBED.” 17 November 2020.
13 Kontan.co.id. Berita: “Surabaya jadi kota pertama yang operasikan pembangkit listrik tenaga sampah.” 9 Mei 2021.
14 KESDM. Rencana Strategis DJEBTKE 2020–2024. 2020.
dan Kehutanan (LHK), kementerian/lembaga terkait lainnya, serta pemerintah daerah.14 Program ini didukung oleh Peraturan Menteri LHK Nomor 62 Tahun 2019 tentang Pengembangan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Peraturan Menteri LHK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Hutan
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 51 Tanaman Rakyat (HTR). Beberapa implementasi
dari program HTE ini mencakup:15
• Pelepasan kawasan hutan 6,91 juta ha dengan 78% adalah kebun sawit yang berpotensi untuk menjadi sumber bioenergi.
• Izin pinjam pakai kawasan hutan seluas 0,44 Ha untuk sektor energi.
• Komitmen untuk mengembangkan bioenergi oleh 18 unit usaha di 10 provinsi
dengan mengalokasikan lahan untuk tanaman energi seluas 46.600 Ha.
Menurut informasi dari KLHK, hingga awal tahun 2021 telah terdapat potensi HTE, yaitu seluas 156.032 Ha dari 14 unit usaha di berbagai provinsi.
Jenis tanaman energi yang akan dikembangkan bervariasi, antara lain sengon, kaliandra, akasia, bakau, gamal, bambu, dan sebagainya.
Dengan adanya Program Hutan Tanaman Energi ini, suplai bahan baku untuk pembangkit listrik berbasiskan bioenergi dapat diperoleh secara berkelanjutan.
15 PPID KLHK. Siaran Pers Nomor SP.017/HUMAS/PP/HMS.3/01/2021: “Dukungan Kementerian LHK untuk Energi Baru Terbarukan”. 28 Januari 2021.
52 P R O G R A M P E M E R I N T A H D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I
Gambar 8: Peta sebaran proyek Percepatan Pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota di Indonesia
Sumber: (i) KESDM. Rencana Strategis DJEBTKE 2020–2024. 2020;
(ii) Majalah.tempo.co. majalah.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/160065/penyebab-proyek-pembangkit-listrik-sampah-tak-kunjung-rampung. 28 Maret 2020.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 53
5
Kerangka Regulasi
dalam Pengembangan PLT Bioenergi
Regulasi terkait pengembangan PLTBio, mencakup sumber daya energi, ketenagalistrikan, pengelolaan sampah, kehutanan, dan cipta kerja.
54 P R O G R A M P E M E R I N T A H D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 55
5 Kerangka Regulasi dalam
Pengembangan PLT Bioenergi
Pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa memiliki regulasi terkait pemanfaatan sumber daya bioenergi untuk penyediaan tenaga listrik (PLTBio—PLTBm, PLTBg, dan PLTSa). Regulasi yang dimaksud mencakup regulasi pada tingkat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Menteri. Dalam pedoman ini, seluruh regulasi terkait pengembangan pembangkit listrik berbasis bioenergi (PLTBio) dirangkai dalam bagan kerangka regulasi sebagaimana ditampilkan pada Gambar 9.
Dari gambar tersebut, regulasi mengenai PLTBio dikelompokkan dalam delapan kategori—ditandai dengan warna berbeda—yaitu kategori regulasi tentang pengelolaan energi secara umum, ketenagalistrikan, pengelolaan sampah (terkait PLTSa), cipta kerja, pengelolaan lingkungan hidup kawasan hutan, hutan tanaman energi, fasilitas fiskal, dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, terdapat regulasi yang dikeluarkan oleh direksi PT PLN (Persero), khususnya mengenai pembelian tenaga listrik dari energi terbarukan.
Masing-masing kategori regulasi di atas akan diuraikan secara singkat di bawah ini. Adapun gambaran umum dari setiap peraturan akan dideskripsikan pada Tabel 12. Melalui bab ini, para pengembang diharapkan dapat memperoleh gambaran umum isi dari masing-masing peraturan terkait pengembangan PLTBio di Indonesia.
Regulasi terkait Sumber Daya Energi
Sumber daya energi secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi. Undang-Undang ini secara khusus
mengatur aksesibilitas energi di Indonesia serta pembentukan Dewan Energi Nasional (DEN) yang berwenang untuk merumuskan Kebijakan Energi Nasional (KEN). Selain itu, dalam kategori ini, terdapat juga sekumpulan regulasi turunan yang mengatur pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Regulasi terkait Ketenagalistrikan
Sektor ketenagalistrikan diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, beserta regulasi turunannya.
Rangkaian regulasi ini mengatur proses dan ketentuan terkait ketenagalistrikan di Indonesia, khususnya kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik dan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL).
Regulasi terkait Pengelolaan Sampah
Pengelolaan sampah di Indonesia secara umum diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Regulasi ini mengatur penyelenggaraan pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan—
salah satunya melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. Dalam rangka mengurangi volume timbulan sampah dan mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan, pemerintah menerbitkan regulasi turunan terkait pemanfaatan sampah kota menjadi energi listrik. Secara khusus, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 terkait percepatan pembangunan PLTSa di 12 provinsi/kota di Indonesia.
56 K E R A N G K A R E G U L A S I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I
Regulasi terkait Cipta Kerja
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja ditetapkan dengan tujuan untuk menciptakan iklim usaha dan investasi berkualitas bagi para pelaku bisnis, termasuk investor asing.
Dalam Undang-Undang ini, terdapat beberapa perubahan dan penghapusan pasal pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Perubahan yang teridentifikasi antara lain penyederhanaan perizinan berusaha terkait penyediaan tenaga listrik.
Pemerintah juga telah menerbitkan regulasi turunan terkait Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, yakni:
• Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko—
mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik.
• Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung—mengatur Persetujuan Bangunan Gedung/PBG (menggantikan Izin Mendirikan Bangunan/IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
• Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang—
mengatur Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang/KKPR (menggantikan Izin Lokasi dan Izin Pemanfaatan Ruang).
• Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup—mengatur tentang Persetujuan Lingkungan, melalui: (i) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal); (ii) Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup – Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKP-UPL); atau (iii) Surat
Pernyataaan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL).
• Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan—
mengatur tentang Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (apabila lokasi kegiatan usaha berada di kawasan hutan).
Regulasi terkait Pengelolaan Lingkungan Hidup
Regulasi yang mengatur tata cara dan persyaratan perizinan berusaha terkait lingkungan hidup dituangkan dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 22 Tahun 2018 dan Nomor 26 Tahun 2018. Selain itu, terdapat Peraturan Menteri LHK Nomor 7 Tahun 2019 terkait tata cara dan persyaratan permohonan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan.
Regulasi terkait Hutan Tanaman Energi
Dalam hal pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE) sebagai sumber bahan baku bioenergi, Kementerian LHK menerbitkan dua regulasi, yaitu (i) Permen LHK Nomor 62 Tahun 2019 tentang Pengembangan Hutan Tanaman Industri dan (ii) Permen LHK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Hutan Tanaman Rakyat. Kedua regulasi tersebut mengatur tata kelola hutan, persyaratan, hingga jenis tanaman dan pola penanaman untuk tanaman penghasil energi.
Regulasi terkait Fasilitas Fiskal
Dalam rangka meningkatkan investasi untuk pengembangan PLTBio, terdapat berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pengembang, yang diatur melalui regulasi berikut:
(i) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66 Tahun 2015 untuk Pembebasan Bea Masuk; (ii) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 untuk Tax Allowance; serta (iii) Peraturan Menteri Keuangan
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 57 Nomor 130 Tahun 2020 untuk Tax Holiday.
Regulasi tersebut mengatur tata cara dan persyaratan pemberian serta pemanfaatan fasilitas fiskal yang diberikan pemerintah kepada pengembang dalam rangka meningkatkan investasi.
Regulasi terkait TKDN
Regulasi terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian—yang mengatur tentang kewajiban penggunaan produk dalam negeri sesuai besaran komponen dalam negeri.
Pedoman terkait penggunaan produk dalam negeri untuk infrastruktur ketenagalistrikan—
yaitu: PLTBm—diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 54 Tahun 2012. Regulasi tersebut mengatur besaran nilai TKDN barang dan jasa untuk PLTBm—diklasifikasikan sebagai PLTU.
Regulasi oleh PT PLN (Persero)
Regulasi tentang Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan diatur melalui Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020. Regulasi ini secara spesifik mengatur mekanisme dan prosedur pembelian tenaga listrik dari energi terbarukan—termasuk PLTBm, PLTBg, dan PLTSa—oleh PT PLN (Persero).
58 K E R A N G K A R E G U L A S I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I Gambar 9: Kerangka regulasi pengembangan bioenergi
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 59 Tabel 12: Kerangka regulasi pengembangan bioenergi
No. Regulasi Deskripsi
UMUM
1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi
• Meningkatkan aksesibilitas energi di daerah terpencil dan tertinggal, dan desa yang menggunakan sumber energi setempat, khususnya sumber-sumber terbarukan.
• Mendirikan Dewan Energi Nasional (DEN) yang merumuskan Kebijakan Energi Nasional (KEN).
2. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN)
Menetapkan rencana untuk meningkatkan pangsa energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer menjadi 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050.
3. Peratura Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN)
Mengatur rencana pengelolaan energi tingkat nasional dan rencana pelaksanaan kebijakan yang bersifat lintas sektor untuk mencapai sasaran Kebijakan Energi Nasional (KEN).
PENGEMBANGAN ENERGI TERBARUKAN 1. Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 jis. Peraturan Menteri ESDM Nomor 53 Tahun 2018 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2020 tentang
Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik
• Mengatur pemanfaatan sumber energi terbarukan, termasuk bioenergi (energi biomassa, biogas, dan sampah kota).
• Mengatur pelaksanaan pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga energi terbarukan oleh PT PLN (Persero).
• Mengatur penerimaan dan pengoperasian pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan pada sistem ketenagalistrikan.
KETENAGALISTRIKAN
1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
• Memberikan pengertian umum bahwa ketenagalistrikan adalah segala sesuatu yang menyangkut penyediaan dan pemanfaatan tenaga listriks serta usaha penunjang tenaga listrik
• Mengatur pembagian wilayah usaha penyediaan tenaga listrik yang terintegrasi, penetapan tarif regional yang berlaku terbatas untuk suatu wilayah atau usaha tertentu, pemanfaatan jaringan tenaga listrik untuk kepentingan telekomunikasi, multimedia, dan informatika, serta mengatur jual beli tenaga listik lintas negara.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2012 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2014 tentang Kegiatan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik
Mengatur ketentuan terkait bisnis penyediaan tenaga listrik.
3. Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 jo. Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Mengatur pelaksanaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, penyediaan energi primer ketenagalistrikan, pemanfaatan energi terbarukan, perizinan, nonperizinan, dan lainnya.
60 K E R A N G K A R E G U L A S I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I 4. Peraturan Menteri ESDM Nomor 35 Tahun
2013 jo. Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2016 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Ketenagalistrikan
• Mengatur ketentuan mengenai tata cara perizinan usaha ketenagalistrikan bagi Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk kepentingan umum dan kepentingan sendiri.
• Mengatur usaha jasa penunjang tenaga listrik yang diberikan oleh Menteri.
5. Peraturan Menteri ESDM Nomor 24 Tahun 2017 tentang Mekanisme Penetapan Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)
Mengatur tentang mekanisme penetapan BPP Pembangkitan atau biaya tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) di pembangkit tenaga listrik, tidak termasuk biaya penyaluran tenaga listrik.
6. Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2017 jis. Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2017 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pokok-pokok dalam Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik
• Mengatur ketentuan mengenai pokok-pokok dalam PJBL antara PT PLN selaku pembeli dengan Badan Usaha selaku penjual pada Sistem Tenaga Listrik.
• Mengatur jaminan pelaksanaan proyek kepada PT PLN (Persero) oleh Badan Usaha.
7. Peraturan Menteri ESDM Nomor 35 Tahun 2014 jis. Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2017 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 30 Tahun 2018 tentang
Pendelegasian Wewenang Pemberian Izin Usaha Ketenagalistrikan dalam Rangka Pelaksanaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu kepada Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal
Mengatur pendelegasian wewenang pemberian izin di bidang usaha ketenagalistrikan yang menjadi
kewenangan Menteri ESDM kepada Kepala BKPM dengan hak substitusi.
8. Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2018 tentang Tata Cara Akreditasi dan Sertifikasi Ketenagalistrikan
Mengatur ketentuan terkait tata cara akreditasi ketenagalistrikan untuk usaha jasa penunjang tenaga listrik seperti Lembaga Inspeksi Teknik (LIT) Tenaga Listrik, serta sertifikasi ketenagalistrikan.
9. Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik Bidang Ketenagalistrikan
Mengatur tata cara akreditasi dan sertifikasi
ketenagalistrikan, termasuk ketentuan untuk lembaga sertifikasi.
10. Peraturan Menteri ESDM Nomor 20 Tahun 2020 tentang Aturan Jaringan Sistem Tenaga Listrik
Mengatur ketentuan manajemen jaringan, aturan penyambungan, aturan operasi, aturan perencanaan dan pelaksanaan operasi, aturan transaksi tenaga listrik, aturan pengukuran, hingga rangkuman jadwal operasi dan manajemen jaringan.
11. Keputusan Menteri ESDM Nomor 55 K/20/MEM/2019 tentang Besaran Biaya Pokok Penyediaan (BPP) Pembangkitan PT PLN (Persero)
Mengatur penentuan besarnya BPP Pembangkitan PT PLN (Persero).
PENGELOLAAN SAMPAH
1. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah
• Mengatur ketentuan pengelolaan sampah secara terpadu dan komprehensif, pemenuhan hak dan kewajiban masyarakat, serta tugas dan wewenang Pemerintah dan pemerintah daerah untuk
melaksanakan pelayanan publik.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 61
• Memperkenalkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah dengan memandang sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan—salah satunya sebagai sumber energi.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Mengatur ketentuan penyelenggaraan pengelolaan sampah yang meliputi pengurangan sampah dan penanganan sampah.
3. Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan
Mengatur pengelolaan sampah, yakni pembangunan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan (PLTSa), yang menjadi urusan pemerintah daerah untuk 12 kota besar di Indonesia
CIPTA KERJA
1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja
• Memperkenalkan ketentuan untuk menyederhanakan prosedur perizinan usaha dan perubahan pada UU ketenagakerjaan yang ada.
• Mengatur upaya cipta kerja yang diharapkan mampu menyerap tenaga kerja Indonesia di tengah
persaingan yang semakin kompetitif dan tuntutan globalisasi ekonomi.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko
Mengatur perizinan berusaha berbasis risiko yang meliputi ketentuan Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK), perizinan melalui layanan sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik (Online Single Submission), tata cara pengawasan, pendanaan, dll.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung
• Mengatur ketentuan terkait bangunan gedung.
• Menghapus status Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan menggantikannya dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
Mengatur ketentuan terkait perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, pengendalian pemanfaatan ruang, pengawasan penataan ruang, pembinaan penataan ruang, dan kelembagaan penataan ruang.
5. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindugan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Mengatur ketentuan terkait persetujuan lingkungan, perlindungan dan pengeloaan mutu air, udara, dan laut, pengedalian kerusakan lingkungan hidup, pengelolaan limbah B3, data penjamin untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup, sistem informasi lingkungan hidup, pembinaan dan pengawasan serta pengenaan sanksi administratif.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan
• Mencabut PP No. 3 Tahun 2008; peraturan pelaksanaan (turunan) dari PP ini tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan PP No. 23 Tahun 2021.
• Mengatur perencanaan kehutanan, perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan, penggunaan kawasan hutan, tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan serta pemanfaatan hutan,
62 K E R A N G K A R E G U L A S I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I
pengelolaan perhutanan sosial, perlindungan hutan, pengawasan, dan sanksi administratif.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2021 tentang Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral
Mengatur kegiatan penyelenggaraan bidang energi dan sumber daya mineral yang mencakup usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum.
8. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 jo. Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal
Mengatur bidang-bidang usaha yang terbuka dan tertutup bagi kegiatan penanaman modal. Bidang usaha terbuka salah satunya adalah bidang usaha prioritas.
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP KAWASAN HUTAN 1. Peraturan Menteri LHK Nomor 22 Tahun
2018 tentang Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria Pelayanan Perizinan Terintegrasi Secara Elektronik Lingkup Kementerian Lingkungan dan Kehutanan
Mengatur tata cara permohonan izin usaha dan izin komersial/operasional terkait lingkungan hidup,
persyaratan permohonan dan pemenuhan komitmen izin, serta pelaksanaan dan pengawasan pemenuhan
kewajiban.
2. Peraturan Menteri LHK Nomor 26 Tahun 2018 tentang Pedoman Penyusunan dan Penilaian serta Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup dalam Pelaksanaan Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik
Mengatur ketentuan terkait penyusunan dan penilaian dokumen AMDAL serta penetapan keputusan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup, penyusunan dan pemeriksaan UKL-UPL serta penetapan persetujuan rekomendasi UKL-UPL, dan sistem informasi dokumen lingkungan hidup dan izin lingkungan.
HUTAN TANAMAN ENERGI
1. Peraturan Menteri LHK Nomor 11 Tahun 2020 tentang Hutan Tanaman Rakyat
• Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Rakyat (IUPHHK-HTR) diutamakan pada kawasan Hutan Produksi yang tidak produktif dan belum dibebani izin atau hak pengelolaan.
• Mekanisme permohonan dan pemberian IUPHHK-HTR.
• Ketentuan jenis tanaman dan pola penanaman, termasuk untuk tanaman penghasil bioenergi.
2. Peraturan Menteri LHK Nomor 62 Tahun 2019 tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri
• Mengatur ketentuan terkait pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mencakup tanaman penghasil bioenergi.
• Mengatur persyaratan dan ketentuan penataan areal dalam Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Tanaman Kayu dalam Hutan Tanaman Industri (IPHHK-HTI).
• Mengatur ketentuan jenis tanaman dan pola penanaman.
• Mengatur ketentuan penyediaan bahan baku industri, termasuk bioenergi.
FASILITAS FISKAL
1. Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2019 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu
Mengatur ketentuan terkait jenis fasilitas Pajak
Penghasilan yang dapat diperoleh oleh wajib pajak badan dalam negeri, kriteria dan persyaratan penerima fasilitas Pajak Penghasilan, serta daftar bidang-bidang usaha tertentu yang dapat memperoleh fasilitas Pajak Penghasilan.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 63 2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21
Tahun 2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan
Mengatur ketentuan terkait fasilitas perpajakan dan kepabeanan untuk kegiatan pemanfaatan sumber energi terbarukan berupa fasilitas PPh, fasilitas PPN, fasilitas bea masuk, dan fasilitas pajak ditanggung pemerintah.
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66 Tahun 2015 tentang Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang Modal dalam Rangka Pembangunan atau
Pengembangan Industri Pembangkitan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum
Mengatur ketentuan terkait kriteria penerima pembebasan bea masuk, persyaratan permohonan pembebasan bea masuk, dan pelaporan realisasi impor barang.
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2019 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu
Mengatur ketentuan terkait subjek dan jenis fasilitas, persyaratan dan tata cara penetapan nilai aktiva berwujud, tata cara pengajuan permohonan pemberian dan pemanfaatan fasilitas pajak penghasilan, kewajiban pelaporan, tata cara penggantian aktiva, dan pencabutan fasilitas pajak penghasilan.
5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130 Tahun 2020 tentang Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan
Mengatur kriteria dan prosedur pengajuan fasilitas, ketentuan fasilitas bagi wajib pajak yang mendapatkan penugasan pemerintah, prosedur pemberian dan pemanfaatan fasilitas pengurangan pajak penghasilan badan, pemeriksaan lapangan dalam rangka
pemanfaatan fasilitas, pelaporan realisasi penanaman modal dan realisasi produksi, serta periode pemberian dan pencabutan pengurangan pajak penghasilan badan.
6. Peraturan Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 7 Tahun 2020 tentang Rincian Bidang Usaha dan Jenis Produksi Industri Pionir serta Tata Cara Pemberian Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan
Mengatur ketentuan terkait bidang usaha dan jenis produksi industri pionir yang dapat diberikan fasilitas pengurangan Pajak Penghasilan badan, ketentuan pemenuhan kriteria dan permohonan pengurangan Pajak Penghasilan badan secara luring, dan ketentuan
keputusan pemberian fasilitas pengurangan Pajak Penghasilan badan.
7. Peraturan Direktur Jenderal
Ketenagalistrikan Nomor 263 Tahun 2015 tentang Tata Cara Permohonan
Persetujuan dan Penandasahan Rencana Impor Barang Modal Dalam Rangka Pembangunan atau Pengembangan Industri Pembangkitan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum
Mengatur ketentuan permohonan persetujuan dan penandasahan RIB yang merupakan salah satu persyaratan permohonan bea masuk.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI (TKDN) 1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014
tentang Perindustrian
Menjelaskan kewajiban penggunaan produk dalam negeri sesuai besaran komponen dalam negeri yang ditunjukkan dengan tingkat komponen dalam negeri.
2. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 54 Tahun 2012 jo. Peraturan Menteri
Perindustrian Nomor 05 Tahun 2017 tentang Pedoman Penggunaan Produk Dalam Negeri untuk Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Mengatur besaran nilai TKDN barang dan jasa untuk PLTBm, yang diklasifikasikan sebagai PLTU.
64 K E R A N G K A R E G U L A S I D A L A M P E N G E M B A N G A N P L T B I O E N E R G I PERATURAN LAIN
1. Peraturan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 0062 Tahun 2020tentang Pembelian Tenaga Listrik dari Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan
Mengatur ketentuan dalam pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi baru dan terbarukan, yang mencakup mekanisme pembelian, harga pembelian tenaga listrik, jaminan pengadaan, hingga alur proses bisnis mekanisme pembelian.
Sumber: RUPTL PT PLN (Persero) 2019–2028.
P E D O M A N I N V E S T A S I P E M B A N G K I T L I S T R I K T E N A G A B I O E N E R G I 65